"Aku bertanya-tanya, bagaimana dulu kau bisa mengenal Ichigo?"
Pasangan suami istri tersebut kini sedang berbaring di satu ranjang yang sama. Sesuai dengan keinginan Grimmjow yang memaksa mereka berdua untuk berbagi tempat tidur. Hanya saja, suasana canggung tersebut membuat Grimmjow melepaskan pertanyaan penuh rasa ingin tahu pada Rukia.
"Dulu ia seniorku di kampus. Saat aku menjadi mahasiswa baru, ia adalah orang pertama yang kukenal di lingkungan kuliah," pandangan Rukia tampak menerawang, berusaha menggali ingatannya di masa lalu. "Ia selalu membantuku bila aku mengalami kesulitan. Meskipun dia sudah menjadi mahasiswa master degree tingkat akhir, ia selalu meluangkan waktunya untukku bila ada mata kuliah yang tidak aku mengerti."
"Berawal dari hubungan junior dan senior, begitu maksudmu?"
Rukia mengangguk. Ia membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Grimmjow. "Aku tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Dia adalah pria pertama yang mau menjalin hubungan denganku. Berada dalam marga Kuchiki tidak membuatku mudah untuk berdekatan dengan orang lain. Kau tahu sendiri, banyak penjilat dimana-mana."
Grimmjow turut membalikkan badannya dan menatap Rukia. "Itukah alasan yang membuatmu sulit melupakannya? Karena dia adalah laki-laki pertama yang kau cinta?"
Rukia tersenyum getir. "Tepat seperti yang kau katakan. Hidupku terbiasa berpusat padanya. Bahkan aku mengenal Rangiku juga karena dirinya."
"Aku tidak heran kalau kau masih belum bisa melupakannya."
Entah mendapat keberanian darimana, tangan Rukia menyentuh rambut biru Grimmjow dan mengusapnya lembut. Raut terkejut terang saja dirasakan oleh Grimmjow. Pasalnya baru kali ini Rukia menyentuhnya melalui kontak fisik. Lupakan hari kemarin saat ia mengeringkan rambutnya. Gadis itu menyentuhnya dengan handuk sebagai medium. Namun kali ini, tangannya yang halus mengelus rambut Grimmjow sebelum mengelus pipi laki-laki tersebut.
"Walaupun hatiku masih mencintainya, aku selalu berusaha untuk melupakannya. Saat ini sampai nanti, hanya kau laki-laki yang berstatuskan suamiku," tutur Rukia lembut. Ia tersenyum getir sebelum menambahkan kalimat yang kemarin Grimmjow ucapkan padanya, "Meskipun kita menikah tanpa perasaan cinta."
.
Marriage oleh Clarette Yurisa
Bleach © Tite Kubo
Chapter 3
.
Kilau mentari yang menyusup melalui celah-celah gorden membuat tidur Rukia terusik. Merasa masih mengantuk, gadis itu memilih untuk membalikkan punggungnya. Hanya saja, ia merasa gerakannya sungguh terbatas. Tubuhnya serasa terimpit sesuatu yang besar hingga membuatnya tak sanggup bergerak. Dengan malas ia membuka kelopak matanya sebelum mendapati hal yang cukup mengejutkan.
Sebuah tangan melingkari perutnya, sementara punggung kecilnya menempel erat seakan telah diberi perekat. Rukia cukup sadar untuk mengetahui siapa pemilik tangan tersebut. Ia tak lain adalah suaminya sendiri.
Rukia dapat merasakan hembusan nafas teratur suaminya di lehernya. Detak jantung yang mengalun pelan dengan ritme nan statik juga dapat Rukia rasakan pada punggungnya. Tangan besar dan kasar tersebut sanggup membuat debaran jantung Rukia bertalu-talu akibat ulahnya. Rikia merasa kaku dalam sekejap, tak mampu bergerak sedikitpun.
Bagaimanapun juga, ini adalah kali pertama ia berada dalam jarak yang begitu dekat dengan seorang laki-laki. Bahkan dengan Ichigo, sentuhan fisik yang mereka lakukan hanyalah sebatas bergandengan tangan dan rangkulan yang terasa longgar. Meskipun Rukia mencintai Ichigo, ia masih belum terbiasa untuk bersentuhan terlalu jauh dengan laki-laki tersebut.
Rukia ingin sekali bergerak dan melepaskan pelukan Grimmjow. Namun ia merasa tidak rela dengan niatnya tersebut. Gadis itu yakin sekali ketidakrelaannya bukan karena ia memiliki perasaan khusus pada laki-laki yang berstatus suaminya. Ia hanya merasa nyaman dan menemukan tempat untuk berlindung. Berada dalam pelukan Grimmjow membuatnya mampu melepas seluruh gundah yang bersarang.
Hanya saja, berada pada waktu yang lama dengan posisi tersebut mampu membuat Rukia canggung. Perlahan ia mencoba mengangkat lengan Grimmjow yang tengah memeluknya erat. Gumaman kesal karena tidurnya terusik membuat Rukia menghentikan gerakannya. Pada akhirnya Rukia memilih untuk melonggarkan pelukan Grimmjow sebelum menbalikkan badannya.
