Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.

.

.

Rumah tangga

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Rumah tangga by author03

Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata.

Drama/hurt/comfort

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 2

.

.

.

Badan Hinata yang tak berhenti bergetar sedari tadi, jantungnya yang tak kunjung normal, keringat yang terus membasahi pelipisnya. Ia bahkan tak bisa bernafas dengan normal. Tapi bagaimana bisa mereka para tamu merasa pasangan ini sangat bahagia?

"Semua ini adalah salah ku." Hinata membatin menyesal. Seandainya waktu itu ia tak pergi ke rumah Naruto. Hal ini tak akan terjadi... Ia sungguh tak akan mengira hal ini akan terjadi.

Flashback...

.

.

Naruto! Naruto! Turunlah! Pacarmu datang!" panggil Kushina senang yang membuat Hinata semakin membeku. Lidahnya menjadi sangat kaku. Suaranya tak ingin keluar. Ini salah paham! Ini lah yang ingin Hinata katakan.. Tapi ia terlalu takut dan terkejut untuk berbicara.

"Sakura?" Naruto membatin terkejut sambil mendudukan dirinya yang terbaring diranjang king sizenya. Tanpa babibu lagi Naruto langsung beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamarnya.

.

Langkahnya yang terhenti di tengah-tengah tangga ketika ia melihat seorang gadis yang membunuh orang tercintanya berdiri dihadapan ibunya.

"Aku bukan. Ada sesua"

"Sudahlah. Jangan malu." lagi-lagi Kushina menyela perkataan Hinata yang membuat Hinata menundukkan kepalanya. Kushina sama sekali tak membiarkan Hinata menyelesaikan kata-katanya.

"Ibu! Dia membunuh Sakura!" teriak Naruto yang membuat Kushina tersentak dan terdiam begitu juga dengan Hiashi dan Minato.

"Apa? Sakura?" tanya Kushina tak percaya. Apakah pendengarannya salah?

"Se-sebenarnya alasan aku kemari untuk membicarakan hal itu.. Ta-tadi hiks.. Aku tak sengaja menabrak Sakura yang menyebabkannya meninggal." jelas Hinata takut dengan kepalanya yang tertunduk sambil menahan isakannya agar tak keluar.

Hiashi, Minato dan Kushina yang masih terdiam tak percaya dengan lelucon ini sedangkan Naruto yang terus menatap benci Hinata.

"Sialan! Aku akan membunuhmu!" marah Naruto yang langsung berlari ke arah Hinata tapi Minato terlebih dulu menghampirinya dan menahannya.

"Jaga ucapanmu Naruto." marah Minato sambil terus menahan pergerakan Naruto.

"Naruto! Aku tahu Sakura memang sudah seperti adikmu tapi kau tak boleh begitu pada pacarmu! Dia tak sengaja!" marah Kushina yang risih dengan ucapan kasar Naruto yang membuat Hinata mendengarnya terkejut. Adik?

"Apa adik? Bukannya Sakura i~"

"Iya. Dia sudah seperti anak ku sendiri. Tapi itu tetap bukan alasan Naruto berkata sekasar itu padamu." sela Kushina tak suka. Mengapa anaknya menjadi sekasar itu?

"Adik?" Hinata membatin bingung. Bukankah Sakura itu pacarnya Naruto, mengapa Kushina mengatakan Sakura sudah seperti anaknya sendiri?

"Kushina-san, sebaiknya kami pulang dulu. Aku akan berbicara dengan Hinata dan sebaiknya kau berbicara dengan putra mu." ucap Hiashi yang bingung dengan semua ini sambil melangkah menghampiri Hinata.

"Aku mengerti." jawab Kushina yang langsung di balas anggukan oleh Hiashi yang kemudian menarik Hinata pergi.

.

.

"Naruto! Kau sudah keterlaluan! Kau tak boleh sekasar itu pada Hinata!" marah Kushina ketika ia mendengar suara pintu rumahnya tertutup dan menghampiri Naruto.

"Dia membunuh Sakura ibu!" jawab Naruto penuh emosi.

"Dia tak sengaja!" balas Kushina tak suka. Jujur Kushina juga terkejut mendengar berita ini tapi ucapan Naruto tetap saja keterlaluan.

.

