Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Rumah tangga
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Rumah tangga by author03
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata.
Drama/hurt/comfort
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 3
.
.
.
Ruangan yang masih sama, masih gelap, hanya sedikit di sinari cahaya rembulan lewat jendela.
"Twinkle.. Hiks.. Twinkle.. little hiks.. Star.. Hiks.. How.. I.." Hinata rasa sedikit bernyayi mungkin bisa membuatnya sedikit lebih tenang dan melupakan rasa lapar? Hinata bahkan belum bergerak dari posisinya sedikitpun sedari tadi dan air mata masih saja terus keluar dari matanya.
Ia sungguh tak tahu ingin melakukan apa.
"Hiks.. I wonder.. what hiks.. you.. are.."
Kepala Hinata yang kembali terangkat yang kemudian di sembunyikan lagi di antara lututnya.
.
.
.
.
.
.
"Haah~" helaan nafas lelah ketika Hinata memejamkan matanya yang terasa panas dan berat. Ruangan ini sedikit sedikit menjadi lebih terang, jika di lihat ke luar jendela, matahari masih belum muncul, pasti sekarang sudah subuh.
Hinata yang beranjak dari tempat nya dan menghampiri setumpuk kotak dan barang-barang di seberang nya. Ia bisa mati jika terus di sini.
Piang.. Bang.. Biang.. Kedua tangan Hinata yang menggorek isi kotak sana sini. Ia sungguh sudah putus asa.
"Kumohon. Apa saja." pinta Hinata yang kembali putus asa ketika ia tak menemukan apapun yang bisa ia gunakan untuk membuka pintu itu.
"Hiks.." isakan yang berhasil lolos dari mulut Hinata. Hinata sungguh lapar. Ia bahkan tak tidur tadi malam. Ia terlalu lapar untuk bisa tidur dan juga takut jika ia pingsan. Bagaimana jika ia pingsan disini? Ia sungguh bisa mati disini dan Naruto pasti akan mendapat masalah baru. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Naruto melupakan sedihnya jadi tak ada gunanya jika ia duduk disini dan membuat masalah baru.
.
.
.
.
.
07.32
Matahari yang sudah kembali meninggi. Terlihat Naruto yang telah berpakaian lengkap dengan jas tengah melangkah menuju pintu rumahnya, ia harus berangkat ke kantor.
Tapi langkahnya tiba-tiba berhenti ketika ia melihat seorang gadis bersurai indigo berdiri di dekat sofa ruang tamu di dekat pintu masuk.
"Mengapa kau bisa ada disini?" tanya Naruto terkejut. Sejujurnya ia lupa pada Hinata yang terkurung di gudang.
"A-aku membor pintunya(gangang pintunya)." jawab Hinata berusaha tegar tapi sayangnya matanya yang sedikit bengkak dan memerah membuat ekspresi tegarnya terlihat sangat buruk.
"Oo.." Naruto BerOria tak perduli yang membuat Hinata menghela nafasnya, berusaha untuk tetap tegar. Benar yang Hinata pikirkan. Naruto tak perduli jika ia mati didalam sana.
"Naruto.. Apakah kau mau sarapan?" tawar Hinata ketika Naruto kembali melangkah yang membuat langkah Naruto kembali terhenti.
"A-aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu. Aku tahu semua ini salahku tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk memperbaikinya." ucap Hinata takut dan merasa bersalah yang kembali membuat Naruto menghentikan langkahnya di ambang pintu yang baru saja ia buka.
"Apapun yang kau lakukan tak akan bisa mengembalikan Sakura." jawab Naruto yang langsung menutup kuat pintu yang ia buka tadi. Lagi-lagi Hinata mengingatkannya pada kejadian itu yang membuat darah Naruto kembali naik.
Blamm! Mata Hinata yang langsung terpejam dengan badannya yang langsung tersentak ketika Naruto menutup kuat pintu masuk tadi.
Hinata yang langsung berjongkok dengan kedua telapak tangannya menutup wajahnya.
"Hiks..hiks.. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Hinata putus asa entah pada siapa. Ia sama sekali merasa dirinya tak akan bisa membuat Naruto melupakan rasa sedihnya. Ia merasa sangat bersalah dan tak tenang.
.
.
.
.
Jam telah menunjuk pukul 11.23
Sebentar lagi waktunya makan siang, Hinata yang tengah terduduk di sofa di ruang tamu dan terus menatap kosong ke arah tv yang tak dinyalakan. Ia ingin membuat dan mengantarkan Naruto bekal makan siang tapi ia terlalu takut untuk melakukannya. Ia pun tak memiliki nomor ponsel Naruto, jadi ia tak bisa menghubungi Naruto. Sebenarnya jika dipikirkan lagi. Hinata sama sekali tak mengenal Naruto, yang ia tahu hanyalah Naruto anak dari Kushina dan Minato yang memiliki Uzumaki corp terkaya itu(sebanding dengan Hyuuga). Mereka bukan teman bahkan tak saling mengenal, Hinata hanya pernah melihat Naruto, itu pun hanya sekilas. Tapi tiba-tiba saja ia malah menjadi istri Naruto.
