Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Rumah tangga
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Rumah tangga by author03
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata.
Drama/hurt/comfort
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 12
.
.
.
.
12.31
Matahari yang bersinar terang menghiasi langit jepang tapi tetap saja tak membuat salah satu ruangan di Hyuuga corp bersinar.
Terlihat tiga orang manusia yang terduduk berseberangan di sofa yang dipisahkan oleh sebuah meja kaca kecil. Mereka tengah memikirkan anak mereka. Sudah dua tahun dan mereka masih tak bisa menemukan anak mereka. Dan cucu mereka yang harusnya sudah berumur dua tahun.
Kriinnngggg! Sebuah ponsel dari dalam tas yang tiba-tiba berbunyi yang berhasil menghilangkan sunyinya ruangan.
Pemilik ponsel yang ternyata Kushina pun merogoh ponselnya didalam tas ukuran sedang nya dan menatap layarnya sejenak.
Orang yang meneleponnya adalah maid yang ia tugaskan untuk selalu membersihkan rumah Hinata dan Naruto.
Tet.. Kushina yang menekan tombol merah dan kembali pada acara berpikirnya.
Kriiinggg... Lagi-lagi deringan ponsel Kushina berhasil mengambil perhatian sang penghuni ruangan yang masih sibuk melamun.
Tet.
"Hallo?" sapa Kushina.
"Kushina-sama. Mereka disini. Mereka disini." suara dari seberang sana entah terkejut atau panik.
"Siapa? Apa maksudmu?" tanya Kushina yang mulai tertarik dengan arah pembicaraan ini.
"Naruto-san dan Hinata-san." jawabnya yang membuat mulut Kushina menganga.
Satu telapak tangannya yang langsung menutup mulutnya.
"Aa-ka-kau yakin?" tanya Kushina memastikan. Semoga saja maid itu tak salah mengenal.
"Yakin Kushina-sama. Mereka disini sekarang. Dirumah." jawabnya panik.
"Kami akan segera kesana." ucap Kushina yang langsung mengakhiri acara teleponnya.
"Mereka disini." ucap Kushina tak percaya.
"Sungguh?" tanya Hiashi, berusaha memastikan bahwa telinganya masih berfungsi dengan benar.
"Iya. Mereka sedang dirumah. Kita harus segera kesana." ucap Kushina yang langsung beranjak dari tempatnya.
"Kita harus segera kesana." Hiashi yang juga langsung beranjak dari tempatnya dan melangkah pergi. Sungguh putrinya sudah pulang? Semoga saja benar.
.
.
.
.
Terlihat Naruto dan Hinata yang terduduk di ranjang king size yang terdapat didalam kamar Naruto.
"Dia sudah tertidur." ucap Hinata lembut sambil terus menatap Boruto yang tertidur di pelukannya. Perjalanan mereka selama satu minggu. Tentu saja Boruto lelah.
Naruto yang terus menatap miris Boruto. Ia merasa sangat bersalah. Ia pernah berkata buruk pada anaknya sendiri.
"Jangan lagi memikirkannya." ucap Hinata seolah bisa membaca pikiran Naruto. Ia tak suka Naruto terus mengingat hal itu.
Naruto yang hanya menundukkan kepalanya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia sangat malu pada dirinya sendiri.
"Naruto, jangan lagi memikirkannya. Itu sudah menjadi masa lalu dan itu sungguh bukan salahmu." ucap Hinata sambil mengelus lembut pipi Naruto. Sampai sekarang pun Naruto masih merasa bersalah.
"Hinata! Naruto!" suara yang entah dari mana yang berhasil merebut perhatian Hinata dan Naruto.
Kushina yang membeku seketika ketika ia muncul diambang pintu sebuah kamar. Ia melihat Naruto, Hinata dan dan cucunya?
Hinata dan Naruto yang hanya terdiam ketika mereka menatap Hiashi dan Minato yang juga muncul di ambang pintu kamar.
Hinata yang membaringkan pelan Boruto ke ranjang dan beranjak dari tempatnya.