"Ayah, itu salahku karena aku tak berhati-hati.. Hiks.." jawab Hinata merasa bersalah pada ayahnya yang terduduk disebelahnya sambil fokus mengemudi. Ia yang baru menjelaskan bahwa Sakura adalah kekasih Naruto dan Hinata baru menabraknya. Sejujurnya Hiashi tak begitu tahu soal hubungan Sakura dan keluarga Uzumaki.

.

"Apapun alasannya kalian akan tetap menikah." ucap Kushina yang membuat Naruto menatapnya tak percaya. Kushina tak perduli dengan semua tolakan Naruto soal Hinata membunuh Sakura. Hinata tak sengaja dan mereka tetap harus menikah.

.

"Mengapa aku harus menikah dengannya? Dia tak akan menyetujui hal ini ayah. Aku takut. Aku telah membunuh kekasihnya." jawab Hinata takut dengan air matanya yang terus mengalir. Ia sungguh takut.

"Hinata, jika kekasih Naruto meninggal atau tidak. Kalian akan tetap menikah karena itu adalah perjanjian antara kakek kalian." jawab Hiashi yang membuat Hinata menatapnya tak mengerti.

.

"Jika kau menolak pernikahan ini. perusahaan kita beserta semua asetnya akan berpindah pada Hyuuga! Mengapa kau tak mengerti!?" marah Kushina yang kesal dengan keras kepala anaknya.

.

"Mengapa kakek membuat janji seperti itu dengan keluarga mereka?" tanya Hinata putus asa.

.

"Dulu mereka adalah teman baik dan perusahaan Hyuuga maupun Uzumaki adalah satu. Mereka membagi satu perusahaan ini menjadi dua dan membuat janji. Jika cucu mereka berbeda jenis kelamin, mereka harus menikah. Jika salah satu menolak. Semua aset dan perusahaan akan jatuh ke tangan mereka yang di tolak. Asal kau tahu saja saat ini perusahaan kita bisa di ambil kapapun jika kakekmu atau kakek mereka masih ada. Jadi bisakah kau menikah dengannya?" jelas Kushina frustasi. Ia tak tahu mengapa ayah Minato membuat perjanjian seperti ini tapi bagaimanapun ia tak bisa membiarkan semua asetnya jauh ke tangan Hiashi. Jika sampai itu terjadi, mereka akan menjadi gelandangan.

.

"Tapi ayah. Hiks.. Aku takut." jawab Hinata takut, sejujurnya tak apa jika ia harus menikah dengan lelaki itu karena ia tak ingin ayah dan adiknya hidup sengsara tapi ia takut pada lelaki itu.

"Dia tak akan bisa menyakitimu. Tenang saja." jawab Hiashi menyakinkan. Ia tak punya pilihan selain menuruti janji yang dibuat ayahnya. Ia tak ingin keluarganya hidup sengsara kerena Hinata menolak menikah dengan Naruto.

.

"Dia membunuh Sakura, bagaimana bisa kau menyuruhku menikah dengannya? Asal ibu tahu Sakura itu adalah pac" ucapan fustasi Naruto yang langsung disela oleh ibunya.

"Asal kau tahu, beberapa hari lalu, Sakura berjanji padaku, ia akan pastikan bahwa kau menerima perjodohan ini. Bisakah kau turuti permintaan terakhirnya?" sela Kushina yang membuat Naruto terdiam. Mengapa Sakura mengatakan hal seperti itu? Naruto ingin mengatakan Sakura adalah kekasihnya tapi ibunya tak memberinya kesempatan untuk mengatakannya. Ia terus dipaksa harus menikah dengan orang yang telah membunuh orang tercintanya.

"Aku tak mau menikah dengannya." ucap Naruto masih berdiri pada pendiriannya yang membuat Kushina dan Minato frustasi.

"Menikah atau keluar dari rumah ini!?" pilihan yang lebih terdengar sebuah ancaman untuk Naruto. Sakura telah tiada. Ia tak punya alasan lagi untuk menolak pernikahan ini tapi ia tak mau menikah dengan orang itu. Tapi ia juga tak bisa membiarkan orang tuanya hidup menderita. Sakura sudah mati, percuma jika ia meninggalkan rumah ini karena Sakura tak akan kembali lagi. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi sekarang selain menuruti permintaan ibunya ini.

.

"Ayah. Aku yakin.. Hiks.. Jika pacar Naruto masih ada Naruto akan melakukan apapun agar ia tak menerima perjodohan ini." ucap Hinata yakin. Ia yakin Naruto akan lebih memilih meninggalkan semuanya demi Sakura dan jika pernikahan ini terjadi, maka pernikahan ini adalah salah nya.

