park chanyeol/xi luhan; multichapters; 3108 words.
warning: mention of other fandoms' pairings.
notes:
1. Chapter ke 3 ini sebenarnya dibagi menjadi 2 bagian; bagian pertama adalah chapter 4 dan bagian kedua akan menjadi chapter 4, karena bagian dua sedikit out of context dari chapter 3, jadi harus dipisahkan. Tenang saja, hopefully, bagian kedua akan cepat dipublikasi.
2. Chapter ini murni sudut pandang Luhan pada konflik batin tentang perasaannya. But, don't get you hope up, folks.
3. Cara bicara Jongin masih 'baby talk', pardon me if it makes you uncomfortable.
4. Baru menyadari bahwa menulis akun instagram dengan ( ) completely gone. So, for future reference I'll write it like this thisisinstagram.
Luhan menggigit bibir bawahnya keras. Ia tak menggubriskan rasa perih mulai timbul di daerah itu. Matanya masih terfokus pada layar kaca yang menayangkan pemberitaan dirinya dengan Pak Chanyeol; skandal mereka berpacaran. Skandal? Luhan selalu dibuat ingin tertawa geli dan marah ketika mendengar kata itu. Ia masih tidak mengerti pada jalan pikir orang di negara ini, jika artis berpacaran mengapa dikatakan skandal, semestinya itu berkat karena artis itu akhirnya menemukan cinta.
Banyak spekulasi yang diberitakan di acara kabel itu. Luhan disebutkan sebagai guru SMA klub bola kasti; dirinya seorang asisten yang bekerja di agensi Park Chanyeol; terparahnya dirinya disebut perusak hubungan Park Chanyeol dengan kekasih terdahulu yang-namanya-Luhan-susah-ejakan. Luhan heran dengan semua pernyataan itu, dari mana mereka mendapat kabar itu hingga dapat menarik kesimpulan demikian? Tidak ada satupun yang benar, tapi ia bersyukur tidak ada yang mengetahui dirinya siapa.
Luhan bangkit dari sofa, ia menengadahkan kepalanya sejenak; menatap langit-langit ruang tamu. Ia menghela nafas dengan kasar menghiraukan rasa perih di kerongkongannya, ia tidak bisa menenangkan pikirannya sendiri. Melangkahkan kakinya perlahan, ia mengelilingi ruang tamu apartemennya dengan langkahan tak pasti.
Begitu mendapat kabar itu, Luhan langsung ijin untuk pulang lebih awal dan untungnya atasannya mengerti setelah ia jelaskan, ia tidak ingin melibatkan orang lain dan membuat kacau di kantornya. Luhan bersyukur Jongin sudah tertidur lelap (walaupun dengan paksaan saat ditidurkan), ia tidak ingin balita itu menyaksikan ayahnya tampil di layar kaca dan melihat dirinya panik seperti sekarang.
Luhan menghentikan langkahnya begitu pendengarannya menangkap pembicaraan pewara, ia kembali duduk di atas sofa, mendengarkan secara saksama perkataan wanita itu. Wanita dengan riasan tebal itu mengatakan bahwa Luhan adalah salah karyawan di perusahaan swasta di Seoul, seorang duda dengan satu anak. Ada yang beranggapan bahwa dirinya dan Jongin adalah alasan Park Chanyeol pulang ke Korea Selatan; untuk berkumpul kembali dengan kelaurga kecilnya. Luhan merasakan amarah mulai menyeruak di dirinya begitu acara itu menampilkan foto Jongin bersama Chanyeol; walaupun sudah disamarkan pada wajah manis balita itu. Serta beberapa foto berkualitas rendah saat mereka pertama kali bertemu di rumah makan. Luhan tidak ingin amarahnya memuncak segera ia matikan televisi itu. Ia tidak ingin lebih tahu apa yang akan digosipkan acara itu tentang dirinya karena dari awal semua adalah bualan, spekulasi sembarang dari asumsi asalan orang luar.
