Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Rumah tangga
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Rumah tangga by author03
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata.
Drama/hurt/comfort
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 6
.
.
.
Tubuh Hinata yang tiba-tiba menggeliat, mata beratnya yang perlahan terbuka.
"Nnghh?"
Hinata yang mendudukan dirinya dengan selimut yang masih menutup di badannya. Kepalanya terasa pusing. Badannya juga terasa sakit.
?
...
"Aaku.."
.
.
"Apa yang baru saja aku mimpikan? Mengapa rasanya itu penting sekali?" ucap Hinata sambil memejamkan matanya dan memaksa otaknya untuk mengingat apa yang baru saja ia mimpikan tapi ia tak bisa mengingatnya sama sekali.
...
"Dan ini bukan kamarku." ucap Hinata ketika ia menatap sekelilingnya yang membuat dirinya kembali berpikir mengapa dia bisa ada disini? Dan bukankah ini kamar...
"Naruto?"
.
.
Flashba
"Tidak!" Hinata yang langsung menggeleng kepalanya. Semoga itu hanya mimpi.
...
"Hiks.. Naruto tega sekali hiks.." air mata Hinata yang langsung mengalir ketika ia melihat badan telanjang nya dibalik selimut. Ternyata hal yang terjadi semalam bukan mimpi. Naruto sungguh..
Sudah cukup Hinata menikah dengan orang yang tak ia cintai dan kini harta nya yang paling beharga malah di rebut juga oleh nya. Naruto tega sekali padanya.
"Hiks.." Hinata yang langsung menghapus air matanya dan memunggut pakaiannya yang berserakan dilantai sambil menahan sakit di selangkahannya. Ia sungguh sudah cukup. Pokoknya ia akan bercerai dengan Naruto.
.
.
.
.
.
1 minggu kemudian.
Matahari yang masih di atas kepala, jam telah menunjuk pukul 13.02
"Haah~" helaan nafas Hinata yang baru saja mendudukan dirinya ke sofa. Beberapa hari ini ia selalu lelah dan tidak nafsu makan.
"Satu minggu lagi. Aku akan bisa pergi." Hinata membatin berharap.
.
.
Flashback..
Hinata yang masih mendudukan dirinya di bangku di kantor ayahnya di Hyuuga corp. Ia yang langsung kemari setelah ia keluar dari kamar Naruto.
Mereka bahkan sudah lebih dari setengah jam membahas hal yang sama.
"Ayah. Kumohon. Cepat atau lambat dia akan menceraikanku karena aku ini mandul." ucap Hinata bersikeras. Ia yang sedari tadi meminta izin ayahnya untuk sebuah perceraian tapa menceritakan soal Naruto yang selalu kejam padanya.
"Tidak. Kau tahu apa yang akan terjadi pada Hyuga corp jika kau menceraikannya." jawab Hiashi bersikeras pada pendirian nya. Ia tak ingin kehilangan semuanya karena keegoisan anaknya ini.
"Ayah. Kumohon. Aku berjanji perusahaan ini akan baik-baik saja. Aku punya bukti yang kuat untuk mempertahankan perusahaan ini." ucap Hinata tak mau kalah.
"Apa buktinya?" tanya Hiashi memastikan.
"Aku tak bisa mengatakannya. Tapi aku bersumpah. Kita tak akan kehilangan perusahaan ini." jawab Hinata yakin. Dan entahlah meskipun ia sudah yakin ingin bercerai. Dia masih ragu, ia takut jika semua orang tahu Naruto selalu bersikap kasar padanya meskipun tetap dirinya lah yang membiarkan Naruto bersikap seperti itu padanya.
...
"Haah!" Hiashi menghela nafasnya. Anaknya ini sangat keras kepala. Jika ia sudah mau maka tak ada yang bisa menghalanginya. Ia bahkan bisa terduduk disini dan memohon selama riga hari penuh.
"Dua minggu." ucap Hiashi yang membuat Hinata menatapnya bertanya.
