park chanyeol/xi luhan; multichapters; 2426 words.
I'm bored af. I'm in no mood for writing anything as I read too many fanfics in one go. It's never been a good idea. But, I'm mostly tired that my class got another exchange students from south korea.
It amazes me how people find this story as good because the more I read it the more I don't understand of every word I have written; I don't get it. I really appreciate it if you think so. Thank you. (as I have mentioned before I was not into kpop anymore, I was not, I am not. I'm sorry, but I will not abandon this story.)
I did promise you I would publish this chapter as soon as possible, but I did not, well because I rewrote this second part as I was not satisfied with how the story went. So yeah, I changed it.
This is the shortest chapter I've ever written, so yeah be patient it's hard for me as my brain screams my native language but my fingers write in bahasa Indonesia in full sentences. But I do enjoy the pain.
And I have nothing to say no more. Enjoy the porn like you do mayo.
*from this chapter I changed Xi Luhan to Luhan, because I forgot Lu is his family name, but I keep writing his name Luhan, not Lu Han.
"Pemberitaan ini benar-benar konyol," desis suara feminin memecahkan lamunannya. Luhan mengangkat kepalanya, mendapati Hanjin dengan muka kesal menyaksikan tayangan gosip. Pemberitaan Luhan dan Chanyeol. "aku ingin menikmati pemberitaan yang lain; bukan bualan tentang sahabatku dan model ini."
Luhan terkikik pelan. Dari semua orang yang ia kenal dan mengetahui pemberitaan ini, hanya Hanjinlah yang paling murka. Mengatakan betapa konyolnya media massa menampilkan foto anak mereka tanpa ijin, mengatakan Luhan terlalu dungu (Hei!) menjadi seorang guru SMA, dan Park Chanyeol bukanlah tipe seorang Xi Luhan.
"Jika dipikir-pikir, Park Chanyeol terlihat seperti pria yang akan kau nikahi," komentar Hanjin setelah mematikan televisi di ruang keluarga Luhan.
Luhan menghela nafas berat, ia mulai lelah dengan topik pembicaraan ini. Harus berapa kali ia mendengarkan ini? "Tidak bisakah orang-orang berhenti mengatakan model itu orang yang pantas untukku? Aku tahu salah karena hatiku mengatakan salah," jawab Luhan kukuh.
Hanjin hanya menatapnya, terlihat jelas iris cokelat gelap itu tidak percaya akan pernyataan dirinya. Tuhan, ia tahu tentang dirinya sendiri.
Wanita itu terlihat berpikir sejenak dan bergumam, "Mungkin aku salah."
Mata Luhan tetap lekat pada wanita di hadapannya. Tubuh ideal wanita itu terlihat elegan walaupun hanya berbalut pullover tipis dan sweatpants, rambut hitam panjangnya digulung sembarang, dan wajah yang hanya teroles makeup ringan. Ugh, tapi seringai kas wanita sarkartik ini membuat Luhan muak. Itu selalu membuatnya bertekuk lutut, wanita ini adalah alpha, posisi tertinggi dalam rantai makanan. Tapi bagaimanapun ia tetap menyayangi wanita yang telah memberinya Jongin.
"Berhenti menatapku terus. Aku tahu aku menawan tapi tatapanmu itu... berlebihan." Nada sarkasme jelas terdengar di setiap kata yang terlontar. "Ke topik lain; I see that this pretty boy had gotten laid," goda Hanjin saat menjatuhkan dirinya di atas pangkuan Luhan.
Luhan dengan segera melingkarkan tangannya pada pinggang Hanjin, ia merebahkan kepalanya pada dada wanita itu, mencari posisi aman. Luhan menutup kepalanya, menikmati sensasi menggelitik ketika jemari Hanjin memainkan rambutnya. "Dia adalah pasangan yang sangat memuaskanku. He was hot—smoking hot, big hung and deep voice. He was so perfect and amazing, so was the sex," ucap Luhan sedikit bermetafora, tapi itu hampir kenyataan dari percintaannya dengan 'Sex God'.
"Apa kau mendapatkan nomornya?"
Luhan bergidik merasakan hembusan nafas Hanjing menggelitiknya. Ia menggelengkan kepalanya dan bergumam, "Ia memiliki kekasih, mungkin."
Kedua tangan Hanjin mencakup wajahnya, mendekatkan wajah mereka. Wanita itu memberikan kecupan kilat pada bibirnya. "Oh, my poor boy."
