park chanyeol/luhan; multichapters; 2524 words.

warning: explicit language.


Pengkarakteran Luhan is quite a shock, isn't it? Like a total plot twist. I mean, he is a healthy grownup man so his sexual life is damn active—there is no off switch—horny all the time.

And no, no gay man would like to kiss any woman willingly. I rather portray Luhan as a womaniser gay man excessively much, but that's because Luhan and Hanjin have this thick and deep bond, she was his first hetero kiss. They are like the same person. (Here I wish I had a gay best friend.) And I won't abuse his characterisation to make him like some stereotypical gay man in those cheap lgbt films, I clearly made him gay, so.

As many of you asked this story was chanlu and were confused with luhan's relationship with other men, [Spoil Alert] Luhan bukan tipe yang akan jatuh cinta pada pandangan pertama, namun Park Chanyeollah.

I am so sorry—forgive me, I promised you that I would publish well the 'hella good things', if you know what I mean. As my friend from Bosnia said that you are on fasting right now, or simply said you cannot read farther than pg-13, so this is it; the semi-filler of this series, yet there is a main element in a plot untuk masa depan hubungan Luhan/Chanyeol.

*Charles is Park Chanyeol's western name. I think it suits him as it sounds similar to Chanyeol. So, do not be confused when you read he is called 'Charles'.

**The 'hella good things' is straight outta next month, I already done writing it 'til chapter 6.


"You are mental, Hyung."

"Nah, I am horny as fuck," jawab Luhan sedikit sarkastik. Namun, jawabannya memang mendeskripsikan keadaannya sekarang. Belakangan ini sepertinya libido dalam dirinya semakin menguasai akal sehatnya, bahkan tubuhnya sudah terselimut hormon testosterone. Setiap pagi ia selalu disambut ereksi yang tak terduga; ia tidak mimpi basah, namun Tuhan, sahabat kecilnya selalu menyambutnya setiap pagi, seolah-olah setiap pagi menyapa 'long time no see, big guy'. Jangan salahkan jika ia kembali membuka folder rahasia yang dipenuhi video porno homoseksual berbagai genre yang ia simpan entah sejak kapan—ia akan tonton jika benar-benar dalam keadaan darurat. His recent interests are finger-fucking and cumming untouched.

Dear Lord, he wish he had a partner so he could to that with much satisfaction. But, there he was with his lonely dick wrapped around his palm to reach that high heaven. That poor guy Luhan.

"Jadi, apa kau akan menghubunginya, Hyung?" Tanya Baekhyun sambil membuat lipatan-lipatan kecil pada potongan kertas kecil yang tertulis nomor ponsel Wufan. Setelah acara pertemuan dirinya dengan agensi Park Chanyeol, Baekhyun yang datang menjemputnya langsung ia tunjukkan potongan kertas itu. Menjelaskan panjang lebar pertemuannya dengan Wufan pertama kali di klub malam, hari ini mereka telah bertemu kembali di dalam scenario terburuk dalam sejarah, dan hal yang terjadi di dalam toilet dan bagaimana dirinya bertemu.

Luhan menatap menerawang pada mata Baekhyun, ia terdiam sejenak sebelum menyahut, "He demanded."

"Aku bertanya: apa Hyung akan menghubunginya?" Tanya Baekhyun sedikit kesal.

Luhan mengganguk. "Tidakkah ini terdengar munafik bahwa aku ingin bertemu dengannya, namun aku tidak ingin tidur dengannya lagi," Luhan tertawa lirih, "tapi tubuhku tidak bisa aku bohongi, aku ingin Wufan menyentuhku sekali lagi. Aku—" Luhan terdiam sejenak, pada benaknya sekarang terjadi konflik yang tidak dapat ia terka jalan keluarnya, tubuh dan otaknya tidak sejalan dengan kata hatinya. Ia terlalu bingung. "—hanya ingin bertemu dan berbicara dengannya secara normal. Seperti pria dan pria sewajarnya, namun aku hanya takut jika terlalu dalam hal yang sama akan terjadi lagi. Tubuhku terlalu gila untuk kukontrol sendiri."