Ia yang melangkah menghampiri orang tua nya yang masih membeku begitu juga dengan Naruto yang langsung mengekori Hinata.
"Ayah, maafkan aku karena baru kembali sekarang." ucap Hinata ketika ia berdiri dihadapan ayahnya yang membeku.
Hiashi yang langsung memeluk Hinata begitu juga dengan Minato dan Kushina yang langsung memeluk erat Naruto. Mereka sangat merindukan anak mereka. Sungguhkah ini bukan mimpi? Mereka telah kembali?
"Ayah maafkan aku." ucap Hinata sambil memeluk erat ayahnya. Ia sangat merindukan ayahnya.
"Ayah sangat merindukanmu."
"Naruto.. Kau kemana saja? Ibu sangat mengkhawatirkan mu." ucap Kushina sambil memeluk erat Naruto dan menahan tangisnya. Ia sangat senang anaknya baik-baik saja.
"Maafkan aku ibu.. Ayah." jawab Naruto yang juga memeluk erat kedua orang tuanya. Ia telah membuat ayah dan ibunya khawatir.
"Apa kau baik-baik saja? Apa kau sudah makan?" tanya Kushina cepat sambil melepaskan pelukannya dan mengamati wajah anaknya.
"Ibu akan memasak makanan." belum sempat Naruto menjawab. Kushina langsung melangkah pergi. Kushina sangat grogi. Ia tak tahu apa yang harus ia ucapkan.
"Ayah senang kau baik-baik saja." ucap Minato sambil menepuk lembut pundak Naruto dan kemudian melangkah keluar.
Naruto yang langsung berlutut ketika Hiashi dan Hinata melepaskan pelukan mereka.
"Maafkan aku atas semua yang telah kulakukan." Ucap Naruto pada Hiashi yang membuat Hinata menatapnya terkejut.
"Naruto. Berdirilah. Sudah kukatakan itu bukan salahmu." ucap Hinata sambil menarik lengan Naruto, Berusaha menariknya berdiri tapi Naruto tak bergerak dari posisinya sama sekali.
Hiashi yang hanya terdiam sambil terus menatap Naruto. Ia bahkan tak tahu apa yang harus ia katakan.
"Ayah. Aku akan menjelaskan semuanya. Naruto, bangunlah. Sudah kubilang ini bukan salahmu." Hinata yang terus menarik lengan Naruto tapi Naruto sama sekali tak ingin bergerak.
"Bangunlah kita bicarakan dibawah." ucap Hiashi yang langsung melangkah keluar.
Tubuh Hinata yang melemah seketika. Ia yang langsung menjatuhkan dirinya, bersimpuh didekat Naruto dengan dahinya yang langsung menempel di lengan Naruto.
"Naruto, aku tak membelamu tapi itu sungguh bukan salahmu. Kumohon jangan begini." pinta Hinata putus asa. Naruto sangat merasa bersalah. Hinata sungguh tak bisa membayangkan betapa tersiksanya Naruto selama ini karena hal ini.
.
.
.
.
.
Terlihat Hiashi, Minato, Kushina, Hinata dan Naruto yang baru saja menghabisi makanan mereka dan masih terduduk dibangku di meja makan. Hinata yang baru saja selesai menceritakan semua hal dan pastinya mengatakan semua ini hanya salah paham bukan salah Naruto. Naruto yang hanya terdiam. Ia tetap merasa bersalah. Hiashi, Minato dan Kushina yang hanya terdiam. Meraka tak tahu ingin mengatakan apa.
"Kumohon. Bisakah kita lupakan masalah ini?" pinta Hinata berharap. Biarlah masalah ini selesai sampai disini. Jangan lagi terhubung meskipun hanya sedikit.
"Hinata benar. Kita harus mengakhiri masalah ini." ucap Hiashi setuju. Lagipula kejadian itu sudah lama dan sekarang Hinata dan Naruto sudah kembali
.
.
.
.
.
.
08.01
Sreett..
