Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Rumah tangga
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Rumah tangga by author03
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata.
Drama/hurt/comfort
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 5
.
.
.
Hinata yang langsung berdiri tapi Naruto tetap saja menatapnya mengerikan yang membuat jantung Hinata terasa akan copot dari tempatnya. Keringat yang langsung membasahi pelipishnya. Ia baru saja melakukan sebuah kesalahan besar?
"ba-bagaimana ini?" Hinata membatin takut sambil menelan susah payah ludahnya ketika ia melihat Naruto berdiri dari posisi duduknya. Hinata sungguh tak sengaja..
.
"Itu adalah pemberian Sakura." ucap Naruto menahan amarahnya. Itu pemberian Sakura beberapa hari sebelum dirinya meninggal dan sekarang Hinata menghancurkannya?
"Kau..!" ucap Naruto memberi jeda sambil menghampiri Hinata yang telah membeku dan bergetar dengan tatapan takutnya.
"Na-naruto.. A-aku bisa me-me-menjelaskannya." ucap Hinata dengan badannya yang bergetar sambil menahan tangisannya, kedua tangannya yang bergengam erat didepan dadanya. Ia ingat kejadian di rumah sakit dan di Uzumaki mansion. Ia sangat ingat.. Apa yang harus ia lakukan?!
"Jelaskan." pinta Naruto yang langsung mendorong kuat pundak Hinata yang membuat punggung Hinata membentur dinding dibelakangnya.
"Hiks.. Hiks.. Aku aku.. Aku maafkan aku.. Hiks.. Kumohon.. Kumohon." air mata Hinata yang langsung mengalir deras dengan kepalanya yang tertunduk. Ia sangat takut pada tatapan membunuh pria ini.
"Kau membunuh orang yang paling beharga untukku. Kini kau menghancurkan barang behargaku dan kau meminta ku memaafkanmu?!" marah Naruto sambil menekan kuat pundak Hinata yang membuat Hinata semakin bergetar.
"Hiks... Jika kau menyakitiku. Kau akan mendapat masalah." ucapan yang keluar tanpa sadar dari mulut Hinata. Ia takut sekali.. Sangat sangat takut.
"Oh.. Kau berani mengancamku!" marah Naruto sambil menghentakkan bahu Hinata kebelakang yang kemudian melangkah pergi. Gadis brengsek ini perlu diberi pelajaran!
.
.
.
.
.
"Naruto?" panggil Hinata sambil berlari mengejar Naruto yang melangkah ke kamarnya? Mengapa Naruto ke kamarnya?
Ping.. Bamm! Bangg!
"Naruto! Hentikan!" pinta Hinata terkejut sambil menahan tangan Naruto yang merusak semua barang di kamarnya.
"Hiks.. Kumohon! Hentikan!" pinta Hinata dengan air matanya yang kembali mengalir ketika Naruto menghancurkan semua barang beharganya yang ia pajang di kayu di atas televisi.
Naruto yang kembali mendorong Hinata dan melangkah ke meja kecil di samping ranjang Hinata.
Blamm! Dengan sekali tarikan meja itu yang langsung tumbang.
"Brengsek!"
"Hiks Naruto.. Kumohon jangan." pinta Hinata yang terus menahan tangan Naruto tapi Naruto terus saja mendorongnya dan kini ia malah membuka lemari baju Hinata dan mengeluarkan isinya.
"Kau menghancurkan barang behargaku untuk ke dua kalinya! Brengsek!" marah Naruto dengan rahangnya yang di gertakan sambil merobek sebuah buku tabungan bank yang ia ambil dari lemari baju tadi yang kemudian meremukkan atmnya yang membuat Hinata semakin menangis. Gadis sialan Ini sungguh membuat Naruto emosi! Berani sekali ia mengancam Naruto!
"Hiks Naruto.." panggil Hinata putus asa. Naruto sama sekali tak perduli pada semua barang yang ia hancurkan. Semua itu sangat berarti untuk Hinata.
