Note : (tulisan bercetak miring : flashback)
.
.
Sekumpulan orang berpakaian putih berlari dengan wajah panik ke sebuah ruangan. Tim medis itu dengan segera menangani pasiennya yang tiba-tiba saja mengalami masa kritis.
"Detakan jantungnya melemah dokter." Ucap seorang perawat seraya menatap monitor EKG di dekat ranjang pasien muda tersebut.
Dokter Lee yang sedang melakukan tindakan resusitasi melihat ke monitor EKG yang menunjukan garis gelombang lemah, pertanda jantung pasien berdetak pelan, dan itu kritis.
"Siapkan defibrilator" perintah dokter, dan perawat segera membawa defibrilator, alat kejut jantung. Gel bening dioleskan ke dada pasien. Lalu dokter Lee memberi aba-aba.
"200 joule, all clear?"
"Clear!" Jawab para perawat serentak, pertanda tidak ada seorang pun yang menempel ke pasien maupun ranjang pasien. Dan segera selepas itu kedua bilah alat kejut jantung yang berbentuk seperti sepasang setrika ditempelkan dokter ke dada pria itu. Pria itu kemudian kejang sejenak lalu lunglai. Monitor EKG masih menunjukan garis gelombang lemah, bahkan hampir datar. Dokter itu kembali melanjutkan tindakan resusitasinya.
"360 joule, all clear?"
"Clear!" Lalu pria itu dikejutkan untuk kedua kalinya.
Para tim medis dapat bernafas lega karena detak jantung si pasien kembali normal.
Dokter Lee keluar dari ruangan, disusul beberapa perawat yang telah mengurus pasien di dalam sana. Ia tersenyum tipis pada seorang wanita muda yang tengah menangis di bangku tunggu.
"Yura, sudah... Chanyeol baik-baik saja."
wanita itu bangkit dari duduknya. Ia masih menangis tersedu-sedu.
"Paman, tolong selamatkan adikku."
Yura-wanita itu- berucap sambil terisak. sang paman tersenyum maklum, di usapnya pundak Yura pelan untuk menenangkan wanita itu.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja."
.
.
Can I Touch You?
DandelionLeon present
enjoy it...
.
.
Chanyeol tak tau, dirinya ada dimana beberapa saat lalu. Ia seperti tersedot ke sebuah lubang hitam lalu berada di sebuah tempat yang sangat indah. Dimana hanya ada dia dan beberapa hewan aneh. Namun, sebuah tangisan terdengar olehnya. Seolah menahannya untuk tak pergi lebih jauh. disaat itu pula, sosok Kris-malaikat yang senantiasa menuntun Chanyeol- datang. Menjemputnya untuk kembali ke dunia nyata.
"Ini... Di Seoul bukan?" Tanya Chanyeol seperti orang bodoh. Kris mengangguk dengan wajah datarnya.
"Tentu saja. Kau fikir ini di neraka?"
Chanyeol menatap sosok malaikat itu dengan tajam. Hey! Lelaki di hadapannya itu lebih pantas menjadi iblis dibandingkan menjadi malaikat. Wajahnya begitu mendukung untuk berdiam di neraka, batin Chanyeol.
"kau mengolok-olokku?"
Chanyeol tersentak. Sial, ia baru mengingat jika malaikat itu bisa membaca segala fikirannya.
"Aish! Terserah saja. Aku mau kembali ke tempat Baekhyun."
Kris menahan lengannya. Ia tersenyum sangat tampan.
"Kita akan ke suatu tempat dimana semua teka-teki ini akan terungkap sedikit demi sedikit."
Chanyeol menatap Kris bingung. Walau tak di tampiknya bahwa dirinya sangat penasaran dengan ucapan Kris.
"Maksudmu?"
"Waktumu semakin berkurang. Hanya tersisa beberapa minggu lagi. Kau harus mengetahui siapa kau."