"Wow wow wow.. Mari kita lihat siapa disini?" ucap seorang lelaki berambut nanas pada seorang lelaki bersurai yang baru saja memasuki ruangan yang ditempatinya. Dirinya yang terduduk di kursi dan sibuk dengan laptop dihadapannya dan tiba-tiba.. Bosnya yang bernama Naruto muncul? Setelah dua tahun? Wow.. Ia terkejut.
"Kau menduduki tempatku. Shikamaru" ucap Naruto yang membuat Shikamaru menatapnya tak suka.
"Hei.. Naruto.. Ibumu mengajiku tiga kali lipat untuk menggantikan posisi mu sejenak. Kau tahu betapa repotnya diriku ini?" ucap Shikamaru tak suka. Ia sangat pusing, pekerjaannya yang tak berhenti dan ditambah pekerjaan Naruto. Ia sungguh bisa gila.
"Oh.. Mungkin sekarang aku tak usah lagi menggantikan mu." sambung Shikamaru yang langsung beranjak dari tempatnya. Memberi ruang agar bosnya bisa duduk.
...
?
"Dimana Shion? Aku tak melihatnya?" tanya Naruto aneh ketika ia tak melihat Shion yang seharusnya membantu Shikamaru.
"Aaa...Shion?" tanya Shikamaru ragu. Sejujurnya ia mengirim Shion ke penjara karena berani mengkorupsi uang perusahaan atau lebih tepatnya masih jauh dari kata hampir mengkorupsi uang perusahaan. ayolah, Shikamaru tak begitu bodoh hingga gadis itu bisa meraup uang perusahaan.
"Dia berhenti karena ada urusan." sambung Shikamaru cepat.
"Dan bagaimana dengan Hinata?" tanya Shikamaru mengalihkan pembicaraan.
.
.
.
.
.
07.32
Hinata yang menatap cemberut pada suaminya yang tengah terduduk dan sarapan di depannya yang dipisahkan oleh sebuah meja makan. Dua minggu berlalu dan Naruto masih saja segan padanya. Naruto masih merasa bersalah. Naruto memang memperhatikannya tapi perhatiannya ini lebih ke seorang pembantu yang khawatir pada majikannya. Hinata tak suka. Harus berapa juta kali lagi Hinata katakan bahwa itu sungguh bukan salah Naruto!
.
Hinata yang menarik piring didepan Naruto yang membuat Naruto menghentikan aksi makannya.
"Naruto.. Apa kau begitu senang membuatku mengulang kata-kata yang sama?" tanya Hinata tak suka ketika Naruto menatapnya.
Naruto hanya terdiam, tak menjawab.
"Lupakan masa lalu dan lihatlah kedepan." sambung Hinata. Ayolah. Bagaimana caranya ia membuat Naruto melupakan hal ini.
"Ah.. Bagaimana jika kita mulai dari perkenalan? Karena kita tak saling mengenal, kita harus mulai dari perkenalan."
"Ehem.. Haloo Perkenalkan namaku Hyuuga Hinata tapi kini namaku Uzumaki Hinata." sapa Hinata dengan senyumnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Naruto.
.
Butuh dua menit agar Naruto menyambut tangan Hinata yang membuat senyum kembali menghiasi bibir Hinata.
"A-aku.. Uzumaki Naruto?" jawab Naruto ragu. Mengapa ia ragu? Entahlah.
"Oh.. Hmm.. Aku suka memasak dan menonton. Aku juga suka menikmati pemandangan. bagaimana denganmu?" tanya Hinata senang dengan tangannya yang masih bersalaman erat dengan tangan Naruto.
"Aku? Aku suka suka masakanmu, aku suka menonton dan tidur." jawab Naruto pelan yang membuat Hinata tertawa singkat.
"Ah.. Kalau aku membenci sesuatu yang kotor dan aku takut berada didalam tempat yang gelap sendirian." ucap Hinata tapi mengapa? Mengapa hati Naruto tiba-tiba terasa hangat?
"Aku.. Aku benci sesuatu yang pedas dan bising." jawab Naruto apa adanya.