Yang Rukia dapati adalah wajah tenang suaminya. Berbeda sekali dengan ekspresi ketika suaminya bertemu dengan Ichigo beberapa hari yang lalu. Sebenarnya, Rukia masih terus bertanya-tanya dalam hatinya. Sayang pertanyaan tersebut tidak pernah berhasil keluar dari bibir mungilnya. Ia hanya merasa tidak siap bila jawaban yang Grimmjow berikan tidak sesuai harapannya.
Tunggu!
Apa yang baru saja ia pikirkan?
Apa yang Rukia harapkan? Benak gadis tersebut berputar, bermain-main dengan otaknya. Memangnya jawaban Grimmjow yang seperti apa yang ia inginkan? Bukankah semua jawaban akan terasa sama saja? Tidak ada hal istimewa apapun yang patut diharapkannya untuk terucap dari mulut Grimmjow. Toh mereka tidak saling mencintai.
Mendadak hati Rukia berdenyut. Rasanya perih, bukan perih yang dapat diobati begitu saja dengan obat luar. Perih ini terasa lain hingga membuat Rukia merasa bingung. Batinnya berkata, mungkin akibat tindakan Grimmjow yang terasa manis padanya hingga membuatnya luluh. Tidak ada hal apapun. Rukia hanya bisa berpegang teguh pada pemikirannya tersebut.
"Kau sudah bangun?"
Pertanyaan tersebut menyadarkan pikiran Rukia yang sempat melanglang buana. Gadis itu mengangguk dan tersenyum kikuk sebelum berkata, "tanganmu berat sekali. Rasanya sulit sekali untuk bernapas."
Respon yang Grimmjow berikan adalah sebuah kernyitan di dahinya. "Kalau badanku berat memang masuk akal. Lalu mengapa tangan?"
Gadis itu melirik ke pinggangnya yang masih berada dalam pelukan laki-laki tersebut. Mengikuti arah pandang Rukia membuat Grimmjow termangu sesaat sebelum menarik tangannya. Entah mengapa, Rukia merasa kosong dalam sekejap. Gadis itu bahkan tidak mempedulikan ekspresi panik yang menghiasi wajah suaminya.
"Aku tidak sengaja, sungguh," wajah Grimmjow tampak memelas. "Aku berjanji agar hal seperti tadi tidak terulang lagi. Aku benar-benar minta maaf Rukia. Maafkan atas ketidaknyamanan yang kau rasakan."
Rukia menggeleng lemah sebelum bangkit dari tidurnya dan diikuti Grimmjow. "Tidak apa, Grimm. Tidak usah bersikap seperti itu. Aku tahu kau melakukannya dengan tidak sengaja."
Grimmjow merasa kesal dengan ulahnya. "Aku sungguh minta maaf, Rukia. Aku benar-benar berjanji-"
"Grimm," panggilan Rukia membuat ucapan Grimmjow terhenti. Dengan pandangan yang entah mengapa terasa sendu di mata Grimmjow, Rukia berujar lirih. "Tidak usah bicara seperti itu. Lagipula, kini kita terasa seperti pasangan pengantin lainnya bukan? Walaupun aku dan kamu tidak saling mencintai."
Grimmjow pun tidak tahu harus merasa senang atau lega mendengar penuturan Rukia.
.
"Kau yakin mau kuturunkan disini? Tidak ingin kutemani?"
Pertanyaan Grimmjow dijawab dengan gelengan kepala oleh Rukia. "Disini saja. Lagipula nanti kau terlambat ke kantor. Aku tidak mau kau memberikan contoh yang buruk pada bawahanmu."
Grimmjow menghela nafasnya. "Kuantar saja ya. Aku merasa tidak tenang menurunkanmu di halte seperti ini," tutur Grimmjow jujur. "Lagipula kau ingin pergi kemana, sih? Kau hanya bilang kalau tujuanmu tidak searah dengan kantorku dan memintaku menurunkanmu disini."
Rukia mengerlingkan matanya. "Rahasia."
"Kau tidak sedang janjian dengan laki-laki lain, bukan? Ichigo, misalnya," entah mengapa, Rukia merasa nada suara Grimmjow berubah menjadi tidak bersahabat. Bahkan wajahnya tampak sinis, meskipun laki-laki tersebut terlihat sekali berusaha menyembunyikannya.
"Bukan, Grimm," Rukia menghembuskan nafasnya. "Aku hanya ingin ke taman kota. Aku hanya merasa bosan dan jenuh akhir-akhir ini. Aku butuh udara segar."
Grimmjow mengangguk sebelum menjalankan motornya kembali. "Aku akan merasa jauh lebih tenang bila kau kuantar sampai tujuan. Jadi tidak ada protes apapun," ucap Grimmjow sebelum mempercepat laju sepeda motornya.