Bajunya yang di injak Naruto. Seprai, bantal dan selimut diranjangnya yang berserakan kemana-mana. Naruto bahkan menghancurkan ponsel Hinata. Foto keluarganya yang ia pajang. Vas bunga kecil kesayangannya. Semua yang ada di kamarnya.
"Dengar Hinata! Aku sangat benci padamu! Mulai sekarang kau dilarang menyentuh barang apapun dirumah ini dan jangan pernah kau bicara padaku! Kau mengerti!?" bentak Naruto yang membuat Hinata menggangukkan cepat kepalanya dengan tangisnya yang tertahan.
"Lebih bagus lagi jika kau membusuk dikamarmu!" marah Naruto yang langsung menendang baju berserakan Hinata dilantai dan melangkah keluar.
.
"Hiks..hiks..hiks.." tangis Hinata yang langsung pecah ketika ia berjongkok dengan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.
"Hikssss.. Hiks.." tangisnya yang semakin nyaring ketika semua barangnya yang di hancurkan Naruto terus memenuhi otaknya. Naruto tega sekali padanya.
"Hiks.." Satu masalah belum selesai dan kini muncul masalah baru lagi.. Apa yang harus Hinata lakukan?
.
Blammm..
Naruto yang menghempas kuat pintu kamarnya dan menghampiri barang berharganya yang dirusak Hinata.
"Sakura.. Maafkan aku." ucap Naruto merasa bersalah sambil memungut sekeping demi sekeping kaca yang pecah.
"Aku tak bisa menjaga hadiah terakhirmu ini." sambungnya menyesal. Padahal Sakura telah meminta agar Naruto menjaganya baik-baik. Ini semua gara-gara gadis sialan itu!
.
.
Hinata yang baru saja beranjak dari posisinya sambil memungut satu persatu barangnya yang berserakan dilantai.
"Hiks.." isakan yang berhasil lolos dari mulut Hinata yang berusaha sekuat mungkin agar air matanya tak mengalir tapi sayangnya gagal.
"Hikss..hiks.." tangis Hinata yang kembali pecah ketika ia memungut sebuah gelang yang telah putus didekat bawah ranjangnya. Ini adalah gelang persahabatan yang diberikan Sakura dan kini gelang ini telah rusak. Semua hiasannya telah berserak entah kemana.
"Hiks..hiks. Sakura.." padahal Hinata sengaja menyimpan gelang ini dan tak memakainya agar gelang ini baik-baik saja tapi ternyata gelang ini malah dirusaki oleh Naruto.
"Hiks.. Maafkan aku."
.
.
.
.
.
Dua minggu berlalu. Selama inilah Hinata kesulitan berbicara pada Naruto, ia juga hanya memasak ketika Naruto telah pergi keluar, Diam-diam keluar dari kemarnya untuk melakukan kebiasaannya membersihkan rumah kecuali kamar Naruto. Hinata juga sering keluar dari rumah saat siang hari. Ini memang sudah sering ia lakukan dari awal. Ia tahu percuma minta izin pada Naruto kerena Naruto tak akan perduli. Tempat yang biasa dikunjungi Hinata adalah rumah ayahnya dan mengunjungi Sakura, terkadang dirinya juga mengunjungi Tenten dan Ino.
"Hiks.. Hiks.. Sakura. Maafkan aku. Mungkin aku akan mengingkari janjiku hiks.. Aku sudah tak sanggup lagi.. Maafkan aku.. Aku tak bisa melakukan apapun lagi." ucap Hinata dengan tangisnya yang masih pecah. Dirinya yang bersimpuh disisi makam Sakura dan terus menatap nisan makam Sakura.
"Hiks.. Maafkan aku.. Hiks.. Aku sudah tak sanggup. Hiks.. Maafkan aku.. Hiks.." ucap Hinata yang masih menangis. Ia sungguh sudah lelah. Setiap kali ia mencoba untuk memperbaiki suasana dengan Naruto. Naruto akan selalu memebentaknya sebelum ia sempat berkata-kata. Jika Hinata memaksa untuk berbicara maka semua barang didekatnya akan melayang ke mana-mana dan dirinya akan berakhir digudang.