"I didn't mind, it was one time thing. Setidaknya percintaan kami memuaskanku," sangkal Luhan pelan.
"If you say so, darling."
Luhan tersenyum ringan, ia memeluk wanita itu semakin erat, ia tidak memiliki alasan khusus untuk itu. Hanya ingin kehangatan tubuh orang lain tersalur kepada dirinya.
"Lalu, bagaimana dengan persiapan pernikahanmu, Jin?" Tanya Luhan.
Wanita ini menjauhkan tubuhnya dari Luhan, menatap Luhan dengan sumringah, mata elegan itu berbinar senang. Oh, wanita ini benar-benar dimabuk kasmaran.
"Oh! Aku rasa kita memerlukan waktu seharian membicarakan topik itu," balas wanita itu mengebu-ngebu.
"Lalu, apa yang kau tunggu?"
Kim Hanjin menariknya ke luar ruangan.
Hari ini sesuai dengan janji mereka, Luhan dan Chanyeol akan bertemu dengan manager dan beberapa orang dari agensinya di sebuah restoran pusat kota Seoul. Luhan menolak ajakan awal model itu untuk menjemputnya, ia berpikir itu akan lebih mengundang media.
Di sini ia duduk tercengang di dalam mobil. Matanya masih berkijap cepat tak percaya menatap hal di hadapannya. Sebuah restoran eropa, yang tentunya selalu ia dengar hanya para pejabat, artis terkenal; ugh, bahkan aktor kesayangannya, Chris Evans, sempat mampir ke restauran ini. Untuk pertemuan biasa bukankah ini sedikit berlebihan?
"Hyung, apa kau yakin ini tempatnya?" Sebuah suara menanyainya.
Luhan menoleh ke arah kursi kemudi, Byun Baekhyun sedang menatap ke depan dengan tatapan tercengang.
"La Rogue, bukan?"
"La Rague," ulang Baekhyun.
Tidak ada ucapan yang terlontar di antara mereka. Luhan terdiam menatap jemarinya yang saling terjalin, entah mengapa rasa gugup muncul pada dirinya, darah dalam nadinya mengalirkan rasa ragu di setiap deguman jantung yang terdengar jelas di pendengarannya. Ia merasa dungu karena tak tahu alasan mengapa ia begini. Seorang Luhan jarang merasa gugup.
"Kau tidak apa, Hyung?"
Luhan hanya mengerjapkan matanya menatap tangannya kini digenggam erat oleh Baekhyun. Menyalurkan rasa nyaman dari sentuhan itu.
"Tidak perlu gugup, Hyung, kau datang ke sini untuk menyelesaikan masalah. Jadi angkat dagumu and tuntaskan skandal konyol ini, hmm?" Ucap Baekhyun sambil memberi kecupan singkat pada ujung bibir Luhan.
Luhan mengangguk, rasa gugupnya mulai berangsur hilang. Luhan mengaktifkan kamera pada ponselnya untuk mengecek penampilannya; ia rapikan rambutnya yang masih terlihat rapi, ia hanya ingin terlihat sempurna. Luhan tersenyum kecil melihat refleksi dirinya pada ponselnya, beberapa hari lalu ia mewarnai rambutnya hitam kembali. Ia ingin mengganti suasana di musim panas ini, lagipula rambut hitam selalu membuatnya lebih elegan dan dewasa. (Pirang selalu membuatnya terlihat ceria dan energik.)
"Jaga Jongin, ingat apa yang sudah aku jelaskan tentang ini," peringat Luhan sambil mengecek putranya yang kini sedang terlelap di car seat. "Semua perlengkapan untuknya sudah aku siapkan di tas bayinya; jangan sampai ia melewatkan jam cemilannya karena balita itu pasti akan proses ingin makan makanan manis di malam hari. Ingat pula—" Celoteh Luhan terputus ketika bibir Baekhyun membukamnya diam.
Baekhyun mendesah kesal, namun pada matanya terpantar rasa sayang di sana. "Hyung, kau sudah mengingatkanku semalam, aku menghafal hal itu di luar kepala. Lagipula, ini bukan pertama kalinya aku menjaga Jonginnie. Jadi jangan terlalu khawatir, pikirkan saja hal yang akan kau hadapi di restoran itu."
Luhan terdiam tidak berkata apapun, walaupun ia masih ingin melontarkan kata-kata.