"Jika kau masih tak hamil dalam waktu dua minggu. Kau boleh bercerai dengannya." sambung Hiashi yang membuat Hinata tersenyum senang. Ia tak mungkin hamil dalam pertama kali sentuhan kan? Dan ia pastikan Naruto tak akan bisa melakukan hal 'itu' padanya lagi.
"Baiklah. Aku setuju." jawab Hinata tanpa ragu.
"Tapi jika kau hamil. Kau tak boleh berbicara soal perceraian lagi padaku." sambung Hiashi serius dan Hinata hanya menggangukan kepalanya. Hanya dua minggu dan Hinata akan keluar dari rumah itu. Memulai hidup baru yang lebih baik meskipun dengan menambah rasa bersalahnya pada Naruto dan Sakura tapi ini lebih baik dari pada ia harus tinggal dengan Naruto. Hinata sungguh sudah tidak sanggup lagi menghadapi Naruto.
Flashback end...
.
.
Enam hari kemudian...
Naruto dan Hinata masih tinggal disatu atap tapi kedua manusia itu bertingkah seolah orang asing yang bertemu di jalanan dan mungkin lebih parahnya mereka bertingkah seolah tak melihat satu sama lain.
Hari ini adalah hari minggu. Jam telah menunjuk pukul 12.34
Hinata yang masih terduduk di bangku meja makan dan mengaduk makanan di hadapannya. Rasanya sudah satu minggu ini dirinya tak selera makan, terasa sangat lelah dan mual. Bahkan hidungnya sangat sensitif dan entahlah rasanya aneh sekali. Ia bahkan lupa untuk merasa senang karena besok dirinya akan mengajukan surat cerai pada Naruto.
?
Hinata yang langsung memperbaiki posisi duduknya ketika ia melihat Naruto menarik bangku di hadapannya dan mendudukan dirinya.
Mata Hinata yang langsung berfokus pada makanannya. Menghiraukan Naruto yang masih berstatus suaminya terduduk di seberang nya dan menatapnya entah dengan tatapan apa itu.
"Kau terlihat tak berselera beberapa hari ini." ucap Naruto datar yang membuat Hinata menatapnya. Bukan khawatir tapi hanya untuk berbasa-basi.
"Naruto, kita akan bercerai." ucap Hinata mengubah topik pembicaraan tapi perutnya ini tiba-tiba.
"A
"Uuekk!" Hinata yang menahan muntahan nya agar tak keluar di meja makan. Hinata yang langsung berlari ke toilet yang terletak tak jauh dari dapur.
"Ueeekkk! Eekk!" cairan dari perut Hinata yang langsung keluar ke dalam kloset.
"Uhuk uueekk!"
..
"Haah~" helaan nafas Hinata lega kerena cairan yang membuat dirinya gelisah keluar dari badannya. Tapi dirinya tetap saja tak tenang. Rasanya aneh sekali.
Hinata yang kembali ke meja makan setelah membasuh mulutnya dengan air di wastafel.
"Haah~" helaan nafas lelah Hinata ketika ia mendudukan dirinya di seberang Naruto. Sekarang ia bahkan terlalu lelah untuk berbicara.
...
"Naruto. Aku mau ke kamarku dulu. Kita bicara nanti saja." Ucap Hinata yang langsung beranjak dari tempatnya tapi langkahnya berhenti ketika ia hampir melewati Naruto yang menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna biru padanya.
?
"Kurasa kau membutuhkannya." ucap Naruto yang masih menatap lurus ke depan ketika Hinata tak kunjung mengambil barang yang ia sodorkan.
Hinata yang langsung merebut kotak kecil biru itu dan sedikit berlari kekamarnya. Sebenarnya satu minggu ini tingkah Hinata sedikit aneh. Dirinya terlihat selalu lelah, tak selera makan, gelisah, mual, bahkan dirinya sangat sensitif pada bau. Terserahlah. Naruto pun tak perduli.
