It's not too late fall in love, right?
Disclaimer : Masashi Kishimoto
By : wf
Warning : OOC, maaf kalau cerita ini masih abal, gaje, dan banyak sekali typo, karena saya masih penulis baru dan masih amatir dan juga kalau ada kesamaan cerita dengan author lain, saya sungguh minta maaf, tapi sungguh ini murbi dari pikiran saya sendiri, I hope you can enjoy reading this story, guys...
Part 3
"yey, akhirnya kita liburan juga" teriak seorang gadis berambut pirang, matanya terus mengoservasi pantai itu dengan mata aquamairenya. "wahh, indah sekali" lanjutnya sembari berlari mengelilingi pantai itu, di ikuti oleh hinata dan tenten yang juga berlari-lari bersama dengan ino, mereka terlihat gembira sekali.
Ke dua gadis (sakura dan temari) yang masih berada di sekitar mobil yang mereka tumpangi, menggelengkan kepala melihat tingkah kekanak-kanakan ke tiga gadis itu. "yak, sudah nee-san katakan, jangan berlari seperti ino, tenten, hina-chan" teriak temari dengan lantang kearah gadis-gadis yang berbeda warna rambut tersebut, namun tidak di hiraukan mereka suara teriakan sang kakak tertua, temari tidak marah, namun ia paham betul mereka jarang sekali mendapatkan liburan seperti itu, jadi ia tidak heran dengan perubahan sikap mereka.
"cah, ayo sakura, bantu nee-san membawa barang-barang ini kesana" perintah temari pada sakura yang sedari tadi seperti melamunkan sesuatu. Temari menatap heran pada sakura, sedari ada sikap dari sakura membuat temari merasa khawatir, dengan sikap diam sang adik merah muda.
"kau kenapa saki, apa ada yang menganggu pikiranmu" Tanya temari pada gadis bersurai seperti bunga sakura itu dengan nada khawatir. Sakura mengelengkan kepalanya tanda jawaban atas pertanyaan sang kakak. Sebenarnya, itu belum cukup untuk menenangkan kekhawatiran temari, namun ia untuk sekarang ini hanya memilih diam, tidak ingin terlalu ikut campur masalah adiknya itu. Ia paham jikalau setiap orang pasti memerlukan ruang pribadi. Ia hanya berharap suatu saat sakura dapat membagi semua yang ia rasakan padanya dan juga anggota mereka yang lain.
"ya sudah kalau begitu, namun neesan hanya berharap kau dapat berbagi dengan neesan, walaupun nanti neesan tidak mendapatkan solusi yang tepat untuk masalahmu, namun setidaknya kau akan merasa lega jika sudah berbagi cerita bersama orang lain, namun tetap saja neesan tidak akan memaksamu untuk bercerita, jadi ayo tersenyum kita disini bukan untuk bersedih namun untuk bersenang-senang" ujar temari dengan bijak.
Sungguh sakura merasa sangat beruntuk memiliki kakak seperti temari, walaupun bukan kakak kandungnya namun ia mengerti setiap apa yang dibutuhkan olehnya. "hm, neesan benar, ayo kita bersenang-senang" ajak sakura dengan nada bersemangat.
"cha, baiklah, sekarang ayo bantu nee-san mengangkat barang-barang itu ketepi pantai itu" pinta temari pada sakura. Sakura menganggukkan kepalanya menyetujui usulan temari. Mereka berdua bergotong royong membawa perlengkapan yang mereka bawa dari dorm mereka.
"hm neesan kenapa pantai ini begitu sepi" Tanya sakura pada temari. "hmm, karena pantai ini memang bukan untuk masyarakat umum, pantai ini merupakan milik keluarga Namikaze, kau tahu kan nama keluarga itu, pemilik perusahaan terbesar yang ada di Asia dan Eropa." Jawab temari.