"Sudah, cepat masuk ke restoran itu. Kau tidak ingin mereka menunggumu lebih lama lagi, 'kan?" Ingat Baekhyun karena mereka sedikit terlambat enam menit dari waktu janji. Walaupun itu hitungan menit, terlambat tetap saja terlambat.
Luhan menyerah, ia menatap putranya sekali lagi. "Baik, baik." Luhan menjorokkan tubuhnya ke kursi belakang hingga Jongin dekat dengan jakauannya. Ia menatap balita mungil itu sejenak sebelum menyubit pelan pipi gembulnya, "Jangan buat repot Baekhyun Hyung, Jonginnie."
Luhan secara perlahan menutup pintu mobil di belakangnya seraya menatap bagunan restoran yang sedikit berbeda dari gedung-gedung di sampingnya. Ia menghela nafas perlahan dan berjalan menuju arah pintu kemudi mobil Baekhyun, ia mengetuk perlahan kaca jendela.
"Ada apa, Hyung?" Tanya Baekhyun dengan rona kebingungan.
"My good luck charm," sahut Luhan singkat. Ia mendekatkan tubuhnya pada pintu mobil begitu tangan Baekhyun melingkar pada lehernya secara perlahan. Bibir tipis Baekhyun menyentuhnya dengan sentuhan lembut, sensasi yang diberikan tepat seperti yang ia harapkan. Luhan memperdalam kecupan sederhana itu dengan memaksa lidahnya masuk ke dalam mulut Baekhyun hingga juniornya meremas leher Luhan. Cumbuan mereka memang terburu dan tak seritme, namun ini yang Luhan perlukan sekarang untuk menenangkan tubuhnya, ia memerlukan ini untuk melepaskan hormone supaya tubuhnya tenang dalam kendalinya.
Baekhyun menyudahi cubuan mereka begitu bibirnya terpisah oleh Luhan. Luhan sedikit kesal karena Baekhyun mengigit lidahnya sedikit kasar untuk menyudahi ciuman mereka.
Dengan nafas terengah Baekhyun berkata, "No PDA, okay? Tentunya tidak ingin orang-orang mengetahui bahwa Hyung baru saja 'dimakan', 'kan?"
Luhan mengangguk dan mengecup bibir Baekhyun sekali lagi, segitu singkat hingga ia tak tahu apakah mereka sudah bersentuhan atau tidak. Ia mengecek dirinya pada kaca spion dan mendapati dirinya tidak begitu terlihat seperti orang yang baru saja melakukan sesuatu; hanya bibirnya sedikit memerah dan bengkak. Secara keseluruhan Luhan terlihat sempurna, ia akui itu.
Luhan berjalan perlahan menuju pintu masuk restoran eropa tersebut. Ia memberi senyuman ramah pada valet yang dengan ramah membukakan pintu untuknya. Ia melangkahkan kakinya ke arah meja resepsionis dan menanyakan meja reservasi untuk Park Chanyeol.
"Tuan Luhan?" Tidak salah jika Luhan merasa terkejut ketika seorang valet mengenali dirinya. "Tuan Park sudah menunggu Anda di ruangannya. Mari saya antarkan."
Luhan hanya bisa mengangguk dan mengekor di belakang valet itu. Selama perjalanan menuju meja reservasi Park Chanyeol, Luhan memerhatikan seluruh sudut di sekelilingnya. Restoran ini memang memberikan nuansa dan suasana ala Eropa Barat; gaya arsitektur yang Luhan tidak peduli berasal dari abad ke berapa. Tidak banyak yang duduk dalam restoran itu saat ini karena ini masih siang hari. Restoran seperti ini memang lebih pantas dikunjungi malam hari, pantas saja Park Chanyeol, atau lebih tepatnya; agensinya, memilih tempat ini untuk bertemu.
Luhan mengerjapkan matanya sedikit heran ketika mendapati dirinya sudah berada di dalam ruangan, valet yang berjalan di hadapannya kini sudah keluar dari ruangan. Ia melihat di sekelilingnya dan mendapati beberapa orang sudah menduduki ruang tersebut, namun hanya seorang yang ia dapat kenali.
"Park Chanyeol," sapa Luhan ketika melihat model muda itu berjalan menujunya. Ia membiarkan tubuhnya ditarik dalam rangkulan lekat pemuda itu.
"Luhan Hyung, apa kabar?"
