warnings: panic attacks; i dare you to listen to WINNER - FOOL whilst reading this, because i kid you not.

6245 words


7 tahun;

Musim semi telah tiba itu berarti Kim Jongin memulai jenjang pendidikan yang lebih tinggi: sekolah dasar.

"Porong porong pororororo!" Jongin bersenandung mengikuti alunan lagu pembuka kartun Pororo yang sedang ditayangkan, membiarkan sang nenek yang duduk di hadapannya membantu mengenakan seragam barunya. Jongin mengangguk kecil, sekarang ia sudah murid sekolah dasar, ia bangga akan fakta itu.

"Nah! Sekarang tinggal dasi ini!" Seru nenek sambil melingkarkan wertern bowtie biru muda di kerah seragamnya. "Wah! Lihatlah cucu kecil nenek ini! Sangat tampan!" Nenek memberikan cubitan gemas di pipi gembilnya.

Jongin menggeleng dan menyangkal ucapan nenek, "Nenek salah! Kata ayah, Jongin itu manis dan menggemaskan!" Ia membalikkan badan dan menoleh ke arah papa yang sibuk merapikan tas sekolah milik mereka berdua. "Papa, Nini manis dan mengemaskan, 'kan? Ayah berkata begitu!" Nada bicaranya sedikit menuntut dan merengek.

Papa membulatkan matanya, senyuman berbentuk hati itu mulai bertengger di bibirnya. "Jongin memang sangat manis dan menggemaskan."

Jongin kembali menatap sang nenek, "Apa yang dikatakan papa."

Nenek hanya terkekeh geli melihat tingkah lakunya, beliau berjalan menuju meja rias miliknya dan papa. Mengeluarkan sebuah kotak aksesoris milik Jongin (hadiah dari kakek), "Hari ini warna apa, sayang?" Tanya nenek sambil menyuguhkan semua koleksi barrette miliknya.

Jongin memerhatikan aksesoris itu dengan saksama, telunjuk kecilnya mengetuk-ngetuk dagunya. Pose sedang berpikir yang ia tiru dari kakek. "Papa, warna apa?"

"Biru langit," jawab papa langsung.

Jongin membeo ucapan sang papa dan mulai mencari barrette biru langit. Walaupun tidak menemukan warna tepat tapi tak mengapa, nenek berkata biru ini muncul saat hari begitu cerah. Sedikit bujuk dan rayuan di sana saat Jongin terlihat ngambek, nenek berkata dengan mengenakan warna ini Jongin akan membantu langit terlihat lebih cerah. Kim Jongin, bocah yang kini berusia 7 tahun, mempercayai segalanya.

.

"Kyungsoo, kau sudah memasang pengaman itu dengan benar?" Tanya kakek, namun titik fokus orang tua ada pada lembaran ketas di atas pangkuannya.

Papa memeriksa pengaman pada booster seat yang ia duduki, memeriksa segalanya agar Jongin tidak terjatuh atau merasa sesak. "Sudah, Kek," sahut papa sambil meraih tangan mungil Jongin untuk digenggam.

Mereka kini berada di dalam mobil kakek, akan berangkat ke sekolah bersama. Kakek akan mengurus komite Jongin pagi ini, sekalian mengantar cucu kecilnya ke sekolah barunya (walaupun di yayasan sama, hanya pindah divisi). Begitu penjelasan papa tadi.

"Jongin, sudah siap berangkat?" Bisik papa pelan, seperti membisikkan sebuah rahasia.

Jongin mengangguk pasti, ia sangat senang dan sudah tak bersabar menemui teman-teman baru di sekolahnya nanti. Ia akan mencari banyak sahabat untuk diajak bermain dan makan bersama. Kata papa divisi sekolah dasar dengan dengan divisi menengah pertama, itu akan membuat dirinya dan papa lebih mudah bertemu.

Senyuman lebar terukir di bibir mungilnya, ia memeluk erat tas sekolah barunya. Tas dengan karakter imajiner Pororo. Walaupun karakter imajiner kesukaannya adalah Krong, namun Pororo mirip papa, Jongin ingin Pororo.

.

Jongin mengayunkan genggamannya dengan sang papa sembari berjalan menuju kelasnya. Divisi sekolah dasar tidak jauh berbeda dari taman kanak-kanak, hanya saja tidak ada arena bermain dan gambaran di dinding. Sekolah dasar tingkat pertama ada di lantai dasar, mereka bertiga dengan mudah menemukan kelas baru Jongin.

Jongin mengerjapkan matanya melihat kelas barunya sudah dipenuhi para siswa baru yang didampingi orang tua, tidak sedikit murid menangis tidak ingin ditinggal di tempat ini. Jongin tidak akan menangis, papa ada di sini bersamanya.

"Ayo, cari bangkumu, Jongin!" Tawar papa sambil menariknya, mencari bangku yang tertara nama 'Kim Jongin'.

Papa menggumam kan beberapa nama sebelum akhirnya menemukan namanya di antara bangku-bangku kelas. Jongin mengetahui itu hanya melihat bangku sekolahnya dengan tatapan berbinar, seolah-olah menemukan harta karun.

Papa dengan perlahan menjelaskan fungsi bangku sekolahnya: menyimpan peralatan belajar pada kolong bangku. Papa dengan telaten meletakkan barang-barang itu ke dalam kolong bangkunya: menaruh beberapa buku dan kotak pensil miliknya.

"Tas dan jaketmu harus diletakkan dengan rapi di dalam loker."

Jongin menatap papa bingung, mereka belum menemukan loker. "Loker?"

Papa mengarahkan mereka ke sisi kelas di mana loker berdiri sejajar menempel dengan dinding kelas. "Nah, ini loker milikmu. Kim-Jong-In," eja papa perlahan dengan telunjuk yang menunjuk satu persatu namanya. Jongin mengangguk, kakek sudah mengajarkannya huruf hangul dan alfabet (walaupun masih terbata), ia sudah bisa membaca dan menulis namanya dengan jelas.

"Sebelum Jongin duduk di bangku, Nini harus menuju loker untuk meletakkan bekal makanan, tas, dan jaketmu ke dalam loker. Ingat ambil peralatan belajarmu lalu letakkan di kolong bangku, seperti Papa lakukan barusan. Nini mengerti?"

"Mengerti, Papa!" Sahutnya mendapat usapan lembut di kepalanya.

Papanya terlihat begitu keren menjelaskan semuanya, seperti guru yang banyak tahu.

.

Para murid sudah duduk rapi di bangku mereka. Para orang tua dengan tenang berdiri di bagian belakang kelas, menyaksikan satu per satu murid memperkenalkan diri di depan kelas.

"Jongin, Kim."

Begitu mendengar namanya dipanggil Jongin, dengan sedikit sangsi berjalan menuju depan kelas. Ia menundukkan kepala saat ditatap orang banyak.

Ia menggigit bibir bawahnya dan bergumam, "Perkenalkan nama saya Kim Jongin," dan diakhiri dengan bungkukan singkat. Walaupun tidak sesempurna seperti yang telah diajarkan papa beberapa hari lalu, papa tetap memberikan acungan jari ke arahnya.

