Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Rumah tangga
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Rumah tangga by author03
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata.
Drama/hurt/comfort
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 4
.
.
.
06.58
"Baka!"
"Ha?!" Naruto yang langsung mendudukan dirinya dari posisi tidurnya dengan matanya yang terbelak kaget.
"Haah~" saat telapak tangan Naruto yang menempel di satu matanya. Setelah ia menikah dengan Hinata, Sakura selalu saja hadir di mimpinya dan memarahinya. Terkadang Sakura mengatakan 'berbaiklah pada Hinata' terkadang 'jangan berani kau sakiti Hinata.' entahlah.. Terkadang hal ini menakutkan bagi Naruto dan disatu sisi ia menjadi semakin ingin menyiksa Hinata.
.
.
07.34
Tangan Naruto yang terhenti ketika berjarak dua cm dari ganggang pintu rumahnya?
Rasanya ada yang aneh?
Naruto yang menatap ke sekeliling nya tapi ia tak menemukan Hinata? Iya. Dimana Hinata? Tumben sekali gadis itu tak menganggu nya?
Naruto yang melangkah menuju dapur dan langkah kakinya berhenti ketika ia berdiri diambang pintu dapur(tanpa pintu) dan melihat Hinata yang menempelkan pipi kanannya di atas meja makan dengan satu lengannya yang menjadi bantalnya.
Perlahan Naruto yang melangkah mendekati Hinata. Bagaimana jika Hinata mati disana? Ia yang akan disalahkan pula..
.
"Dia tertidur." pikir Naruto ketika ia menatap wajah terlelap Hinata dan sedetik kemudian mata Naruto terfokus pada dua piring kue coklat? Kue dipiring dihadapan Hinata yang terbelah setengah dan cokelat basah dari dalamnya keluar dan membuat piring yang berisi kue berbentuk tabung itu dipenuhi coklat.
Pemandangan itu terus menggoda Naruto yang membuat Naruto menarik kursi di sebelah Hinata dengan pelan dan mendudukan dirinya.
Naruto yang menarik piring kue coklat yang masih utuh ke hadapannya dan memotongnya. Coklat cair dari dalam yang langsung mengalir keluar membuat bahu Naruto yang tegap menjadi melemah begitu juga dengan seluruh badannya yang seolah mencair. Rasanya semua stress dan bebannya mencair. Rasa senang menghampirinya..
"Haah~" sebuah helaan yang di akhiri oleh senyuman bahagia ketika sepotong kue coklat itu masuk lewat tenggorokannya menuju perutnya. Mengapa kue ini membuat dirinya bahagia?
"Coklat lava." ucap Hinata dengan matanya yang terbuka entah sejak kapan yang membuat Naruto menatapnya terkejut. Sejak kapan ia bangun?
"Setiap kali aku sedang memiliki beban. Aku akan membuat coklat ini dan memakannya. Ketika melihat coklat dari dalam sana mencair. Rasanya semua bebanku ikut mengalir keluar." jelas Hinata sambil mengangkat kepalanya dan menyelipkan sisi rambutnya ke belakang telinganya. Tadi pagi Hinata kepikiran ingin memakan kue lava ini. Ia sengaja membuat dua untuk ditawarkan pada Naruto tapi saat ia memotong kue lava itu dan melihat coklatnya mengalir. Ia merasa sangat tenang yang menyebabkannya tertidur dan Hinata terbangun ketika ia merasakan ada seseorang yang terduduk disebelahnya.
...
"Makanlah.. Tak usah menjaga kegengsianmu didepanmu." ingin sekali Hinata mengatakan hal ini ketika melihat Naruto memasang wajah tak suka nya yang sedikit dipaksakan. Tapi jika Hinata mengatakan hal itu, maka dipastikan piring kue itu akan mendarat di wajahnya dan mungkin lebih parah meja ini akan dijungkar balik dan dirinya sudah pasti di bentak dan didorong jadi sebaiknya ia tak mengatakan apapun.
"Maafkan aku karena tak menyambutmu tadi. Kakiku sedang sakit jadi aku kesusahan kesana." jelas Hinata ketika Naruto masih terduduk dan tak bersuara sedikitpun sambil menatap lurus kedepan. Kakinya masih sangat sakit kerena kejadian semalam. Bahkan hingga kini masih terasa sakit ketika di gerakkan.
...
"Haah~" Hinata yang menghela nafasnya lelah. Ia rasa Naruto ingin memakan kue itu. Apa susahnya tinggal makan saja?
Hinata yang langsung beranjak dari tempatnya dan melangkah pergi dengan kakinya yang sedikit pincang.
...
