Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.

.

.

Rumah tangga

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Rumah tangga by author03

Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata.

Drama/hurt/comfort

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 10

.

.

.

.

Mungkin saat ini memang inilah yang terbaik untuk kami berdua...

Mungkin iya.. Baik untuk kami berdua?

Atau tidak.. hanya baik untuk salah satu dari kami berdua?

.

"Hinata.." panggil Naruto setelah ia menarik kembali tangannya sama sekali tak bisa menyentuh pundak Hinata.

.

.

.

.

.

"Apa?! Kau sungguh serius?!" tanya Shikamaru tak percaya pada Shion yang baru saja menceritakan apa yang terjadi barusan. Shikamaru tahu hubungan Hinata dan Naruto tak baik tapi Naruto sungguh keterlaluan.

"I-iya hiks.. Dia ingin mendorong Hinata jadi Hiks aku membantunya dan tak sengaja dia mendorongku..hiks.. Dia juga marah-marah, mengatakan jika dia tak menginginkan anak yang di kandung Hinata hiks.. Aku sangat kasihan pada Hinata. Ternyata selama ini Uzumaki-san selalu memperlakukannya semena-mena dan Hinata selalu saja melindunginya. Hiks.." jelas Shion kembali dengan air matanya yang terus memenuhi wajahnya. Untung saja Shikamaru percaya pada ceritanya.

Shikamaru tahu apa yang Shion ceritakan bisa jadi benar kerena terkadang ia juga melihat Naruto membentaknya tapi jika Naruto menyiksanya seperti itu, Shikamaru tak bisa diam saja.

"Nara-san, hiks.. Kumohon jangan beritahu siapapun, apa yang baru saja aku ceritakan termaksud Uzumaki-san. Hiks.. Kumohon.. Hiks.. Aku tak ingin dia memecatku karena aku sangat butuh pekerjaan ini hiks.." mohon Shion yang masih menangis.

.

.

.

.

"Pulanglah Hinata." pinta Naruto yang membuat Hinata menatapnya. Ternyata Naruto sungguh tak ingin menerima dirinya maupun bayi ini.

"Naruto.. Tak bisa kah hiks.. sekali saja? Bayi hiks ini memb"

"Aku bilang pulang! Tak akan ada yang berubah disini." sela Naruto yang menaikan suaranya dan kembali menormalkannya. Apapun yang terjadi.. Semuanya tetaplah salah Hinata. Ia tak ingin memulai sesuatu yang baru dengan seseorang yang pernah membuatnya terpuruk.

"Naruto.. Hiks.. Mengapa kau sama sekali tak mengerti? Hiks.. Apa salahnya jika kau hiks.. sedikit memperhatikan anakmu hingga dia hiks dia lahir?" pinta Hinata yang masih bertahan pada apa yang diinginkan bayinya. Ini keinginan bayinya. Bayinya ingin cinta dari ayahnya.

"Persetan dengan bayi mu! Jika saja bukan karena mulutmu itu bayi itu tak akan ada! Dan kau tak akan semakin menyusahkanku!" marah Naruto ketika ia berdiri dan posisi duduknya yang membuat Hinata sedikit mendonggakan kepalanya untuk menatap wajah Naruto.

"Hiks.. Naruto.. Aku tahu.. Hiks.. Semua ini memang salahku.. Tapi.. Hiks.. Tapi tak bisa kah sekali saj"

"Tidak Hinata! Tidak akan! Aku tak perduli jika kau dan mahkluk itu hidup atau mati. Cukup jangan mengangguku! Pergi jauh dari ku! Aku sungguh menyesal kerena telah membuatmu hamil makhluk itu!" Naruto tak akan bisa dan tak akan mau menerima orang yang telah membuatnya menderita.

Hinata yang hanya bisa menahan tangisnya. Dadanya terasa sesak sekali. Tak bisa kah Naruto sedikit menyayangi anaknya sendiri? Hinata tak minta banyak. Cukup menyanyangi anaknya yang ia kandung ini tapi sepertinya itu tak mungkin. Naruto sangat membencinya yang menyebabkan Naruto turut membenci bayi yang Hinata kandung.