"Perkenalkan dirimu lebih banyak lagi, Jongin. Sepertu keluargamu, hobimu, apapun yang Jongin inginkan," saran Pak Guru.

Jongin melemparkan pandangannya ke arah sang papa yang memberi anggukan untuk menyemaggatinya.

"Ayah Jongin sekarang di surga, menemani ibu, begitu kata ayah. Tapi ayah berkata Jongin tidak sendirian lagi, sekarang Nini ada papa, kakek, nenek, paman, bibi jutek, anak-anak anjing juga. Nini sayang semuanya!" Ceritanya dengan nada penuh kekaguman, teman sekelasnya memberi tepukan tangan. "Papa dan kakek ada di kelas ini sekarang," ujarnya sambil menunjuk dua sosok yang berdiri di seberangnya. Semua mata kini berpusat pada mereka. "Papa bersekolah di sini. Divisi menengah pertama!" Serunya dengan bangga.

Jongin membulatkan matanya saat mengetahui beberapa orang tua menatap dirinya, papa, dan kakek dengan aneh. Jongin menunduk, ia tidak suka tatapan itu. Ia ingin berlari ke depakan papa sekarang.

"Kim Jongin, kau anak laki-laki, 'kan? Kenapa pakai jepit rambut seperi adik perempuanku?" Celetuk salah satu teman barunya.

Jongin, anak mungil itu, tidak bisa menahan emosinya, ia segera berlari menuju sang papa sambil berlirih, "Papa!"

Kim Jongin dengan mata basah bersembunyi di balik dekapan sang papa.

.

Jongin meringkuk di dalam pangukan papa, wajahnya hampir sepenuhnya bersembunyi di blazer sang papa. Seperti bayi kanguru.

Ia mengusap-usap wajah basahnya ke seragam papa, papa tidak marah. Jongin sedang bersedih, papa tidak pernah marah. Namun kali ini berbeda, wajah papa sedikit kaku, nafasnya pendek.

"Saya sebenarnya sedikit kecewa dengan kejadian di kelas tadi." Suara berat kakek memenuhi ruangan guru.

Jongin melirik ke sembarang tempat, namun beberapa detik kemudian kembali bersembunyi saat ia melihat para orang tua teman kelasnya duduk di hadapan merek. Jongin merasa takut dengan mereka.

"Saya sudah menjelaskan keadaan Kim Jongin dan situasi keluarga kami. Saya pikir pihak sekolah juga sudah menjelaskan kepada orang tua lain untuk tidak mengambil pusing keluarga kami. Namun sayang, orang lebih suka menindas daripada berpikir jernih."

Jongin semakin membulatkan badan kecilnya di pangkuan sang papa, hampir seperti fetus yang meringkuk di dalam rahim. Suara kakek seperti saat mereka pertama kali berjumpa, nada tidak suka bergitu terdengar.

Papa terus mengusap punggungnya yang biasanya membuat tubuhnya lebih nyaman, namun untuk kali ini ia tidak merasa nyaman.

"Kim Jongin baru saja kehilangan ayahnya, membuat dirinya yang baru berusia 7 tahun harus menjadi yatim piatu. Do Kyungsoo, cucu saya, Kim Jongin melihat sosok ayah pada diri Kyungsoo. Kyungsoo dengan suka rela menjadikan dirinya sebagai sosok ayah kedua bagi Jongin, tanpa memikirkan jarak usia mereka yang begitu dekat," jelas kakek dengan suara tegasnyam "Tapi lihatlah, orang dewasa lebih memilih menghakimi seorang remaja yang berusaha memberi kasih sayang pada anak kecil. Kalian itu dungu dengan nalar yang pendek."

Semua menjadi hening selelah monolog kakek terhenti. Tidak ada yang berani membuka suara dengan atmosfer yang seperti ini.

"Pedo—"

"Jangan bodoh. Tidak ada kasus pedofilia di sini. Mendiang Kim Joonmyun, Ayah Jongin, tidak memiliki hungungan apapun dengan Kyungsoo. Argumentasi kalian itu invalid." Kakek berdeham sebelum berujar, "Pembicaraan selesai sampai di sini. Ini argumentasi yang sangat membuang waktu. Kyungsoo, bangun, bawa Jongin pulang bersamamu. Sekertarisku sudah memberi tahu situasi ini ke divisimu. Kalian tidak perlu bersekolah minggu ini sampai masalah ini terselesaikan."

Dengan itu mereka bergegas beranjak dari suang guru.

"Saya berpikir yayasan ini lebih berpendidikan dan berpandangan tinggi, namun semua memang sama saja." Begitulah tuturan terakhir kakek sebelum meninggalkan sekolah.

.

Saat tiba di rumah, nenek langsung membawa dirinya dan papa ke dalam dekapannya sembari terus menanyakan apakah mereka baik-baik saja, walaupun papa dengan tenang menjelaskan mereka tak mengapa dan nenek tidak perlu khawatir, nenek tidak melepaskan dekapannya.

Mereka kini berada di ruang baca kakek, dirinya dan papa duduk di salah satu sofa besar di ruang itu. Nenek dan kakek saling melontarkan tuturan-tuturan yang menurut Jongin begitu mereka sedang beradu mulut.

"Kau tidak ada di sana, Minjae. Kau tidak tahu situasi seperti apa."

"Oh! Tapi memberikan mereka libur selama seminggu, tidakkah kau memikirkan pendidikan mereka? Jongin baru saja masuk sekolah dasar, aku hanya tidak ingin cucuku itu ketinggalan pelajaran. Biarkan anak itu bersenang-senang dengan teman barunya."

"Kau hanya memikirkan pendidikan mereka, namun pikirkan juga perkembangan psikis Jongin, anak itu akan terus ketakutan jika berada di lingkungan seperti itu. Aku ingin memindahkan mereka berdua ke sekolah yang lebih baik."

"Aku tidak setuju," kini papa membuka suara. Ia terus merangkul Jongin yang semakin terlihat ketakutan mendengar suara kakek dan nenek semakin meninggi. "Aku sudah nyaman dengan sekolah itu. Jadi, jangan memindahkanku lagi, Kek."

Ujaran papa tidak ada yang menyahut, malah itu menjadi pemicu perdebatan kakek dan nenek. Jongin meremas seragam depan sang papa, tubuh kecilnya bergetar. Tangisannya pecah karena sudah tidak bisa menahan segala emosi yang ia rasakan. Ia terisak meronta ingin bertemu ayah, ingin memeluk ayah, ia merasa ketakutan.

Dua orang dewasa dan seorang remaja kini mencoba menenangkannya, membujuknya untuk tidak menangis. Ia menolak dengan kasar saat papa mencoba untuk memeluknya kembali. Tidak, ia sedang ingin bersama ayah.

"Nini ingin ayah cepat pulang dari surga! Ayah cepat pulang! Nini ingin dipeluk ayah! Ayah!" Isaknya dengan tangan menggapai-gapai di udara, entah apa yang ingin ia raih, mungkin dekapan sang ayah yang masih di surga sana. "Nini rindu ayah..."

