Bagi Rukia, menikah adalah salah satu impian terbesarnya. Pengantin yang terlihat anggun dan cantik, bersanding dengan pria yang dicintai, serta pesta yang sederhana namun penuh dengan cinta. Semua itu adalah bayangan pernikahan yang ada di kepala Rukia.
Sayang semua harus kandas.
Meskipun gadis itu masih tampak cantik dan anggun tatkala dibalut gaun putih, ia tidak menikah dengan pria yang ia cintai sehingga pestanya yang meriah terasa hampa tanpa cinta. Rukia rasanya ingin menangis saat ini juga. Demi apapun, ia sama sekali tidak pernah membayangkan akan merasakan pernikahan yang seperti ini.
Dibesarkan di keluarga Kuchiki yang terpandang, tidak membuatnya diharuskan menikah atas dasar bisnis. Namun nasib malang justru menimpanya. Ayahnya bangkrut dan ibunya sekarat. Rukia tidak bisa hanya duduk manis. Sebagai seorang anak yang menyayangi kedua orang tuanya, Rukia merasa bahwa ia harus bergerak.
Mendatangi Grimmjow adalah pilihannya. Hanya pemuda itu yang dapat menolongnya. Sayangnya yang didapat adalah perjanjian pernikahan.
Rukia tidak mengerti. Baginya Grimmjow adalah relasi terdekat ayahnya di perusahaan serta orang yang cukup Rukia percaya untuk dimintai pertolongan. Lalu, mengapa syarat itu terlontar dari mulutnya? Apakah bisnis memang seperti itu? Apakah menikah adalah syarat wajib?
Tidakkah Grimmjow peduli padanya?
.
Marriage oleh Clarette Yurisa
Bleach © Tite Kubo
Chapter 1
.
"Jangan berpikiran buruk."
Suara itu membuat Rukia yang semula termenung dikasurnya menjadi terkejut. Gadis itu mendongak dan mendapati bahwa laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya kini baru saja selesai mandi.
Rukia menghela nafasnya. "Sini duduk. Akan kukeringkan rambutmu."
Grimmjow menurut. Ia duduk di kasur sementara Rukia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang baru saja ia ambil didalam lemari pakaian mereka. Suasana hening terasa mencekam bagi mereka berdua. Kondisi ini terasa aneh namun sekaligus menenangkan.
"Aku tidak berpikir buruk tentangmu," ucap Rukia membuka pembicaraan. Tangannya tampak telaten mengusap rambut Grimmjow yang masih terlihat basah. "Aku hanya berpikir, mengapa kau memintaku untuk menikah denganmu. Dilihat dari segi manapun, kau ini incaran semua wanita yang ada diluaran sana. Aku yakin kau tinggal tunjuk saja wanita mana yang kau inginkan. Lalu kenapa aku?"
Laki-laki berambut biru tersebut menghela nafasnya. "Aku tidak suka dengan wanita manapun. Mereka membuatku pusing dan lebih sering banyak maunya. Kau tahu sendiri, aku tidak mau direpotkan dengan hal-hal berbau romantisme disaat aku harus mengurus perusahaanku."
"Kenapa aku?"
Pertanyaan itu kembali mengudara. Grimmjow mendongakkan kepalanya dan menatap iris violet Rukia sebelum berujar, "karna aku mengenalmu. Kau tidak seperti wanita diluar sana. Kau mandiri dan dewasa. Aku yakin kau tidak akan merepotkanku dengan urusan-urusan percintaan. Aku tahu kau patah hati karena laki-laki yang kau cintai menikah dengan wanita lain. Jadi Rukia, anggap saja ini sebagai caramu untuk melupakan patah hatimu."
Rukia mendengus. "Kamu tidak berpikir kalau ada kemungkinan aku atau kamu jatuh cinta terhadap satu sama lain, bukan?"
Grimmjow tergelak. "Aku yakin cintamu hanya untuk Kurosaki. Aku juga yakin cintaku hanya untuk pekerjaanku. Tidak ada kata cinta untuk kita."
"Dasar aneh!" Rukia menggerutu. "Kau menyuruhku untuk melupakan patah hatiku namun kau juga yakin kalau cintaku hanya untuk laki-laki lain."
