Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Rumah tangga
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Rumah tangga by author03
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata.
Drama/hurt/comfort
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 7
.
.
.
"Dimana ini?" tanya Naruto entah pada siapa. Yg ia lihat ini adalah sebuah kamar.. Entahlah kamar siapa. Seprainya putih. Selimutnya berwarna biru dan itu adalah foto seorang gadis? Siapa? Naruto masih terlalu pusing untuk bisa melihat jelas foto itu.
"Dimana bajuku?" tanya Naruto terkejut ketika ia melihat badannya yang tak ditutupi kemeja yang ia pakai semalam?
.
"Kau sudah bangun?" tanya seorang gadis bersurai pirang yang entah muncul dari mana yang membuat Naruto menatapnya terkejut.
.
.
.
.
.
"Kau? Ino?" tanya Naruto memastikan ketika ia terus mengamati gadis berambut pirang tadi.
"Naruto.. Jika kau ingin mabuk jangan mabuk sendirian. Jika saja waktu itu aku dan Tenten tak berpasan dengan mu disana, kau sudah dalam masalah besar." jelas Ino memperingati. Ino tahu Naruto ini adalah orang yang sangat kaya jadi mereka yang tergila-gila pada harta akan melakukan apapun untuk mendapatnya, seperti semalam. Seorang gadis yang memapah Naruto yang sedang pingsan entah mau kemana. Jika saja waktu itu Ino dan Tenten tak melihat nya di luar club itu. Bayangkan drama apa yang akan terjadi pada Naruto?
"Apa? Apa yang terjadi semalam?" tanya Naruto tak mengerti. Ia sungguh tak mengingat apapun.
"Semalam kau pingsan karena mabuk dan kami melihatmu dibawa oleh seorang wanita malam(lebih tepatnya penari di club) keluar dari club jadi kami langsung membawamu karena mungkin cewek itu berencana menjebakmu." jelas Ino singkat. Ini hanya tebakannya tapi mungkin saja hal ini bisa terjadi. Dan jika kalian tanya mengapa Tenten dan Ino ke club.. Oh ayo la.. Mereka juga manusia yang butuh sedikit bersenang-senang dan mabuk...
"Sungguh? Terima kasih banyak.." jawab Naruto yang masih tak bisa mengingat apapun tentang kejadian semalam tapi ini lebih lebih baik daripada ia bangun di sebuah kamar dan melihat seorang wanita yang tak ia kenal.
"Maafkan aku kerena membawamu kerumahku. Aku hanya takut menggangu Hinata tengah malam. Oh dan semalam kau muntah jadi bajumu kotor. Aku sudah mencucinya. Seperti nya sudah kering, tunggu akan aku ambilkan." ucap Ino yang langsung melangkah ke kamar mandi yang terletak di kamar tamu, ruangan dimana Naruto dan ia berada.
...
"Haah~" Naruto yang menghela nafasnya dan memejamkan matanya sambil terus mengingat apa yang terjadi semalam dan yang ia ingat hanyalah ia tak sengaja melanggar seorang cewek? Dan akhirnya ia pingsan?
.
"Ini bajumu." ucap Ino sambil menyodorkan kemeja Naruto yang telah beripat rapi.
"Terima kasih.
.
.
.
.
12.01
Naruto yang langsung merobohkan dirinya ke sofa panjang di ruang tamu ketika ia tiba dirumahnya. Rasanya lelah sekali. Apakah mabuk memang selelah ini? Ia bahkan lupa terkejut bahwa hari ini dirinya tak masuk kerja dan lupa malas jika Shikamaru akan menceramahinya non stop.
Satu lengan Naruto yang menutup matanya yang telah tertutup dan tanpa hitungan menit dirinya telah tertidur.
.
"Naruto?" Hinata membatin memastikan ketika ia turun dari lantai atas dan melihat Naruto yang terbaring disofa. Sepertinya ia tertidur?
Hinata yang menghampiri Naruto dengan pelan dan mengamatinya sejenak. Bau alkohol? dan badan Naruto berbau mawar? Bukankah bau badan Naruto selalu bau parfum yang tercium sangat gagah dan bossy? Dan mengapa Sekarang bau di tubuhnya berbeda? Dan mengapa dirinya tak pulang semalam?