"Jadi sekarang lebih baik kau pergi! Aku sangat muak melihatmu! Jangan lagi berada didekatku dengan alasan makhluk sialan itu ingin didekatku!" marah Naruto. Ia sudah cukup dengan hidupnya kini. Tak ada lagi yang perlu ditambah ataupun kurangi.

.

.

.

.

"Aku harus menemuinya." ucap Shikamaru yang langsung beranjak dari kursinya dan melangkah pergi tapi Shion langsung menghalang jalannya. Bisa mampus Shion jika Naruto tahu dirinya mengarang cerita.

"Jangan.. Aku takut hiks dia memarahiku karena memberitahumu hal ini. Hiks.. Kumohon." pinta Shion yang kembali menangis.

"Tenang saja. Aku tak akan bilang apapun soal kau yang memberitahu hal ini padaku." jawab Shikamaru yang langsung menepis badan Shion dan berlari keluar.

"Sialan. Jika Naruto tahu aku mengarang cerita. Rencana aku akan hancur." ucap Shion khawatir. Ia yang langsung berlari pergi mengekori Shikamaru dalam diam.

.

.

.

.

Hinata yang baranjak dari sofa yang ia duduki dengan tatapannya yang melihat lurus kedepan dan dengan tangisnya yang tertahan. Sudah waktunya menyerah. Ia sudah terlalu sering berusaha dan gagal.

Hinata yang langsung melangkah pergi tanpa menoleh sedikitpun ataupun berbicara sepatah katapun, meninggalkan Naruto yang terus menatap kesal punggung nya menghilang di balik pintu.

"Selamat tinggal Naruto.."

.

.

.

Ting.. Lift yang baru tiba dan terbuka di lantai dasar.

Hinata yang langsung melangkah keluar dari lift dan berjalan pergi dengan kepalanya yang tertunduk. Mengabaikan banyaknya mata yang menatapnya bertanya-tanya.

"Hiks.." isakan yang berhasil lolos dari mulut Hinata. Sudah cukup Naruto menolaknya dan anak nya. Ia gagal menghilangkan rasa cinta Naruto pada Sakura, gagal membuat Naruto tak lagi bersedih, gagal membuat Naruto tak membencinya dan kini ia gagal membuat Naruto menyayangi anaknya. Sudah cukup.

Satu tangan Hinata yang membuka tas kecil yang ia gantung dipundaknya dan mengambil sebuah ponsel miliknya.

Naruto sama sekali tak menginginkan bayi ini dan dia sama sekali masih sangat membenci Hinata. Hinata sungguh lelah dengan hidupnya ini. Ia sudah lelah berusaha.

Layar ponsel Hinata yang menunjukan sebuah nomor atas nama Sasuke.

"Hiks.." jika sebuah perceraian bisa membuat dirinya dan anaknya bahagia. Maka ia tak akan perdulikan gosip buruk apapun yang akan tersebar dimana-mana.

Tuut.. Cek..

"Hallo?"

"Hiks.. Sasuke? Bisakah kau menjemputku?"

"Aku didepanmu."

"Hiks.." jika sebuah harga diri bisa memberinya dan bayinya kebahagian. Maka harga dirinya tak lagi penting.

Hinata yang menghentikan langkahnya dan mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk dan ia melihat Sasuke yang berdiri didepannya, didekat mobilnya diluar gedung Uzumaki corp. Sedari tadi Sasuke memang disini, menunggu Hinata. Ia hanya merasa akan ada suatu hal yang terjadi. Itu sebabnya ia menunggu disini dan ternyata firasat nya benar.

Maafkan aku anakku. Aku tak bisa membuat ayahmu mencintaimu seperti yang selalu kau pinta tapi aku berjanji, kau tak akan kekurangan rasa cinta sedikitpun dariku.