Chanyeol terdiam. Beberapa minggu lagi katanya? Yeah, bisa jadi enam, tujuh, delapan, atau seratus minggu lagi. Chanyeol mencoba tersenyum. Menghapus segala pemikiran negatif yang bersarang di benaknya.
"Bukankah kau bilang semua jawabannya ada pada gadis itu?"
Kris mengangguk.
"Kau memang benar. Dan... Kau hidup atau mati, semua bergantung dengan gadis itu."
.
.
Baekhyun terduduk di meja belajarnya. Ia tersenyum hambar seraya membuka album foto lama. Dimana ada seorang anak perempuan kecil dan dua orang dewasa berbeda gender. itu dirinya dan juga kedua orang tuanya.
"Aku merindukan kalian." Lirihnya pelan walau tak dapat di pungkiri jika suaranya bergetar.
"aku tak tau, jika Chanyeol juga meninggalkanku nanti, bagaimana dengan hidupku?"
Sayup-sayup terdengar teriakan orang-orang. Mobil polisi, ambulance, pemadam kebakaran dan juga beberapa orang dari stasiun televisi turut memadati jalanan Apgeujong. Sebuah kecelakaan beruntun antara truk besar dan dua buah mobil mewah menjadi sesuatu yang mengerikan terjadi saat itu.
Baekhyun melihat semuanya, walau tak begitu jelas. Saat dimana ia di angkat dengan tandu. Namun ayah dan ibunya masih terhimpit di dalam mobil. Bersama mobil yang lain pula. ia hendak berteriak, namun suaranya seakan tercekat di tenggorokannya. Setelah itu, semua gelap.
Tersadar dengan segalanya, gadis itu mulai berjalan. Keadaannya memang tak begitu parah, walau tangannya patah dan kepalanya sedikit terluka. Ia berjalan menuju sebuah kamar, di tuntun dua perawat dan juga pengacara ayahnya. Dirinya sempat tersenyum senang, saat mereka berkata akan menemui kedua orang tuanya. Bahkan Pengacara Kim bilang orang tuanya baik-baik saja.
Namun, yang di dapatinya adalah ayah dan ibunya tertidur di atas ranjang rumah sakit. Tubuhnya di selimuti kain hingga sebatas kepala. Tak ada yang bisa membuat sakit lebih dari itu. Semua terjadi begitu tiba-tiba. Baekhyun terjatuh lemas, lalu semuanya kabur. Semua seakan menghilang dari ingatannya saat ia terbangun.
.
.
Chanyeol menatap kosong raga yang teridur pulas di hadapannya. Tubuh lemah tak berdaya yang jelas mirip dengannya. Kris telah mengatakan jika itu dirinya. Dirinya masih hidup, walau dalam keadaan menyedihkan seperti itu.
"i-ini aku?" Tanyanya lagi.
"Ya, itu dirimu Chanyeol. Tubuhmu sempat mengalami beberapa masalah tadi. Itu lah alasan mengapa kau bisa berada di tempat tadi. Dan_"
CKLEKK...
"Itu kakak kandungmu, Park Yura."
Chanyeol mengamati sosok kakak perempuannya. Alisnya bertaut, mencoba meneliti wajah yang terasa begitu familiar untuknya.
"Apa kau telah mengingatnya Chanyeol?"
Chanyeol menggeleng kaku sebagai jawaban. Kris mendesah pelan, di tepuknya pundak Chanyeol pelan.
"Jangan terlalu di paksakan. Sekarang kau ingin kembali ke tempat Baekhyun? Sepertinya gadis itu membutuhkanmu."
Chanyeol mengangguk sebagai respon. Ia masih menatap raganya dengan bingung sebelum menghilang.
.
.
Baekhyun terbangun dengan mata membengkak. Di liriknya jam di atas meja belajarnya. Pukul sebelas malam. Sepertinya ia menangis hingga ketiduran tadi.
"Sudah bangun?"
