Title : Can I Touch You?
Author : Dandelionleon
Cast : PCY, BBH, OSH, Luhaen, Kak Yoora, Kris, dll
Genre : Supernatural, fantasi, romantic, lil'bit of humor and hurt.
Rate : T
Warning! GS (gender switch) for uke. Don't like, Don't read. Dilarang copy cat cerita ini tanpa seizin penulis asli!
.
.
okay... Here we go!
.
.
"Cha-Chanyeol?"
Sehun mengerutkan keningnya dalam ketika mendengar Baekhyun menyebut nama Chanyeol. Setahunya, Baekhyun tak pernah mengenal Chanyeol. Atau mungkin ada sesuatu yang tidak ia ketahui sebelum ini?
Lain halnya dengan Yura. Perempuan itu masih menatap Baekhyun lekat-lekat. Ia yakin, gadis itu ada hubungannya dengan Chanyeol.
"Kau mengenal Chanyeol?" Tanyanya hati-hati.
Baekhyun menoleh pelan. Menatap Yura dengan pandangan kosong lalu mengangguk sekenanya.
"Kau mengenalnya dimana?" Lagi, Yura bertanya penuh penasaran. Selama ia hidup, dirinya tak pernah melihat Chanyeol membawa teman perempuannya ke rumah.
Kali ini Baekhyun yang tersentak. Mengenalnya dimana? Tak mungkin jika ia mengatakan mengenal Chanyeol dalam wujud 'lain' bukan? Bisa-bisa baik Sehun atau Yura menertawai ceritanya.
"Di suatu tempat." Jawab Baekhyun singkat.
Yura tak lagi bertanya apa-apa, ia takut Baekhyun akan risih karenanya.
"Sehun sunbae, bolehkah aku pulang?"
Sehun menatap Baekhyun penuh tanya. Secara mendadak Baekhyun meminta pulang dan itu aneh menurutnya. Namun, Sehun hanya bisa mengangguk menyetujui. Melihat wajah pucat Baekhyun dirinya menjadi tidak tega.
"Noona, kami permisi dulu ne?"
"Ah? Kenapa buru-buru sekali?" Tanya Yura dengan mimik wajah tak rela.
Baekhyun tersenyum seadanya.
"Sepertinya aku kurang enak badan. Lain kali aku akan berkunjung lagi, eonnie."
"Baiklah jika begitu. Aku akan menunggu kedatanganmu lagi, Baekhyunnie."
"Kami permisi, noona."
"Berhati-hatilah."
Yura mengantarkan kepergian Sehun dan Baekhyun sampai ke depan pintu. Setelahnya, wajahnya kembali serius. Ia memikirkan dimana dirinya pernah melihat wajah gadis itu. Lama bergelut dalam fikirannya, sebuah petunjuk masuk ke dalam otaknya.
.
.
Baekhyun terduduk lemas diatas ranjangnya. Chanyeol... Lelaki itu. Ternyata dia adalah sahabat Sehun? Kenapa takdir menjadi saling terkait begini?
"Hey! Baek? Kau tau? Aku baru saja bertemu seorang anak kecil, dia berbicara denganku! Hahaha, aku senang sekali dia bisa melihatku."
Suara itu menggema, Baekhyun terlonjak disaat sosok Chanyeol tiba-tiba saja sudah ada disebelahnya. Perempuan itu menatap Chanyeol antusias, seolah-olah dia begitu tertarik dengan topik yang Chanyeol ceritakan.
"Benarkah?! Lalu bagaimana? Dia tau kau itu hantu?"
Jika saja Chanyeol bisa memukul kepala Baekhyun, ia akan melakukannya sekarang. Dia menatap Baekhyun datar, gairahnya ingin bercerita seolah lenyap begitu saja.
"Pertanyaanmu tidak keren. Sungguh."
Baekhyun terkekeh pelan. Diam-diam Chanyeol mengulas senyum saat melihat perempuan itu terkekeh seperti itu. Wajahnya benar-benar cantik.
"Kau cantik saat tertawa begitu." Gumamnya tanpa sadar. Tangannya menumpu wajahnya, matanya menatap Baekhyun dalam hingga membuat perempuan manis itu berdehem gugup.