Deg..
Hinata yang melepaskan pelan kedua sepatu mahal yang masih melekat di kaki Naruto yang kemudian bersimpuh di dekatnya, mata Hinata yang terus menatap wajah Naruto yang tertidur dengan satu lengannya menutup matanya. Hinata tahu Naruto memang benci padanya tapi Naruto tak pernah sekalipun tak pulang kerumah. Apa yang terjadi semalam? Apakah Naruto mabuk? Mengapa badannya berbau mawar? Apakah dia bersama seorang wanita semalam?
Tanpa Hinata sadari, air matanya yang terus mengalir keluar tanpa isakan.
?
Hinata yang langsung menghapus air matanya ketika ia sadar dirinya menangis tapi air matanya terus saja mengalir keluar. Mengapa ia menangis? Tidak ini bukan dirinya. Ia tak menangis. Lalu mengapa air matanya mengalir keluar?
Ia tak suka bau di tubuh Naruto ini. Apakah Naruto ...
"Hiks..hiks.." isakan yang berhasil lolos dari mulut Hinata. Hinata sungguh tak tahu, mengapa ia menangis? Mengapa ia kecewa? Mengapa ia tak suka? Mengapa? Ia sama sekali gak mengerti. Ia tak tahu mengapa ia menangis bahkan tangisannya tak mau berhenti.
"Sampai kapan kau mau menangis disini?" Naruto yang tiba-tiba bersuara tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya yang membuat Hinata mengangkat kepalanya dan menatapnya. Haah~ apakah Hinata tak bosan terus menangis? Dan mengapa ia menangis?
"Hiks.. Naruto hiks.. Aku sudah memasak makan siang.. Hiks.. Apa.. Hiks.. Ka-kau mau makan hiks..?" tanya Hinata yang terus menangis yang membuat Naruto mendudukan dirinya dan menatap aneh Hinata. Hinata tak pernah begini sebelumnya. Apa yang terjadi? Perasaan Naruto tak melakukan salah apapun?
"Hiks.. Hiks..hiks.." kedua telapak tangan Hinata yang langsung menutup wajahnya dengan tangisnya yang langsung pecah. Hinata tak mengerti. Yang ia tahu ia benci pada Naruto. Ia tak suka pada Naruto. Ia tak suka pada bau di tubuh Naruto. Dan yang ia tahu. Ia ingin Naruto mengelus perutnya, memeluknya, menenangkannya dan menjelaskan mengapa ia tak pulang.
"Kau kenapa?" tanya Naruto semakin tak mengerti pada Hinata yang terus menangis. Apa yang terjadi? Apakah dia makan salah obat? Naruto bahkan tak menyentuh sehelai rambutnya. Mengapa ia menangis begitu?
"Hiks..hiks. Haaaaaa..hikss." Hinata ingin meminta pada Naruto agar Naruto menemaninya, menenangkannya tapi ia takut. Naruto akan berkata kasar padanya. Ia tak mau. Ia tak ingin mendengar kata-kata kasar dari mulut Naruto.
"Apa?" Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Naruto mulai muak dengan hal ini.
"Wwwuuuuaaa! Hiks!" Hinata butuh seseorang untuk memberinya kasih sayang dan cinta. Bisakah seseorang datang padanya? Bisakah seseorang mencintainya dan menjaganya sebagaimana seharusnya?
"Hinata, bisakah kau diam sekarang? Apa yang kau inginkan sebenarnya? Kau membuat kepalaku sakit." ucap Naruto yang masih bisa mengontrol suaranya. Kepalanya sudah berdenyut, badannya lelah dan kini Hinata malah menangis tanpa sebab.
"Hiks..haaaa.. hiks.." tangis Hinata yang tak berkurang sedikitpun yang membuat Naruto menghela nafasnya.
"Terserah." ucap Naruto kesal, ia yang langsung beranjak dari tempatnya dan melangkah pergi menuju kamarnya di lantai atas, meninggalkan Hinata yang masih menangis tanpa sebab.
.
.
.
.
.