"Tapi dia sudah tak ada. Apa yang bisa kau lakukan selain menerima perjodohan ini?" tanya Hiashi yang membuat Hinata terdiam. Ia harus menerima semua ini, ia tak ingin keluarganya menderita karena nya.

.

"Baiklah. Aku akan menikah dengannya." jawab Naruto pasrah yang membuat Kushina dan Minato menghela lega nafas mereka. Naruto tak punya pilihan lagi tapi ia bersumpah ia akan membuat Hinata sengasara. Pertama ia telah membunuh Sakura, kedua ia membuat Naruto tak punya pilihan selain menikah dengan pembunuh orang tercintanya.

"Maafkan aku putraku." ucap Minato menyesal. Ayahnya telah membuat janji ini dan tak ada yang bisa ia lakukan selain melaksanakannya. Ia tak ingin keegoisan Naruto membuat mereka sengsara.

.

"A-aku akan menikah dengannya." jawab Hinata pasrah, ia sungguh tak punya pilihan lain. Jika pernikahan itu sangat buruk untuknya. Itu tetaplah salahnya. Ini adalah fakta yang tak bisa Hinata abaikan.

.

.

Sehari setelah perdebatan itu. Mereka semua ikut ke acara pemakaman Sakura. Tak ada seorang pun yang berbicara dengan kedua orang tua Sakura, hanyalah doa dan kata semangat untuk mereka. Dan kedua orang tua Sakura pun hanya terdiam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka sedangkan Hinata yang terus menangis, menyesali kecerobohan nya dan Naruto yang hanya terdiam, berjanji akan membalas dendam.

.

Enam hari setelah itu acara pernikahan Naruto dan Hinata diadakan.

Flasback end..

.

.

.

.

.

Jam telah menunjuk pukul 21.02

Acara pernikahan yang telah selesai beberapa jam lalu, tamu yang telah pulang.

Terlihat disebuah rumah satu tingkat berwana putih, mewah dan besar. Ini adalah rumah yang akan ditinggali Naruto dan Hinata, pemberian dari orang tua Naruto.

Sebuah mobil berwarna putih yang baru memasuki gerbang rumah besar itu dan terpakir didepan pintu rumah.

Naruto yang langsung keluar dari mobilnya yang langsung diikuti oleh Hinata.

"Bawa koperku." perintah Naruto sambil terus menahan amarahnya dan melangkah masuk kedalam rumahnya.

Hinata hanya terdiam, tak berani menjawab pun membuka bagasi mobil dan mengambil dua buah koper ukuran besar, satu miliknya dan satu milik suaminya.

Bamm.. Hinata yang kembali menutup bagasi mobil itu dan menarik pelan dua koper besar itu masuk kedalam, tak lupa menutup pintu rumah setelah ia dan dua koper yang di tariknya masuk kedalam.

.

Hinata yang perlahan menghampiri Naruto yang masuk ke dalam sebuah kamar di lantai atas, masih dengan kedua koper di tangannya.

...

"Na-naruto." panggil Hinata takut ketika ia berdiri diluar pintu kamar yang dimasuki Naruto tadi. Hinata sangat takut, sedari tadi aura Naruto dipenuhi oleh aura amarah, seolah ia ingin membunuh Hinata.

Naruto yang langsung menghampiri Hinata dan merebut kasar koper nya.

"Aku tak perduli kau tidur dimana." ucap Naruto yang langsung menghempas kuat pintu kamarnya.

Bamm! Mata Hinata yang langsung terpejam ketika pintu terhempas itu hanya berjarak 3 cm dari wajahnya. Jantungnya terus berdebar kencang, badannya terus bergetar hebat, air matanya yang kembali berdorong ingin keluar.

"Hiks.. Jangan.. Menangis.." Hinata membatin sambil terus menahan isakannya agar tak keluar.

...

"Hiks.. Fuuh~" Hinata yang kembali menarik pergi kopernya ketika ia menghela nafasnya.

Hinata yang masuk ke kamar yang terdapat disebelah kamar Naruto. Ia tak tahu apakah Naruto akan marah jika ia tinggal di kamar itu tapi Hinata janji, ia akan pindah jika Narurto tak menyukainya.

.

.

.

.

