Title : Can I Touch You?
Author : DandelionLeon
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun.
Other cast : Oh Sehun, Xi Luhan, Park Yura(Chanyeol's sister) , Kris Wu.
Genre : Romance, Supernatural dan dibumbui sedikit hurt juga drama picisan /uhhuk/
Rate : T aja
Pairing : Chanbaek, slight! Hunbaek
Disclaimer : pemeran disini milik Tuhan dan emak bapak mereka. Cerita milik saya. Jika ada yang ngerasa ini mirip 49 hari atau MIMI, maaf, aku dapetin ide ini bukan dari dua drama itu. Aku dapat ide ini pas ngelirik abang ganteng tetangga sebelah /ga nyambung/ jadi, IDE INI MURNI MILIK AKU. Jika ada kesamaan, itu kebetulan semata.
Warning! GS for Uke. Alur maju-mundur. Tiap kata-perkata dapat membuat anda mual atau kejang-kejang /ga/. Dan saya gak terima bashingan menjatuhkan.
P.S : yang mau ngebashing, harap login dengan akun supaya kita bisa bicara 'baik-baik' di PM. Terima kasih /senyum sejuta won/
.
.
BGM : Yiruma - Memories in my eyes
.
.
Oke, happy reading guys!
.
.
Angin bertiup kencang sore itu. Mendung tampak menguasai langit tatkala beberapa saat setelahnya rintik hujan berlomba-lomba turun. Baekhyun menutup jendela kamarnya disaat hembusan angin terasa begitu kencang dan dingin. Gadis itu bersembunyi di balik selimutnya.
"Baek? Kau baik?"
Baekhyun menoleh ke arah sumber suara. Itu Chanyeol, lelaki itu berdiri di pinggiran ranjangnya dengan raut wajah khawatir luar biasa. Baekhyun balas menggumam disertai senyuman tipis. Seolah mengatakan jika ia baik-baik saja padahal nyatanya tidak sama sekali.
Baekhyun itu takut akan gelap, petir dan hujan. Semua hal buruk akan bertengger di fikirannya jika berhubungan dengan tiga hal itu.
Chanyeol menyadari getaran kecil ditubuh Baekhyun. Wajah gadis itu terlihat pucat pula. Ia mendekat, walau tak bisa membantu sama sekali. Setidaknya, Baekhyun bisa merasa aman jika ada Chanyeol disisinya.
"Tenanglah, jangan takut. Aku ada disini, okay? Hujan tidak seburuk yang kau fikirkan." Ucap Chanyeol mencoba menenangkan.
Baekhyun bangkit dari acara berbaringnya. Ia duduk bersandar di kepala tempat tidur lalu menarik selimutnya sampai leher.
"Hujan itu mengerikan, Yeol. Aku selalu merasa takut mendengar suaranya."
Chanyeol tersenyum tampan. Ia mendekati tubuh Baekhyun. Duduk disebelah gadis itu.
"Tetapi bagiku tidak sama sekali. Hujan adalah hal yang paling menyenangkan, ku rasa. Seakan penatku luruh jika melihat rintik-rintik hujan. Dan juga, berkat hujan aku bertemu dengan_"
Alis Chanyeol berkerut. Sebuah kilas memori itu merasuki fikirannya. Hari hujan, payung berwarna merah, gadis berambut coklat yang duduk meringkuk menahan tangis di halte bus. Astaga! Ini hal baru yang ia ingat kembali. Namun, gadis itu masih samar di dalam ingatannya.
"Bertemu dengan siapa Yeol?" Tanya Baekhyun membuyarkan lamunan Chanyeol.
"Ah? Aku tidak tau itu siapa, tetapi sepertinya seorang gadis. Lupakan saja Baek!" Ujar Chanyeol tertawa renyah.
"Dasar aneh!" cibir Baekhyun setelahnya.
.
.
Baekhyun melahap makan siangnya di sudut kantin kampus dengan tenang. Seolah tak peduli jika dirinya tak memiliki teman. Toh, ada Chanyeol yang duduk dihadapannya sambil tersenyum. Menatapnya intens hingga membuat Baekhyun salah tingkah.
