Title : Can I Touch You?

Author : DandelionLeon

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun.

Other cast : Oh Sehun,, Xi Luhan, Kris Wu.

Genre : hurt/comfort, romance

rate : T

Warning ! Genderswitch, alur gak jelas, typo nyebar. Dan bagi yg gak suka mending gak usah baca...

BGM : Yiruma - Indigo

.

.

Oke, action!

.

.

Ada hal yang harus Luhan pastikan kebenarannya. Berharap jika dirinya tidak mengidap skizofernia karena selalu menatap makhluk-makhluk tak kasat mata. Ia yakin benar jika sosok lelaki jangkung yang ia lihat tadi memang nyata dalam pandangannya.

Rasa penasarannya semakin besar kala Baekhyun berjalan ke arahnya dan lelaki tadi. Sudah jelas Baekhyun tak mau menyapa siapapun-apalagi menghampiri- di kampus ini. Lalu, ketika sosok itu menghilang, Baekhyun langsung berbalik badan. Dan itu sebuah keanehan bagi Luhan.

"Hey! Tunggu Baekhyun!"

Baekhyun lantas menghentikan laju jalannya. Keduanya telah berada di koridor kampus. Banyak pasang mata menyaksikan mereka, tepatnya interaksi keduanya. Mengingat lagi baik Luhan maupun Baekhyun tak pernah berinteraksi sebelumnya.

"Apa?" Tanya Baekhyun dengan datar.

Luhan meringis. Sikap dingin dan kaku Baekhyun membuatnya enggan untuk mengajak gadis itu berbicara. Sayangnya, rasa penasarannya lebih besar dibandingkan dengan egonya.

"Tidak. Hanya penasaran. Apa kau juga bisa melihat lelaki tadi?"

Baekhyun terkejut, jelas terlihat dari pancaran wajahnya. Ia menatap Luhan dengan wajah tak percaya.

"K-kau bisa melihatnya juga?" Pertanyaannya terdengar tak yakin.

Luhan mengangguk antusias. Ia tersenyum lalu menjabat telapak tangan Baekhyun yang mana membuat gadis berambut coklat itu terheran bukan main.

"Aku tak menyangka jika ada orang yang senasib denganku. Bukankah melihat makhluk-makhluk 'lain' itu menyebalkan, Baek?"

Luhan tahu, dirinya sok akrab dengan Baekhyun. Baekhyun tampak tak nyaman dengan sikapnya itu.

Buru-buru dilepasnya jabatan tangan mereka.

"kita tidak sama. Aku hanya bisa melihat Chanyeol." Lirih Baekhyun.

"Benarkah? Bahkan kau tau siapa nama dia? Apa kau juga bisa berbicara dengannya?" Tanya Luhan beruntun.

Baekhyun hanya balas mengangguk sekenanya.

"Sepertinya begitu. Ah, aku harus pergi. Aku ingin menyelesaikan sesuatu. Maaf, aku tinggal Luhan-ssi."

Belum sempat gadis kelahiran China itu menjawab, Baekhyun telah berlalu begitu saja.

Luhan lantas tersenyum dengan manis.

"Setidaknya, kau bukan gadis menyebalkan seperti yang diceritakan orang-orang, Baekhyun-a. Kau begitu kesepian." Gumamnya.

.

.

Cakrawala tertutup awan hitam. Rintik-rintik hujan berjatuhan menyentuh bumi. Wanita itu memperhatikan cuaca tak bersahabat melalu kaca jendela.

Hujan, salah satu hal yang ia benci karena dapat mengganggu aktivitasnya. Namun, Hujan adalah sesuatu yang disukai lelaki di sebelahnya. Lelaki yang masih terbaring dengan bantuan alat kedokteran. Lelaki yang telah teridur selama beberapa bulan lamanya, bahkan hampir setahun. Lelaki itu, adik kesayangannya.

"Kau menyukainya, Chan? Cepatlah bangun, agar kau bisa melihat hujan yang turun sore ini."

Wanita itu tersenyum, namun matanya turut basah. Seperti suasana sore kala itu.

.

.

Sosok Chanyeol menatap butiran yang jatuh dari angkasa itu dengan senyum tipis. Sayangnya, titik-titik air itu tak dapat menyentuh wajahnya seperti dulu. Ia tersenyum pedih.

"Berhenti melakukan hal bodoh!"

Lelaki itu terlonjak saat suara yang hadir tiba-tiba itu mengejutkannya. Ia mencibir pelan, merasa terganggu karena kehadiran sosok itu.

"Kau lagi, malaikat sok tampan!"

"Kenapa? Kau tidak senang?"

Kris-sosok yang disebut sebagai malaikat pengantar manusia menuju alam lain- itu ikut duduk di sebelah Chanyeol. Keduanya menatap jalanan daerah Apgeujong dibawah sana yang terlihat lengang akibat hujan. Masih berdiam dengan keheningan yang mereka ciptakan. Hingga setelahnya, Kris memutuskan untuk memulai pembicaraan.