Naruto yang langsung beranjak dari tempatnya dan melangkah pergi. Persetan dengan kue! Ia benci dengan semua yang Hinata lakukan.
.
.
.
.
.
Bamm! Naruto yang meletakkan kasar tas kerja berisi laptopnya ke meja kerjanya dan langsung mendudukan kasar dirinya ke kursinya.
"Ohhh... Kau bertengkar lagi dengan istrimu." ucapan yang selalu keluar dari mulut Shikamaru ketika ia melihat Naruto memasuki ruangannya dan tingkahnya.. Yaaah.. Seperti yang kalian lihat. Shikamaru yang sedari tadi terduduk di sofa didalam kantor Naruto dan sibuk dengan berkas yang menumpuk di meja kaca didepannya.
"Naruto.. Saranku jangan begitu kejam pada Hinata. Kau tahu kan.. Penyesalan selalu datang terakhir." jelas Shikamaru malas ketika Naruto menghiraukannya.
"Iya.. Kalau begitu tutup mulutmu dan sambung kerjaanmu sebelum aku memecatmu. Penyesalan datang terlambat kan?" jawab Naruto tak suka yang membuat Shikamaru berdecih tak suka. Jika saja bukan karena Sakura yang selalu menghantuinya, ia pastikan saat ini juga Naruto akan berlutut dihadapan Hinata dan meminta maaf.
"Sakura sialan." Shikamaru membatin kesal. mengapa Sakura harus memberitahunya soal itu! Aaaaarrrgghh!
.
.
.
.
.
14.01
Naruto yang langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan memijit pangkal hidungnya. Ia belum makan siang. Atau ia lebih tepatnya ia tak mau makan. Entahlah. Ia tiba-tiba menjadi tak selera tapi ia sedang lapar.
Toktoktok..
"Masuk." pinta Naruto sambil membenarkan posisi duduk nya.
"Untuk apa lagi kau kesini?" tanya Naruto tak suka pada orang yang mengetuk pintu ruangannya yang ternyata Hinata.
Hinata yang langsung meletakan satu rantang tiga tingkat berisi makanan dan satu kotak kecil berisi kue ke atas meja kaca didepannya atau didekat sofa.
"Jika kau tak mau makan kau boleh membuangnya." ucap Hinata yang langsung melangkah keluar dengan kakinya yang dipaksa setengah mati agar tak terlihat pincang.
.
.
"Terima kasih sudah mengantarkannya makanan, Hinata. Dia tak mau makan sedari tadi." ucap Shikamaru ketika Hinata keluar dan menutup pintu ruangan Naruto.
"Dia tak akan mau makan jika aku yang membuatnya." jawab Hinata frustasi. Bodohnya ia tetap menyetujui permintaan Shikamaru.
"Aku akan membuatnya memakannya." jawab Shikamaru yakin.
"Aku baru tahu kau bekerja disini?" ucap Hinata mengalihkan pembicaraan. Shikamaru ini adalah teman sekolah Hinata. Tapi terlebih dulu lulus karena dirinya yang sangat pintar itu. Mungkin karena kepintarannya, ia bisa bekerja disini.
"Itu karena kau tak pernah kesini." jawab Shikamaru yang membuat Hinata tersenyum.
"Iya.. Kau benar. Kalau begitu aku pulang dulu.." pamit Hinata yang kemudian langsung melangkah pergi.
"Berhati-hatilah." jawab Shikamaru yang kemudian langsung melangkah masuk kedalam kantor Naruto.
.
Mulut Shikamaru yang langsung berbuka lebar ketika ia melihat Naruto yang terduduk bersandar disofa dengan kepalanya yang menatap keatas. Lihatlah cengiran bahagianya itu dan lihatlah rantang Hinata di atas meja dan sekotak entah apa isinya yang telah kosong. Setelah Sakura meninggal, ini adalah kali pertamanya ia melihat Naruto tersenyum bahagia begitu? Apa yang terjadi?
"Aaaaaa.. Mengapa aku senang sekali?" pikir Naruto yang terus tercengir senang. Coklat lava itu membuat dirinya meleleh dan makanan yang dimasak Hinata sangat lezat. Naruto sungguh merasa saat ini dirinya telah terbebas dari beban apapun. ia sungguh bahagia.
"Ehmm? Ini lebih mudah dari yang aku pikirkan." pikir Shikamaru aneh. Mengapa Hinata mengatakan Naruto tak akan memakan makanan itu? Padahal Naruto terlihat sangat senang dengan makanan itu?
..
Naruto yang langsung memasang wajah datarnya ketika ia melihat Shikamaru yang terus menatapnya.