"A-apa yang kau lihat?" Bisiknya, takut-takut jika berucap keras, orang-orang pasti mengatakannya gila.
"Dirimu, kau cantik Baekhyun."
Katakanlah dirinya konyol karena pipinya bersemu merah hanya karena ucapan penuh rayu dari makhluk halus seperti Chanyeol.
Dengan gugup, ia meraih minumnya. meneguk air tersebut dengan rakus, seolah takkan bisa minum lagi esok hari.
Chanyeol menyeringai jahil, ia tau jika Baekhyun sedang gugup saat ini.
"Hey, bolehkan aku duduk disini?"
Baekhyun menatap Luhan yang berdiri dengan nampan makanannya. Buru-buru ia mengangguk, berusaha mengusir rasa gugupnya. Jika hanya berdua dengan Chanyeol, ia pasti terus di goda oleh makhluk itu.
"Woah! Kau benar-benar beruntung bisa berdekatan dengan roh tampan seperti ini. Tidak sepertiku, hanya dikelilingin makhluk-makhluk jelek saja!"
Ocehan Luhan membuat Chanyeol melotot kaget.
Dia bisa melihatku? Begitulah tanyanya.
"Jangan terkejut. Aku memang bisa melihat makhluk tak kasat mata. Perkenalkan! Aku Luhan!"
Chanyeol masih menganga di tempatnya. Ia mengangguk dan balas tersenyum seadanya.
"Chanyeol." Ucapnya pelan.
Bergabungnya Luhan membuat suasana hening sesaat. Baekhyun asyik melahap makanannya dengan khidmat. Sedangkan Luhan, gadis itu juga menikmati makanannya, namun sesekali ia akan melirik ke arah Chanyeol yang terdiam dengan pandangan ke luar jendela.
"Hey, wajahmu itu seperti tidak asing."
Chanyeol dan Baekhyun sontak menoleh ke arah Luhan dengan pandangan bertanya. Gadis keturunan China itu tersenyum, menatap keduanya secara bergantian.
"Maksudmu, aku atau_"
"Chanyeol. Aku merasa pernah melihat wajahnya sebelum ini."
Chanyeol berfikir sejenak. Dalam wujudnya yang sekarang, dirinya tak pernah merasa melihat Luhan. Jadi, apa mungkin gadis itu pernah bertemu dengannya dalam wujud manusia?
"Kau, pernah melihatku dimana?" Tanya Chanyeol datar, namun tak menampik jika dirinya penasaran setengah mati. Mungkin gadis itu ada hubungannya dengan kehidupannya di waktu lalu.
"Aku tidak begitu ingat. Lupakan saja, sepertinya aku salah orang."
Chanyeol mengernyit, ia rasa Luhan tau akan sesuatu. Dirinya harus menanyakan perihal ini pada Kris, harus! Mengingat waktunya tidak banyak lagi, Chanyeol tak akan menyia-nyiakan ini.
"Aku permisi dulu."
Mata Luhan melotot horror melihat sosok Chanyeol hilang secara tiba-tiba. Seolah tubuhnya berubah menjadi partikel halus dan terbang ditiup angin. Baekhyun yang menyadari wajah shock Luhan hanya mampu menahan geli dihatinya.
"Jangan terlalu difikirkan. Dia memang seperti itu. Pergi dan datang sesuka hatinya."
"H-Hebat sekali." Gumam Luhan penuh takjub.
"Hey, Baekhyun?"
Baekhyun membeku sejenak kala melihat sosok yang baru saja menyapanya itu. Sementara Luhan hanya menampakkan raut wajah datar.
Sosok itu menggaruk tengkuknya kaku. Merasa tak enak akan kejadian sebelumnya. Ia hanya takut Baekhyun masih menyimpan amarah terhadapnya.
"S-Sehun sunbae."
"Bolehkah aku bergabung?"
Baekhyun mengangguk pelan. Matanya tak sengaja melirik Luhan yang terlihat tidak nyaman atas kehadiran Sehun. Lelaki berkulit pucat itu terlebih duduk di sebelah Luhan. Alis Baekhyun mengernyit tak paham.
"Omong-omong, soal kejadian beberapa waktu lalu aku ingin meminta maaf. Maaf, atas kelancangan sikapku."