Jam telah menunjuk pukul 23.01

Hinata yang telah membereskan pakaiannya dan mandi. badannya yang sudah terbalut rapi oleh piyama berwarna pink dan juga Hinata telah terbaring di ranjang king sizenya. Ia sudah hampir terlelap. Ia sungguh lelah. Lelah karena takut, lelah kerena menangis, lelah karena merasa bersalah kerena terus mengingat Sakura, lelah karena terus berpikir cara untuk membuat aura benci di tubuh Naruto menghilang. Lelah berpikir cara membuat Naruto agar tak bersedih lagi.

Yang Hinata inginkan hanyalah sebuah keluarga kecil yang berisi cinta tapi apa yang terjadi sangat jauh dari apa yang ia harapkan. Tapi itu tak masalah. Anggap saja membuang rasa benci Naruto sebagai hukumannya karena telah mencelakakan Sakura.

.

.

Hinata tahu ini tak akan mudah...

.

.

.

.

.

Kringgg... Alaram di meja kecil di dekat ranjang Hinata yang berbunyi.

"Hooaaammm.." Hinata yang mematikan alaram itu dan meregangkan semua ototnya.

Jam masih menunjuk jam 6 pagi. Matahari pun masih belum menampakkan dirinya. Tapi Hinata ingin bangun pagi, membuat sarapan untuk Naruto dan mungkin sedikit berbincang-bincang. Kalau tak salah Naruto akan ke kantornya jam delapan pagi. Ia ingin bekerja.

"Sebaiknya aku segera mandi." ucap Hinata yang langsung berlari ke arah kamar mandi yang terdapat di kamarnya.

.

.

.

Jam telah menunjuk pukul 07.32, matahari pun sudah keluar. Kamar Hinata yang sudah rapi, begitu juga dengan setiap inci lantai rumah ini kecuali kamar Naruto. Alasan mengapa kamar Naruto belum di sapu karena Hinata tak berani masuk ke sana.

.

Kini meja makan yang telah siap dengan dua piring sarapan berisi nasi goreng dan dua gelas jus orange.

Terlihat Hinata yang masih terduduk di salah satu bangku disana dan menunggu suaminya turun untuk makan bersama.

?

"Ah, Naruto. Aku sudah memasakan sarapan untukmu." ucap Hinata dengan senyumnya ketika ia menghampiri Naruto yang melangkah ke arah dispenser air. Badannya yang telah dibalut kemeja lengkap dengan jas.

!

"Melihatmu membuat aku menjadi ingin membunuhmu. Jika saja bukan karena ibuku, Kau sudah mati detik ini juga." ucap Naruto dengan penuh penekanan ketika ia mencengkram kerah kaos putih Hinata yang membuat jantung Hinata kembali berdebar. Lagi-lagi perasaan takut kembali hadir di dirinya dan aura benci kembali hadir di tubuh Naruto.

"Sialan!" marah Naruto yang langsung mendorong Hinata yang membuat Hinata tersungkur.

"Aauuch." desis Hinata sakit.

Baammm! Piang.. Piang.. Piang.. Naruto yang langsung menghampiri meja makan dan menarik kuat meja itu yang membuat meja makan itu tumbang yang menyebabkan piring dan gelas di atasanya jatuh, pecah dan berserakan.

Hinata yang hanya bisa berdiri dan membeku sambil menatap meja makan yang tumbang dan makanan buatan nya serta piring kaca yang berserakan.

Naruto yang langsung melangkah pergi, keluar dari rumahnya. Melihat Hinata membuat moodnya langsung memburuk. Darahnya yang langsung melonjak tinggi, rasa benci yang kembali mengeluti dirinya.

Blamm! Hinata yang kembali tersentak ketika ia mendengar suara pintu rumah yang di tutup dengan kasar.

"Hiks..hiks.." Hinata yang langsung berjongkok dan menangis dengan kepalanya yang tertunduk. Ia bukan hanya membuat Naruto bersedih karena kehilangan orang yang di cintai nya tapi ia juga telah membuat Naruto menjadi orang yang penuh amarah.

"Hiks.. Sakura.. Maafkan aku..hiks..hiks.." tangis Hinata yang semakin pecah. Ia tak menangis karena sikap kejam Naruto padanya, tapi ingatan kejadian dimana ia menabrak Sakura yang tiba-tiba mendarat di otaknya membuatnya menangis. Ia masih mengingat jelas kejadian itu. Ia tak bisa melupakan kejadian itu. Rasa bersalah dan takut masih saja menghampirinya. Ia tak akan bisa melupakan kejadian itu.