"K-kenapa jadi lari dari topik begini?" Tanyanya kesal. Pipinya merona hingga membuat Chanyeol gemas bukan main.
"eoh? Hahaha, kau malu ya? Aigoo~ Baekhyunnie malu hm?"
Sungguh, tak ada yang lebih menyebalkan dibandingkan dengan godaan Chanyeol. Baekhyun menatap tajam lelaki itu. Sedangkan Chanyeol, ia tidak peduli. Ia justru ingin merekam semua yang ada pada Baekhyun diingatannya. Sebelum mereka berpisah.
"Sudahlah, kau menyebalkan!" Pekik Baekhyun.
Chanyeol tersenyum tampan, menatap Baekhyun dalam hingga kecanggungan semakin besar rasanya melingkupi perempuan itu.
"Hey! Bagaimana dengan harimu hari ini? Kenapa kau pulang terlambat?" Tanya Chanyeol, alih-alih melanjutkan godaannya terhadap gadis itu.
Wajah yang semula tertekuk berubah menjadi pandangan sendu. Ia seakan sulit untuk menelan ludahnya. Suatu kejutan yang membuatnya sulit berkata-kata, bahwa Chanyeol masih hidup.
"Chanyeol, kau tau? Aku dan Sehun sunbae tadi menjenguk sahabatnya di rumah sakit."
Ah, lelaki itu lagi ya? Chanyeol langsung memasang wajah tak minatnya. Api cemburu seakan berkobar dalam hatinya.
"Lalu? Apa hubungannya denganku?" Tanyanya sinis.
"Tentu ada karena orang yang kami jenguk adalah... Kau."
DEG!
Wajah yang semula berpaling itu sontak menoleh pada Baekhyun. Menatap gadis itu penuh tanya dan keterkejutan yang luar biasa.
"A-aku? M-maksudmu... Kau..."
"ya, aku melihatmu terbaring disana." Ucap Baekhyun, setengah berbisik.
Chanyeol menggigit bibirnya. Matanya menatap Baekhyun dalam, seolah ingin membaca fikiran gadis didepannya. Ia hanya berharap jika Baekhyun bisa mengingat siapa dirinya. Chanyeol tidak peduli apapun resiko yang akan ditanggungnya nanti. Yang terpenting, ia bisa tau siapa gadis ini dan apa hubungannya dengan Baekhyun sebelum ia pergi. Entah itu mati atau kembali pada raganya. Chanyeol tidak tau.
"Kau mengingat sesuatu tentangku?" Tanya Chanyeol penuh harap.
Alis Baekhyun mengkerut mendengar pertanyaan itu.
"Maksudmu? Ya, aku mengingatnya. Dia berwajah sama sepertimu."
Jawaban yang tidak diharapkan itu membuat Chanyeol mendesah pasrah. Ia menarik rambutnya sendiri frustasi. Oh astaga! Sampai kapan lagi semuanya berakhir?!
"baiklah, lupakan saja."
"Tetapi Chanyeol, satu fakta yang membuatku tau."
Ucapan Baekhyun membuat Chanyeol kembali memiliki harapan lain. Ia kembali melihat wajah gadis itu yang tampak polos saat melihatnya.
"Sehun sunbae ternyata sahabatmu."
Astaga! Kenapa harus itu? Mendengar nama Sehun saja rasanya Chanyeol ingin sekali menghajar lelaki itu. Apalagi ini? Sehun, lelaki itu adalah sahabatnya? tidak bisakah ia memiliki sahabat lain saja?
"Lalu apa? Ck! itu tidak ada untungnya sama sekali buatku, Baekhyun. Nah sekarang! Bagaimana jika kita jalan-jalan saja?"
"Ha? Kemana? Tidak mau. Nanti aku dikira orang gila lagi karena berbicara pada sosok tak kasat mata." Balas Baekhyun dengan wajah tak berminat sama sekali. Baekhyun benar-benar ingin tidur sekarang. Kejadian aneh ini membuatnya berfikir ulang jika kondisi kejiwaannya masih normal. Jika secara mendadak ia menjadi indigo, pastinya tak hanya Chanyeol yang bisa ia lihat kan? Tetapi, apa ini?
