Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.

.

.

Rumah tangga

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Rumah tangga by author03

Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata.

Drama/hurt/comfort

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 9

.

.

.

.

"Umm.. Saya ingin ke toilet dulu Uzumaki-san." ucap Shion sopan sambil beranjak dari tempatnya tapi kakinya yang seolah keram langsung membuat dirinya jatuh dan tak sengaja mendorong Naruto yang langsung membuat Naruto terjatuh ke belakang.

Mata Hinata yang langsung terbuka lebar ketika ia melihat Shion yang menindih Naruto tapi bukan itu yang membuatnya terkejut.. Melainkan..

Bibirnya yang menempel di bibir Naruto!

"Hiks.. Hiks..aku benci padamu. Hiks" air mata Hinata yang langsung mengalir.

"Hinata." tanpa menghiraukan Sasuke yang memanggilnya, Hinata langsung beranjak dari tempatnya dan berlari pergi ke kamarnya.

"Hei. Aku bisa menjelaskan ini." Naruto yang sadar Hinata menangis pun beranjak dari tempatnya dan mengejar Hinata.

Sebuah seringai kemenangan yang langsung menghiasi bibir Shion tapi sayangnya seringai itu tertangkap oleh Sasuke yang masih berdiri di dekatnya.

!

Shion yang langsung mengubah ekspresi wajahnya ketika ia sadar Sasuke sedang memperhatikannya.

"Rencanamu berjalan dengan bagus nona?" ucap Sasuke menyindir dengan kedua tangannya yang ia silangkan ke depan dadanya.

.

.

.

.

.

"Hinata. Itu salah paham. Hinata! Keluarlah!" panggil Naruto sambil memukul-mukul pintu kamar Hinata yang terkunci dari dalam.

"Haaaaaa! Hiks! Wuuuaaa!" tangis Hinata yang masih kuat. Harus berapa ratus kali lagi Hinata katakan? Ini bukan dirinya. Bukan dirinya yang menangis tapi sesuatu di dalam dirinya. Ia cemburu. Ia tak suka pada apa yang baru saja ia lihat.

"Hinata! Itu hanya kecelakaan. Itu hanya sekedar bibir yang tak sengaja menyentuh! Hinata! Jangan menangis la?"

Tunggu.

Naruto yang menghentikan aksinya mengetuk pintu kamar Hinata.

"Mengapa aku harus membujuknya? Emangnya aku perduli dengannya?" tanya Naruto tersadar. Untuk apa ia harus menghiraukan Hinata. Biarkan saja ia menangis. Ini bukan urusan Naruto.

"Hiks. Ibu.. Hiks.. Ibu. Ibu." suara dari dalam ruangan yang membuat Naruto kembali menahan kaki nya yang hendak melangkah pergi. Uhmm ibu? Maksudnya ibu Naruto?

"Hiks.. Ibu.. Naruto Naruto.. Hiks..

"Hinata aku bersumpah akan melakukan apapun untukmu! Hinata. Jangan katakan apapun! Itu salah paham! Aku akan menjelaskannya!" teriak Naruto panik sambil kembali mengetuk pintu kamar Hinata. Sialan! Dirinya bisa mati jika Hinata mengadukannya pada ibunya.

"Hiks.. Dia.. Wwwuuuaaa! Hiks! Dia menci~"

"Aku bersumpah. Aku bersumpah! Kita akan melakukan apapun yang kau mau! Aa.. Sekarang mari kita pergi.. Kita pergi jalan jalan. Beli baju untuk anak mu.. A-a-anak anak ku.. Hinata buka pintunya!" pinta Naruto yang semakin panik ketika Hinata tak kunjung membuka pintu nya. Ia sungguh akan mati. Lagi pula itu kan tak sengaja.

"Aku bersumpah akan mencuci bibirku hingga bekasnya hilang!"

Ceklit.. Naruto yang langsung terdiam ketika pintu yang ia gedor akhirnya terbuka.

"Sialan..." apa yang baru saja Naruto janjikan?

.

.

.

.

.

.

"Apa maksudmu?" tanya Shion tak mengerti ketika ia berdiri dari posisi duduknya dilantai.