Naruto yang langsung mengangkat rantang yang di antar Hinata tadi dan kotak kecil berisi kue lava dan menghampiri tong sampah di dekat meja kerjanya.
"Hmm.. Bagus sekali. Menghilangkan barang bukti." ucap Shikamaru malas ketika Naruto membuang rantang itu ke dalam tong sampah.
.
.
.
.
22.05
Byuurrrr... Naruto yang langsung menyiram kan segayung air ke wajah Hinata yang tertidur pulas diranjang nya(ranjang Hinata, didalam kamar Hinata)
"Ha?!" helaan terkejut Hinata ketika ia mendudukan dirinya dari posisi baringnya dan mengelap wajah basah nya dengan kedua telapak tangannya.
..
"Maafkan aku karena tak menyambutmu pulang." ucap Hinata sambil menatap pasrah Naruto yang terus menatapnya datar. Apakah tak ada cara yang lebih bagus untuk membangunkan orang tidur?
"Besok malam temanku akan datang. Kau harus memasak dan menyiapkan segalanya. Dan bir." ucap Naruto datar. Ia benci pada Hinata yang terlihat tidur nyenyak.
"Naruto. Maafkan aku. Kakiku masih sangat sakit untuk berjalan." jawab Hinata apa adanya. Itu lah alasan mengapa ia tak menunggu Naruto pulang.
"Apakah itu urusanku?" tanya Naruto tak perduli. Lebih bagus lagi jika kaki itu tak bisa jalan.
"Baiklah.. Aku mengerti.." jawab Hinata pasrah. Bahkan jika nyawa Hinata tinggal setengah, Naruto akan tetap menyuruhnya bergerak.
"Tunggu." Hinata yang langsung menahan pergelangan tangan Naruto ketika Naruto hendak melangkah pergi.
"Apakah kau memakan makanan yang aku antarkan? Jika kau tak makan, aku tak akan pernah membuatnya lagi." ucap Hinata pasrah. Ia tak ingin makanan buatannya dibuang percuma oleh Naruto. Mendingan ia membaginya pada orang yang membutuhkan dari pada dibuang percuma.
Naruto yang hanya terdiam. Apa maksud Hinata dengan tak akan membuatnya lagi? Termaksud coklat lava itu?
"Aku tak perduli." jawab Naruto yang masih bertahan dengan harga dirinya sambil menepis tangan Hinata yang mengengam pergelangan tangannya yang kemudian melangkah pergi.
Blamm..
Sebuah senyuman yang menghiasi Bibir Hinata ketika pintu kamarnya di tutup.
"Hm." Hinata yang menahan sekuat tenaga agar tawanya tak pecah. Sejujurnya tadi Shikamaru mengirimkan pesan dan mengatakan. Naruto menghabiskan makannya secepat kilat dan membuang rantang itu untuk menghilangkan barang bukti.
"Apakah ini disebut kemajuan?" tanya Hinata senang. Apakah akhirnya ada kemajuan?
"Hik.." perut Hinata yang terus bergetar kerena Hinata terus menahan tawanya. Ia sangat bahagia.. Akhirnya. Naruto memakan makanan yang ia berikan?
.
.
.
.
.
.
Matahari yang telah tenggelam. Jam telah menunjuk pukul 19.02
Hinata yang masih sibuk didapur dan ruang tamu. dengan kaki sedikit pincangnya dan tangannya yang terus mengangkat satu persatu piring berisi lauk, nasi, keperluan makan, bir, meja dan menyusunnya rapi ke ruang tamu. Padahal dokter mengatakan Hinata tak boleh sering berjalan untuk sementara waktu, tapi Hinata sungguh tak punya pilihan lain dan Naruto bilang semuanya harus siap sebelum jam sembilan.
.
.
.
.
21.02
Ruang tamu yang telah di tambah dua meja serendah lutut yang dihiasi oleh beberapa kardus bir, es batu, makanan dan alat-alat untuk makan dan beberapa makanan pembuka seperti kacang dan lainnya.
"Ah? Kau sudah pulang Naruto?" tanya Hinata ketika ia melihat Naruto berdiri di ambang pintu dapur. Hinata yang baru saja selesai mencuci piring dan mengelap tangannya.
"Dimana? Dimana itu?" tanya Naruto tak suka yang membuat Hinata menatapnya bingung. Naruto yang baru datang dari ruang tamu.
"Apa yang kau maksud?" Hinata malah bertanya balik. Itu apa?
Itu! Itu kue coklat berbentuk tabung itu!
Tidak! Jangan berani mengatakannya!
...
"Tak ada." jawab Naruto yang langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi. Ia benci semua yang Hinata lakukan! Ia benci dengan kue itu dan semua soal Hinata!
