"Aku tidak suka kau dekat dengannya."
Kalimat itu segera mengudara ketika mereka baru saja sampai di parkiran. Tidak ada jawaban yang Rukia berikan. Gadis itu hanya menatap Grimmjow yang tengah menjulurkan sebuah helm padanya.
"Aku tidak ingin ada gosip apapun yang membuat rumah tangga kita terganggu."
"Grimm," Rukia menatap iris biru Grimmjow sebelum menjulurkan tangannya untuk mengambil helm yang Grimmjow berikan padanya. "Hatiku memang masih memiliki rasa untuknya. Namun aku juga tahu dengan posisi dan statusku. Aku sudah menjadi istrimu, Grimm. Aku tidak akan meminta apapun padamu, tapi tolong percayalah padaku. Aku tidak berniat sedikitpun untuk menghianatimu."
Grimmjow kali ini yang terpana mendengar perkataan Rukia. Setelahnya ia menggeram kesal sembari mengacak rambutnya sendiri dengan kasar. "Maaf, Rukia. Aku hanya tidak suka istriku didekati laki-laki lain."
Rukia tertawa kecil. "Kau tidak sedang mencemburuiku, bukan?"
"Tolong jangan katakan itu," Grimmjow mengeluh.
Rukia mengernyit. "Grimm, kau benar-benar cemburu?"
Grimmjow mendelik kesal. "Dalam mimpimu, Nona Kecil! Mustahil aku mencemburuimu. Ayo naik! Kita pulang sekarang."
Rukia hanya bisa menghembuskan nafasnya sebal. Lagi-lagi ia yang mengalah.
.
Marriage oleh Clarette Yurisa
Bleach © Tite Kubo
Chapter 2
.
"Untuk apa kita kesini?" tanya Rukia ketika laki-laki berambut biru itu menghentikan motornya di depan sebuah restoran keluarga yang cukup ramai. Ia menatap Grimmjow dengan heran setelah turun dari motor.
"Aku kan sudah bilang kalau kita akan makan malam."
"Tapi di parkiran tadi kau bilang kita akan pulang," Rukia memprotes.
Grimmjow menghela nafas sebelum mengacak rambut Rukia pelan. "Aku lapar sekali. Aku juga yakin kalau kau belum makan. Mau makan malam bersama denganku, Nona Mungil?"
Rukia tersenyum tipis mendengar ajakan Grimmjow. "Tentu saja aku mau. Tapi, bagaimana kalau kita makan di rumah? Aku akan masakan sesuatu untukmu."
Grimmjow tampak berpikir sejenak. "Kau yakin bisa memasak?"
Pertanyaan Grimmjow membuat Rukia kembali kesal menahan emosi. "Aku tahu aku masih dalam tahap belajar. Tapi setidaknya hargailah usahaku yang berniat memasakkanmu sesuatu," nada Rukia terdengar merajuk di kalimat akhirnya.
Grimmjow tergelak mendengarnya. "Kau tidak pernah tampak manja sebelumnya. Ketika kau melakukannya kau terlihat menggemaskan sekali."
Entah mengapa ucapan Grimmjow membuat wajah Rukia memanas. Rukia kini terlihat kikuk saat menatap iris biru laki-laki di hadapannya yang tengah menatapnya lekat-lekat. Rukia tidak mengerti mengapa ia merasa terkunci dengan pandangan suaminya kini.
Tangan Grimmjow kembali mengusap puncak kepala Rukia. "Ayo makan bersama di rumah. Aku sudah tidak sabar mencicipi masakanmu. Setuju?"
Rukia menggigit bibir bawahnya. "Setuju, ayo pulang. Tapi sebelum itu, kita ke supermarket dulu. Aku rasa tidak ada bahan makanan apapun dalam kulkas kita."
"Baiklah kalau begitu."
.
"Menu makan malam hari ini adalah tamagoyaki, tempura, dan beef teriyaki."
Grimmjow yang semula duduk di sofa menunggu Rukia memasak sembari menonton televisi, mendongakkan kepalanya. "Kau yakin masakanmu bisa dimakan?"
Rukia menyedekapkan kedua tangannya. "Kau bahkan belum melihat masakanku dan sudah tidak mempercayai rasanya."