Sakura terdiam mendengar jawaban temari, bukan karena terkejut dengan fakta itu, namun karena nama keluarga pemilik pantai ini. Ya Namikaze, nama keluarga yang mengusik fikiran sakura akhir-akhir ini.
Temari menatap bingung kearah sakura, kenapa gadis itu kembali melamun, itulah pertanyaan yang timbul dalam pikiran temari. "hm, kenapa kau melamun lagi saki" Tanya temari. Sakura terkejut mendengar suara temari, "hm, tidak kok neesan, aku hanya terpikir kok kita dapat berlibur kesini, bukankah ini tempat pribadi mereka" Tanya sakura yang sebenarnya mengalihkan pembicaraan, karena ia tidak ingin ketahuan temari sedang memikirkan sesuatu.
"uuhm, kau tahu kan salah satu anggota kita ada keturunan dari keluarga itu…" ucap temari menjawab pertanyaan sakura. "ooh, jadi naruko yang mengizinkan kita memakai pantai ini" sahut sakura tanpa sadar memotong perkataan temari.
'Tak' "yak, auuh, kenapa kau menjitakku neesan" protes sakura pada temari. "ck, kau bertanya kenapa neesan menjitakmu, karena kau tidak sopan anak muda, memotong pembicaraan yang lebih tua" ujar temari dengan nada kesal. "isshh, aku kan Cuma mengutarakan apa yang terlintas di kepalakuu, aiish kau hanya tua beberapa bulan dariku neesan, jangan berkata seperti itu" protes sakura.
Tanpa sakura sadari ia telah membangunkan harimau tidur, temari berusaha untuk tidak menjitak adik kesayangannya ini. "kau.. kau sejak kapan berubah sikap seperti naruko, ino dan tenten, saki. Apa kau sedang bercanda denganku? Kalau begitu neesan juga akan bercanda denganmu" ujar temari dengan penuh penekanan.
Sakura yang mengerti tanda bahaya, segera melarikan diri sejauh mungkin dari temari. "yak berhenti haruno sakura" teriak temari pada sakura. Sakura yang mendengar itu berlari kearah ketiga adiknya yang tengah duduk di atas pasir seraya menatap kerah laut lepas.
Berbeda dengan ketiga gadis yang berlainan warna, mereka bertiga duduk di atas pasir puti tersebut seraya tersenyum dan mengobrol ria, tanpa mempedulikan kedua kakak mereka.
"hah! Menyenangkan sekali" ujar ino seraya merenggangkan kedua tangannya ke atas dan menariknya ke samping. "neesan, benar, menyenangkan sekali, aku bersyukur mendapat liburan seperti ini" ungkap hinata yang menyetujui pendapat ino.
"hm, ino, neesan mau bertanya sesuatu" sahut tenten secara tiba-tiba yang membuat kedua gadis itu menatap heran padanya. "nanya apa neesan" kata ino seraya bertanya kembali pada tenten. "hmm, apa kau mengenal Namikaze Naruto?" Tanya ino dengan nada serius. Pertanyaan dari tenten membuat ino dan bahkan hinata dan kedua kakak mereka terkejut, mereka menanyakan dalam hati maksud pertanyaan gadis itu.
"ha,,hahah,, ten..tu saja aku kenal, bu..ukankah Namikaze Naruto itu oniisannya naruko" jawab ino dengan nada canggung. "hm, apakah kau menyukainya?" Tanya tenten yang lagi-lagi membuat mereka terkejut.
"apa yang sedang ingin coba kau katakana neesan, apa maksudmu menanyakan itu?" ujar ino dengan nada bimbang. "kau tahu kemarin lusa, aku melihatmu bersama dengannya di pusat perbelanjaan, apa kau sedang berkencan dengannya?" jelas tenten seraya bertanya pada ino.
"bagai…"
"hahahah mana mungkin, ku rasa neesan hanya salah lihat" ujar sakura memotong ucapan tenten secara tiba-tiba. Perkataan sakura membuat semua yang ada di sekitarnya merasa terkejut.