Melupakan pemikirannya sendiri, Baekhyun berdecak pelan saat melihat Chanyeol sudah memasang wajah merajuknya. Pada akhirnya gadis itu mau juga untuk pergi dengan Chanyeol hingga pemuda itu bersorak senang.
.
.
Sebenarnya terlalu beresiko untuk jalan-jalan ke pusat perbelanjaan jika kau pergi bersama roh tampan seperti Chanyeol. Baekhyun merutuk dalam hati. Lelaki disebelahnya itu benar-benar sangat menyebalkan sekali! Sudah jelas Baekhyun menolak keras jika pergi ke tempat ramai, tetapi Chanyeol malah memaksanya dengan melakukan aegyeo menjijikkan yang justru tidak cocok untuk lelaki itu. Tetapi, Chanyeol berdalih ia bosan. Pula, lelaki itu ingin melihat-lihat pakaian bagus hari ini, istilahnya cuci mata saja.
"Woah! Baek! Lihat! Bagus sekali sepatunya!"Ucapnya girang seperti anak kecil.
Baekhyun mengikuti kemana lelaki itu pergi. Ia sempat menahan nafas saat tubuh Chanyeol berjalan menerobos orang-orang lewat.
"Hah... Untung saja dia itu tembus pandang. Dasar bodoh!"
Baekhyun mendekati Chanyeol yang sedang melihat sepasang sepatu Nikee berwarna merah hitam dengan mata berbinar. Senyuman mengejek lantas terpatri dibibir Baekhyun.
"Ternyata roh sepertimu masih selera dengan yang seperti ini ya?"
Chanyeol melirik gadis itu sinis. Ah, untung saja manis, jika tidak_
"Apa lihat-lihat?!"
Sadar atau tidak, Baekhyun menaikkan nada bicaranya sedikit hingga menarik perhatian beberapa pengunjung lain. Pandangan aneh langsung menusuk ke arahnya. Perempuan itu segera meraih ponselnya dan berpura-pura berbicara.
"galak sekali sih? Roh begini aku juga masih selera fashion Baek!"
"Ck! Berapa ukuran kakimu?" Pertanyaan aneh tersebut membuat Chanyeol kebingungan.
"46_"
"Pffhtt... Dasar raksasa! Padahal aku ingin membelinya untukmu. Tetapi mana ada ukuran kaki sebesar itu." Ejek Baekhyun diiringi tawa cekikikan. Ia benar-benar bahagia melihat wajah kesal Chanyeol.
"Aish! Jika bisa aku menyentuhmu sudah ku pukul kepalamu!" Gerutu Chanyeol. Hidungnya kembang kempis karena kesal, kesal karena telah dipermainkan oleh Baekhyun. Gadis itu masih tertawa hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit. Sejenak Chanyeol terpana dibuatnya. Sesuatu didadanya berdetak cepat. Dengan cepat lelaki itu membuang arah pandangnya ke tempat lain. Apapun, asalkan bukan Baekhyun.
"Baekhyun? Kau kah itu?" Suara lembut itu merusak suasana. Baekhyun lantas langsung terdiam. Ia menatap Luhan yang berada beberapa langkah didepannya. Gadis cantik itu tersenyum ramah lalu berjalan mendekat. Entah perasaan Chanyeol saja atau bagaimana, Luhan sempat meliriknya dan memberikan senyumannya.
"Ya. Kau sendirian?" Tanya Baekhyun mencoba berbasa-basi demi kesopanan.
"Ya begitulah. Tidak sepertimu. Astaga, dia tampan juga, Baekhyun!"
Baekhyun tersenyum maklum. Ia tersenyum geli saat melihat raut wajah Chanyeol yang kebingungan.
"Hai, Aku Luhan. Kau?"
Chanyeol memasang wajah bodohnya saat tangan lentik itu terjulur ke arahnya. Ia melirik sekelilingnya, mengira jika ada orang lain disini. Tetapi yang ia dapati justru pandangan orang-orang yang melihat ke arah Luhan aneh.
"K-Kau masih mengenalku?" Tanya Chanyeol hati-hati dan gadis itu mengangguk antusias.