"Jangan berakting bodoh." ucap Sasuke dingin yang membuat Shion menatapnya sinis. Ia katahuan..

"Apa? Kau tak senang?" tanya Shion menantang sambil melipatkan kedua tangannya didekat dadanya.

"Ya aku tak senang. Kau mau apa Ha?!" tantang Sasuke sambil melangkahkan dua langkah kakinya mendekat yang membuat jaraknya dan jarak Shion semakin dekat bahkan membuat Shion sedikit mendonggakan kepalanya agar bisa menatap wajah dingin Sasuke. Gadis sialan ini membuat Hinata menangis. Sejujurnya lebih tepatnya Gadis ini membuat sesuatu didalam perut Hinata menangis yang akhirnya juga berpengaruh pada Hinata.

"Dengar jalang. Aku tak perduli dengan apa yang ingin kau lakukan dirumah ini tapi jika kau berani menyentuh Hinata bahkan sehelai rambutnya saja. Aku akan membunuh mu." ancam Sasuke dengan tatapan mematikannya yang masih terfokus pada mata Shion yang terus menatap sok hebat padanya.

.

.

.

.

.

"Hiks.. aku senang sekali kau membujukku. Hik." ucap Hinata senang sambil memeluk erat Naruto yang membuat Naruto membeku. Perlukah Hinata ingatkan lagi jika bukan dirinya yang senang tapi sesuatu di dalam dirinya yang senang.

Naruto yang masih membeku. Jantungnya langsung Berdebar kencang. Rasanya aneh sekali dipeluk begini.

...

"Aa.. Eh.. Kau tak bilang apa-apa sama ibu kan?" tanya Naruto tersadar ketika ia melepaskan pelukan Hinata padanya.

"Aku sudah mengatakannya pada ibu tadi." jawab Hinata jujur dengan kepalanya yang tertunduk yang membuat Naruto kembali membeku. Ibunya akan segera kesini dan membunuhnya tanpa mendengar apapun yang ingin ia katakan.

"Lalu apa yang ibu katakan?" tanya Naruto memastikan. Ia akan mati. Ia akan mati.

"Dia hanya diam." jawab Hinata jujur yang membuat jantung Naruto semakin ingin meloncat dari tempatnya. Ia pasti mati.

...

"Hinata. Bisakah kau meneleponnya lagi dan katakan ini salah paham. Aku bersumpah. Ia salah paham. Dia hanya terjatuh dan tak sengaja ya itu. Kau mengerti kan? Bisakah kau menelepon ibu dan katakan bahwa ini salah paham agar dia tak membunuhku?" pinta Naruto berharap yang membuat Hinata menatapnya aneh.

"Ibuku tak akan membunuhmu." jawab Hinata aneh yang membuat Naruto menatapnya bertanya. Apa maksud dari kata ibuku adalah ibunya Hinata? Tapi kan ibu Hinata telah meningg..

"Kau tak berbicara pada foto kan?" tanya Naruto memastikan. Biasanya Hinata selalu mengeong-geong dan mengadu pada ibunya, dibingkai foto.

"Itu bukan foto, itu foto ibuku." jawab Hinata tak terima yang membuat Naruto menatapnya tak percaya.

!

Naruto sungguh merasa di bodohi! Sialan! Mengapa ia bisa lupa jika Hinata selalu mengadu pada foto ibunya yang ia pajang di dalam kamarnya. Dan mengapa ia bisa lupa jika Hinata tak akan pernah mengatakan apapun pada siapapun soal dirinya yang buruk padanya?!

"Sialan." marah Naruto yang langsung melangkah ke kamarnya. Dia baru saja memohon-mohon pada Hinata. Ini memalukan. Hinata menjebaknya!

Blamm... Hinata yang memiringkan kepalanya dan menatap tak mengerti pintu kamar Naruto yang ia tutup dengan kasar. Mengapa Naruto marah lagi padanya? Naruto menjengkelkan sekali. Suka sekali memarahi nya padahal tadi ia kan sedang membujuknya.

.

.

.

.

"Jadi sekarang lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku menyeretmu." sambung Sasuke yang terdengar seperti ancaman oleh Shion.