Hal Pertama yang Hinata rangkum adalah ia menikah dengan orang yang sama sekali tak ia cintai dan tak ia kenal. Kedua, Orang yang ia nikahi membencinya, selalu menatapnya seolah ingin membunuhnya. Ketiga, Ia membunuh sahabat terbaiknya. Keempat, Ia tersiksa dirumah ini meskipun ia mengangap itu hukumannya karena tak berhati-hati yang menyebabkan satu nyawa melayang. Kelima, ia sendirian saat ini. Keenam, ia ingin membantu Naruto untuk menghapus rasa sedih tapi rasanya hal itu sangat sulit. Hari-harinya sudah sangat buruk, selalu di penuhi rasa takut dan rasa bersalah. Hinata sungguh tak tahu harus melakukan apa.
Apakah saat ini ia sungguh harus ke kantor Naruto dengan bekal makan siang?
Dan keberanian?
"Sebaiknya aku ke sana saja." pikir Hinata yang langsung beranjak dari tempatnya. Ia tahu apa yang akan terjadi saat ia menemui Naruto disana tapi ia sungguh tak tahu lagi ingin melakukan apa. Ia hanya tengah berusaha.
.
.
.
.
.
Uzumaki crop..
12.23
"Permisi, bisakah kau mengantarku ke kantor Naruto?" pinta Hinata sopan pada seorang gadis berpakaian pekerja kantoran yang hampir melewatinya. Badan Hinata yang kini telah terbalut dress selutut berwarna soft pink sedangkan kakinya yang terbalut flat berwarna hitam dan tangannya yang memegang satu rantang berisi makanan untuk Naruto dan tak lupa dengan tas kecilnya yang ia gantung di pundaknya.
"Saya istrinya. Hinata uzumaki." sela Hinata ketika sang gadis hendak bertanya.
"Oh.. Silahkan lewat sini Uzumaki-san." jawab sang gadis sambil menuntun Hinata ke sebuah lift.
"Terima kasih." ucap Hinata sambil mengekorinya. Jujur Hinata tak pernah ke sini, ia bahkan sangat jarang ke perusahaan ayahnya karena ayahnya mengatakan itu tak perlu. Hiashi selalu mengatakan pada Hinata jika yang perlu Hinata lakukan hanyalah menjadi ibu dan istri yang baik. Jadi Hinata tak perlu tahu banyak soal perusahaan.
.
.
.
"Ini ruangannya." ucap sang gadis sopan sambil menujuk pintu sebuah ruangan.
"Terima kasih." jawab Hinata dan sang gadis pun membungkuk hormat yang kemudian melangkah pergi.
..
"Fuhh.." Hinata menghela nafasnya ketika tangannya tak mau mengetuk pintu didepannya. Hinata yang membeku sejenak, mengumpulkan keberaniannya. Berharap semoga suaminya tak membentaknya disini meskipun ia tahu hal itu tak mungkin.
Tok tok tok.. Hinata yang mengetuk pintu itu.
"Masuklah." Hinata yang menggeser pelan pintu geser itu ketika ia mendengar izin masuk.
!
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Naruto tak suka ketika ia menghentikan kegiatannya dengan laptop dan melihat Hinata yang telah berdiri di hadapannya yang dipisahkan sebuah meja kerjanya.
"Na-naruto, aku membawa makan siang. Kau sudah makan belum?" tanya Hinata takut sambil sedikit mengangkat rantang ditangannya ketika ia merasakan aura benci Naruto kembali menghiasi tubuhnya.
Hinata yang perlahan melangkah mendekati meja Naruto dan meletakkan rantangnya kesana, tapi Naruto malah berdiri dari posisi duduknya dan menepis kuat rantang itu yang membuat rantang itu terjatuh kelantai, untungnya rantang itu masih tertutup rapat jadi isinya tak berserakan keluar.
"Dengar brengsek! Hari ku sudah cukup membuatku gila! Bisakah kau berhenti memainkan permainan rumah tangga sialan ini?!" marah Naruto dengan penuh penekanan ketika ia menarik kerah gaun pink Hinata dari balik mejanya yang membuat kaki Hinata sedikit berjinjit dengan perutnya yang terpaksa menempel pinggir meja.
"Na-naruto, aku hanya mengantarkanmu makan siang." jawab Hinata takut dengan badannya yang mulai bergetar. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi, bodohnya ia masih datang kesini.