"Hiks hiks haaaaa hiks..." Hinata yang langsung sedikit berlari dan menabrakan dirinya ke badan Sasuke.

.

.

Blam!

"Hinata?!" panggil Shikamaru ketika ia menggeser kuat pintu ruangan Naruto.

Shikamaru yang langsung menghampiri Naruto ketika ia sama sekali tak melihat Hinata.

"Sialan! Ternyata selama ini kau selalu menyiksa Hinata." marah Shikamaru ketika ia mencengkram kerah kemeja Naruto.

"Asal kau tahu jika Sakura yang merencanakan kejadian itu! Kau tak berhak menyiksa Hinata apalagi menyalahkannya!" marah Shikamaru tak terima. Bagaimana pun Hinata orang yang baik dan Hinata adalah temannya. Naruto tak pantas bersikap buruk padanya karena kejadian itu sama sekali bukan salahnya. Persetan jika Sakura menghantuinya. Ia sudah muak melihat kebohongan ini.

"Apa? Apa yang kau katakan?" tanya Naruto tak mengerti. Apa maksud dari Sakura yang merencakan kejadian itu?

.

.

.

.

"Hiks.. Sasuke.. Aku hiks.. Aku ingin pergi. Hiks.. Aku tak ingin lagi melihat hiks.. Naruto. Hiks.." ucap Hinata disela tangisnya dengan dirinya yang masih memeluk erat Sasuke begitu juga dengan sebaliknya.

"Hiks.. Aku sudah tak hiks.. Sanggup lagi.. Hiks.." Hinata yang terus menangis, membiarkan air matanya membasahi baju dada bidang Sasuke.

Sasuke yang terus mengelus lembut punggung Hinata. Apakah ini kesempatan untuknya agar ia bisa memiliki Hinata? Tapi apa yang terjadi sebenarnya? Sasuke tahu hubungan Hinata dan Naruto tak baik tapi apa yang terjadi hingga Hinata mengatakan hal seperti ini?

...

"Kalau begitu mari kita pulang dan ambil semua barangmu. Mulai saat ini kau bisa tinggal di rumahku." mungkin sebentar lagi akan jadi waktu yang tepat untuknya mengatakan bahwa ia sangat mencintai Hinata..

.

.

.

.

.

Shikamaru yang melepaskan cengkramannya di kerah kemeja Naruto.

"Sakura tahu soal perjanjian antara kakek kalian. Dia bilang ia tak ingin keluargamu menderita karena dirimu yang menolak perjodohan ini dan tentunya termaksud karena nya yang adalah pacarmu. Dia bilang dia sudah membujukmu agar kau mau menerima perjodohan ini tapi kau tak mau hingga akhirnya ia menemukan cara ini. Dia sengaja mengunakan Hinata agar Hinata selalu menemanimu dan menghapus rasa sedihmu bahkan Hinata tak tahu soal hal ini hingga ia terus menyalahkan dirinya. Dan kau malah menyiksanya! Kau sungguh keterlaluan!" jelas Shikamaru tak terima. Sakura sialan. Sakura sungguh egois. Tega-tega nya ia mengorbankan kebahagian sahabat baiknya hanya untuk harta sialan.

"Dari mana kau tahu? Apa buktinya?" hanya Naruto tak percaya.

"Kau boleh mengecek cctv di mana kejadian itu berlangsung. Kau pasti lihat dia berlari ke arah mobil Hinata dengan sengaja! Tapi karena amarahmu! Kau ikut mengatakan Hinata lah yang menabraknya! Pikir pakai otakmu Naruto jangan amarah!" jawab Shikamaru cepat.

Butuh beberapa menit agar Naruto bisa mencerna apa yang Shikamaru katakan. Waktu itu dirinya membeku dan terkejut, ia marah melihat sebuah mobil melaju kearah Sakura yang menyebrang tapi.. Beberapa kali jika Naruto berpikir dengan kepala dingin. semuanya terlihat sangat rekayasa. Sungguh Sakura yang merencanakannya?