Rukia merengut kesal. Sejujurnya, Rukia barutahu kalau Grimmjow penganut hobi kebut-kebutan di jalan dengan sepeda motor kesayangannya. Ia yang terbiasa pergi kemanapun dengan mobil, mau tidak mau harus beradaptasi dengan tingkah Grimmjow yang lebih suka mengendarai motornya. Dan jika Grimmjow sudah ngebut seperti saat ini, yang bisa Rukia lakukan hanyalah memeluk pinggang pria tersebut dengan erat sembari komat-kamit dalam hati meminta keselamatan pada Kami-sama.
Sebenarnya Rukia tidak masalah dengan kendaraan apapun, meskipun ia sendiri lebih terbiasa dengan mobil dan supir pribadi yang disiapkan ayahnya. Hanya saja, Rukia agak cemas bila harus berboncengan dengan Grimmjow seperti saat ini. Kecepatan sepeda motor tersebut membuat Rukia merasa kalau ia tengah terbang dihembus angin. Jujur saja, Rukia merasa takut setengah mati saat ini. Tidak heran bila suatu saat nanti Rukia akan merasa trauma untuk naik sepeda motor.
"Sudah sampai, Rukia."
Gadis itu tidak bergeming. Ia tetap dalam posisinya, memeluk pinggang Grimmjow dan memejamkan matanya. Grimmjow terang saja merasa heran tatkala Rukia masih belum juga melepaskan pelukannya. Maka, ditepuknya pelan lengan gadis yang tengah melingkari pinggangnya tersebut.
Rukia yang tersadar, segera turun dari motor secepatnya. Namun saat menginjak bumi, ia tiba-tiba saja merosot ketika merasakan dengkulnya lemas bukan main. Sebelum sempat jatuh ke tanah, Grimmjow menopangnya dengan sigap. Laki-laki tersebut segera menuntun Rukia untuk duduk menyamping di jok motornya sebelum ia melepaskan helmnya dan helm yang masih Rukia pakai.
Yang pertama kali Grimmjow lihat saat melepas helm Rukia adalah wajahnya yang pucat. Saat itu juga, Grimmjow merasa bersalah. Tidak pernah ia mendapati wajah Rukia terlihat pucat seputih kapas. Bahkan perona bibir tak mampu menyembunyikan kepucatan wajahnya. Dapat Grimmjow lihat juga tangan Rukia yang sedikit gemetar.
"Maaf, Rukia."
Gadis itu menggigit bibirnya sebelum matanya menatap iris biru Grimmjow. Ia bisa melihat gurat kecemasan itu muncul kembali di wajah suaminya. Demi Tuhan, bukannya Rukia ingin membandingkan, hanya saja ia tidak pernah diberikan perhatian sebesar ini sebelumnya dari Ichigo. Meskipun dulu laki-laki tersebut selalu bertanya cemas bila sesuatu terjadi padanya, Rukia yakin kecemasannya tidak sebanding dengan Grimmjow saat ini.
"Aku benar-benar menyesal. Aku berjanji tidak akan seperti tadi lagi."
Rukia masih merasa linglung untuk berbicara. Pikirannya masih terasa melayang. Namun ucapan Grimmjow kembali membuat benaknya bermain. Ia memang tidak menginginkan pernikahan ini, namun di sisi lain ia juga tidak merasa menyesal. Segala tutur kata, perhatian, dan tingkah laku Grimmjow lebih membuatnya nyaman dan merasa terlindungi. Meski kadang ucapan pria tersebut membuat hatinya terasa sakit seperti di iris-iris, yang Rukia sendiri tidak mengerti apa penyebabnya.
"Rukia tolong katakan sesuatu. Jangan membuatku cemas," ucap Grimmjow sambil mengelus pipi Rukia yang masih tampak pucat. Tangan satunya lagi ia gunakan untuk mengelus punggung Rukia, berharap dapat mengurangi efek ketakutannya.
"Aku tidak apa-apa," ucap Rukia akhirnya dengan bibir yang bergetar. Ia pandangi Grimmjow lekat-lekat sebelum bertanya lirih, "boleh aku memelukmu sebentar?"
Grimmjow yang mendengat pertanyaan tersebut jelas saja tercengang. Masalahnya, berdasarkan pengamatannya, Rukia selalu berusaha meminimalisir bahkan cenderung menghindar untuk melakukan kontak fisik dengan pria selain ayahnya. Namun melihat wajah Rukia yang tampak memelas, dengan pasti Grimmjow menganggukkan kepalanya dan membuat Rukia masuk ke dalam pelukannya.
Yang bisa Rukia rasakan adalah kehangatan dan kenyamanan. Berada dalam pelukan Grimmjow benar-benar mampu membuatnya merasa tenang dan aman sekaligus dilindungi. Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat sembari mempererat pelukannya. Wajahnya semakin ia benamkan dalam dada Grimmjow.
"Aku selalu seperti ini," tutur Rukia dengan suara yang tidak terlalu jelas karena wajahnya yang ia benamkan. "Biasanya ibu yang selalu melakukan hal ini padaku. Karena terlalu sering, justru malah jadi kebiasaan untukku."