"Hiks..hiks.. Maafkan aku.." asal tahu saja. Jika Hinata dan Naruto beradu di persidangan. Naruto akan berakhir. Hinata punya bukti yang kuat jika Narutolah yang menyebabkan perceraian ini. Dengan begitu. Perusahaan ayahnya akan aman dan dirinya akan terbebas dari Naruto. Hinata sudah lelah. Ia sudah lelah untuk menghadapi semua ini. Ia merasa lebih sanggup menghadapi ketakutannya dari pada Naruto.
"Hiks.. Maafkan aku.. Hiks..hiks.."
.
.
.
.
16.54
Hinata yang baru masuk ke dalam rumahnya dan tiba-tiba saja Naruto yang terdiri di dekat sofa langsung menghampirinya.
"Lepaskan." pinta Hinata ketika Naruto menarik pergelangan tangannya, menariknya keluar rumah.
"Ibu sudah menunggu. Kita harus pergi kesana sekarang." ucap Naruto yang kesal pada pemberontakan Hinata. Ibunya tiba-tiba menelepon dan menyuruhnya pergi ke sebuah restoran bersama Hinata tanpa penolakan.
"Tidak. Aku harus bicara padamu." jawab Hinata yang masih memberontak tapi Naruto tetap saja menyeretnya kedalam mobil.
"Dengar Brengsek! Aku tak ada waktu untuk ocehanmu! Kerjaan aku masih banyak jadi jangan membuang waktuku!" marah Naruto yang langsung menutup kuat pintu mobil di sebelah kursi pengemudi.
.
Brummm...
.
.
Mobil Naruto yang terus melaju dengan kecepatan tinggi. Naruto sedang bekerja dan tiba-tiba saja ibunya menelepon menyuruhnya harus pergi ke sebuah restoran kerena hal yang sangat darurat. Sialan! Gara-gara entah hal apa ini, Naruto mungkin akan melewatkan sebuah rapat penting dan parahnya Shikamaru tak datang. Jadi ia sangat terburu-buru agar dirinya sempat pergi ke rapat itu. Semoga saja penting menurut ibunya itu sungguh penting. Dan jika kalian tanya bagaimana hidup Naruto selama dua minggu ini. Yah.. Hanya begini.. Dirinya yang selalu tertekan karena pekerjaan, kebenciannya pada Hinata masih sama dan ditambah ibunya yang selalu meminta cu
"Turun." ucap Naruto ketika mobilnya terpakir di pakiran sebuah restoran mewah.
Hinata yang langsung menurut dan Naruto pun langsung mengengam pergelangan tangan Hinata dan menariknya masuk kedalam.
.
.
"Ibu.." panggil Naruto berusaha sedatar mungkin ketika ia melihat ibu nya dan seorang wanita yang terduduk bersebelahan di salah satu meja diantara meja-meja yang dipenuhi oleh pelanggan.
"Duduklah." pinta Kushina yang langsung dituruti oleh Hinata dan Naruto.
"Ada apa ibu?" tanya Naruto yang terdengar terburu-buru dan siapa wanita ini?
"Ah.. Apa kalian berdua ingat soal yang aku bicarakan sedari kemarin?" tanya Kushina senang. Naruto dan Hinata mengingat jelas apa yang Kushina bicarakan dan mereka tak senang sama sekali.
"Aku mandul." jawab Hinata datar yang membuat Kushina, Naruto, wanita tadi dan pelanggan yang terduduk disekitar mereka terkejut. Istri seorang Uzumaki mandul?
"Apa maksudmu?" tanya Kushina yang berharap pendengarannya salah. Apa maksudnya dengan mandul?
"Aku man"
"Aa.. Ibu.. Dia hanya bercanda." sela Naruto yang masih terkejut dengan pengakuan Hinata. Apa maksudnya? dirinya mandul? Tapi mereka kan tak pernah melakukan apa-apa.
"Istrinya mandul?"
"Ini sungguh berita menghebohkan." Naruto dan Kushina yang mulai risih dengan bisik-bisikan orang disekitarnya.