Luhan bukan orang yang munafik. Ia tahu jelas penghujungnya jika ia menerima tawaran makan malam dari Wufan. Walaupun pria itu mengatakan itu tidak akan terjadi lagi di antara mereka, siapa yang tahu nantinya jika tubuh mereka sama-sama tertarik dan menyatu dalam spektrum naluri liar mereka.

"Jika Hyung tidak menginginkan itu terjadi lagi, bertindaklah lebih cepat. Dengan kata lain: lari sejauh yang kau bisa. Jika kau tidak menginginkannya, tolaklah. Bukankah kau mengatakan ia menyebut dirinya sebagai pria gentle? Dia pasti mengerti," kata Baekhyun bijak. Luhan sedikit tercengang mendengar ucapan junironya ini; sangat jarang Byun Baekhyun menanggapi serius pembicaraan dengan topik seperti ini.

"Tapi, apa kau berpikir ini yang terbaik: bertemu dengannya lagi?" Tanya Luhan mengeluarkan kegundahannya.

Baekhyun mengangguk. "Jika Hyung merasa nyaman, mengapa tidak? Lagipula ini hanya ajakan makan malam, bukan? Jika lebih dari itu, tolaklah." Saran Baekhyun.

Luhan mengangguk perlahan setelah berpikir lama, ia memutuskan untuk menghubungi Wufan dengan pesan singkat: Mengenai ajakan makan malam itu, kapan dan di mana?

Luhan tidak menunggu jawaban dari Wufan. Sama sekali tidak. Malam harinya, tepat ia akan tidur malam poselnya berbunyi di meja samping tempat tidurnya. Sebuah pesan singkat dari Wufan.

Pesan yang dikirim pria itu tidak berbelit-belit; hanya menunjukkan pukul dan tempat di mana mereka akan makan malam bersama. Luhan menjawabnya dengan singkat: baik, sampai jumpa besok.

Luhan tidur dengan tenang, sama sekali tidak memikirkan scenario yang akan terjadi saat dia tiba di kencan—kencan?—bersama Wufan esok malam. Sama sekali tidak.


Park Chanyeol menelponnya pagi ini, suara bas pemuda itu terdengar ringan dan santai. Mendengar itu, Luhan dapat melihat bahwa Park Chanyeol sedang tidak dalam tekanan beban pikiran, berbeda seperti saat terakhir kali ia berkunjung ke kediamannya; tubuhnya begitu santai, namun kata yang terlontar seperti skenario yang sudah ia hafalkan berkali-kali, begitu teratur, jika ada satu cacat, mungkin pemuda itu akan kehilangan kendali.

Luhan mendengar secara perlahan setiap ucapan Park Chanyeol, pemuda itu memberitahunya pagi ini—tepatnya pukul 10—akan ada siaran singkat mengenai skandal hubungan mereka di salah satu saluran swasta, Wufan yang memberi informasi kepada pada pers secara langsung. Mendengar itu semua, Luhan akhirnya bisa bernafas lega, ia terbebas dari kekangan konyol ini.

"Terima kasih, Chanyeol," ucap Luhan tulus. Ia dapat mendengar tawa ringan dari ujung sana.

"Semestinya aku yang mengatakan itu: terima kasih, Luhan Hyung—" ucapan pemuda itu terputus dipertengahan intonasi, Luhan dia menunggu pemuda itu melanjutnya ujarannya. "—Bagaimana Jonginnie, Hyung?"

Sebuah senyuman hangat melengkung pada bibir Luhan, jika seseorang menanyakan tentang Jongin, walaupun ia tidak memiliki suara, ia akan tetap menuangkan rasa cintanya pada putra semata wayangnya. Luhan mengelus perlahan rambut Jongin, putranya kini dengan santai bersandar pada tubuhnya. "Jongin—" Luhan tertawa menyadari kepala Jongin langsung mendongakkan kepalanya, menatap Luhan dengan tatap tanya, "—dia baik-baik saja. Sedang berpangkuan padaku, menikmati kraker1. Apa kau ingin berbicara dengannya?" Tanya Luhan dan Park Chanyeol dengan nada gembira menyetujuinya.