"Aku sudah kenal lama dirimu, Rukia," ucap Grimmjow dengan penuh penekanan. "Meskipun kau tidak pernah menceritakan apapun padaku, aku bisa melihatnya melalui matamu. Aku yakin kau hanya akan mencintai Kurosaki meskipun kau berhasil melupakan patah hatimu. Hanya dia yang akan selalu ada dihatimu."
"Sok tau," cibir gadis itu. "Laki-laki yang hanya mencintai pekerjaan tidak akan mengerti perasaan perempuan. Pacaran saja belum pernah, dan kau dengan sombongnya bicara seperti itu."
Grimmjow tertawa mendengar penuturan Rukia yang blak-blakan sebelum tawanya diikuti oleh gadis itu. Bagi Grimmjow, hanya Rukia yang mampu bersikap apa adanya di hadapannya. Gadis itu tidak peduli dengan kata-katanya yang spontan dan blak-blakan. Salah satu sifat yang Grimmjow suka.
"Bagaimana keadaan Hisana?"
Rukia tersenyum sumringah. "Operasinya berjalan lancar. Kondisi ibu juga sudah membaik. Dokter bilang, kita hanya perlu menunggu ibu sadar."
Grimmjow mengangguk tanda mengerti. "Aku akan caritau penyebab kecelakaan ibumu."
Rukia menggeleng. "Tidak perlu. Ayah bilang mobil yang ibu bawa tidak disabotase. Jadi semua itu murni kecelakaan. Kau tidak perlu repot untuk menyelidikinya kembali."
"Baiklah kalau Byakuya berkata seperti itu."
"Grimmjow," panggilan Rukia padanya membuat laki-laki tersebut kembali memandang Rukia yang tengah tersenyum bahagia. "Terima kasih banyak. Kau sudah membantuku dan keluargaku. Aku berhutang besar padamu."
Grimmjow menggelengkan kepalanya. "Ayah dan ibumu adalah ayah dan ibuku juga. Tidak ada hutang, Rukia. Kau istriku dan sudah kewajibanku untuk menolong istriku. Yang harus kau ingat, pernikahan ini bukanlah pernikahan main-main. Mulai saat ini kau harus terbiasa dengan keberadaanku, begitu juga dengan aku yang harus terbiasa dengan keberadaanmu."
"Aku mengerti."
"Satu lagi, Rukia. Jangan pernah berpikir untuk bercerai dariku. Meskipun kita tidak mencintai, aku yakin kita bisa hidup bersama dan berkeluarga seperti orang lain."
Rukia terpaku sesaat sebelum tersenyum tipis. "Aku paham, Grimm."
Grimmjow berpikir sejenak sebelum kembali berucap, "pernikahan kita tidak perlu ada persyaratan. Tidak perlu ada berkas-berkas menyebalkan yang harus kau tanda tangani. Aku tidak akan menyamakan pernikahan kita seperti pernikahan kontrak. Seperti yang sebelumnya kukatakan padamu, tidak akan ada perceraian diantara kita."
Rukia menganggukkan kepalanya bosan. "Aku mengerti, Grimm. Dengan kata lain, aku akan terjebak dengan pria sepertimu seumur hidupku. Tidak perlu kau jelaskan lagi."
Grimmjow menatap Rukia kesal. "Aku serius, Nona Mungil. Kita akan benar-benar menjalankan kehidupan rumah tangga seperti orang lain diluar sana."
"Tunggu," mata Rukia sesaat membola ketika menyadari sesuatu, "apa kita juga akan tidur seranjang?" Nada suara Rukia terdengar gugup. Ia merasa malu telah bertanya, namun ia juga penasaran dan harus memastikannya.
Anggukkan kepala Grimmjow membuat Rukia mendesah protes. "Tidak terima penolakan, Nona. Tidur sekamar dan seranjang adalah hal lumrah untuk suami istri."
"Aku tidak mau!" protes Rukia. "Bagaimana kalau terjadi sesuatu?" Rukia bergidik ngeri membayangkannya. "Demi apapun, Grimm. Biarkan kita tidur terpisah."