Grimmjow yang mendengar penjelasan Rukia mulai mengerti alasan gadis tersebut meminta pelukannya. Tanpa bisa dicegah, ia mengelus punggung mungil Rukia yang terasa sangat pas dalam pelukannya. Entah sadar atau tidak, ia bahkan turut mempererat pelukannya.
"Aku tahu hal ini akan mengusikmu. Aku minta maaf, Grimm. Kuharap kau tidak keberatan dengan kebiasaanku yang satu ini."
Grimmjow menggeleng meskipun Rukia tidak bisa melihatnya. "Aku tidak merasa terganggu dan keberatan, Rukia. Sudah kukatakan, aku akan mencoba terbiasa dengan keberadaanmu sekaligus kebiasaanmu. Aku menikahimu bukan untuk jangka waktu sementara melainkan seumur hidup, Nona Mungil."
Rukia tersenyum dalam dekapannya. "Aku, sekalipun pernah menolak lamaranmu, tidak pernah merasa menyesal sudah menikah denganmu. Meskipun awalnya aku merasa kau tidak mempedulikan keadaanku yang tengah terjepit dengan mengajukan syarat pernikahan, kini aku merasa bersyukur. Aku sangat senang karna kau selalu memperhatikan dan memperlakukanku dengan baik, layaknya seorang istri sungguhan."
"Kita memang menikah sungguhan, Rukia."
Rukia menganggukkan kepalanya. "Aku tahu. Hanya saja, kupikir kau berniat merencanakan sesuatu yang buruk padaku. Aku tahu pikiranku sungguh buruk terhadapmu. Aku minta maaf, Grimm."
"Baka!" telapak tangan Grimmjow mengelus rambut Rukia sebelum memainkannya. "Tidak perlu minta maaf. Sudah sewajarnya kau berpikir seperti itu. Siapapun wanita yang berada di posisimu pasti akan mempunyai pikiran seperti yang kau pikirkan."
Rukia tersenyum lega. "Terima kasih, Grimm. Aku sudah merasa lebih baik sekarang," ucap Rukia sambil melepas pelukannya. Setelahnya ia segera turun dari jok yang semula ia duduki dan memandangi wajah Grimmjow yang tengah menatapnya dengan lembut. "Aku sangat bersyukur memiliki kamu yang selalu ada disampingku."
"Aku juga bersyukur kau menerima lamaranku, Nona Mungil," ucap Grimmjow sambil mengacak lembut rambut Rukia. Sementara sang Pemilik Rambut justru menampilkan raut kesal.
"Hei! Jangan acak rambutku nanti kusut," keluh Rukia. Ia semakin menggerutu tatkala mendapati Grimmjow yang justru menyeringai nakal padanya. "Sudah sana berangkat! Nanti terlambat!"
Grimmjow mendengus kesal melihat Rukia yang mengusirnya. "Tidak perlu kau suruh, aku juga akan berangkat kerja. Tidak kusangka ternyata kau bisa cerewet juga."
Rukia menggeram. "Kau bilang apa? Dasar menyebalkan!"
Grimmjow terkekeh mendapati Rukia yang menggeram marah. Ia mengelus pipi Rukia yang kini tak lagi pucat sebelum berpamitan. "Katakan bila kau sudah selesai. Akan kujemput kau pulang nanti."
Rukia tersenyum tipis menatap kepergian suaminya. Setelahnya ia membalikkan badan untuk menuju jantung taman kota tersebut. Suasana tenang dan damai segera saja membuat pikiran Rukia terasa di-refresh kembali dalam sekejap. Langkah kakinya terasa ringan dan riang disaat yang bersamaan akibat suasana hatinya yang semakin membaik.
Ia sudah mengatakan keluhan hatinya pada Grimmjow. Suaminya bahkan tidak marah sedikit pun atas ucapannya, justru malah memahaminya. Selain itu, hubungan mereka mulai mencair secara perlahan dan Rukia sudah tidak merasa secanggung pertama kali ketika lengannya digenggam Grimmjow saat keluar lift tempo hari.
Sayangnya ketenangan tersebut rusak dalam sekejap. Mendapati sesosok orang yang mengisi hatinya, membuat Rukia merasa gelisah dalam sekejap. Bukannya apa, Rukia hanya merasa cemas bila nantinya Grimmjow menyangka ia bertemu laki-laki ini dengan sengaja tanpa sepengetahuannya.
"Bisa bicara sebentar?"
Rukia bahkan tidak tahu mana pilihan yang terbaik; menerima atau justru menolak.
.
"Tuan Grimmjow belum datang, Nona."
Mendapati jawaban seperti itu terang saja membuatnya mengernyitkan dahi. Sejauh yang ia ketahui, Grimmjow tidak pernah terlambat meskipun hanya sedetik. Pria tersebut sangat menjunjung kedisiplinan, hingga sifatnya mau tak mau sangat disegani karyawannya. Sekalipun ia terlambat pasti pria itu menghubungi sekertarisnya terlebih dulu.
"Kalau begitu aku tunggu di dalam ruangannya."