Shion yang langsung melangkah ke meja tamu didekatnya, mengumpulkan semua kertas, pena dan tas kecilnya yang kemudian melangkah keluar. Sialan. Ia terlalu ceroboh hingga lelaki ini mencurigainya.

.

.

Sasuke yang menghentikan langkahnya di anak tangga bagian atas ketika ia melihat Hinata yang tengah menatap sebuah pintu disebelahnya.

"Hinata?" panggil Sasuke.

"Oh.. Sasuke.." ucap Hinata yang tersadar dari acara menatapnya.

"Ada apa?" tanya Sasuke sambil melangkah menghampiri Hinata.

"Entahlah.. Naruto tiba-tiba marah dan masuk ke kamarnya." jawab Hinata tak mengerti. Padahal dia kan tak membuat salah.

"Oo.. Dia tak menyakitimu kan? Jika dia berani menyentuhmu. Katakan padaku, aku akan mengirimnya ke Neraka." ucap Sasuke mengancam yang membuat Naruto berdecih dibalik pintu. Naruto akan mencekiknya jika ada kesempatan.

"Jadi apakah kita jadi pergi. Sekarang sudah siang?" tanya Sasuke yang dibalas anggukan oleh Hinata.

"Tunggu sebantar. Aku akan ganti baju."

.

.

Beberapa menit kemudian..

Tok tok tok.

Hinata yang telah memakai gaun selutut berwarna lavender berlengan pendek pun mendekati pintu kamar Naruto dan mengetuk nya. Naruto bilang Hinata harus meminta izinnya jika ingin pergikan?

"Naruto.. Bolehkah aku pergi dengan Sasuke?" tanya Hinata ketika Naruto tak kunjung menjawab.

"Tidak!" Suara Naruto dibalik pintu.

"Kenapa?" tanya Hinata tak terima. Dia kan sudah minta izin, masa masih tak boleh.

Huss.. Pintu dihadapan Hinata yang langsung di buka dengan kilat dan menghasilkan angin.

"Karena kau sudah bersuami. Apa yang akan dikatakan orang lain jika melihat mu berjalan dengan lelaki lain?" tanya Naruto yang kini berdiri di hadapan Hinata. Bukan apa-apa. Jika saja ibunya atau siapapun melihat Hinata jalan dengan lelaki lain. Apa yang akan mereka katakan? Naruto tak ingin mendapat masalah karena hal ini. Sudah bagus Naruto membiarkan lelaki itu ke sini tapi mereka malah mau bermesraan di luar sana.

"Tapi"

"Tak ada tapi-tapian. Jika ibu salah paham bagaimana? Kau mau tanggung jawab? Ha?! sela Naruto yang membuat bibir Hinata memanjang tapi apa yang Naruto katakan memang benar.

"Baiklah. Kalau begitu kami akan main di kamar saja." ucap Hinata mengalah yang langsung di sela oleh Naruto. Hmm.. Jika Naruto berhasil membuat lelaki itu pergi, Hinata pasti akan bosan dan sedih kan? Hmm itu lebih bagus. Karena ia telah berani kurang ajar pada Naruto.

"Apa yang akan dikatakan orang-orang jika mereka tahu ada lelaki lain masuk ke kamarmu? Ha? Apa kau tak punya malu?" tanya Naruto seolah mengancam.

"Tapi dulu kami sering main di kamar. Kami bahkan tidur di satu ranjang yang sama." jawab Hinata jujur. Padahal mereka kan sudah berteman baik, masa main dikamar saja tak boleh. Mereka kan tak melakukan hal yang tidak-tidak.

Hmm.. Tunggu.. Mengapa rasanya tingkah Hinata berubah lagi? Lihatlah ia mengatakan sesuatu dengan jujur dan tingkahnya ini lebih ke seorang anak kecil yang akan berkata sesuatu dengan sejujur-jujurnya agar bisa mendapatkan sekotak permen.

"Hmmm.." Naruto yang menyandarkan badannya ke ambang pintu didekatnya dan berpikir. Apa yang harus ia lakukan untuk mengerjai si brengsek itu...