"benarkan ino-pig" sambung sakura dengan nada penuh tekanan seraya melirik ino. Ino yang mendengar itu menundukkan kepalanya, "heh, jangan membuatku tertawa sakura, kau tahu persis apa yang dikatakan tenten neesan itu tepat sekali" ujar ino dengan nada mengejek.
"apaa?" seru yang lain kecuali ino dan sakura. Sakura yang mendengar ejekan ino hanya diam namun tangannya memutih akibat digenggamnya erat. "tch, hahahah jangan membuatku tertawa ino, kau bukan siapa-siapa di antara kami, jadi jangan mengharapkan sesuatu yang akan membuatmu jatuh" ejek sakura sebagai balasan.
"hahahah" seketika mereka terkejut dengan suara tawa ino. "kau yang seharusnya di tanyakan posisinya sekarang, sakura" balas ino tanpa menghentikan tawanya. Sakura benar-benar merasa marah sekali. "hah? Aku? Seharusnya kau yang dipertanyakan, nona. Kau tahu sendiri jikalau Naruto-kun sendiri hanya menganggapmu sebagai adiknya, dan aku? Aku adalah orang yang dicintainya, apalagi Naruto-kun sudah dijodohkan denganku, jadi kau jangan terlalu berharap" ujar sakura dengan senyum meremehkan.
Someone pov
Jadi, Naruto-kun sudah di jodohkan dengan sakura, tapi apa maksud perkataannya waktu itu. Apa ia hanya bermain-main denganku, apa pernyataan cintanya waktu itu hanya bualan belaka. Kami-sama, apa yang harus aku lakukan? Mana yang harus aku percaya? Apa aku harus tetap mempertahankannya atau melepaskannya. Namun, apa aku akan sanggup kehilangannya jikalau itu terjadi.
End of someone pov
Ino menatap tajam kearah sakura, ia ingin sekali menjambak rambut merah muda sakura dengan kekuatan penuh, namun ia takut melakukan itu, walau bagaimanapun ia menyayangi sakura juga.
Jengah dengan keadaan canggung, temari memutuskan untuk menghentikan tingkah kedua adiknya itu. "kalian sebenarnya kenapa sih? Kenapa kalian bertengkar hanya karena memperebutkan seorang laki-laki? Dan sakura, apa maksudmu dengan naruto adalah kekasihmu?" introgasi temari.
"benar apa yang dikatakan tema-nee, coba jelaskan secara rinci sakura. Apa benar kau calon tunangan naruto-niisan" sambung tenten yang setuju dengan pendapat temari. Hinata hanya menganggukkan kepala sebagai tanda ia juga menyetujuinya.
Sakura menghela nafas sejenak sebelum memulai bercerita.
"sebenarnya, orang tuaku dan orang tua naruto-kun itu adalah sahabat semasa mereka sama-sama sekolah dasar hinggah perguruan tinggi, mereka selalu berbagi suka cita bersama, mereka berjanji jikalau nanti mereka mempunyai anak laki-laki atau perempuan akan saling dijodohkan, sebenarnya yang di jodohkan denganku awalnya adalah Kurama-nii, kalian tahu bukan kakak tertua dari naruko itu, yang pada saat itu berusia 10 tahun dan aku 5 tahun. Orang tuaku pun sepakat menjodohkanku dengan kurama-nii" jelas sakura.
Flashback (acara ulang tahun sakura yang ke lima)
"selamat ulang tahun saki-chan" ujar seorang wanita bersurai merah beriris hazel pada gadis kecil yang baru saja berulang tahun yang ke lima. "telima kacih, oba-chan" ucap sakura kecil pada wanita itu, "sama-sama sayang" balas wanita dengan nama lengkap Namikaze Uzumaki Kushina ini.