"Mengapa kau baru memberitahuku sekarang?!" marah Naruto sambil mencengkram kerah kemeja Shikamaru.

"Aku telah berjanji pada Sakura agar tak memberitahukannya pada mu tapi ketika aku tahu kau selalu menyiksanya. Aku tak bisa lagi berdiam diri. Asal kau tahu saja! Betapa terpuruknya Hinata karena ia mengira ia lah yang membunuh sahabatnya sendiri! Kau sungguh tak berperasaan! Gara gara pacar sialanmu itu! Ia selalu terpuruk!" jawab Shikamaru menantang. Tapi tetap tak bisa dipungkiri. Ini termaksud salahnya karena telah merahasiakan hal ini. Ia sungguh tak mengira Naruto akan menyiksa Hinata. Ia sungguh mengira jika Naruto hanya memarahi ataupun membentaknya. Itu saja.

Naruto yang melepaskan cengkaramnya di kerah kemeja Shikamaru dan kembali berpikir. Jika yang Shikamaru katakan adalah benar, maka selama ini dia telah salah, karena terus bersikap buruk pada Hinata. Padahal Sakura memanfaatkan Hinata agar Hinata merasa bersalah dan akan selalu bersamanya tapi Naruto malah...

apakah kini dirinya sudah punya alasan yang kuat untuk menerima Hinata?

Shion yang langsung bersembunyi di balik dinding ketika ia melihat Naruto berlari pergi. Sialan. Untung saja Shikamaru tak menyebut namanya tapi mengapa tingkah Naruto seolah cerita yang ia karang adalah benar?

Shikamaru yang hanya menatap punggung Naruto yang menjauh. Ternyata Shion tak berbohong. Sejujurnya tadi ia agak ragu soal apa yang Shion katakan tapi ternyata dia tak berbohong. Naruto sungguh keterlaluan. Tega sekali ia menyiksa Hinata yang tak tahu apa-apa dan bodohnya Hinata malah membiarkannya karena ia merasa bersalah pada Sakura dan Naruto.

"Sakura sungguh keterlaluan."

.

.

.

.

.

Sasuke yang mengangkat masuk koper besar Hinata ke bagasi mobil hitamnya.

"Ada lagi?" tanya nya pada Hinata yang masih melihat ke arah rumahnya.

"Tunggu sebentar disini. Rasanya ada yang tertinggal." ucap Hinata yang kemudian langsung melangkah masuk. Hinata rasa akan perlu banyak waktu untuk berbicara hal ini pada ayahnya jadi sebaiknya, ia merahasiakannya.

.

.

Tak.. Hinata yang meletakan pelan sebingkai foto ke kayu pajangan didalam kamar Naruto. Foto itu adalah foto hasil print usg kandungannya beberapa hari lalu. Ia tak berani memberinya langsung untuk Naruto karena takut Naruto akan berkata kasar padanya dan mengabaikannya. Mungkin ia juga akan membuang foto ini setelah ia melihatnya.

"Hiks.." Hinata yang menghapus air matanya yang mengalir keluar.

"Jangan lagi menangis. Dia tak menginginkanmu. Percayalah. Aku akan selalu menjagamu." ucap Hinata lembut sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit. Waktunya mengakhiri semua ini. Hinata tak perduli lagi dengan kata ataupun gosip orang lain yang tak tahu apa-apa soal rumah tangganya dan Naruto. Ia sudah lelah hidup tanpa rasa cinta sedikitpun bahkan diabaikan. Tak apa jika hanya dirinya tapi tidak bayinya, Naruto bahkan tak menginginkan bayi ini dan berkata kasar padanya. Naruto sangat keterlaluan.

.

.

"Untuk apa kau kemari?" halang Sasuke ketika ia melihat Naruto keluar dari mobil putihnya dan hendak masuk ke rumahnya.