Luhan menghela nafas lelah, hari ini terasa begitu lama. Ia ingin cepat-cepat semua ini berakhir. Ia tidak mengerti apa yang pernah ia perbuat hingga diberitakan seperti ini. Hanya dari sebuah pertemuan dan foto membuat dunia berasumsi aneh-aneh. Semenjak foto dirinya bersama Park Chanyeol diunggah pada akun pribadi model itu, Luhan banyak mendapat komentar di akun pribadi miliknya; entah itu negatif maupun positif, beberapa orang mem-follow akunnya, tetapi Luhan tidak menggubris satupun. Ia langsung keluar dari akun dan menghapus aplikasi itu. Ia tidak ingin melibatkan dirinya lebih jauh, pemberitaan ini sudah cukup baginya.
Tidak, ia tidak menyalahkan Park Chanyeol atas gosip ini. Namun, jika sejak awal ia mengetahui pemuda itu adalah orang ternama mungkin ia akan menghindar.
Suara getaran ponsel memecahkan pikirannya, Luhan menyapu sekelilingnya mencari ponselnya berada. Ponselnya tepat berada di atas meja di hadapannya. Dengan malas ia meraih itu, sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Ia membaca pesan itu dan diam sejenak karena ia masih mempertimbangkan pesan ini adalah keisengan orang lain atau bukan.
'Luhan hyung, ini Park Chanyeol. Aku mendapat nomor ponselmu dari Byun Baekhyun, maaf meminta tanpa seijinmu. Aku sempat menghubungimu lewat Instagram tapi tidak kunjung mendapat balasan. Aku ingin berbicara tentang pemberitaan media. Apa aku boleh menelponmu?'
Luhan tidak langsung membalas pesan dari model itu. Ia pertama-tama bertanya pada juniornya mengenai ini dan secepat kilat balasan ia terima dari Baekhyun yang mengatakan dialah yang memberikan nomor ponsel Luhan pada Park Chanyeol karena pemuda itu terdengar begitu bersalah akan kejadian ini, tanpa pikir panjang juniornya memberikan nomornya. Baekhyun pun merasa bersalah karena memberikan itu tanpa ijin pemilik. Luhan mengirim pesan singkat ke junironya dengan ucapan ia tidak mempermasalahkan itu.
'Jangan menelpon, Jongin sedang tidur. Kau bisa datang ke apartemenku?'
Tanpa menunggu lama balasan dengan nada setuju ia terima, dengan cepat Luhan mengirimkan alamatnya pada Park Chanyeol.
.
Luhan menunggu selama kurang dari empat puluh lima menit hingga kedatangan Park Chanyeol; ia menghitung karena ingin menghilangkan rasa paniknya dan itu cukup membantu. Begitu bel pintu terdengar ia segera menuju ke sana dan membuka pintu untuk Park Chanyeol.
Berdiri kini Park Chanyeol di hadapannya. Ia tampak seperti pemuda normal; tidak ada riasan wajah yang terlukis di wajah tampannya, pakaiannya tampak bukan dari merek ternama, penampilan keseluruhan terasa wajar dan santai. Entah mengapa ini membuat Luhan tersenyum.
"Halo, Luhan hyung," sapa Park Chanyeol seraya tersenyum, walaupun tidak terpancar kecerian seperti biasanya. Senyumannya kini terlihat begitu lelah, senada dengan raut wajah dan matanya yang seperti kehilangan sinarnya. Sepertinya dampak pemberitaan media jauh lebih parah berpengaruh kepada model ini. "Aku sudah memastikan tidak seorang pun mengikutiku ke sini." Bahkan suara pemuda itu terdengar lelah.
Luhan mempersilakan model itu masuk ke dalam apartemennya, pengarahkan pemuda itu ke area dapur; tempat terjauh dari kamar tidur Jongin. Luhan memperhatikan dengan seksama pemuda yang kini duduk di kursi meja makannya. Kepala pemuda itu menunduk, tangannya memegang telpon selular miliknya-sibuk mengetik sesuatu entah apa. Luhan berdeham pelan dan pemuda itu langsung mengangkat kepalanya, rona merah kini timbul di pipinya, senyuman sungkan itu muncul.