.

.

.

.

.

11.34

Tak tak tak tak.. Sepuluh jari yang menekan kuat keyboard di laptop..

.

Tak tak bam bam!.. Ketikan yang berubah menjadi tinjuan..

"Hentikan Naruto, Kau bisa merusaknya." ucap seorang lelaki berambut nanas malas, ia yang terbaring di sofa tak jauh dari Naruto yang seolah ingin menghancurkan laptop yang dipenuhi data itu. Sudah satu jam dan lebih dari lima kali lelaki nanas ini mengingatkan agar Naruto tak merusak laptop penting itu tapi tetap saja kejadian ini terulang lagi.

Lelaki ini bernama Shikamaru. Ia adalah asisten tepercaya Naruto dan juga teman sekolah Naruto.

Bamm bamm.. Piang! Crakk! Naruto yang langsung meninju layar laptop dan membanting nya sana-sini yang kemudian membuangnya kelantai beserta menyapu semua barang dan tumpukan berkas di mejanya tanpa berbicara sepatah katapun. Wajahnya yang terlihat stres dan penuh menahan amarah.

"Kau gila! Laptop ini sangat penting!" marah Shikamaru yang langsung berlari, menghampiri laptop yang tergeletak mengenaskan di dilantai.

!

"Masih hidup..." ucap Shikamaru lega. Shikamaru sangat perduli pada laptop ini karena semua data dalam benda kotak ini, ia yang mengerjakannya. Ia tak ingin mengulang semuanya hanya karena bosnya sedang kesal.

"Haah~" Naruto yang langsung menyandarkan dirinya ke sandaran kursi dan memijit keningnya. Mengingat kejadian dimana gadis sialan itu menabrak Sakura membuatnya stres, naik darah, benci dan kini ia malah tinggal dengan gadis sialan itu. Naruto sungguh tak bisa berhenti memikirkan Sakura dan tak bisa berhenti punya pikiran untuk mengirim gadis sialan itu ke neraka.

"Hei Naruto. Sudah waktunya makan siang. Pergilah. Aku akan mengurus semua ini." ucap Shikamaru berharap. Ia tak ingin Naruto meyobek berkas penting itu.

Naruto yang langsung beranjak dari tempatnya dan keluar dari ruangannya tanpa berbicara sepatah katapun. Membiarkan Shikamaru yang langsung sibuk memunggut barang yang berserakan di lantai.

...

"Sakura terlalu berlebihan." ucap Shimamaru sedikit menyesal.

"Padahal gadis Hyuuga itu sangat baik. Dia pasti sangat sengsara tinggal bersama Naruto. Bagaimana cara membantunya?" pikir Shikamaru bingung sambil terus mengumpulkan kertas yang terpisah-pisah dilantai. Melihat bagaimana sikap Naruto disini membuat Shikamaru khawatir pada nasib Hinata yang juga adalah temannya. Apakah Naruto menyiksanya? Apakah ia baik- baik saja? Cih!

"Merepotkan."

.

.

.

.

.

22.35

Hinata yang masih terduduk di sofa, ruang tamu dan menunggu suaminya pulang. Tak ada suara apapun selain suara nafas dan jam dinding.

Matanya yang terus menatap gangang pintu. Sejujurnya ia sudah ngantuk tapi ia merasa harus menunggu Naruto untuk pulang.

?

Gangang pintu yang bergerak-gerak yang membuat Hinata beranjak dari tempatnya dan berlari ke arah pintu.

Ceklik..

"Selamat malam Naruto." sapa Hinata dengan berusaha bertahan dengan senyumnya ketika ia membuka pintu masuk itu.

Satu tangan Naruto yang langsung menolak kuat pundak Hinata yang membuat Hinata termundur beberapa langkah. Lagi-lagi melihat Hinata membuat darah Naruto naik. Bisakah ia mengakhiri permainan rumah tangga sialan ini?

"Naruto.. A-aku sudah memasak makan malam." ucap Hinata menahan air matanya yang sudah memenuhi pelupuk matanya agar tak mengalir sambil menatap punggung Naruto yang menjauh tapi Naruto sama sekali tak menghentikan langkahnya ataupun memandang dan menjawabnya.

Blammm! Air mata Hinata yang langsung mengalir ketika ia mendengar suara pintu kamar Naruto yang terhempas.

"Hiks.. Aku harus bicara dengannya." pikir Hinata sambil menghapus air matanya.