"Kalau begitu kita harus bertukaran nomor hp." ucap Hinata yang membuat Naruto menatapnya bingung. Mereka kan sudah menikah tapi Hinata bertingkah seolah mereka baru saja saling mengenal dan ingin lebih mengenal lagi.
"Aa.. Apakah setelah ini kau akan mengajakku kencan?" tanya Naruto lucu.
"Oh.. Kau benar.. Kita harus lebih mengenal lagi karena kita hampir tak saling mengenal. Jadi mari kita kencan." jawab Hinata lucu yang berhasil membuat senyum Naruto mengembang. Mungkin kali ini Naruto harus menurut pada Hinata. Ia harus melupakan masa lalunya agar tak ada lagi kesalahan yang terulang.
"Kau benar. Mari kita kencan."
.
.
.
.
.
20.03
"Ibu.. Bisakah kami menitipkan Boruto hari ini?" pinta Hinata berharap ketika Kushina membuka pintu Uzumaki mansion dari dalam.
"Lagi?" tanya Kushina sambil berkacak pinggang. Ia memang senang Boruto terus bersamanya tapi apakah tak berlebihan? Selama lima bulan ini mereka selalu pergi berkencan dengan alasan mereka ingin saling mengenal. Ayolah mereka sudah menikah bukan berpacaran lagi.
Naruto yang hanya tersenyum lucu ketika ia melihat tingkah jual mahal ibunya.
"Baiklah kalau begitu, mari kita pergi ke rumah ayah Hiashi." ucap Naruto yang langsung dibalas anggukan oleh Hinata yang masih mengendong Boruto.
"Eeh? Baiklah. Biarkan ibu menjaganya." sela Kushina yang langsung merebut cepat tapi lembut Boruto di pelukan Hinata.
"Pergilah. Kalian bisa menjemput Boruto besok pagi, siang ataupun malam." ucap Kushina sambil membuang wajahnya kearah Boruto yang membuat Hinata dan Naruto menahan tawanya.
"Terima kasih ibu." jawab Naruto yang langsung mengandeng tangan Hinata dan menariknya pergi.
"Oo.. Cucuku sayang." satu kaki Kushina yang mendorong pintu mansions nya hingga tertutup.
.
.
Hinata yang menatap sejenak Naruto disebalahnya. Naruto yang menatap lurus kedepan dan mengandeng tangannya.
Hinata yang kembali menundukan kepalanya. Ia senang sekali.
Hinata membalas mengengam erat tangan Naruto yang mengandengnya. "Naruto. Mari kita minum hingga mabuk. Besok kan minggu." tawar Hinata yang membuat Naruto menatapnya. Sejujurnya Hinata tak pernah minum jadi ya.. Tak apa kan sekali-kali?
"Kau bisa minum?" tanya Naruto tak percaya. Gadis lembut dan baik seperti Hinata minum?
"Aa.. Tentu saja aku bisa. Kalau tak bisa aku tak mungkin mengajakmu kan?" Hinata malah bertanya balik dengan wajah meyakinkannya.
"Baiklah.. Dimana kau ingin pergi?" tanya Naruto ketika ia membuka pintu mobil untuk Hinata.
"Hmm.. Kita minum dirumah saja. Bukankah berbaya jika kita minum di bar dan kita mabuk?" jawab Hinata ketika ia mendudukan dirinya ke bangku disebelah kursi pengemudi.
"Baiklah." ucap Naruto yang langsung menutup pintu mobil yang ia buka barusan.
.
.
.
.
.
Hinata dan Naruto yang hanya terduduk di lantai sambil terus memandangi berderet beer dan anggur di atas meja kaca di ruang tamu yang baru saja Naruto beli.
Baiklah. Hinata mulai ragu dengan banyaknya minuman memabukkan di hadapannya.
Naruto yang membuka sekaleng beer dan menuangkannya penuh ke gelas Hinata dan gelasnya.
Hinata yang mencelupkan satu jarinya ke gelas didepannya yang berisi beer dan mencicipinya.
Iiiwwwww.. Pahit tapi enak...!
