Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Rumah tangga
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Rumah tangga by author03
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata.
Drama/hurt/comfort
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 8
.
.
.
.
Hinata yang langsung menyandarkan punggungnya ke belakang pintu rumah yang baru ia tutup. Ia senang. Ya sangat senang tapi rasanya masih ada yang kurang...
"Aku ingin Naruto. Hiks.." air mata Hinata yang kembali mengalir. Mengapa ia menangis lagi?
"Hiks.. Bisakah kau berhenti menangis? Hiks.. Mengapa kau menangis? Hiks haaaa hiks..! Haaaaa!" tangis Hinata yang semakin pecah.. Ia ingin Naruto. Pokoknya ia mau Naruto. Titik!
Tok tok tok..
"Hei mengapa kau menangis?" suara dari luar yang membuat Hinata membalikkan badannya dan kembali membuka pintu yang di ketuk dari luar.
Celik..
"Kau bising sekali. Aku bahkan belum masuk ke dalam. Kau sudah menangis. Apakah otakmu sudah miring? Mengapa kau suka sekali menangis beberapa hari ini?" orang yang ternyata Naruto langsung berkomentar ketika ia masuk dan menutup pintu rumahnya dan Hinata malah menangis semakin kuat.
"Hiks.. Haaaaaaaaaa! Hiks... Wwwwuuuuaaa! Hiks hiks.." kedua tangan Hinata yang terus menghapus air matanya yang mengalir tapi dirinya terus saja menangis tanpa henti yang membuat Naruto semakin menatapnya kesal. Gadis ini sangat menganggu. Bahkan jika di bentak tangisnya semakin menjadi.
"Haah~" helaan nafas putus asa Naruto ketika Hinata tak kunjung diam.
"Baiklah. Baiklah. Katakan apa mau mu. Aku akan melakukan apapun maumu asal kau diam okey?" tawar Naruto putus asa yang membuat Hinata menatapnya.
"Sungguh? Hiks?" tanya Hinata dengan tangisnya yang mulai reda.
"Sungguh.. Jangan menangis lagi ya aaa.. Hinata.." jawab Naruto dengan senyum manis yang dipaksakan nya. Ini lebih baik dari pada Hinata mengeong-ngeong sampai besok pagi. Naruto sungguh tak mengerti. Hinata sungguh menjadi aneh. Dirinya menjadi manja. Dia sungguh membuat Naruto kesal.
"Mari makan." ajak Hinata yang langsung dibalas anggukan oleh Naruto. Sejujurnya Naruto sudah makan tapi ya sudahlah. Daripada Hinata menangis seperti bayi lagi.
.
.
.
.
Hinata dan Naruto yang terduduk bersebelahan di kursi di meja makan. Hinata yang membuka sebuah tutup dan yang menutup makanannya di atas meja dan menyingkirkannya ke kursi didekatnya.
"Naruto. Ini.. Tadi aku membuatnya dengan temanku dan hmm.. Aku sengaja buat dua lagi agar kau bisa makan denganmu." ucap Hinata senang sambil menarik dua piring berisi kue lava mendekat ke dirinya dan Naruto.
"Teman?" tanya Naruto penasaran.
"Iya, dia mengajariku makan begini." jawab Hinata sambil mengangkat piring kue lavanya ke depan mulutnya.
"Aaahp..." hanya sekali lahap piring itu langsung kosong.
"Oo.. Rasanya enak sekali." ucap Hinata bahagia dengan kue lava yang masih memenuhi mulutnya.
"Hi.. Aku senang sekali." sambung Hinata lagi. Ia yang masih mengunyah kue lava yang meleleh di mulutnya. Ooo.. Rasanya ia sangat bahagia.
Naruto yang hanya menatap aneh Hinata. Dan teman? Tadi Naruto melihat seseorang yang kelu
"Naruto. Kau harus coba." ucap Hinata ketika ia berhasil menelan makanan yang ada di mulutnya.
"Ah iya." jawab Naruto yang tersadar dari acara melamunnya.
