"Bagaimana bisa kau bertemu dengannya?"

Rukia menggeleng. "Aku tidak tahu. Dia berada di sana saat aku berjalan mengelilingi taman."

Grimmjow mendesis, teringat kembali dengan ucapan adiknya; Neliel. "Kau yakin? Kurasa kalian membuat janji temu di taman berdua."

Violet Rukia melebar. Pandangan terkejut dan tidak terima bercampur menjadi satu tatkala mendengar tuduhan Grimmjow padanya. "Aku tidak pernah berhubungan dengannya, Grimm. Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu."

"Tidak ada bukti, Rukia," Grimmjow menatap istrinya sebelum mengedarkan pandangannya dan menatap pada foto pernikahan mereka yang tergantung di ruang keluarga. "Kau bahkan masih sangat mencintainya meskipun sudah menikah denganku."

Gadis yang berstatus sebagai istrinya itu hanya terdiam.

"Tidak perlu berpura-pura di hadapanku, Rukia," nada suara Grimmjow entah mengapa terdengar sarat akan kekecewaan. "Tak perlu kau katakan dengan jelas padaku, aku sudah mengetahuinya sejak pertemuan pertama kita. Kau hanya mencintai Kurosaki Ichigo. Tidak akan ada cinta untuk laki-laki lain."

"Meski begitu bukan berarti kau bisa menuduhku kalau aku memiliki janji temu dengannya," Rukia memprotes. "Aku bahkan menghindarinya sebelum ia mengancamku. Aku cukup paham dengan statusku yang sudah bersuami."

Grimmjow mendengus.

"Aku bukan wanita murahan yang bisa menghianati suami dan pernikahanku," tutur Rukia tegas. Mata violetnya tampak berkaca-kaca mendengar tuduhan suaminya. Dalam hitungan detik, gadis itu melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya.

Meninggalkan Grimmjow seorang diri dalam kehampaan yang mencekam.

.

Marriage oleh Clarette Yurisa

Bleach © Tite Kubo

Chapter 4

.

Suara dering ponsel memecah lamunan Rukia. Diambilnya ponsel tersebut sebelum menatap tampilan layar yang menampilkan sebuah panggilan masuk dari mantan tunangannya. Iris violetnya terpejam, bersembunyi dibalik kelopak matanya. Sudah empat hari hubungannya dengan Grimmjow memburuk. Suaminya lebih memilih lembur di kantor dibanding pulang ke rumah dan tidur di ranjangnya yang nyaman.

Selama empat hari pula, panggilan masuk dari Ichigo tiada berhenti. Mantan tunangannya selalu menelponnya di sela-sela jam tertentu, dan Rukia tentu saja selalu mengabaikan panggilan tersebut. Ia tidak ingin membuat masalahnya dengan Grimmjow semakin runyam. Bila perlu, Rukia ingin sekali mengganti nomor ponselnya untuk menghindar dari laki-laki tersebut.

Mata gadis itu bergulir menatap ke arah televisi di hadapannya yang ia sendiri tidak mengetahui acara apa yang tengah ditontonnya. Gadis itu hanya duduk di sofa dengan televisi yang menyala sembari menunggu kepulangan Grimmjow. Meski ia masih merasa kecewa karena Grimmjow tidak mempercayainya, ia tidak bisa tidur sebelum mendapati suaminya sudah berada di rumah. Walaupun seringkali ia jatuh tertidur di sofa dan bangun di pagi hari dengan selimut yang membungkus tubuh mungilnya. Tolong jangan tanya siapa yang menyelimutinya, karena hanya mereka berdua yang tinggal di rumah tersebut.

Grimmjow dalam sudut pandang Rukia merupakan laki-laki dewasa yang penuh akan perhatian, meski tidak jarang ia mendapati kelicikan kecil yang suaminya lakukan tatkala sedang berbisnis dengan rekan perusahaannya. Bila berkata jujur, pernikahan yang mereka lakoni saat ini juga buah dari kelicikan kecil yang dimainkan suaminya. Kelicikan yang sampai saat ini belum Rukia pahami alasan utama penyebab Grimmjow bersedia menikahinya. Harus diingat bahwa suaminya masih menutup mulut kala ia bertanya alasan pria tersebut menikahinya tempo dulu.

Rukia menghembuskan nafasnya saat mendapati jam dinding sudah menunjukkan pukul satu malam. Biasanya matanya selalu kelelahan sehingga ia selalu tertidur tepat saat jam berdentang dua belas kali. Kali ini Rukia bertekad untuk tidak tidur hingga Grimmjow tiba dengan selamat. Entah mengapa, perasaannya hari ini sangat tidak tenang. Rukia hanya takut bila terjadi sesuatu pada suaminya. Selain itu dengan kondisi jalanan yang lengang, akan membuat hobi Grimmjow terpacu untuk berkendara diatas batas kecepatan normal. Membayangkannya saja membuat Rukia bergidik ngeri.

Suara dering ponsel kembali mengudara. Layar yang berkedip tanda menunjukkan adanya panggilan masuk, menampilkan nama Kurosaki Ichigo disana. Rukia mengeluh. Bagaimana mungkin laki-laki tersebut masih menelponnya saat waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari? Gadis berambut gelap itu mendengus kesal. Memangnya pemilik marga Kurosaki itu tidak merasa kalau ia sudah menyakiti istrinya dengan menghubunginya terus-menerus?

Rukia hendak mematikan daya ponselnya saat sebuah nomor yang tak dikenal menghubunginya. Keningnya berkerut. Mungkinkah Ichigo mencoba menelponnya dengan nomor lain? Rukia berpikir keras. Meski begitu, ada dorongan kuat yang memerintahnya untuk mengangkat panggilan tersebut. Suara anggun perempuan yang tak dikenalnya memenuhi gendang telinganya. Kebingungan Rukia dengan cepat terganti dengan raut wajah terkejut. Rukia terpekur mendengar kalimat yang diucapkan padanya.

"Saya dari rumah sakit Tokyo ingin mengabarkan bahwa tuan Grimmjow Jaegerjaquez mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang berada di ruang emergency."

Dunia Rukia terasa runtuh dalam sekejap.

.

Rukia berlari dari lobi depan rumah sakit. Gadis itu bahkan tidak sempat mengganti baju tidurnya dengan pakaian yang lebih layak. Ia segera menelpon taksi untuk menjemputnya, mengingat tidak ada kendaraan pribadi yang tersimpan di garasi rumahnya. Pikirannya terlanjur diliputi kecemasan mengenai keadaan suaminya.

Sesampainya di depan meja resepsionis, ia bertanya dengan wajah pucat, "pasien bernama Grimmjow Jaegerjaquez, apa ia masih berada di ruang emergency?"

Wanita yang berada disana menatap komputernya sesaat sebelum menganggukkan kepalanya. "Pasien masih berada di sana dan sedang ditangani oleh dokter, Nona."