Matahari yang sudah kembali menampak kan dirinya, jam telah menunjuk pukul 07.33
Terlihat Hinata yang sudah terduduk di bangku meja makan dengan dua piring makanan dan minuman didekatnya. Jika kalian ingin tahu, semalam Hinata menangis lebih dari tiga jam dan tangisan itu diakhiri oleh tidur pulas yang juga di dekat sofa di mana Naruto tertidur.
"Naruto.. Apakah kau ingin sarapan?" tanya Hinata dengan senyum bahagianya ketika ia melihat Naruto yang melangkah menghampirinya.
"Tidak." jawab Naruto tak perduli ketika ia berdiri di dekat Hinata yang masih terduduk, yang membuat senyum di bibir Hinata menghilang.
"Padahal aku sudah membuatmu makanan kesukaanmu. Kau sudah lama tak memakannya kan?" ucap Hinata kecewa yang membuat Naruto melirik ke arah dua piring yang berisi kue lava tapi tunggu? Sejak kapan Naruto bilang itu makanan kesukaannya? Pasti Hinata yang menyimpulkannya sendiri.
"Besok malam jam tujuh. Aku akan menjemputmu. Kita harus ke hotel xx.. Ibu telah membuat acara untukmu." ucap Naruto mengubah to the point. Sebenarnya Naruto malas sekali harus datang ke acara tak penting ini apalagi bersama Hinata tapi ia tak punya pilihan lain.
"Oo.. Baiklah." jawab Hinata dengan senyum manisnya. Entahlah.. Ia hanya merasa senang sekali hari ini. Dadanya terasa di gelitik oleh seribu jari kecil. Hinata bahkan tak tahu mengapa sekarang dirinya menjadi aneh sekali. Tiba-tiba senang, sedih, bahagia, entahlah.. Apakah begini rasanya hamil? Hinata tak tahu apakah ini pengaruh janinnya atau bukan. Ibunya telah tiada. Jadi ia tak pernah mendengar cerita apapun soal apa yang akan terjadi jika sedang hamil.
?
"Naruto. Kau tak ingin sarapan?" tanya Hinata lagi ketika Naruto membalikkan badannya dan melangkah pergi.
"Persetan dengan makananmu." jawab Naruto tanpa membalikkan badannya dan tanpa menghentikan acara jalannya.
.
Blamm..
Hinata yang tersentak ketika ia mendengar suara pintu rumahnya tertutup dengan kasar. Rasanya lama sekali ia tak mendengar pintu itu tertutup dengan kasar.
Hinata yang hanya menundukkan kepalanya. Ia bersumpah. Tak ada hal lain yang ia inginkan saat ini selain seseorang yang menyayanginya dan juga janinnya...
.
.
.
.
.
Sehari telah berlalu, jam yang telah menunjuk pukul 19.02. sebuah hotel di lantai sepuluh telah di penuhi oleh orang-orang berpakaian mewah begitu juga dengan orang yang berbahagia, Kushina, Minato dan Hiashi yang masih sibuk menyapa para tamu.
Terlihat meja panjang yang di lapis kain putih di isi oleh sepiring demi sepiring dessert dan minuman berwarna warni. Balon-balon yang mengisi tiang penyanga bangunan yang di hiasi oleh balon-balon. Tempat ini terlihat simple tapi mewah.
.
.
"Kalian sudah datang." ucap Kushina senang ketika ia melihat Hinata dan Naruto yang melangkah menghampirinya. Hinata yang terlihat memakai gaun polos selutut berwarna cream sedangkan Naruto memakai kemeja lengkap dengan jasnya.
"Hinata!" belum sempat Hinata menjawab pertanyaan Kushina, suara yang tak asing memanggilnya dari belakang yang membuatnya membalikkan badannya dan menatap siapa yang memanggilnya. Mereka adalah Ino dan Tenten.
"Wahh.. Mengapa kau tak bilang kau sedang hamil? Kami senang sekali kau tahu?" ucap Tenten senang sambil mengelus lembut perut rata Hinata.
"Sekarang kau tahu bukan?" jawab Hinata dengan senyum senangnya. Selain tersenyum bahagia apa yang bisa ia lalukan disini? Ia bahkan tak bercerita pada Tentenn Tenten soal bagaimana sikap jahat Naruto padanya.
"Ah.. Ibu, ayah. Bisakah aku pergi dengan temanku?" pinta Hinata yang dibalas anggukan oleh Kushina dan ayahnya.