Luhan menyaksikan putranya berbicara dengan Park Chanyeol, balita itu dengan suara dan cara bicara khas balita. Begitu menggemaskan ia menggenggam posel Luhan dengan kedua tangannya, dengan erat ia telpelkan benda itu ke pipinya. Luhan yang merasa kasihan melihatnya, mengubah mode telpon menjadi speaker, ia meletakkan posel itu di atas pakuan Jongin. Balita itu berbinar mendengar suara Park Chanyeol begitu keras dan jelas.

Tujuh menit berlalu, Luhan masih menyimak percakapan di antara Jongin dan pemuda itu. Percakapan didominasi oleh Jongin, balita itu berbicara semaunya, walaupun Chanyeol menanyakan hal secara spesifik. Namun, mendengar respon dari Park Chanyeol, pemuda itu puas dengan pembicaraan Jongin.

"Luhan Hyung? Hyung, masih di sana?"

Mendengar namanya di panggil, Luhan menjawabnya. "Ada apa?" Tidak ada jawaban langsung, namun Luhan dapat mendengar jelas Park Chanyeol sedang berbicara dengan seseorang yang bersamanya sekarang di ujung sana.

"Hyung?" Luhan bergumam. "Maaf, aku harus memotong di tengah jalan. Ada urusan pekerjaan yang aku harus selesaikan saat ini—" suara lawan bicara Park Chanyeol terdengar lagi, sepertinya model muda itu benar-benar dikejar waktu sekarang. "—Hyung, aku akan menghubungimu nanti. Luhan Hyung, Jonginah, sampai jumpa." Dan hubungan itu terputus dari pihak Park Chanyeol dan Jongin melambaikan tangannya ke layar ponsel.

Luhan meletakkan ponselnya pada meja di hadapannya, ia melihat Jongin yang kini lanjut menikmati kreker. Luhan menghela nafas, balita ini belum sarapan sama sekali, hanya menyantap kreker. Pasti akan repot menyuruhnya makan nanti.

"Jongiah, apa kamu mau jadi asisten ayah di dapur? Kita akan buat sandwich bersama!" Seru Luhan riang yang dibalas tatapan berbinar dari Jongin. Balita itu menepuk tangannya, tidak mempedulikan sepirhan kecil dari kreker berserakan di pakaiannya.

"Mau! Sanwis! Ayah, ayo!" Balita itu menarik tangannya menuju dapur.

08:32. Setidaknya masih sejam lebih sampai siaran itu diputarkan. Luhan ingin memanjakan dirinya bersama putra kesayangannya.


Hanya 11 menit, itulah seluruh waktu yang diperlukan Wufan untuk mengungkapkan kenyataan skandal Luhan dan Park Chanyeol. Wufan dengan serius memberi tahu awak media diapa sebenarnya Luhan, seorang ayah tunggal yang dikatakan memiliki hubungan dengan model ternama Park Chanyeol. Tidak lebih dari itu, namun Luhan merasa puas dan lega.

Banyak para awak media menanyakan kebenaran hubungan dirinya dan Park Chanyeol, Wufan dengan lugas selalu menjawab tidak ada hubungan apapun yang terjalin, Park Chanyeol hanya mengambil foto bersama Jongin. Luhan menyampaikan rasa salutnya pada Wufan di dalam pikiran, saat pria itu meminta para media untuk menghapus sisa foto Luhan dan Jongin yang masih tersebar secara media maya maupun cetak.

Topik pembicaraan dirinya dan Park Chanyeol dengan cepatnya berganti ketika seorang jurnalis muda menanyakan status hubungan Park Chanyeol. Seperti para penggosip di kalangan ibu rumah tangga, jurnalis itu dengan lihai dan tajam menanyakan hal itu kepada Luhan. Luhan merasa penasaran tentang hal itu setelah mendengar argument wanita itu. Seketika pertanyaan serupa tumpah.