... Aha!

"Bagaimana jika kau mengusir lelaki itu pulang dan katakan bahwa ia tak boleh bertemu denganmu lagi dan aku berjanji akan membawamu ke taman setiap minggu?" tawar Naruto cepat ketika tawaran ini mendarat di otaknya tapi apakah Hinata mau? Tentu saja ia akan lebih memilih lelaki itu kan?

"Tapi"

"Baiklah jika tak mau." sela Naruto yang hendak melangkah masuk ke kamarnya tapi Hinata langsung menahan pergelangan tangannya.

"Kau berjanji kan?" tanya Hinata memastikan. Ia ingin jika ayah dari janin ini yang selalu menemaninya bukan orang lain.

"Tentu saja." jawab Naruto yakin yang membuat Hinata melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Naruto.

"Baiklah.. Akan aku katakan padanya." ucap Hinata yang langsung melangkah pergi, menusuri tangga dan diikuti diam-diam oleh Naruto. Cih.. Ternyata omongan Sasuke untuk membawa Hinata pergi hanya bualan. Buktinya Hinata lebih memilihnya dari pada Sasuke.

.

Langkah Naruto yang terhenti di tengah-tengah tangga dan matanya terfokus pada Sasuke dan Hinata yang tengah berbicara di dekat sofa tamu.

"Aa.. Sasuke? Bisakah kau pulang. Aku lelah sekali. Aku ingin istirahat." ucap Hinata dengan kepalanya yang tertunduk. Sebenarnya, ia tak tega membiarkan Sasuke pergi, padahal Sasuke sudah berbaik hati ingin menemuinya.

"Kau sakit?" tanya Sasuke sambil menempelkan punggung tangannya ke kening Hinata.

"Hanya lelah." jawab Hinata sambil menyingkirkan pelan tangan Sasuke di keningnya.

...

"Baiklah.. Aku akan mengunjungimu lain kali. Banyak-banyak istirahatlah." ucap Sasuke yang kemudian mengecup singkat kening Hinata. Apa boleh buat. Hinata sedang lelah.

"Iya." jawab Hinata yang dibalas senyuman lembut oleh Sasuke yang kemudian melangkah pergi.

Ceklit..

"Huh.." Hinata yang menghela nafasnya ketika ia melihat punggung Sasuke yang menghilang dibalik pintu. Padahal ia sangat senang Sasuke disini.

Naruto yang langsung berjinjit-jinjit pelan menuju kamarnya, akan memalukan jika ia ketahuan menguping. Tapi Hmm.. Baguslah.. Si brengsek itu sudah pergi.

.

.

.

.

.

07.21

"Udara nya sangat menenangkan kan Naruto?" yang Hinata senang, dirinya yang masih berjalan menyusuri taman kota dengan Naruto yang ikut berjalan di sebelahnya.

"Terserah." jawab Naruto malas. Jika bukan karena ibunya, malas sekali ia mau melakukannya.

Kedua tangan Hinata yang mengelus lembut perutnya yang mulai membesar. Besok janin di kandungannya akan berumur empat bulan. Hinata sangat senang selama empat bulan ini Naruto hampir selalu menemaninya disetiap hari minggu, meskipun hanya sebentar setidaknya itu cukup membuat janin diperut Hinata senang.

"Nah.. Sekarang waktunya pulang." ucap Naruto yang langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi yang mau tak mau langsung di ikuti oleh Hinata. Padahal belum setengah jam mereka disini.. Huh..

.

.

.

.

Tak terasa sehari yang sudah lewat. Matahari yang kembali meninggi, jam telah menunjuk pukul 11.53

Waktunya mengantar makan sing ke kantor Naruto. Selama empat bulan ini Hinata selalu mengantar makan siang ke kantor Naruto dan Naruto pun tak pernah menolaknya lagi, hmm.. Mungkin ia sudah lelah terus menolak. Baguslah..

"Selesai sudah." Hinata yang baru saja selesai menata bekal makan siang Naruto.. Ia senang sekali. Hehe..

Ting tong..

"Eh? Perhatian Hinata yang langsung teralih ketika ia mendengar suara bel.