"Hm? Itu?" pikir Hinata bingung ketika wajah tak suka Naruto tadi mengiang di otaknya?
...
"Ooohh! Itu?" ucap Hinata tahu. Apakah mungkin maksud Naruto itu coklat lava itu. Naruto ingin meminta kue lava itu?
"Hik.." Hinata yang menahan tawanya. Semoga saja itu yang dimaksud Naruto sungguh kue lava. Jika itu benar.. Maka ini adalah hal pertama yang membuat Naruto suka pada Hinata.
.
.
Langkah Hinata yang terhenti ketika ia menatap manusia-manusia yang telah memenuhi meja di ruang tamu dan sedang melahap makanan di atas meja.
"Wooo! Enak sekali!" inilah yang keluar dari mulut seorang lelaki bersurai kuning panjang sambil terus melahap tamak lauk pauk yang Hinata masak.
"Haah~" Naruto menghela nafasnya bosan. Ia tak selera makan dan teman-temannya yang biasa disebut Akatsuki ini sangat bising. Mereka tiba-tiba saja meminta ingin berkunjung ke rumah yang menyebabkan Naruto terpaksa pulang dari kantornya lebih awal dan sialnya besok hari sabtu, dirinya masih harus bekerja.
Tik.. Sepiring berisi satu cup coklat lava yang diletakkan di meja dihadapan Naruto yang membuat Naruto menatap siapa yang meletakkan kue ini.
Hinata yang hanya mengedikkan bahu nya tanpa senyuman di bibirnya. Seolah ia tahu jika Naruto ingin bertanya apa ini?
"Oohhh.. Apa kau yang memasak ini?" tanya seorang lelaki sambil menghampiri Hinata yang membuat Hinata menatapnya.
"Makanan ini sangat enak." puji lelaki berambut pirang ketika ke menghampiri Hinata yang hanya tersenyum tipis.
"Oooohh.. Aku ingat padamu.. Kau adalah Hinata.. Apakah kau ingat padaku? Aku adalah kakak kelasmu dulu." ucap seorang lelaki berambut merah senang ketika ia menghampiri Hinata. Sejujurnya Hinata tak ingat sama orang-orang ini.
"Aah.. Maafkan aku.. Sebaiknya kalian nikmati makanan kalian. Aku masih ada sedikit urusan." ucap Hinata mengalihkan pembicaraan dengan senyum tipisnya.
"Apakah kau tak bergabung dengan kami? Kau adalah istri Naruto bukan?" tanya sang lelaki berambut kuning tadi.
"Aku masih ada urusan." jawab Hinata yang masih bertahan dengan senyumnya. Jika ia bergabung disini. Maka ia akan ditelan hidup-hidup oleh Naruto kKetika mereka pulang.
"Baiklah.. Selesaikanlah urusan mu dan bergabunglah." ucap lelaki berambut merah yang hanya dibalas anggukan oleh Hinata.
Hinata yang langsung melangkah pergi menuju tangga dengan kakinya yang di peragakan sekuat mungkin agar tak terlihat pincang.
.
.
"Kyaaa." seseorang yang langsung mengendong Hinata ala bridel style ketika Hinata tiba di lantai atas.
"Aku akan mengantarmu ke kamar." ucap lelaki berambut hitam panjang begitu juga dengan mata hitamnya yang tiba-tiba mengendong Hinata barusan.
"Ah.. Maafkan aku.. Bisakah kau menurunkan aku?" pinta Hinata tak enak. Siapa lelaki ini?
"Kakimu sedang sakit. Kau tak boleh banyak berjalan." Jawab lelaki itu yang membuat Hinata terdiam. Bagaimana bisa lelaki ini tahu kaki Hinata sedang sakit padahal Hinata merasa tadi ia sungguh berjalan dengan normal.
"Dimana kamarmu?"
"Aaaa.. Kamarku di sana." jawab Hinata sambil menujuk sebuah pintu kamar.
.
.
"Te-terima kasih." ucap Hinata ketika lelaki tadi medudukan dirinya ke pinggir ranjang king sizenya.
"Apakah kau teman Naruto? Mengapa kau tak bergabung dengannya?" tanya Hinata sopan pada lelaki tadi yang berdiri dihadapanya.
"Hmm.. Aku adalah kakak kelasmu. Kau boleh memanggilku Itachi." ucap lelaki yang mengaku bernama Itachi mengubah topik pembicaraan dengan senyum lembutnya.
"Aa.."
"Kau pasti terjatuh dari tangga bukan?" tanya Itachi ketika ia bersimpuh dan megecek kaki Hinata yang masih sedikit membiru.