"Dengar sialan. Aku tak perlu makanan sialan itu. Yang aku inginkan hanyalah melihatmu tersiksa!" ucap Naruto penuh dengan amarah sambil menatap tajam kedua mata Hinata yang telah dipenuhi air mata. Harusnya Hinata tak datang kesini. Ia hanya membuat Naruto semakin kesal.
"Aaaa!" desis Hinata sakit ketika Naruto mendorongnya kuat yang membuat dirinya termundur beberapa langkah yang akhirnya terjatuh kalantai, sialnya sikut Hinata yang tak sengaja menghantam lantai keramik itu yang membuat tangannya seolah tersentrum dan mati rasa.
"Na-na.." Belum sempat Hinara bicara Naruto langsung melemparkan barang di atas meja ke arahnya.
"Sialan! Aku sangat benci pada mu! Pergi dari sini!" marah Naruto dengan penuh amarah sambil terus melempari Hinata dengan berkas-berkas dan penanya diatas meja.
..
"Hiks.. Naruto.." panggil Hinata yang terus menahan isakannya ketika ia berdiri dan menundukkan kepalanya pada Naruto yang telah berhenti melemparinya.
Pamm! Naruto yang memukul kuat meja di depannya yang membuat Hinata tersentak dengan air matanya yang terus mengalir. Kini Hinata semakin yakin jika ia tak mungkin bisa membuat Naruto tak membencinya apalagi memaafkannya tapi ia tetap tak akan menyerah dan Hinata merasa sebaiknya ia pergi sebelum Naruto semakin emosi.
"Aku akan pulang." ucap Hinata pasrah yang langsung melangkah pergi dengan wajahnya yang masih tertunduk.
.
Langkahnya yang berhenti ketika ia keluar dari ruangan Naruto dan menutup pintu itu. Kedua tangan Hinata yang menghapus air matanya tak lupa dengan beberapa helaan nafas agar dirinya tenang.
"Aku tak boleh kelihatan menangis. Aku tak ingin mereka tahu bahwa kami bertengkar." pikir Hinata ketika air matanya berhenti mengalir. Tapi tetap saja mata bengkak dan merah nya tak bisa berbohong bahwa ia baru saja menangis.
Hinata yang langsung menundukkan kepalanya dan melangkah pergi ketika ia merasa seorang lelaki yang tengah berjalan dan seolah memperhatikanya.
.
.
Naruto yang mengambil rantang Hinata yang terjatuh tadi dan tanpa memperhatikannya, ia langsung melemparkannya ke tong sampah di dekatnya. Persetan dengan makanan!
"Yaaaampunnn!" teriak Shikamaru terkejut ketika ia melihat kertas-kertas yang berserakan di lantai. Ia sudah menduga hal ini ketika ia melihat Hinata keluar dari ruangan ini dalam keadaan menangis. Ia sungguh bisa gila!
"Haah~" Naruto yang langsung mendudukan kasar dirinya ke kursinya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Satu tangan nya yang memijit-mijit keningnya dengan matanya yang tertutup tanpa menghiraukan ocehan Shikamaru. Lagi-lagi ia merasa semakin stres. Ia sangat membenci perempuan sialan itu!
Shikamaru yang terus memungut kertas-kertas yang berserakan dan mengomel tanpa henti tapi Naruto tak menghiraukannya sama sekali.
.
.
.
.
.
"Ini, terima kasih." ucap Hinata sambil menyodorkan dua lembar uang pada sang supir taxi yang mengantarkannya ke rumah. Hinata pergi ke kantor Naruto dengan taxi, alasannya ia sangat takut untuk mengemudi.
Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia melihat dua orang gadis tengah mengetuk pintu rumahnya.
.
.
"Ino? Tenten? Mengapa kalian disini?" tanya Hinata ketika ia menghampiri kedua manusia yang masih sibuk pada pintu rumah nya.
"Ah. Hinata. Ternyata kau tak ada dirumah. Kau tak mengangkat teleponku jadi kami datang kemari." jawab Ino terkejut ketika ia membalikkan badannya dan melihat Hinata.
"Maafkan aku. Aku tak membawa ponselku." jawab Hinata yang langsung menghampiri pintu dan membukanya dengan kunci yang ia ambil dari tas kecilnya.
"Masuklah." pinta Hinata ketika ia membuka pintu itu.
.
.
"Terima kasih." ucap Tenten ketika Hinata meletakkan dua gelas jus orange di atas meja di ruang tamu.
"Mengapa kalian mencariku?" tanya Hinata penasaran sambil mendudukan dirinya di sebelah Ino dan Tenten yang terduduk bersebelahan dan sibuk menatap ponsel di tangan Ino.