Naruto yang langsung tersenyum geli ketika ia berhasil memasukan se cup kue lava dalam sekali lahap.
"Hmm.. Kau benar. Ini enak sekali." ucap Naruto tanpa sadar di sela mengunyah makanannya. Rasa coklatnya meleleh di mulutnya. Astaga.. Bagaimana bisa makanan ini begini membuatnya senang?
"Hik.. Aku ingin lagi.. Apa kau mau? Kita bisa membuatnya sama sama?" tanya Hinata yang langsung dibalas anggukan tanpa sadar oleh Naruto. Terserahlah.. Mumpung Hinata ada di dalam kondisi 'gila gilanya' jadi mungkin ia akan segera melupakan kejadian ini.
"Tunggu disini. Aku akan mengambil bahannya." ucap Hinata yang langsung beranjak dari tempatnya dan menghampiri beberapa lemari kecil yang juga tak jauh darinya.
.
.
Semua bahan yang telah tersedia dimeja makan. Begitu pun Naruto dan Hinata yang terduduk bersebelahan. Lengan kemeja Naruto yang telah teripat ke atas, dirinya yang masih menunggu Hinata memberi aba-aba untuknya.
"Pertama masukkan tepung dan cocoa powder dan bla bla bla." jelas Hinata sambil meletakkan satu persatu bahan ke baskom di depannya yang langsung di ikuti oleh Naruto. Bagi Naruto ini tak mudah. Hinata bergerak cepat sekali.
.
.
10 menit kemudian.
Ting.. Oven yang baru berbunyi.
Satu tangan Hinata yang di lapisi sarung tangan anti panas pun mengangkat dua cup kue lava yang baru saja matang.
Hinata yang meletakkan nya ke meja makan, menunggu agar kue ini sedikit lebih dingin sedangkan Naruto yang masih terduduk dan menatap penuh arti kue sebelah kanan buatannya. Rasanya pasti seenak buatan Hinata. Jika benar begitu. Ia tak lagi membutuhkan Hinata hanya untuk memakan makanan ini.
.
"Na.. Ini punyamu Naruto." ucap Hinata sambil menyodorkan kue lava buatan Naruto yang telah ia pindahkan ke piring.
"Ini punyaku." ucap Hinata sambil mendudukan dirinya di sebelah Naruto yang terlihat fokus dengan kue buatannya.
Naruto yang membelah kue lavanya itu. Eh? Mengapa coklatnya sedikit sekali? Bahkan terlihat sedikit padat.
!
"Uueeeekk! Rasanya buruk sekali!" komentar Naruto jijik ketika ia berhasil menelan paksa sepotong kue buatan nya.
"Iii! Jijik sekali." ucap Naruto setelah meneguk habis air yang Hinata berikan tadi. Rasanya ii.. Entahlah.. Yg jelas jijik sekali dan asin.. Ieuuww..
"Hik.. Kalau begitu jatahmu sudah habis." ucap Hinata lucu. Ia yang langsung melahap sempurna kue di depannya tapi Naruto langsung menekan kedua pipinya yang membuat dirinya tak bisa mengunyah kue itu.
!
"Emm.. Enak." Ucap Naruto tanpa sadar ketika ia berhasil menelan kue buatan Hinata.
Mulut dan mata Hinata yang masih berbentuk O, dirinya yang masih mematung tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
...
"Ahh.. Sudah malam. Aku pergi dulu." Naruto yang sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan pun beranjak dari tempatnya dan melangkah pergi, meninggalkan Hinata yang masih membeku.
Oh tidak!
Satu telapak tangan Hinata menutup mulutnya yang masih mengganga.
Naruto memindahkan makanan di mulut Hinata ke mulutnya dengan mulutnya yang menyebabkan bibir bibir mereka...
.
.
.
.
Naruto yang langsung menyandarkan kasar punggungnya ke pintu kamar yang baru saja ia tutup.
Gila! Apa yang baru saja ia lakukan?! Memindahkan makanan dimulut Hinata ke mulutnya?! Mengapa?! Mengapa ia melakukan hal itu?! Sumpah. Naruto bersumpah. Ia sungguh tak sadar.. Ia hanya tak terima Hinata memakan kue enak itu dan ia malah memakan yang tak enak.