"Aaahh.. Iya." jawab Hinata jujur, tapi mungkin lebih tepatnya didorong dari tangga.
"Aaaa!" desis Hinata sakit ketika Itachi memijit kakinya tanpa aba-aba.
"Apakah hubunganmu dan Naruto tak begitu baik?" tanya Itachi yang membuat Hinata terdiam sejenak.
...
"Aaa.. Tidak.. Kami sangat baik." jawab Hinata cepat dengan senyum bahagianya.
"Sungguh? Aku melihat Naruto yang tak berbicara sepatah katapun padamu,membiarkan kau berjalan dengan kakimu yang sakit tanpa melirik kearahmu sedikitpun ataupun bertanya tentang keadaanmu. Rasanya hubungan kalian tak begitu baik."Jelas Itachi yang kembali membuat Hinata terdiam. Lelaki ini mengingatkan Hinata pada seseorang.. Seseorang yang membuat Hinata tak bisa menyembunyikan apapun padanya.
"Kau mengingatkanku pada seseorang." ucap Hinata pelan dengan kepalanya yang didonggakan, menatap Itachi yang telah berdiri lagi.
"Apa yang kau katakan?" tanya Itachi yang tak mendengar jelas apa yang Hinata katakan.
"Ah.. Tidak ada.. Terima kasih banyak atas bantuanmu." jawab Hinata cepat sambil membungkukkan sedikit badannya. Kakinya jadi tak begitu sakit lagi ketika digerakkan.
"Baiklah kalau begitu.. Aku pergi dulu." ucap Itachi dengan senyumnya yang kemudian melangkah keluar dari kamar Hinata.
..
"Huu~" Hinata yang membaringkan perlahan badannya ke ranjang king sizenya sambil terus menatap ke langit-langit.
"Sudah lama sekali aku tak mendengar kabarmu."
.
.
.
.
.
"Haaaaa! Minum lagi Pain!" teriak lelaki yang bernama Tobi semangat. Mereka semua yang sudah sibuk berlomba meneguk segelas demi segelas bir kecuali Naruto. Naruto hanya sedikit minum kerena besok ia harus bekerja.
"Kau kemana Itachi?" tanya Naruto penasaran pada Itachi yang mendudukan dirinya disebelah Naruto.
"Tidak ada. Aku hanya menemui istrimu." jawab Itachi jujur.
"O.." Naruto beroria sambil kembali menatap temannya yang masih berlomba dengan bir diseberangnya. Ia bosan sekali.. Biasanya Sakura ada disebelahnya dan selalu menemaninya..
"Kakinya sakit." ucap Itachi yang membuat Naruto menatapnya.
"Aku tahu, tangga yang menyebabkannya." jawab Naruto apa adanya dengan ekspresi tak perduli yang membuat Itachi semakin yakin dengan kemungkinan yang ada di otaknya. Pertama, Narutolah yang menyebabkan kaki Hinata terluka. Kedua, hubungan mereka memang tak baik.
.
.
.
.
.
01.26
Byuuuurr! Mata Hinata yang langsung terbuka lebar ketika segayung air kembali membasahi wajahnya dan tentunya seprai, bantal yang baru ia ganti.
"Ada apa Naruto?" tanya Hinata pasrah Sudahlah.. Ini sudah biasa.
"Bereskan ruang tamunya." jawab Naruto yang langsung melangkah pergi yang membuat Hinata mengehela nafasnya. Haruskah tengah malam?
.
Sejujurnya Naruto hanya tak senang karena suatu hal...
.
"Haah~" Hinata menghela nafasnya sambil menundukkan kepalanya. Dari kemarin Ia berusaha sekuat tenaga untuk tak menangis ketika ia mengingat Sakura. Rasanya ia telah berhasil selama beberapa kali tapi kini rasanya ia gagal lagi.
Air mata yang telah memenuhi pelupuk mata Hinata. Hinata hanya lelah untuk terus menangis. Tapi tetap saja. Ketika kejadian yang merenggut nyawa Sakura membayanginya. Ia menjadi sangat takut dan merasa sangat bersalah. Hinata sungguh tak tahu apa yang harus ia lakukan agar ia bisa keluar dari kondisi ini. Ia sungguh lelah.
"Hiks.."
.
.
.
.
.
.
7.26
Hinata yang langsung beranjak dari kursi meja makan dan melangkah pergi ketika ia melihat Naruto menghampiri dispenser air.
Naruto yang meminum air yang ia ambil dari dispenser air tadi dan menatap punggung Hinata yang menjauh serta sepiring nasi goreng dan segelas jus di atas meja makan di hadapan Hinata tadi.