"Kami meminta rekaman cctv di cafe iciraku waktu Sakura tertabrak. Lihatlah. Terlihat sangat jelas bahwa Sakura seolah sengaja berlari menghampiri mobilmu yang melaju." jelas Ino sambil mengarahkan layar ponselnya ke Hinata tapi Hinata malah memalingkan wajahnya dari ponsel itu.
"Aku mohon. Berhenti membahas ini." pinta Hinata berharap dengan air matanya yang langsung memenuhi pelupuk matanya yang membuat Ino menarik ponselnya.
"Hinata, bisa saja ada sesuatu di balik kecelakaan ini. Kau tak perlu terus merasa bersalah." ucap Ino berusaha menyakinkan temannya. Ia tak tega terus memikirkan Hinata yang mungkin terus hidup dipenuhi rasa bersalah.
"Kumohon. Jangan lagi membicarakan hal ini. Hiks.." pinta Hinata dengan wajahnya yang tertunduk. Air matanya yang telah menetes keluar. Rasa bersalah yang kembali hadir di dirinya. Sudah sangat jelas hal itu terjadi kerena ia tak hati-hati. Mengapa mereka malah menyalahkan Sakura?
Ino dan Tenten yang saling menatap penuh iba. Mereka sudah duga Hinata pasti terus menyalahkan dirinya karena kejadian ini.
"Maafkan kami Hinata." ucap Ino tak tega sambil mengelus pelan pundak Hinata. Ia tak bisa melakukan apapun selain mencari bukti yang lebih kuat soal hal ini.
"Hiks...hiks.. Hiks.." tangis Hinata yang langsung pecah. Ia takut ketika bayangan dimana ia menabrak Sakura kembali membayanginya. Tak ada seharipun lewat tanpa rasa bersalahnya pada Sakura.
.
.
.
.
.
22.36
Hinata yang masih terduduk di sofa dengan badannya yang terus bergetar. Kedua temannya sudah pulang dari tadi. Tapi yang Hinata takutkan adalah Naruto yang mungkin akan pulang sebentar lagi dan memikirkan besok adalah hari minggu. Dimana suaminya tak bekerja dan mungkin akan seharian dirumah.
!
"Fuhhhh.." Hinata yang meniup nafasnya ketika ia melihat ganggang pintu rumah yang bergerak-gerak.
.
"Se-selamat datang Naruto." sapa Hinata ketika ia membuka pintu itu tapi dengan kepalanya yang tertunduk. Ia takut sekali jika Naruto marah karena kejadian dikantornya tadi. Ini bukan soal menjadi istri yang baik, tapi ini agar Naruto tahu bahwa Hinata ada untuknya. Naruto bisa menuangkan semua kesedihannya karena kehilangan Sakura tapi rasanya itu tak mungkin.
"Belikan makanan untukku." pinta Naruto sambil melemparkan beberapa lembar uang ke Hinata yang membuat uang itu berhamburan ke lantai. Sebenarnya Hinata sudah memasak makan malam.
"Ka-kau ingin makan apa?" tanya Hinata takut tanpa mengangkat kepalanya. Tapi ia terlalu takut untuk mengatakannya.
"Apapun didekat sini." jawab Naruto tak perduli yang langsung melangkah pergi.
Hinata yang merasa Naruto telah pergi pun memungut beberapa lembar uang yang terjatuh dilantai tadi dan berlari keluar setelah menutup pintu rumah nya.
.
.
.
"Terima kasih." ucap Hinata yang langsung berlari menjauh dari gerobak penjual martabat di depan toko mini market yang tak jauh dari rumahnya.
Hinata yang berlari secepat mungkin agar dirinya tak basah kerena gerimis.
.
.
Belum sempat Hinata membuka pintu rumah, Naruto sudah membukanya dari dalam.
"A" belum sempat Hinata berkata, Naruto langsung merebut kantong putih yang berisi sekotak martabak manis yang Hinata beli tadi.
Blam!
"Naruto! Mengapa kau mengunci pintunya?" teriak Hinata panik sambil terus memukul pintu masuk yang langsung ditutup dan dikunci oleh Naruto dari dalam.
"Naruto?!" Hinata yang langsung membalikkan badannya dan menyandarkan punggungnya ke pintu yang kemudian berjongkok.
"Haah~" helaan nafas lelah dan pasrah yang keluar dari mulut Hinata dengan matanya yang terpejam dan kepalanya yang tertunduk. Seharusnya ia sudah mengira hal ini akan terjadi. Percuma jika ia berteriak-teriak karena Naruto tak akan membiarkannya masuk. Mungkin untuk malam ini hingga besok pagi?