Rukia mengangguk sembari mengucapkan terima kasih sebelum kembali berlari menuju ruang emergency. Matanya menjelajah, mencari sosok suaminya. Violetnya berhenti di satu direksi dan setelahnya bibir gadis itu melantunkan ucapan penuh rasa syukur. Ia langkahkan kakinya perlahan menuju ke arah Grimmjow sebelum seorang dokter menghentikan langkahnya.

"Apakah nona wali dari pasien bernama Grimmjow Jaegerjaquez?"

Rukia mengangguk.

"Pasien mengalami cedera ringan. Kami sudah melakukan pemeriksaan di kepala untuk mengetahui apakah pasien mengalami benturan dan hasilnya ternyata baik-baik saja. Pasien sudah bisa pulang setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit."

Rukia kembali mengangguk.

"Aku mencemaskan kondisi Tuan Jaegerjaquez, Nona. Ia tampak kelelahan dan seperti mempunyai masalah. Selain itu sepertinya pola makannya agak kurang teratur akhir-akhir ini. Kuharap Nona memperhatikan kondisi Tuan Jaegerjaquez serta mengatur pola makan dan waktu istirahatnya."

Rukia terdiam sesaat sebelum mengucapkan terima kasih. Setelah dokter itu berlalu dari hadapannya, ia kembali melangkahkan kakinya menatap Grimmjow yang tengah duduk di ranjang pasien. Gadis yang dulunya menyandang marga Kuchiki tersebut menatap Grimmjow dengan pandangan penuh berkaca-kaca saat ia sudah berada di hadapannya. Rukia terisak lirih sembari menggigit bibir bawahnya, berusaha mencegah agar tangisnya tidak meledek.

"Aku baik-baik saja, Rukia. Tidak perlu menangis," ucap Grimmjow sembari menepuk lembut puncak kepala Rukia.

Gadis itu menatap lekat-lekat wajah suaminya yang kini memiliki beberapa plester pada dahi, sudut bibir, dan dagunya. Ia menggeleng pelan sebelum menghambur dalam pelukan Grimmjow, tidak mempedulikan ringisan pria itu karena tubuh kekarnya pun juga terbalut perban akibat kecelakaan tersebut. Rukia mengalungkan lengannya pada leher Grimmjow dan menangis tepat di dada bidang laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.

Mau tidak mau, Grimmjow mengabaikan rasa perihnya. Ia memeluk tubuh mungil Rukia dan mengecup puncak kepalanya. "Aku sudah katakan kalau aku baik-baik saja. Tidak perlu ada yang kau tangisi, Rukia. Aku ada disini."

"Jangan..."

Kening Grimmjow mengernyit mendengar suara Rukia yang tersendat akibat tangisannya.

"Jangan pernah mengabaikanku lagi, Grimm," ucap Rukia sambil mengangkat wajahnya. Pipi chubby-nya telah dibanjiri oleh air mata sehingga membuat wajahnya tampak menyedihkan. Grimmjow mengusap air mata yang mengalir di sana. Matanya tampak menyiratkan kesedihan mendapati Rukia yang kini menangis hebat akibat ulahnya. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, apapun alasannya."

Grimmjow menghela napasnya.

"Kumohon, percayalah padaku."

Rukia menatap iris biru Grimmjow penuh harap. Sementara pria penyandang marga Jaegerjaquez itu kembali menghela napasnya. Ia menarik Rukia untuk berdiri lebih dekat padanya sebelum menyenderkan kepalanya pada pundak mungil Rukia. Kecupan yang Grimmjow alamatkan pada leher jenjangnya membuat tubuh Rukia gemetar.

"Rukia, aku..."

Mendengar namanya dipanggil, Rukia berusaha mengabaikan perlakuan yang Grimmjow lakukan padanya. Meski gadis itu tidak merasa risih atas perlakuan suaminya, tetap saja ia merasa canggung. Pasalnya, tidak biasanya Grimmjow bersikap semesra ini padanya. Bahkan ini pertama kalinya, sejauh yang pernah Rukia ingat.

Aku mencintaimu. Ingin rasanya Grimmjow meneriakkan kalimat tersebut pada istri yang kini tengah dikecupnya. Hanya saja, ia tidak ingin menghancurkan kembali hubungan yang telah mereka bentuk. Rukia hanya mencintai Kurosaki Ichigo meski Grimmjow-lah pemilik status sebagai suaminya. Grimmjow tidak ingin ego-nya menghancurkan perasaan Rukia yang sudah menganggapnya sebagai salah satu orang yang dipercaya. Akan lebih baik bila Rukia tidak pernah mengetahui perasaannya dibanding kehilangan gadis itu. Rukia akan menyangka bahwa dirinya sudah memanfaatkan situasi gadis itu untuk menjadi istrinya karena rasa cinta yang ia miliki, meski memang itu alasannya menikahi Rukia.

Sebut saja dia bajingan.

Grimmjow tidak akan mengelak karena memang itulah yang dirasakan olehnya. Ia memanfaatkan keadaan Rukia yang terpuruk. Mengajukan syarat pernikahan demi memiliki gadis itu untuk dirinya seorang. Grimmjow berpikir, dengan mengikat Rukia dalam jalinan pernikahan akan membuat gadis itu terkunci untuknya selamanya. Nyatanya, tidak semudah itu. Perasaan takut dan cemas selalu menghantuinya bila Rukia tahu alasannya dan beralih meninggalkannya.

Selain itu...

Grimmjow mengepalkan tangannya. Kemungkinan Rukia untuk meninggalkannya akan semakin besar bila gadis itu mengetahui alasan hidupnya mendadak terpuruk. Tentunya tidak mungkin ada asap jika tidak ada api, bukan.

"Grimm," panggilan Rukia menyadarkan lamunan Grimmjow. "Kau mau bilang apa?"

Pria berambut biru itu mengangkat kepalanya sebelum menggeleng pelan. "Tidak apa. Aku hanya ingin berkata bahwa aku mempercayaimu, Rukia. Jadi kumohon, jangan pernah menghianati kepercayaan yang kuberikan padamu."

Rukia tersenyum lebar. Ia menganggukkan kepalanya dengan antusias. "Aku tidak akan pernah menghianatimu. Kupastikan itu."

Grimmjow tersenyum tipis namun raut wajahnya penuh akan kelegaan. Ia kembali menyenderkan kepalanya pada pundak mungil Rukia dan mengeratkan pelukannya. Rukia tidak meronta, ia justru merasa nyaman berada dalam pelukan suaminya. Jemari lentiknya mengusap lembut puncak kepala Grimmjow. Kegiatan tersebut hanya bertahan beberapa menit sebelum dirusak oleh sebuah deheman khas laki-laki dewasa. Dengan enggan, Grimmjow melepaskan pelukannya sebelum iris birunya mendapati sesosok wajah yang sangat tidak ingin ditemuinya.

"Kurasa pihak rumah sakit hanya melebih-lebihkan cerita mengenai kondisimu," mata pria tersebut memandang fisik Grimmjow secara keseluruhan, "mengingat saat ini kau justru dalam keadaan baik-baik saja dan bermesraan dengan seorang perempuan di tempat umum."