"Cih.. Dia pasti membuatnya untukku." ucap Naruto tak suka sambil meletakkan gelasnya ke meja makan dan menghampiri bangku yang di duduk Hinata tadi.
"Dia tahu aku tak akan memakannya tapi ia tetap memasaknya. Dia sangat suka membuang uang." ucap Naruto tak suka sambil mengangkat sendok dan garfu disisi piring. Ia mengaku makanan Hinata memang enak... Jadi daripada makanan ini terbuang percuma.. Ya.. Lebih baik ia makan saja.. Lagi pula membeli beras dan bumbu untuk memasak nasi goreng ini adalah uangnya. Jadi sama saja nasi goreng ini adalah milik nya.
.
"Bahkan ibu tak bisa memasak seenak ini." ucap Naruto disela-sela sesendok demi sesendok nasi goreng memenuhi mulutnya. Bagaimana bisa makanan ini sangat enak?
!
"Naruto.. Itu makananku." ucap Hinata terkejut ketika ia muncul diambang pintu dapur dan melihat Naruto menghabiskan sarapannya yang membuat Naruto membeku seketika.
Naruto yang menelan paksa nasi goreng yang memenuhi mulutnya dan langsung melangkah pergi dengan wajah dan tingkahnya yang dibuat sedatar mungkin tentunya untuk menjaga harga dirinya.
..
Klik... Tumben pintu rumah itu tak dihempas dengan kasar?
"Haahahahaha.." tawa Hinata yang langsung pecah ketika ia merasa Naruto telah pergi. Benar yang dikatakan Shikamaru. Dia makan secepat kilat. Sejujurnya tadi pagi Shikamaru sms Hinata dan meminta Hinata mencoba trik ini dan ternyata berhasil.
"Aduh perutku.. Hahahaha.." tawa Hinata sambil memegangi pinggangnya yang sakit kerena terus tertawa. Ia hanya bercanda. Lihatlah wajah hilangnya harga diri Naruto tadi.. Lucu sekali. Shikamaru juga mengatakan jika sebenarnya Naruto itu orang yang kekanakan. Dan cara melawan anak kecil adalah dengan trik. Hinata harus berterima kasih pada Shikamaru karena hal ini. Yah.. Anggap saja ini adalah hiburan untuk Hinata.
"Aduh.. Perutku.. Hahahaha" Hinata pasti akan berakhir mengenaskan jika Naruto tahu Hinata mengerjainya.. Rasanya ini pertama kalinya Hinata tertawa lepas setelah menikah dengan Naruto.
...
"Hmm.. Dia memakan makanan itu ketika aku pergi.. Sepertinya sungguh ada perkembangan?" pikir Hinata ketika ia berhenti tertawa. Ia harus mencari cara lagi agar bisa lebih dekat dengan Naruto dan mengambil perhatiannya dengan sesuatu agar Naruto melupakan Sakura. Mungkin akan terasa perlahan tapi yang penting pasti.
Mungkin Hinata harus mengunakan cara lain. Sesuatu seolah Naruto akan bicara padanya?
.
.
.
.
"Oh! Sial! Sial! Sial!" Naruto yang terus memukul setir mobilnya ketika mobil nya melaju ke kantornya.
"Sialan!" marah Naruto yang masih memukul setir mobilnya. Hilang sudah harga dirinya! Sialan! Nasi goreng sialan!
"Aaaaarrggghhh!" Naruto yang langsung mengacak rambut kuningnya yang telah tersisir rapi. Mengingat bagaimana wajahnya saat makan nasi goreng itu membuatnya frustasi. Sialan! Ini sangat memalukan! Ia bersumpah tak akan pernah memakan apapun lagi yang di buat Hinata! Aaaaarrggghhh!
.
.
.
12.51
"Haah~" Naruto yang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan memijit pangkal hidungnya. Kejadian tadi terus mengiang dikepalanya. Sialan! Itu sangat memalukan!
?
"Untuk apa kau kesini." tanya Naruto tak suka ketika ia melihat Hinata melangkah mengekori Shikamaru menuju sofa didalam kantornya, yang terletak tak jauh dari meja kerjanya.
"Makan siang." jawab Shikamaru sinis ketika dirinya dan Hinata mendudukan diri mereka ke sofa yang berseberangan.
"Sejujurnya aku membawa ini untukmu tapi aku teringat bahwa kau akan membuangnya jadi aku memberikannya pada Shikamaru, tak apa kan?" tanya Hinata sambil menatap Naruto yang kemudian berpaling pada dua kotak kecil berisi kue dan serantang makanan yang ia letakan di meja kaca dihadapannya tadi. Hinata rasa kue lava ini mungkin akan membuat Naruto tak stres. Berharap saja jika perasaan leganya ketika memakan kue lava ini bekerja juga pada Naruto.