Grimmjow mengusap puncak kepala Rukia. "Apa yang ada dipikiranmu hanya hal-hal mesum?" Pertanyaan Grimmjow membuat wajah Rukia memerah dengan cepat. "Aku tidak akan menyentuhmu, Nona Kecil. Jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksa. Lagipula kau harus tahu bahwa tujuanku menikah denganmu bukanlah untuk hal seperti itu."
Rukia menghela nafas lega. "Aku mengerti. Kau harus pastikan ucapanmu sesuai dengan realita, Grimm. Aku tidak menginginkan apapun yang buruk terjadi padaku. Hanya saja," bola mata Rukia menatap Grimmjow penuh tanya, "aku tidak tahu apa tujuanmu menikahiku. Yang aku tahu, kau hanya mengajukan persyaratan ini tanpa mengatakan apapun."
"Kalau begitu biarkan saja jadi rahasia."
"Hei, mana bisa begitu!" Rukia memprotes keras. "Setidaknya aku harus tahu apa tujuanmu menikahiku karena itu ada sangkut pautnya dengan diriku."
Grimmjow tergelak.
"Katakan padaku, Grimm."
"Lain kali saja."
Rukia kembali merengut. "Kenapa kau tidak pernah mau mengalah padaku, sih? Kau tinggal mengatakannya dan semua rasa penasaranku akan menguap seketika."
Grimmjow tersenyum tipis. "Bersabarlah, Rukia. Akan kukatakan jika sudah saatnya. Aku janji."
.
"Bagaimana malam pertamamu?"
Pandangan penuh tanya yang Rangiku berikan membuat wajah Rukia memerah dengan cepat. Gadis mungil itu hanya bisa terpana tanpa tahu harus memberikan jawaban seperti apa untuk sahabatnya.
"Kenapa diam saja? Apa dia sebegitu hebatnya hingga membuatmu tidak mampu berkata apapun padaku?" binar-binar usil di mata Rangiku membuat Rukia gemas seketika. Entah bagaimana caranya, ia bisa bersahabat dengan wanita seusil Rangiku.
"Jangan mulai, Ran. Kau tahu sendiri aku tidak mungkin melakukan hal-hal seperti bayanganmu," sanggah Rukia tatkala kesadarannya sudah terkumpul. Gadis itu menghela nafasnya sembari menyamankan duduknya di sofa.
Hari ini Rukia sudah berjanji untuk bertemu dengan Rangiku, sahabatnya semenjak kuliah. Tidak ada hal spesial yang akan ia bicarakan, hanya janji temu biasa untuk melepas rasa penasaran yang menggerogoti pikiran melantur sahabatnya. Dan disinilah mereka berada, di sebuah kedai kopi yang letaknya tepat di seberang kantor Grimmjow.
"Baiklah, aku mengerti," Rangiku menyahut dengan kalem sebelum matanya menatap Rukia penuh bahagia. "Aku sangat senang mendengar kabar bahwa ibumu sudah lebih baik. Aku bersyukur sekali operasinya berjalan lancar."
"Aku juga sangat senang. Hanya saja..."
"Kau masih menyangka bahwa ada sesuatu dibalik penyebab kecelakaan ibumu?"
"Bukan begitu," Rukia mendesah. "Aku masih tidak menyangka dengan statusku saat ini. Apa yang akan ibuku katakan jika beliau tahu aku sudah menikah disaat keadaannya seperti itu. Aku tidak ingin membebani pikirannya."
"Katakan saja kau mencintai Grimmjow."
"Tidak semudah itu, Ran. Ibuku percaya bahwa hanya Ichigo, satu-satunya lelaki, yang kucintai. Aku yakin ia pasti menyadari alasan dibalik pernikahanku."
"Pikirkan itu nanti," sahut Rangiku dengan pose berpikir. "Akan lebih baik kau mengurusi ibumu terlebih dahulu sekarang. Pastikan ia sembuh dan bila keadaan sudah terkendali, kau bisa ceritakan pelan-pelan padanya."
Rukia menghela nafasnya. Kalau dipikir, saran Rangiku memang ada benarnya. Akan jauh lebih baik bila saat ini ia memprioritaskan kesehatan ibunya dibanding mencemaskan statusnya. Mungkin bila dijelaskan baik-baik, ibunya akan mengerti.