"Maaf," bisik Chanyeol.
Luhan tersenyum ramah dan bertanya, "Ingin minum air mineral, jus buah atau kopi?"
"Jus buah, jika tidak merepotkan."
Luhan menganguk, segera ia mengambil gelas jus dan menuju lemari pendingin. Ia menuangkan jus itu.
"Maaf atas kejadian ini, Luhan hyung," ucap Park Chanyeol memecahkan keheningan di antara mereka. Suara pemuda itu begitu tulus dan terdengar lelah.
Luhan membalikkan badannya, terdiam ia sejenak menatap model itu. Ketulusan terpancar dari mata laki-laki itu. Luhan berjalan menuju meja makan, ia dapat merasakan kedua mata Chanyeol mengikuti di setiap gerak tubuhnya. Ia mendudukkan dirinya di hadapan pemuda itu. Diletakkannya segelas jus jeruk di depan Park Chanyeol, pemuda itu tidak langsung meminum itu, hanya menatapnya dengan pandangan tak pasti. Luhan dapat merasakan kegugupan di sana.
"Hei, jangan merasa gugup seperti itu. Aku tidak menyalahkanmu atas kejadian ini, jadi jangan meminta maaf," jawab Luhan tulus namun ucapannya tidak membuat tenang pemuda itu.
"Tapi kejadian ini terjadi karena perbuatanku," sangkal pemuda itu kukuh. "Hyung hanya orang lain yang terseret ke sini."
Luhan menunggu hingga pemuda itu melanjutkan pembicaraannya, terlihat dari wajahnya yang ingin mengungkapkan berbagai hal. Konflik batin kini merenggut akal sehat pemuda itu.
Park Chanyeol meminum jus buah yang Luhan suguhkan, ia menghela nafas panjang. Tatapan matanya menerawang jauh, walaupun terfokus pada mata Luhan. "Semestinya aku menyadari akan begini jadinya. Sejak kepulanganku ke Seoul, apapun yang aku lakukan pasti akan tersorot oleh media sebagai skandal."
Luhan hanya bisa menatap iba pada model muda itu. Ia sama sekali tidak mengerti dunia hiburan seperti apa, namun mendengar pernyataan Chanyeol menjadi bintang tidaklah enak.
"Jika kau tahu akan diberitakan sebagai skandal, kenapa mengunggah foto itu?" Luhan bertanya jujur atas dasar rasa penasarannya, namun melihat perubahan drastis dari raut wajah Chanyeol Luhan sedikit menyesal.
"Aku merasa senang ketika melihat Hyung dan Jonginie di rumah makan itu. Tanpa pikir panjang aku ingin membagi ke semua orang rasa senangku lewat foto itu, mengatakan ke dunia bahwa aku senang bertemu dengan seorang ayah dan balitanya. Tapi sayang, para media salah mengartikan rasa senangku."
Luhan merasa tersentuh mendengar ucapan Park Chanyeol. Sangat jarang orang lain mengatakan mereka merasa bahagia melihat dirinya dan Jongin. Tidak pernah seorang laki-laki berkata begitu, kecuali Park Chanyeol, orang ternama.
"Hyung, aku pasti akan menjelaskan ke awak media yang sebenarnya. Beberapa hari lagi, agensiku akan menjelaskan ke media tentang ini. Mungkin nanti Hyung akan di minta datang untuk menemui mereka. Jika Hyung setuju dan tidak keberatan," kata Chanyeol perlahan.
"Aku tidak perlu muncul di hadapan media 'kan?"
Chanyeol menggeleng, kembali ia jelaskan, "Tidak, hanya salah satu staff agensi yang akan memberitahu ke media. Tapi kemungkinan besar awak media akan mencari kejelasan lebih lanjut darimu Hyung."
Luhan mengangguk mengerti. Ia akan menyiapkan mental untuk menyelesaikan masalah ini. Walaupun baginya hal ini lebih sepele dan terlalu mengada-ada dibandingkan permasalahan di kantor. Namun menjadi sorotan media itu tentunya membuat tidak nyaman.