Mata Naruto yang terfokus sempurna pada kotak berisi kue lava yang Hinata buka. Ia sungguh ingin memakan kue itu tapi bagaimana cara mengatakannya? Tidak!
Persetan dengan Kue!
Tapi kue itu sungguh membuatnya tenang..
...
"Aauuhmm.. Shikamaru, belikan aku makanan." perintah yang tak ingin penolakan dari Naruto yang membuat Shikamaru menatapnya malas.
"Cih.. Kau menggangu saja. Aku bahkan belum menyentuh rantangnya." jawab Shikamaru tak suka yang langsung melangkah keluar.
Hinata yang langsung mengalihkan pandangannya ketika Naruto menatapnya.
Sialan!
"Itu kan untukku. Mengapa dia memberikannya pada Shikamaru?" pikir Naruto tak suka. Sialan! Ia sungguh ingin melahap kue coklat itu! Tapi bagaimana? Tidak! Persetan dengan kue! Ia benci pada apapun yang Hinata buat!
...
"Hinata, sebaiknya kau pergi." ucap Naruto kesal yang membuat Hinata menatapnya.
"Tapi.. Bagaimana dengan ini? Aku harus menunggu Shikamaru menghabiskannya. Aku tak ingin rantang ini berakhir di tong sampah lagi " jawab Hinata yang membuat Naruto semakin kesal. Persetan! Ia sungguh tak tahan lagi melihat kue coklat itu!
"Aah? Apakah tak masalah jika kau membawanya pulang?" tanya Hinata yang langsung dibalas anggukan kilat oleh Naruto tanpa sadar.
"Kau berjanji?" tanya Hinata lagi. Lihatlah.. Naruto bahkan tak mau berbicara padanya..
"Persetan dengan janjimu! Aku muak melihat mu disini!" marah Naruto yang langsung menghampiri Hinata dan menyeretnya keluar. Gagal..
Blam! Pintu geser ruangan Naruto yang langsung digeser kuat oleh Naruto yang menyebabkan pintu itu tertutup.
..
"Tak ada perubahan.." ucap Hinata lelah pada Shikamaru yang muncul di hadapannya. Naruto hanya menginginkan makanan itu.
"Setidaknya dia memakannya." jawab Shikamaru menebak. Naruto itu sebenarnya sangat kekanakan, tentunya waktu Sakura masih ada. Jadi jika Shikamaru ingin membuat Naruto mengangap Hinata ada. Maka Hinata harus memiliki sesuatu yang menarik perhatian Naruto.
"Tapi aku ingin dia memakannya di hadapanku dan memintanya." ucap Hinata lelah. Bagaimana ia bisa lebih dekat dengan Naruto jika begini? Naruto hanya suka makanannya bukan Hinata. Jadi rasanya perkembangannya tak mencapai satu persen.
.
.
Sementara di sisi Naruto.
"Persetan dengan makanan! Aku tak akan pernah memakannya!" ucap Naruto kesal sambil melahap cepat nasi dan lauk di rantang yang telah di buka rapi oleh Hinata tadi. Setelah Hinata merusak hidup Naruto, Naruto menjadi sangat dewasa dan penuh dengan kebencian tapi setelah ia memakan makanan yang dibuat Hinata dan coklat lava itu membuat dirinya seolah kembali menjadi dirinya yang kekanakan dan rasanya tanpa sadar Naruto kembali lagi menjadi dirinya yang dulu meskipun dibelakang orang lain..
.
"Haah~ kue sialan.." ucap Naruto lega ketika kue lava yang masuk sempurna kemulutnya dan melelah. Bagaimana bisa kue ini membuatnya sangat lega dan senang?
Sebuah senyuman bahagia yang tiba-tiba menghiasi bibir Naruto ketika kue itu tertelan olehnya. Mengapa kue ini membuatnya bahagia lagi dan lagi?
"Haah~ kue sialan.." ucap Naruto lega dan senang ketika sepotong kue lava kembali tertelan oleh nya.. Ia sungguh lega. Semua beban dan masalahnya seolah mengalir, menjauh dari nya. Dirinya yang seolah meleleh.. Tubuhnya terasa sangat ringan karena tak lagi merasakan beban apapun.
.
.
.
.
.
Matahari yang sudah kembali meninggi. Jam yang telah menunjuk pukul 12.21 tapi Naruto masih tak keluar dari kamarnya.. Bagaimana caranya Hinata yang telah berisi didepan pintunya dengan kemoceng ditangannya masuk kedalam dan membersihkan kamarnya?