"selamat ulang tahun, sakura" ujar seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dengan nada datar, seraya memberikan sebuah kotak berukuran sedang yang dibalut dengan kertas kado berwarna biru tua. "hm., telima kacih, kulama-nii" ujar sakura dengan nada riang, pipi kurama merona melihat senyum riang sakura. Kushina dan kedua orang tua sakura tertawa melihat tingkah keduanya.
Pesta ulang tahun sakura berjalan dengan lancar, semua orang menikmati acara itu dengan senang dan gembira. Hingga tinggallah kedua keluarga yang berbeda marga ini.
"wah, pesta bagus sekali, menyenangkan sekali" ujar kushina, ia tersenyum senang melihat kurama tengah bermain bersama sakura. "tentu saja, ini kan adalah hari spesialnya saki, dan juga hari ini kan kita akan mengadakan pembicaraan tentang pertunangan itu" jelas mebuki. Mendengar itu, kushina tersentak, "aah benar juga, aku melupakan bagian itu" ucap kushina dengan nada sesal. Mebuki hanya tersenyum melihat tingkah kushina yang belum pernah berubah ini.
"cha, ayo kita cari tahu tentang sesuatu" ujar kushina dengan senyum khasnya. Kedua orang tua sakura hanya tersenyum, "kurama-kun, kemari sebentar" panggil kushina pada kurama. Kurama melangkah kearah kaasannya. "hn, kaa-san" balas kurama dengan singkat. "kurama, apa kurama menyukai saki-chan" Tanya kushina pada kurama.
"hn" jawab kurama dengan singkat. Kushina berdecak, ia tidak paham dengan gumaman dari anak sulungnya itu. "ck, jawab dengan benar kurama-kun, kaa-san kurang paham dengan yang kau maksudkan itu" balas kushina dengan mode kesal. Kurama menatap ibu dan kedua orang tua sakura secara bergantian, ia menghela nafas sejenak.
"ck, kaa-san sudah mengenal tousan lebih dari 10 tahun, namun tetap saja tidak paham dengan kata khasnya itu" jelas kurama dengan wajah bosan. Kushina yang mendengar jawaban dari anak sulungnya itu, menambah lipatan keningnya tanda kurang mengerti, begitupula dengan orang tua sakura.
"apa hubungannya jawabanmu dengan kebiasaan tousanmu kurama" Tanya kushina dengan nada protes pada anaknya itu. "huh, kenapa aku memiliki kaa-san yang sungguh lemot" keluh kurama, ia tidak menyadari jikalau ia telah membangunkan singa yang ganas.
'tak' kepala kurama menjadi sasaran empuk kushina untuk melampiaskan kekesalannya. "ck, kenapa kaa-san menjitakku" protes kurama pada kushina. "hahaahah, kalian lucu sekali" tawa mebuki meledak tatkala melihat perkalihan kecil ibu dan anak ini. "yak, apa yang kau tertawakan mebuki-chan" ujar kushina dengan nada angker. Mebuki menelan ludah secara susah payah, ia paham betul jikalau sahabatnya ini jika sudah dalam mode marah, akan terus berlanjut hingga kau akan menyesal mencari masalah dengannya. Hanya Minato seorang yang akan dapat menenangkan singa mangamuk ini.
"ee..eh, ti..tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan jikalau kau belum berubah sama sekali, bahkan setelah sepuluh tahun lebih kita tidak bertemu" ujar mebuki menjelaskan. "hah, lupakan masalah tadi, jadi kurama-kun, apa kau menyukai saki-chan" Tanya kushina dengan wajah berbinar. Kurama dan yang lain sweatdrop melihat perubahan dalam diri kushina terjadi begitu cepat.
"hn, aku menyukainya kaa-san" jawab kurama dengan singkat. "yey, lihatkan mebuki, kazashi, kurama-kun memang menyukai saki-chan, wah senangnya, aku akan segera memiliki menantu cantik seperti saki-chan" sahut kushina dengan semangat.