Grimmjow menghela nafasnya sebelum beranjak dari sofa. Langkah kakinya membawanya menuju ruang makan diikuti oleh Rukia. Pandangannya mendapati meja makan sudah terisi dengan tiga lauk berbeda yang semula Rukia sebutkan.
"Terlihat lezat, bukan?"
Pertanyaan Rukia tidak digubris Grimmjow, membuat gadis itu menggerutu kesal. Pemuda itu lebih memilih mendudukkan dirinya di kursi makan. Tingkahnya kembali diikuti Rukia. Hanya saja, gadis itu dengan sigap mengambil sebuah piring sebelum mengisinya dengan nasi serta ketiga macam lauk berbeda yang dimasaknya sebelum ia serahkan pada Grimmjow.
"Untukku?"
Rukia merasa gemas mendengar pertanyaan Grimmjow. "Memangnya kau merasa ada orang selain dirimu disini?"
Pertanyaan retoris itu ditanggapi dengusan kecil oleh Grimmjow. Ia selalu terbiasa melakukan segalanya sendiri, namun ketika hal kecil seperti yang barusaja Rukia lakukan untuknya, entah mengapa membuatnya merasa nyaman dan senang. Pemuda itu kemudian mengambil sebuah sendok dan garpu sebelum menyendokkan nasi serta lauk ke dalam mulutnya. Ia bergantian mencoba ketiga lauk tersebut dengan Rukia yang memandangnya lekat.
"Apakah terasa enak?"
Pandangan Grimmjow mengarah pada gadis mungil yang kini sudah berstatus sebagai istrinya. Ia mendapati wajah Rukia yang menatapnya dengan pandangan penuh rasa harap dan penasaran sekaligus. Entah mengapa, Grimmjow merasa takluk dibawah pandangan tersebut.
Terbiasa dengan Rukia yang selalu terlihat mandiri dan dewasa, membuatnya terpaku dengan tingkah Rukia saat ini. Bagi Grimmjow, Rukia tampak sangat menggemaskan di matanya. Grimmjow mungkin tidak hanya takluk, namun juga merasa luluh disaat yang bersamaan.
"Aku tidak menyangka kau pandai memasak," ucap Grimmjow sambil tersenyum tulus. Kalimat tersebut membuat Rukia menjerit pelan tanda senang. Iris biru Grimmjow memancarkan tatapan teduh tatkala mendapati tingkah Rukia yang kembali bersikap diluar pengetahuannya.
Gadis itu kemudian memilih mengikuti Grimmjow. Diambilnya sebuah piring untuk diisi nasi serta lauk, sebelum ia menyuap makanan tersebut ke dalam mulutnya.
Hanya saja...
"Kenapa tamagoyaki-nya terasa asin?"
Grimmjow tersenyum kecil. "Makan dengan nasi supaya terasa lebih nikmat."
"Dagingnya juga masih keras," Rukia memprotes.
"Yang penting masih bisa dikunyah," Grimmjow kembali menyahut.
"Cuma tempura yang rasanya enak," Rukia menghela nafas sebelum wajahnya berubah muram. "Aku payah sekali. Makan di restoran tadi rasanya jadi jauh lebih baik. Kau sendiri juga aneh. Kalau rasanya seperti ini, lebih baik tidak usah dimakan lagi."
Melihat binar bahagia yang semula terpancar di wajah Rukia digantikan dengan raut muram, membuat Grimmjow merasa bersalah. "Memakan masakan yang dibuat istri jauh terasa lebih enak dibanding restoran manapun," ucap Grimmjow sebelum kembali menyendokkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
"Tidak usah dimakan, Grimm."
Grimmjow menggeleng pelan. "Aku harus menghargai usaha istriku yang terbiasa memakai jasa koki dirumahnya. Setidaknya untuk masakan pertama yang kau buat, rasanya tidak terlalu buruk untukku."
Gadis bermata violet itu terpana. Sesungguhnya Rukia sama sekali tidak menyangka Grimmjow akan mengatakan hal penuh makna tersebut padanya. Ia kembali merasa gugup dan kikuk. Duduk berhadapan dengan Grimmjow, dipandangi secara lekat oleh iris birunya, membuat Rukia merasa sesak tak mampu bernafas.