"Mari kita berlomba. Siapa yang mabuk duluan harus menganti popok Boruto selama seminggu." ucap Hinata semangat yang membuat Naruto merasa teremehkan.
"Baiklah." jawab Naruto yang langsung mengangkat gelas beernya.
"Cheer."
Pik..
Tak sampai dua puluh detik, gelas Hinata dan Naruto langsung kosong.
"Aaaa.." teriak Hinata senang. Beer pahitnya sungguh menyiksa tapi rasanya sangat enak...
"Naruto. Coba yang ini.. Martell." pinta Hinata sambil menunjuk sebotol anggur bernama martell.
"Baiklah."
"Mengapa hanya sedikit?" tanya Hinata tak senang ketika Naruto hanya menuangkan sedikit martell ke gelasnya. Bahkan tak mencapai seperempat gelasnya.
"Hinata.. Kau bisa pingsan jika minum setengah gelas martell." jawab Naruto apa adanya. Bahkan dirinya tak kuat minum martell apalagi Hinata.
"Tapi aku mau banyak." Hinata yang langsung merebut sebotol martell dari tangan Naruto dan menuangkannya ke gelasnya hingga setengah gelas.
"Hina"
"Cher.." Hinata yang langsung mengetukkan pelan gelasnya yang setengah penuh ke gelas Naruto yang kemudian langsung meneguknya habis.
Tak.
"Ha? Rasanya tubuhku panas?" ucap Hinata tak sadar ketika ia meletakkan gelas kosongnya ke meja.
"Hik"
Bamm.. Hinata yang langsung tak sadarkan diri dengan pipinya yang mendarat mulus dimeja dihadapnanya.
"Hei.. Hinata.. Kan sudah kukatakan. Tak ada orang yang meminum anggur sekali teguk sebanyak itu." ucap Naruto sambil terus menepuk pelan pipi Hinata.
"Dia sungguh pingsan." ucap Naruto tak suka ketika Hinata tak terbangun sedikitpun.
Naruto yang langsung mengendong Hinata ala bridel style dan membawanya ke lantai atas. Ke kamarnya atau lebih tepatnya kamar mereka berdua.
.
.
Naruto pun membaringkan pelan Hinata ke ranjang king size mereka dan menyelimuti nya.
"Haah~" ia yang ikut membaringkan dirinya disebelah Hinata dan menatap langit-langit kamar.
"Mengapa aku jadi mengantuk?" pikir Naruto dengan matanya yang terus terpejam dan kembali terbuka.
.
.
Beberapa menit berlalu, mata itu tak lagi berbuka.. Ia sudah tertidur.
.
.
.
.
12.32
"Nggnn?" badan Hinata yang tiba-tiba menggeliat.
"Kepalaku berputar." ucap Hinata bingung ketika ia mendudukan dirinya.
Mata Hinata yang langsung terbuka lebar ketika ia melihat matahari uang bersinar terang di balik jendela kamar.
?
"Hei.. Naruto. Bangunlah..sudah siang." panggil Hinata sambil mengguncangkan badan Naruto yang tertidur disebelahnya.
"Hari ini minggu Hinata.." jawab Naruto tanpa sadar yang membuat Hinata menghentikan aksi memanggilnya. Benar juga. Hari ini kan minggu. Hari tidur.
Hinata yang kembali membaringkan dirinya dan menutup matanya. Kepalanya pusing. Ia ingin tidur lagi..
.
.
.
.
15.02
Mata Naruto yang langsung terbuka dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Hinata yang hanya berjarak 3cm dari wajahnya.
"Fuuuhh.." Naruto meniup wajah Hinata yang berhasil membuat alis Hinata berkerut, Menandakan bahwa ia terganggu.
"Hinata.. Aku lapar.." ucap Naruto pelan yang membuat Hinata membuka matanya yang kemudian kembali di pejamkan.
"Dua.. Menit lagi." jawab Hinata malas.
"Baiklah..." Naruto yang langsung memejamkan matanya dan menarik Hinata mendekat yang kemudian memeluknya erat.