Sesantai perawakannya, Wufan secara perlahan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Park Chanyeol saat ini sedang lajang, tidak ada kekasih yang bisa ia pamerkan di hadapan media, itulah yang dikatakan pria itu sebelum menyampaikan terima kasihnya pada awak media dan mempersilakan dirinya keluar dari meja konferensi.

Jawaban itu sedikit janggal dari apa yang ia lihat dengan matanya sendiri. Luhan bukan seorang yang gemar bergosip, namun mengingat kejadian di restoran saat itu, tentu saja menarik perhatiannya. Agensi artis akan menutupi jika hubungan para artisnya adalah serius dan bersifat privat. Jika hubungan komesial, tentu saja akan dipamerkan ke halayak dengan tangan terbuka.

Dari semua itu, itu bukanlah urusannya. Jika Park Chanyeol sebenarnya sedang menjalin hubungan dengan kekasihnya saat ini, biarlah mereka berdua menikmati masa percintaan mereka.

Luhan menyeruput lemonade dinginnya menyaksikan beberapa wartawan yang tidak pus dan semakin menggila menanyai kebenaran status lajang Park Chanyeol, dan mengejar Wufan yang berusaha keluar gedung. Dunia artis benar-benar aneh.

Luhan memindahkan saluran televisi menjadi saluran khusus anak-anak, ia menghela nafas pendek dan menyandarkan tubuhnya pada kursi, tidak sadar otot-otot punggungnya terasa kaku. Ia ingin menjadi anak muda lagi, percintaan di masa itu begitu bebas dan frontal, namun begitu sayang untuk dikenang. Percintaan orang dewasa, Luhan mendengus, tidak ada bandingnya saat ia masih muda dulu.

Suara monoton yang begitu familiar memecahkan pikirannya, ponsel miliknya berbunyi. Luhan dengan malas meraih benda itu dari atas meja, mengerjapkan matanya dengan cepat, Luhan tidak menyangka Wufan akan menelponnya. Terlebih lagi siaran langsung tadi baru saja usai.

"Halo?"

"Lu?" Suara bas menyapanya dari ujung sana. "Apa kau siap untuk kencan hari ini?" Nada candaan terdengar jelas dari suaranya, Luhan dapat melihat senyuman usil terukir di bibir pria itu. Benar-benar topik yang Luhan tidak pikir.

Luhan memutar bola matanya dan menyahut, "Ini masih pagi, Wufan." Lugas dan santai.

"Darling, tidak ada salahnya seorang pria menanyakan kencannya hari, tidak? A man can dream."

"Sod off, Wufan."

"Suck me off, Luhan."

Luhan memicingkan matanya dan menatap lurus denga tatapan jijik, seolah-olah Wufan kini ada di hadapannya. "Ew! Shut up, you twat! You can call a whore to do that for you!" Kali ini ia tidak bercanda, Luhan sama sekali tidak pernah bercanda jika dikaitkan dengan hal yang paling ia benci di dunia ini, fellatio—kata itu sama sekali tidak ada di dalam kamusnya atau tata bahasa yang ia anut. Terima kasih.

"Luhan, I'm sorry. I didn't mean that, sorry." Kata Wufan sungguh-sungguh.

Luhan mengangguk perlahan dan bergumam, "Kau mengatakan kita hanya akan makan malam bersama, tidak lebih," tanya Luhan memastikan.

Sebuah tawa ringan terdengar, dengan santai Wufan menjawab, "As I said: I am a gentleman, let me wine and dine you, Lu. Malam ini hanya malam bersama dan ngobrol. Itu saja, tidak lebih, Lu."

Entah mengapa semua perkataan itu hanya omong kosong belaka.

"'kay," jawab Luhan singkat.