"Aku."
"Ibu. Aku akan berbicara dengannya." sela Naruto lagi yang langsung menarik Hinata pergi.
"Lepaskan." pinta Hinata yang langsung memberontak tapi Naruto terus saja menariknya pergi. Meninggalkan Kushina yang mematung sedangkan para pencuri dengar yang masih berbisik-bisik soal berita ini. Seorang istri dari sang pemilik Uzumaki corp mandul? Ini sungguh berita yang panas!
.
.
.
Brummm..
"Kau kira apa yang kau katakan!" marah Naruto ketika mobilnya melaju pergi. Hinata sungguh memalukannya!
"Ini alasan yang bagus kan? Kau juga tak suka dengan pembicaraan ini bukan?" jawab Hinata lantang. Ia sudah siap untuk mengakhiri semua ini. Sekali ini saja. Biarkan ia menjadi orang yang egois.
"Kau mendengar bisikan orang disana?! Apa yang kau sebut bagus! Kau merusak namaku!" marah Naruto dengan mobilnya yang terus mengesit. Gadis sialan ini! Besok perusahaannya pasti dipenuhi wartawan.
"Lantas bagaimana dengan namaku jika semua orang tahu apa yang telah kau lakukan padaku selama ini?" tanya Hinata ketika mobil Naruto terpakir dengan gesit didepan rumahnya.
"Kau menginginkan perceraian bukan? Kita akan bercerai secepat mungkin." ucap Hinata yang langsung turun dari mobil Naruto dan melangkah masuk kedalam rumah yang langsung di kejar oleh Naruto.
"Apa maksudmu!?" tanya Naruto terkejut ketika satu tangannya menahan Hinata yang melangkah menusuri tangga.
"Hiks.. Naruto.. Kata mereka aku adalah orang yang baik.. Hiks.. Tapi aku tidak lemah. Selama ini aku bertahan hanya karena aku merasa bersalah pada mu dan Sakura. Hiks.. Tapi aku sudah tak sanggup lagi. Aku hanya ingin mengakhiri semua ini. Hiks.. Aku hiks aku tak sanggup lagi. Tinggal satu atap dengan orang yang tak aku cintai bahkan tak aku kenal dan lebih parahnya dia membenciku, menatapku seolah ingin membunuhku. Aku lelah. Aku tak sanggup lagi. Hiks..hiks.." jelas Hinata dengan air matanya yang langsung mengalir. Ia yang langsung melangkah melewati kamar Naruto tapi Naruto langsung menahan tangannya dan menariknya masuk kekamar Naruto.
Blamm.. Naruto yang langsung mendorong dan menahan kedua pundak Hinata dibelakang pintu yang baru tertutup.
"Lalu bagaimana denganku? Aku harus tinggal dengan orang yang membunuh orang yang paling aku cintai dan juga menghancurkan hidupku! Kini kau meminta perceraian setelah membuat malu diriku!" jelas Naruto tak terima dengan matanya yang menatap kesal mata Hinata yang menatapnya lelah. Tapi kali ini Hinata tak akan menyerah. Biarkan dirinya menjadi egois. Hanya untuk kali ini saja.
"Setidaknya aku pernah berbaik padamu seperti seorang istri dan membiarkan dirimu melampiaskan kekesalanmu padaku karena kecelakaan yang tak sengaja itu!" jawab Hinata menantang. Ia sudah tak sanggup lagi untuk semua ini.
"Asal kau tahu Sakura itu teman baikku! Kau tak tahu betapa terpukul nya aku kerena akulah yang membuat teman baikku meninggal! Kau tak tahu! Kau tak pernah pikirkan diriku yang setidaknya pernah berusaha untuk menghilangkan rasa sedihmu! Tapi apa yang kau lakukan ketika kau tahu aku menangis karena mengingat Sakura? Tak ada! Kau tak pernah berusaha membantuku tapi aku tak perduli! Aku juga tak peduli pada semua perlakukan mu padaku karena aku merasa aku pantas mendapatkannya. Alasan aku hanya satu. Aku hanya merasa bersalah padamu dan Sakura! Aku hanya ingin membantumu melupakan rasa sedihmu! Dan setelah itu aku pergi!" jelas Hinata lantang. Hal ini adalah hal yang ingin Hinata katakan. Ia sudah lelah bertahan.