Dirinya hanya sengaja memberikan test pack itu dan percayalah jika Hinata sungguh hamil. Dia akan kemari dan menangis-nangis. Sejujurnya Naruto sudah tahu soal Hinata akan mengajukan surat perceraian padanya besok, karena Hiashi yang memberitahukannya. Hiashi juga bercerita soal apa yang Hinata katakan padanya minggu lalu di kantornya. Jadi jika Hinata sungguh hamil. Naruto akan senang. Bukan senang jika Hinata hamil tapi senang karena dirinya akan menangis. Tapi rasanya ini masih belum cukup untuk membalaskan dendamnya.
.
.
.
.
.
Sementara di kamar Hinata..
Hinata yang masih menatap tak percaya dua garis merah di test pack yang Naruto berikan tadi. Ini pasti salah. Ini tak mungkin.
Hinata yang menatap dirinya lewat cermin di dalam kamar mandinya. Mengapa? Mengapa dirinya tak bisa keluar dari hubungan ini? Mengapa? Setiap kali ia mencoba untuk keluar dari sini, selalu saja ada halangan untuknya.
"Hiks.. Hiks.." tangis Hinata yang mulai terdengar. Apakah dirinya memang sudah ditakdirkan untuk terus bersama Naruto? Tapi mengapa? Apakah ini hukuman Kami-sama untuknya karena dirinya mengingkari janjinya pada Sakura?
"Hiks.. ..hiks..." Hinata tak mungkin bercerai dalam keadaan hamil. Apa yang akan di katakan orang diluar? Mereka pasti membuat gosip yang tidak-tidak yang akan mempermalukan dirinya ataupun keluarganya. Hinata tak ingin itu terjadi.
"Hiks.. Mengapa aku tak bisa keluar dari hiks.. Rumah ini?" tanya Hinata sambil memukul wastafel di hadapannya. Mengapa? Mengapa ia seolah terikat disini? Sekarang apa yang harus ia lakukan? Menunggu anaknya lahir dan bercerai setelah itu? Tidak mungkin!
...
"Aku harus berbicara pada Naruto." ucap Hinata ketika ia menghapus air matanya. Sejujurnya ia tak tahu apa yang harus ia bicarakan. Tapi sekarang ia sungguh bingung.
.
.
.
"Na-naruto." panggil Hinata menahan rasa putus asanya ketika ia berdiri di hadapan Naruto yang masih terduduk di kursi, di meja makan dan menatap ke depan.
"Apa kau tak hamil? Haah~ sayang sekali.." ucap Naruto seolah mengejek yang membuat air mata langsung memenuhi pelupuk mata Hinata. Ia tahu arti dari ucapan Naruto. Naruto pasti sudah menduganya hamil.
"Hiks.. Kau tega sekali.. Hiks.. Padahal hiks.. Aku sudah bilang kita akan bercerai. Hiks.. Bu bukan kah kau juga ingin bercerai. Kau hiks.. Tega sekali." ucap Hinata putus asa. Ia merasa di permainkan oleh Naruto. Naruto sungguh sengaja membuat dirinya terpuruk. Padahal sungguh tinggal sedikit lagi semua ini berakhir tapi Naruto malah memasukkannya lagi.
"Lalu apa? Kau mau abrosi? Ya.. Jika kau ingin, aku tak masalah. Lagi pula aku tak perduli pada mahluk di perutmu itu." ucap Naruto tak perduli yang membuat Hinata menatapnya tak percaya. Bagaimana pun anak ini adalah anaknya. Bagaimana bisa Naruto berkata hal seperti itu. Sejujurnya Naruto hanya berbasa-basi karena ia tahu Hinata tak akan melakukan hal itu.
"Naruto.. Hiks.." Hinata yang kehabisan kata-kata. Kepalanya sungguh kosong. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan.
"Haaa... Mari kita sebarkan kabar bahagia ini ke semua orang." ucap Naruto dengan senyum nya ketika ia menghampiri Hinata dan menepuk pelan pundak kanannya.