"Kau mulai mengingat sedikit memorimu, benar?"

Chanyeol mengangguk. Hujan, salah satu hal yang paling ia sukai saat dirinya masih dalam keadaan sadar dulu. Ia mengingatnya.

"Baguslah, setidaknya hal itu bisa sedikit membantu."

Chanyeol mengangguk- lagi. Ya, bagus. Mungkin dengan demikian ia akan sadar, atau justru mati? Setidaknya walaupun mati, Chanyeol sudah mengetahui apa hubungannya dengan Baekhyun dan keadaannya yang sekarang.

"Kris hyung, bolehkan aku bertanya?" Tanya Chanyeol yang dibalas dengan anggukan Kris.

"Jika aku mati nanti, apa Baekhyun akan merasa kehilangan?"

Geez! Jika saja Kris bisa mengumpat, ia akan melakukannya.

"Pertanyaan apa itu? Mana ku tau. Memangnya aku ini 'kata hatinya' Baekhyun?"

Chanyeol terkekeh konyol. Ia bangkit dari acara duduknya. Setelahnya, lelaki itu memutuskan untuk pergi. Namun sebelumnya, Kris sempat berujar padanya sebelum sosok itu juga ikut menghilang.

"Hanya mengingatkanmu Chanyeol, waktumu tidak banyak."

.

.

Baekhyun mematut dirinya di depan cermin. Jeans pensil dongker, kemeja biru muda dan jaket tebal berwarna cream membuat bibirnya mengerucut. Sangat biasa jika dirinya berpakaian seperti itu jika dalam rangka berkencan. Tetapi, cuaca dingin di luar sana membuat Baekhyun mau tak mau berpakaian sedanya. Ia memakai topi rajut krimnya untuk menutupi helaian rambut coklatnya yang tergerai.

"apa-apaan dengan pakaian jelek itu?"

Baekhyun menoleh ke arah sumber suara. Chanyeol berdiri dengan melipat tangannya. Baekhyun tersenyum, padahal seharusnya ia marah kan?

"Chanyeol! Kemana saja kau satu harian kemarin? Aku mencarimu!" Rajuknya dengan lucu.

Perasaan Chanyeol berdesir hangat. Membuat senyumnya mau tak mau ikut berkembang.

"Kau merindukanku?" Godanya.

"Tentu saja!"dan jawaban Baekhyun itu sama sekali tidak membantu! Chanyeol benar-benar terenyuh mendengarnya.

"Ck! Baiklah nona muda, tidak ada waktu untuk berdebat. Sekarang pergilah ke acara kencanmu."

"Kau juga ikut!" Pekik Baekhyun.

"Apa? Ikut? Memangnya aku ini obat nyamuk? Tidak mau! Aku banyak urusan!"

"Baiklah! Dasar sok sibuk! Aku pergi dulu."

Chanyeol tersenyum tipis. Menatap kepergian Baekhyun dengan sebuah senyuman namun sarat akan kepedihan di dalamnya.

"Ya, aku tak ingin ikut karena perasaanku pasti hancur. Lagi pula, aku tidak bisa mengklaim dirimu untukku. Karena aku tidak tau bagaimana masa depanku nanti, apakah bakal hidup atau mati."

.

.

Baekhyun berjalan menuju tempatnya dan Sehun berjanjian. Sehun sepertinya telah datang lebih awal. Ia merasa gugup bukan main. Ayolah! Ini kencan pertamanya, bersama lelaki yang ia kagumi pula.

"Maaf, lama menunggu sunbae."

Sehun tersenyum manis. Ia menatap penampilan Baekhyun yang menurutnya sangat manis. Biasa, tidak seperti wanita kebanyakan yang memilih berpakaian dengan heboh saat bertemu dengannya.

"Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai. Sekarang, bagaimana jika kita membeli kopi? Ini sangat dingin."

"Baiklah! Ayo!"

Baekhyun mencoba bersikap biasa saja. Seolah ia tak memiliki rasa walau sedikitpun dengan Sehun. Keduanya menghabiskan waktu bersama. Menonton atraksi. Membeli kopi dan beberapa camilan lalu akhirnya keduanya duduk di pinggiran sungai Han. Menunggu atraksi air mancur beberapa menit lagi.

"Indah bukan?"

Baekhyun mengangguk sekenanya. Tak menyadari jika lelaki disebelahnya menatapnya dalam dengan sejuta arti.

"Tetapi lebih indah jika kau tesenyum."

Baekhyun tersentak, menatap Sehun yang nyatanya tengah tersenyum menatapnya. Jantungnya tak dapat di kontrol lagi sekarang. Ia lantas membuang wajahnya untuk menghindari tatapan Sehun.

Ia tak menyadari, jika sejak tadi Chanyeol terus mengikutinya. Dan ucapan Sehun mampu membuat makhluk tak kasat mata itu meradang.