"Ayo Hinata. Kau harus bercerita pada kami." ucap Tenten tak sabaran sambil menarik pelan lengan Hinata pergi begitu juga dengan Ino.
...
"Ibu. Kalau begitu aku juga akan pergi menemui temanku." ucap Naruto yang juga dibalas angukkan oleh ibunya.
"Jangan lupa menyapa para tamu." ucap Kushina sebelum Naruto menjauh darinya yang membuat Naruto mendecih dalam diam. Persetan dengan tamu.
.
.
.
.
Tap..
"Huk!" Naruto yang sibuk melahap dessert di meja tersedak ketika sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Itachi. Kau mengagetkan ku." ucap Naruto tak suka yang dibalas senyuman lucu oleh Itachi.
"Naruto.. Bagaimana kabarmu dengan Hinata?" tanya Itachi to the point sambil mengambil segelas minuman berwarna orange di meja di dekatnya dan Naruto.
"Biasa saja." jawab Naruto tak perduli.
"Oh.. Aku hanya ingin mengingat kan. Jika kau tak menginginkannya, seseorang akan segera mengambilnya darimu." Ucap Itachi yang membuat Naruto menatapnya tak mengerti. Emang siapa yang ingin ataupun bisa mengambil Hinata darinya? Bagi Naruto. Hinata itu ibarat sebuah kertas yang ia simpan disuatu tempat didalam kamarnya. Hanya ia yang bisa membuat kertas itu baik-baik saja ataupun sebaliknya dan yang pasti hanya ia yang bisa mengeluarkan kertas itu dari tempat yang ia sembunyikan sedangkan sang kertas hanya bisa menurut dengan apapun yang Naruto lakukan padanya. Dan mungkin sebuah keajaiban jika kertas itu bisa tiba-tiba berjalan keluar dari tempat nya. Ya.. Itu pun jika kertas itu bisa berjalan. Dan kesimpulannya. Apa yang dikatakan Itachi adalah omong kosong.
"Oo.." Naruto berooria setelah ia meneguk segelas minuman bewarna hijau. Ia tak berduli. Hinata sama sekali tak berguna untuknya.
.
.
.
.
Satu jam berlalu.
Keadaan yang masih sama. Semua orang di dalam ruangan besar yang masih saling berbicara hangat, mencicipi makanan, minuman dan saling menyapa dan sedikit acara bernyanyi.
.
Terlihat Naruto yang baru keluar dari toilet.
"Aa!"
"Astaga. Kau tak apa-apa?" tanya Naruto terkejut ketika seorang gadis terjatuh di dekat ambang pintu ruangan toilet.
"Ma-maafkan aku. aku tak apa-apa." jawab gadis itu sambil berusaha berdiri tapi kepalanya terasa berdenyut yang membuat dirinya kembali terjatuh dan untungnya duluan tertangkap oleh Naruto. Dinilai dari pakaiannya. Pasti gadis ini palayan di acara Naruto saat ini.
"Apa kau sakit?" tanya Naruto ketika gadis itu terus menyentuh kepalanya.
"Tidak." jawab nya cepat sambil berusaha berdiri tanpa bantuan Naruto tapi badannya kembali terjatuh dan berhasil ditangkap lagi oleh Naruto.
Naruto yang mendudukan pelan gadis itu ke lantai yang benar-benar bersih dan terjaga ini.
"Aku harus bekerja hiks.. Jika mereka tahu aku sakit. Mereka akan menyuruhku pulang. Aku sudah sangat bingung. Hiks.. Keluargaku sudah meninggalkanku. Hiks.. Aku bekerja untuk menghidupi diriku sendiri. Hiks.. Rasanya aku ingin mati .. Aku..hiks sudah tak sanggup lagi hidup seperti ini.. Aku bahkan terpaksa menari di club hanya untuk menghidupi diriku hiks hiks..aku sungguh tak punya harga diri lagi." ucap gadis itu dengan kedua telapak tangan nya yang menutup wajahnya yang dipenuhi air mata. Rasanya aneh ia tiba-tiba mengatakan hal ini tapi melihat dari wajahnya, sepertinya ia sungguh sangat susah.
Naruto yang menatap iba gadis yang tengah menangis ini. Gadis ini pasti sangat sengasara.