"Naruto.. hiks.. Naruto..hiks hiks.." Hinata yang hanya bisa menangis dan memandangi punggung Naruto yang terus menjauh. Jika semuanya tahu. Semakin tak mungkin untuknya bisa bercerai dari Naruto. Naruto sungguh tega padanya. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Masalah soal Sakura belum berakhir dan kini muncul lagi satu masalah.
"Hiks..hiks..Hik.." satu tangan Hinata yang mengelus lembut perutnya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan tapi bagaimana juga ini adalah anaknya. Ia tetap harus menjaganya.
.
.
.
Naruto yang baru saja merobohkan badannya ke kasur. Entahlah. Melihat Hinata putus asa seperti itu membuatnya senang. Rasanya senang ketika ia melihat orang yang telah membunuh Sakura sengsara. Barusan Naruto telah menelepon ibunya dan memberitahunya soal ini dan Naruto cukup penasaran dengan ekspresi apa yang akan Hinata tunjukan besok.
.
.
.
.
.
.
Matahari yang sudah kembali terbit. Jam telah menunjuk pukul 09.21
Hinata yang baru keluar dari kamarnya dan melangkah menelusuri tangga menuju ruang tamu. Televisi di kamarnya rusak jadi ia sangat bosan dan putuskan untuk menonton diruang tamu.
...
"Apakah kau tak bekerja?" tanya Hinata terkejut ketika ia berdiri di samping sofa panjang yang berisi Naruto yang tengah menonton televisi.
"Aku libur. Ibu mau kemari sebentar lagi." jawab Naruto santai yang membuat Hinata membelakkan matanya. Bagaimana jika Kushina tahu dirinya hamil? Bahkan ia belum memberitahukan hal ini pada ayah nya. Jika sampai Kushina tahu Hinata hamil. Seluruh berita akan berisi soal kabar ini dan dirinya.. Akan semakin sulit untuk bisa keluar dari sini.
"Tenang saja. Kau tak akan bisa pergi dari sini segampang apa yang kau pikirkan." ucap Naruto dengan senyumnya ketika ia beranjak dari tempatnya dan menghampiri Hinata yang membeku.
Tidak, Naruto salah. Hinata sama sekali tak mengangap keluar dari sini adalah hal yang gampang.
Satu tangan Naruto yang mengelus basa-basi perut Hinata yang membuat Hinata tersadar dari acara membekunya.
"Ibu lebih suka anak lelaki." ucap Naruto basa-basi yang membuat Hinata menepis tangannya. Hinata sungguh tak suka dengan tingkah Naruto ini. Naruto seolah mempermainkan janin yang ada diperutnya dan dirinya.
"Aku tak perduli jika kau menginginkan janin yang ada di perutku ini. Aku juga tak menginginkannya tapi aku akan menjaganya dan aku tak akan menyerah. Akan aku pastikan. Aku akan keluar dari rumah ini." ucap Hinata yakin yang membuat Naruto tersenyum remeh. Naruto rasa hidupnya sudah cukup kacau. Tak ada lagi hal baik di hidupnya setelah Sakura pergi. Jadi ia tak perduli lagi dengan apa yang ia lakukan pada Hinata tapi..
"Apakah kau sudah melupakan Sakura?" tanya Hinata ketika ia melihat Naruto tiba-tiba melamun. Sepertinya sudah dua minggu ini ia tak mendengar Naruto menyebut nama Sakura sedikitpun dan Naruto juga tak membentaknya apalagi mengurungnya?
"Apa dia sudah mengira aku akan hamil?" pikir Hinata penasaran. Naruto kasar padanya karena Naruto benci pada nya yang telah menyebabkan orang tercintanya meninggal tapi dua minggu ini ia malah megabaikannya karena mungkin dia mengira Hinata bisa saja hamil. Jadi, sebenarnya Naruto itu tak begitu buruk. Tapi jika Naruto sungguh sudah melupakan Sakura.. Setidaknya perjuangan Hinata membuahkan hasil kan?