"Aku belum pikun untuk mengingatmu. Kau yang diperpustakaan itu kan?! Hey, kenapa tidak membalas jabatan tanganku?"
Chanyeol tersenyum kikuk. Ia mencoba meraih tangan Luhan, tetapi hal selanjutnya gadis itu malah tertawa keras.
"Astaga! Kau menembus tanganku?! Keren!"
Baekhyun tidak tau, mengapa ia marah melihat Chanyeol membagi senyumnya untuk orang lain. Tetapi dari pada itu, ia lebih mementingkan hal lain merasa diperhatikan orang-orang disekitarnya. Maka dengan inisiatifnya sendiri, gadis itu segera menyeret Luhan pergi dari sana agar Luhan tidak dikira orang gila oleh pengunjung lain. Setelah merasa tempat mereka agak sunyi, Baekhyun memberhentikan langkahnya.
"Luhan-ssi, kau tidak takut dikira orang aneh karena berbicara sendirian?"
"Eh? Haha, tenang saja. Aku sudah biasa dikira aneh. Oh iya! Lalu, Chanyeol ini siapa? Kekasihmu?"
Sontak pipi Baekhyun memerah saat mendengar kata 'kekasih' disana.
"T-tidak. Secara kebetulan aku bisa melihatnya."
Alis Luhan berkerut secara tiba-tiba. Ini terdengar sedikit aneh baginya. Biasanya hanya orang-orang yang memiliki indera keenam yang bisa melihat seperti ini. Tetapi pada kasus Baekhyun, gadis itu hanya mampu melihat Chanyeol, tidak dengan makhluk lainnya. Pula, Baekhyun bilang jika Chanyeol bukan kekasihnya?
"Aku tidak tau pasti Baek. Tetapi biasanya, jika kau bukan indigo dan dapat melihat sosok 'lain', bisa saja itu orang dekatmu. Kakakmu, saudara kembar, orang tua atau kekasihmu. Ini sedikit aneh."
Tubuh Baekhyun menegang mendengar penuturan Luhan.
"Sampai detik ini, aku juga masih heran. Mengapa aku harus berada di dekat Baekhyun." Ujar Chanyeol angkat bicara.
Luhan memperhatikan wajah lelaki itu. Terasa tidak asing. Ia mencoba mengingat pernah melihat Chanyeol dimana, tetapi tetap saja tidak bisa.
"Mungkin kau masih memiliki janji yang belum kau penuhi padanya. Atau ada satu hal yang ingin kau ungkapkan padanya."
Keduanya terdiam mencerna tiap kata yang Luhan lontarkan. Sedangkan Luhan justru tampak tak peduli. Ia terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Hey, tidak usah difikirkan begitu! Ck! Ah, aku ada urusan. Maaf, aku harus meninggalkan kalian. Tidak apa?"
"Baiklah."
"Aku pergi. Bye!"
Baekhyun melirik Chanyeol disampingnya. Lelaki itu balas dengan senyuman hangatnya.
"Ayo, kita berjalan ke tempat lain?"
Baekhyun mengangguk, mengikuti langkah Chanyeol. Ponselnya kembali ia letakkan di telinga. Berjaga-jaga jika ia akan berbicara dengan Chanyeol. Lelaki disebelah Baekhyun itu menatap sendu pada gadis disampingnya. Bukan tanpa alasan ia membawa Baekhyun ke tempat ini. Ia hanya mencoba mengingatkan Baekhyun akan sesuatu.
Mereka berhenti di sebuah toko pernak-pernik atas permintaan Baekhyun sendiri. Toko tersebut memiliki dekorasi yang unik dan klasik. Sesuai dengan benda-benda yang terjual disana. Baekhyun melirik sebuah kotak musik berbentuk piano. Ia mendekati benda tersebut dan rasa kagum langsung meluap dibenaknya. Itu terlihat sangat sederhana, seperti miniatur piano. Namun kesan klasiknya begitu terasa, terlihat dari bentuk ukiran yang terpahat begitu detail pada beberapa sisinya.
"Ini keren sekali."
"Kau mau? Kau bisa membelinya, Baek." Usul Chanyeol.
"Tidak. Tertarik bukan berarti membeli kan?"