Walaupun dengan meronta keras dan penolakan, papa berhasil meraih tubuh mungilnya dan merangkulnya ke dalam dekapan. Tubuh papa bergetar dan isakan keluar dari mulutnya. "Papa di sini, Jongin. Papa di sini bersama Jongin. Jongin jangan takut. Papa bersama Jongin." Terus menerus papa ucapkan dalam isakannya, seperti rangkaian doa yang dipanjatkan agar segera terkabul.

Kim Jongin, beberapa minggu setelah sang ayah meninggal, para psikiater mendiagnosa anak itu mengidap separation anxiety.


Semua berawal saat sang papa harus pergi ke Daegu dalam rangka kunjungan wisata sekolah sebelum libur musim dingin. Di pagi hari itu semua berjalan dengan normal sebagaimana semestinya.

Jongin terbangun karena suara yang ditumbulkan pergerakan sibuk papa di kamar mereka. Ia dengan mata mengantuk menatap saat papa mengenakan sepatunya. Tidak seperti biasa sepagi ini papa sudah rapi dan lengkap dengan tas perginya.

"Papa... mau ke mana?"

Papa berjalan menghampirinya dan menyerahkan boneka Krong yang Jongin langsung tarik ke dalam sebuah pelukan. Jemari papa merapikan rambut yang menutupi matanya. "Papa akan pergi ke Daegu beberapa hari. Jongin jadilah anak manis, ya? Papa akan bawakan Jongin banyak oleh-oleh nanti."

Kecupan bertubi-tubi di seluruh wajahnya dari sang papa mengantarkan Jongin kecil kembali ke alam mimpinya.

.

Di rumah kini hanya ada dirinya dan Bibi Jutek. Ini pertama kalinya terjadi, kakek dan nenek sudah berpamitan dan memberitahunya akan ada tamu dari luar ingin berjumpa dengan mereka, jadi Jongin harus di rumah dengan Ibu Kyungsoo.

Di sinilah mereka berdua duduk di ruang santai keluarga, menonton acara drama kesukaan Bibi Jutek. Sebenarnya ini adalah jadwal Jongin untuk menonton siaran ulang Pororo, namun ia hanya bisa berpasrah mengikuti saran nenek untuk tetap bersama Bibi Jutek.

"Bibi, papa di mana?" Tanya Jongin memalingkan pandangannya dari drama yang tidak ia bisa tanggap. Ia mengerjap bingung, saat jam Pororo tayang adalah saat papa akan pulang dan bermain dengannya. Kenapa papa belum pulang?

"Daegu." Begitu singkat dan Jongin mendopang dagunya sedikit kesal. Bibi Jutek memang tidak bisa menghibur dan selalu membuatnya kesal.

"Daegu itu di mana? Jauh dari rumah?"

Belum ada jawaban dari wanita itu, Bibi Jutek sepenuhnya terfokus pada tayang di layar kaca itu. Jongin, dengan jemari mungilnya, menarik gaun yang dikenakan Ibu Kyungsoo itu. "Bibi," panggilnya dengan inonasi diperpanjang.

"Jongin," bibi meniru cara bicara Jongin yang dapat diartikan: jangan ganggu Bibi, Jongin.

Jongin mendengus. Bibi Jutek payah!

"Papamu akan pulang Jumat nanti," ujar bibi mendadak.

Jongin menoleh mencari tatapan bibi, namun wanita itu hanya terfokus pada drama itu. "Jumat itu kapan?"

"Tiga hari lagi," jawab bibi sambil meraih tangan kiri Jongin. Telunjuk orang dewasa itu menunjuk satu per satu jari mungil Jongin. "Hari ini adalah Rabu." Bibi melipat kelingkingnya. "Besok adalah Kamis." Kini melipat jari manisnya. "Lusa adalah Jumat." Jari tengahnya ikut dilipat. "Jadi berapa jarimu yang Bibi lipat?" Tanya bibi.

Jongin menghitung jari itu. Satu. Dua. Tiga.

"Tiga!"

Bibi mengangguk. "Pintar, tiga hari lagi papamu akan pulang ke rumah."

Jongin menghela panas berat, ia menatap bibi tak percaya dan kembali bergerutu, "Tiga hari itu lama! Kenapa papa tidak pulang hari ini?"

"Tiga hari itu sebentar, Jongin. Jangan rewel, begitu kau bangun dari tidur siangmu, papamu akan pulang."

Jongin sumringah mendengar pernyataan itu dan menarik-narik bibi untuk memberinya perhatian. "Benarkah, Bi? Kalau Jongin tidur siang, papa akan pulang saat Nini bangun nanti?"

Bibi mengangguk dan berkata dengan mantap, "Tentu saja. Bibi tidak pernah berbohong."

Dengan itu Jongin kecil lari menuju kamarnya dan papa untuk tidur siang. Sebelum tertidur, ia berdoa agar papa cepat pulang dan lekas bermain bersamanya. Amen.

Oh, Jongin kecil. Tidakkah dirimu sadar Bibi Jutek menjebakmu agar tidak mengusik waktu santainya? Membuatmu tidur dalam harapan papa akan pulang saat kau terbangun.

.

Kaki kecilnya terus melangkah menelusuri setiap sudut rumah besar itu, ditemani tiga anak anjing nenek yang membututinya selama ekspedisi kecilnya. Selama tinggal di rumah papa, Jongin tidak pernah berkeliling sejauh ini. Banyak ruangan yang belum ia kunjungi, sempat membuatnya tersesat, namun ia sangat ulung bermain petak umpet, tidak susah mencari celah jalan keluar. Namun sayang, incaran yang ia cari tak kunjung ketemu.

"Papa di mana?" Lirihnya pada ruang hampa. Tenggorokannya mulai terasa tercekat, matanya mulai perih, ia ingin menangis. "Boo, Papa Nini ada di mana?"

Anjing kecil berpanggil Boo itu hanya berlari mengelilingi kaki Jongin, seperti mengisyaratkan untuk tetap mencari papa.

"Jongin manis, kenapa berdiri di sana? Ini sudah waktu makan malam. Ayo, ikut nenek ke ruang makan." Suara nenek terdengar dari belakang. Ia menoleh, nenek berdiri menantinya di seberang sana.

Jongin dengan pasrah berjalan kecil menuju nenek. Ia masih ingin melanjutkan ekspedisinya mencari papa. Papa sangat pintar bermain petak umpet.

.

Mereka makan dengan suasana tanpa bicara dan paman yang tak pernah hadir bersama mereka. Papa juga tidak ada di ruang makan bersama mereka, papa biasanya selalu duduk di samping Jongin, membantunya makan, mengajarinya menggunakan sumpit dengan benar. Jongin hanya memainkan makanannya, tidak ada papa membuatnya tidak selera.

"Nenek, papa ada di mana?" Akhirnya mulut kecil itu angkat biacara.

Nenek memberinya tatapan gemas. "Apa papa tidak memberi tahumu papa sedang menginap di Daegu?"