"Kau butuh pekerjaan?" tanya Naruto yang dibalas anggukan oleh gadis yang masih menangis tadi.
"Kalau begitu besok pagi datanglah ke kantorku. Aku bisa membantumu tapi sekarang pulang dan istirahatlah." ucap Naruto sambil menyodorkan sebuah kartu nama yang ia ambil dari saku didalam dompet yang ia ambil dari saku celananya.
"Sungguh? Hiks.. Terima kasih. Hiks.. Terima kasih." ucap gadis itu senang sambil memeluk Naruto yang membuat Naruto membeku. Tak ada salahnya Naruto membantu orang yang butuh pertolongan kan? Lagi pula gadis ini terlihat seperti orang yang baik.
...
"Ah.. Maafkan aku.. Aku hanya senang." ucap gadis itu sambil melepaskan pelukannya ketika ia sadar siapa orang yang dipeluknya.
"Tidak apa.. Kalau begitu aku pergi dulu. Kau pulang lah ke rumahmu." jawab Naruto yang langsung beranjak dari tempatnya dan melangkah pergi, meninggalkan sang gadis yang juga beranjak dari posisinya.
"Terima kasih banyak." ucap sang gadis sambil membungkukkan badannya pada Naruto yang terus melangkah pergi.
Hmm.. Naruto sampai lupa menanyakan siapa namanya.
.
Sang gadis yang masih berdiri di ambang pintu dan tersenyum penuh rencana ketika ia tak lagi melihat punggung Naruto.
"Rencana pertama berhasil..."
.
.
.
.
.
.
.
Matahari yang kembali meninggi. Haah~ rasanya waktu berlalu cepat sekali. Jam telah menunjuk pukul 07.36
"Naruto.. Apakah kau mau sarapan?" tawar Hinata senang ketika ia menghalang jalan Naruto yang hampir mencapai pintu rumah. Bangun dan menikmati udara di pagi hari membuatnya senang...
"Apakah kau tak bosan terus menanyakan hal yang sama?" ucap Naruto menahan rasa kesalnya yang membuat Hinata terdiam. Ia sungguh bosan dengan kata-kata ini.
.
Blamm.. Pintu rumah yang kembali terhempas kasar.
Kedua tangan Hinata yang mengelus lembut perut ratanya. Ia hanya berusaha.
"Aku sudah terperangkap disini. Aku hanya berusaha melakukan apa yang bisa aku lakukan." pikir Hinata kecewa. Ia sungguh sudah putus asa. Apa yang kini ia inginkan hanyalah seseorang untuk bersamanya. Tidak. Bukan Hinata yang menginginkannya tapi sesuatu didalam tubuh Hinata yang menginginkan nya.
"Tidak. Aku tak menginginkan seseorang.. Aku ingin Naruto. Hiks.. Ayah dari janin ini.. Hiks.."
Tapi mengapa harus lelaki itu? Mengapa harus orang yang tak bisa Hinata gapai?
.
.
.
.
07.58
Tap tap tap.. Seorang gadis bersurai pirang yang dituntun menuju ruangan Naruto oleh seorang karyawati Naruto.
Tok tok tok..
"Masuk."
"Silahkan masuk." ucap sang keryawati yang dibalas senyuman lembut oleh sang gadis berambut pirang.
...
"Oh.. Kau sudah datang?" ucap Naruto yang membuat Shikamaru ikut menatap ke seseorang yang baru datang yang baru saja Naruto katakan.
"Maaf jika saya terlambat." ucap gadis tadi sopan sambil membungkukkan sedikit badannya ke arah Naruto yang terduduk di balik meja dihadapannya.
"Shikamaru. Mulai sekarang ia akan bekerja untukmu. Dia akan membantu semua kerjaanmu." ucap Naruto yang membuat Shikamaru menatapnya malas yang kemudian menatap sang gadis yang juga menatap dan tersenyum padanya.
Tadi Naruto sedikit bercerita soal seorang pekerja baru. Apakah orang ini maksud Naruto? Dinilai dari pakaian kantorannya dan wajahnya, rasanya orang ini bukan orang yang susah atau lebih tepatnya bukan orang yang baik?