Chanyeol mengulas senyumnya. Ia menatap wajah Baekhyun lamat-lamat. Gadis itu benar-benar cantik dalam kondisi apapun. Rasa bergetar itu kembali dirasakannya saat melihat wajah Baekhyun. Seolah ia benar-benar rindu, namun tak bisa dijelaskan kenapa. Chanyeol merasa dekat dengannya, tetapi tak bisa ia ketahui alasannya.
"Kau tau? Piano memiliki tuts berwarna hitam dan putih dan bisa menghasilkan suara yang membentuk harmoni indah. Seperti kehidupan ini. Ada dua sisi yang berbeda dalam hidup kita, entah bahagia atau menderita. Tetapi kau tau? Ketika Tuhan menyatukan keduanya, maka semua akan menghasilkan suatu hikmah yang besar untuk kita, bisa jadi sebagai pembelajaran. Jadi, tak ada alasannya untukmu terus bersedih. Kau harus tau, cobaan yang kau terima adalah cara Tuhan untuk mengujimu. Suatu saat, kau juga akan bahagia."
Dua anak manusia itu saling bertatap dengan perasaan aneh yang menggelitik. Chanyeol tidak tau, entah mengapa ia bisa berucap demikian, berujar bak seorang filusuf handal. Tetapi bukan itu poin pentingnya. Keduanya seolah bisa mengingat sepotong kejadian dimasa lalu.
"Kau bisa bermain piano?" Tanya seorang pemuda pada gadis disebelahnya.
"Ya, aku bisa. Aku menyukai bagaimana alunan melodinya begitu menyentuh hatiku. Piano memiliki tuts hitam dan putih, bagiku itu melambangkan putih dan hitam hidup. Tetapi, saat putih tidak ada maka hitam akan kehilangan nadanya. Dan saat hitam tak ada maka nada tersebut tidak akan lengkap rasanya. Seperti hidup, bahagia dan menderita itu adalah cara Tuhan menguji kita. Dan saat Tuhan memainkannya, itu akan menjadi sesuatu yang indah pada akhirnya."
Gadis itu tersenyum pada lelaki disebelahnya. Mereka tertawa geli setelahnya.
DEG!
Baekhyun merasakan kepalanya pusing. Ingatan itu seolah menghantam kepalanya. Siapa laki-laki itu? Batinnya berteriak.
Chanyeol terkejut saat melihat Baekhyun hampir tumbang. Ia hendak menahan tubuh gadis itu tetapi usahanya akan sia-sia. Wajah Chanyeol benar-benar tampak khawatir.
"Baek? Kau baik-baik saja?"
"Y-Ya. Aku hanya pusing. Bisakah kita pulang saja?" Pinta Baekhyun setengah memelas. dia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit di kepalanya yang begitu tiba-tiba.
Chanyeol mengangguk cepat. Dalam hati ia merutuki bagaimana sulitnya menjadi makhluk tak kasat mata. Ia ingin memapah Baekhyun, tetapi yang ada tangannya hanya menembus tubuh gadis itu. Ia hanya dapat mengawasi pergerakan Baekhyun yang berjalan dengan lemah. Sesekali ringisan akan terdengar dari bibirnya.
Mereka sampai di depan pusat perbelanjaan itu dengan hening. Baekhyun memperhatikan lampu merah yang telah berubah warna menjadi hijau. Tanpa fikir panjang, gadis itu segera melangkahkan kakinya untuk meyeberangi jalan. Niatnya ingin menuju halte bus di seberang jalan sana. Tetapi sebuah mobil melaju dengan kencang tanpa perempuan itu tau.
Chanyeol yang sadar akan situasi bahaya itu segera meneriaki Baekhyun agar gadis itu menghindar. Ketakutan itu muncul seperti kaset rusak. Suara teriakan orang-orang yang berisik di tengah kecelakaan, sirine mobil ambulans, decitan rem yang menyakitkan telinga dan suara tubrukan dahsyat serta pecahan kaca yang membuatnya tak bersuara.