"Hei, kau tidak perlu sepenuhnya khawatir tentang pemberitaan media karena ada bagian kecil yang benar di sana," perkataanya Luhan mampu menarik rasa penasaran model itu. Ia tersenyum usil, "Aku memang gay, jadi jangan cemas akan pencemaran nama baikku."
Park Chanyeol membelalakkan matanya, terlihat begitu terkejut akan ucapan Luhan. Ia membalas dengan terbata-bata, "Tapi- tapi Hyung terlihat- dan Jongin-"
Luhan tidak dapat menahan kikikannya, "Kau pasti pernah mendengar cerita klise laki-laki gay dan sahabat wanitanya. Aku akan menyerahkan sisanya pada imajinasimu."
Pemuda di hadapannya hanya terdiam menatapnya, namun mata itu tidak fokus pada dirinya. Sepertinya pikiran pemuda itu sedang mencerna perkataan Luhan. Sebuah senyuman lebar dan tawaan mulai muncul.
"Oh! Itu benar-benar klise," seru Chanyeol di sela tawanya yang tak terkendali.
Luhan ikut tertawa mendengarnya, setidaknya gurauan yang ia lontarkan dapat mencairkan suasana.
Tiga hari sudah ia cuti dari pekerjaannya dan tiga hari sejak kedatangan Park Chanyeol ke rumahnya. Pemuda itu selalu menghubunginya; menanyakan kabar dirinya dan Jongin, mengabarkan perkembangan penanganan skandal mereka, betapa ia ingin berkunjung ke rumah Luhan untuk menengok namun tidak ingin memperparah pemberitaan. Dan selama tiga hari ini pemberitaan dirinya dan Park Chanyeol belum mereda, spekulasi yang bermunculan semakin menggila. Luhan dibuat benar-benar jenuh.
Aku ingin berkunjung ke rumah, sebuah pesan dari Park Chanyeol ia terima pagi ini dan Luhan mempersilakan peduma itu.
Tepat jam makan siang Park Chanyeol tiba di kediaman Luhan. Laki-laki itu membawa beberapa bungkus makan siang untuk mereka makan bersama. Luhan bukannya ingin merepotkan pemuda itu, namun ia sama sekali tidak ada kesempatan untuk keluar rumah. Memang ada opsi mengirim makanan dengan jasa pengiriman tapi Luhan tidak ingin mengambil risiko.
Langkahan kaki kecil terdengar di dalam apartemen. Jongin berlari dengan penuh semangat begitu menyadari Park Chanyeol datang berkunjung.
"Chanyo' 'yung!" Seru balita itu sambil memeluk kaki jenjang Park Chanyeol. Sejak Park Chanyeol mengundang mereka makan bersama waktu itu balita dan pemuda ini menjadi teman akrab sampai-sampai Luhan merasa tidak bisa masuk ke dunia mereka-ia hanya tidak ingin mengganggu keriangan mereka. Jongin selalu bersemangat dapat bermain dengan Hyung favoritnya.
"Bagaimana kabar jagoan kecilku?" Tanya Park Chanyeol sambil jongkok di hadapan Jongin. Menyejajarkan pandangan mereka.
Balita dalam pertanyaan mencakup wajah model itu dengan tangan mungilnya. Sebuah kecupan 'muah' dia panjatkan di bibir yang tak pernah henti tersenyum. Chanyeol langsung mengangkat tubuh Jongin ke dalam gendongannya, kecupan bertubi-tubi Jongin terima; membuat balita itu tertawa riang.
Luhan hanya dapat menggelengkan kepala melihat interaksi dua orang itu. Ia mengambil bungkus makanan yang tergeletak begitu saja di atas lantai, dan segera menuju dapur. Luhan membantu menata penganan itu di atas piring yang telah ia sediakan. Seporsi spageti untuk Jongin dan salad sayur untuk dirinya; dia sama sekali tidak ada nafsu makan, lebih baik memilih makanan dengan serat tinggi, dan untuk sang model hanya granola bar. Mungkin sedang diet, pikir Luhan dalam hati.