Jongin menggidikkan bahunya, Bibi Jutek juga berkata demikian: Papa berada di Daegu. Tapi Daegu itu di mana? Kenapa papa tidak pulang juga?

"Papa tidak pulang." Itu terdengar dalam bentuk pernyataan. Jongin kecil sudah lelah menunggu, ia tidak paham semua ini. "Nini-nini ingin papa!" Tuntutnya yang berakhir dengan isakan keras. "Papa!"

Semua orang kini mulai cemas menyaksinya anggota keluar terkecil mereka meronta di atas kursinya sambil memanggil-manggil ayah dan papa.

Nenek yang cepat tanggap berjalan menuju Jongin dan duduk di kursi samping Jongin. Jemari tua itu menghapus air mata Jongin. "Oh, cucu kecil nenek. Kenapa menangis? Papamu akan pulang, sayang."

Jongin menggelengkan kepalanya dan tuturannya semakin tak karuan, ia menghempaskan tangan nenek yang menyentuh tubuhnya. Kenapa orang dewasa tidak mengerti permintaannya? Ia hanya ingin bertemu papa!

"Nini- Nini- Nini ingin papa! Papa! Nini mau papa! Papa! Papa! Papa!" Isaknya terus-menerus mulai sesenggukan. Air matanya mulai membasahi wajah mungilnya. Ia terus meronta ingin papa, tangan kecilnya mulai menggapai sesuatu tak pasti di hadapannya.

"Kim Jongin cukup!"

Isakan Jongin seketika terhenti mendengar bentakan itu. Kakek kini baru saja membentaknya. Tubuh mungilnya bergetar ketakukan, ia menggenggam ujung meja makan dengan tangan mungilnya. Ia menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan isakan.

"Jonghan! Ia masih sangat kecil untuk diberi intonasi seperti itu! Dia bukan putramu, tenangkan dirimu!"

Tanpa perintah isakan Jongin kembali kecil. Isakan dan getaran di tubuh itu lebih hebat dari sebelumnya, ia seperti orang yang sedang histeris. "A-ayah cepat pu-pulang! Ni- ta-takut! Ni-nini ingin bertemu! Nini-nini juga ingin-ingin ditemani- ayah... Nini takut..." Dengan terbata-bata, anak kecil itu kembali menggapai udara hampa dengan kedua tangannya, "Jangan lama- di sur-surga. Pulang..."

Beberapa menit kemudian ia baru menyadari ia sudah berada di dekapan nenek, yang terus mengecup pucuk kepalanya dan berbisik: Nini sayang, jangan begini. Nenek ada di sini.

.

Jongin menatap sayu leher nenek. Mereka berdua kini berada di atas tempat tidur yang biasanya ia tiduri bersama papa setiap hari. Hari ini berbeda, saat ini adalah dirinya dan nenek yang sibuk menimangnya.

Jongin mendadak jatuh demam di tengah-tengah isakan. Awalanya nenek hanya berpikir suhu tubuhnya meninggi karena lelah menangis, namun beberapa menit kemudian suhu panas tidak kunjung menurun. Kini di dahinya tertempel plester pereda demam.

Jongin merengek saat ia menyadari nenek mulai beranjak dari sisinya. Dengan cepat kedua tangannya menarik baju nenek untuk membuatnya tetap berada di sisinya.

"Tenang, sayang. Nenek hanya mengambil ponsel nenek di meja belajarmu. Jongin bisa percaya ucapan nenek," rayu wanita tua itu dengan lembut, "Jongin bisa melihat nenek berjalan ke sana dan kembali tidur bersamamu." Dengan itu cengkraman Jongin mulai mengendor dan membiarkan sang nenek mengangkat panggilan.

Nenek kembali merabahkan dirinya di samping Jongin, seperti yang ia janjikan. "Nini, lihat siapa yang ingin berbicara denganmu?" Tanya nenek sambil menyuguhkan ponselnya ke jarak pandang Jongin. Dengan mata sembab dan sayu, Jongin begitu mengenal siapa yang tampil di ponsel nenek.

"Jonini anak papa."

Papa.

Anak kecil itu segera mencengkram ponsel nenek di kedua tangan mungilnya. Jemari-jemari kecil itu mengusap layar posen dengan perlahan, seolah-olah ia bisa merasakan di balik sentuhan itu.

"Papa dan ayah tidak pulang menemui Nini," lirih anak kecil itu begitu pilu.

Papa hanya menatapnya dengan sedih, bibir papa melengkung ke bawah. Terlihat seperti Jongin saat menahan tangisan. "Papa akan pulang malam ini. Begitu Jongin terbangun dari tidurmu, papa akan berada di samping Nini."

Jongin menggeleng, trik sulap itu tidak bekerja. Bibi Jutek menyuruhnya demikian tapi tak ada hasil. Hanya bualan kosong.

"Nini tidak percaya. Bibi Jutek menyuruh tidur dan papa akan pulang. Bibi berbohong, papa tidak di sini bersama Jongin. Papa juga berbohong," ujar anak itu keras kepala dan memalingkan pandangannya ke arah lain, tapi sedetik kemudian kembali lagi saat sang papa melirihkan namanya. Oh tidak, ia membuat papa bersedih.

"Nini tidak percaya papa?" Tidak ada jawaban dari anak itu. "Papa tidak akan berbohong pada Jongin. Saat Jongin terbangun esok pagi, papa akan berada di sampingmu. Merangkul Nini seperti biasa." Sekali lagi tidak ada tanggapan dari anak kecil itu. "Nini sayang, tidurlah. Kata nenek Nini sedang demam, hmm?"

"Papa, lagu Pororo." Itu adalah jawaban anak itu. Rayuan Do Kyungsoo sudah berhasil, jika Jongin meminta dinyayikan lagi pengantar tidurnya: lagu pembuka Pororo.

Interaksi jarak jauh itu terus berlanjut hingga sangat larut, bahkan dengan kondisi mata Jongin yang sudah tertutup rapat, namun anak itu terus bergumam: papa ini, papa itu.

Do Kyungsoo hanya bisa menurut permintaan putra kecilnya.

.

Beberapa hari berselang. Jongin tidak pernah meninggalkan sisi Kyungsoo, atau lebih tepat dikatakan Jongin merengek agar papa tetap berada di jarak pandang yang ia bisa ia lihat.

Kini Kim Jongin seperti bayangan sang papa. Ke mana papa pergi, di mana papa berada, sosok kecil Kim Jongin akan terlihat di samping remaja itu.

Sempat sekali waktu saat mereka berdua sedang bersantai di ruang baca kakek, Jongin mulai terlelap di atas sofa milik kakek. Kyungsoo yang melihat itu langsung segera mengambil kesempatan itu untuk pergi ke toilet. Sudah sangat lama ia menahan untuk ke kamar kecil karena putra kecilnya itu akan merengek jika ia bergerak sedikit saja. Posisi dalam jarak pandang Jongin kini berubah menjadi 'Papa harus di samping Jongin' dan genggaman anak itu di mana pun tangan mungil itu bisa meraihnya.

Kembali ke ruang baca dengan perasaan lebih lega, seketika Do Kyungsoo membulatkan matanya dengan panik menyaksikan kakek berusaha menenangkan Jongin yang histeris menanyakan keberadaan papa.