Hinata yang kembali berdiri dan menyandarkan punggungnya ke pintu. Ia tak membawa ponsel, payung, uang, tak ada mobil yang bisa membawanya keluar dari sini. Tapi untung saja Hinata memakai piyama lengan panjang, setidaknya. Piyama ini bisa sedikit membuatnya tak begitu kedinginan pada angin malam dan gerimis yang mungkin akan hujan lebat ini dan sialnya Hinata lapar karena belum makan malam dan uang kembalian martabat tadi diletakan didalam kantong itu. Bodonya Hinata sengaja tak makan karena menunggu Naruto pulang untuk menawarkannya makan bersama. Padahal ia sudah tahu apa jawaban Naruto.
.
.
.
.
.
09.23
Hinata yang masih memeluk tubuhnya dan berjalan mondar mandir di depan pintu. Ia tak tidur tadi malam. Yang ia lakukan hanyalah memeluk tubuhnya, berjongkok, berjalan mondar mandir, menghela nafasnya dan menggosokkan ke dua telapak tangannya. Dugaannya benar. Semalam hujan lebat dan baru berhenti beberapa jam lalu, untung saja luar rumah ini(yang biasa diparkir mobil) masih terlindungi oleh atap. Jadi Hinata tak basah sama sekali meskipun tetap tak bisa dipungkiri jika dirinya sangat kedinginan.
Dan pintu rumahnya sama sekali tak bergerak.
.
.
11.22
Tet tet.. Sebuah mobil yang masuk dan berhenti didepan rumah Hinata tepat disebelah mobil Naruto yang membuat Hinata menghentikan langkahnya dan menatap terkejut pada Kushina dan Minato yang keluar dari dalam mobil itu.
"Hinata? Mengapa kau diluar?" tanya Kushina khawatir ketika ia menghampiri Hinata yang masih terdiam di posisinya.
"Ah..ahh? Itu.. Aa.. Tadi aku... Aa..aa.. Aku sedang menikamati udara pagi.. Iya." jawab Hinata dengan senyum nya yang membuat Kushina menatapnya curiga.
"Mari masuk." ajak Kushina sambil mendorong pelan Hinata menuju pintu rumahnya tapi Hinata langsung menahan pergerakan ibu mertuanya.
"Aahh.. Tan ah.. Maksudku i-ibu.. Se-sebenarnya aahh.." Hinata yang langsung terdiam sambil mengigit kuku jari jempolnya. Ia gugup sekali. Alasan apa yang harus ia pakai?
"Aaahh.. I-ibu.. Aaa.. Itu.. Emm..bolehkah aku meminjam sebentar ponsel ibu? Sejujurnya aku lupa menaruh ponselku dimana." pinta Hinata berharap yang membuat Kushina menatapnya aneh. Gerak gerik Hinata sangat Mencurigakan, seolah ia menyembunyikan sesuatu?
.
"Baiklah. Ini" ucap Kushina sambil menyodorkan ponsel nya yang ia ambil dari tas ukuran sedang yang tergantung di tangannya.
"Terima kasih ibu. Tunggu sebantar." jawab Hinata sambil menerima ponsel yang disodorkan ibu mertuanya yang kemudian berjalan menjauh beberapa langkah.
Hinata yang langsung menempelkan ponsel itu ke telinga kirinya setelah mencari nama Naruto di kontak hp ini.
Tuut..tuutt.. Clik.
"Hallo?" suara berat dari seberang sana.
"Naruto.. Ibu dan ayahmu datang." bisik Hinata sambil terus melirik ke arah Kushina dan Minato yang terus menatapnya.
"Tunggu disana."
Tut.. Naruto yang langsung mengakhiri panggilan telepon itu.
"Terima kasih ibu, ternyata ponselku tak ada disini." ucap Hinata gugup sambil menyodorkan kembali ponsel Kushina yang langsung diterima oleh Kushina.
"Nah.. Sekarang mari masuk." ucap Kushina yang langsung melangkah dan Hinata hanya menggangukkan kepalanya.
Ceklik.. Pintu rumah yang terbuka dari dalam yang membuat Hinata menghela lega nafasnya. Untung saja sempat.
"Ibu, ayah. Mengapa kalian tak beritahu dulu jika kalian ingin datang?" tanya sang pembuka pintu yang tak lain adalah Naruto.
"Ibu penasaran dengan kehidupan kalian berdua." jawab Kushina yang langsung melangkah masuk. Sejujurnya ia khawatir jika Naruto menyiksa Hinata. Bagaimana pun Hinata adalah gadis yang baik. Ia tak ingin anaknya melakukan tindak kekerasan pada Hinata.
.
.
.
Kushina, Minato, Hinata, Naruto yang kini terduduk di meja makan dan baru saja menghabiskan makanan masing-masing yang dimasak oleh Kushina dan Hinata. Rasa lega dan kenyang seolah satu minggu tak makan pun menghampiri Hinata. Ia sudah kenyang sekarang setelah tak makan dari malam tadi hingga Kushina datang.