"Kau baik-baik saja?"
Pertanyaan Grimmjow berusaha menyadarkan Rukia. Gadis itu menganggukkan kepalanya sekali sebelum menampilkan senyum kaku. "Tidak apa. Aku hanya... merasa senang dengan ucapanmu barusan. Aku merasa tidak sia-sia sudah berniat memasak untukmu."
"Sering-seringlah memasak untukku."
Rukia tersenyum lebar. Rasanya ada sesuatu yang menggenang di pelupuk matanya. "Aku pasti akan memasak setiap hari untukmu."
Grimmjow turut senang melihat perubahan raut Rukia yang mulai mencerah. "Kupastikan untuk pulang tepat waktu dan makan malam bersamamu."
Gadis itu mengangguk dengan antusias. Dalam benaknya menari berbagai pikiran mengenai apa yang akan ia masak di hari esok. Rukia merasa tidak sabar dan ingin segera membuktikan pada Grimmjow bahwa ia bisa memasak. Bahwa ia mampu membuat makanan yang lezat untuk dihidangkan pada suaminya.
"Lihat," Grimmjow kembali tersenyum lebar. "Bukankah kini kita terasa seperti pasangan lainnya yang baru saja menikah? Meskipun tanpa perasaan cinta."
Dada Rukia kembali sesak mendengar kalimat akhir yang Grimmjow ucapkan. Hanya saja, kali ini sesak yang membuatnya merasa sedih dan ingin menangis. Hanya sebuah senyum penuh keterpaksaan yang akhirnya muncul di wajah Rukia.
.
"Bagaimana mungkin?"
Pertanyaan itu mengudara begitu saja dikarenakan rasa terkejut yang menghampiri wanita tersebut. Wajahnya yang pucat tidak dapat menghilangkan gurat kekhawatiran yang muncul. Sementara pria yang menjadi lawan bicaranya hanya bisa diam terpaku. Suasana mendadak hening, butuh waktu yang cukup lama sebelum sebuah suara memecah keheningannya.
"Aku tidak menyetujui pernikahan mereka. Namun melihat wajah Rukia yang tampak memelas padaku, membuatku semakin merana. Hisana, kau yang paling paham denganku. Kuharap kau mengerti," tutur pria tersebut.
"Byakun," panggilan Hisana melemah. "Aku sangat terguncang dengan berita yang kau kabarkan. Aku mengerti dengan dirimu yang lemah bila dihadapkan dengan sikap keras kepala Rukia. Hanya saja, menikah bukanlah hal sepele. Lagipula Rukia tidak mencintai Grimmjow. Cintanya bukan untuk laki-laki itu."
"Ichigo meninggalkan Rukia."
Penjelasan singkat tersebut kembali mengguncang Hisana. Kepalanya pening sesaat sebelum ia mengatur pernafasannya yang tiba-tiba saja tercekat. "Bagaimana mungkin? Mereka sudah bertunangan. Apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri?"
Byakuya tidak tahu harus menjawab apa. Hisana bertanya dengan gumaman yang dapat didengar olehnya. Namun pria itu mengerti, Hisana tidak sedang bertanya padanya. Istrinya tersebut justru sedang bertanya pada dirinya sendiri, bertanya pada kehampaan yang tidak dapat menjawab pertanyaannya.
"Rukia, anakku," Hisana tiba-tiba saja menangis tergugu. Byakuya dengan cepat menarik wanita tersebut untuk masuk dalam pelukannya. "Bagaimana mungkin Ichigo bisa berbuat setega itu pada anakku? Apa salahnya?"
Yang Byakuya dapat lakukan hanyalah menepuk pelan pundak istrinya. Ia sendiri tidak dapat menjawab pertanyaan Hisana. Byakuya hanya tahu bahwa beberapa hari setelah Hisana kecelakaan dan perusahaannya mengalami keadaan nyaris bangkrut, Ichigo mendatanginya untuk membatalkan pertunangan antara dirinya dan Rukia. Setelahnya, ia justru menerima undangan pernikahan pemuda tersebut.