Dengan langkahan cepat, Kyungsoo meraih tubuh Jongin dan menggendongnya. "Papa di sini, Jongin. Papa di sini."

Hari itu Jongin kecil kembali demam dan semakin mempersempit ruang bergerak papanya. Remaja itu harus tetap di sampingnya.

.

Keluarga Do awalnya tidak mengubris kondisi Jongin kecil dan ketergantungannya pada kehadiran Kyungsoo yang harus tetap berada di sampingnya. Namun, lambat laun mereka semua semakin dibuat cemas saat anak itu lebih jatuh sakit setelah menangis meminta papa kembali, ia menjadi lebih tertutup dan hanya berkomunikasi dengan papa, bahkan bersikap agresif dan posesif saat seseorang berada di dekat sang papa.

Ayah Kyungsoo mengusulkan membawa Jongin ke psikiater anak agar mendapat jalan keluar masalah ini.

Do Kyungsoo sempat menolak dan berkata putra kecilnya masih waras, tidak butuh psikiater atau apapun itu.

Dengan penjelasan ayah bahwa bertemu dengan psikiater bukan berarti setiap pasien adalah orang tak waras. Ini semua demi perkembangan fisik dan psikis Jongin kecil. Akan lebih bijak anak kecil itu tumbuh sebagaimana mestinya. Akhirnya Do Kyungsoo menyepakati tawaran sang ayah.

.

Beberapa psikiater anak mereka temui dan diagnosa mereka sama, Kim Jongin mengidap separation anxiety.

Semua ini terjadi karena bayi hingga usianya sekarang, Jongin hanya hidup bersama seorang ayah. Hanya mereka berdua, Jongin begitu bergantungan dengan kehadiran sosok ayah. Terlebih lagi, orang yang ia ajak bersama selalu sudah tiada, itu adalah wajar jika anak itu merasa kehilangan dan membutuhkan seseorang di sampingnya.

Jongin belum membiasakan diri dan menyadari bahwa sang ayah sudah tidak bersamanya lagi. Walaupun anak itu terus berkata ayah sedang menemani ibu di surga, tapi pemikiran anak itu masih tertuju bahwa sang ayah akan kembali menemaninya suatu saat nanti. Kematian adalah konsep yang abstak untuk dijelaskan kepada anak-anak.

Karena itu, Do Kyungsoo menjadi pelampiasan Jongin kecil. Ia merindukan sosok sang ayah dan ia menemukan sosok itu di diri Kyungsoo. Alam bawah sadarnya yang membawa dirinya seperti ini. Anak itu belum bisa melepaskan bahwa sang ayah tidak di sini bersamanya.

.

Sedikit banyak, itulah penjelasan para psikiater yang bisa ia tangkap. Ia tidak menyadari betapa beratnya beban dan konflik batin yang di alami anak sekecil Jongin. Jika dibandingkan dengan dirinya yang hanya kehilangan cinta pertamanya, maka Do Kyungsoo adalah orang yang paling egois dan tak peka di dunia ini.

Kim Jongin, anak kecil yang ia anggap putra sendiri, sudah kehilangan kedua orang tuanya.

Di hari itu juga, Do Kyungaoo mengikrarkan bahwa ia akan menjaga Jongin lebih baik lagi dan penuh kasih sayang. Setidaknya ia bisa mengabulkan permintaan terakhir mendiang Kim Joonmyun: menjaga Jongin dan menuntunnya menjadi anak yang bijak.


Empat hari itulah yang dibutuhkan kakek untuk melepaskan kedua cucunya untuk kembali bersekolah. Setidaknya pihak sekolah sudah mengambil tindakan, para orang tua kini jauh lebih mengerti, begitu yang kakek jelaskan pada mereka.

Hari ini hanya Jongin dan papa, kakek tidak menemani mereka berangkat ke sekolah. Seperti biasa tangan mungilnya akan menggandeng tangan papa dan mengayunkan tautan mereka. Senandung lagu pembuka Pororo selalu mengatar keberangkatan mereka menuju kelas Jongin.

Jongin melarang papa untuk membantunya merapikan peralatan sekolahnya, ingin menunjukkan bahwa ia sudah mandiri.

Tubuh kecil Jongin hampir terhuyung ke belakang jika tubuh papa tidak berada di belakangnya, teman-teman kelasnya berhampuran memeluk dirinya dan berseru: kami rindu Jonginie!

Jongin yang tidak pernah mendapat perlakuan demikian hanya bisa menunduk dan memberi senyuman kecil pada mereka. Ia membiarkan mereka menariknya ke bangku kelasnya. Jongin duduk tetap dengan kepala yang menunduk.

"Nini, katakan juga Nini merindukan teman-teman." Suara papa terdengar di antara celotehan teman kelasnya. Jongin medongakkan kepalanya melihat papa berdiri tinggi di antara teman-temannya.

"Jongin rindu kalian juga." Begitu kecil dan pelan, namun membuat teman kelasnya bersorak girang. Jongin dengan sangsi mulai menceritakan kegiatannya saat 'berlibur' di rumah.

Ia kembali mendongakkan ketika menyadari ia mengabaikan keberadaan papa di kelasnya. "Papa?" Panggil Jongin pada pemuda itu.

Papa hanya menyahut, "Papa akan datang menjemput Jongin nanti. Jangan meninggalkan kelas, tunggu papa di sini." Dengan itu papa perlalu dari kelasnya.

"Papamu keren, Jongin," ujar salah seorang siswi. Jongin menatap lucu pada anak itu, ia baru menyadari ia belum mengetahui seluruh teman kelasnya.

"Jongin, kau terlihat manis dengan jepit ungu itu," puji salah satu teman kelasnya. Tanpa ia sadari, tangannya kini menggapai barrette di rambutnya, hadiah baru pemberian papa. Ia tersipu saat dipuji terlihat manis dengan jempit itu.

Tak berapa lama cicitan 'Sehunie suka Jonginie, Sehunie suka Jonginie' memenuhi ruang kelas. Jongin hanya bisa menatap ulah girang teman kelasnya dalam diam, tidak paham akan situasi. Siapa Sehunie?

Jam makan siang tiba, Pak Guru membagikan para murid sekotak susu dan sebuah apel. Dengan instruksi 'Selamat makan' kini siswa mulai menyantap bekal makan mereka.

Jongin mendongakkan kepalanya menyadari seseorang memindahkan kursinya di samping meja miliknya. Itu anak yang memuji barrette barunya!

"Jongin, aku boleh ikut makan bersama?" Tanya anak itu dan Jongin hanya mengangguk.

Mereka tidak berbicara sama sekali, mulut kecil masing-masing sibuk mengunyah makanan. Jongin mengemut ujung sumpitnya, sebenarnya ia ingin menanyakan nama anak ini tapi sedikit malu. Jadi ia hanya menatap dengan saksama anak itu.