Mata Baekhyun terbelalak, diliriknya sosok yang berdiri tak jauh darinya itu. Seulas senyum langsung terpatri di bibirnya.
"Chanyeol!" Pekiknya. Ia berlari, seakan ingin menghambur ke pelukan lelaki itu. Sayang sekali, yang di peluknya hanyalah udara hampa. Kedua makhluk itu tertawa bodoh setelahnya.
"Kemana saja!? Aku mengira bahwa kau telah meninggalkanku selamanya! Hiks..." Teriak Baekhyun diiringi isakan.
Chanyeol tertawa pelan, ia bertindak seolah sedang menghapus air mata gadis itu.
"Dasar! Aku hanya sedang bermain sebentar. Aku bosan disini terus! Dan_ jangan menangis! Aish! Andai saja aku bisa menyentuhmu. Hapus air matamu."
Baekhyun menatap lelaki itu penuh kepedihan. Tak taukah Chanyeol jika dirinya benar-benar hampir kehilangan nafasnya jika saja Chanyeol benar-benar meninggalkannya? Ia juga tak tau mengapa, hanya saja hatinya berkata demikian.
"Makanya, kau minta dispensasi pada malaikat itu agar kau bisa menyentuhku." Canda Baekhyun.
Sayangnya Chanyeol menganggap itu sebuah permintaan. Roh tampan itu mengangguk antusias. Sepertinya tidak buruk juga bukan?
"kenapa matamu, hm?"
Baekhyun menggeleng, mencoba mengusap mata bengkaknya.
"Tergigit serangga." Bohongnya, padahal Chanyeol tau jika gadis itu menangis.
"Jangan menangis. Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi. Siapa yang akan melarangmu Jika aku tidak ada nanti ?"
Baekhyun terhenyak. Ia benci topik ini. Sangat membencinya.
"Kau tidak akan kemana pun." Bisiknya sangat pelan. Bahunya tampak bergetar.
Chanyeol hendak memeluknya, sayangnya lagi-lagi ia hanya menembus tubuh gadis itu. Ia melakukannya berulang-ulang dengan penuh rasa frustasi.
"Bisakah kau menyentuhku? Bisakah aku menyentuhmu? mengapa aku seperti orang gila? Berbicara pada makhluk tak kasat mata seperti ini. Aku ingin memelukmu Chanyeol, namun mengapa tak bisa!? Hiks... Apa kau... Apa kau hanya sekedar delusi ku saja?" pekik Baekhyun dengan kuat.
"Maafkan aku Baekhyun. Aku memang tak dapat menyentuhmu, namun aku ini nyata. Aku ini ada... Aku... Ada untukmu Baek."
Baekhyun menggeleng kuat. Tubuhnya berbalik, meninggalkan Chanyeol dengan raut wajah pedih.
Baekhyun tak mengerti, mengapa tiba-tiba saja ia menjadi sangat sensitif sepeprti ini. Terlebih, itu menyangkut Chanyeol yang nyatanya tak pernah terlalu di gubrisnya dahulu.
"Maaf Yeol." Cicitnya, setelahnya gadis itu berlalu menuju luar apartemennya.
.
.
Baekhyun berjalan dengan tenang menuju kelasnya berada. Tak di pedulikannya beberapa mahasiswi meliriknya tak suka. Ya, itu sudah biasa baginya. Entahlah, rasa iri mereka terlalu besar pada gadis sederhana seperti Baekhyun.
"Cih... Lihat, wajahnya itu benar-benar sombong."
"Dia kira bisa bertahan hidup tanpa bantuan orang lain?"
"Jangan di dengarkan!"
"Sunbae?"
Sehun berdiri tepat di samping Baekhyun. Laki-laki itu tampak manis hari ini dengan kemeja baby blue dan juga rompi rajut berwarna krim.
"Annyeong, kau mau ke kelas? Bersamaku saja, ayo?"