"Bagaimana dengan Grimmjow? Apa dia memperlakukanmu dengan baik?" nada tanya Rangiku terdengar penuh penekanan. Tampak dari wajahnya tergambar gurat kecemasan.
"Ia baik dan ia menghormatiku," ucap Rukia. "Hanya saja aku masih agak sungkan mengenai masalah berbagi ranjang dengannya."
"Sejujurnya aku agak heran dengan suamimu itu," Rangiku berujar terus terang. "Dari sekian banyak wanita yang antri untuk menjadi pendampingnya, ia justru memilihmu. Bukannya aku menyangsingkan kecantikanmu, hanya saja kalian tidak pernah memiliki kedekatan khusus sebelumnya. Kau kenal dia sebagai relasi bisnis yang sangat dipercaya ayahmu, dan dia mengenalmu sebagai anak dari relasi bisnisnya."
Rukia berpikir sejenak. Memang kalau dipikir, dia tidak pernah memiliki hubungan dekat dengan Grimmjow. Jikalau ada perbincangan tertentu, itupun akibat ia yang menemani Grimmjow menunggu ayahnya. Perbincangan mereka sebatas dunia perkuliahan yang dulu Rukia jalani. Selain itu, mereka hanya bicara sedikit mengenai bisnis yang Grimmjow dan ayahnya kerjakan bersama.
"Kau tidak berpikir kalau ia menginginkan sesuatu darimu?"
Pertanyaan Rangiku kembali membuat Rukia berpikir. "Ia bilang, akan merepotkan bila harus disibukkan dengan dunia percintaan. Ia menikah denganku karena percaya kalau aku tidak akan mengganggunya dengan hal-hal berbau romantisme," sahut Rukia mengutip kata-kata yang kemarin Grimmjow tujukan padanya.
"Kau yakin benar kalau hanya itu alasannya?"
Rukia menggangguk. "Mungkin bagimu terkesan tidak masuk akal. Tapi sejauh aku mengenalnya, dia memang orang yang paling gila dengan pekerjaannya. Yang ia cintai hanyalah pekerjaannya. Baginya menikah hanyalah hal rumit yang akan mengganggu performa kerjanya."
"Workaholic sekali. Kau tidak berniat menceraikannya dalam beberapa tahun mendatang?"
Rukia menggeleng pasrah. "Ia bilang tidak ada perceraian. Apapun alasannya, aku tidak boleh bercerai dengannya meskipun kami tidak akan bisa saling mencintai," sahut Rukia muram.
Rangiku ternganga. "Apa dia gila? Kau serius akan benar-benar terikat dengannya untuk selamanya? Sepanjang hidup kalian?"
Anggukkan kepala Rukia kembali menjadi jawaban.
"Aku sungguh semakin bingung dengan kelakuan suamimu. Tidak cinta tapi mengajakmu menikah. Sudah menikah tetap berlagak tidak akan mencintaimu sepanjang umurnya. Dan sekarang ia dengan mudahnya berkata bahwa kalian tidak boleh bercerai?" nada suara wanita berambut blonde tersebut terdengar kesal campur gemas. "Kurasa otak suamimu ada yang korslet."
"Hanya saja, kurasa terjebak dalam pernikahan bersamanya tidak merugikanku," ucap Rukia dengan nada getir. "Kau tahu sendiri kalau Ichigo sudah menikah dengan wanita lain. Aku sudah tidak punya harapan lagi untuk bersamanya, bukan?"
"Buang pikiranmu tentang laki-laki itu, Rukia," seru Rangiku dengan ekspresi kesal yang tidak ditutupi. "Aku benci sekali dengannya yang meninggalkanmu begitu saja. Padahal kalian sudah bertunangan tapi ia lebih memilih menikah dengan wanita lain. Menyebalkan!"
Rukia tersenyum tipis mendengar celotehan Rangiku. "Makanya kubilang, dengan pernikahan ini menbuatku tidak terlalu mati kutu didepan Ichigo, bukan?" ucap Rukia dengan nada setengah bercanda.
Rangiku tergelak mendengarnya. "Benar juga. Setidaknya meskipun dia meninggalkanmu, saat ini justru kau sudah menyusulnya dengan menikahi Grimmjow."