"Sebentar." Hinata yang langsung melangkah pergi ke pintu rumah. Melihat siapa yang membunyikan bel rumahnya.

Ceklik..

"Eh? Sasuke tumben sekali kau datang di hari senin." ucap Hinata terkejut ketika ia melihat Sasuke yang berdiri di balik pintu yang ia buka. Hm hm hmm. Sasuke memang selalu berkunjung kesini dan menemani Hinata.

"Kau pasti ingin ke kantor Naruto kan? Kebetulan aku ada perlu di sana. Jadi mari aku antar." tawar Sasuke dengan senyumnya.

"Eh? Kau ada urusan apa disana?" tanya Hinata penasaran. Perasaan hubungan mereka tak baik.

"Urusan memastikan agar kau sampai dengan selamat." jawab Sasuke datar yang membuat Hinata menahan tawanya. Yah.. Terkadang Sasuke lah yang menemaninya kesana.

"Baiklah.. Tunggu sebentar. Aku akan mengambil bekalnya dulu." ucap Hinata yang langsung melangkah masuk.

.

.

.

.

.

Hinata yang baru saja turun dari mobil ketika mobil hitam Sasuke terpakir rapi di pakiran Uzumaki corp.

Biasanya Sasuke selalu menunggu Hinata keluar dari Uzumaki corp didalam mobil tapi hmm.. Tiba-tiba saja ia merasa ingin masuk.

.

.

.

.

.

Hinata yang baru saja merapikan bekal makan siang Naruto ke meja kaca didekat meja kerja Naruto.

"Ne.. Naruto.. Waktunya makan." ucap Hinata yang masih terduduk di sofa di dekat meja kaca yang membuat Naruto beranjak dari meja kerjanya dan menghampiri Hinata.

Naruto yang langsung mendudukan dirinya di sebelah Hinata dan menerima sendok dan garfu yang di baru saja disodorkan oleh Hinata.

"Apa kau tak bosan terus melakukan hal ini?" tanya Naruto tak mengerti. apa Hinata tak bosan terus mengantar makan untuknya, menunggunya selesai makan dan terkadang mendengar ocehan darinya, terkadang juga tolakan atau marahannya.

"Apa kau juga tak bosan terus mengatakan hal yang sama?" Hinata malah bertanya balik.

"Tentu saja aku bosan. Karena itu lah aku mengatakan ini." jawab Naruto jujur. Ia bahkan sampai bosan dan lelah untuk menolak lagi. Itu sebabnya ia hanya bisa pasrah.

"Oo.. Em.. Kau duduk diam disini dan makan ya.. aku ingin ke toilet sebentar." ucap Hinata yang langsung beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Naruto yang terlihat melahap makannya entah suka atau kesal.

.

.

.

Hinata yang mencuci kedua tangannya di wastafel di dalam ruang toilet.

Matanya yang berpaling sejenak pada seorang gadis yang baru saja masuk dan berdiri di sebelahnya yang kemudian mencuci tangannya.

Hinata mengenal gadis ini. Gadis ini adalah Shion. Hmm seketaris Shikamaru? Mungkin?

"Hei.. Apa-apaan ini." marah Hinata terkejut ketika tangan Shion sengaja menutup air keran yang mengalir yang membuat air itu mengenai Hinata.

"Maaf tak sengaja." ucap Shion mengejek sambil menarik kembali tanganya. Gara-gara gadis sialan ini, Naruto selalu menolak apapun barang yang ia berikan. Ini hanya simpulan yang Shion buat karena Naruto selalu menolak apapun barang ia berikan bahkan saat ini ia lebih berjaga jarak darinya dan semua ini pasti karena gadis ini. Shion Shion.. Kau lupa jika Hinata adalah istri Naruto.

Mungkin Hinata tak mengatakannya tapi ia sungguh tak menyukai gadis ini. Dia selalu saja sengaja ingin menghancurkan waktunya bersama Naruto bahkan dia sangat sengaja mendekati Naruto untuk membuat Hinata cemburu.