"Maksudmu aku harus memaafkan orang yang telah membunuh orang yang aku cintai?" tanya Naruto dingin dengan satu tangannya yang mencengkram rahang Hinata. Ia sudah muak dengan omong kosong ini. Hinatalah yang menyebabkannya begini dan kini Hinata menyalahkannya?!
"Aku tahu aku lah yang menyebabkanmu begini tapi maafkan aku, aku sudah tidak sanggup lagi terus menjalani ini semua." Hinata membatin menyesal. Maafkan keegoisannya ini. Ia hanya sudah lelah.
"Aku tak pernah memintamu untuk memaafkan ku. Kau boleh membenciku sepuasmu. Seperti yang aku katakan, Aku bertahan hanya karena aku merasa bersalah padamu tapi kini tak lagi. sudah cukup aku bertahan. Lagi pula kau ingin perceraian bukan? Akan aku berikan." jawab Hinata yang membuat Naruto tersenyum remeh.
"Setelah kau membuat hidupku kacau, kau mengira aku akan membiarkanmu pergi segampang ini?" ucap Naruto yang langsung menarik Hinata keranjang king sizenya dan menindihnya dengan satu tangannya yang langsung menahan kedua tangan Hinata di atas kepalanya.
"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan!?" tanya Hinata panik sambil terus memberontak tapi Naruto lebih bertenaga dari padanya.
"Aku sangat senang melihatmu sengasara! Kau telah semakin membuatku kacau dan kini kau ingin pergi seenak mu saja?" ucap Naruto yang membuat Hinata semakin memberontak.
"Lagipula ibuku memang ingin cucu kan?" sambung Naruto yang membuat Hinata semakin panik. Persetan dengan apapun. Dirinya sudah cukup kacau. Jika saja mereka terduduk di persidangan. Hinata pasti punya bukti kuat untuk menyalahkannya. Naruto sungguh tak ingin itu terjadi.
"Naruto.. Lepaskan!" pinta Hinata yang semakin memberontak. Apa maksud ucapannya? tapi jika maksud Naruto adalah 'itu', Hinata tak bisa menuntutnya bukan? Karena Hinata masihlah istrinya.
"Aku akan lakukan apapun! Kumohon! Lepaskan aku!" mohon Hinata panik. Sudah cukup ia membiarkan pikiran dan raganya untuk disakiti Naruto tapi tidak yang ini!
Naruto yang hanya menatap Hinata dan tersenyum remeh "Sayangnya, aku terlalu membencimu untuk mendengarkanmu."
.
.
.
.
.
"Hinata.. Hinata.." mata Hinata yang perlahan terbuka ketika ia mendengar suara tak asing memanggilnya.
...
"Sakura?" panggil Hinata terkejut ketika dirinya berdiri disebuah tempat yang putih dan ia melihat Sakura dihadapannya.
"Maafkan aku. Karena aku semua ini terjadi padamu." ucap Sakura menyesal yang membuat Hinata menatapnya bingung.
"Apa maksudmu?" tanya Hinata tak mengerti.
"Sejujurnya."
Flashback..
.
.
"Naruto! Kemari! Ibu belum selesai bicara!" marah Kushina pada Naruto yang terus melangkah pergi.
Blamm..
Kushina yang langsung mendudukan dirinya ke sofa dibelakangnya dan memijit keningnya. Anaknya itu sungguh keras kepala.
...
"Ada apa bibi?" tanya Sakura ketika dirinya terduduk di sofa diseberang Kushina. Ia yang sedikit mendengar mereka bertengkar barusan.
Kushina pun menjelaskan soal perjodohan dan perjanjian antara ayah Hiashi dan ayah Minato serta Naruto yang menolak perjodohan ini kerena ia sudah memiliki seorang kekasih yang membuat Sakura membeku.