"Waktunya makan siang," ucap Luhan begitu masuk ke ruang tamu. Dilihatnya Park Chanyeol sudah tergeletak di atas lantai; Jongin rebahan di atas perutnya. Tawaan keluar dari mulut mereka, entah apa yang mereka baru saja perbuat.
Luhan memainkan sisa saladnya, tomat cheri yang sangat ia tidak suka. Matanya terus menatap kegiatan di hadapannya. Park Chanyeol sedang menyuapi Jongin—tepatnya membantu Jongin makan karena balita itu kukuh ingin makan sendiri. Pertengkaran kecil terjadi di antara balita dan model itu; Jongin bersikeras menyuapkan spageti dengan garpu plastiknya masuk ke dalam mulutnya, namun selalu gagal karena pasta itu terus terjatuh. Park Chanyeol hanya memberi teguran dengan nada candaan bahwa ia yang akan membantu menyuapi Jongin. Kim Jongin adalah anak dari Xi Luhan tentu saja anak itu sangat keras kepala, dengan kukuh ia menggenggam erat garpu plastik miliknya agar tidak direbut Chanyeol Hyung.
"Jonginah, Hyung akan menyuapimu. Boleh?" Tanya Park Chanyeol untuk sekian kalinya. Ia dengan penuh konsentrasi membersihkan saus pasta dari pipi dan tangan Jongin dengan tisu basah.
Jongin hanya menggelengkan kepalanya. Balita itu masih bersikeras mencoba melilitkan pasta itu ke garpunya. Meja high chair-nya kini dipenuhi pasta yang terjatuh.
Park Chanyeol menghela nafas panjang namun matanya terpancar rasa senang di sana.
"Jonginah, jika kamu tidak ingin Chanyeol Hyung menyuapimu, bagaimana dengan Ayah?" Tanya Luhan, ia sadar anaknya itu baru makan satu suapa kecil, hampir sebagian dari pasta itu terkapar di atas meja.
Balita itu tetap menggelengkan kepala. "Chanyo' 'yung 'aja," jawab Jongin sambil menyodorkan mangkuk kecilnya ke arah Chanyeol.
Luhan hanya bisa menaikkan alisnya bingung, terkadang ia dibuat heran akan perubahan sikap Jongin. Mood swings. Balita itu seperti ibunya jika dikaitkan dengan suasana hati mereka. Semaunya saja.
"Jonginah, bilang apa?" Tanya Luhan dengan perlahan.
"To-yong, Chanyo' 'yung," pinta Jongin riang.
Balita itu mendapat kecupan di kedua pipi gembulnya.
.
Jemari Luhan lihai menekan tombol keybord laptopnya merangkai kata demi kata yang harus ia buat untuk laporan kerjanya. Walaupun sedang cuti ia tidak ingin pekerjaan dan tugasnya terhambat. Ia merasa sangat berterima kasih pada juniornya yang selalu mampir ke kediamannya untuk membawakan laporan. Walaupun sempat ia tolak karena teknologi sudah maju jadi semua laporan itu bisa dikirimi lewat surel atau fax. Namun Baekhyun tetap menyanggah bahwa ia akan mengirim secara langsung pada Luhan karena ia khawatir dengan keadaan Luhan dan Jongin. Luhan hanya bisa mengelus rambut Baekhyun, juniornya yang cerewet itu memang begitu perhatian jika ia mau.
Luhan menegak kopi hitam yang sudah dingin sambil menunggu hasil cetakan lembar laporan yang baru setengah jalan ia kerjakan. Ruangan kerjanya begitu tenang, hanya suara mesin cetak yang terdengar. Bicara soal tenang, entah mengapa suasana apartemennya kini begitu tenang. Dari awal ia mengerjakan laporannya suara Jongin dan Chanyeol masih memenuhi ruangan. Atas rasa penasaran ia beranjak dari kursi, berjalan keluar menuju ruang bermain Jongin; tempat terakhir ia melihat mereka berdua main. Luhan menegak habis kopi di cangkirnya dan meletakkan cangkir itu sembarang di atas meja yang ia papasi.