Setelah jam makan siang, Hajin berkunjung ke kediamannya dengan kedua tangan yang penuh berisi tas belanjaan dengan beberapa merek ternama. Dengan senyuman, atau lebih tepatnya senyuman menyeringai menghiasi bibir ranumnya, ia berjalan menuju ruang tamu dan menjatuhkan semua tas itu di atas sofa.

"Di mana Jongin?" Tanya wanita itu sambil melihat ke seluruh menjuru arah mencari anak mereka.

"Ia sedang tidur siang di kamarnya," jawab Luhan malas. Ia berjalan menghampiri wanita itu yang kini sibuk mencari sesuatu di antara tas-tas belanjaan yang ia bawa seenaknya ke apartementnya. "Aku tahu kau datang ke sini bukan dengan alasan ingin mengetahui kabar Jongin, bukan?"

"Kau pintar, Lu," jawab Hanjin dengan nada sarkartik khas miliknya. Wanita itu masih sibuk memilah busana dari dalam tas, sama sekali tidak ada kontak mata di antara mereka berdua saat bercakap. Luhan malas meladeni wanita ini jika ia bersama sumber surga keduanya; pakaian—sumber pertama adalah keluarga kecilnya.

Luhan menjatuhkan dirinya pada sebauh sofa yang tidak dipenuhi tas belajaan Hanjin. Ia baru saja menyantap makan siangnya, namun entah mengapa berbicara sebentar dengan Hanjin dan melihat luapan tas di ruangan ini menbuat energinya terkuras habis.

"Apa yang kau lakukan?"

"Duduk," jawaban langsung terlontar dari bibirnya yang tentu akan membuat Hanjin kesal dan benar wanita itu melihatnya dengan tatapan geram. "Apa?"

Wanita itu mengehela nafas panjang, saat seperti ini Hanjin benar-benar terlihat seperti istri yang selalu kesal dan hobi ngomel. "Cepat berdiri dan coba pakaian-pakaian yang aku belikan untukmu!" Perintah Hanjin.

Luhan menaikkan alisnya bingung, "Untuk apa? Pakaian yang aku miliki masih laying pakai!" Sangkal Luhan tidak terima.

Hanjin memutar bola matanya malas. "Aku tahu, Lu. Tapi aku dengar malam ini kau akan berkencan, jadi ayo cepat coba semua pakaian ini!" Perintah wanita itu sambil menjatuhkan beberapa potong busana ke atas pangkuan Luhan.

"Jin," desah Luhan semakin lelah.

"Lu," beo Hanjin tak mau kalah. Wanita itu tanpa persetujuaan dirinya, membantunya untuk bangkit dari sofa dan berjalan menuju sofa.

.

Setelah lebih dari empat jam menjadi boneka Ken, Luhan—lebih tepatnya; Hanjin—akhirnya memutuskan setelan busana yang akan ia kenakan untuk makan malam bersama Wufan. Kemeja hitam polos dan celana kain hitam, tidak ada dasi maupun jaket suit yang menyertai. Potongan busana itu benar-benar pas dengan postur tubuhnya, seperti setelan yang dibuat khusus untuk dirinya.

Black is the new sexy. Kalimat itu yang dikatakan Hanjin, itu bukan style Luhan untuk berkata demikian.

"You are so getting laid tonight, Xiao Lu," kata Hanjin tiba-tiba. Matanya berbinar penuh rasa kagum menatap hasil karya masterpiece-nya, Luhan yang kini berdiri tegak di depan cermin besar, mengenakan busana yang ia beli. Boneka Ken yang hidup.

"You are so wrong about tonight, Jin," respon Luhan sambil membenahi rambutnya untuk sekian kalinya, dan sedetik kemudian tangannya ditampar perlahan oleh Hanjin yang mengomel itu hanya merusak rambutnya lebih parah.

Hanjin mendeham tanda tak percaya. "Whatever you say, babe. Mama does not tell lies."

"You are not my mama, Jin."