"Sial!" Gumamnya. Ia hendak berjalan kesana, sayang sekali pemandangan di depannya membuat Chanyeol berdiri kaku. Saat Sehun mencium bibir Baekhyun dengan pelan, saat itu pula rasanya Chanyeol hancur berkeping-keping. Andai ia di posisi Sehun, ia pasti dapat menyentuh Baekhyun sesukanya. Ya, semua hanya andai-andai yang tak berarti.

"S-sunbae?" Baekhyun menatap Sehun kaget. Pipinya telah berubah warna layaknya tomat matang. Sedangkan Sehun, lelaki itu tampak biasa saja. Ia tersenyum simpul lalu mengusap puncak kepala Baekhyun. Sehun sadar jika tindakan spontannya membuat Baekhyun bingung.

"Maaf Baek. Aku hanya... Bercanda."

"A-aku tidak mengerti."

Baekhyun bangkit dari posisi duduknya. Ia berjalan meninggalkan Sehun yang berusaha meneriaki namanya. Baekhyun benci ini. Ia tak munafik jika dirinya senang karena mendapat ciuman dari senior yang diam-diam ia suka. Namun tindakan Sehun tadi membuatnya sadar jika Sehun hanya ingin mempermainkannya. Apalagi ucapannya. Seolah sebuah ciuman hanyalah hal sepele bagi lelaki itu. Baekhyun berjalan pulang dengan hati getir.

"Seharusnya aku sadar siapa diriku. Lelaki itu hanya ingin mempermainkanku saja."

.

.

Chanyeol menatap Baekhyun bingung. Pasalnya perempuan kecintaannya itu berwajah murung saat tiba di rumah. Padahal tadi bukankah ia baru saja mendapat ciuman dari orang yang ia suka? Fikirnya.

"Kau kenapa?"

Baekhyun hanya menggeleng seadanya. Chanyeol tau jika Baekhyun menangis, gadis itu tampak bergetar.

"Aku tau, semua lelaki sama saja. Mereka hanya memanfaatkan kepolosanku. Mereka brengsek! Mereka..."

Umpatan gadis itu terhenti dengan isakan. Chanyeol mendekatinya. Mencoba menyentuh Baekhyun dan sayangnya gagal lagi.

"Tidak semua Baek, tidak semua."

"Hiks... Kenapa Sehun sunbae menciumku? Kenapa dia mengatakan itu hanya candaan belaka? Aku terlalu bodoh."

"Dia mengatakan itu?" Tanya Chanyeol dengan nada penuh kekesalan.

"lupakan saja, Yeol..."

"Lupakan? Dia menyakitimu! Dan aku membencinya. Aku membenci gadisku tersakiti!" Tanpa sadar Chanyeol meninggikan suaranya. Ia melihat Baekhyun menatapnya tak percaya. Gadisku?

Sedangkan Chanyeol hanya bisa terdiam dengan ucapannya sendiri.

"A-apa?"

"Apanya yang 'apa'? Sudahlah! Lebih baik kau tidur sana! A-aku ada urusan!"

"Ha? Tapi... Hey! Chanyeol! Jangan menghilang lagi! Yak!"

Dan begitulah, Chanyeol berhasil menghilang untuk melarikan diri. Lelaki itu juga bingung dengan ucapannya, mengapa ia senekat itu? Ayolah Chanyeol, kau itu hanya roh! Roh yang tidak tau bagaimana masa depannya. Hidup atau mati. Mengapa kau berani berucap seperti tadi?

"Astaga! Kenapa mulut bodohku ini bisa keceplosan?" Runtuknya.

"Kau memang bodoh! Dasar payah!"

"Aish! Malaikat sok tampan ini lagi. Apa kau sudah berubah menjadi pengawasku sekarang?"

Kris tertawa renyah. Chanyeol itu jika berbicara memang suka seenaknya.

"Terserahku. Dan aku memang pengawasmu."

"Hey, apa aku boleh meminta sesuatu?"

Kris mengangguk dengan pelan.

"Tentu saja, asalkan itu tidak macam-macam."

Chanyeol terlihat menimbang-nimbang permintaannya. Namun dengan mantap ia berujar.

"Bisakah aku dan Baekhyun saling bersentuhan? Hanya di beberapa kesempatan saja."

Diam. Kris tak memberi respon, membuat Chanyeol berfikir jika Kris takkan menuruti permintaannya. Namun, anggukan disertai senyuman manis malaikat itu membuat Chanyeol ikut mengembangkan senyumnya.

"Asal dengan satu syarat."

"Apa?"

"Kau hanya bisa menyentuhnya saat dia benar-benar membutuhkan keberadaanmu."

.

.

TBC

.

.

Selamat malam minggu. Apa kabar semua? Masih ingat dengan FF ini? Nyahaha... Author comeback dengan bawa FF ini. Makin ngebosenin kah?

Masih ada yang minat? Kalo ada review pliss... Yg siders tolong tobat deh :'v ... Fufufu...

sekian dulu dari aku, mau tanya2 silahkan ke PM.

makasih buat yg udah review di chap sebelumnya.

Next? Atau udahan aja? ... Review jusseyooo...