Baekhyun hanya mengangguk kaku, saat Sehun menarik tangannya. Keduanya semakin menjadi bahan tontonan para mahasiswa. Ada yang menatap kesal, iri, ada pula yang tersenyum-senyum sendiri- membayangkan jika dirinya lah yang ada di posisi Sehun atau Baekhyun.
Jantung Baekhyun berdegup, untuk kedua kalinya saat berdekatan dengan Sehun. Namun, sebisanya ia tetap mempertahankan ekspresi datarnya.
Suara krasak-krusuk terdengar saat keduanya memasuki kelas Baekhyun. Gadis itu sempat melirik Luhan yang awalnya melihat ke arahnya, kini malah berbalik- kembali bergosip dengan salah satu temannya.
"Hey, apa Besok malam kau punya acara?"
Baekhyun tidaklah tuli untuk mendengar ucapan Sehun. Telinganya masih sangat bagus untuk mendengar suara dengan frekuensi normal. Kenapa harus berteriak juga? Apakah ia memang berniat semua orang mendengarnya?
"Ah, besok malam ya? Sepertinya tidak ada."
"Bagus jika begitu! Jam tujuh malam, aku menunggumu di depan namsan tower!"
Sebuah ajakan kencan?
Baekhyun mengangguk kaku, tak kuasa lagi pipinya menahan rona merah yang menjalar. Ia benar-benar merasa jantungnya hampir melompat, apalagi ketika lelaki berkulit putih itu mengusap lembut kepalanya.
"Aku pergi dulu."
Luhan menatap ke arah Baekhyun dengan pandangan sulit di artikan. Gadis itu bahkan tersentak saat Sehun tersenyum padanya. Namun, bukan hal itu yang menarik perhatiannya. Tetapi lebih pada sosok yang menatap Baekhyun dengan penuh cinta di sana.
"Dia siapa?" Fikir Luhan. Sosok itu- Chanyeol- menatap ke arahnya. Buru-buru Luhan sibuk sendiri. Seolah-olah tadi ia tak melihat Chanyeol.
"Apa yang kau lihat?"
"Aku tidak melihat apapun!" Ucap Luhan.
Chanyeol terkejut bukan main. Itu artinya, Luhan bisa melihatnya juga?
"Kau... Kau bisa melihatku juga?"
Alis Luhan naik sebelah. Memangnya dia fikir aku buta? Batinnya.
"Tentu saja bisa_ atau jangan-jangan kau... Aish! Jangan katakan jika kau salah satu dari makhluk halus!" bisik Luhan, tak mau jika teman-temannya mengatai dirinya gila.
"Aku memang makhluk halus."
Chanyeol mengira Luhan akan ketakutan begitu ia mengucapkan jika dirinya makhluk halus. Tetapi justru keadaannya berbeda. Perempuan itu justru terlihat biasa saja.
Di lain tempat, Baekhyun memperhatikan Chanyeol dan Luhan dengan alis mengernyit, tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena Luhan terlihat berbisik-mungkin ia tak ingin di katai gila oleh teman sekelas mereka.
Baekhyun hendak berjalan menuju tempat Luhan dan Chanyeol berada. Ia hendak melemparkan senyumnya, namun Chanyeol justru bersikap lain. Ia menatap Baekhyun dengan pandangan kosong lalu menghilang entah kemana.
'dia kenapa?' batin Baekhyun bertanya dengan sikap aneh Chanyeol. Satu hal yang tak di sadarinya jika lelaki itu cemburu padanya.
.
.
To Be Continued
.
.
Annyeong semua. Masih ingat aku? /enggak/ hehehe... Maaf menghilang selama beberapa saat. Sumpah, aku lagi stuck jadi... Ya begitu deh... /apadah/
buat yg masih ingat cerita ini, selamat menikmati. Keep review oke?
Oh iya, Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ya?
masih mau lanjut? RnR jusseyo~~