... Naruto yang hanya terdiam. Sebenarnya dua minggu ini ia sibuk memikirkan apakah Hinata hamil atau tidak. Itu sebabnya selama dua minggu ini ia mengabaikan Hinata. Naruto takut, jika Hinata sungguh hamil. Dirinya tanpa sengaja bisa menyakiti janin diperut Hinata, Naruto tak bilang dirinya menginginkan janin itu tapi dia juga tak bilang dirinya tak mau. Entahlah ia bingung. Ia hanya tak mau menyakiti janin tak berdosa itu meskipun ia sangat sangat benci pada Hinata, ia tetap tak ingin menyakiti janin di perut Hinata dan soal Sakura? Ia masih sangat mencintainya tapi hidup tanpa Sakura mulai terbiasa untuknya.
"Tadinya iya tapi sekarang tidak." ucap Naruto mengancam dengan kedua tangannya yang mengengam erat pundak Hinata. Tapi rasanya ia sudah sering melakukan hal ini hingga rasanya hal ini sudah tak lagi membuatnya marah.
"Maafkan aku. Maafkan aku kerena perkataan aku dulu. Aku tahu kau begini karena kesalahanku." ucap Hinata menyesal dengan kepala nya yang tertunduk. Rasanya ini kesempatan nya untuk berbicara dengan Naruto karena Naruto terlihat sedang tak marah.
"Tapi aku yakin, Sakura tak akan suka melihatmu begini. Bisakah kita akhiri ini semua dan kembali memulai hidup kita?" tanya Hinata ketika ia mengangkat kepalanya dan menatap Naruto yang masih menatapnya.
"Naruto, kau adalah orang yang baik. Aku tahu aku tak pantas mendapatkan maafmu tapi bisakah jangan seperti ini? Kau adalah pacarnya sahabatku, itu artinya kau juga adalah temanku. Aku tahu ini tak akan mudah tapi bisakah kita memperbaiki hidup kita yang telah kacau ini? Kau harus memulai hidupmu tanpa Sakura. Jangan lagi memikirkan dia. Aku berjanji, aku tak akan lagi muncul di hadapan mu. Kumohon. Kita harus memperbaiki semua ini." ucap Hinata lembut pada Naruto yang terlihat membeku di hadapannya. Semoga saja Naruto mengerti.
Satu tangan Hinata yang menarik lembut satu tangan Naruto di pundaknya dan mengengamnya lembut.
"Kumohon. Jangan lagi begini. Aku memang hampir tidak mengenalmu tapi tak ada salahnya kita memperbaiki semua ini. Kau dengan hidupmu dan aku dengan hidup ku." sambung Hinata dengan matanya yang masih terfokus pada mata Naruto.
Naruto yang menarik kuat tangannya yang digengam Hinata dan menahan kedua tangannya sekuat tenaga agar tidak mendorong Hinata. Ia tak ingin sebuah dorongan membunuh janin yang tak berdosa itu.
"Setelah semua ini kau mengatakan hal itu seolah sangat mudah. Semua ini karenamu. Jika saja bukan Karenamu. Hal ini tak akan terjadi!" Ucap Naruto menahan amarahnya. Gadis ini berbicara panjang lebar hanya untuk dirinya sendiri. Hanya agar dirinya bisa terbebas dari rumah ini!
"Hiks.. Naruto.. Percaya padaku. Hiks.. Alasan mengapa aku bertahan disini karena dirimu. Aku ingin membantumu melupakan rasa sedihmu.. Hiks.. Aku merasa takut ketika aku teringat Sakura. Aku tahu kau pasti merasa sangat sedih kerena kehilangan Sakura. Aku mengerti perasaanmu. Itu hiks.. sebabnya aku disini, selalu di samping mu. Aku hanya ingin kau tak lagi bersedih.." jelas Hinata dengan air matanya yang langsung mengalir. Hinata tak tahu. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak dan air matanya terjatuh begitu saja.