Hinata yang sedikit menggeliat, menyesuaikan dirinya didalam pelukan Naruto.
.
Dua menit kemudian..
"Hinata.. Aku lapar.." ucap Naruto tanpa membuka matanya.
"Dua menit." jawab Hinata yang masih malas bergerak. Untuk sekarang lebih baik tak makan daripada kehilangan kenyamanan didalam pelukan suaminya ini.
.
.
Satu jam kemudian..
"Dua menit lagi.."
"Jika kau menundanya lagi. Aku akan memakanmu." jawab Naruto tanpa membuka matanya. Disatu sisi, ia memang lapar dan di satu sisi lagi ia sangat senang di kenyamanan ini.
"Hmm.." guman Hinata asal.
.
.
.
.
.
.
"Uueekk!" satu telapak tangan Hinata yang menutup mulutnya. Perutnya terasa diaduk. Dua minggu ini rasanya mual sekali.
"Kau kenapa Hinata?" tanya Kushina sambil menatap Hinata yang teduduk di sofa didekat dirinya yang tengah bermain dengan Boruto dilantai.
"Entahlah ibu.. Dua minggu ini aku merasa tak enak badan dan mual." jawab Hinata jujur.
Kushina yang mengamati curiga Hinata.
"Jangan-jangan kau hamil." ucap Kushina berharap yang membuat Hinata menatapnya terkejut.
"Hinata, ini susu coklatmu." ucap Naruto yang baru datang dari dapur sambil meletakkan segelas susu coklat ke meja kaca didepan Hinata.
"Hamil?" tanya Hinata yang membuat Naruto menatapnya bertanya. Hamil?
"Aaagagu." teriak Boruto senang sambil menyapu mainan di hadapannya.
"Jangan menyapunya Boruto." ucap Kushina sambil kembali memungut mainan yang berserakan di dekatnya.
"Aa.. Ibu.. Aku akan ke ke kamar sebentar." ucap Hinata yang langsung beranjak dari tempatnya dan melangkah pergi dengan kecepatan tinggi.
...
"Aa.. Ibu.. Aku juga akan ke kamarku." beberapa detik Hinata menghilang, Naruto pun pergi mengekorinya.
.
.
.
.
"Sejak kapan kau disini?" tanya Hinata terkejut ketika ia keluar dari kamar mandi didalam kamarnya dan melihat Naruto yang sudah terduduk dipinggir ranjang.
"Sejak tadi. Tunggu. Kau sungguh hamil?" tanya Naruto memastikan ketika Hinata menghampirinya.
"Kapan kita melakukannya?" Hinata malah bertanya balik. Naruto simpulkan jika Hinata sungguh hamil.
"Kapan..?" Hinata dan Naruto yang menatap lurus kedepan. Menerawang... Kapan?
.
.
"Aaa.." ucap Naruto dan Hinata bersamaan ketika kedua mata mereka bertemu. Mereka sudah ingat kapan hal ini terjadi.
.
"Naruto. Aku hamil." teriak Hinata senang dengan matanya yang terbelak kaget. Ia hamil dan kali ini Naruto akan menerimannya kan?
"Sungguh? Aku sangat senang mendengarnya." jawab Naruto yang langsung memeluk erat Hinata yang membuat senyum Hinata semakin lebar. Naruto sangat senang... Yah.. Meskipun tingkahnya agak tidak natural karena ia sungguh tak tahu harus bertingkah seperti apa disaat seperti ini tapi ia sangat senang.
Hinata yang membalas memeluk erat suaminya. Rasanya nyaman..
"Aku juga sangat senang."
.
Flashback..
.
.
Naruto yang menarik satu jari tangan Hinata mendekat ke mulutnya dan mengigit-gigitnya pelan.
Tap.. Satu telapak tangan Hinata lagi yang mendarat mulus di wajah Naruto yang membuat Naruto menghentikan aksi mengigit jari Hinata.
"Sakit.." ucap Hinata tanpa membuka matanya.