Hening. Baekhyun tak mampu membalas tiap kata yang Sehun ucapkan. Sejujurnya, Baekhyun masih merasa kesal. Teringat dengan ucapan Sehun yang berani mengatakan ciumannya sebuah candaan. Namun, melihat ketulusan Sehun, gadis itu urung untuk berdiam diri saja. Ia mengangguk lalu tersenyum tipis, mencoba meyakinkan jika ia telah memaafkan Sehun.
Deheman Luhan membuat keduanya yang semula bertatapan dalam menjadi mengarahkan pandangan mereka ke gadis itu. Luhan tampak sedang meminum air mineralnya dengan santai.
"Sepertinya kehadiranku akan mengganggu obrolan kalian. Aku permisi dulu."
Sehun membalas dengan deheman pelan, tanpa berniat sama sekali pun untuk menatap sosok Luhan yang berjalan melewatinya. Baekhyun mencoba menahan gadis itu, tetapi untuk apa? Toh, ia merasa adanya Luhan atau tidak akan sama saja.
"Luhan, aku tidak bermaksud untuk mengusirmu." Ucap Baekhyun datar, tapi Luhan tau jika Baekhyun merasa tak enak akan itu.
"Tidak apa Baek. Lagipula aku harus ke perpustakaan untuk meminjam buku. Aku permisi dulu."
"Baiklah, hati-hati."
Seperginya Luhan, Baekhyun memutuskan untuk menyudahi acara makannya. Nasinya tersisa sedikit lagi, tetapi nafsu makannya seakan lenyap karena kehadiran Sehun. Bukan karena tak suka, namun lebih ke gugup.
"Baekhyun? kau mau kemana?" Tanya Sehun heran.
"Aku sudah selesai, sunbae. Aku akan ke kelas, pelajaran dimulai lima menit lagi." Ujar Baekhyun bohong.
"Benarkah? Sayang sekali. Nanti, kau pulang jam berapa?"
"Jam empat. Ada apa sunbae?"
Sehun terlihat meniman-nimang ucapan yang akan ia lontarkan. Ia mengangguk pelan lalu tersenyum hangat seperti biasanya.
"Kita pulang bersama. Lalu, bisakah kau temani aku?"
"Kemana?" Tanya Baekhyun bingung.
"Mengunjungi salah satu teman di rumah sakit."
Awalnya Baekhyun ingin menolak. Namun melihat raut wajah memelas Sehun, ia jadi tak tega. Akhirnya Baekhyun mengangguk.
"Baiklah, kita bertemu di gerbang utara."
.
.
Chanyeol menatap Kris dengan wajah penuh harap. Ia tau, sebenarnya tak boleh bertanya pada Kris tentang masa lalunya. Malaikat itu pasti akan menyemprotnya dengan kata-kata seperti_
'Aku tak berhak memberi tahumu, kau harus mengingatnya sendiri.'
Kurang lebih seperti itu. Namun kali ini, Kris juga terlihat kebingungan sendiri atas pertanyaan Chanyeol sebelumnya.
"Luhan? Aku tidak berfikir jika gadis itu pernah dekat denganmu Chanyeol."
Chanyeol mendesah kasar. Ia berharap jika Luhan memang mengenalnya, jadi dirinya akan mengetahui bagaimana masa lalunya ketika ia sadar. Apakah dirinya memang benar ada hubungan dengan Baekhyun? Atau, bagaimana bisa dirinya bisa kecelakaan hingga menyebabkan tubuhnya koma dan berdiam selama beberapa waktu lamanya di rumah sakit.
"Sial! Ini akan sulit. Belum lagi, Baekhyun sama sekali tak pernah menunjukkan jika ia mengingat sesuatu yang berhubungan denganku!" Gerutuan Chanyeol membuat Kris tersenyum misterius. Ia menepuk pundak Chanyeol.
"Akan ada waktunya, Chanyeol."
"Tapi itu akan lama Kris! Sementara kau bilang waktuku tidak akan lama lagi!" Teriak Chanyeol, nyaris frustasi.