Mata Grimmjow memicing tajam. Ia menarik Rukia agar mendekat padanya. Tangan besar milik Grimmjow dilingkarkan pada pinggang mungil Rukia. Laki-laki tersebut mengabaikan wajah istrinya yang bersemu merah karena merasa suaminya sudah dengan lancang memamerkan kemesraan mereka seperti saat ini, meski yang Grimmjow lakukan justru adalah untuk menunjukkan sikap protektifnya di hadapan laki-laki tersebut.

"Siapa perempuan ini?"

Grimmjow berdecih. "Tidak perlu bertanya. Aku tidak pernah mencampuri urusanmu. Jadi, jangan pernah mencampuri urusanku dan kehidupanku, Tuan Louisenbairn ."

Aura dingin yang mencekam menguar dari tubuh kedua laki-laki tersebut. Rukia yang masih belum memahami situasi dan kondisi yang saat ini dialaminya hanya bisa berdiri kaku di sebelah suaminya. Ia ingin sekali bertanya siapa laki-laki yang tengah mengunjungi suaminya saat ini, namun dengan suasana yang terasa dingin, ia lebih memilih mengurungkan niatnya.

"Aku tidak ingat sudah membesarkan seorang anak yang berani bicara kasar pada orang tuanya."

Kalimat tersebut membuat Rukia kembali menerka dalam hati. Gadis itu menduga-duga bahwa laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya dan suaminya ini adalah mertua yang selama ini belum pernah Rukia temui.

Grimmjow mendengus kasar. "Aku bahkan tidak ingat pernah dibesarkan olehmu, Tuan Louisenbairn."

Rukia menepuk lembut lengan Grimmjow yang melingkari perutnya. Gadis itu berusaha menenangkan emosi Grimmjow karena suaranya mulai naik satu oktaf. Dengan senyum tipis ia berkata, "maaf bila aku mengganggu perbincangan kalian. Perkenalkan namaku Rukia Jaegerjaquez. Apakah Anda ayah dari suamiku?"

"Jaegerjaquez?" Barragan menaikkan sebelah alisnya. Laki-laki tua itu terdiam beberapa saat sebelum kembali bersuara. "Jadi kau benar-benar istri dari anakku?"

Anggukkan kepala Rukia menjadi jawaban.

Pria tua tersebut terdiam sesaat. "Kuharap kau tidak menikah dengan anakku karena suatu alasan," kalimat mertuanya, membuat Rukia terkejut. "Pernikahan bukanlah suatu permainan, Nak."

Gadis pemilik netra violet itu tampak kalut sesaat sebelum menampilkan sebuah senyum percaya diri. "Aku juga tidak pernah menginginkan pernikahan yang main-main. Grimmjow pun juga menganggap pernikahan kami bukanlah suatu permainan."

Mendengar jawaban Rukia, Barragan tersenyum lega. "Panggil aku ayah, Menantu."

Rukia tersenyum senang. "Kalau begitu, ayah harus memanggilku Rukia."

Grimmjow sendiri cukup terkejut mendapati reaksi ayahnya yang cukup terbuka dengan kehadiran Rukia. Awalnya ia berpikir jikalau ayahnya datang untuk mengacaukan pernikahannya dengan Rukia, mengingat apa yang telah dilakukan oleh laki-laki tua tersebut dibelakang Rukia. Namun, semuanya justru berbeda seratus delapan puluh derajat dari bayangannya.

"Biaya administrasi rumah sakit sudah kubayar. Menurut dokter, Grimmjow bisa pulang sekarang. Karena itu, sebaiknya kalian berdua kuantar pulang."

Grimmjow menolak tegas tawaran laki-laki yang sangat dibencinya tersebut. "Aku bisa pulang berdua bersama Rukia. Kau tidak perlu mengantarku."

"Dengan motormu yang sudah ringsek?"

Grimmjow hendak menolak lagi sebelum kalimat Rukia memotongnya. "Grimm," tegur Rukia, "tidak baik menolak tawaran ayahmu."

Barragan terkekeh mendengar sang menantu membelanya. Ia bahkan terlihat senang saat anaknya tidak memprotes perkataan Rukia. Mereka bertiga melangkahkan kaki keluar ruang emergency bersama. Pria tersebut menatap menantunya yang terus menggandeng lengan kekar Grimmjow meski pria tersebut berkata kalau ia bisa berjalan dengan baik tanpa perlu dituntun. Laki-laki tersebut tersenyum tipis menatapnya. Dengan penuh harap ia berkata, "maukah kalian makan malam dirumahku saat akhir pekan nanti? Atau sebaiknya kuadakan di rumah kita dulu, Grimm?"

Pria berambut biru tersebut hendak menolak, namun Rukia sudah menjawabnya dengan nada antusias. "Tentu saja kami mau, Ayah. Setiap akhir pekan kami selalu berada di rumah dan itu cukup menjemukan bagiku. Kami pasti datang."

Pada akhirnya Grimmjow hanya bisa menghela napasnya.

.

"Sial!" Ichigo menggebrak meja kerjanya dengan kesal. Mata sewarna jingga milik pria itu memandang ponselnya dengan emosi yang tidak ia tutupi.

"Kau tampak emosi," sebuah suara menginterupsi kekesalan Ichigo. Neliel bersender pada pintu ruang kerja Ichigo dengan melipat tangan di depan dadanya. Wajahnya yang terlihat cantik, menatap Ichigo dengan pandangan kasihan. "Teleponmu tidak diangkat oleh mantan tunanganmu?"

Ichigo menatap istrinya sinis. "Apa urusanmu?"

Neliel menggelengkan kepalanya. Rambut hijau panjangnya turut bergoyang, membuat wanita itu terlihat anggun sekaligus mempesona. "Wajar kalau aku bertanya mengenai dirimu, bukan, Suamiku?" nada wanita itu terdengar mencemooh saat memanggil Ichigo dengan sebutan 'suamiku'.

Pria pemilik rambut secerah mentari itu bangkit dari kursinya dan melangkah menghampiri istrinya. Tubuh Ichigo yang menjulang tinggi di hadapan Neliel, tidak membuat wanita itu takut sedikitpun. Ia tampak terbiasa menghadapi emosi suaminya seperti sekarang, terbukti dengan wajahnya yang mendongak seolah menantang Ichigo.

"Jangan pernah mencampuri urusanku," desis Ichigo.

Neliel menampilkan senyum miring. "Aku harus mencampuri urusanmu jika kau masih berniat menemui mantan tunanganmu itu."

Pria itu tertawa dengan sinis. "Sekarang kau mencoba mengatur kehidupanku? Meski kau sudah berhasil menguasai perusahaanku, bukan berarti aku akan mengikuti segala keinginanmu, Neliel."

Wanita dengan rambut seperti lumut itu yang kini tertawa pelan. "Aku tidak mengatur kehidupanmu, Ichigo. Aku hanya mengarahkanmu menuju jalan yang aku inginkan."

"Sialan!"