Luhan menghela nafas pelan, "Bukankah pagi ini kau sudah menanyakan hal itu?"
"Untuk siang ini aku belum," sahut Chanyeol dengan nada canda.
"I'm fine, Chanyeol. Just a little bit under the weather, yeah," jawab Luhan lugas.
Model itu hanya memberinya senyuman lebar dan menarik tangannya tanpa aba-aba. Park Chanyeol memperkenalkan dirinya kepada seluruh orang yang berada di ruangan saat ini. Tak ada satu pun orang kulit kuning di ruangan itu; hanya dirinya dan Park Chanyeol. Luhan menatap kagum pada Park Chanyeol yang menganti tuturannya dari bahasa Inggris ke bahasa Perancis hingga bahasa Spanyol atau Itali yang Luhan tidak tangkap dengan jelas, karena hanya satu bahasa dari itu semua yang ia ketahui.
"Masih ada satu orang yang belum hadir di ruangan ini," kata Chanyeol sebari menarik kursi untuk Luhan, ia baru menyadari entah berapa lama mereka saling bergenggaman tangan. Such gentleman. "managerku. Masih ada beberapa hal yang perlu ia selesaikan, jadi kita harus menunggu sampai dia hadir."
Luhan hanya mengangguk paham. Entah mengapa, baru beberapa menit berada di ruangan ini, ia ingin cepat-cepat pertemuan ini berakhir. Ia ingin merangkul putranya seharian.
Luhan tidak mengeluarkan suaranya sama sekali, ia berbicara jika ia ditanya itupun hanya dari Park Chanyeol atau pria paruh baya bermata biru keabuan—Jack Douglas—yang sejak ia diperkenalkan selalu memberi senyuman ramah pada Luhan. Dalam kesunyiannya, Luhan memerhatikan setiap gerakan Park Chanyeol yang mengobrol dan tertawa puas dengan orang-orang. Walaupun tak ada satu pun ucapan yang ia mengerti, namun terlihat jelas hubungan Park Chanyeol dengan orang agensinya sangat terjalin dengan baik. Hubungan seperti itu mungkin jarang terjadi.
"I'm sorry I'm late." Suara bas menarik perhatiannya. Suara ini lebih berat dan sedikit lembut dari suara Park Chanyeol yang sedikit serak. Suara berat yang Luhan kenal jelas dengan pendengarannya karena secara tak langsung tubuhnya mengenal jenis suara ini, walaupun ia sudah mengintruksikan otaknya untuk tak mengingat itu lagi.
Jika Luhan terkenal dengan ekspresi netralnya pada situasi formal, maka untuk kali ini ia tidak dapat mengendalikan dengan teliti. Dengan tatapan mata tajam yang menatapnya lurus dan sangat ekspresif seperti tatapan yang diberikan padanya saat dia berbaring di atas tempat tidur orang itu sambil berdesah tak karuan. Tatapan itu, senyuman tumpul itu, segalanya dari orang itu; Luhan sama sekali dibuat kikuk dan bingung tanpa alasan yang jelas. Bohong jika Luhan mengatakan ia tidak ingin bertemu dengan orang itu, namun bertemu kembali dalam situasi seperti ini tentu bukan dalam skenarionya.
"It's nice to finally meet you, Mr. Lu. I'm Wu Yi Fan, Wufan for short." Senyuman simpul itu kembali di bibir tebalnya, namun jauh lebih ramah dan tidak seseduktif saat pertama kali mereka bertemu.
Wufan. Nama yang pantas untuk orang itu. Pria di hadapannya kini jauh berbeda dengan pria yang ia temui di klub malam itu. Sex God, judukan yang ia berikan, memiliki rambut hitam legam, pembawaannya santai namun aura kharismatik menyelimuti tubuh jangkungnya, hampir tidak ada senyuman ramah menghiasi bibir tebalnya, jika senyuman seduktif tak dihitung. Namun, Wufan; pria yang kini sedang menggengam tangannya untuk berjabat tangan, sedang tersenyum ramah, pembawaan tubuhnya sangat professional dan sedikit kaku—mungkin karena situasi formal saat ini. Wufan dan Sex God adalah orang yang sama, namun kesan yang diberikan sangatlah berbeda. Sejauh apapun Luhan berpikir, mereka berdua tetap orang yang memikat.