"Apakah kau tahu siapa kekasihnya? Aku sangat berharap padanya. Kau mengertikan? Jika saja Naruto menolak perjodohan ini. Kami semua akan menjadi gelandangan." sambung Kushina frustasi yang membuat Sakura menatapnya merasa bersalah. Kushina begitu baik pada keluarganya dan jika Kushina tahu bahwa dirinya lah Naruto menolak perjodohan ini. Sakura sungguh merasa malu pada dirinya sendiri tapi apa yang harus ia lakukan?
..
"Aah.. Bibi tenang saja.. Aku berjanji akan membuat nya menerima perjodohan ini." jawab Sakura dengan senyum manisnya. Ia tak mau Naruto dan kedua orang tuanya hidup sengsara karenanya. Kushina sudah terlalu baik padanya..
"Kau yakin?" tanya Kushina penuh harap dan Sakura hanya mengangukkan kepalanya dengan berat hati.
.
Setelah itu Sakura pun berbicara dengan Naruto tapi Naruto sangat bersikeras mengatakan ia tak mau menerima perjodohan ini dan ia tak mau meninggalkan Sakura, ia bahkan mengatakan ia akan meninggalkan rumahnya jika ibunya terus memaksanya dan akhirnya Sakura pun kehabisan cara untuk membujuknya tapi ia tetap tak bisa membiarkan Naruto menolak perjodohan ini. Sakura tak ingin orang yang telah baik pada keluarganya kehilangan segalanya karena keras kepala Naruto dan dirinya. tiba-tiba saja rencana untuk menghilangkan nyawa nya pun mendarat di otaknya.
Beberapa hari setelah itu rencananya pun dimulai. Di mulai dari mengajak Hinata dan Naruto ke suatu Tempat yang dipenuhi polisi tidur. Berpura-pura bersemangat dan berlari kejalan ketika melihat mobil melaju Hinata dan akhirnya.. Semua nya berjalan dengan lancar. Akhirnya Naruto yang sudah tak punya alasan untuk menolak perjodohan ini pun menerimanya. Itu artinya pengorbanan Sakura tak sia-sia.
.
Flashback end..
"Kau ingat aku pernah memintamu untuk selalu mengangkat telepon dariku kapanpun? Itu termaksud rencana ku. Fokusmu terbagi denganku dan jalanan." jelas Sakura apa adanya dan Hinata mengerti jelas. Memang benar Sakura pernah meminta Hinata agar selalu mengangkat teleponnya di manapun. Itulah sebabnya mengapa Hinata bersikeras mengambil ponsel nya yang jatuh dan Hinata malah mencari alasan baru untuk menyalahkan dirinya sendiri..
"Mengapa?" tanya Hinata tak percaya. Ia bahkan kehabisan kata-kata.
"Alasan mengapa kami pacaran diam-diam karena aku merasa tak pantas untuk Naruto tapi aku sudah terlanjur mencintainya. Ketika kami berdua sepakat untuk berkata sejujurnya pada bibi Kushina. Aku tiba-tiba aku tahu soal perjanjian itu. Orang tua Naruto sangat baik baikku. Dialah yang selalu menolong keluargaku. Jadi aku merasa sangat malu dan bersalah pada nya jika dirinya tahu akulah penyebab Naruto tak menerima perjodohan ini." jelas Sakura datar. Semua emosinya seolah menghilang..
"Alasan mengapa aku sengaja membuat dirimu seolah menyebabkan ku mati karena aku tahu, kau akan merasa bersalah dan kau akan selalu menemani nya, Melakukan apapun agar ia bahagia. Maafkan aku karena aku sangat egois. Aku hanya terlalu mencintainya, aku ingin rasa bersalahmu pada kami membuat dirimu tak akan pernah meninggalkannya. Aku bahkan tak tahu jika dirinya akan terus bersikap jahat padamu. A"
"Kau. Semua ini rencanamu? Hiks.. Kau tak tahu betapa terpukulnya aku ketika mengingatmu! Membiarkan diriku tersiksa karena aku merasa aku pantas medapatkannya! Kau egois sekali. Hiks.." sela Hinata tak percaya. Selama ini dirinya dipenuhi rasa takut dan rasa bersalah. Membiarkan dirinya tersiksa karena merasa dirinya pantas mendapatkannya tapi ternyata semua ini hanyalah rencana Sakura? Dirinya bahkan mencari alasan agar dirinya tetap bersalah tapi ternyata.