"baguslah jika begitu, aku akan mengurus semuanya dengan minato, aah iya kushina dimana minato? Apa ia tidak akan kesini?" Tanya kazashi pada kushina. "mina-kun, akan segera kesini, ia tadi menjemput naru-kun dan ruko-chan dulu di rumah kaa-san" jelas kushina.
Mendengar penjelasan dari kushina, keduanya mengangguk. Pembicaraan mereka tetap berlanjut hingga bel kediaman haruno ini berbunyi.
"itu mungkin, mereka datang" sahut kushina. "hm, ayumi, bisakah kau membukakan pintu" perintah kazashi pada salah satu pelayan di rumahnya itu. "baik tuan" patuh ayumi seraya melangkahkan kedua kakinya kearah pintu itu.
'kriet' suara khas dari pintu yang dibuka muncul, menampakkan sesosok pria tampan dengan dua orang anak yang digandengnya. "apakah tuan rumahmu, ada dirumah?" Tanya pria tampan itu. "ada, tuan. Semuanya telah menunggu anda, mari silahkan masuk" ujar ayumi dengan nada sopan. Pria itu hanya mengangguk dan mulai memasuki rumah ini.
"mina-kun, kau datang" sahut kushina dengan nada riang. "kaa,,chan, kaa-chan" oceh seorang anak perempuan yang baru berumur 3 tahun itu seraya melambaikan tangan kecilnya ke udara, mengerti maksud sang anak bungsunya, kushinapun menggendong balita mungil tersebut.
"apa kabar minato" sapa kazashi pada minato sambil memeluk sahabat lamanya itu. "hn, baik, bagaimana denganmu" balas minato pada sahabatnya itu. Keduanya larut dalam pembicaraan, begitupula dengan kushina dan mebuki.
"wah, siapa nama gadis kecil ini kushina, ia mirip sekali denganmu, membedakan hanya rambut dan mata saja" Tanya mebuki gemas pada balita kecil berumur tiga tahun itu. "hm, tentu saja ia mirip denganku, aku ibunya, namanya Namikaze Naruko" jawab kushina dengan nada bangga.
"hm, nama yang bagus saki kemari sayang, ada adik kecil" panggil mebuki pada sakura yang terpaku melihat seorang anak laki-laki berambut pirang bermata biru yang tengah membaca buku. Anak laki-laki itu berusia sekitar tujuh tahun itu. Mebuki tersenyum melihat tingkah anak perempuannya itu.
"aah, iya siapa nama anak laki-laki kecil itu kushina" Tanya mebuki sambil menunjuk kearah sakura dan anak laki-laki itu. "ahh, dia, dia anak kedua kami, namanya Namikaze Naruto, tampan bukan" bangga kushina. "hm, tampan" balas mebuki mengangguk setuju.
Sakura tetap fokus memandang naruto dengan lekat, ia langsung menyukai anak laki-laki ini, ketika ia datang. "sampai kapan kau akan memandangku" Tanya anak laki-laki itu dengan nada dingin pada sakura. Sakura tersenyum lebar mendengar suara anak laki-laki, karena sedari tadi anak ini hanya diam.
"oni-chan, namanya capa" Tanya sakura pada naruto dengan mata berbinar-binar. Naruto memandang sakura sekilas sebelum kembali fokus pada bacaannya. Sakura mengembungkan kedua pipinya, tatkala melihat naruto mengabaikannya.
"kulama-nii, lihat oni-chan tidak ingin belteman dengan caku" adunya pada kurama, Kurama menatap tajam pada naruto, namun naruto menghiraukan tatapan tajam sang kakak. "jangan mengabaikannya naruto" tegur kurama. "hn" ujar singkat naruto pertanda ia tidak mengiyakan teguran sang kakak.