.

.

Tok tok tok.. Hinata yang mengetuk pelan pintu kamar Naruto berharap Naruto membuka pintu ini dan berbicara dengannya.

"Naruto.." panggil Hinata sambil menahan air matanya agar tak keluar lagi.

Tak ada jawaban..

"Aku tahu kau membenciku.. Aku juga membenci diriku.. Aku juga tahu pernikahan ini tak akan terjadi jika Sakura masih ada." ucap Hinata kembali merasa bersalah ketika kejadian dimana ia menabrak Sakura kembali mendarat di otaknya.

...

"Kau tahu? Sakura pernah bercerita padaku bahwa kau adalah orang yang sangat baik da~" ucapan Hinata yang terhenti ketika pintu didepannya terbuka dengan kasar.

"Berterima kasih lah pada dirimu yang membuat pernikahan sialan ini terjadi dan telah membuatku begini! Sekarang tutup mulut sialanmu dan pergi dari sini!" marah Naruto dengan kedua mata nya yang menatap benci mata Hinata yang terus meneteskan air mata.

"Naruaaah!" desis Hinata sakit ketika Naruto mendorongnya kuat yang membuat dirinya terjatuh ke lantai.

"Naruto. Hiks.. Aku mohoaaaa! Sakit!" desis Hinata sakit ketika Naruto menarik rambutnya keatas yang membuat Hinata terpaksa berdiri. (Hanya mengingatkan. Meskipun Hinata teriak sakit suara nya tetap lembut. Karena diakan memang lembut.)

"Hiks.. Sakit Naruto." ucap Hinata sakit ketika Naruto menarik kuat rambutnya dan menyeretnya pergi yang membuatnya mau tak mau ikut melangkah sesuai langkah Naruto.

"Dengar sialan! Aku tak perduli jika kau mati disini! Aku muak melihatmu! Aku sungguh benci padamu! Kau membuatku kehilangan Sakura dan kini kau membuatku tinggal dengan mu! Tak ada hal lain yang aku inginkan selain menyeretmu mu neraka!" marah Naruto setelah ia mendorong kuat Hinata masuk ke sebuah gudang yang terletak di sebelah kamar Hinata yang membuat Hinata termundur beberapa langkah yang akhirnya terjatuh ke lantai.

Blamm! Ceklit. Belum sempat Hinata membenarkan posisi berdirinya, Naruto langsung menutup pintu itu dan menguncinya dari luar yang membuat Hinata langsung berlari ke arah pintu.

"Hiks.. Naruto.. Hiks hiks.. Kumohon keluarkan aku.. Aku takut hiks.." pinta Hinata dengan tangisnya yang langsung pecah sambil memukul-mukul pintu yang terkunci dari luar itu. Tempat ini gelap, sangat gelap hingga Hinata tak melihat apapun. Gudang ini tak dipasang lampu dan ukuran gudang ini hanya setengah ukuran dari kamar Hinata dan juga gudang ini hanya berisi barang-barang yang tak terpakai. Bukan tak bisa dipakai tapi tak dipakai.

"Hiks..Na..ruto..hiks.." Badan Hinata yang perlahan terjatuh hingga posisinya bersimpuh. Ia berani bertaruh nyawanya jika Naruto tak akan pernah membuka pintu ini.

"Hiks.. Naruto." Udara dingin dan mengerikan yang terus menerpa permukan kulit Hinata yang hanya bisa membuat Hinata memeluk tubuhnya dan menangis. Ia takut pada suasana gelap seperti ini.

.

.

Naruto yang langsung merobohkan badannya ke ranjang king sizenya yang kemudian menghela nafasnya dan menutup matanya. Persetan dengan gadis sialan itu. Ia sungguh tak perduli jika gadis itu menangis darah ataupun mati disana. Naruto bersumpah ia tak akan pernah membuka pintu itu dengan alasan apapun. Biarkan saja ia ketakutan dan tersiksa disana.

.

.

.

.

.

"Hinata.. Maafkan aku..."

"Ha?!" Mata Hinata yang langsung terbuka lebar dengan jantungnya yang langsung berdebar kencang. Ia bermimpi Sakura menghampirinya dan meminta maaf padanya?

"Hiks.." Hinata yang menghapus jejak air matanya dengan kedua tangannya yang kemudian menatap sekitarnya. Ruangan ini menjadi sedikit terang, apakah sudah pagi?