Neliel tertawa mendengar umpatan Ichigo. "Tidak baik mengumpat di depan bayimu, Ichigo," ucapnya sembari mengelus perutnya yang masih rata. "Jadilah ayah yang baik untuk anakmu."

"Apa aku pernah bilang kalau aku menginginkan anak itu?"

Wajah Neliel memucat mendengar kalimat yang diucapkan suaminya dengan nada dingin. Gadis itu memalingkan wajahnya, menghindari tatapan mata Ichigo yang tampak tajam. Ia berujar dengan suara pelan, "meski begitu, kau harus ingat kalau kau yang menjadi ayah kandung dari bayi ini. Kau tidak bisa lepas begitu saja dari tanggung jawabmu, Ichigo."

Ichigo mendengus. "Anak itu hanya sebagai alat agar kau mau menikah denganku. Tidak lebih."

Neliel semakin mengeratkan tangannya yang terlipat di depan dada. "Rupanya aku menikah dengan seorang bajingan, ya," ucapnya dengan tawa yang terdengar getir. "Aku bersyukur karena Rukia batal menikah dengan laki-laki sepertimu," tambah Neliel sambil memandang Ichigo.

Wajah pria itu memerah menahan emosi. "Kakakmu yang merebut tunanganku. Lagipula cinta Rukia hanya untukku. Status pernikahan mereka bisa dengan mudah kuhancurkan."

Wanita itu kini tertawa sambil memegang perutnya. Setelah tawa itu terhenti, ia mengusap air mata yang keluar dari sebelah matanya akibat tawanya barusan. "Kau bilang kakakku yang merebut tunanganmu?" Neliel bertanya dengan nada mencemooh. "Perlukah aku ingatkan bahwa kau yang terlebih dulu mencampakkannya?"

Ichigo menggeram tidak suka mendengar kalimat istrinya.

Neliel tidak berhenti sampai disana. "Kakak-ku hanya berusaha membahagiakan perempuan yang patah hati akibat ulahmu, Kurosaki Ichigo."

"Kakakmu memanfaatkan keadaannya, Neliel."

Wanita itu menggeleng. "Rukia yang datang pada kakak-ku untuk meminta pertolongan. Coba kau bayangkan, Ichigo! Bila kau tidak meninggalkannya, gadis itu pasti akan datang padamu untuk meminta pertolongan."

Ichigo diam, tidak menjawab.

"Sayangnya kau memutuskan pertunangan kalian, dan lebih memilih ajakan yang sebelumnya sudah kau tawarkan pada ayahku. Kau bermain api denganku sejak jauh hari, di belakang Rukia yang masih berstatus sebagai tunanganmu. Kau melakukannya demi mendapat kepercayaan penuh dari ayahku. Kemudian di saat ibu Rukia kecelakaan, kau bersama ayahku bekerja sama untuk menjatuhkan perusahaan Byakuya Kuchiki. Katakan padaku, Ichigo, kau mencintai Rukia dengan tulus atau mencintainya demi mendapatkan perusahaannya?"

Laki-laki itu memejamkan matanya mendengar penjelasan yang dituturkan istrinya.

"Kau mencintai Rukia karena menginginkan hartanya, Ichigo. Begitu juga dengan yang kau lakukan padaku. Kau menghamiliku agar aku bersedia menikah denganmu, demi bayi yang kini sedang kukandung," Neliel tersenyum sedih. "Sekarang setelah kau mengetahui bahwa aku tidak akan pernah mewariskan apapun dari ayahku, kau memilih kembali pada Rukia? Kau memang bajingan sejati, Suamiku."

Ichigo bergerak mundur. Laki-laki itu tampak terguncang saat istrinya membeberkan tindakan yang pernah ia lakukan. Ia tampak tidak menyangka bahwa Neliel akan mengetahui rahasia-rahasia yang selama ini selalu disembunyikannya.

"Ayahmu menjebakku," Ichigo berujar lirih.

Neliel menggeleng. "Kau yang terlebih dulu berniat menjebak ayahku, Ichigo. Ayahku hanya memainkan perannya dengan begitu baik, sehingga kini dirimu-lah yang justru bergantung pada ayahku."

"Kau dan keluargamu memang brengsek!"

Wanita berambut hijau itu tertawa mendengar umpatan suaminya. Ia menatap Ichigo dengan pandangan sinis sebelum berkata, "meski aku adalah istrimu, orang yang menyandang marga yang sama denganmu, aku justru membenci marga ini. Neliel Kurosaki, huh?" ia mendengus. "Sampai kapanpun, aku akan terus mengutuk marga ini. Kau dengar itu, Kurosaki Ichigo? Camkan juga dalam kepalamu, kau tidak hanya menyakiti Rukia. Kau juga menghancurkanku."

Setelahnya Neliel meninggalkan suaminya yang tampak memandang kosong meja kerjanya. Pikiran pria itu melayang entah kemana setelah mendengar ungkapan hati dari istri yang tidak pernah dicintainya.

.

"Dokter bilang kalau pola makanmu akhir-akhir ini tidak teratur. Kau tidak mengkonsumsi kopi secara berlebihan lagi saat di kantor, bukan?" Rukia bertanya dengan nada menuntut. Pasalnya saat dulu mereka sering bertemu di kantor ayah Rukia, sebelum Grimmjow dan dirinya menyandang status sebagai suami-istri, laki-laki tersebut selalu membawa kopi kalengan ditangannya.

Grimmjow diam tidak menjawab.

Rukia mendengus sebelum merapikan selimut Grimmjow. "Aku tidak mau suamiku menjadi pecandu kafein. Kau butuh asupan gizi yang lebih bila ingin sehat selalu, Grimm."

Laki-laki itu memalingkan wajahnya dari Rukia yang masih menatapnya dengan mata mendelik. "Aku tidak berselera makan beberapa hari terakhir ini."

"Termasuk tidak mau makan masakanku dirumah?" Pertanyaan Rukia terdengar menuntut. Memang selama bertengkar, suaminya tidak pernah menyentuh makanan yang sudah disiapkannya di meja makan. "Aku tahu kau marah padaku, tapi jangan membuatku cemas seperti ini," ucap Rukia dengan nada lirih.

Melihat Grimmjow yang terus terdiam, tidak berniat menjawab kata-katanya, membuat Rukia menghela nafasnya. Ia mengelus rambut biru Grimmjow yang tampak berantakan hingga suaminya itu menatapnya dengan pandangan bertanya. "Sekarang kau mau makan apa?" Rukia bertanya lembut.

Suaminya itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum membuka bibirnya, "tidak perlu, Rukia. Tidurlah. Sekarang sudah jam 4 pagi. Aku tidak ingin kau kelelahan karena kurang tidur." Tangan besar pria itu mengusap lingkar mata yang menghiasi wajah Rukia. "Aku tidak ingin kau sakit. Istirahatlah, Rukia."

Rukia menggeleng. "Tidak mau. Aku akan tidur saat kau sudah makan."