Hidupnya di ambang kematian. Masa depannya buram. Entahlah ia akan hidup, atau justru mati tanpa mengingat apapun dan siapapun. Terlebih, rasa cintanya pada Baekhyun yang akan sia-sia begitu saja. Chanyeol benar-benar bingung. Maka, dengan pemikiran gilanya, ia menghilang. Ia akan pergi ke suatu tempat.
Kris mencoba menahannya tetapi terlambat. Sepertinya Chanyeol telah pergi lebih dulu sebelum Kris menyadari itu.
.
.
Yura masih setia duduk disebelah ranjang adiknya. Senyumnya tak luntur, senyum penuh kesedihan. Wajah Chanyeol tampak kurus. Chanyeol hanya menerima asupan gizi dari cairan infus atau melalui selang yang berada di mulutnya. Tampak sangat menyedihkan.
Gadis berusia 25 tahun itu tak menyadari tentunya, jika sejak tadi roh Chanyeol ada disana. Berdiri disebelahnya sambil tersenyum pahit.
"Noona, Jangan menangis." Ucap Chanyeol, seolah kakaknya itu bisa mendengar segala ucapannya.
Yura menangis terisak. berharap tangisannya dapat menyadarkan Chanyeol.
Chanyeol frustasi bukan main. Entahlah pemikiran darimana, sosok roh itu menaiki ranjang. Berbaring, mencoba masuk ke dalam raganya. Tetapi, ia sama sekali tak merasakan apa-apa. Tubuh itu seolah menolak rohnya untuk masuk.
"Sial! Tubuh, ayolah! Terima kehadiranku!" Teriaknya penuh frustasi.
Chanyeol merasa frustasi dan emosi bukan main. Ia lantas pergi berlalu. Setelah sebelumnya berucap maaf untuk Yura.
"Maaf Noona, sepertinya belum saatnya aku kembali." Ucapnya lalu menghilang seperti di telan angin.
Yura mengusap air matanya dengan cepat saat menyadari ketukan pintu di luar sana. Dengan cepat ia melangkah mendekati pintu. Ia membukanya lalu sedikit mengernyitkan dahinya saat melihat dua sosok dihadapannya.
"Sehun? Kenapa baru berkunjung? Sudah seminggu kau tidak kemari." Tanya Yura.
Sehun tersenyum manis. Ia menyerahkan sekeranjang buah-buahan untuk Yura. Setidaknya walau Chanyeol tak bisa memakannya, keluarga Park bisa menikmati suguhan yang ia bawa.
"Maaf Noona, jadwal kampus begitu padat akhir-akhir ini. Belum lagi aku harus mengurus organisasi kampus yang memusingkan itu."
"Baiklah, baiklah. Alasanmu itu membuatku terharu. Ayo masuk, dia telah menunggumu. Dan, kekasihnya Sehun? Ayo masuk?" Ucap Yura diakhiri dengan senyuman manis.
Gadis yang Yura sebutkan sebagai 'kekasih Sehun' itu menggeleng dengan wajah merona.
"A-aku bukan kekasih Sehun sunbae, eonnie. Ah! Ini, aku membawa bunga." Gadis itu menyerahkan sebuket bunga mawar putih.
"Maaf, aku hanya bisa membawa itu. Ku harap, kehadiran bunga itu bisa membawa sedikit keindahan di ruangan ini." tuturnya sopan.
"Terima kasih. Ini lebih dari cukup kurasa. Seharusnya kau tidak perlu repot. Ayo masuk?"
Sejujurnya, Yura masih merasa penasaran dengan sosok si gadis. Ia merasa pernah melihatnya_entah dimana itu. Yang jelas, gadis itu seperti familiar.
Ketiganya duduk di sofa putih tak jauh dari ranjang Chanyeol berada.
"Bagaimana keadaannya noona? Apa ada perkembangan?" Tanya Sehun. Yura menggeleng sedih.
"Tidak ada Sehun. Tetapi, setidaknya itu tak mengkhawatirkan. Mengingat sebelum ini, dia mengalami masa kritis lagi."
Sehun tertunduk sedih. Ia merasa sakit mendengarnya. Chanyeol adalah sahabatnya sedari ia berada di sekolah dasar. Lelaki itu sudah seperti hyungnya sendiri.