"Meskipun pada awalnya aku tidak berniat menikah dengannya," sahut Rukia dengan nada geli ketika membayangkan pertemuannya kala itu.
Rangiku mengangguk tanda mengerti sebelum ia menepuk dahinya. "Kau jadi ke kantor suamimu? Nyaris saja kita menghabiskan waktu terlalu lama disini. Kalau sudah bertemu pasti selalu saja lupa waktu."
Rukia mengecek arlojinya dan mendapati jam di tangannya sudah menunjukkan waktu pukul lima kurang sepuluh menit. "Grimm sudah hampir pulang. Aku akan segera ke kantornya."
"Baiklah," sahut Rangiku. Tangannya melambai untuk meminta bill pada salah satu pegawai. Setelah selesai membayar tagihan, mereka berdua berjalan keluar kedai bersama.
"Untung kantor suamimu tinggal menyeberang saja dari sini."
"Kau benar," sahut Rukia. "Aku jadi tidak perlu terburu-buru bila telat."
"Baiklah kalau begitu sampai jumpa, Rukia."
.
Rukia barusaja hendak melangkahkan kakinya keluar ketika lift sudah sampai di lantai tempat ruangan Grimmjow berada, tatkala Grimmjow justru tengah berdiri berhadapan dengannya. Laki-laki tersebut terlihat sedikit terkejut mendapati istrinya tengah berada dalam lift seorang diri.
"Apa yang kau lakukan?"
Rukia menatap Grimmjow sambil tersenyum tipis. "Tadinya aku ingin menemuimu di ruanganmu. Ternyata justru bertemu di depan lift."
Grimmjow menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia langkahkan kakinya untuk masuk ke dalam lift dan berdiri di samping Rukia. "Aroma kopi."
Rukia terkejut sebelum menampilkan senyuman yang membuat Grimmjow sedikit merona. "Aku sehabis bertemu dengan Ran. Dia sahabatku waktu kuliah dulu. Kami memang janji bertemu di kedai kopi seberang kantormu, Grimm."
"Bukan bertemu laki-laki?"
Rukia mengernyit. "Ran itu perempuan, bukan laki-laki. Aku yakin kau pasti kenal suaminya. Namanya Ichimaru Gin. Ran bilang, dulu kau dan suaminya cukup dekat."
Grimmjow mengangguk pelan. "Ya, memang. Dia sahabatku. Aku tidak menyangka kalau kau juga bersahabat dengan istrinya. Dunia sempit sekali."
Bunyi lift yang berdentang menandakan bahwa mereka sudah sampai di lantai tujuan. Grimmjow menggamit lengan Rukia sesaat sebelum melangkahkan kaki keluar dari lift. Gadis mungil itu hanya bisa tercengang tanpa tahu harus merespon seperti apa.
"Aku tidak mau kau hilang dalam kantor suamimu sendiri."
Gigi Rukia bergemerutuk kesal. "Memangnya aku anak TK yang kalau hilang tidak tahu harus melakukan apa?" Rukia berusaha menarik lengannya, namun Grimmjow menggamit lengannya dengan cukup kencang.
"Berjalanlah lebih cepat. Langkahmu pendek sekali!"
Rukia barusaja hendak memaki Grimmjow ketika suara yang sudah sangat dikenalnya memanggil namanya. Gadis itu terdiam mematung tatkala sosok yang selama ini selalu mengisi hatinya sudah berdiri di hadapannya dan Grimmjow.
"Mau apa kau?" nada suara Grimmjow terdengar tidak bersahabat.
Ichigo terlihat sedikit kikuk mendapati reaksi Grimmjow yang dingin. "Tidak," ucapnya pelan sebelum melanjutkan kalimatnya, "aku hanya melihat Rukia dari seberang sana dan memutuskan untuk menyapanya sebentar."
"Rukia sibuk. Kami ada acara makan malam setelah ini. Kalau tidak ada urusan apapun, pergilah!"
Rukia kembali ternganga. Tidak pernah didapatinya nada suara angkuh dan dingin terucap dari bibir Grimmjow. Sebenarnya Rukia ingin sekali menyela perkataan Grimmjow. Sejak kapan mereka membuat janji? Pemuda itu saja terkejut dengan kedatangannya. Hanya saja, melihat pandangan Grimmjow yang seperti menahan emosi, membuatnya menahan kalimatnya.