"Tak perlu. Aku lebih suka kerja sendiri." jawab Shikamaru malas yang kembali fokus pada kertas-kertas di hadapannya. Ia yang masih sibuk terduduk disofa dan kertas di meja kaca di depannya.
"Pokok nya dia akan membantumu dan siapa namamu?" tanya Naruto yang teringat bahwa ia tak tahu siapa nama gadis ini.
"Nama saya Shion, Uzumaki-san." jawab sang gadis sopan sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Oh.. Semoga kau betah bersama lelaki itu." ucap Naruto mengejek yang membuat Shikamaru menatapnya kesal. Harusnya Shikamaru berterima kasih pada Naruto karena ia telah mencarikan seorang asisten untuknya, Untuk membantu pekerjaannya supaya terasa lebih ringan tapi ia malah menolaknya. Cih.. Menyebalkan.
"Lebih gampang dari yang aku kira." Shion membatin senang. Sepertinya keberuntungan sungguh sedang berpihak padanya. Ia bisa masuk kesini dengan mudah.
"Saya akan bekerja dengan giat." ucap Shion semangat.
.
.
.
.
.
Tok tok tok..
"Tunggu sebentar!" teriak Hinata yang masih melangkah menyusuri tangga dan menuju pintu rumahnya yang entah di ketuk oleh siapa.
.
Clik..
"Em? Permisi? Anda siapa dan mencari siapa ya?" tanya Hinata ketika ia menatap punggung seorang lelaki tegap yang dibalut oleh jas mahal?
Sang lelaki yang membalikkan badannya dan tersenyum hangat yang membuat Hinata mengamatinya sejenak.
?
Rambut pantat ayam, mata hitam kalem, badan tegak. Bukan bukan bukan. Ini bukan teman Naruto yang menolongnya waktu itu. Bukan ini ini tak. Ini apakah Hinata sedang bermimpi?
"Hime ku terlihat chubby sekali?" ucap nya yang membuat Hinata menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua telapak tangannya.
...
"Sa-sa-sasuke!?" pekik Hinata memastikan yang membuat lelaki tadi semakin tersenyum lucu.
"Kau Sasuke!" pekik Hinata lagi, kembali memastikan bahwa ia tak bermimpi.
"Hmm." guman Sasuke sambil menyentil lembut kening Hinata yang masih membeku dengan mulutnya yang terbuka lebar begitu juga dengan matanya. Ini Sasuke? Teman baik Hinata sejak kecil? Ini
"Kau tak mau membiarkan aku masuk?" tanya Sasuke yang membuat Hinata tersadar dari acara mematungnya.
"Aaa.. Silahkan masuk.. Masuk masuk." jawab Hinata cepat sambil menyingkirkan badannya, memberi jalan agar lelaki ini bisa masuk.
.
.
.
Hinata yang telah meletakan segelas kopi ke meja kaca diruang tamu.
Dirinya yang yang masih terduduk di sofa panjang dan menatap seorang lelaki bernama Sasuke yang terduduk di sebelahnya yang juga menatapnya lucu.
"Sudah. Sampai kapan kau mau menatapku seperti itu?" tanya Sasuke lucu yang kembali membuat Hinata tersadar dari acara menatapnya tak percaya. Sungguh ini bukan mimpi?
"Kapan kau kembali? Mengapa kau kembali? Apa kau baik-baik saja? Apakah urusanmu itu sudah selesai? Rasanya sudah lima tahun kau pergi." ucap Hinata cepat yang membuat Sasuke kembali tersenyum lucu. Sasuke dan Hinata adalah teman sejak kecil, Tapi mungkin..
"Hmm.. Kau menikah tanpa mengundangku." ucap Sasuke basa-basi yang membuat Hinata menundukkan kepalanya. Rasanya pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa ia banggakan.
"Kau ada masalah dengan suamimu?" tebak Sasuke tepat sasaran yang membuat Hinata menatapnya. Sejujurnya Hinata tak tahu apakah ini bisa disebut masalah atau tidak tapi Hinata lebih suka menyebutnya hukuman.