"Maaf, Nona, tidak bisa," ucap karyawati tersebut dengan nada hati-hati. "Tuan Grimmjow selalu berpesan untuk tidak mengijinkan siapapun masuk ke dalam ruangannya bila beliau belum datang. Saya tidak bisa mengabaikan perintah tuan, Nona."
Wanita tersebut menghela nafasnya jengkel. Kacamata hitam yang bertengger di hidungnya ia turunkan sedikit. "Kau lupa aku siapa? Sebaiknya kau tidak melarangku seperti itu, atau justru kau ingin dipecat?"
Sang Karyawati menggelengkan kepalanya dengan raut wajah cemas. "Sungguh, Nona, saya tidak lupa sama sekali. Hanya saja Tuan Grimmjow akan memarahi saya bila saya melanggar perintahnya. Saya mohon, Nona."
"Ada apa ini?"
Wanita tersebut tersenyum riang. "Akhirnya datang juga. Aku tunggu kau diruangan," ucapnya sebelum melangkahkan kaki meninggalkan Grimmjow.
Pria tersebut mendengus kesal. Wajah tampannya jelas sekali terlihat tengah menahan kekesalan yang barusaja memuncak. Pada akhirnya, dilangkahkan pula kakinya menuju ruangan kantornya berada. Wanita itu berdiri di tengah-tengah ruangan sembari menyedekapkan kedua tangannya.
"Terlambat datang dan tidak ada kabar," ucapnya dengan nada yang terdengar mengejek. "Seperti bukan dirimu saja, Grimmjow-niisan."
"Aku bukan kakakmu."
Wanita tersebut berdecak pelan mendengar komentar dingin yang dilontarkan Grimmjow. "Tidak baik bicara seperti itu pada adikmu. Kau tahu, ayah bisa sedih bila mendengarnya."
Diam. Grimmjow berusaha tidak menanggapi. Ia lebih memilih melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya. Sementara wanita tersebut menghentakkan kakinya tanda kesal telah didiamkan begitu saja.
"Sebaiknya kau pulang. Aku tidak suka kau berada dalam ruanganku."
Ia menggeleng. Rambut panjangnya turut bergoyang, menampilkan kesan seksi serta cantik sekaligus. "Ini kantorku juga, Niisan. Mungkin belum untuk saat ini. Hanya menunggu warisan dari ayah kita tercinta yang akan membaginya sama rata."
"Dalam mimpimu, Neliel," suara Grimmjow terdengar semakin dingin. "Seorang anak simpanan sepertimu tidak akan pernah mendapatkan apapun dari ayah."
Wanita itu tersenyum sinis. "Meskipun aku anak simpanan, bukan anak dari istri sah sepertimu, ayah lebih menyayangiku daripada kamu. Kau harus sadar itu, Grimmjow-niisan. Tidak baik selalu bermimpi. Kau harus sadar sesekali kalau tidak hanya kau pewaris dari seluruh kekayaan ayah."
"Persetan dengan warisan! Keluar kau dari sini, Jalang!"
Neliel terkesima sebelum tertawa kecil. "Tidak biasanya kau mengumpat seperti itu, Niisan. Dulu kau selalu bersikap lembut dan sangat menyayangiku meskipun aku adalah adik tirimu. Mengapa? Apa karena aku membuat wanita yang kau cintai diam-diam menderita?"
Mata Grimmjow menyipit. "Apa maksudmu?"
Suara yang terdengar tegas dan berbahaya tersebut tidak menyurutkan keberanian Neliel. "Aku membuat laki-laki yang ia cintai bertekuk-lutut di hadapanku. Ia ditinggalkan begitu saja tanpa tahu kesalahannya apa. Bukankah itu yang membuatmu menjadi semakin membenciku?"
Grimmjow terngaga. "Kau!"
"Kaget?" Neliel tertawa meremehkan. "Kau pikir aku tidak tahu kalau kau mencintai gadis itu? Aku punya banyak pion untuk membuatmu menderita secara tak langsung, Niisan. Kau harus sadar, sedikit saja kau salah langkah dengan membuatku menderita, akan kubalas jauh berlipat-ganda pada istri yang sangat kau cintai."
"Dasar jalang!"
Neliel terkekeh. "Apa yang bisa kau lakukan hanya mengumpat? Aku kecewa sekali denganmu yang sekarang, Niisan. Laki-laki yang tidak pernah bisa kukalahkan karena tidak ada kelemahan yang kau miliki, kini akhirnya terungkap rupanya. Lucunya lagi, kelemahanmu justru adalah seorang wanita. Dengan sekali jentikan jari, aku bahkan bisa mengaturmu sesuka hatiku."
"Tidak semudah itu untuk mengalahkanku, Adik Kecil."
Wanita itu kembali tertawa. "Benarkah?"
Pria itu mengernyit.
Neliel tampak tersenyum puas. "Suasana pagi memang sangat cocok untuk pergi ke taman kota, bukan? Aku yakin suasananya akan terasa sangat damai dan menenangkan. Sungguh situasi yang pas untuk bernostalgia disana."
Grimmjow tampak was-was. "Apa maksudmu?"