Hanjin menatapnya dari refleksi cermin, seringai simpul terukir pada ujung bibirnya. "I am your babymama, Xiao Lu." Kemudian tersenyum puas akan gurauan yang baru saja ia ucapkan.

Luhan menatap refleksi dirinya pada cermin. Dari sentuhan professional Hanjin, ia terlihat lebih jauh manarik dan ia berani mengatakan, lebih bergairah dari biasanya. Mungkin gaya rambut yang tidak biasa ia gunakan atau mungkin aura yang keluar karena sudah sekian lama ia tidak memiliki teman kencan. Kencan? Ya, ia tidak akan menyangal ajakan makan malam Wufan adalah kencan.

Hanjin memberi polesan tipis pada matanya, eyeshadow? –eyeliner? –mascara? Ia benar-benar tidak tahu nama benda yang Hanjin gunakan, yang pasti benda itu seperti pensil dan hitam.

"Apa yang kau tunggu lagi? Sejam lagi kau harus bertemu teman kencanmu," kata Hanjin memecahkan lamunannya. Luhan tersenyum kecil melihat Hanjin kini menggendong Jongin di pinggulnya. Ia berjalan menuju dua orang itu dan memberi kecupan kecil pada telinga Jongin.

"Sweet, sweet Jongin," gumam Luhan girang.

Balita itu menatap Luhan. Matanya terus berkiap, sepertinya ia terpukau dengan tampilan baru ayahnya. "Ayah…"

Luhan menundukkan tubuhnya agar matanya selevel dengan Jongin, "Hari ini ayah akan bertemu dengan seorang teman. Jadi, Jongin akan bersama Ma malam ini." Luhan mengucapkan dengan nada halus dan tenang, cara bicara yang selalu membuat Jongin tenang dan percaya pada dirinya.

Jongin mengangguk. "Cium, ayah," pinta Jongin sambil memajukan bibir kecilnya.

Luhan menggigit bibirnya gemas, Jongin terlalu kecil dengan tubuh mungil seperti ini, seperti anak burung. Luhan mulai bicara ngawur. Tanpa aba-aba Luhan menempelkan bibirnya pada bibir Jongin, ia membiarkan kecupan mereka lebih lama, ia ingin mengingat rasa bibir Jongin pada dirinya. "Muah." Tentu saja Luhan tidak lupa memberi efek suara kecupan begitu usai.

"Now, shoo! Temui teman kencanmu!"

Luhan mengangguk dan memberi kecupan kilat pada kening Hanjin dan kedua pipi Jongin. "See you, my love!" Ia berlari menuju pintu masuk setelah mengambil kunci mobil dan telpon genggamnya.

"Wear protections, Xiao Lu!" Seru wanita itu beberapa detik sebelum Luhan menghilang dari balik pintu.

"Jin!"

Alright, off we go.


.I know replying to comments, then put it before/after the story is kinda boring and annoying because probably it's going to be longer than the story. Yet, since your comments are the loveliest things I have read, why not, you bunch of sweethearts. (even tho, sometimes

I know replying to comments, then put it before/after the story is kinda boring and annoying because probably it's going to be longer than the story. Yet, since your comments are the loveliest things I have read, why not, you bunch of sweethearts. (even tho, sometimes i had a hard time to understand some of the words you used, but that's alright to me). Thank you :)

I'm going to reply comments from chapter 3-4 since I didn't receive some of your comments in my email and I just realised it days ago through the app. Am Sorry.

(I hope I didn't write your ID wrong.)

yellowfishh14: Yes, thank you for enjoying this little story of mine. I do wish you would do so 'til the end of this story. Stay by Chanlu's side 'til the end.

SehunHan04: Yes, and this is the fifth chapter. I cannot promise you I will update sooner and faster, sorry.

punyaJongin: You are welcome and thank you. Here the fifth chapter, I hope you enjoy this one as well. Yes, stay be Chanlu's side 'till the end, okay? :D

SenNunna: Hello, Love. A new taste? Well, I don't really know about it since I seldom, almost never, read fanfics in bahasa Indonesia. Believe me I don't read KPOP fanfics anymore, and this Chanlu story is inspired after I read Cherik fanfics and a novel by an amazing author; Ayu Utami-that's how the porn was born. Semua suka bibir Luhan, well Luhan is a kiss monster. Worry not, my dear fellow. This indeed is Chanlu, yet slow burn to have Luhan and Chanyeol as a pair.