Kurama menghela nafas sejenak, dan memandang kearah sakura. "saki-chan, biar kurama-nii sebutkan namanya, nama oni-chan ini adalah Namikaze Naruto" kata kurama dengan nada lembut pada sakura. "naluto oni-chan, ayo main cama caku" ajak sakura sambil menarik tangan naruto. Sebenarnya, naruto tidak ingin menuruti kemauan gadis kecil ini. Namun, tatapan tajam sang ibu dan ayahnya membungkam segala protes yang akan ia lontarkan. Ia membiarkan gadis ini menyeretnya kemanapun.
"ayo duduk dicini oni-chan" ujar sakura pada naruto, mereka tengah berada diruangan bermain kediaman haruno ini. "oni-chan ayo kita belmain pazel" ajak sakura. "hn" ujar singkat naruto. Sakura berdiri dan mengambil koleksi puzzle-puzzlenya.
Pada awalnya kurang tertarik dengan gadis yang tengah mengajaknya bermain ini, namun karena melihat koleksi puzzle yang dimilki gadis ini membuatnya ikut bermain. Kedua anak yang berbeda jenis kelamin dan juga umur ini larut bermain, tanpa menyadari jikalau orang tua mereka memperhatikan mereka.
"wah, baru sekali ini, aku melihat naru-kun cepat akrab dengan anak perempuan" suara kushina membuyarkan lamunan mereka. Minato mengangguk setuju, ia juga merasa heran dengan tingkah anaknya itu, sebab Naruto adalah anak yang menutup semua jalan untuk orang lain memasuki dunianya, apalagi berjenis kelamin perempuan.
"benarkah?" Tanya kazashi dengan nada penasaran, Ia cukup terkejut mendengar pernyataan kushina tentang naruto. Karena, sepengetahuannya anak-anak akan suka bermain dengan teman sebayanya ataupun senang berdekatan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
"hn, ia memang begitu, aku saja heran melihat tingkahnya itu. Ia hanya ingin didekati oleh kami sekeluarga saja, ada suatu kejadian saat kami meninggalkannya di sekolah malah ia bertengkar dengan seorang anak perempuan, hanya karena gadis kecil itu merebut buku yang ia baca" jelas kushina. "padahal gadis itu hanya ingin bermain dengannya" tambah minato.
"ahh, begitu" ujar kazashi sambil mengangguk mengerti. "hm, bagaimana hubungannya dengan gadis itu setelah kejadian itu" Tanya mebuki. "hn, mereka berteman" jawab minato. "hanya gadis itu yang dapat akrab dengan naru-kun selain temannya yang laki-laki, tapi sayangnya gadis itu sudah pergi" ujar kushina dengan nada sedih.
"bagaimana jikalau naru-kun kita jodohkan dengan saki-chan saja kushina" ujar minato. Kushina dan orang tua sakura menatap bingung kearah minato, mereka kurang paham dengan maksud pria paruh baya itu.
"jika kita jodohkan naru-kun dengan saki-chan, ia mungkin dapat mengubah sikapnya itu" tambah minato. "benar juga, aku setuju. Bagaimana kazashi, mebuki-chan" ujar kushina seraya menatap kearah kedua orang tua sakura. Kazashi dan Mebuki mengangguk setuju.
End of Flashback
"begitulah ceritanya, aku minta maaf karena merahasiakannya dari kalian" tambah sakura. Mereka hanya menganggukkan kepala tanda penerimaan maaf yang diberikan oleh sakura. "seterusnya jangan menyembunyikan masalah apapun yang membuatmu merasa pusing, kami disini akan setia mendengarkan semua curhatanmu, jadi jangan disimpan sendiri. Mengerti?" ujar temari menepuk pelan adik paling rajinnya ini. Sakura mendongakkan kepalanya menatap kearah temari yang tersenyum tulus padanya, sakura mengangguk yakin dan perlahan membalas senyum temari dengan senyum paling manisnya.