"Mengapa Rukia harus mengalami hal seperti ini, Byakun?" Hisana melepas pelukannya sebelum menatap Byakuya dengan pandangan menyedihkan. "Seandainya saja aku tidak mengalami kecelakaan, Rukia tidak akan berakhir menikah seperti ini."
Byakuya menggeleng lemah. "Aku yang salah, Hisana. Bila saja perusahaan tidak mengalami penurunan, Rukia tidak akan berakhir menikah atas dasar bisnis. Semua salahku, Hisana. Aku bukan ayah yang baik. Aku tidak becus mengurus keluargaku dan perusahaan. Aku membuat keluargaku menderita. Maafkan aku."
Hisana kembali terisak. "Aku merasa sudah menjerumuskan anakku sendiri. Aku merasa sudah membuatnya mengalami penderitaan. Aku membuatnya menikahi laki-laki yang tidak ia cintai."
Byakuya mengusap puncak kepala Hisana. "Tolong jangan salahkan dirimu lagi. Semua ini salahku, Hisana. Aku yang gagal melindungi istri dan anakku."
Hisana kembali terisak dalam pelukan suaminya. Mereka berdua tidak menyadari bahwa Rukia mendengarkan seluruh percakapan mereka. Gadis yang sudah menjadi istri Grimmjow tersebut hanya bisa termangu di depan pintu kamar ruang inap ibunya. Rukia merasa air matanya nyaris tumpah. Ucapan ayah dan ibunya membuatnya merasa semakin sedih. Tanpa bisa tertahan, Rukia terisak di depan pintu kamar ibunya sebelum gadis itu jatuh terduduk.
Ia tidak mempedulikan beberapa orang yang lewat. Langkah kaki mereka tidak membuat Rukia sadar akan kondisinya saat ini yang tengah menjadi pusat perhatian. Mata-mata yang menatapnya penasaran tidak mampu menghentikan kesedihan Rukia.
Demi Tuhan, terjebak dalam pernikahan dengan Grimmjow memang bukan kemauannya. Hanya saja tidak ada lagi yang dapat Rukia lakukan untuk membantu kedua orang tuanya selain dengan jalan tersebut. Terlebih lagi, Ichigo yang meninggalkannya begitu saja membuatnya semakin terluka. Rukia hanya ingin bangkit. Ia tidak ingin terlihat rapuh di depan kedua orang tuanya. Bersikap tegar adalah hal yang ia tunjukkan.
Namun kali ini semuanya pupus. Rukia merasa kesedihannya telah memuncak. Mendengar ibunya menangisi dirinya, membuat dirinya jauh lebih sedih dibanding sebelumnya. Jikalau dipikir, hidup Rukia memang terasa jungkir balik dalam waktu sekejap. Ibunya kecelakaan hingga kritis, lalu perusahaan ayahnya mendadak nyaris mengalami kebangkrutan, kemudian disusul dengan Ichigo yang memutuskan pertunangan mereka secara sepihak. Akan tetapi Rukia masih tampak tegar. Hingga syarat pernikahan menghampiri dirinya tatkala ia meminta bantuan pada Grimmjow.
"Rukia," panggilan yang sarat akan nada cemas tersebut membuatnya mendongakkan kepalanya. Kedua bola mata gadis itu terlihat sembab. Terlebih ia semakin merasa sesak tatkala suaminya menghampiri dirinya dengan raut wajah yang sarat akan kekhawatiran. Pandangan yang membuat Rukia merasa luluh namun sakit secara bersamaan mengingat ucapannya kemarin malam.
"Aku baik-baik saja," Rukia menjawab ditengah isakan tangisnya.
Grimmjow tentu tidak percaya dengan perkataan istrinya. Dengan cepat ia menarik Rukia sebelum membimbingnya untuk mencari sebuah kamar kosong. Pemuda itu dengan sigap mendudukkan Rukia di sebuah ranjang pasien sebelum menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi gadis tersebut.
"Apa yang terjadi padamu?"
Rukia merasa tercekat dengan sikap Grimmjow yang penuh akan perhatian tersebut. Ia menggigit kedua bibirnya sebelum tangisnya kembali pecah. Gadis itu kembali menangis sebelum Grimmjow menepuk pelan puncak kepalanya.