Gaya rambutnya hampir sama seperti dirinya, hanya saja poni anak itu tersisir rapi ke samping, tidak menutupi mata sipitnya. Hidungnya mancung dan memiliki bibir tipis. Tapi yang paling Jongin suka adalah pipi anak itu, rona merah terkesan permanen di sana, dan beberapa sisa nasi tertempel di pipi gembil itu. Seperti bayi, kikik Jongin dalam hati.

Jongin mengambil sapu tangan miliknya dan menghapus beberapa sisa nasi yang menempel di dagu dan pipi anak itu, bahkan dengan sumpit training teman barunya ini masih belepotan makan. Benar-benar bayi.

(Sebenarnya Jongin sendiri masih menggunakan sumpit training, hanya saja ia tidak sebelepotan temannya.)

"Siapa namamu?" Tanya Jongin pada akhirnya.

"Sehun." Jawaban yang begitu singkat dan mata anak itu menatap langsung padanya.

Jongin membulatkan mulutnya hingga membentuk 'O' sempurna. "Sehunie suka Jonginie?" Ujarnya mengingat cicitan teman sekelasnya.

Tidak ada jawaban verbal, namun Jongin dalam melihat jelas rona merah semakin menjalar di pipi anak itu. Jongin jadi semakin gemas, Sehun mengingatkannya pada adik bayi Dahye Nuna. Lucu.

"Jonginie manis, Sehunie suka." Adalah sebuah bisikan, anak itu berbisik seperti tuturan itu adalah rahasia dan orang lain tidak boleh tahu.

.

Sejak hari itu, Jongin dan Sehun selalu bersama. Makan siang bersama, mengerjakan tugas bersama, bermain bersama, bahkan Sehun selalu setia menemaninya menunggu papa menjemputnya di kelas. Wali kelas yang menyadari Sehun selalu memindahkan kursinya di samping meja Jongin saat jam makan siang, akhirnya memindahkan Sehun secara permanen ke sebelah Jongin.

Jongin sempat bertanya apakah Sehun tidak bosan hanya bermain dengannya dan jawaban anak itu begitu lugas dan tulus: Sehunie senang bersama Jonginie.

Jongin pun merasakan hal yang sama. Mereka berdua memiliki kegemaran yang sama, hanya saja Sehunie terkadang kesal dengan Jongin selalu memanggilnya 'adik bayi' dan 'Jongin gemas'. Sehunie kini tidak pernah meninggalkan sisa nasi di wajahnya, cara makannya mulai teratur. Bahkan Sehunie membantu Jongin membukakan susu kotaknya, memotong kecil roti lapisnya, memakan makanan yang tak ia ingin makan. Jongin memanyunkan bibirnya, Sehunie seperti papa. Ia tidak tahu harus merasa senang atau kesal.

"Nini, mana tanganmu?" Cicit Sehun seraya menggapai tangan Jongin.

Jongin membiarkan kedua tangannya dibersihkan Sehun dengan tisu basah. Sahabat barunya itu begitu perlahan membersihkan kedua telapak tangannya, benar-benar seperti papanya.

"Sehunie seperti papa," gumamnya tanpa sadar.

Sehun melemparkan senyuman lebar ke arahnya, mata sipitnya semakin terlihat mengecil. Lucu. "Sehunie 'kan ingin jadi suami yang baik."

Jongin termenung. Suami? Apa itu suami? Ia harus tanyakan papa tentang ini.

.

"Sehunie bukan suami Jonginie. Sehunie itu bayi Jonginie," ucap Jongin begitu mantap di hadapan Sehun.

Kemarin ia sudah menanyakan papa arti suami. Ia hanya menggeleng kesal mengetahui Sehunie berkata ia adalah suami Jongin. Ia tidak terima, papa adalah suami Jonginie, papa dari anak mereka: Doni, dan Jongin adalah Nini bagi papa dan ayah bagi Doni. Sehunie itu masih bayi. Bahkan papa memintanya terus beranggapan bahwa papa selalu menjadi suami Nini, bukan orang lain. Papa tidak ingin melepasmu untuk orang lain, begitu kata papa.

Mata kecil Sehun membulat, pipinya kembung penuh makanan. "Sehunie itu suami Jonginie," sangkalnya santai.

Jongin menggelengkan kepalanya tidak terima, "Tidak. Papa itu suami Jonginie. Sehunie masih bayi, jadi Sehunie itu bayi Jonginie."

Sehun hanya terdiam menatapnya. Beberapa saat kemudian sahabatnya itu merapikan bekal makannya dan menarik kembali kursinya ke tempat semula. Sehun dengan diam menyantap makanannya di bangkunya sendiri, tidak bersama Jongin lagi.

Jongin hanya cemberut dan sedikit bingung melihat Sehun duduk di sana. Ini pertama kalinya Sehun tidak makan bersamanya. Jongin hanya bisa mendopang dagunya seraya memainkan bekal makannya. Jongin mendengus kesal, bahkan Sehunie tidak membantunya menghabiskan kacang polong dan telur dadarnya. Sehun payah, gerutunya dalam hati.

Walaupun mereka sedang marahan, Sehun tetap setia menemaninya menunggu sang papa di kelas yang sepi. Jika di hari biasa mereka berdua akan menyanyikan lagu kegemaran mereka, hari ini mereka sibuk dengan kegiatan berbeda; Jongin hanya duduk sambil memainkan jarinya di atas meja sedangkan Sehunie sibuk menggambar. Seharian ini temannya itu tidak menoleh ke arahnya.

"Jongin, Sehun. Ayo, pulang." Suara lembut papa membuatnya sedikit berlonjak kaget, ia terlalu terbawa dalam lamunannya.

Jongin bangkit dari kursi begitu pula Sehun, mereka berjalan menghampiri papa di daun pintu. Jongin mengacuhkan tatapan penuh tanya dari sang papa, lebih memilih diam seraya bergelayutan manja di tangan papa.

"Dah!" Hanya itu yang diucapkan Sehun dan anak itu sudah berlalu masuk ke dalam mobil jemputannya.

Jongin semakin menenggelamkan wajahnya ke perut papa. Biasanya Sehunie akan memberinya kecupan kecil dan berkata 'sampai jumpa, Jonginie', hari ini tidak dan semua tindakan Sehun terasa asing. Ia tidak suka.

"Ada apa denganmu dan Sehunie?" Tanya papa yang membuatnya semakin merajuk.

"Papa, gendong." Dan papa melakukannya. Jongin menenggelamkan wajahnya sepenuhnya ke pundak papa. Sedikit bersedih, ia sudah membuat sahabatnya marah.

.

Sabtu tiba, papa mengajaknya ke kedai tteokbokki milik ayah. Jongin begitu antusias menerima ajakan itu, sudah lama ia tidak berkunjung ke kedai itu. Angin musim semi menerpa wajahnya, pipi Jongin mengembung dan bibir mungilnya mengerucut maju, meniru mulut ikan, sambil membayangkan memakan tteokbokki.

Begitu mobil mereka parkir di sisi jalan, Jongin menggeliat tidak sabar agar papa cepat-cepat melepaskan pengaman booster seatnya. Ia ingin menemui para pegawai ayah!