Sesuai dugaan dua orang ia cari kini sedang berada di kamar Jongin; lebih tepatnya Park Chanyeol sedang menimang Jongin di dalam dekapannya, kepala Jongin bersandar tenang di pundak pemuda itu. Model itu tidak menyadari kehadirannya, pungguung pemuda jenjang itu menghadap pada dirinya, berdiri santai di balik jendela kamar tidur Jongin. Dalam senandungnya sesekali model itu menempelkan bibirnya di ubun Jongin, mengelus punggung kecilnya, terkadang menepuk bokong balita itu ketika merengek jika Chanyeol berhenti bersenandung atau mengelus punggungnya—Tuhan, balita itu memang anak seorang Xi Luhan. Entah mengapa melihat kejadian di hadapannya kini membuat Luhan tidak ingin mengganggu ketenangan mereka, ia memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya.
"Jadi, bagaimana Park Chanyeol?"
Luhan hanya mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan yang terlontar dari juniornya. Baekhyun, tepat sejam setelah kepulangan Park Chanyeol, datang ke kediamannya membawa makan malam dan kebutuhan untuk dirinya dan Jongin.
"Aku tidak mengerti," jawab Luhan lugas. Ia mengambil dua potong kimbab dan memakan sekaligus, ia hanya menghindari untuk menjawab.
Baekhyun hanya mendengus, ia menegak bir kalengan miliknya dan kembali berkata, "Hyung, kau mengerti jelas implikasi dari pertanyaanku; jadi, bagaimana Park Chanyeol?"
Luhan menatap Baekhyun sejenak dan menjawab, "Jongin menyukai Park Chanyeol, pemuda itu seperti magnet bagi anak-anak. Jongin langsung menempel padanya seharian."
Baekhyun menganggukkan kepalanya, mencerna kata-kata Luhan. "Yang aku tanyakan adalah pendapatmu, bukan bagaimana model itu dengan Jongin. Tapi aku puas mendengar perkataanmu tadi, Hyung, karena itu terdengar seperti material suami yang akan kau nikahi," kata Baekhyun dengan nada usil di sana.
Luhan hanya memutarkan bola matanya.
"Hei, tidakkah hal itu terbesit di kepalamu, Hyung? Untuk mencoba serius dengan Park Chanyeol. Karena naluriku mengatakan bahwa laki-laki itu adalah orang yang pantas untukmu," saran Baekhyun dengan antusiasme yang kuat.
Luhan menggelengkan kepalanya, "Tidak, untuk apa? Kami baru bertemu beberapa kali. Lagi pula aku tidak merasakan apa-apa terhadap pemuda itu. Kau tahu jelas pria lebih muda bukan tipeku."
Juniornya memberi tatapan tidak puas akan jawaban yang katakan. Luhan selalu merasa seperti orang tolol jika Baekhyun memberinya tatapan seperti itu.
"Such a waste," bisik Baekhyun yang sengaja agak dikeraskan agar Luhan dengar dengan jelas. "Tapi dari sudut pandangku, belakangan ini kalian seperti pasangan suami-suami. So domestic it's frustated me, just get married and be forever ever after. You'll be my forever OTP, and fuck Stony since they got civil war coming, my OTP has sunk down," celoteh Baekhyun panjang lebar, ia mulai terdengar seperti penggemar frustasi karena karekter kesukaannya tewas. But shit, Stony ship is gonna sink down.
"Tapi aku lebih memilih Stucky dan... Cherik?" Timpal Luhan.
Baekhyun kembali mendengus, ekspresi geregetan terlihat jelas di wajah mungilnya. "Fuck Stony, fuck Stucky, sorry to Cherik; they are not even in Avengers. Yang aku bicarakan, yang kita berdua bicarakan adalah dirimu dan Park Chanyeol, Chanlu; that's your ship name and I'll be the president. No complains."
Lugan memijat keningnya, rasa sakit mulai menjalar di daerah itu. "Bisakah kita berbicara dengan normal atau itu akan lebih baik jika kita berhenti membicarakan hal ini," saran Luhan.