"Aku tidak akan bertanya," ucap Grimmjow, masih sambil mengelus ubun-ubun Rukia. "Tapi aku akan dengarkan tangisanmu sampai kau selesai. Aku akan disampingmu sampai rasa sedihmu hilang. Setelah itu kita akan menjenguk ibumu."
Grimmjow hanya bisa menghela nafasnya. Sejujurnya pemuda tersebut sangat terkejut mendapati Rukia yang menangis pilu di depan kamar kedua orang tuanya. Ia merasa menyesal telah menyuruh Rukia untuk menemui orang tuanya terlebih dahulu, sementara dirinya mengurus biaya administrasi yang tempo hari masih belum ia lunasi. Pandangan laki-laki itu terlihat terluka saat ini. Ia ingin sekali memaksa Rukia untuk menjawab pertanyaannya, namun Grimmjow merasa ia harus menghargai privasi Rukia. Meskipun gadis itu sudah menjadi istrinya, Grimmjow masih menjaga batasan-batasan mana saja yang tidak boleh ia lakukan.
Rukia mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Pandangan matanya tampak sejajar dengan iris biru milik Grimmjow. "Maafkan aku, Grimm," ucap Rukia sembari mengusap air matanya.
Grimmjow menggeleng lemah. "Tidak ada yang perlu minta maaf, Nona Mungil. Kau tidak sedang melakukan kesalahan apapun. Menangis adalah hal manusiawi, jadi tidak perlu merasa bersalah."
Rukia tersenyum mendengar ucapan Grimmjow. "Terima kasih sudah menenangkanku. Terima kasih juga sudah menungguku."
Grimmjow mengelus puncak kepala Rukia lagi. "Tidak usah berterima kasih padaku. Sebaiknya kau siap-siap untuk menemui kedua orang tuamu."
Rukia menganggukkan kepalanya sebelum merapikan penampilannya. Ia tentu tidak ingin menampilkan wajah sembab dihadapan ibu dan ayahnya. Setelahnya mereka berdua keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju kamar ibu Rukia. Disana, Byakuya dan Hisana menatap pasangan suami istri tersebut dengan pandangan terkejut.
"Ibu, bagaimana kabar ibu?" Rukia bertanya penuh rasa khawatir sebelum melangkahkan kaki untuk mendekati ibunya. Dipeluknya ibunya tersebut dengan erat sebelum ia kembali berujar, "Aku rindu sekali denganmu, bu. Aku senang saat ayah berkata padaku kalau kau sudah siuman."
Hisana merasa sedih sekaligus bangga akan ketegaran yang ditunjukkan oleh anak semata wayangnya. "Aku baik-baik saja. Kau bisa lihat sendiri kalau sekarang ibumu sudah sangat sehat dan mampu mencubit pipimu yang kini justru semakin tirus."
Rukia terpana tatkala cubitan pelan tersebut mampir di pipinya. Ia menatap ibunya sebelum tersenyum tipis. "Masakan di rumah terasa tidak enak semenjak ibu tidak ada. Aku jadi malas makan. Mungkin itu sebabnya berat badanku menurun."
Hisana terkekeh mendengar jawaban anaknya. Kemudian matanya bergulir dan mendapati Grimmjow yang sedang berdiri sembari menatap mereka. "Siapa laki-laki itu?"
Rukia yakin sekali ibunya hanya pura-pura bertanya. Namun Rukia berusaha menunjukkan bahwa ia tidak tahu jikalau ibunya sudah mengetahui perihal pernikahannya. Maka ditariknya lengan Grimmjow dengan mesra sebelum ia mengenalkan pada ibunya. "Aku minta maaf sudah menikah tanpa kehadiranmu, bu. Ia suamiku. Namanya Grimmjow."
Wajah Hisana yang pura-pura terkejut tampak seperti nyata. "Mengapa kalian menikah disaat aku tidak sadarkan diri?" ia menatap Grimmjow dan Rukia penuh dengan pandangan menyelidik sebelum kembali bicara dengan nada menggoda, "kalian tidak married by accident, kan?"
Rukia gelagapan mendengar pertanyaan ibunya yang diluar perkiraannya. Sementara Grimmjow hanya tersenyum kecil mendengarnya. "Saya pastikan kalau kami tidak menikah karena hal tersebut, bu," Grimmjow menyahut.