"Untuk mencuci tangan saja kau tak becus. Bagaimana bisa orang sepertimu bekerja di perusahaan suamiku?" ucap Hinata menantang yang membuat Shion menatapnya kesal. Mungkin Hinata selalu diam. Tapi rasanya sekarang waktu yang pas untuk memberinya pelajaran.

"Jika saja aku tak becus dia telah memecatku." jawab Shion menantang.

"Kau yakin bukan karena dia kasihan padamu?" balas Hinata remeh yang membuat Shion mengepalkan kedua tangannya. Jika Shion jujur. Apa yang Hinata katakan memang benar. Ia sering melakukan kesalahan dalam bekerja dan Naruto selalu memaafkannya. Ya.. Tahulah karena mulut manisnya itu sangat pandai membujuk.

"Berhentilah mendekati suami ku jalang." ucap Hinata mengancam dengan kedua jari tangannya yang menekan di kening Shion yang membuat kepala Shion sedikit termundur.

"Jaga ucapan mu! Kau yang jalang!" marah Shion sambil menepis jari Hinata dikeningnya.

"Apa aku menggoda kekasihmu atau suamimu? Atas dasar apa kau menyebutku jalang? Jaga perilakumu sebelum kau ditendang dari perusahaan ini. Jalang." ucap Hinata penuh dengan penekanan yang membuat kedua tangan Shion kembali terkepal. Naruto memang tak pernah membela Hinata apapun yang ia lakukan, mungkin lebih tepatnya tak perduli. Ia tak perduli jika Hinata di bully di hadapannya ataupun sebaliknya, jika itu tak ada hubungannya dengan dia. Jadi Hinata sama sekali tak takut jika Shion mengadu yang tidak-tidak pada Naruto.

Kedua tangan Shion yang hendak mendorong Hinata tapi kedua tangan Hinata lebih cepat menangkap kedua tangannya dan menguncinya.

"Kau akan mati jika ada sesuatu terjadi pada anakku." ancam Hinata yang langsung mendorong Shion, menang tak membuatnya terjatuh tapi cukup membuatnya termundur beberapa langkah.

Hinata yang langsung membuka pintu ruangan toilet yang tak jauh darinya dan melangkah pergi.

"Sialan!" Shion yang langsung membuka pintu yang baru saja ditutup oleh Hinata dan mengejarnya. Gadis sialan itu perlu di hajar.

Satu tangan Shion yang hampir mengapai rambut Hinata.

"Aaaa!"

Hinata yang terkejut pun membalikkan badannya.

"Sasuke?" panggil Hinata terkejut ketika ia melihat tangan Sasuke yang menarik ke atas rambut pirang Shion yang cukup membuatnya kesakitan.

"Berani sekali kau ingin menyakiti Hinataku." ucap Sasuke dingin sambil terus menarik rambut Shion. Untung saja ia lewat ke sini dan melihat kejadian ini dan juga untung saja ia datang tepat waktu.

"Sakit! Lepaskan brengsek!" marah Shion sambil terus menahan sakit di kulit kepalanya.

"Hinata. Mari pergi." ajak Sasuke yang langsung menarik paksa pergi Shion.

Hinata yang penasaran kemana Sasuke hendak membawa Shion pun langsung mengekorinya.

"Lepaskan! Sakit!" pekik Shion ketika Sasuke terus menarik paksa rambutnya dan terkadang berhenti dan berjalan lagi. Ia seolah mencari sebuah ruangan?

Shion yang terus memukul tangan Sasuke yang masih menarik rambutnya dan masuk ke sebuah ruangan?

.

"Aaa!" Desis Shion sakit ketika Sasuke melempar nya kedepan yang membuat badannya terbentur sebuah meja yang entah punya siapa.

"Naruto.." panggil Hinata ketika ia melihat Naruto yang juga terlihat terkejut.

"Apa-apaan ini." ucap Naruto terkejut setelah ia menghentikan aksi makan siangnya. Mengapa Sasuke melempar Shion seperti itu? Dan mengapa dia disini?

"Beritahu asisten jalangmu itu. Jangan berani menyentuh Hinataku." Ucap Sasuke dingin yang membuat Naruto menatap bingung Hinata. Sejujurnya Hinata juga tak tahu mengapa Sasuke menarik rambut Shion. Apakah Shion mencoba menerjangnya dari belakang?