Aaaaaahhhh! Tidak! Itu tetap saja salah!
"Ini memalukan!" ucap Naruto frustasi. Sumpah. Ia sungguh tak sadar. Hinata sialan! Kue sialan!
Dan ternyata bibir Hinata sangat manis..
"Aaaaaaaaaa! Apa yang aku pikirkan!"
Hinata yang langsung berlari kilat ke kemarnya ketika ia hampir melewati kamar Naruto dan mendengar teriakan Naruto.
Punggung Hinata yang langsung di sandarkan ke pintu kamar yang ia baru saja ia tutup. Jantungnya terus berdebar kencang.
.
"Diam lah jantung sialan!" marah Naruto yang membuat Hinata tersentak. Ia mendengar jelas suara kuat Naruto.
.
Tapi entahlah.. Jika boleh jujur..
.
"Sialan! Aku benci Hinata. Aku benci Hinata. Jangan berpikir yang tidak tidak." Naruto membatin sambil berjalan mondar mandir di kamarnya. Sialan. Jantungnya sungguh berdebar kencang. Sialan.. Hinata pasti sengaja memancingnya.
"Aku tak akan terpancing lagi. Aku tak akan dibodohi lagi olehnya." Naruto membatin kesal. Dirinya masuk perangkap kue sialan Hinata.
.
"Aku senang.." tidak jangan salah. Bukan Hinata yang senang tapi sesuatu dalam perutnya. Ia seoleh memaksa Hinata untuk menyukai Naruto...
.
.
.
.
.
Matahari yang kembali meninggi. Jam telah menunjuk pukul 07.32
Hinata yang langsung mengalihkan pandangannya sambil menggaruk keningnya dengan satu jari telunjuknya ketika ia melihat suaminya melewati ruang tamu.. Aaaa.. Sepertinya Naruto juga berpura-pura tak melihatnya.
...
"Naruto tunggu.." pinta Hinata ketika ke menghalang Naruto yang hampir mencapai pintu rumah.
"Apa?" tanya Naruto tak suka ketika kejadian semalam kembali membayanginya.
"Aa.. Tidak.. Aku hanya ingin mengatakan. Apakah tak masalah jika temanku akan datang?" tanya Hinata berharap dengan kepalanya yang sedikit menunduk.
"Aku tak perduli." jawab Naruto tak perduli. Ia yang kemudian kembali melangkah melewati Hinata. Emm.. Sejujurnya ia penasaran dengan siapa teman Hinata itu tapi terserahlah. Bukan urusannya.
Blamm..
"Hah~" tubuh Hinata yang melemah seketika. Ia ingin di dekat Naruto.
"Tidak!" pekik Hinata tanpa sadar yang membuat dirinya sendiri terkejut.
"Aku tak mau didekatnya." ucap Hinata pelan seolah berbisik. Tapi sesuatu di dalam dirinya menginginkannya, ia seolah hampir mengambil alih perasaan Hinata.
.
.
.
.
.
.
12.32
Tak terasa matahari telah di atas kepala, sekarang waktunya makan siang tapi terlihat Naruto yang masih sibuk dengan laptopnya didalam kantornya.
"Naruto-san, saya membuatkan anda makanan. Bisakah anda menerimanya?" tanya Shion sopan sambil menyodorkan sekotak bekal entah berisi apa ke arah Naruto yang terduduk di balik meja.
"Tidak terima kasih." jawab Naruto yang kembali sibuk pada laptopnya. Ia masih belum lapar aa.. Mungkin lebih tepatnya sedang tak berselera makan.
"Ta"
"Naruto..." pintu kantor yang langsung terbuka lebar. Menampilkan Hinata yang tersenyum lebar dan melangkah masuk mendekati Naruto yang membuat Shion dan Naruto menatapnya.
"Apa?" tanya Naruto tak suka. Gadis ini sungguh menggangu bahkan lihatlah tingkahnya yang seperti anak kecil.