"Kupikir tidak ada salahnya membiarkan suamiku mengejar cinta lamanya. Aku yakin kini mereka tengah berbincang berdua dan mengenang masa-masa indah saat dulu," tutur Neliel sambil menatap Grimmjow yang tengah menggeram kesal.
Secepat kilat, pria berambut biru tersebut sudah menghilang dari hadapan Neliel. Menyisakan suasana hening yang sebelumnya terasa amat mencekam. Neliel menghela nafasnya yang sesak. Tangannya tampak gemetar sebelum ia jatuh terduduk di salah satu sofa. Entah mengapa, pandangannya tampak miris. Sungguh berbeda dibanding saat ia berhadapan dengan Grimmjow sebelumnya.
"Baka Niichan!" hanya ucapan lirih tersebut yang terlontar dari bibirnya sebelum tangisnya memenuhi ruangan.
.
"Berhenti mengikutiku!"
Ichigo menggelengkan kepalanya meskipun Rukia tidak melihatnya. "Aku akan berhenti bila kau mau berbicara denganku."
Rukia mempercepat langkahnya, meninggalkan Ichigo beberapa langkah di belakangnya. Gadis itu tidak habis pikir dengan kekeraskepalaan yang Ichigo tunjukkan padanya. "Aku tidak mau bicara denganmu."
"Mengapa?" tanya Ichigo masih mempertahankan posisinya satu meter di belakang Rukia. "Karena suamimu melarang untuk bicara denganku?"
Rukia menghentikan langkahnya sebelum membalikkan badannya menatap Ichigo dengan raut wajah penuh akan emosi. "Jangan libatkan suamiku dalam pembicaraan ini. Jangan pula asal menuduhnya. Semuanya murni keputusanku bila aku tidak mau bicara denganmu lagi," ucap Rukia sebelum membalikkan badannya dan kembali melangkah.
Sejujurnya Ichigo terlihat agak gentar. Tidak pernah sekalipun dirinya mendapati Rukia emosi seperti barusan, terlebih kepadanya. Rukia yang ia kenal adalah gadis yang tertata rapi tutur kata, sikap, dan perangainya. Meskipun ia marah, tidak sekalipun gadis itu akan menunjukannya. Rukia selalu menyembunyikan semuanya rapat-rapat.
"Baru kali ini kau marah padaku," tutur Ichigo terus terang.
Rukia mendengus kesal. "Siapapun akan marah bila dipaksa. Selain itu tujuanku datang kemari untuk menyegarkan pikiranku, bukannya menambah masalah dengan kehadiranmu."
"Jadi aku masalah untukmu?"
Rukia menghentakkan kakinya kesal dan membalikkan badannya kembali. "Menurutmu? Apa kau masih perlu bertanya?"
"Kau masih mencintaiku, bukan?"
Rukia ternganga, tidak habis pikir dengan ucapan laki-laki di hadapannya kini. Meskipun Rukia masih merasakan getar-getar cinta di hatinya, gadis itu masih tetap mengingat Grimmjow dalam otaknya. "Kalau aku masih mencintaimu, aku tidak akan menikah dengan Grimmjow. Berpikirlah, Tuan Kurosaki yang Terhormat! Apa aku sebodoh itu untuk tetap mencintai laki-laki yang sudah mencampakkanku?"
Rukia sadar hanya kebohongan tersebut sisa dari harga dirinya. Walau nama laki-laki tersebut masih tertancap dalam hatinya, tidak akan sedikitpun Rukia mengakuinya. Sudah cukup ditinggalkan tanpa alasan merusak hatinya. Kali ini Rukia akan mempertahankan segalanya dengan tameng pernikahannya.
"Aku tahu kau sedang tidak jujur padaku."
Gadis itu menatap Ichigo sinis. "Setelah berpisah darimu, aku baru sadar kalau kau ternyata sangat narsis. Kenapa dulu aku bisa jatuh cinta padamu, ya?" tanyanya dengan nada mengejek.
Ichigo mengerutkan keningnya sebelum menghela nafas. "Aku masih mencintaimu."
"Aku tidak peduli."
"Aku masih mencintaimu, Rukia!"
Gadis itu memejamkan matanya, menahan gejolak batin. "Aku sudah katakan kalau aku tidak peduli. Hidupku sudah sangat bahagia tanpa kau disampingku, Ichigo. Berhentilah mengusikku. Aku mohon padamu."
Ichigo menggelengkan kepalanya. "Kumohon jujurlah padaku, Rukia. Aku tidak mencintai istriku. Aku hanya mencintaimu. Tidak ada wanita manapun yang mampu membuatku seperti ini selain dirimu. Aku ingin kau kembali padaku, Rukia."
"Aku bukan wanita bodoh, Ichigo!" Rukia menatap Ichigo dengan perasaan miris. "Aku tidak akan kembali pada lelaki yang sudah bersuami. Selain itu kau harus ingat dengan statusku. Aku sudah menikah."
"Ceraikan dia, Rukia!"
Mata Rukia membulat. "Tidak, Ichigo," sahut Rukia dengan suara pelan. "Aku tidak akan pernah menceraikan Grimmjow. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah melakukannya."