"Lalu mengapa? Sepengetahuanku sebelum mengalami kecelakaan, Rukia justru sudah bertunangan dengan Ichigo. Bagaimana bisa ia menikah denganmu?"
Grimmjow kembali tersenyum tipis. Dengan suara mantap ia menjawab, "Kami bisa menikah karena aku mencintainya dan Rukia menerima pinanganku, bu."
Mendengar jawaban Grimmjow yang terlihat jujur, membuat Hisana terdiam. Sementara Byakuya cukup terkejut dengan kalimat yang baru saja terucap dari mulut laki-laki tersebut. Hanya Rukia yang paham. Ia tahu, bahwa semua ucapan Grimmjow yang terasa jujur tersebut hanyalah kebohongan belaka. Kebohongan yang entah mengapa membuat dadanya semakin bertambah sesak.
.
"Kau tidak bisa melakukan hal ini, Ichigo!"
Pemuda berambut jingga tersebut mengacak rambutnya kasar. Raut wajah penuh keputusasaan terlihat jelas padanya. Pikiran-pikiran mengenai Rukia terus membayangi dirinya hingga saat ini. Terlebih ketika wanita tersebut sudah menjadi milik orang lain. Ichigo tidak masalah bila dikatakan bebal dikarenakan ia masih mencintai wanita lain disaat dirinya sudah berumah tangga. Toh, pernikahan yang ia jalani tidak berlandaskan cinta apapun.
"Kukatakan sekali lagi, jauhi Rukia. Kau tidak bisa melakukan hal ini padanya," pemuda berambut merah tersebut menatap Ichigo dengan raut kesal. "Kau meninggalkannya begitu saja demi rencana yang kau buat untuk menikah dengan wanita lain. Lalu sekarang kau berniat mendekatinya lagi disaat ia sudah menjadi istri laki-laki lain?"
"Aku tidak mencintai Neliel. Kau tahu itu, Renji. Aku tidak pernah bisa mencintainya," ucap Ichigo dengan wajah memelas. "Hanya Rukia, satu-satunya wanita yang kucintai. Hanya Rukia yang bertahan dihatiku sampai saat ini."
"Kau memang tidak mencintainya, Ichigo. Kau mencintai hartanya untuk menyelamatkan perusahaanmu," mata Renji memicing sebelum melontarkan kalimat yang sarat akan emosi, "Tapi kau melupakan perasaan Rukia yang mencintaimu dengan tulus."
Ucapan penuh kekesalan terlontar begitu saja dari mulut Renji. Kalimat tersebut mampu membungkam Ichigo dalam sekejap. Pemuda itu kembali merutuk tatkala membenarkan perkataan yang baru saja menampar dirinya dengan telak. Salahnya yang terlebih dulu menghianati Rukia. Salahnya yang lebih mementingkan rencananya hingga ia memilih bermain api tanpa sepengetahuan gadis tersebut. Semua memang salahnya.
"Semua salahku," Ichigo menggumam lirih sebelum menumpukan kepalanya pada kedua telapak tangannya. "Hidupku hancur karena kesalahanku sendiri. Aku yang membuat hubungan kami berantakan. Semua memang salahku."
Renji hanya bisa mendengus sebal. Sudah dari jauh hari ia memperingati Ichigo untuk tidak bermain api dan menjalankan rencana buruknya. Sayangnya ucapannya hanyalah angin lalu bagi Ichigo. Laki-laki bermarga Kurosaki tersebut lebih memilih mengikuti permainan yang diciptakannya untuk bercinta dengan rekan kerjanya, Neliel. Melupakan Rukia yang saat itu tengah sibuk dengan skripsinya.
Sekarang, setelah semua sudah terjadi, Ichigo menyesal luar biasa. Pernikahannya dengan Neliel memang sesuai dengan rencananya, namun hasilnya tidak. Semuanya sungguh diluar dugaan. Bahkan kini ia merasa tidak bahagia dengan wanita tersebut. Hanya Rukia, Rukia, dan Rukia yang selalu membayangi benaknya. Tidak ada gadis manapun. Tidak ada wanita lain. Hanya dirinya. Hanya Rukia seorang.