Baekhyun dengan keras kepala menggelangkan kepalanya tidak setuju. Jelas sekali juniornya kini ingin menuntaskan apapun itu yang membuatnya penasaran. "Tidak, karena aku tahu ada sesuatu yang terjadi di antara kalian," jawabnya kukuh.
"Baekhyun, sama sekali tidak ada apa-apa yang terjadi. Kami berdua seperti pria-pria normal yang lainnya, obrolan ringan dan makan. Hanya itu. Seperti aku dan dirimu sekarang ini, hanya saja topik pembicaraan yang berbeda," kata Luhan mencoba membuat juniornya mengerti.
"Jika demikian, pasti sesuatu pernah terjadi, Hyung."
"Tidak, Baekhyun. Kami berdua tidak melakukan apa yang kita lakukan secara privasi."
Baekhyun tersenyum kecil, hampir seperti seringai. "Yang aku maksud adalah kalian berdua tentunya tidak membicarakan OTP."
Luhan menaikkan bahunya, entah mengapa ia merasa begitu lelah untuk menanggapi.
"Benar tidak terjadi sesuatu?" Tanya Baekhyun memastikan.
Luah menghela nafas panjang, lebih baik ia mengakui hal yang terjadi karena itu satu-satunya jalan keluar dari tuntutan juniornya. Ia menegak bir kalengan miliknya yang sudah tidak dingin lagi, membiarkan rasa pahit mengalir di tenggorongannya. Ia memutuskan bicara tanpa menatap Baekhyun, "Sehariaan ini Jongin bermain dengan Chanyeol; menyuapi Jongin, bermain bersamanya, bahkan ia menimang Jongin hingga tertidur lelap. Kau tadi menanyakan ada hal terbesit, aku akan katakan: ada, namun bukan dengan dirinya yang terbayang; hanya betapa menyenangkan jika memiliki pasangan dan saling berbagi mengurus Jongin dan hal lainnya entah apa itu yang kau bilang 'so domestic it's frustated me'," jawab Luhan panjang lebar dengan sekali tarikan nafas. Ia terengah dan wajahnya kini memanas entah karena malu atau kekurangan oksigen.
"Itu akan lebih baik jika kau membayangkan hal itu dengan Park Chanyeol. The husband material you go there."
"Tidak, we don't belong together, okay? Itu terdengar terlalu mustahil, apalagi menjadi kenyataan. Lebih baik jangan dilanjutkan jika tidak akan membawa ke arah yang pasti."
Baekhyun hanya menganggukan kepalanya dan beranjak menuju dirinya. Luhan menyandarkan tubuhnya pada Baekhyun begitu ia didekap dalam rangkulan.
"Kalau begitu, cari pria yang lebih baik darinya; doting husband and father material," gurau Bakehyun.
Luhan hanya mengangguk iya. Tuhan, ia sama sekali tidak ada rasa pada Park Chanyeol. Jika mendapat seorang suami seperti dirinya, atau lebih, ia tentu tidak menolak.
.
.
Hello, been a while, no? been busy with my papers; exams and blah, and well I have been reading or more likely spending my time reading 1D AND 5SOS fanfics. Jesus, I'm not even a fan but those fics in their fandoms are just so good. Sorry, I'm rambling nonsense.
Okay, you can call me Mimi from now on and thank you to Guest88 for call me 'Mimi', I wish I know your name, darling. :)
I'm so glad many of you adore baby Jongin but who doesn't? ;) still, Jongin kecil masih belum sebegitu banyak muncul pada awal cerita karena porsi kemunculan karakternya akan lebih sering saat Chanlu bersatu. just not this time.
as many of you have taken inserts in 'Sex God', mmm... I can guarantee you will learn his name in the later chapter, is he a major character? I guess.
and, Thank you so much for commenting and reading, even follow/favourite this story :) and I'm sorry I don't mention your name here. anyway, thank you.
any of you like mpreg? then, watch this movie 'Paternal Leave', it's so good, but cliche just like you have read in fanfic but still good nonetheless. Great acting, not overly awkward and trust me no secondhand embarrassment. Right in the feels.
thank you.