"Ehem.. Ceritakan padaku bagimana kehidupan kalian?" tanya Kushina membuka pembicaraan setelah terdiam sedari tadi begitu juga dengan Naruto dan Hinata yang tak berbicara sepatah katapun.
"Aaahh.. Baik ibu. Apa ibu tak melihatnya?" tanya Hinata dengan senyum bahagia di bibirnya, sejujurnya Kushina tak yakin.
...
"Ah.. Biasa kami sarapan bersama sebelum Naruto berangkat ke kantor. Aku mengantarkan makan siang ke kantornya dan kami makan malam bersama. Aaah.. Terkadang kami berbincang dan ber..bercanda. Naruto sangat baik padaku. Dia bahkan selalu meluangkan waktu untukku. Dan sangat memperhatikan ku." jelas Hinata yang masih bertahan dengan senyumnya tapi air mata yang memenuhi pelupuk matanya membuat Kushina dan Minato yang terduduk bersebelahan di hadapnnya khawatir. Apakah Hinata berbohong? Mengapa dia menangis?
"Aku sangat senang. Kami selalu menonton bersama. Membagi makanan bersama Dan.. Masih banyak lagi.. Hiks.. Naruto sangat baik padaku. Aku sangat senang." sambung Hinata yang masih bertahan dengan senyum bahagianya, senyum yang berasal dari khayalan di otaknya dimana berisi sebuah keluarga yang penuh dengan cinta yang ia harapkan.
Air mata Hinata yang terus mengalir tanpa kedipan mata dan isakan begitu juga dengan senyum bahagianya yang masih bertahan tapi Naruto yang terduduk di sebelah nya tak perduli sama sekali bahkan tak menoleh padanya sedikitpun. Ia terus saja menatap lurus ke depan.
"Hiks.. Lihatlah.. Aku bahkan sampai terharu ketika aku mengingatnya." ucap Hinata sambil menghapus air matanya dengan kedua tangannya. Ia bahkan tak sadar dirinya menangis.
"Ibu tenang saja. Semua baik-baik saja, jika saja Naruto bersikap buruk padaku, aku sudah kabur darinya.." sambung Hinata dengan senyum lucunya, berusaha menyakinkan Kushina dan Minato.
"Yaahh.. Sebenarnya kami ke sini hanya untuk memastikan hal itu. Kami senang jika kalian baik-baik saja." jawab Kushina dengan senyum senangnya. Syukurlah jika Naruto dan Hinata baik-baik saja.
"Aah.. Apakah ibu dan ayah sedang ada urusan?" tanya Hinata yang dibalas anggukan oleh Kushina. Sejujurnya Kushina hanya tak ingin menggangu Hinata dan Naruto. Ia sudah cukup karena tahu mereka baik-baik saja.
"Kalau begitu kami pergi dulu. Kami tak ingin menganggu hari libur kalian." ucap Minato sambil beranjak dari tempatnya dan diikuti oleh Kushina.
"Aku antar." jawab Hinata sambil beranjak dari kursinya tapi Kushina malah mendorongnya pelan, membuatnya kembali terduduk.
"Tak usah. Kau disini saja temani Naruto." ucap Kushina dengan senyum lega dan senangnya yang kemudian melangkah pergi.
.
.
Klik...
"Haah~" Hinata yang langsung menghela nafasnya dengan kepalanya yang masih tertunduk ketika ia mendengar suara pintu tertutup. Untung saja Kushina dan Minato tak curiga. Ia tak ingin Naruto mendapat masalah karena hal ini.
Sreett.. Naruto yang langsung beranjak dari tempatnya dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikitpun ke Hinata yang membuat Hinata menempelkan keningnya ke meja makan didepannya. Sudahlah.. Ia sudah lelah untuk menangis.
Hinata sangat ingin berbicara dari hati ke hati dengan Naruto. Tapi Naruto akan membunuhnya sebelum ia sempat mengatakan apapun..
Apa yang harus ia lakukan untuk membuat Naruto tak lagi bersedih?
"Sakura.. Apa kau baik-baik saja disana?" tanya Hinata entah pada siapa. Lagi-lagi kejadian Sakura kembali mendarat di otaknya. Hinata sungguh tak bisa melupakan kejadian itu. Rasa bersalah lagi-lagi datang padanya...
.
.
.
.
.
"Hinata, maafkan aku."
"Ha?!" Hinata yang langsung mendudukan dirinya dari posisi tidurnya dengan kedua matanya yang terbuka lebar. Jantungnya lagi-lagi berdebar kencang. Sudah lebih dari dua minggu dan mimpi yang sama terus saja ia alami. Hinata terus saja bermimpi Sakura datang padanya dan meminta maaf padanya? Apa yang sebenarnya ingin Sakura katakan?