Gadis yang duduk di sebelah Sehun masih bertanya-tanya dengan siapa sosok yang terbaring dengan bantuan alat medis di ujung sana. Ia mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Namun urung, entah karena apa. Gadis itu tampak gelisah dalam duduknya.
"Kau kenapa, Baekhyun?"
Baekhyun? Yura tersentak pelan. Nama itu, seperti pernah ia dengar. Perempuan itu memperhatikan wajah Baekhyun dengan seksama.
"T-tidak ada. Hanya saja, yang terbaring itu siapa?" Tanyanya polos.
"Dia adikku, dan dia sahabat Sehun." Terang Yura disertai senyuman.
"O-oh, begitukah? Tetapi, jika boleh bertanya lagi. Dia kenapa?"
Baekhyun tak mengerti pada dirinya sendiri. Sebelumnya, gadis itu telah menjadi apatis untuk siapapun semenjak ia hidup sendirian. Tetapi, untuk kali ini ia merasa begitu penasaran. Entah untuk apa.
"Adikku mengalami kecelakaan setahun lalu. Sudah setahun kurang lebih ia koma."
Penjelasan Yura membuat Baekhyun bungkam. Kecelakaan, ia jadi mengingat samar-samar tentang bayangan masa lalunya. Masa lalunya yang telah ia coba untuk dilupakannya. Gadis itu menggeleng pelan, pertanda ia bingung. Baekhyun tak bisa mengingat itu.
"Maaf." Cicitnya pelan.
"Tidak apa-apa Baekhyun. Nah, aku akan meletakkan bunga ini di samping ranjangnya. Dia pasti menyukai ini. Kau tau? Adikku memang menyukai mawar putih."
Mata Baekhyun memperhatikan bagaimana Yura tersenyum. Ia takjub terhadap perempuan cantik itu. Walau diliputi kesedihan, ia masih bisa tersenyum manis.
"Benarkah? Aku juga menyukainya." Ucap Baekhyun, tak menyadari senyumnya terkembang.
Sehun memperhatikan interaksi keduanya. Ia tersenyum, lelaki itu memilih untuk berjalan mendekati ranjang Chanyeol. Menatap miris keadaan sahabatnya yang terlihat begitu menyedihkan.
"Hey! Cepatlah bangun! Dia ada bersamaku sekarang. Kau tidak mau melihatnya?"
tak ada sahutan tentunya. Hanya suara dari monitor EKG yang terdengar, atau suara Yura dan Baekhyun yang mengobrol tak jauh darinya.
"Hey Baekhyun, ayo kemari. Sapalah sahabatku." pinta Sehun. Ia menarik lengan kurus Baekhyun untuk berdiri disebelahnya.
Baekhyun menatap sosok itu lekat-lekat. jantungnya seakan berhenti terpompa. Mata sipitnya membola dengan lebar. Sungguh, reaksi yang diluar ekspetasi Sehun sebelumnya. Baekhyun terlihat mengenali Chanyeol? Fikirnya heran.
Baekhyun yakin, yakin sekali mengenali wajah itu. Tubuhnya seakan melemas.
"Cha-Chanyeol?" bisiknya tak percaya.
Jadi, sosok raga Chanyeol ada disini? Berarti lelaki itu masih hidup bukan? Hati Baekhyun seolah diselimuti kelegaan, namun terselip kesedihan juga. Ia tak mengerti, kenapa ia merasa begitu dekat dengan sosok itu?
.
.
TBC
.
.
Aku gak pernah kefikiran buat vakum-in cerita ini karena sejujurnya aku juga tertarik dengan ceritaku yang ini. /gaada yang nanya woy/
Maaf, baru update sekarang. Aku memang jarang banget update. Kesempatan aku buat ngetik itu susah banget. Mengingat tugas udah menumpuk. ujian, hapalan, presentasi, argghhh.. Semua nyita waktu.
Apalah dayaku wahai pembaca setia /digunduli/ hehehehe...
Makasih buat yang minat dengan cerita absurd aku ini. Salam kenal buat pembaca baru. Dan silent readers, pengagum rahasia aku /plakk/
apakah kalian penasaran dengan chapter selanjutnya?
Review dulu dong, hahaha...
.
.