"Makan siang?" jawab Hinata sambil memamerkan rantang tiga tingkatnya.
"Shion.. Kau bisa keluar jika tak ada kepentingan."
"A.. Baiklah. Permisi." jawab Shion sambil membungkukkan badannya dan melangkah keluar.
"Sialan!"
.
"Hinata, bisakah kau berhenti menggangguku?" tanya Naruto yang masih mengontrol emosinya.
"Bisa setelah kau makan siang." jawab Hinata lucu yang membuat Naruto menghela nafasnya. Apakah hamil membuat gadis ini gila? Tapi aa sejujurnya bau makanan dari dalam rantang itu cukup menggoda Naruto.
"Kemari kan rantangnya. Sekarang pulanglah." ucap Naruto yang langsung merebut kasar rantang yang di sodorkan oleh Hinata.
"Rantangnya akan pulang dengan selamatkan?" tanya Hinata berharap ketika Naruto meletakkan rantangnya di atas meja dan kembali sibuk dengan laptopnya.
"Tentu saja." jawab Naruto dengan senyum lebar yang ia paksakan. Gadis ini bising sekali.
"Dan aaa... Naruto, kau tahu.. Temanku mengatakan jika ia hanya bisa mengunjungiku setiap hari minggu dan sabtu mungkin jadi apakah tak masalah jika minggu ini aku akan pergi keluar dengannya?" tanya Hinata senang. Sasuke berjanji akan mengunjunginya dan bermain.
"Apa itu urusanku?" tanya Naruto tak suka. Ia tak perduli apapun yang mau dilakukan gadis ini dan mengapa ia harus meminta izin Naruto?
"Hmm.. Jadi jika itu bukan urusan mu, kau tak akan perduli? Begitu ya?" tanya Hinata memastikan.
"Aku tak perduli apapun soal apa yang mau kau lakukan. Jadi pergilah kemanapun yang kau suka." jawab Naruto menaikan suaranya. Gadis ini sungguh menjengkelkan.
"Oo.. Baiklah. Terima kasih." jawab Hinata senang yang kemudian membalikkan badannya dan melangkah keluar.
Set..
Naruto yang langsung menatap pintu kantor yang baru saja ditutup.
"Mengapa dia senang?" tanya Naruto aneh. Firasat nya jadi tak enak.
.
.
.
.
.
.
23.43
Sudah satu jam Naruto mencari keseluruh jengkal rumahnya tapi ia sama sekali tak menemukan Hinata.
"Di mana dia? Mengapa dia tak ada dimanapun?" pikir Naruto bingung. Hinata tak ada di kamar, di dapur, ruang tamu. Dia tak ada di rumah ini jadi dimana dia?
"Sialan. Jika dia hilang, pasti aku yang akan dimarahi." ucap Naruto kesal. Ia tak punya nomor ponsel Hinata ataupun temannya. Jadi bagaimana ini? Hinata sialan. Kemana ia pergi malam-malam begini?
.
.
.
Sementara di sisi lain.
"Wahh.. Aku senang sekali. Lihatlah aku bahkan langsung buru-buru kesini ketika Ino meneleponku dan mengatakan kau menginap di rumahnya." ucap Tenten senang, ia yang baru mendudukan dirinya di atas ranjang di dekat Hinata dan Ino. Ia langsung kemari ketika Ino meneleponnya.
"Naruto mengizinkanku pergi kemanapun yang aku suka. Jadi aku kemari." jawab Hinata senang. Lagi pula Naruto tak perduli padanya, mendingan ia tinggal satu malam dengan dua temannya ini.
"Aaaaa.. Aku sungguh merindukan kalian berdua.." ucap Hinata senang sambil memeluk lembut kedua temannya begitu juga dengan mereka yang langsung membalas memeluk lembut Hinata.
"Kami juga Hinata..."
.
.
.
.
.