"Dimana Hinata? Aku harus bicara dengannya." jawab Naruto cepat. Ia harus berbicara pada Hinata soal hal ini.

...

Sasuke yang menyingkirkan sedikit badannya. Tak ada salahnya kan ia membiarkan dia berbicara pada Hinata?

Naruto yang langsung berlari masuk dan langkahnya terhenti ketika ia melihat Hinata yang melangkah turun menyusuri tangga.

"Hinata." panggil Naruto sambil berlari menghampiri Hinata yang telah berada di anak tangga terakhir.

"Hinata ternyata kecelakaan Sakura itu adalah rencananya sendiri. Ia sengaja memanfaatkanmu." ucap Naruto yang membuat Hinata tersentak. Ia merasa dejavu? Rasanya ia pernah mendengar hal ini? Tapi ia tak ingin topik saat ini berubah.

"Lalu?" tanya Hinata datar yang membuat Naruto terdiam.

"Jika tak ada hal lain. Aku akan pergi." sambung Hinata yang langsung melangkah pergi tapi Naruto langsung menahan tangannya.

"Kemana?" tanya Naruto ketika Hinata menepis pelan tangannya.

"Kau tak perlu tahu."

"Ta-tapi Hina"

"Naruto.. Kita berdua perlu waktu untuk memikirkan semua ini." sela Hinata serius. Ia tak tahu apa maksud Naruto megejarnya dan mengatakan hal itu tapi kini yang ia tahu, ceritanya telah berbeda. Ini tentang Naruto dan bayi ini. Bukan lagi Sakura. Bayinya masih sangat kecil dan tak tahu apapun tapi tega-tega nya Naruto menagatakan hal yang kasar pada bayi ini. Hinata tak bisa menerimanya lagi.

"Jadi kuharap. Kau akan memikirkan dengan tenang semua yang telah terjadi di rumah ini dan aku juga akan memikirkan dengan tenang semua yang telah aku alami." sambung Hinata lagi. Saat ini yang ia perlukan hanyalah waktu yang tenang untuk berpikir begitu juga dengan Naruto. Ia rasa dirinya harus pergi agar Naruto bisa berpikir dengan benar, tanpa amarah.

"Jika yang kau katakan soal Sakura adalah benar maka kau tak perlu mengejarku hanya karena kau kasihan padaku atau hanya karena kau merasa bersalah padaku." Apakah Naruto sungguh sudah sangat melukai Hinata? Jika yang Shikamaru katakan adalah benar maka dirinya telah berbuat salah pada Hinata. Tak seharusnya ia membiarkan Hinata pergi.

"Hinata.. Biarkan aku memperbaiki semuanya." pinta Naruto berharap. Ia harus mencari tahu kebenaran dari peristiwa kecelakaan Sakura, jika yang dikatakan Shikamaru benar, maka dirinya harus menebus semua kesalahannya pada Hinata.

"Tak perlu." jawab Hinata tegar. Ia tak bisa lagi tinggal seatap dengan lelaki yang tak menginginkan anaknya sendiri dan setelah semua yang ia lakukan. Hinata tak bisa menerimanya lagi.

"Hinata.. Kita harus berbicara." pinta Naruto yang kembali menahan pergerakan Hinata.

"Naruto.. Tak ada yang bisa kita bicarakan lagi. Saat ini aku mohon padamu. Biarkan aku sendiri. Aku perlu waktu begitu juga kau. Kau perlu waktu untuk memikirkan semua ini begitu juga aku. Aku sudah bertahan di rumah tangga ini. Berusaha memperbaiki segalanya tapi aku tak berhasil. Aku sudah lelah." ucap Hinata yang terus berusaha untuk tegar. Ia sangat lelah. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan agar semuanya kembali normal. Hinata tak mau jika suatu saat anaknya tahu bahwa ayahnya sendiri tak pernah mengharapkan kehadirannya bahkan tak perduli jika dirinya mati.