"Aku tidak akan menasehatimu apapun lagi," tutur Renji pada akhirnya. "Sudah banyak nasehat yang kuberikan padamu, tapi selalu kau acuhkan. Hanya saja, aku tetap akan memberikanmu peringatan. Jauhi Rukia. Dia sudah bersuami."
"Persetan dengan suaminya!" Ichigo merutuk. "Laki-laki brengsek itu hanya memanfaatkan keadaan Rukia yang saat itu sedang kesusahan. Mereka tidak saling mencintai, aku yakin itu. Hanya aku yang Rukia cintai. Matanya masih menunjukkan perasaan itu padaku."
Renji menggelengkan kepalanya lemah, merasa lelah dengan kebebalan otak Ichigo. "Meskipun begitu, kau tidak bisa mendekatinya lagi. Kau harus sadar dengan posisimu dan status yang Rukia miliki sekarang."
"Aku sudah katakan kalau aku tidak peduli."
"Pikirkan bayi yang dikandung istrimu," Renji masih berusaha membujuk. "Kau tidak menginginkan anakmu lahir dalam keluarga yang terpecah, bukan? Setidaknya, meskipun kau tidak mencintai Neliel, kau tetap mencintai anakmu."
"Aku tidak menginginkan anak itu."
"Ichigo, sadarlah!" Renji merasa murka. Ia tahu kalau saat ini Ichigo tengah depresi berat. Hanya saja, mengatakan hal seperti itu membuatnya merasa marah dan kecewa. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya berubah menjadi pria se-bajingan ini.
"Aku akan dapatkan Rukia kembali. Akan kupastikan itu."
.
Hai semuanya, apa kabar? Akhirnya saya berhasil update buat chapter selanjutnya hehe. Cerita ini emang selalu saya cicil tiap hari, meskipun dalam sehari saya cuma mampu nulis beberapa ratus kata, seenggaknya itu lebih baik daripada gak sama sekali. Saya bersyukur fict ini udah lumayan jauh saya tulis, buat jaga-jaga seandainya kesibukan saya tiba-tiba padet dan gabisa nulis di waktu senggang. Supaya saya ga ngulangin hal yang sama hehe.
Kali ini saya mau mengucapkan terimakasih buat teman-teman sekalian yang udah review di chapter sebelumnya. Thanks to: malas login, baramjji, delalice, Haruna Aoi, Mozuotaku, anita. indah. 777, nay, Haizahr Hana, Asyah Hatsune, dan Kiki RyuSullChan. Saya juga mengucapkan terimakasih buat teman-teman yang sudah mem-follow atau meng-alert cerita saya di chapter sebelumnya. Thanks to: Asyah Hatsune, Eonnichee835, Fleur Choi, Haizahr Hana, Little Deer Chanie94, Riren18, 3nd4h, Scarleet Rin, dan ryunyoo.
Udah lama saya ga berbalas review dengan teman-teman, jadi kali ini saya akan membalas review dari teman-teman sekalian yang sudah meluangkan waktunya untuk meninggalkan kesan/pesan untuk saya.
Untuk malas login: saya memang keterlaluan udah hiatus kelamaan dari fict ini, tapi saya bersyukur chapter ini teman-teman gak perlu nunggu sampe tiga tahun lagi hehe. Terimakasih atas semangatnya yaa hehe. Untuk baramjji: akhirnya saya lanjutkan dan memang benar saya jadi pake konsep baru. Terimakasih sudah bilang suka, saya senang sekali bacanya. Hihi untuk alasan Grimm nikahin Rukia, saya yakin akan diungkap di chapter mendatang, jadi saya mohon tunggu dengan sabar dan tetep stay tuned di fict ini untuk tau alasannya yaa. Untuk delalice: saya memang nakal, del hihi. Sejujurnya scene yang kita suka emang sama, saya pengen nunjukkin sosok Grimm yang ngelindungin Rukia tapi tetep berusaha terlihat misterius. Haha ditunggu aja ya del alasannya Grim nikahin Rukia apa. Hihi jangan terharu, saya jadi malu wkwk makasih juga ya delaaa. Untuk Haruna Aoi: yup, benar sekali. Sejak awal dicerita ini saya emang udah nunjukkin secara implisit kalo Rukia masih ada rasa-rasa sama mantannya dulu, si Ichigo. Istrinya Ichigo? Melon orange itu maksudnya Orihime ya? Hayoooo bener gakyah tebakannya. Chapter ini keungkap kok, jadi tetep stay tuned yaaa. Masalah Ichigo berkhianat, mungkin akan terasa pasaran jika ketauan nanti haha. Saya gak jago bikin cinta-cintaan ribet soalnya wkwk. Untuk Mozuotaku: haha akhirnya bang toyib pulang ya. Jujur saya ketawa pas baca kata bang toyib, soalnya jadi kayak berasa ninggalin istri beneran wkwk. Terimakasih atas semangatnya, saya juga berharap gak jadi bang toyib lagi kok hihihi.