"Haah.. Sebaiknya aku bersihkan kamarnya sebelum ia bangun." pikir Hinata yang langsung membuka pelan pintu kamar Naruto dan melirik-lirik yang kemudian masuk kedalam. Biasa Hinata membersihkan kamar Naruto setelah Naruto pergi bekerja.
...
"Permisi Naruto. Aku hanya ingin membersihkan kamarmu jadi jangan marah ya? Aku melakukannya setiap hari kok." ucap Hinata lumayan takut ketika ia berdiri didekat ranjang Naruto dan menatap Naruto yang tertidur menghadap ke kiri. Lampu kamar ini tak dimatikan.. Apakah Naruto tidur tanpa mematikan lampu kamarnya?
Berita buruknya tentang kejadian semalam adalah Rantang Hinata kembali berakhir di tong sampah.. Haah~ ternyata benar.. Perkembangan nya tak lebih dari satu persen.
.
Satu mata Naruto yang sedikit terbuka, melirik ke arah Hinata yang sibuk dilemari yang berisi barang pajangannya yang terdapat di sebelah ranjangnya dengan kemoceng ditangannya.
Eh?
Oh benar.. Naruto sudah bangun beberapa menit lalu.
Biarkan saja.. Hinata hanya membersihkan kamar ini. Inilah yang dipikirkan Naruto dengan matanya yang kembali di pejamkan. Sejujurnya ia terlalu malas untuk bergerak. Lagi pula kamarnya menang perlu dibersihkan bukan?
.
Piang... Mata Naruto yang langsung terbuka lebar ketika ia mendengar sebuah kaca terjatuh dari lemari pajangannya yang membuat kaca itu pecah?
"Oh tidak.." ucap Hinata sambil berjongkok dan menatap kaca yang sudah tak berbentuk lagi dilantai. Awalnya kaca ini berbentuk persegi empat tapi ditengah kaca-kaca ini terdapat sebuah gambar print yang bergambar Sakura dan Naruto yang tengah merangkul erat dan tersenyum bahagia.
Tunggu? Apakah Hinata baru saja mengatakan Sakura?
Mata Hinata yang terbelak kaget ketika ia menatap Naruto yang sudah terduduk dipinggir ranjangnya dan menatap kaca yang tak terbentuk dilantai dengan tatapan terkejut dan kemudian menatap Hinata dengan tatapan akan mengirim Hinata ke Neraka.
Hinata yang langsung berdiri tapi Naruto tetap saja menatapnya mengerikan yang membuat jantung Hinata terasa akan copot dari tempatnya. Keringat yang langsung membasahi pelipishnya. Ia baru saja melakukan sebuah kesalahan besar?
"ba-bagaimana ini?" Hinata membatin takut sambil menelan susah payah ludahnya ketika ia melihat Naruto berdiri dari posisi duduknya. Hinata sungguh tak sengaja..
.
"Itu-
.
.
-adalah pemberian Sakura."
.
.
.
.
.
To be continue..
.
.
.
Reksaa : terima kasih udah mengingatkan.. Aku lupa sejujurnya.. Hehe..
Mishima : hehe.. Makasih udh ingatkan.. Udh aku perbaiki kok..
Guest : makasih udh diingatkan..
Arybagus : hmm.. Masih ga tahu si endingnya gimana.. Lihat aja entar.. Meskipun aku juga lebih suka sad ending.. Hehe..
Mawarputih : haaaaa... Masih rahasia la.. Hehe
Nao : makasih banyak.. Hehe.. Sejujurnya aku juga merasa belum terlalu kejam tapi hmm.. Nanti kalau bisa aku tambahin.. Biar lebih heboh entar.. Hahaha..
Ozellie : hahaha.. Setuju..
R4st4 : hiii..ngeri.. Hmm.. Baca aja lebih lanjut.. Author ga jamin bakal happy ending hehe..
Riuchan : makasi banyak..
L : makasih sarannya.. Udh aku tambah kok .. Dan mengapa Hinata tak berani mengajak Naruto yah.. begitu lah.. Sama saja ngajak tembok tapi bedanya tempok tak bisa nyakitin dia.. Wkwkwk
.
.
Hmm..
Karena bentar lagi tanggal 20.. Kerjaan aku akan numpuk lagi.. Jadi fic ini akan aku usahain up setiap hari sebelum jam tiga.. Jadi pastikan kalian yang nunggu fic ini selalu cek ya.. Makasih..
Moga kalian suka.. Moga makin bagus.. Maaf jika ga bagus atau kurang.. Tq support dan reviewnya..
Bye-bye.