Grimmjow mengeluh. "Rukia…"

Gadis itu menatap Grimmjow dengan tatapan dalam. "Kau menyuruhku tidur karena tidak mau memakan masakanku, benar begitu bukan? Kau masih marah denganku 'kan, Grimm?"

Laki-laki itu menghela nafasnya. "Baiklah, aku mengalah. Aku akan makan apapun yang kau masak."

Rukia tersenyum sumringah karena Grimmjow termakan pancingannya. "Benarkah? Kalau begitu," Rukia berpikir sembari mengusap dagunya, "tidak keberatan kalau kubuatkan bubur, kan?"

Gelengan kepala Grimmjow membuat Rukia melangkahkan kakinya menuju dapur. Sementara Grimmjow yang ditinggal kembali merenung, benaknya melayang pada kejadian di rumah sakit. Laki-laki berambut biru itu terus bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa ayahnya bisa bersikap seramah itu pada Rukia? Terlebih setelah apa yang pria itu lakukan pada Rukia.

Grimmjow menggertakkan giginya, kesal. Rukia terlalu polos dan baik. Istrinya bahkan menerima sambutan ayahnya dengan tangan terbuka, yang bodohnya sebagai seorang suami, Grimmjow tidak bisa mencegahnya. Hal terakhir yang akan ia lakukan adalah mengenalkan Rukia pada keluarganya, terutama kepada ayahnya. Namun berkat kejadian di rumah sakit tadi, pupus sudah harapan Grimmjow.

"Keluarga kalian memang bajingan!"

Kalimat Ichigo terasa memenuhi otaknya. Grimmjow mengepalkan kedua tangannya. Ketakutan kembali membayanginya. Rukia bisa berubah membencinya jika tahu dalang dibalik kebangkrutan perusahaan ayahnya. Tidak ada jaminan bahwa gadis itu akan tetap menuruti perkataannya untuk tidak akan bercerai seumur hidup darinya. Gadis itu bisa pergi kapan saja. Rukia bisa menemukan kebahagiaannya pada laki-laki lain, dan Grimmjow tidak akan sanggup untuk menghancurkan kebahagiaan tersebut. Pada akhirnya, dirinya-lah yang membutuhkan Rukia. Bukan gadis itu yang membutuhkannya.

Grimmjow menghela napasnya dengan kasar. Ia bangkit dari ranjang untuk menghampiri Rukia yang tengah memasak di dapur. Tubuh mungil wanita itu dalam sekejap berada dalam jarak pandang Grimmjow. Pria bermarga Jaegerjaquez itu menghampiri Rukia yang sibuk mengaduk bubur yang tengah dibuatnya di atas kompor. Dalam hitungan detik, Grimmjow memeluk pinggang istrinya dan menumpukan kepalanya pada pundak Rukia.

"Grimm?" meski Rukia cukup terkejut, ia tetap mengelus tangan yang tengah melingkari pinggangnya kini. Tangan kanannya sibuk mengaduk bubur yang masih belum matang di dalam panci. "Ada apa? Kau bosan di kamar dan memilih menemaniku disini?"

Grimmjow menganggukkan kepalanya. Ia pura-pura setuju dengan ucapan Rukia. Tidak mungkin jika ia berkata jujur bahwa kini perasaannya tengah kalut dan pikirannya gundah. Hanya saja, rasa kalut dan gundahnya tidak bisa hilang meski ia sudah memeluk Rukia seperti saat ini. Pelukan laki-laki itu semakin erat, membuat Rukia sedikit cemas dengan perilaku suaminya yang tidak biasa.

"Grimm, kau yakin baik-baik saja?"

Grimmjow menggeleng, entah mengapa ia ingin istrinya tahu bahwa kini dirinya tidak dalam keadaan baik. Karena bagi Grimmjow, perhatian yang Rukia curahkan untuknya terasa menyejukkan. Ia seolah menemukan oase di gurun yang tandus. Sentuhan halus Rukia pada pipinya, menyadarkan Grimmjow dari lamunannya. Merasa nyaman, laki-laki itu memejamkan matanya dengan posisi kepala yang masih bertumpu pada pundak Rukia.

Rukia menelan ludahnya dengan canggung. Sejujurnya gadis itu sangat bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Posisinya terapit diantara konter meja panjang beserta kompor yang ada di depannya dan Grimmjow yang berdiri di belakangnya. Rukia mencoba menenangkan pikirannya. Menurut pengalamannya, Rukia akan merasa nyaman bila ibunya menyentuh puncak kepala atau pipinya disaat ia merasa sedih. Maka hanya itu yang terpikirkan di dalam otak Rukia ketika Grimmjow bersikap seperti ini padanya.

Sambil berusaha menahan kegugupan yang melandanya, Rukia mencoba berbicara, "Kau ada masalah apa? Aku bisa mendengarkanmu bila kau ingin berbagi."

Rukia cukup sadar dengan statusnya. Walaupun ia merupakan istri dari laki-laki yang tengah memeluknya erat ini, Rukia tetap tidak ingin melangkah lebih jauh dalam masalah pribadi suaminya. Rukia sudah dibantu banyak. Hutang budinya mungkin terbilang tidak terhitung karena yang diselamatkan pria ini adalah nyawa ibunya. Tanpa Grimmjow, operasi ibunya tidak akan mungkin berjalan. Tanpa suaminya ini, Rukia bahkan tidak yakin apakah ia masih bisa bercakap-cakap dengan ibunya seperti beberapa hari yang lalu.

Grimmjow mendesah. Keningnya ia tumpukan pada pundak mungil Rukia. "Aku belum ingin membicarakannya denganmu," tutur Grimmjow dengan suara berat. Atau mungkin, aku tidak akan bisa membicarakannya denganmu, ia menyambung dalam hati. "Hanya memelukmu seperti ini sudah membuatku tenang, Rukia."

Kata-kata Grimmjow membuat Rukia tersipu senang. Grimmjow membuatnya merasa dibutuhkan. Laki-laki itu, meski terkesan misterius dan angkuh, selalu berhasil membuatnya berharap lebih. Mendadak tangan Rukia yang tengah mengaduk bubur tersebut terhenti. Apa yang barusaja ia pikirkan? Rukia menggigit bibirnya. Memang ia berharap lebih seperti apa? Genggamannya pada sendok adukan tersebut mengerat. Tubuhnya terasa kaku, dan Grimmjow menyadarinya.

Laki-laki tersebut melepaskan pelukannya. Ia menepuk pundak Rukia sambil bertanya dengan khawatir, "Rukia kau baik-baik saja? Apa aku… salah bicara?"

Tidak ada sahutan dari Rukia. Grimmjow masih belum menatap wajah istrinya yang memunggunginya tersebut. Dengan ragu, ia memutar tubuh mungil Rukia sebelum mematikan kompor. Rukia menunduk, tidak berani menatap Grimmjow setelah pikirannya melambung seperti tadi. Laki-laki itu tidak menyerah. Ia menyentuh dagu Rukia dan menaikkan wajahnya. Pandangan Rukia tampak kalut. Grimmjow kembali merasa bersalah dan menerka, apakah pelukannya atau kata-katanya yang membuat ekspresi Rukia tampak seperti saat ini?