"Kumohon maafkan aku Hinata.. Aku mohon jangan pernah tinggalkan dirinya. Dia.. Ak"
"Bahkan kini kau lebih perduli padanya dari pada aku." sela Hinata tak percaya. Ternyata teman baiknya sendiri yang membuat dirinya hancur.
"Hinat"
"Aku adalah Hyuuga! Hyuuga! Bahkan ayahku tak bisa memperlakukan ku seenaknya tapi aku membuang fakta itu karena rasa bersalahku. Kau sudah keterlaluan Sakura." sela Hinata berusaha untuk tegas. Ia sungguh merasa dipermainkan. Semua yang ia lakukan sangat sia-sia dan sangat merugikan nya.
..
"Karena itulah aku melakukan hal ini. Aku sudah meduga kau tak akan mau menerima perjodohan ini. Kau tahu kan itu sama saja memberikan perusahaan itu pada orang lain." jawab Sakura yang membuat Hinata bingung.
"Apa maksudmu dengan memberikan perusahaan kami ke orang lain?" tanya Hinata tak mengerti.
"Bibi mengatakan jika salah satu dari kalian menolak maka perusahaan akan jatuh ke tangan orang yang ditolak dan jika keduanya menolak hingga waktu yang ditentukan semua perusahaan berserta semua aset itu akan disumbangkan ke orang lain. Itu sebabnya. Kalian harus menikah." jelas Sakura. Ini alasannya mengapa mereka harus menikah. Hinata menjadi semakin mengerti.
"Itulah mengapa aku melakukan ini. Naruto tak akan menerima perjodohan ini jika diriku masih ada. Aku tak bisa membiarkan bibi dan paman menderita kerena sikap kekanakannya itu. Kumohon kau mengerti." pinta Sakura.
Hinata jadi yakin soal keanehan dibalik kecelakaan ini. Intinya Sakura melakukan ini karena rasa bersalahnya pada Kushina. Kedua, Naruto tak mau perjodohan ini dengan alasan apapun, ini sebabnya Sakura memilih jalan ini agar Naruto menerima perjodohan ini meskipun karena terpaksa, juga dengan ini Sakura menghitung ini adalah balas budinya atas kebaikan Kushina meskipun karena dirinya lah Naruto menolak pernikahan ini. Ketiga, Sakura sengaja membuat seolah Hinata yang membunuhnya agar Hinata merasa bersalah dan dirinya akan selalu menemai Naruto, membuat Naruto tak lagi bersedih. Dan yang pasti Hinata tahu. Sakura memanfaatkan nya hanya untuk Naruto dan keluarga nya!
"Kau telah memutuskan dua puluh tahun persahabatan kita. Sakura" ucap Hinata ketika ia yakin, ia telah jelas dengan semua ini. Ia sungguh tak percaya hal ini. Sahabat nya yang paling baik, yang paling ia percayai. Memanfaatkan dirinya untuk orang yang ia cintai.
"Hinata.. Kumohon maafkan aku. Kumohon kabulkanlah permintaan terakhirku. Aku tahu Naruto memang kejam padamu. Aku tahu kau tersiksa. Aku tahu kau sudah tak bisa menghadapinya. Aku tahu.. Tapi kumohon bantu aku. Jangan tinggalkan dirinya. Buat dia melupakan aku dan berbahagia seperti sedia kala." ucap Sakura yang membuat Hinata menggeleng kepalanya.