"Kau tak boleh banyak pikiran. Itu tak baik untuk janin didalam perutmu." sambung Sasuke sambil mengelus lembut perut Hinata yang membuat Hinata juga menyentuh perut nya. Bahkan Sasuke yang baru bertemu lagi dengannya sangat memperhatikan janinnya. Bahkan ia tahu Hinata hamil dan tahu Hinata ada masalah dengan Naruto. ia memperhatikan Hinata meskipun dirinya tak muncul dihadapan Hinata.
"Hiks.. Aku baru ingat.. Hiks.. Ternyata Itachi itu kakak mu. Hiks.. Pantas saja ia sangat mirip dengan mu. hiks hiks." tangis Hinata yang langsung pecah yang membuat Sasuke semakin tersenyum lucu. Waktu kecil Hinata juga begini lucu.
"Ooo. Tenanglah.. Jangan menangis." Sasuke yang langsung memeluk lembut Hinata dan mengelus punggungnya yang membuat Hinata semakin menangis.
"Hiks... Aku hiks aku.. Hanya ingin seseorang menemaniku disini tapi hiks.. Naruto tak pernah melakukannya. Hiks.. Dia selalu marah padaku dan mengabaikanku hiks... Hiks.." kata-kata yang keluar tanpa sadar dari mulut Hinata. Hinata ingin. Dia ingin pelukan dan elusan ini. Ia membutuhkan ini. selama ini hanya ini yang ia inginkan.
"Aku berjanji akan selalu menemanimu." jawab Sasuke lembut sambil mempererat pelukannya. Ia sungguh merindukan memeluk gadis ini. Ia sungguh rindu pada gadis ini. Setalah lima tahun. Akhirnya ia bisa kembali..
"Hiks. Wwwwwuuuuuaaaa...haaaa Hiks...hiks.." apakah Hinata bisa menyebut ini adalah sebuah keberuntungan? Sasuke tiba-tiba datang padanya disaat dirinya sangat sangat butuh sebuah perhatian..?
"Hime.. Jangan menangis lagi..."
.
.
.
.
Jam telah menunjuk pukul 22.10
Sasuke menghabiskan waktunya dari pagi tadi hingga sekarang bersama Hinata. Memasak bersama, menonton tv bersama, melakukan apapun yang Hinata inginkan dan kini waktunya pulang untuk Sasuke.
"Aku pulang dulu." ucap Sasuke dengan senyum lembutnya pada Hinata yang berdiri diambang pintu dan menatapnya bahagia. Selama rumah tangga ini berlangsung. Hari ini adalah hari paling berbahagia untuk Hinata. Hinata rasa. Ia sangat senang sekali ditemani oleh orang yang sangat perhatian padanya.
"Jaga kesehatan Hinata." ucap Sasuke lembut sambil mengecup lembut kening Hinata.. Jujur dari dulu... Sasuke sangat mencintai Hinata. Kerena Hinata lah dirinya pergi dan karena Hinata juga kini dirinya pulang..
Grap.. Hinata mengengam sisi kemeja belakang Sasuke yang membalikkan badannya dan hendak melangkah pergi.
"Kau akan datang lagi kan?" tanya Hinata berharap dengan kepalanya yang tertunduk. Jujur.. jika Hinata jujur pada dirinya sendiri, bertanya pada hatinya yang paling dalam.
Ia sangat mencintai lelaki ini. Sudah lima tahun ia menunggu lelaki ini kembali dan kini ia telah kembali tapi sayangnya Hinata telah menikah dan terkurung disini.
Sasuke yang membalikkan badannya ketika Hinata melepaskan genggamannya di sisi jasnya.
.
.
"Tentu saja." dua kata yang membuat Hinata terasa hangat dan bahagia..
Sebuah senyum yang langsung menghiasi bibir Hinata.
"Terima kasih..." rasanya mulai detik ini hidup Hinata akan berubah menjadi lebih baik...
.
Semoga..
.
.
.
.
.
To be continue..
.
.
.
Yoo.. Bagi yang udh menebak jalan cerita hari ini dan ternyata jalan cerita nya ga sesuai dengan apa yang kalian tebak.. Silahkan angkat tangan.. Hehe...
Eh.. Sebenarnya Naruto kejam kan cuma sama Hinata. Jadi dia ga begitu buruk la.. Iya kan? Iya kan? *ngotot* abaikan..
Moga kalian suka.. Moga bagus..
Bye..