Hinata yang langsung berdiri dari posisinya yang terduduk di belakang pintu yang kemudian menghampiri sebuah jendela yang tertutup kain ungu didekatnya.

Satu tangan Hinata yang menyingkirkan kain ungu itu yang membuat ruangan gudang ini semakin terang.

...

Hinata yang mengamati ke bawah lewat jendela tadi. Matanya hanya terfokus halaman di belakang rumah ini.

"Bagaimana caraku keluar dari sini?" tanya Hinata entah pada siapa. Ia tak mungkin loncat dari sini dan ia pun tak bisa keluar dari pintu itu dan ia lapar, jujur semalam malam ia belum makan karena menunggu Naruto pulang dan sekarang ia tak tahu sudah jam berapa. Apakah Naruto masih dirumah atau tidak?

Dan bagaimana caranya ia keluar dari ruangan ini?

.

.

.

.

Lagi-lagi langit kembali gelap begitu juga dengan ruangan dimana Hinata terkurung. Jam pun entah sudah menunjuk pukul berapa dan Hinata masih terduduk di belakang pintu sambil memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara lututnya. Ia lapar sangat lapar. Perutnya tak berhenti bersuara sedari tadi dan dugaannya benar. Naruto tak membuka pintu ini sama sekali.

"Hiks.." Isakan Hinata yang kembali terdengar. Air matanya yang terus mengalir sejak tadi. Ia sungguh tak tahu ingin melakukan apa.

.

.

.

.

22.01

"Haah~" Naruto yang baru saja memasuki kamarnya dan merobohkan dirinya ke ranjang tanpa mengganti pakaiannya. Ia sungguh lelah bekerja seharian ini. Kepalanya terasa ingin pecah apalagi kehidupannya yang menurutnya kacau dan Sakura...

"Hah!" Naruto kembali menghela kasar nafasnya yang kemudian memejamkan matanya. Setelah Sakura pergi, dirinya menjadi sangat emosian.

.

.

.

Ruangan yang masih sama, masih gelap, hanya sedikit di sinari cahaya rembulan lewat jendela.

"Twinkle.. Hiks.. Twinkle.. little hiks.. Star.. Hiks.. How.. I.." Hinata rasa sedikit bernyayi mungkin bisa membuatnya sedikit lebih tenang dan melupakan rasa lapar? Hinata bahkan belum bergerak dari posisinya sedikitpun sedari tadi dan air mata masih saja terus keluar dari matanya.

Ia sungguh tak tahu ingin melakukan apa.

"Hiks.. I wonder.. what hiks.. you.. are.."

.

.

.

.

To be continue..

.

.

.

Hy.. Moga suka ya.. Moga bagus.. Maaf kalau ga cukup kejam Narutonya.. Rada rada ga tega.. Hehe..

Hmm. Gini ya author bilangan.. Kalau benaran Sakura terkena penyakit. Mengapa dia ga gantung dirinya aja? Masalah selesai.. Mengapa ia harus membuat dirinya tertabrak Hinata? Wkwkwkw.. Ada lah mengapa itu terjadi.. Masih rahasia.. Yang jelas sakura sehat 1000persen.. Hehe.. Jika kalian kurang kerjaan kalian boleh tebak kok mengapa hal itu terjadi. Sekalian Author ingin getes ide author pasaran gak.. Hehe..

Makasih udh read fic ini.. Hohoho dan ada yang bilang Hinata masih tinggal ma Naruto sekejam apapun dia karena Hinata perlahan cinta ma dia kan? Baaahh.. Yang benar aja.. Masa bisa jatuh cinta kalau tiap hari di jahatin begitu.. Tapi ada lah... Ikuti aja fic nya terus.. Hehe..

Dan yang tanya tonjokan itu polisi tidur kan? Wkwkw.. Author lihat google dan ternyata tonjokan dijalan itu namanya polisi tidur.. Hahaha.. Aku kirain polisi tidur itu Polisi lagi tidur waktu kerja wkwkwkw.. Iya.. Benar kok.. Tonjokan itu polisi tidur..

Dan yang tanya ini happy ending ga? Hah?! Ada la.. Ikuti aja terus.. Hehe..

Dan yang bilang ada udang dibalik batu di kejadian Sakura ini.. Hmm.. Kira kira ya begitu la.. Entar juga ke ungkap.. Hehe

Silahkan tinggal review...

Makasih buat yang udh read dan suka..

Sampai jumpa di next chap.

Bye bye..