"Rukia," suara Grimmjow terdengar memelas, "Aku tidak akan memelukmu seperti tadi ataupun berbicara tentang pelukanmu yang membuatku tenang. Aku berjanji—"

Kata-kata Grimmjow terpotong dengan bisikan lirih Rukia. "Jangan," ucapnya pelan. Kening Grimmjow mengernyit, berusaha menangkap maksud kata 'jangan' yang diucapkan istrinya. "Jangan pernah berjanji seperti itu, Grimm. Aku tidak akan bisa membayangkan kalau…" kini Rukia yang merasa suaranya menghilang. Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Membayangkan suaminya berhenti memberi perhatian sebesar itu padanya, membuat Rukia merasa kehilangan.

Meski istrinya tidak melanjutkan kalimatnya, Grimmjow sudah paham maksud perkataan istrinya, yang justru membuatnya merasa lega luar biasa. "Aku tidak akan berjanji seperti itu, Rukia," ucap Grimmjow sambil menempelkan keningnya pada kening Rukia. Iris mata Grimmjow senada dengan warna rambutnya. Hal itu membuat Rukia terpaku di tempatnya. Gadis itu tidak bisa menjelaskannya dengan gamblang, yang pasti warnanya membuat Rukia terpikat.

Hal yang Rukia rasakan, juga dirasakan oleh Grimmjow. Rukia memang tidak secantik wanita diluar sana, hanya saja gadis ini memiliki rupa wajah yang menarik. Mata violet gadis itulah yang menjadi magnetnya. Grimmjow tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan terpesona bila melihat mata bundar sewarna violet tersebut menatapnya dengan polos dalam jarak sedekat ini. Laki-laki itu merutuk dalam hati, menyalahkan tubuhnya yang bergerak sendiri untuk menempelkan kening mereka berdua.

Dalam menit-menit yang terus berjalan, keduanya masih menikmati jarak keintiman mereka. Tidak ada yang berniat untuk mundur, seolah keduanya tidak rela lepas dari perasaan terpesona-nya masing-masing. Namun, Rukia yang bergerak terlebih dulu.

Bukan.

Tangan gadis itu bukannya mendorong tubuh besar Grimmjow, melainkan merambat naik dan menyentuh wajah tersebut. Gadis itu membelainya dengan lembut, dan kelembutan tersebut terpancar dari iris violetnya yang masih bertatapan dengan iris biru Grimmjow. Pria itu terpana kembali dengan aksi Rukia. Ini kali ketiga dalam waktu satu hari Rukia menyentuhnya. Pertama saat gadis itu memeluknya di rumah sakit. Kedua, ketika ia memeluk Rukia barusan dan dibalas dengan sentuhan pada lengan dan pipinya. Ketiga adalah saat ini, Rukia kembali membelainya dengan kelembutan yang tersirat di kedua bola matanya. Grimmjow merasa perasaannya meluap dalam sekejap. Rukia mulai menghilangkan jarak di antara hubungan mereka dengan sentuhannya, dan Grimmjow merasakan perasaan bahagia yang membludak kini mulai menyerang dadanya.

Kebahagiaan itu membuat Grimmjow berani. Ia memisahkan kening mereka berdua yang sebelumnya menempel. Tangan kokohnya kini mengelus puncak kepala Rukia sebelum beralih pada kening, turun ke pipi, beranjak ke bibir dan berhenti di dagu. Wajahnya condong ke depan. Grimmjow tidak peduli bila setelah ini Rukia akan menamparnya atau menyebutnya bajingan. Kali ini saja, Grimmjow ingin Rukia merasakan apa yang tengah dirasakannya. Kemudian bibir itu mengarah pada puncak kepalanya.

Rukia memejamkan mata saat kecupan itu mendarat di puncak kepalanya. Tangan mungilnya yang semula berada di wajah Grimmjow, sudah beranjak menuju leher pemuda tersebut. Kecupan itu hanya sebentar, dan Rukia merasa hampa dalam sekejap. Ia memberanikan diri menatap Grimmjow yang kembali memandangnya. Gadis itu harus bersyukur karena setelahnya ciuman itu beralih pada keningnya. Lagi-lagi Rukia merasa nyaman dan hangat. Matanya kembali terpejam, menikmati kecupan yang sudah berpindah tempat pada pipinya.

Wajah Grimmjow kembali menjauh, dan Rukia merasa kalau pria itu tengah menghimpun kembali keberaniannya. Setelah merasa yakin, kini bibir itu mendarat diatas bibir mungil Rukia. Rukia terpana, tidak menyangka dengan tindakan berani yang Grimmjow lakukan. Namun, matanya justru terpejam, seolah membiarkan hal tersebut. Awalnya hanya saling menempelkan kedua belah bibir mereka. Grimmjow tentunya merasa tidak puas. Dengan lembut, ia mulai melancarkan lumatan pada bibir Rukia yang masih terkatup.

Gadis itu jelas saja kebingungan. Ia bahkan tidak pernah berciuman dengan lelaki manapun. Gigitan lembut pada bibirnya membuat Rukia refleks mengerang dan membuka mulutnya. Rukia merasa tungkai kakinya lemas. Lidah Grimmjow seperti mengobrak-abrik mulutnya. Tangan mungil Rukia semakin mengerat pada leher Grimmjow. Sementara pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut menarik tubuh mungil Rukia untuk menempel pada tubuhnya. Tangan besarnya menahan pinggang Rukia, seolah paham bahwa kaki istrinya tersebut tidak mampu menopang dengan sempurna.

Rukia merasa tenaganya hilang. Ia bahkan pasrah saat lumatan itu tidak berhenti. Bibirnya terasa basah, namun ia juga tidak ingin kegiatan ini berakhir. Tangan Grimmjow mengelus punggung Rukia, membuat gadis itu meremang akibat tindakannya. Tidak membutuhkan persetujuan Rukia, pria tersebut mengangkat tubuh mungil Rukia untuk didudukkan di atas konter meja. Grimmjow tidak mempedulikan kompor dengan panci yang kini berada persis di sebelah kanan Rukia. Baginya, urusan makan bisa ditunda nanti. Ciuman itu terhenti. Napas Rukia terengah dan mata violetnya menatap sayu pada Grimmjow.

Tangan Grimmjow mengepal, ia tidak bisa menahannya. Rukia bagaikan kelinci mungil yang minta dimangsa. Tanpa aba-aba, Grimmjow kembali mendaratkan ciumannya pada bibir Rukia. Kali ini lumatannya mengganas hingga Rukia kewalahan menghadapinya. Tangan pemuda itu tidak diam dan menganggur begitu saja. Ia kembali mengelus punggung mungil Rukia, namun kali ini dengan menyingkap baju atasan Rukia. Lagi-lagi Rukia merasa kepayahan dengan aksi Grimmjow. Tubuhnya seolah bergetar. Ia tidak pernah membiarkan siapapun menyentuh punggungnya dengan tangan telanjang. Hanya saja, semua tidak sampai disitu. Tangan kokoh itu berubah haluan menuju perutnya. Rukia kembali merasa tubuhnya meremang. Belum lagi ciuman Grimmjow yang kini mulai beralih pada lehernya.