"Kau melakukan itu hanya karena rasa bersalahmu pada kami." jawab Naruto tak terima. Padahal dulu jelas sekali Hinata mengatakan ia bertahan disini hanya karena rasa bersalahnya. Dan kini ia berbicara hal yang lain lagi.
"Iya. Kau benar. hiks.. Aku melakukannya karena aku merasa bersalah tapi disatu sisi aku mengerti bagaimana perasaanmu. Hiks.. A-aku melakukannya juga untukmu." jelas Hinata jujur. Disatu sisi rasa bersalah Hinata yang membuatnya bertahan tapi disatu sisi lagi ia bertahan karena ia mengerti bagaimana frustasinya Naruto harus tinggal dengan orang yang telah menyebabkan orang tercintanya meninggal.
"Berhenti bicara padaku seolah kau mengerti aku. Aku sungguh muak padamu!" marah Naruto dengan jari telunjuknya yang terus menunjuk ke wajah Hinata yang terus saja dibasahi oleh air mata. ia sungguh muak dengan omong kosong orang ini.
Tok tok tok..
"Naruto..."
Mata Hinata dan Naruto yang langsung teralihkan pada pintu rumah yang tak jauh dari mereka ketika mereka mendengar suara Kushina yang memanggil nama Naruto.
"Hik." Hinata yang langsung menghapus air matanya dengan kedua tangannya sedangkan Naruto yang langsung melangkah ke arah pintu dan membukanya.
"Waaaahhhhh.. Dimana menantuku yang hamil..." ucap Kushina bahagia sambil melangkah melewati Naruto dan menghampiri Hinata yang masih berdiri di posisinya tadi.
"Ayah." panggil Naruto ayahnya yang juga melangkah masuk.
"Kita harus membuat acara besar-besaran.. Minato!" ucap Kushina bahagia pada Minato yang juga melangkah menghampiri Hinata.
"Selamat Hinata." ucap Minato senang sambil sedikit mengelus perut Hinata yang masih rata dan Hinata hanya tersenyum tipis. Hinata tak tahu apa yang harus ia lakukan selain berakting lagi.
"Apakah kau sudah makan? Kau tidur nyenyak bukan? Apa Naruto kurang perhatian padamu?" Naruto yang mengedikkan pundaknya ketika Hinata menatap dirinya yang berdiri di belakang Kushina. Naruto tak peduli apa pun yang ingin Hinata katakan pada ibunya. Ia sama sekali tak takut jika Hinata mengadukannya.
Sudahlah.. Hinata sudah tak tahu lagi ingin melakukan apa selain terus melanjutkan permainan rumah tangga ini yang sempat hampir berhenti. Hinata yang menampilkan senyum bahagianya. "Aku sudah makan ibu. Aku juga sangat cukup tidur." jawab Hinata yang masih bertahan dengan senyumannya. Sedangkan Naruto yang hanya memasang wajah tak perduli nya. Hinata menang bodoh. Jika saja ia menceritakan semua hal yang Naruto lakukan padanya selama ini. Permainan rumah tangga ini sudah berakhir tapi mengapa ia tak menceritakannya? Entahlah.. Mungkin dia takut? Atau mungkin dia tak ingin nama Naruto menjadi buruk?
"Iya ibu. Naruto sangat baik padaku. Bahkan dia menemani ku ketika aku ingin makan pada saat tengah malam." jawab Hinata dengan senyum bahagianya. Dirinya yang terus menjawab dengan ekspresi wajah bahagia pada semua pertanyaan dari Kushina tapi mereka tak tahu bahwa Hinata sangat bersusah payah menahan air matanya agar tak keluar sediktpun.
"Lumayan." Naruto membatin tak perduli ketika ia terus melihat wajah palsu Hinata itu.
.
.
.
.