Kesalahan Hinata adalah. Ia membiarkan dirinya disiksa karena merasa pantas mendapatkannya. kedua, ia membuat alasan apapun agar dirinya bersalah. Dan yang paling jelas, Ia telah percaya pada gadis ini. Bahkan sampai akhirpun, dia sama sekali tak memikirkan Hinata. Dia hanya memikirkan Naruto. Katanya dia tahu segalanya soal rumah tangga ini tapi lihatlah apa yang dia minta.
"Kau sangat egois." ucap Hinata tak percaya. Ia masih tak bisa percaya pada kenyataan ini tapi jika dirinya terus menggorek satu persatu kejanggalan kecelakaan itu. Rasanya hal itu sangat masuk akal.
...
"Tunggu. Apakah kau juga mengabaikan keluargamu?" tanya Hinata ketika ia mengingat sikap aneh keluarganya waktu itu.
"Mereka tak tahu.. Aku menulis sebuah catatan sebelum aku pergi." jawab sakura singkat.
Ini pasti alasan mengapa mereka diam saja waktu itu seolah sudah tahu hal ini. Mungkin saja mereka membaca surat itu ketika Hinata hendak kesana. Jika tidak mereka pasti mengejar putri nya ini.
"Kau sungguh egois! Kau melakukan hal ini untuk Naruto tanpa memikirkan perasaan orang tua mu? Kau mengorbankan nyawamu hanya agar keluarga Naruto tak kehilangan harta mereka! Kau bodoh! Nyawa lebih beharga dari harta Sakura!" ucap Hinata tak terima. Gadis ini egois sekali dan bodoh!
"Sudah kukatakan. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan mereka meskipun tetap karena diriku lah Naruto menolak perjodohan itu." jawab Sakura apa adanya. Ia hanya merasa hal ini lah yang paling benar..
"Jadi Hinata kumohon. Bisakah kau tak membuat pengorbananku ini sia-sia? Aku hanya ingin melihatnya bahagia. Kumohon untuk terakhir kalinya. Selalu temani dirinya dan buat dia bahagia seperti sedia kala." ucap Sakura. Yang ia inginkan hanyalah mendengar Hinata berjanji bahwa ia tak akan pernah meninggalkan Naruto.
"Setelah semua yang terjadi padaku?" Tanya Hinata tak terima. Ia muak dengan omong kosong ini. Semua yang telah terjadi padanya. Hanya untuk kebohongan ini!
"Kau bahkan tak menghawatirkan ku sama sekali." sambung Hinata. Ia sungguh kecewa. Ia sangat kecewa pada sahabatnya ini. Setelah semua suka cita yang mereka lalui bersama. semuanya telah sirna. Sahabat nya sendirilah yang menghancurkan dirinya dan membohonginya tak tanggung-tanggung.
"Bodoh jika aku masih mendengarkan apa yang kau inginkan." jawab Hinata yakin. Saat ini alasannya untuk pergi sangat jelas. Semua yang ia lakukan sudah terbukti sia-sia.
"Hina"
"Sakura. Aku pastikan aku akan pergi darinya. Aku akan pergi. Aku telah membiarkan diriku terpuruk. Kau egois. Aku juga bisa. Aku pastikan aku tak akan menghiraukannya. Aku tak akan perduli pada dirinya! la yang telah membuatku sengsara dan kau!"
"Aku adalah Hyuuga. Bahkan dirimu tak bisa memperlakukanku seperti ini. Jadi lihat saja. Aku akan meninggalkannya tak perduli apapun yang terjadi." ucap Hinata tegas dengan penuh tekanan. Ia telah di bodohi oleh sahabatnya sendiri.
"Camkan itu."
.
.
.
.
.
Tubuh Hinata yang tiba-tiba menggeliat, mata beratnya yang perlahan terbuka.
"Nnghh?"
Hinata yang mendudukan dirinya dengan selimut yang masih menutup di badannya. Kepalanya terasa pusing. Badannya juga terasa sakit.
?
...
"Aaku.."
.
.
.
.
.
To be continue..
.
.
.
.
Maaf ga balas Review.. Ni sedikit bocoran biar kalian ga penasaran.. Hinata dan Naruto akan jatuh cinta saat hinata hamil..
Sekian.. Moga suka..
Bye..bbye.