Chanyeol segera berlari cepat menuju Baekhyun. Memeluk gadisnya dengan erat dan berharap ia bisa melindungi Baekhyun. Gadis itu terdiam shock di dalam pelukan Chanyeol. Apalagi ketika tubuh mereka terpental dan berguling beberapa meter dari arah jalan membuat gadis itu terpaku. Pelukan Chanyeol terasa dingin, melindunginya hingga ia tak merasakan sakit apapun. Gadis itu mendongak, melihat Chanyeol yang tengah menutup matanya rapat. Jemari lentik gadis itu menyentuh pipi dingin si lelaki.
"C-Chanyeol..."
Bersamaan dengan itu, Chanyeol membuka matanya. Menatap Baekhyun sama herannya. Dia bisa memeluk dan menyentuh gadis ini. Dia bisa melakukannya.
Seolah tak peduli dengan keadaan di sekitar mereka. Keduanya terus bertatapan lama, mencoba mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Orang-orang mengerumuni mereka, tepatnya Baekhyun dengan raut wajah heran dan khawatir. Bahkan si pemilik mobil ugal-ugalan tadi ikut terheran melihat tak ada sama sekali lecet di mobilnya. Padahal seingatnya ia membentur sesuatu tadi.
Baekhyun segera berdiri, dibantu oleh seorang bibi tua penjaja kue beras. Orang-orang berseru heboh saat melihat tak ada sedikitpun darah maupun luka di tubuh gadis itu.
"Kau baik-baik saja nak?" Tanya si bibi tadi khawatir.
"Ya... Hanya sedikit pusing. Terimakasih telah mengkhawatirkanku." Ujar gadis itu lalu membungkuk sopan.
"Lain kali hati-hati ya?" Ujar salah seorang yang lain.
Orang-orang mulai meninggalkan mereka berdua. Baekhyun tersentak disaat tangan yang perlahan mulai bisa dirasakan kehangatannya itu mengusap pipinya. Lelaki itu segera merengkuh Baekhyun ke dalam pelukannya dengan erat.
"Aku bisa menyentuhmu Baekhyun." Bisik Chanyeol haru. Baekhyun ikut tersenyum dalam pelukannya.
Tanpa sadar, air mata Chanyeol keluar. Ia melihat Kris, si malaikat, menatapnya dengan anggukan penuh arti. Lelaki itu tersenyum tipis lalu menghilang.
Sebuah senyuman getir terulas di bibir Chanyeol saat mengingat maksud dari Kris.
.
.
TBC atau end?
.
.
Epilog
.
.
Chanyeol duduk di atas salah satu gedung tua di tengah kota. Menatap keramaian dibawah sana dengan kosong. Ia menyadari jika sejak tadi Kris terus melihatnya dengan pandangan tidak enak.
"Maaf Chanyeol. Segala sesuatu harus ada timbal baliknya bukan?"
"M-Maksudmu... Ketika aku bisa menyentuhnya, maka sisa waktuku berkurang?"
Kris mengangguk dengan pelan.
"Lalu, jika aku hidup... Apa yang akan terjadi Kris?"
Malaikat berwajah tampan itu menepuk pundak Chanyeol pelan.
"Aku tidak tau pasti. Kemungkinan... Kau takkan bisa mengingatnya."
Bersamaan dengan itu, Chanyeol merasa jika tak ada pilihan yang bisa ia pilih. Disaat seperti ini ia ingin terus tertidur, agar dia bisa terus bersama Baekhyun dan mengingat perempuan itu walau hanya dalam ingatan semu yang sesaat.
.
.
Tebese yesh!
.
.
Hai... Masih ingat ff bulukan ini? Wkwkwkw... Yang gak inget baca aja ulang /digampar berjamaah/
cuma mau penuhin janji sama readers yg masih nungguin ff ini. Suka atau tidaknya ya terserah, yang penting aku tepatin janji walau ngaret. Haha
ohya...Kasih review kalian tentang chapter ini ya? Dan buat yang punya ide untuk chapter depan, silahkan review. Aku bakal pilih ide yang menurutku keren dan buat yang terpilih bakal dapat hadiah ciuman mesra dari kek suman. Hahag
.
.
Ps : Buat yang mau tanya-tanya, leon udah punya Ig baru /cieee / : Dandelionleon (underscore) sky . Silahkan follow~
yang mau kenalan dekat, ke line aja yah : Skaya22 .
.
.
Okay, sekian~