"Ada apa ini?" tanya Naruto ingin kejelasan.

"Dia mencoba untuk melukai Hinata." jawab Sasuke dingin yang membuat Naruto menatap Shion yang masih terduduk di lantai, didekat meja kerjanya. Sebenarnya Naruto tak perduli. Itu bukan urusannya tapi tak mungkin ia tak membela Hinata. Ia tak ingin ada yang mengira rumah tangga mereka tak baik. "Sebaiknya kau pulang. Aku akan mengurus hal ini." ucap Naruto yang membuat Shion menundukkan kepalanya. Habis sudah. Jika ia tak bisa mengelak dari masalah ini. Rencananya akan hancur berantakan. Mengapa juga lelaki ini tiba-tiba muncul.

"Hinata tinggal. Aku yang akan membawanya pulang." ucap Naruto ketika Sasuke mengengam tangan Hinata dan hendak menariknya pergi.

Hinata yang menarik pelan tangannya yang di gengam Sasuke.

"Tak apa.. Pulanglah.. Aku akan meneleponmu nanti." ucap Hinata dengan senyumnya yang hanya di balas anggukan pasrah oleh Sasuke.

Tuut.. Naruto yang melangkah ke meja kerja nya dan menekan angka dua di telepon di sana.

"Shikamaru datang ke ruanganku."

.

.

Hanya satu menit menunggu, Shikamaru pun memasuki ruangan Naruto dengan tatapan malasnya.

"Bawa Shion pergi dan bicara dengannya." perintah Naruto yang membuat Shikamaru menatap Shion yang masih terduduk dilantai dengan rambut kacau dan kepala tertunduk. Hmm.. Pasti ada kejadian..

"Shion.. Mau aku yang menyeretmu atau kau berjalan sendiri?" tanya Shikamaru tak perduli. Sejujurnya bagi Hinata ucapan Shikamaru terdengar sangat eeerr.. Kejam? Mengancam?

.

.

.

Hinata dan Naruto yang masih terduduk sebelahan di sofa didalam ruangan Naruto sedangkan Shion dan Shikamru yang telah pergi. Terserahlah bagaimana cara Shikamaru mengurusnya. Naruto tak perduli.

"Apa yang terjadi?" tanya Naruto membuka percakapan.

"Eeee.. Tadi kami hanya sedikit beradugamen di toilet." jawab Hinata jujur. Dia takut sekali jika Naruto memarahi nya. Sekarang Naruto memang jarang memarahinya, yang Naruto lalukan adalah mengabaikannya. Huh~ ya.. Meskipun terkadang Naruto sedikit memperhatikannya. Hanya sedikit!

"Soal?" tanya Naruto ingin kejelasan yang membuat bibir Hinata memanjang.

"Karena dia selalu mendekatimu. Aku tak suka." jawab Hinata tanpa sadar. Ee.. Lebih tepatnya sesuatu dalam perutnya yang tak suka.

"Aku tak suka. Kau terus mengabaikanku. Bisakah kau lebih memperhatikan ku meskipun cuma sedikit? Bagaimana bisa kau mengabaikan aku yang sedang hamil anakmu?" sambung Hinata tak suka. Sudahlah, ia sangat muak jika terus diam.

"Jika kau tak menyukai ku setidaknya kau harus memperhatikan anakmu. Lagipula kejadian itu sudah lama. Apa tak sedikitpun rasa bencimu menghilang?" tanya Hinata tak mengerti. Ia saja mulai terbiasa dengan hidup nya dan mulai bisa melupakan kesalahan nya waktu itu tapi mengapa Naruto tidak?

"Haah~" Naruto menghela nafasnya. Baiklah. Ia jujur, ia sudah hampir melupakan nya, rasa cintanya untuk Sakura baginya kini tak ada lagi yang special. Tapi entahlah. Kini ia memang tak begitu membenci Hinata tapi ia juga tak bilang ia menerima Hinata. Baginya semuanya biasa-biasa saja. Ia lebih merasa jika ia tak perduli pada Hinata. Tak perduli jika Hinata hidup atau mati. Asalkan jangan lagi mengganggunya.