"Kau tidak mencintainya, Rukia. Apa yang bisa dibanggakan dengan pernikahan tanpa cinta?"
Rukia menggigit bibir bawahnya. "Apa yang bisa kubanggakan bila harus kembali pada lelaki yang pernah meninggalkanku dan menikah dengan wanita lain?"
Ichigo tersentak, tidak mampu menjawab.
"Meskipun tanpa cinta, aku bahagia hidup bersama Grimmjow. Dia sangat memperhatikanku dan tidak pernah meninggalkanku. Bagiku semua itu sudah cukup menjadi alasan untuk mempertahankan pernikahanku dengannya," ujar Rukia diakhiri dengan senyum lembut.
Ichigo menggeram kesal, merasa tidak terima dengan kenyataan yang menghantamnya. Laki-laki tersebut sangat yakin bila pernikahan mereka tetap berjalan, gadis yang ia cintai akan perlahan mencintai Grimmjow. Mata itu, senyuman itu, dulu hanya ia yang mendapatkannya dari Rukia seorang. Semuanya tidak boleh terjadi, Ichigo membatin.
Dengan cepat, pria bermata amber tersebut mencengkeram lengan Rukia sebelum menariknya dalam pelukannya. Rukia jelas memberontak, tidak terima dengan perlakuan Ichigo. Gadis itu tidak menginginkan perlakuan seperti ini. Paksaan yang Ichigo lakukan membuatnya ketakutan setengah mati. Meskipun mereka berada di tempat terbuka, entah mengapa suasana justru sangat sepi.
"Lepaskan aku, Ichigo!"
"Tidak akan pernah, Rukia. Bila kulepaskan, kau pasti akan pergi ke pelukan Grimmjow. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan pernah! Akan kulakukan segala cara untuk membuatmu tetap berada di sisiku."
Rukia menangis dalam diam. Gadis itu tidak pernah menyangka kalau Ichigo bisa berbuat senekat ini. Kini ketakutannya terasa memuncak mendengar kalimat Ichigo. Tubuhnya menggigil. "Aku mohon, lepaskan aku."
Belum sempat mendengar jawaban Ichigo, Rukia merasa tubuhnya ditarik dengan sangat kencang. Kemudian yang Rukia lihat adalah Ichigo sudah terkapar di tanah. Mata Rukia membola. Rangkulan pada pundak, menyadarkan gadis itu bahwa Grimmjow yang melakukannya. Lagi-lagi Rukia mendapati pandangan dingin dan menusuk dari suaminya.
"Bukankah aku sudah memperingatimu, Tuan Kurosaki?"
Ichigo diam tidak bergeming. "Keluarga kalian memang bajingan!"
Mata Grimmjow menyipit. "Aku tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang menimpamu. Yang kutekankan disini adalah; jauhi Rukia! Aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu bila kau tidak mendengarkan peringatanku!"
Setelahnya, Grimmjow dan Rukia pergi meninggalkan Ichigo yang terduduk di tanah. Pemuda tersebut menyeka bibirnya yang terluka akibat dihantam Grimmjow. Tangannya mengepal tanda menahan emosi. "Brengsek!"
.
Haloooo semuanya apa kabar? Semoga kita semua sehat selalu yaa. Chapter ini lebih panjang dari sebelum-sebelumnya loh wkwk ada lima belas halaman soalnya. Aaaaah akhirnya saya balik lagi kesini buat publish cerita, sesuai janji yang saya perkirakan sebelumnya kalau saya bakalan apdet di akhir bulan. Tapi maaf juga ya, kemungkinan untuk chapter depan bakal sedikit ngaret, gabisa apdet tepat waktu di bulan agustus karna saya harus fokus di penulisan untuk sidang nanti, mohon doanya dari teman-teman sekalian supaya saya dilancarkan untuk semuanya :" Saya janji setelah semuanya selesai, saya bakalan langsung apdet chapter setelahnya.
Buat chapter kemaren, saya mau ngucapin ke temen-temen yang udah me-review cerita saya. Thanks to: malas login, Eonnichee835, Haruna Aoi, anita. indah. 777, delalice, Asyah Hatsune, dan baramjji. Saya juga mengucapkan terimakasih ke teman-teman yang kemarin mem-favorite dan meng-alert cerita saya. Thanks to: NicaNica dan Himenatlyschiffer.
Nah setelah ucapan terima kasih, kali ini saya akan berbalas review dengan teman-teman sekalian yang sudah meluangkan waktunya untuk meninggalkan kesan/pesan untuk saya.
Untuk malas login: iyaaa benar sekali tebakannya hehe. Ichigo emang kebagian peran antagonis sedikit-sedikit, tapi saya mengusahakan supaya ceritanya ga terpusat di IchiRuki kok tenang saja wkwk. Meskiiii *lirik cerita di atas* sempet ada adegan IchiRuki dikit sih buat bumbuin hubungan GrimRuki wkwk. Terimakasih atas semangatnya yaaa, chapter empatnya sudah di update nih yippiiii yeay. Makasih yaaa sudah meluangkan waktunya buat review hehe.