4 hari berlalu. Jam yang telah menunjuk pukul 23.02
Hinata yang masih terduduk sambil menonton tv di ruang tamu. Ia lelah sekali. Keluarga Naruto dan keluarganya terus saja kemari dan menanyakan keadaannya dan janinnya tapi entahlah. Hinata tak tahu. Mengapa dirinya merasa sangat kesepian? Ia ingin ada seorang yang mencintainya, menemaninya disini, menanyakan keadaannya, khawatir adanya, mengelus perutnya tapi yang kini ia dapatkan adalah diabaikan, dianggap tak ada sama sekali.
"Hiks.. Mengapa hatiku sakit sekali?" Tanya Hinata entah pada siapa dengan kedua tangannya yang menekan dadanya. Hatinya seolah terggores-gores. Air matanya yang terjatuh terus menerus yang bahkan dirinya tak tahu mengapa?
.
.
.
.
.
.
Sementara di satu sisi lagi, di jam yang juga bersamaan.
Lampu berwarna-warni yang terus berkedap-kedip. Suara lagu yang memekakan telinga.
Terlihat seorang lelaki bersurai kuning yang menegguk habis bir di gelasnya dalam sekali teguk. Ia bahkan lupa ini sudah gelas keberapa yang ia teguk, kepalanya terasa berputar, badannya pun terasa panas. Haah!~ dirinya kesal sekali. Teman-teman sialannya membuat janji untuk bertemu disini dan ketika dirinya sudah tunggu lebih dari 2 jam, mereka membatalkannya seenak jidat mereka saja.
"Haah~" helaan nafas Naruto ketika ia meneguk habis segelas bir nya yang baru dituangkan. Sebenarnya mabuk tak begitu buruk? Hm.. Ingin rasanya Naruto minum lagi tapi ia harus pulang.
.
Naruto yang langsung beranjak dari tempatnya dengan oleng ketika ia membayar minumannya.
Dirinya yang mabuk melangkah dengan susah payah melewati sekumpulan manusia yang tengah berpesta di dekatnya.
"Wwoa.. Maafkan aku Hik." ucap Naruto linglung ketika ia tak sengaja menabrak seorang gadis.. Mmh? Aduh.. Matanya terasa kabur. Ia tak melihat jelas wajah gadis ini.
"Astaga. Apakah kau tak apa-apa?" tanya gadis itu terkejut ketika tubuh Naruto oleng kedepan dan untungnya berhasil ditangkap olehnya.
"Eh? Inikan Uzumaki! Uzumaki pemilik Uzumaki corp itu!" sang gadis membatin terkejut dan tak percaya ketika ia mengamati wajah tampan Naruto yang telah tak sadarkan diri dan memerah.
.
.
.
.
Matahari yang masuk lewat sela-sela jendela yang mulai menggangu mata seorang lelaki bersurai kuning yang masih tertutup.
"Nngg?" matanya yang mulai bergerak-gerak. Kepalanya terasa pening sekali.
"Sialan." desis Naruto sambil menyentuh kepalanya ketika ia mendudukan dirinya dari posisi tidurnya. Kepalanya terasa pening sekali. Ia bahkan tak tahu dimana ia kini.
Oh tunggu?
Naruto yang menatap ke sekitarnya sejenak.
"Dimana ini?" tanya Naruto entah pada siapa. Yg ia lihat ini adalah sebuah kamar.. Entahlah kamar siapa. Seprainya putih. Selimutnya berwarna biru dan itu adalah foto seorang gadis? Siapa? Naruto masih terlalu pusing untuk bisa melihat jelas foto itu.
"Dimana bajuku?" tanya Naruto terkejut ketika ia melihat badannya yang tak ditutupi kemeja yang ia pakai semalam?
.
"Kau sudah bangun?" tanya seorang gadis bersurai pirang yang entah muncul dari mana yang membuat Naruto menatapnya terkejut.
.
.
.
.
.
To be continue..
Maaf semalam ga up.. Aauthor lagi ga fit.. Moga suka.. Maaf ga balas review lagi.. Author sedang ga banyak waktu. Entar kalau ada waktu langsung aku blas kok..
Bye..bye..