"Haah~" Hinata menghela nafasnya sambil menundukkan kepalanya dan memeluk kedua kakinya. Jam telah menujuk pukul 6 pagi. Jika ia keluar dari kamar ini maka hal yang sama akan kembali terjadi. Dimana Naruto akan marah-marah, membentak, menatapnya benci, merusak barang, mendorongnya, menguncinya diluar dihari minggu dan dirinya akan menangis, merasa bersalah dan putus asa. Hinata sungguh lelah. Selama dua minggu ini tak ada perubahan sedikit pun Naruto. Naruto masih terlihat sedih dan yang pasti benci padanya.
Hinata jadi semakin tahu betapa besar cinta Naruto untuk Sakura.
Hinata menjadi semakin yakin jika ia memang pantas dibenci Naruto.. Tapi ia tetap tak akan menyerah untuk menghilangkan rasa sedih Naruto sesuai janjinya pada dirinya.
.
.
.
7.23
Hinata yang menghalang jalan Naruto ketika ia melihat Naruto melangkah ke tengah-tengah tangga.
"Naruto, apa kau mau sarapan?" tanya Hinata yang langsung diabaikan oleh Naruto. Naruto yang kembali melangkah menyusuri tangga tapi langkahnya di anak tangga terakhir kembali terhenti ketika Hinata membalikkan badannya dan mengatakan.
"Aku tak memintamu untuk memaafkanku tapi apakah tak ada hal yang bisa aku lakukan untuk membantumu menghilangkan rasa sedihmu?" tanya Hinata putus asa yang membuat Naruto kembali membalikkan badannya dan menghampirinya.
"Bercerai dan enyahlah dari bumi ini." jawab Naruto penuh penekanan sambil terus menatap tajam mata Hinata yang membuat Hinata terdiam. Hinata tak bisa memberi surat cerai begitu saja karena itu sama saja menyerahkan Hyuuga corp beserta semua asetnya ke keluarga Naruto dan membuat keluarganya sengasara. Apakah Hinata tak mengatakannya? Mereka tapi boleh berpisah kecuali..
Dan enyahlah dari bumi ini? Sejujurnya Hinata akan dengan senang hati melakukannya jika tak ada ayah dan keluarganya didunia ini dan saat ini masih ada sesuatu hal yang harus ia lakukan. Ia telah berjanji untuk membuat Naruto melupakan rasa sedihnya. Hanya ini yang bisa ia lakukan sebagai permintaan maafnya, meskipun ia tetap tak bisa memaafkan dirinya sendiri.
...
"Jika aku telah berhasil membuat mu melupakan rasa sedihmu. Aku akan melakukan apapun agar kita bisa bercerai." Hinata membatin. Hinata tahu, membuat Naruto melupakan rasa sedihnya maupun sebuah perceraian tak akan mudah tapi..
.
"Jika itu yang kau mau. Aku akan melakukannya tapi setelah urusan ku selesai." jawab Hinata yang membuat Naruto tersenyum meremahkan dan merendahkan. Bahkan jika Hinata terseret ke Neraka pun, Sakura tak akan kembali lagi.
"Omong kosong." ucap Naruto yang langsung mendorong kuat Hinata yang membuat Hinata terjatuh dari posisinya di tengah-tengah tangga menuju bawah.
"Aaauuh!" desis Hinata sakit ketika ia merasa kakinya menghantam anak tangga terakhir yang membuat dirinya tersungkur tapi dengan cepat ia langsung berdiri dengan memegangi tiang tangga. Berusaha mengabaikan mata kaki kirinya yang terasa sangat sakit dan berdenyut.
Naruto yang langsung melangkah turun menyusuri tangga.
"Apapun yang kau lakukan tak akan bisa membuat Sakura kembali dan membuat aku berhenti membencimu." ucap Naruto penuh dengan amarah yang kemudian mendorong kuat pundak Hinata yang membuatnya kembali terjatuh ke bawah.
"Aaa.!" desis Hinata sambil terus menahan sakit kaki kirinya yang terluka dan kini terkilir. Rasanya menjadi semakin sakit untuk digerakkan dan sangat berdenyut yang membuatnya terpaksa tetap terduduk dibawah.
Blaaammn..! Untuk kesekian kalinya Hinata melihat pintu rumah masuk itu terhempas dengan kasar dan dirinya hanya bisa terdiam.
"Aaa.. Sakit sekali." desis Hinata yang masih merasa betapa sakit kakinya yang terus berdenyut dan sakit apabila di gerakkan.
"Aauch!" desis Hinata sakit ketika satu tangannya menyentuh pelan mata kakinya yang sangat merah dan biru. Ia terlalu lelah untuk menangis hanya kerena perlakukan Kasar Naruto padanya yang sudah seperti makanan sehari-hari. Hinata harus pasrah pada semua kekasaran ini untuk menebus kesalahannya. Karena ia tahu rasa sakit ini tak sebanding dengan sakit yang di alami Naruto.