Matahari yang sudah kembali naik. Jam telah menunjuk pukul 08.11
Kedua kantong mata Naruto yang menghitam, dirinya yang masih terduduk putus asa di sofa. Ia telah mencari kemana-mana tapi ia tetap tak menemukan Hinata. Sialan. Jika Hinata sungguh hilang. Naruto sungguh akan mati di gorok ibunya apalagi ada janin diperut Hinata itu.
Padahal ia hanya asal bersuara soal kemarin. Ia sungguh tak mengira hal ini akan terjadi.
.
.
Cikit..
Mata Naruto yang langsung teralih pada pintu rumah yang tiba-tiba terbuka dari luar.
!
"Sialan! Kau kemana?! Aku mencarimu semalaman! Sialan!" marah Naruto ketika ia menghampiri sang pembuka pintu yang ternyata Hinata.
"Bukankah semalam kau bilang aku boleh pergi kemananpun yang aku suka? Jadi aku pergi ke rumah Ino, Kau bilang kau tak perduli. Mengapa kau marah?" ucap Hinata tak terima Naruto memarahinya padahal Naruto sudah megizinkannya semalam.
"Seharusnya kau izin padaku dulu. Aku tak tidur semalaman karena aku kira kau hilang!" marah Naruto tak terima. Ternyata ia pergi ke rumah Ino. Mengapa tak Naruto pikirkan tempat semudah itu?!
"Lalu mengapa?! Dulu kau mengunciku diluar! Mengapa sekarang cuma karena aku menginap di rumah temanku kau marah?! Kan semalam kau bilang kau tak perduli kemana aku pergi, dan sekarang kau malah marah." jawab Hinata tak terima. Naruto suka sekali memarahinya.
"Itu beda masalahnya! Waktu itu aku tahu kau di luar dan tak kemana-mana! Tapi sekarang kau hilang seperti ditelan bumi! Jika kau kenapa-napa, ibu akan membunuhku! Apalagi ada cucunya di perut sialanmu itu!" sejak kapan gadis sialan ini berani membentaknya?!
"Pokoknya mulai detik ini kau tak boleh kemana-mana tanpa izinku." pinta Naruto yang lebih terdengar seperti perintah.
"Tapi semalam kau bilang aku bol"
"Persetan dengan semalam." sela Naruto kesal. Ia lebih suka Hinata menangis daripada terus menjawabnya.
"Apakah kau memulangkan rantangku?" tanya Hinata yang membuat Naruto terdiam sejenak. Sejujurnya Naruto membuangnya lagi.
"Akan aku belikan." jawab Naruto menurunkan suaranya. Rantang murahan itu, Naruto bisa membeli pabriknya sekalian.
"Kau tak menuruti apa kataku. Aku juga tak mau menurutimu. huh!" ucap Hinata cemberut, ia yang langsung melangkah melewati Naruto yang membuat Naruto terdiam dan menatap tak percaya punggung Hinata yang terus menjauh. Sejak kapan Hinata suka melawan kata-katanya?
Huh.. Hinata tak perduli. Pokoknya jika Naruto tak menurut padanya, ia juga tak mau menurut..
.
.
.
.
.
.
.
Waktu yang kembali berlalu. Matahari yang sudah kembali terbit, jam telah menunjuk pukul 08.23
Naruto yang masih berguling-guling di ranjang king sizenya. Sejujurnya ia sangat penasaran dengan siapa teman yang membuat Hinata tertawa terbahak-bahak beberapa hari Ini(lewat telepon). dan katanya temannya itu akan datang hari minggu, lebih tepatnya hari ini.
Hinata bahkan terlihat sangat semangat membuat sarapan. Rasanya tak tenang melihat Hinata begitu bahagia.
Tok tok tok..
"Naruto.. Apakah kau mau ikut sarapan?" suara dari luar pintu yang berhasil merebut perhatian Naruto. Ini kan rumahnya. Mengapa ia malah bersembunyi di kamar seolah terkunci didalam?
.
Cekit.. Naruto yang beranjak dari tempatnya dan membuka pintu kamar yang di ketuk lagi oleh Hinata.
Naruto yang langsung berjalan melewati Hinata yang langsung di ekori oleh Hinata.
.