Jongin tidak menghiraukan panggilan sang papa agar berhati-hati saat berlari, ia tidak ambil pusing, kaki kecilnya terus melangkah dalam langkahan cepat.

"Ayah, Jonginie pulang!" Sapanya dengan suara tinggi yang membuat para pengunjung dan beberapa pegawai menolehnya. Jongin melangkah lebih dalam lagi, walaupun tidak ada balasan dari sang ayah, Jongin tahu ayah ada di sini. Ia meletakkan kedua telapaknya tepat di hatinya, kata papa ayah ada di sana: selalu ada di dalam hatinya; hati Jongin dan papa.

"Oh! Lihat siapa yang datang? Bos kecil!"

Jongin seketika mendongakkan kepalanya mencari arah suara itu. Yoonbae Hyung berdiri di balik meja kasir dengan senyuman lebar. Jongin berlari menuju pria itu dan memeluk pinggangnya. "Nini pulang, Hyung."

Yoonbae Hyung menepuk-nepuk kepalanya dan bertanya, "Dengan siapa ke sini?"

"Dengan papa," sahut Jongin dan melepaskan pelukannya. Oh tidak, ia melupakan papa.

"Papa?" Tanya Yoonbae Hyung bingung.

Jongin menunjuk papa yang kini sedang menarik nafas panjang usai berlari mengejar Jongin ke kedai. "Papa."

Sang papa mencubit pipi gembilnya dan berkata, "Lain kali jangan berlari sendirian, harus ada orang dewasa yang menuntunmu. Anak nakal."

"Kyungsoo?"

Papa melempar senyuman sangsi pada Yoonbae Hyung. "Lama tidak berjumpa, Yoonbae Hyung."

.

"Aku mengira Joonmyun Hyung menikahimu," tutur Yoonbae Hyung setelah mendengar penjelasan papa. "Aku tahu kau menyukai bosku, jadi aku berpikir demikian."

Papa menggeleng. "Usiaku belum pantas untuk menikah, secara legal. Walaupun, sejujurnya aku ingin menikahinya, namun takdir berkata lain. Setidaknya Joon Hyung menitip harta berharganya padaku." Papa memainkan rambutnya lembut dan menatapnya penuh sayang. Papa terlihat lebih tampan dengan pancaran mata seperti itu.

"Kau begitu bijak dan dewasa, Kyungsoo." Pujian itu menghasilkan senyuman berbentuk hati khas milik papa.

"Wow, bermimpi apa aku semalam? Apa Bayi Beruangku benar-benar ada di hadapanku sekarang?"

Suara familiar itu membuat Jongin berlonjak kegirangan, ia turun dari kurisnya dan berlari menuju sumber suara itu. "Donghun Hyung!" Serunya sambil memeluk cinta monyetnya yang sudah lama ia tak bersua. "Jongin rindu."

Donghun Hyung menariknya ke dalam dekapan erat. "Lihatlah, sekarang Bayi Beruangku kini sudah bertambah tinggi!"

Jongin hanya tersipu malu mendapat pujian itu.

"Mana pipinya?" Jongin menoleh ke samping dan menyodorkan Donghun Hyung pipi kanannya. Sebuah kecupan kecil ia terima. Kedua pipi gembil Jongin terlihat tambah manis dengan rona merah padam.

"Donghun Hyung, jangan mencium Jonginie! Nini itu milik Sehunie!" Pekikan anak kecil membuyarkan suasana manis itu. Semua mata kini tertuju pada anak kecil yang berdiri di samping Donghun Hyung. Mata sipit anak itu menatap tak suka pada remaja itu.

"Sehunie!" Seru Jongin begitu menyadari anak di sebelah Donghun Hyung. Kenapa Sehunie ada di sini?

Sehun menghentakkan kakinya dan sengaja mengenai kaki Donghun Hyung. Ia segera mengusapkan jemarinya ke pipi kanan Jongin, menghapus bekas kecupan Donghun Hyung. Di rasa pipi Jongin sudah bersih dari virus Donghun Hyung, Sehun mengecup pipi Jongin, bertubi-tubi di kedua pipinya. Anak yang dicium hanya membiarkan sahabatnya memberikan kecupan-kecupan itu.

"Jonginie manis."

"Kakak dan adik sama saja, suka main frontal. Jadi papa, kapan akan menuntut pertanggungjawaban mereka dan melaksanakan pernikahan? Lihat anakmu sudah semerah tomat dicumbu seperti itu." Gurau Yoonbae Hyung.

"Sehun! Berhenti mencium Jongin!" Tegur Donghun Hyung sambil memisahkan adiknya dari Jongin.

"Tidak ada seorang pun yang pantas menjadi pasangan anakku," tutur papa begitu tegas dan merangkul Jongin begitu protektif.

Yoonbae Hyung hanya tertawa puas dan berkata, "Sudah, sudah. Kalian membuat gaduh di kedai ini. Cepat pesan dan duduk tenang di meja kalian."

.

Hari ini Yoonbae Hyung mentraktir mereka dengan alasan ia harus melayani bos kecilnya yang ia begitu rindukan. Donghun Hyung tidak membiarkan kesempatan itu lewat, ia memesan paket termahal di sana dan bonus 8 kotak susu cokelat untuk mereka.

Jongin dan Sehun duduk di antara papa dan Donghun Hyung. Sehun masih menggenggam tangan Jongin, namun anak itu tidak memandang ke arah Jongin. Jikapun ia menoleh, sedetik kemudian pandangannya akan teralih. Masih marah pada Jongin rupanya.

"Jadi adikku dan Jongin adalah teman kelas? Bagaimana aku tidak mengetahui hal ini?" Donghun Hyung bertanya setelah mendengar penjelasan papa.

Jongin juga baru tahu Sehunie adalah adik Hyung nomor satunya itu, pantas saja Sehun begitu memikat; Sehun dan Donghun Hyung berbagi gen.

"Sehun, jadi Jongin ini adalah teman sekelas yang kamu suka?"

Sehun yang ditanya hanya mengangguk dan menyondongkan badannya ke arah Jongin, memberi kecupan singkat di pipi Jongin. Namun, segera memalingkan pandangan saat mata Jongin bertemu miliknya.

"Sehun, berhenti mencium Jongin. Tidak sopan!" Tegur Donghun Hyung pada Sehun yang memeletkan lidahnya.

"Sehunie itu suami Jonginie. Jadi boleh cium. Ayah saja boleh mencium ibu, kenapa aku tidak boleh mencium Jongin?" Tuntut anak itu dengan keras kepala.

Jongin hanya membulatkan matanya dan menatap tidak percaya ke arah temannya. Kenapa Sehunie tidak mengerti juga? "Papa itu suami Jonginie. Sehunie masih bayi, Sehunie itu bayi Jonginie dan papa!"

Sehun menatapnya kesal, wajah mungilnya kini memerah. "Sehunie tidak mau bermain bersama Jonginie lagi. Soona lebih manis darimu!" Ketus anak itu sambil membuang muka dan melepas genggaman tangannya pada Jongin.