Setiap hari terus melakukan hal yang bodoh dan sama. Menawarkan sarapan yang akhirnya di abaikan, ditolak, di dorong, di bentak. Menyambut saat pulang yang akhirnya juga di abaikan, di tolak, di bentak dan jika Hinata sedikit meyingung soal Sakura maka ia akan berakhir dengan kejadian seperti ini. Jungkar balikan meja, merusak barang, mengurungnya.
Hinata bahkan tak berani mengatakan 'jika saja bukan karena janjiku pada diriku sebagai permintaan maaf dan rasa bersalahku pada Sakura dan dirimu, aku sudah lama melaporkanmu ke polisi atas kasus KDRT.' Hinata tak berani mengatakannya sama sekali karena semua ini adalah salahnya. Ia pantas mendapatkannya tapi Hinata sungguh sudah lelah dan tak sanggup lagi. Tak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Rasa bersalah selalu datang padanya. Hinata merasa ia bisa tenang jika ia telah berhasil membuat Naruto melupakan rasa sedihnya. ingin sekali Hinata menghilang tapi ia tak bisa. Ia terlalu takut dan merasa sangat bersalah untuk melakukan hal itu.
"Haah~"
Hinata yang menundukkan kepalanya dan menutup matanya tanpa bergerak dari posisinya. Menahan laju air mata yang kembali mendorong keluar tapi tetap saja setetes demi setetes air mata kembali menetes dari matanya yang masih terpejam.
.
Hinata sungguh sudah putus asa. Dari semua hal yang ia lakukan selama ini, tak ada satu hal pun yang membuat Naruto tak membentaknya. Ia tak meminta Naruto untuk memaafkannya. Cukup jangan bersedih lagi agar dirinya merasa bisa sedikit lebih tenang.
"Hiks.. Apa lagi yang harus aku lakukan? Hiks..hiks.. Apa hiks.. Yang harus aku lakukan?! Hiks.."
.
.
.
.
.
.
To be continue..
.
.
.
Hai.. Moga suka ya..
.
Yo.. Ada yang bilang jangan jangan sakura mati buat satuin naruto dan Hinata? Hahaha.. Sumpah.. Kamu buat auhtor ketawa terus lo.. Yng benar aja.. Hinata ma naruto kenal aja kagak.. Hahaha..
.
Terus ada yang tebak mungkin sakura masih hidup atau pura-pura mati? Hahaha.. Ya ampun... Orang matinya didepan mata..gimana bisa pura-pura.. Haha.. Lucu bangat sii..
Ini.. Ada yang bilang ini rencana Sakura agar tak melarat hidup dengan Naruto dan ia akan kembali dengan penampilan baru.. Astaga.. Sadis amat tebakannya tapi tebakannya udh sedikitttt benar.. Coba kamu buang sisi negatif nya.. Udh hampir dapat itu.. Saksikan aja terus.. Ada penjelasan nya entar kok.. Hehe
Terus ada yang bilang mengapa mati dengan perantara hinata jika sakura masih sehat?.. Hmm.. Sejujurnya kalau kalian baca lebih teliti dan meyambungkan beberapa kata kata yang diucapkan beberapa orang bersangkutan.. Jawabannya udh ketemu.. Tapi yah.. Tungguin aja. Entar ada penjelasannya kok.
Terus ada yang bilang apa ga berlebihan naruto terlalu kejam? Gak la.. Lebih kejam lebih bagus.. Jadi sekali menyesalnya.. Lebih mainstream gitu.. Hehe..
Terus ada yang bilang Naruto jahat bangat. Ya.. Alasannya sama, sama yang di atas.. Lebih kejam lebih bagus.. Jadi sekali menyesal.. Feel nya langsung naik..
Ada yang tanya hinata seharian dikurung ya?.. Hmm.. Iya.. Dikurung..
Hmm. Kalau buat yang nanya brpaan chap ini.. Masih ga tahu mau sampai chapter berapa si.. Nikamatin aja..
Hmm.. Sejujurnya entah mengapa author rasa Hinata itu cocok bangat jadi orang yang disakitin gini. Maaf ni.. Bukan apa apa. Cuma rasanya pas gitu.. Dan pikiran aku masih bercabang soal akhir fic ini.. Apakah bikin endingnya NaruHina atau enggak.. Hmmmm..? Entalah.. Lihat saja nanti..
.
.
Makasih buat yang suka, review, baca, fol and fav cerita ini. Thanks support nya.. Maaf jika cerita nya gak bagus atau kurang.. Moga kalian suka dan moga semakin bagus..
Silahkan tinggalkan review jika berkenan..
Bye bye..