Hinata yang langsung mendudukan dirinya ke sebelah lelaki bersurai hitam. sedangkan Naruto yang medudukan dirinya di seberang Hinata dan lelaki entah siapa itu dan jika bukan mau Naruto dirinya terduduk jauh dari mereka tapi karena makanannya memang terletak diseberang mereka.
Lihatlah senyum bahagia Hinata membuat Naruto muak.
"Kau harus banyak makan. Itu akan baik untuk janinmu." ucap Sasuke sambil menyodorkan sesuap nasi yang langsung di lahap oleh Hinata.
"Enak sekali. Masakanmu selalu enak." puji Hinata senang sambil terus menatap Sasuke disebelahnya dan melupakan suaminya yang terus melirik kesal pada dirinya. Naruto bahkan belum melahap sebijipun nasi goreng di hadapannya.
"Apa kau sedang senang?" tanya Sasuke ketika Hinata melahap sesendok nasi yang ia sodorkan.
"Hm.." Hinata menganggukan cepat kepalanya. Ia senang, senang Sasuke disini. Senang ada yang memperhatikannya meskipun masih terasa kurang.
"Terkadang aku marah dan aku menangis tanpa sebab." ucap Hinata tak mengerti. Jika ia sudah menangis dan tak ada yang memperdulikannya maka perlu waktu tiga jam untuk dirinya diam.
"Ooo.. Kau tak boleh menangis lagi. Mulai sekarang jika ada yang membuatmu tak senang, kau harus marah." jelas Sasuke yang kembali membuat Hinata mengangukkan kepalanya.
"Cih.. Tak heren dia melawanku." Naruto membatin tak suka. Lihatlah. Si brengsek dengan si sialan itu seolah sedang berdrama di depannya. Perasaan, Naruto adalah suami Hinata dan mengapa Hinata malah bermesraan dengan lelaki lain di depan suaminya sendiri?
"Ah.. Sasuke.. Mari kita ke kamarku. Aku akan menunjukan sesuatu padamu." ajak Hinata ketika ie menelan makanan yang ada di mulutnya.
"Hei.. Apa-apapan kau. Mengajak orang asing ke kamarmu?" sela Naruto tak suka yang membuat Sasuke dan Hinata menatapnya.
"Dia bukan orang asing." jawab Hinata tak terima.
"Hime.. Bisakah kau pergi ke kemarmu dulu. Aku akan berbicara sebentar dengan suamimu dan pergi ke kemarmu." pinta Sasuke lembut yang langsung di turuti oleh Hinata.
...
"Kau membiarkan seorang lelaki dekat dengan istrimu dan kau bahkan tak mengatakan sepatah katapun ketika kami bemesraan didepanmu. Itu artinya kau tak mencintainya. Dilihat dari Hinata yang mengabaikan mu dan lebih suka dekat denganku itu artinya kau tak bersikap baik padanya dan mengabaikannya." ucap Sasuke datar yang membuat Naruto menatapnya tak suka. Lelaki ini sok tahu sekali.
"Bukan urusanmu." ucap Naruto menatap menantang Sasuke yang masih terduduk di seberang nya.
"Tenang saja. Sebentar lagi Hinata akan segera keluar dari sini." ucap Sasuke datar yang membuat Naruto tersenyum remeh.
"Aku sudah sering mendengarnya." jawab Naruto yang membuat Sasuke tersenyum remeh.
"Kau kira aku tak tahu soal perjanjian antar kakek kalian dan mengapa Hinata masih bertahan di rumah ini?" ucap Sasuke yang membuat senyum di bibir Naruto menghilang. Apakah Hinata menceritakan soal itu pada lelaki ini?
"Lagipula kau tak pernah menginginkannya kan? Jadi saat ini juga aku akan membawanya bersamaku." sambung Sasuke yang langsung beranjak dari tempatnya dan melangkah pergi tapi Naruto langsung menghalang jalannya. Sebenarnya Sasuke hanya sedikit berbasa-basi. saat ini agak sulit untuk memisahkan Hinata dari Naruto karena janin diperut Hinata terus ingin di dekat Naruto. Sasuke baru mengetahuinya dua hari sewaktu dirinya menelepon Hinata dan berbasa-basi dengannya. Saat ini Hinata memang terlihat lebih dekat dengannya dari pada Naruto tapi jika Hinata disuruh memilih antara Naruto dan Sasuke. Sasuke tak yakin Hinata akan memilihnya.