Jongin menahan isakannya. Ia merasa sedih mendengar perkataan sahabatnya; sedih karena Sehunie berpikir teman kelas yang lain (Soona) lebih manis dari Jongin dan kenyataan Sehun tidak ingin bermain bersamanya.

"Sehun, jangan berkata sekasar itu! Cepat minta maaf pada Jongin!" Saran Donghun Hyung.

Jongin hanya menatap sedih saat Sehun menolak untuk menoleh ke arahnya dan bersikukuh tidak ingin minta maaf. Sebenarnya ia ingin meminta maaf atas saran papa, namun melihat penolakan temannya, ia lebih memilih untuk diam.

Jongin mendengus kesal. Jika Sehun tidak ingin berbicara padanya, ia juga bisa melakukan hal yang sama.

"Kalian berdua benar-benar keras kepala."

.

Kini hanya papa dan Jongin di meja pesanan mereka. Donghun Hyung dan Sehunie pergi memesan es krim untuk mereka. Jongin memilih menulikan pendengarannya mendengar papa terus mengoceh bahwa tindakannya tadi tidak sopan sampai membuat Sehun marah.

"Tapi Sehunie itu bayi Jonginie dan papa karena papa itu suami Jongin," ucapnya masih kokoh pada pendirian.

Papa menghela nafas, "Sehun hanya ingin menjadi suami Jongin. Itu hanya permainan, sayang."

Jongin mengembungkan pipinya, "Tapi papa berkata papa akan terus menjadi suami Nini, bukan orang lain."

"Jongin," panggil papa dengan nada di tekanan.

Jongin membuang muka dan lanjut menyantap tteokbokki miliknya.

Tak berselang lama Sehun datang membawa 2 gelas bubbe tea, segelas ia beri pada Jongin sebagai permintaan maaf. "Kata Donghun Hyung tidak apa Sehunie menjadi bayi Jonginie dan Kyungsoo Hyung. Hyung berkata Jonginie tetap menyayangi Sehunie!"

Jongin sumringah mendengar itu, "Jonginie sayang Sehunie! Karena Sehunie itu bayi Jonginie, tentu saja Jonginie sangat sayang Sehunie. Seperti ayah yang sangat sayang Nini!"

Sehun tersenyum lebar mendengar itu dan bertanya, "Apa Sehunie boleh cium?"

Jongin mengangguk dan Sehun menciumnya tepat di bibir.

Orang dewasa di sekeliling mereka hanya menatap tercengang. Tindakan Sehun itu di luar dugaan. Dari mana anak itu tahu ciuman di bibir?

"Kakak dan adik memang sama-sama mesum," cicit Yoonbae Hyung yang melintas di meja mereka.

Donghun Hyung tertawa canggung dan bergurau, "Kyungsoo, sepertinya kau akan menjadi kakek tak lama lagi."

Do Kyungsoo hanya memberi senyuman kaku dan menatap Sehun dengan padangan yang tak bisa diartikan. Langkahi dulu mayatku, Oh Sehun.

Percaya atau tidak percaya, Do Kyungsoo, papa dari Kim Jongin hingga saat ini belum pernah mencium putranya tepat di bibir.


8 tahun;

Permainan rumah-rumahan mereka berubah struktur karena papa memiliki seorang kekasih. Papa menjadi Papa Jongin, Doni, dan Sehunie. Jungah Nuna menjadi Mama. Putra mereka dari pertama hingga terakhir: Jonginie, Doni, Sehunie.

"Sehunie itu datang setelah Doni ada. Jadi Sehunie itu adik Doni." Tentu kalian bisa menebak tuturan siapa ini?

Dan bolehkan Jongin membocorkan sebuah rahasia? Jongin dan para adiknya tidak menyukai Jungah Nuna. Nuna itu lebih menyebalkan daripada kanker dan Bibi Jutek.


.

Note? No, this is ranting :D cus it is long

*tolong dibaca perlahan-lahan. Beberapa poin penting tentang bagaimana cerita ini (akan) dibangun untuk selanjutnya.

I am going to answer some of questions from you.

1. I am from somewhere in europe continent. And you can call me Mimi.

2. Thank you so much for your lovely, supportive, and encouraging comments. I am touched.

3. Thank you so much for liking/loving this story. I thought it would be a flop since this has age differege/underage, bottom!chanyeol to kyungsoo (which i very know well this weirds you out), but some of you ignored it and keep dropping lovely comments. I am deeply thankful. (funfact: this story is the fastest to get reviews/follow/faves out of all my stories :D you guys are the best)

4. Special thanks to 'tobanga garry' who always drops a honest and straightforward comment, you didnt sugarcoat anything in your words. I kindly thank you, it keeps me on spirit. I will pay no mind to haters or hateful words :)

5. Top and bottom? Yes, park chanyeol is very much a bottom to do kyungsoo in this story. Yet, that does not mean i am going to make/write him purely bottom-ish, girl-ish, overly submissive. A man is a man, anyway. I write my 'homosexual actors' based on those gay men i see/meet in real life :D

※ this chansoo is based on my old neighbours (both are men; are married). The smaller partner reminded me of kyungsoo, that man loved to tease (sometimes got pyschical teasing) his partner til the said partner got mad yet was scared and looked like a kicked puppy. The smaller partner looked so pleased everytime he knew he had succesed teasing his partner. Now they live in Sw***.

7. I am no psychiatrist. I know nothing about psychology. Diagnosa Separation Anxiety berdasarkan observasi saya pada sepupu yang masih balita, selalu menangis keras saat ditinggal sang ibu, terkadang jika terlalu lama menangis sampai menyebabkan demam. This might be not the real separation anxiety symptoms in real life. Remember this is a fiction.

※ Jongin termasuk inspirasi tentang orang lain di kehidupan nyata. Sikap dan tuturannya berdasarkan sepupu saya yang rata-rata masih balita. But not that same. I observe how the small children behave.

8. What makes me super happy is that kalian menyukai perwatakan karakter cerita ini! Fatherly/parental figure kyungsoo and cutiepie jonini

I wish you would tell me more about what you like and dislike about this story. To improve.

(i hope i didnt disappoint you because i am afraid i will deem your expectation of this story. But i will try my best!)

(9. Sorry if there are any of your questions left unanswered. And i always make special thanks for follow/faves/review on the very last chapter!)

(10. Cries i could not tell the difference of 'jepit' and 'jemput'; 'gembul' and 'gembil' on last chapter. Prefiks {meng-} bertemu kata berawalan konsonan /c/ akan melesap atau tidak. True tobanga garry, bahasa indonesia is hard. I want to cry.)

Poin terpenting:

※ sudut pandang 'kekanakan' dari Jongin akan selesai saat ia memasuki usia ke-15 tahun. Deskriptif-narasi akan berubah menjadi narasi. Saat usia Jongin 15 tahun, maka gaya bercerita akan berubah tidak seperti penggalan kisah; stakato, sepenuhnya akan menjadi narasi.

※ if you are with me, it is bottom!jongin, always. He has got even prettier since mma last year. Like wtf boy.

11. Thank you so much and see you on next chapter!

.

qoftd: bagian mana yang paling berkesan untuk kalian?