"Grimm," Rukia mendesah dengan napas putus-putus.

Desahan tersebut membuat keinginan Grimmjow tak terbendung, meski otaknya terus menyuruhnya berhenti. Bekas gigitan dan hisapan, tertinggal di leher Rukia. Grimmjow masih tidak puas. Tangannya bergerilya, menyerang dada mungil Rukia. Sontak saja hal itu membuat napas Rukia tercekat. Tangan gadis itu mulai meremas rambut biru Grimmjow. Gigitan di daun telinga dan remasan pada dadanya membuat kepala Rukia berputar. Rukia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain merasa pasrah dengan tindakan suaminya. Ia tidak pernah seperti ini. Perutnya terasa mulas, namun rasanya menyenangkan. Belum lagi getaran yang dirasakan tubuhnya akibat ulah Grimmjow. Semua terasa asing, namun mampu membuat sesuatu dalam diri Rukia bergejolak.

"Grimmjow," panggilan Rukia membuat laki-laki itu menghentikan aktifitasnya. Ia menatap wajah Rukia yang tampak linglung, seolah masih asing dengan aktifitas yang barusaja mereka lakukan. Tangan mungilnya kini Rukia letakkan di kedua sisi tubuhnya, tidak lagi memeluk leher Grimmjow ataupun meremas rambut birunya. Dengan senyum kecil, Grimmjow mengelus pipi Rukia yang memerah. Ia kembali mencondongkan tubuhnya untuk mencium Rukia dan melumatnya tanpa ampun. Tangan besarnya mencari tangan mungil Rukia yang tersampir di kedua sisi tubuhnya.

"Aw!" Grimmjow menjerit kaget. Laki-laki itu bergerak mundur dari tubuh istrinya dengan tangan kiri yang ia kibas-kibas di udara, membuat kening Rukia mengernyit heran.

"Kenapa tanganmu?"

Grimmjow menatap panci di sebelah Rukia dengan pandangan kesal. Mata violet Rukia mengikuti arah pandang suaminya sebelum gadis itu tertawa lepas. Pria berambut biru itu terpana. Terakhir kali Rukia tertawa selepas ini, sebelum ibunya mengalami kecelakaan. Tawa Rukia membuat kekesalan Grimmjow mereda, setelahnya pria itu turut tertawa bersamanya.

"Kalau begitu, kau harus makan dulu, Grimm," ucap Rukia. Gadis itu berkata sambil berusaha turun dari meja konter. Grimmjow dengan sigap membantunya.

"Kurasa memang harus begitu," sahut pemuda itu sambil menatap Rukia dengan pandangan jenaka. Tangannya masih berada di pinggang Rukia meski gadis itu sudah ia turunkan. Rukia menelengkan kepalanya, bingung dengan tatapan jenaka yang Grimmjow berikan. Hanya sedetik, namun kembali membuat Rukia merasa meleleh. Suaminya kembali mendaratkan ciuman kecil pada bibirnya. Mau tidak mau, gadis itu tersipu malu.

"Rukia," panggilan itu menyadarkan Rukia dari lamunannya. Ia memandang suaminya yang sudah duduk manis di meja makan dengan bubur yang tersaji di hadapannya. "Suapi aku. Tanganku rasanya sakit lagi."

Rukia mendengus. "Kau barusaja melakukan hal seperti tadi, tapi kini mengeluh kalau tanganmu terasa sakit. Aku jadi curiga, jangan-jangan kau pura-pura terluka ya?"

Grimmjow tergelak. Meski begitu, Rukia tetap duduk di meja makan dan menyuapi suaminya dengan bubur yang mulai mendingin.

.

Halo semuanya apa kabar? Maaf ya saya menghilang sejak beberapa bulan yang lalu. Setelah selesai dengan urusan penulisan, saya disibukkan dengan kegiatan perkuliahan di tingkat akhir :( dosen saya semuanyaaaa ngasih tugas. Belum lagi kegiatan saya di organisasi yang makin memper-riweuh segalanya. Padahal di chapter kemarin saya bilang kalau saya bakalan berusaha update secepatnya, tapi secepatnya ini malah baru teralisasi pas bulan februari sekarang. Maaf ya teman-teman :(

Selain itu, chapter ini merupakan titik balik. Problem antara Ichigo, Neliel, mulai keliatan disini. Saya tahu kalo masalah mereka berasa kayak di sinetron :( tapi emang sejak awal saya gamau bikin masalah yang ribet-ribet buat jadi konflik utamanya. Jadi saya harap teman-teman ga keberatan kalo konflik di cerita ini gak akan ribet kayak cerita ber-genre action, misteri, dan blablabla-nya hehe. Terus, karena chapter ini juga titik balik, saya beberapa kali ganti cerita untuk chapter ini. Tapi setelah saya baca, konfliknya terasa ngambang. Terpaksa akhirnya saya rombak ulang, sehingga jadilah cerita seperti di chapter ini. Bagian yang gak saya rombak cuman yang di prolog atas doang wkwk selebihnya semuanya kerombak abis :'(

Ohiya saya juga mengucapkan terima kasih ke teman-teman yang doain penulisan dan sidang saya mwehehe. Sidangnya bukan sidang skripsi tapinyaa. Makanya saya tadi bilang kalo saya rada sibuk dengan perkuliahan tingkat akhir. Ibaratnya kemarin sidang buat dapetin gelar setara sarjana muda, di kampus saya modelnya gitu. Kalo kemaren saya gak sidang, saya gak bakalan dapetin sk buat skripsi :(

Kok saya jadi curhat yah? Wkwk. Oke sebelum panjang note-nya ngalahin panjang cerita, saya mau ngucapin terima kasih dulu buat kalian yang sudah me-review: FafaCute, Haruna Aoi, Guest, .777, Riren18, Eonnichee835, AndaLucia, Kei, , Chiharu Kasumioji, Maersmallow, delalice, Guest, dan guestguest. Saya juga mengucapkan terima kasih ke teman-teman yang kemarin nambahin cerita ini sebagai favorit ataupun meng-allert cerita ini: Maersmallow, Uchiharuno Sierra, FafaCute, ningKyu, agastyanitya, , dan adeshasty.

Setelah ucapan terima kasih,sekarang saya akan balas review dari teman-teman yaaa.