"Hiks.. Naruto.. Aku membutuhkanmu hiks.. Bukan yang lain.. Hiks.. Meskipun Sasuke selalu menemaniku. Rasanya.. Hiks itu tak cukup.. Aku menginginkanmu selalu ada disampingku. Hiks.." air mata Hinata yang langsung mengalir. Kedua telapak tangannya yang langsung menutup mata dan wajahnya. Dirinya yang tiba-tiba merasa kesepian tanpa Naruto. Ia butuh Naruto. Saat ini hanya Naruto yang paling ia butuhkan.

Satu telapak tangan Naruto yang perlahan terangkat ingin mengelus pundak Hinata tapi seolah ada penghalang disana yang membuat tangannya yak bisa menyentuh pundak Hinata. Apakah ia sungguh sudah keterlaluan? Cinta nya perlahan pudar untuk Sakura. Hidupnya pun sejujurnya tak begitu buruk. Kejadian yang merenggut nyawa Sakura pun hanya kecelakaan. Hinata juga terluka waktu itu. Hinata sangat baik karena telah membiarkan Naruto menyiksanya, ia bahkan juga menutup keburukan Naruto dihadapan semua orang. Apakah Naruto sungguh sudah keterlaluan?

"Hiks.. Hiks.. Setidaknya jangan mengabaikanku.. Hiks.. Aku sangat lelah hidup seperti ini. Hiks.. Anak ini membutuhkanmu.. Hiks. Apa kau sungguh tak bisa memperhatikanku hanya sampai anak ini lahir?" Hinata telah mencoba untuk menjadi kuat dan dengan Sasuke yang selalu ada untuknya. Ia memang merasa sedikit lebih baik tapi ia tetap perlu Naruto di sisinya.

...

Hinata benar. Harusnya Naruto melupakan masa lalu dan memulai lagi hidupnya. Ia sudah terlalu lelah membenci. Ia sudah lelah terus berpura-pura masih sangat mencintai Sakura. Ia sudah lelah berpura-pura hidupnya sangat buruk padahal hidupnya tidaklah begitu buruk. Ia sudah lelah menolak Hinata yang terus berusaha masuk ke kehidupannya.

Apakah sungguh saat ini petanda untuknya untuk memulai segala sesuatu yang baru lagi?

Telapak tangan Naruto yang akhirnya hanya berjarak 2cm dari pundak Hinata yabg masih bergetar. Ia tak bisa terus membohongi dirinya. Ia memang tak menyukai Hinata tapi rasa bencinya telah memudar. Semua ini karena Hinata selalu disampingnya dan bagaimana pun juga janin diperut Hinata tetaplah anaknya.

Apakah sungguh ia harus memulai semuanya dari awal lagi?

.

Apakah mungkin?

Hinata menerimanya hanya karena ia sedang hamil. Hinata ingin didekatnya, itu hanya kerena bayi diperutnya. Jadi masih mungkinkah jika semuanya dimulai lagi dari awal?

Naruto memang tak menerimanya tapi disatu sisi ia juga bilang ia menolaknya. Ia hanya tak perduli. Dan jika semua nya ingin kembali dimulai. Apakah ia harus memulainya dari perduli?

kejadian waktu itu hanyalah masa lalu. Naruto tak bisa terus hidup dengan melihat ke belakang. Ia harus menerima kenyataan bahwa Hinata juga sama terpukulnya dengan dirinya.

.

Mungkin saat ini memang inilah yang terbaik untuk kami berdua...

.

Mungkin iya.. Baik untuk kami berdua?

Atau tidak.. hanya baik untuk salah satu dari kami berdua?

.

.

.

"Hinata.."

.

.

.

To be continue..

.

.

.

Yo.. Ini sudah mulai hampir ada penerimaan dari naruto.. Tapi... Hanya hampir.. Mari kita lihat di next chap.. Silahkan spoiler! Author ingin tahu apakah jalan cerita ini ke tebak ga.

Moga suka.. Moga bagus..

Bye bye..