"nah, begitu lebih baik, itu baru saki-nee yang kami kenal" ucap hinata dengan nada lega. "benar, kau cukup menakutkan tadi loh, saki" sambung tenten dengan nada bercanda. Sakura tersenyum canggung dan tawa lepas dari hinata, tenten dan temari terdengar. Ino tersenyum kecut melihat keakraban mereka, ia tidak menyangka suasana canggung tadi menghilang dengan sekejab.
"wah wah, sepertinya kalian menikmati sekali liburan private ini ya" suara berat dari seseorang menghentikan tawa ketiganya. Ke lima gadis itu menolehkan kepala mereka kearah sumber suara. Senyum mereka merekah lebar tatkala melihat enam pemuda tampan mendekat kearah mereka. Berbagai ekspresi terlihat dari keenam pemuda tampan itu, ada yang menunjukkan wajah bosan mereka, seperti pemuda yang menegur mereka itu. Namun sebagian dari mereka menunjukan wajah datar dan dingin seperti dunia mereka tak tergapai.
"shika" lirih tenten, wajahnya memerah karena bagian-bagian kecil dari ingatannya tentang kejadian tadi malam mulai bergabung tatkala melihat pemuda dengan ikat seperti nenas itu. "naruto-kun, kau datang" seru ino berlari kearah naruto dengan semangat dan mengamit erat lengan pemuda berambut pirang itu. "hn" balas naruto dengan dingin.
"ne, shika kenapa kalian tiba-tiba berada disini" tanya tenten yang telah berhasil mengatasi jantungnya yang berdebar kencang. 'damn, kenapa mereka semua tampak hot' batin temari dan tenten serempak. "memangnya kami tidak boleh berada disini" suara berat dari pemuda berambut merah maroon itu berhasil membuat tenten sesak nafas. "yak, gaara oni-san jangan mengagetkan temanku seperti itu, kau membuatnya takut" teriak temari pada pemuda yang bernama lengkap Sabaku Gaara ini. "hn" gumam gaara dengan dingin. "aissh, bisa tidak menjawab dengan benar, oni-san" kesal temari.
"hn" balas gaara kembali. "sudahlah, temari-nee. Kau seperti tidak tahu sifatnya saja, jangan berdebat disini, malu dilihat yang lain" ujar hinata sambil menenangkan temari yang tampak kesal itu. Menghela nafas sejenak, "sudahlah percuma berdebat dengan batu es, hm jadi kenapa kalian tiba-tiba datang kemari" tanya temari. "kami hanya ingin berlibur sejenak, lagipula bertemu dengan kalian disini cuman kebetulan saja" jawab sai.
"bagaimana kalau kita bermain volli pantai, kan lumayan bisa mendekatkan diri" usul temari dengan semangat. Usulan temari disambut baik oleh mereka, kesebelas pemuda dan pemudi itu mulai membentuk net dan juga tim.
"aku tidak ikut" ungkap hinata. Semua mata menatap kearah gadis itu, "sempurna, hinata bisa jadi wasit kita, kau bisakan hinata-chan" ujar tenten. Hinata mengangguk pelan, "cha, ayo kita mulai" teriak temari dan tenten.
Tim 1 : ino, gaara, sakura, naruto, shikamaru
Tim 2 : tenten, sasuke, sai, temari, neji
"kalian sudah tahu bukan aturan permainannya" ungkap temari. "kau hanya membuang waktumu saja dengan menanyakan itu, tentu saja semua orang tahu" balas naruto dingin. "heheheheheh" cengir temari, menampilkan mata bulan sabitnya.
"hm, bagaimana sebelum mulai kita suit dulu" ajak tenten. "untuk apa?" Tanya ino polos. "jelas untuk menentukan siapa yang kedapatan main duluan, ino" balas sakura kesal. "ck, tidak usah sok kesal begitu dong, biasa aja jawabnya" sentak ino tak kalah kesal.