"Berpikirlah dengan tenang. Jika waktunya tiba. Kita akan bertemu lagi dan menyelesaikan masalah ini..." Ucap Hinata yang langsung melangkah melewati Naruto yang membeku..

.

.

.

.

Brummm.. Mobil Hitam Sasuke yang melaju meninggalkan rumah yang entah apakah masih rumah Hinata atau bukan.

"Sasuke. Bisakah kau mengantarkanku ke rumah Sakura? Ada yang harus aku tahu.."

"Tentu saja."

.

.

.

Naruto yang langsung berlari keluar dari rumahnya menuju mobil putihnya.

.

Brummm... Mobilnya yang langsung melaju kilat.

"Aku harus menemukan kebenaran dari kecelakaan itu."

.

Jika apa yang Shikamaru katakan adalah benar. Dirinya telah berbuat kesalahan..

.

.

.

.

18.02

Naruto yang mendudukan kasar dirinya ke pinggir ranjang yang terletak didalam kamarnya dengan keadaan membeku.

"Ini rekaman waktu itu. Aku dan Tenten juga merasa Sakura merekayasa semua itu tapi Hinata tak mau mendengarkan kami. Dia terus menyalahkan dirinya atas peristiwa itu."

"hah!" helaan nafas frustasi Naruto. Ia sungguh telah melakukan kesalahan besar.

Sakura memanfaatkan Hinata dan membohongi dirinya. Sakura tega sekali...

Naruto bahkan sangat bingung bagaimana caranya mengatakan hal ini pada orang tuanya. Dan Hinata.. Bagaimana bisa ia meminta maaf pada Hinata atas semua yang telah ia lakukan dan memintanya kembali..

"Sialan!" marah Naruto sambil membuang selimut besar didekatnya. Seharusnya tadi siang ia tak mengusir Hinata! Sekarang apa yang harus ia lakukan?!

Hinata benar. Dari awal dia benar!

Bamm! Brack!

"Aaaarrgghh!" Naruto yang menyapu semua barang didekatnya, termaksud televisi.

Dari awal harusnya Naruto melupakan masa lalunya dan melihat ke depan. Harus nya tadi siang ia tak lagi menolak Hinata!

"Brengsek! Haaaaaa!"

prang! Piang! Semua kaca dan barang yang Naruto pajangkan habis jatuh dan pecah. Meja kecil didekat ranjangnya yang jungkar balik.

Sekarang sudah terlambat..

Hinata sudah pergi..

"Sialannnn!"

Harusnya ia mendengarkan Hinata!

Prangg!

...

Naruto yang memungut sebuah kertas berwarna hitam dan putih yang terselip di bingkai foto yang terjatuh tadi.

Ini hasil print usg.

?

biji kecil ini pasti anaknya didalam perut Hinata. Naruto bahkan tak tahu usia anaknya yang dikandung Hinata ini.

"Tidak Hinata! Tidak akan! Aku tak perduli jika kau dan mahkluk itu hidup atau mati. Cukup jangan mengangguku! Pergi jauh dari ku! Aku sungguh menyesal kerena telah membuatmu hamil makhluk itu!"

Kepalanya tiba-tiba terasa kosong. Bahkan karena kebenciannya. Ia mengabaikan anaknya sendiri. Darah dagingnya.

"Haah~ haah~" Naruto yang langsung menjatuhkan dirinya kelantai yang berserakan dengan bantal dan barangnya yang hancur.

.

Ia sungguh telah melakukan suatu kesalahan yang sangat besar...

.

.

.

.

.

To be continue..

Besok chap terakhir dan coba tebak.. Udh author putuskan.. Endingnya mungkin ga begitu bad tapi yang jelas endingnya enggak NaruHina..

Oh iya.. Berterima kasih lah pada Shion yang asal mengarang cerita ya.. Meskipun karangannya benar sii.. Jadi naruto tahu soal keanehan kecelakaan itu dan dia mengejar Hinata.. Jeng..

Bye.. Bye..