"Aku juga sakit." jawab Naruto cemberut ketika ia membuka matanya dan menatap Hinata yang masih tak membuka matanya.
?
Cuppp.. Sebuah kecupan yang mendarat mulus di bibir Hinata.
"Ohh.. Ternyata benar. Ini cara ampuh untuk membangunkan seseorang. Hahaha." ucap Naruto lucu ketika ia melihat mata Hinata yang langsung terbuka lebar.
"Kau.. Kau tak boleh asal mencium seseorang." marah Hinata malu ketika ia medudukan dirinya dengan satu telapak tangannya yang menutup bibirnya.
"Kau bukan seseorang. Kau istriku." jawab Naruto mengejek sambil menyingkirkan tangan Hinata yang menutupi bibirnya.
Satu lagi kecepun yang mendarat di bibir Hinata yang membuat wajah Hinata langsung memerah dan jantungnya yang langsung mengila.
"Ma-mari makan." ucap Hinata mengubah topik pembicaraan sambil beranjak dari posisinya tapi Naruto langsung menariknya hingga dirinya kembali terbaring ke ranjang.
"Aku sudah kenyang." jawab Naruto ketika dirinya menindih Hinata dengan kedua tangannya yang menahan badannya.
Tanpa aba-aba bibir Naruto yang langsung mengulum bibir Hinata yang membuat Hinata membeku seketika. Aaaaaa...aaaaaa selama ini, ini adalah pertama kalinya Naruto menciumnya. Sumpah.. Ini adalah pertama kalinya karena kecupan itu tak termaksud ciuman kan?
Naruto yang tersenyum lucu ketika ia menjauhkan wajahnya dan menatap wajah Hinata yang sudah seperti kepiting rebus.
Hinata yang tersadar Naruto menatapnya pun mengalihkan pandangannya kesamping. Jantungnya terasa ingin copot. Naruto tersenyum sangat manis padanya. Selama ini.. Mengapa ia baru sadar jika Naruto sangat tampan?
Naruto yang mengecup lembut pipi Hinata yang kemudian mengecup leher putih Hinata.
Naruto memperlakukannya sangat lembut.. Kepala Hinata sungguh terasa seperti terbakar. Ia sungguh bisa jantungan jika Naruto terus memperlakukan nya selembut dan sehati-hati ini.
Satu tangan Naruto yang menarik pelan wajah Hinata agar wajahnya menatap ke atas atau lebih tepat ke arahnya.
Satu kecupan dikening Hinata yang kemudian mata, hidung, kedua pipinya. Hinata yang masih terdiam. Ia sungguh tak tahu ingin melakukan apa disituasi ini.
"Aku mencintaimu." ucap Naruto lembut yang kemudian mengecup lembut bibir Hinata.
Hinata yang tersenyum penuh makna tanpa menjawab apapun.
"Kau milikku. Aku tak akan membiarkan kau terluka ataupun diambil orang lain." sambung Naruto lembut. Ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
...
"Aku mencintaimu." Hinata yang akhirnya bisa menjawab yang membuat Naruto kembali tersenyum lembut.
Kedua tangan Hinata yang melingkar di leher Naruto dan perlahan menarik wajah Naruto agar mendekat ke wajahnya hingga kedua bibir mereka kembali bertemu dan saling berpaut.
.
.
.
.
End..
.
.
.
.
Nao : hehe.. Tq reviewnya.. Entar fic nya aku baca..
Tsukasa : bayangin aja sendiri.. Pokoknya yang jauh. Hehe
Guest : benar bangat.. Tq udh baca..
Guest : sejujurnya awalnya aku kira tag pair sama tag chara itu beda.. Aku kira boleh kalau ga sesuai tag charanya.. Hehe.. Tq udh ingatin.. Jika saja author kalau ga bikin ending NaruHina.. Habis author dibully..hehe..
Anonym : ok..
.
.
Ok bagi semuanya.. Tq Udh baca dan suka fic ini.. Maaf jika ga bagus ataupun salah.. Juga semoga next ficnya bisa lebih bagus lagi..
Tq semuanya..
Bye bye..