"Ah, begitu," Rukia tidak tahu, apakah memang benar ia menangkap nada suara Ichigo terdengar kecewa, atau hanya perkiraannya saja. "Mungkin lain kali aku bisa berbincang lagi dengan Rukia."
Grimmjow mengernyitkan dahinya sambil menatap Ichigo dengan sinis. "Dia istriku. Kuharap kau sadar dengan statusnya saat ini. Aku tidak bisa mengijinkan dia menemui laki-laki lain tanpa sepengetahuanku, Tuan Kurosaki."
Rukia menghela nafasnya. "Maaf, Ichifo. Mungkin lain kali kita bisa berbincang," Rukia merasa lengannya dicengkeram keras oleh Grimmjow sebelum ia menambahkan kalimatnya, "hanya jika suamiku mengijinkan. Hari ini kami ada janji untuk makan malam bersama. Aku minta maaf, namun kami harus pergi."
"Aku paham. Maaf sudah mengganggu waktu kalian. Sampai nanti kalau begitu," ucap Ichigo sambil tersenyum. Hanya saja saat itu Rukia merasa bahwa senyuman Ichigo yang selalu terlihat menawan tidak sampai ke iris jingganya. Ada apa dengannya? Rukia hanya bisa bertanya dalam hati.
.
Maaf banget buat semuanya. Saya benar-benar minta maaf untuk kalian semua. Saya merasa sangat tidak bertanggung jawab karna sudah nelantarin fict ini bertahun-tahun, bahkan sampe ada yang bilang saya kayak bang toyib. Sekali lagi saya minta maaf :(
Saya merasa mandek dengan cerita ini. Awal pertama saya bikin prolog, jujur saya akui itu ide dadakan. Saya hanya berpikir untuk publish tanpa memikirkan ke depannya bakalan gimana. Akhirnya cerita ini terbengkalai dan saya menghilang bertahun-tahun.
Setiap saya inget FFN, salah satu fict yang saya sesali adalah fict ini, karena saya baru publish prolog kemudian menghilang tanpa kabar. Saya merasa bahwa saya benar-benar ga ada tanggung jawabnya. Sekali lagi maafkan saya :"
Saya berusaha buat ngelanjutin fict ini, tapi entah mengapa selalu saja gagal. Mungkin karena waktu yang terlampau lama bikin saya lupa dengan alur yang dulu sempat saya pikirkan untuk cerita ini. Tapi saya berterimakasih kepada kalian semua, yang bahkan masih berusaha mengingatkan saya di kotak review. Saya sampaikan rasa terimakasih saya untuk kalian: claire nunnaly, Ray Kousen7, nurayue, Moku-Chan, blackblue, hadnew, Voidy, Silent reader, anna-chan, Kiki RyuSullChan, KeyKeiko, Peachy Berry, Guest yang namanya an-chan, Haruna Aoi, baramjji, dan yang terakhir untuk delalice.
Saya amat sangat berterimakasih dengan kalian yang syukur-syukur masih mau membaca fict ini. Saya juga sangat berterimakasih kepada delalice, jujur saya merasa tergetuk untuk melanjutkan fict ini setelah membaca fict yang dia publish. Makasih dela :)
Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menggantungkan fict ini, meskipun saya tidak bisa menjanjikan banyak hal buat para pembaca sekalian. Saya tidak mau disebut bang toyib lagi hehehe. Sekali lagi saya minta maaf untuk kalian semua yang sudah menunggu fict ini. Selain itu, saya juga mohon maaf lagi jika saya pernah sengaja/tidak sengaja berbuat salah ke kalian karna besok sudah masuk bulan ramadhan.
Maaf untuk a/n yang panjangnya keterlaluan ini T.T tapi saya hanya ingin menceritakan banyak penyesalan saya ke kalian semua atas gantungnya fict ini. Doakan saya semoga ide-ide untuk fict ini terus mengalir ya :" sampai jumpa di chapter selanjutnya. Semoga kalian sehat selalu, dan mohon tinggalkan review atau unek-unek kalian disini. Terimakasih :)