Luhan menarik tangannya kembali dari Wufan karena merasa mereka sudah terlalu lama berjabat tangan dan menatap mata satu sama lain. Ia memberikan senyuman kecil sebelum kembali menjatuhkan tubuhnya ke samping Chanyeol.
Lebih baik ia memfokuskan pikirannya pada topic yang akan mereka diskusikan dari pada terfokus pada seorang yang duduk di seberangnya.
Luhan membasuh wajahnya sekali lagi dengan air dingin. Ia mencoba menjernihkan pikirannya, merangkai kata-kata yang telah di sampaikan padanya beberapa waktu lalu. Agensi Chanyeol sepakat akan mengadakan pertemuan besok untuk membersihkan namanya dan model itu. Mereka sepakat tidak akan mengekspos Luhan, Jongin, atau keluarga yang ikut terseret dalam pemberitaan ini. Semua topik akan terfokus pada Park Chanyeol dan Luhan yang sama sekali tidak memiliki hubungan apapun.
Luhan mendesah pelan, ia merasa beban di pundaknya sedikit berkurang. Ia berdoa dalam hati agar pertemuan besok berjalan lancer dan ia tidak ingin wajahnya muncul lagi dalam pemberitaan media massa. Ia sudah cukup lelah. Ia ingin kembali dengan kehidupannya yang normal sebagai karyawan dan seorang ayah. Hanya itu.
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan dirimu lagi." Sebuah suara memenuhi toilet yang ia kunjungi.
Luhan mengankat kepalanya dan menatap refleksi Wufan yang sedang bersandar pada dinding salah satu stall kamar mandi.
"Wufan."
"You left," kata pria itu singkat. Mata tajamnya masih menatap lurus pada Luhan. Sekali lagi, Luhan sama sekali tidak bisa mengartikan tatapan pria ini. Sangat sulit ditebak.
Luhan menutar bola matanya, dia pergi bukankah itu sudah sangat jelas di antara mereka. Just a one time thing, walaupun malam itu sangat memuaskan dirinya.
"Aku ingin membuatkanmu sarapan begitu pagi tiba, alas, kau sudah meninggalkanku tanpa memberimu apapun."
"Apa?" Luhan menatap refleksi Wufan heran, ia tak menyangka bahwa kata-kata ia yang akan dia dengar dari pria itu. Ingin membuatnya sarapan?
Wufan berjalan mendekati dirinya, ia berhenti ketika tubuh mereka saling menempel; sma seperti mereka bertemu waktu itu. Tubuh mereka saling bertemu untuk menyatukan titik hangat tubuh mereka. "Kau berhutang padaku," bisik oria itu.
"Hutang?" Luhan memicingkan matanya menatap mata Wufan pada refleksi di cermin. Dilihat-lihat, jarak di antara mereka sangat intim, tentu saja ia tidak ingin membuat salah paham jika ada orang lain yang masuk di antara mereka.
Wufan tidak menjawab, pria itu hanya mengambil tangannya dan meletakkan secarik kertas kecil pada tangannya. Luhan secepat kilat memfokuskan pikirannya ketika otaknya mulai menatap takjub berbedaan antara telapak tangannya yang terlibat begitu kecil dibandingkan Wufan.
"Call me," bisik pria itu.
"Wufan," desis Luhan, nama itu masih terasa asing di lidahnya. "It was just one-time thing, we can't do this again!"
"Hmm, I'm a gentleman, so let me wine and dine you," jawab Wufan ringan. "kau tidak perlu khawatir, ini tidak akan terjadi lagi. Aku merasa tidak enak jika aku tidak mengajakmu makan bersama. Anggap saja ini ucapan terima kasihku telah membuatku puas selama aku di sini," jelas Wufan.
Luhan terdiam sejenak. Ia mendengar jelas nama ketulusan dari suara Wufan. Tapi Luhan selalu menolak jika kencan semalamnya ingin bertemu kembali dengan dirinya. Tapi untuk kali ini entah mengapa ucapan penolakan sangat sulit terlontar dari mulutnya.
"Baiklah." Luhan akhirnya menjawab.
"Call me."
Luhan mengangguk dan pria itu pergi dari balik pintu putih itu.
.
It's been a long time, yes? I've been busy with my life, catching up with everything I've been neglecting on.
and kudos for everyone who guessed the Sex God was Kris Wu. You guys sure are sharp.
and I promise you, mark my words, smut on the next chapter. full of porn, I guarantee.
See you next time!