"Kau kira siapa kau berani berbuat seenaknya saja di rumahku?" ucap Naruto menahan amarahnya sambil mencengkram kerah kemeja Sasuke.
"Dan kau kira siapa dirimu boleh berbuat seenaknya pada Hinataku?" ucap Sasuke menantang ketika satu tangannya mencengkram kerah kaos Naruto.
Kedua mata yang saling menatap menantang tanpa suara.
Ting tong..
Kedua mata yang saling beradu langsung terfokus pada suara bel yang berasal dari pintu rumah.
Naruto yang langsung mendorong Sasuke dan melangkah pergi tapi pintu itu sudah dibuka lebih dulu oleh Hinata.
.
"Ah? Cari siapa ya?" tanya Hinata sopan pada seorang gadis bersurai kuning yang membunyikan bel rumah tadi.
"Um.. Apakah Uzumaki-san ada dirumah?" tanya nya sopan.
"Mengapa kau mencariku?" tanya Naruto ketika ke menghampiri Hinata dan orang yang ternyata Shion.
"Umm.. Maaf Uzumaki-san. Sebenarnya ada beberapa berkas yang aku tak mengerti dan harus selesai besok jadi Nara-san menyuruhku kemari dan tanyakan sendiri pada anda." jawab Shion yang membuat Naruto menahan rasa kesalnya. Ini hari minggu dan Shikamaru sialan menyuruh gadis ini mengganggunya?
"Kau bekerja di hari libur?" tanya Naruto teringat jika hari ini adalah hari libur.
"Uhmm.. Kerjaan saya masih banyak." jawab Shion dengan senyum manisnya sambil menunjukan setumpuk kertas di kedua tangannya.
Sebenarnya Naruto sedang malas tapi ia tak tega membiarkan gadis ini pulang dengan tangan kosong.
"Masuklah." pinta Naruto sambil menyingkirkan badannya begitu juga dengan Hinata.
Perasaan Hinata tak enak soal gadis ini.
"Wah rumah Uzumaki-san bagus dan besar sekali.."
.
.
.
Hinata dan Sasuke yang masih terduduk bersebelahan di sofa panjang dan menonton televisi sedangkan Naruto dan gadis tadi yang masih sibuk terduduk bersebelahan di lantai di dekat meja kaca dan sibuk dengan kertas-kertas di meja. Dan lihatlah. Gadis itu seolah berusaha mendekati Naruto. Terkadang dia sengaja menyenggol kan tangannya ke tangan Naruto, Sengaja mengajak bercanda Naruto dan senyuman nya itu. Hinata tak menyukainya. Gadis itu seolah sengaja ingin membuat Hinata marah. Seolah ingin membuat Hinata memerahi Naruto dan betengkar dengan Naruto.
.
"Wuu.. Dia pasti sangat marah." Shion membatin senang ketika ia yang diam-diam mengintip Hinata yang terus melirik padanya dan Naruto.
"Umm.. Saya ingin ke toilet dulu Uzumaki-san." ucap Shion sopan sambil beranjak dari tempatnya tapi kakinya yang seolah keram langsung membuat dirinya jatuh dan tak sengaja mendorong Naruto yang langsung membuat Naruto terjatuh ke belakang.
Mata Hinata yang langsung terbuka lebar ketika ia melihat Shion yang menindih Naruto tapi bukan itu yang membuatnya terkejut.. Melainkan..
.
.
Bibirnya yang menempel di bibir Naruto!
.
.
.
.
.
To be continue..
.
.
.
.
Ya elah... Biarin aja kalau lebay terus nangis wkwkww.. Sekrang kan ada Sasuke entar juga jadi galak. Wkwkwk..
Moga suka.. Moga bagus..
Bye..