"ck" decik ino. Temari kembali jengah dengan tingkah keduanya yang tidak dewasa, ia tidak habis pikir kenapa tidak ada satupun yang mau mengalah diantara mereka. "sudahlah, jangan bertengkar sekarang, apa kalian tidak malu dengan para cowok ini. Melihat kalian adu mulut itu menyebalkan, tahu gak" marah temari kepada kedua adiknya itu.
"tapi, nee-san, dia yang memulai duluan" bela ino menunjuk kearah sakura. Tidak terima dengan tuduhan ino, gadis itu membalasnya dengan jambakan. Perkelahian tidak dapat dielakkan lagi, keduanya saling jambak menjambak.
Temari dan para member butterfly memijat kepala sakit. "ayo, terus" propakator oleh gaara. 'tak' temari menjitak kepala merah sang kakak. "yak, bukannya membantu menghentikan mereka, malah mengadu domba" kesal temari. "kalian berdua, kalau tidak berhenti juga, nee-san akan menghukum kalian untuk membersihkan kamar mandi selama 1 bulan" ancam temari. Bukannya berhenti mereka malah bertambah parah.
"2 bulan" tambah hinata. Belum berubah. "tiga bulan" sambung tenten. "ck, itu tidak akan berhasil, baka" ejek naruto. Temari mendelik tajam pada pemuda pirang itu, "ck, kau diam saja, kalau tidak mau menolong. Akar permasalahan kan ada padamu, gara-gara kau perkelahian mereka dimulai. Jadi kau harus bertanggung jawab. Silahkan hentikan keduanya" celetuk temari kesal, gadis itu meninggalkan semuanya dan berlalu pergi.
Naruto memutar mata bosan, ia tersenyum tipis melihat punggung temari. Naruto mengalihkan pandangannya kepada kedua gadis yang masih tengah asyik berkelahi. "aku tidak suka dengan gadis yang emosian" ujar naruto singkat. Pemuda dingin itu mengikuti langkah temari. Ajaib, keduanya berhenti berkelahi. "ck, gara-gara kau, aku dicap gadis emosian" kesal sakura, ia mengejar naruto. "yak, aku yang harus mengatakan itu, baka. Naruto-kun tunggu" teriak ino.
Sepeninggalan mereka, yang tersisa saling pandang. "apa mereka selalu begitu, jika berurusan dengan naruto" Tanya shikamaru penasaran, "hm, bahkan ada yang lebih parah" ungkap hinata mengangguk. "benarkah? Bagaimana?" Tanya gaara yang juga penasaran.
"untuk apa kalian penasaran dengan para gadis bodoh itu" ujar sai dan sasuke datar. Kedua pemuda Uchiha itu meninggalkan mereka. Hinata dan Tenten cengo dan tidak paham akan situasi itu. "jangan pikirkan mereka berdua, mereka memang seperti itu" suara neji ikut menimpali percakapan mereka. "baiklah, yang lebih parah adalah mereka bahkan pernah terlibat aksi saling bunuh diri" timpal tenten melanjutkan perkataan hinata.
"wuah, benar-benar" ungkap shikamaru tidak percaya. "tapi, aksi itu temari-nee dan naruko tidak mengetahuinya. Hanya kami berdua yang tahu, itupun tidak sengaja" balas hinata. Ketiganya menatap tak percaya, "berarti ungkapan 'cinta itu buta, memang benar adanya'" balas gaara datar.
"yah, begitulah" angguk setuju mereka. "ya sudah, aku dan tenten akan pergi berdua. Kalian duluan saja" ujar shikamaru sambil menarik tangan tenten untuk menjauh dari mereka semua.
"lebih baik kita kembali ke mobil" ajak gaara yang dijawab anggukan setuju dari kedua Hyuga bersaudara itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Heheheh kembali lagi dengan author gaje ini, lanjutan fic it's not too late fall in love, right. Yang sudah mulai dimakan rayap (fix terlalu berlebihan). Hehehe jangan bosan-bosan membaca dan mereview ya teman-teman.
WF out