LuluHD: Luhan is my baby, so i really carefully writing and describing his characterisation and appearance. I do try my best to make Luhan as real as gay men in real life, yet not scaring Luhan in real life. Kamu suka Baekhyun, well me too :D He is my favourite. Chanyeol is family orientated guy, so.

NishiMala: Did you watch the movie, then, dear? I wish you enjoyed it if you did. Baby Jongin is going to appear more if Chanlu reunites, and this is slow burn, so Luhan is not going to instantly fall for Chanyeol tho. Chanyeol masih harus berusaha membuat Luhan jatuh hati :D and can I tell you a secret? This is going to be Luhan centric for a while and this book is going to be a long journey.

seihiroohan: Hello, Love. Thank you for dropping by I'm glad you had found Chanlu, my ship needs some recognition :D You are lovely, all characters in this story are your favourites that made my day. I'm still rooting for Luhan asa father figure, like why not, he is gonna be a hot dad someday. Luhan and Hanjin are two persons; one heart, like Yin-Yang. Can I give you hugs, yeah Chanlu moments memang tidak tergambar terlalu eksplisit karena memang itu karakter dari Luhan, jadi pendeskripsian dirinya dengan Chanyeol masih belum tergambar jelas. Here some kisses and hugs for you my fellow chanlu shipper xoxo

hella good thingslaxyovrds: The 'H' is coming up next month. Brace yourself.

lairyn92: What does CBHS stand for? Here the update, dear. Hope you enjoy this one too :D

ohluhan07: Chanlu? Coming soon. The guy, Luhan, needs some journeys before settle down.

hunhanlight: well, I chose Chanlu, i do :D My writing style is weird af, but glad you appreciate it.

choHunHan: Yes, Chanlu is still burning in my veins.

Guest88 or Ismah Afifah: thank you for being this patient waiting for this story, I totally appreciate it and big hugs for you for dropping comments twice. I'm glad you like this 'new taste' as SenNunna had said above. Baekhyun dan Luhan, um, well they have something going on, I guess?

seluheksana: aww thank you for serenading me :D Yes, give Chanlu some love, I totally love it if you do so. Your kinds words warm my heart, thank you, really. Well, who doesn't love the 'hella good things'? I do.

xxluxx: Here my dear, enjoy :D Chanlu, oh well.

Jyotika Ai: *Dropping le hella good things, yet it is on next month* Here, grab some chips and enjoy this chapter.

Vteo: A long tittle is to appreciate my love for Chanlu. And here the update :D

tictockingclock: Oh shoot, thank you my dear if you think so. Chanlu indeed needs some recognition, even tho they are apart now in real life. This English is British English and enjoy your afternoon tea, darling *reads in Sussex accent*. Bottom Luhan, oh dear I have no such things when it comes to my stories. Men are men; and Luhan said he was a manly man. But, indeed Luhan is gonna bottom for Chanyeol. Perbedaan umur Chanyeol-Luhan itu sekitaran 8 tahun; Luhan is 33 yo, then Chanyeol is 25 yo. Baekhyun is gonna appear more, Hanjin I don't have plans for that woman. And, thank you again.

.

Thank you so much for your support, my dear fellow. Everyone who keeps commenting with kind and lovely words to me that I really appreciate it, it makes my heart sings. And everyone who is still with me; 31 favourites and 32 follows, thank you so much, darling. I hope you are going to stick with this story and me 'til the end :)

if you are interested in talking with me and be friends, you can add me on Kakao Talk. You can comment on this chapter, i will send you my id :)

Dan selamat menjalani ibadah puasa :)

Many hugs and kisses for you xoxo