Untuk Eonnichee835: Akhirnya apdet ya wkwk semoga gak kelamaan nunggu. Hihihi yadonggg kan pengen nunjukin kalo Grimm suami yang perhatian, kalo eonnie mau di elus-elus juga boleh sih tapi ijin dulu sama Rukia ya soalnya kan dia istrinya hehe. Ichigo depresi karna ada alesannya sih, cuman saya gatau apakah alesannya nanti cukup masuk akal atau nggak :" terimakasih atas semangatnya yaaaa, dan chapter empat sudah di apdet yeay. Makasih ya eonnie sudah meluangkan waktunya buat review hehe. Btw eonnie itu bahasa korea yang artinya kakak kan ya? Wkwk abaikan pertanyaan saya.
Untuk Haruna Aoi: Samasama juga kakak sudah baca dan review cerita saya :" iyaaa istrinya Ichigo itu Neliel. Abisnya saya butuh sosok yang terlihat kuat buat jadi istri Ichigo wkwk dan selain itu saya suka banget sama karakter Neliel *lol. Waaaah tebakan darimana ituuu kalo Rukia udah jatuh ke pesona Grimmy? Wkwk. Nahhh akhirnya di chap ini dijelasin kalo Grimmy ama Nel udah kenal dan punya hubungan kekerabatan. Apakah termasuk surprise yang mengejutkan? Wkwk kayaknya enggak yah. Hmmm dua pasangan itu nikah memang sedikit banyaknya ada sangkut pautnya sama bisnis, tapi gak cuma itu hehe soalnya ada hal lain yang jadi alasannya *grin* terimakasih atas semangatnya, dan ini sudah di apdet. Makasih ya haruna-san sudah meluangkan waktunya buat review hehe.
Untuk anita. indah. 777: hihihi emang saya sengaja bikin misterius untuk perasaannya mereka-mereka semua, tapi di chapter ini akhirnya jelas sudah perasaan Grimmy buat Rukia *happy* semoga anita-san gak kepikiran lagi soal perasaan sebenernya Grimmy ke Rukia ya hihi. Kalo masalah hubungan GrimRuki mereka suami-istri kok wkwk. Makasih ya anita-san sudah meluangkan waktunya buat review hehe.
Untuk delalice: Wuiiiii akhirnya bisa bikin dela senyum-senyum sendiri hehe. Iya saya emang sengaja bikin masalah mereka kompleks :" entah kenapa rasanya kalo bikin fict MC pasti masalahnya selalu saya perluas supaya ceritanya bisa di jadiin klimaks wkwk, tapi kadang malah ada masalah yang kelupaan buat dibahas :" tentang peran Hisana sebagai ibu, saya pengen nunjukin aja kesedihan yang ortu Rukia rasain meski dia nutupin dari Rukia yang udah tau wkwk. Grimm is Rukia's healer ya del? Hihihihi. Iya tapi kayaknya karakter Renji buat selingan doang deh:" pengen nambahin porsi buat dia tapi bingung enaknya dikasih peran apayah *huft. Makasih ya delaa sudah meluangkan waktunya buat review hehe.
Untuk Asyah Hatsune: Yuppp Ichi emang jadi pihak ketiga dan susah buat dirombak lagi ceritanya, tapi tenang saya bakalan bikin Rukia jadi sosok cewek kuat yang mampu mindahin truk pake satu tangan wkwk. Omongan asyah bener bgt soal perasaan Grimm wkwk ternyata scene-scene perhatian dan tingkah Grimm yang saya susupin dikit-dikit kebaca yah hehe. Iyaaa terimakasih ya atas semangatnya. Saya juga meski suka IchiRuki tapi seneng banget masangin Rukia ama karakter cowo lain wkwk. Makasih ya asyah-san sudah meluangkan waktunya buat review hehe.
Untuk baramjji: Hmmm alesan Grim nikahin Rukia karna apayah? Hehehehe. Coba saja hayooo baramjji tebak sendiri. Selain itu perasaan Grim juga udh dijelasin secara gamblang sama omongan Neliel nih *happy* Tenang saja suatu saat nanti bakalan saya jelaskan secara eksplisit alasan Grimmy nikahin Rukia kok hehe. Terimakasih atas semangatnya, dan chapter empat sudah di apdet hihi. Makasih ya baramjji-san sudah meluangkan waktunya buat review hehe.
Sekali lagi saya mohon pengertian dari teman-teman sekalian apabila cerita ini akan di-apdet lebih terlambat. Kemungkinan sekitar September baru bisa saya apdet. Tapi jika tidak ada halangan apapun dan penulisan saya selesai lebih awal, saya akan sangat mengusahakan untuk apdet cerita ini secepatnya. Saya mohon doanya sekali lagi yah :"
Sebelum a/n saya jadi mirip drabble, saya sudahi dulu sampai sini ya. Saya mohon doanya dari teman-teman supaya saya bisa update tanpa halangan dan bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu. Saya tunggu juga review dari para pembaca sekalian yaa. Sekian, terimakasih banyak untuk semuanya :)