Untuk anita. indah. 777: terimakasih anita atas ucapan selamat datangnya. Semoga kamu tetep stay tuned di fict ini sampe tamat yaaa. Untuk nay: ada apa yaaa hehe. Saya juga penasaran kok wkwk tapi penasaran sama ceritanya mau dibikin kayak gimana. Saya memang mau captain sosok misterius buat Grimmjow diawal, tapi seiring bertambah chapter, semua bakal keungkap kok hehe. Untuk Haizahr Hana: terimakasihhh makasih banyak sudah dibilang manis ceritanya. Saya berharap authornya juga dibilang manis hehehe canda. Terimakasih atas semangat dan doanya jugaa, saya sangat terharu :" sekali lagi terimakasih yaa, semoga kamu tetep jadi pembaca dan reviewer setia disini. Untuk Asyah Hatsune: maafkan saya yang baru muncul :" tiga tahun memang lamanya keterlaluan ya, mulai kamu dari belum punya akun sampe udah jadi author, saya bener-bener minta maaf udah jahat ya :" hihi saya juga bersyukur dan gembira karna kamu senang. Maaf tapi sudah jalan cerita dari awal saya niatin gitu, saya harus pake pihak ketiga, si Ichigo. Kalau rombak cerita lagi sudah gak mungkin soalnya :" saya harap kamu tetep stay tuned baca meskipun cerita ini ada orang ketiga ya hehe. Saya usahakan gak kayak sinetron-sinetron kok wkwk. Untuk Kiki RyuSullChan: ini sudah diupdate ceritanya. Terima kasih sudah review, semoga kamu jadi pembaca setia disini.
Wow lagi-lagi saya bikin a/n yang panjang hehe. Semoga teman-teman gak ngerasa jenuh ya. Saya cuma kangen aja saking lamanya ga pernah bales review. Habisnya saya terbiasa bikin oneshoot wkwk. Disini saya pengen ngungkapin kalau berkat teman-teman semua, terutama yang udah review, kalian berhasil membuat saya merasa bertanggung jawab atas fict ini. Kalian penyuplai semangat saya. Kalo menurut istilah delalice yang saya pinjem, reviewer itu vitamin buat para author. Jasa kalian sangat besar meskipun kalian mungkin ada yang gak sadar. Teman-teman yang merangkap jadi author pasti paham, tanpa reviewer kita, para author, pasti gak ada apa-apanya. Tidak ada seorang author yang tidak mengharapkan review dari pembacanya, meskipun hanya beberapa patah singkat. Maka dari itu, saya sangattt berterima kasih dengan kehadiran kalian semua. Saya merasa benar-benar pulang kerumah saya, di fandom bleach Indonesia. Saya juga merasa diterima dengan tangan kalian yang terbuka lebar meskipun sudah tidak bertanggung jawab dengan menelantarkan banyak fict. Terimakasih semuanya :"
Sebelum a/n yang panjangnya keterlaluan ini ngalahin panjang ceritanya, saya sudahi dulu sampai sini. Chapter selanjutnya akan saya usahakan apdet di akhir bulan, seperti sekarang. Saya mohon doanya dari teman-teman supaya saya bisa update tanpa halangan. Saya tunggu juga review dari para pembaca sekalian yaa. Sekian, terimakasih banyak untuk semuanya :)