Untuk FafaCute: Halo Fafa, salam kenal. Terima kasih ya udah dibilang makin seru hehe, karena sejujurnya saya sendiri ngerasa konfliknya terlalu standar :( makasih juga atas pengertian dan doa Fafa, saya seneng banget bacanya hehe. Yeay saya juga suka momen yang kemaren, ngegambarin karakter Rukia banget yang gak terbiasa dibonceng naik motor dan diajak kebut-kebutan ama suami sendiri. Wuooow tebakan darimana ituuu yang tentang Neliel? Soal yang di taman, saya gak jelasin banget berantemnya mereka kecuali yang di awal. Soalnya terlalu menye-menye. Jadi saya cukup bikin Grimm jarang pulang lebih awal (ga kayak awal-awal nikah dulu) dan gakmau makan masakan Rukia, semuanya tapi saya jadiin narasi aja, semoga Fafa gak kecewa ya hehe. Semoga chapter ini terhitung panjang buat Fafa ya hehehe.

Untuk Haruna Aoi: Halo Aoi, iya disini GrimmNell sodaraan. Wkwk nahloh, apa bener tuh kalo IchiRuki yang jadi korban persaudaraan GrimmNell? Hmm Grimm suka Rukia, iya bener. Nell suka Grimm, ini belom bisa dijawab hehe. Mungkin bisa ditebak-tebak lagi sama Aoi :) ini sudah dilanjut yaa dan terima kasih atas semangatnyaa

Untuk Guest: Huhuhu :( iya emang kurang panjang, tapi saya terkadang mentok dan bingung mesti nulis apalagi. Kalo dipanjang-panjangin, malah takut kesannya bertele-tele. Yeayy, saya juga suka karakter Rukia. Saya gasuka kalo pendirian Rukia dibikin lemah :( makanya, meski Rukia masih punya perasaan ama Ichigo, Rukia tetep saya bikin teguh pendiriannya buat terus pertahanin pernikahannya ama Grimmjow hehe. Tidakkk, sejujurnya saya mau buat pengakuan wkwk, ntar saya bakal jelasin di akhir authornote karena ada beberapa reader yang menyinggung hal ini hehe

Untuk anita.indah.777: Makasih banyak Anita atas doanya, berkat doa teman-teman dan Anita sidang saya berjalan lancar :) Hehehe untuk masalah Neliel sama Grimm kenapa bisa begitu, ditunggu dulu ya. Mungkin pembahasan jelasnya ada di chapter mendatang. Dichapter ini fokus dulu sama alesan Ichigo yang nikahin Neliel dan ninggalin Rukia hehehe

Untuk Riren18Z: Halo Riren, salam kenal juga yaa :) Iya gakpapa, saya seneng malah Riren udah nyediain waktu buat review hehe, makasih ya. Yeay saya seneng kalo nambah lagi yang suka ama cerita ini, meski konfliknya terkesan simple dan pasaran (menurut saya). Hehe saya yang nulisnya aja iri, pengen banget punya suami yang kayak Grimmjow wkwk. Terima kasih Riren atas doanya dan saya bersyukur sidangnya kemaren berjalan lancara hehe. Wuoooh, Riren tahun ini? Sama atuh wkwk. Saya juga baru tahun ini. Berarti kita sepantaran ya? Hehe.

Untuk Eonnichee835: Iya Eonnie, mereka sodaraan. Hehehe duh sebenernya konfliknya ga berat eonnie :( kesannya malah konflik standar ala-ala sinetron indo yang ampe ratusan episode mwehehe. Wkwk saya juga suka drakor kok tapi jarang ngikutin :( Eonnie adiknya banyak yah hehe, saya punya satu aja berantem mulu wkwk. Terima kasih sudah menunggu, ini sudah di-update Eonnie.

Untuk AndaLucia: Hihihi, ntar saya jelasin ya dibawah. Biar gak ngulang-ngulang ngetiknya. Btw, salam kenal Lucia :)

Untuk Kei: I love them, too! Ini sudah diupdate ya, Kei. Salam kenal Kei :)

Untuk : Halo, angelika, salam wkwkwk sumpah saya ngakak sejadi-jadinya wkwkwk. Dudududu parah banget typo saya. Jangan dibayangin yang iya-iya yah, cerita ini straight kok hehe. Nanti bakalan saya ganti deh, buat menghindari kesalahpahaman wkwk. Terima kasih ya atas doanya, dan ini sudah di-update :)

Untuk Chiharu Kasumioji: Halo Chiharu yang dulunya AsyahHatsune, saya jadi bingung mau panggil apa hehe. Tapi saya panggil Chiharu aja yaa. Hehehe saya tau kok, kayaknya emang semua fans IR berasa dihantam deh. Saya ama temen saya juga kaget wkwk tapi apalah daya, setelah dihantam Naruto sebelumnya saya jadi gak terlalu syok banget waktu baca ending Bleach wkwk. Hehe saya seneng kalo Chiharu suka ama ceritanya meski konfliknya terlalu pasaran :( Segiempat gakyaaa? Saya maunya segidelapan *dor wkwk. Iya terima kasih atas semangat dan doanya yaaa :)

Untuk Maersmallow: Thank you, Maersmallow :) Semoga suka dengan update kali ini, dan salam kenal yaa :)

Untuk delalice: Halo Delaa, iya gakpapa hehe. Wkwk abisnya kalo gak malu-malu canggung gada greget-gregetnya del wkwk. Saya malah kasian yang Rukia pucet :( tapi kalo ga ada momen itu, Rukia ga bakal kenal hobi Grimm yang suka kebut-kebut. Huhu iya saya sedih juga sama Grimm, rada gak tega sama dia yang punya banyak konflik keluarga :( (meski konfliknya berasa pasaran wkwk)

Untuk Guest: Iya maaf ya udah nunggu lama :( tapi kuliahan saya lebih penting, jadi saya terpaksa fokus dulu, jadinya baru bisa update sekarang deh :(

Untuk guestguest: iya ini sudah dilanjut hehe, betewe akun ini ama akun diatas sama yah?

Nah untuk menjawab pertanyaan Guest pertama dan AndaLucia; sejujurnya saya masih awam banget buat nulis lemon. Chapter diatas cuma selingan dikit, kecup-kecup manja, raba sana-sini, tapi saya gak berani gambarin dengan jelas :( Para reader di cerita ini, saya harap kalian tidak kecewa, karena sepertinya saya gak akan bisa nulis lemon dalam waktu dekat, atau bahkan cerita ini gak bakalan ada lemon. Untuk sekedar kayak diatas, masih bisa saya tulis karena deskripnya gak perlu sejelas lemon. Kalo gak salah, sebutannya Lime, ya? Untuk Lime memang dari awal akan ada di cerita ini, tapi kalau untuk lemon saya minta maaf, saya tidak bisa janji :( Selain itu, maaf juga untuk lambannya alur yang saya buat. Saya pengennya kisah GrimmRuki disini dibangun pelan-pelan. Soalnya bagi saya, gak gampang buat move-on, terlebih lagi Rukia disni masih punya perasaan cinta buat Ichigo. Semoga semuanya bisa mengerti dan memahami saya ya :(

Sekian untuk authornote kali ini, sampai jumpa di chapter mendatang. Saya belum tau bisa update kapan lagi, tapi saya tetep usaha buat lanjutin fict ini terus karena saya tau, saya gak boleh mengecewakan kalian :)