Suara deringan ponsel di meja nakas, membangunkan Grimmjow dari tidur nyenyaknya. Tangannya berusaha menggapai ponsel tersebut sebelum membuka matanya yang terpejam rapat. Identitas penelpon membuat kantuk Grimmjow lenyap. Ia berusaha untuk duduk sambil bersender pada kepala ranjang sebelum mengangkat panggilan tersebut.

"Masih mengganggu istriku?"

Diam. Tidak ada sahutan.

"Kau harus paham, Kurosaki, bahwa Rukia adalah milikku."

Tawa penuh cemooh terdengar di sambungan tersebut. "Rukia mencintaiku. Walau ia menikah denganmu, bukan berarti kau sudah berhasil memilikinya sepenuhnya."

Mata Grimmjow menyipit, menahan emosi. Yang Ichigo katakan padanya benar, dan Grimmjow bukan orang bodoh yang akan menampik kebenaran tersebut. Bibirnya terkatup rapat.

"Pernikahan kalian bisa hancur dengan mudah."

Pria berambut biru itu menatap istri yang tengah bergelung dalam selimutnya. Wajah damai Rukia membuat pikiran kalut Grimmjow lenyap seketika. Dengan angkuh pria itu menjawab, "Rukia tidak akan pernah meninggalkanku. Selamanya ia akan tetap menjadi istri dan akan menjadi ibu dari anak-anakku. Kau dengar itu?"

"Brengsek!"

"Berhentilah mengganggu keluargaku, Ichigo," suara Grimmjow terdengar kesal. "Kau sudah memutuskan untuk menikah dengan adik tiriku. Jadi berbahagialah dengannya."

"Sialan kau, Grimmjow," Ichigo meraung marah. "Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah membahagiakan Neliel. Aku akan menghancurkan adikmu, ayahmu, dan setelah itu akan kuhancurkan keluargamu. Bersenang-senanglah dengan Rukia, sebelum ia kembali jatuh dalam pelukanku."

Sambungan itu terputus. Grimmjow menatap ponsel Rukia cukup lama sebelum pria itu memutuskan untuk kembali tidur sambil menarik Rukia dalam pelukannya. Ia bahkan tidak sedikitpun mempedulikan ancaman yang Ichigo ucapkan.

.

Marriage oleh Clarette Yurisa

Bleach © Tite Kubo

Chapter 5

.

Bukan hal baru bila Rukia terbangun dari tidurnya dengan pelukan erat pada tubuhnya. Meski beberapa hari yang lalu Rukia merasa kecewa dengan tindakan suaminya saat pria itu berjanji untuk tidak memeluknya, faktanya pria ini kembali melakukan kebiasaan tidurnya. Gadis itu tersenyum tipis. Wajahnya dengan wajah suaminya tampak dekat, mengingat pelukan Grimmjow kali ini benar-benar erat hingga tak tersisa jarak sedikitpun di antara mereka. Tangan Rukia merambat naik sebelum membelai wajah suaminya. Hanya sebentar ia melakukan hal tersebut, sebelum wajahnya tersipu malu tatkala mengingat kejadian dini hari tadi.

Rukia menggigit bibirnya. Bagaimana mungkin ia bisa sepasrah itu di hadapan Grimmjow? Demi Tuhan, Rukia tidak pernah sekalipun membiarkan laki-laki manapun menciumnya. Bahkan Ichigo pun tidak pernah. Lantas, mengapa ia merelakan ciuman pertamanya untuk Grimmjow? Apakah hanya karena laki-laki ini pemegang status sebagai suaminya? Hati Rukia memberontak. Namun hanya itu alasan paling masuk akal yang terlintas dalam benaknya.

Kening Rukia berkerut saat mendapati seberkas cahaya yang menyelinap masuk dari balik gorden jendela kamarnya. Ia melirik jam yang tergantung di dinding sebelum menyadari bahwa hari sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Rukia bersyukur bahwa hari ini Grimmjow memutuskan untuk tidak ke kantor, sehingga ia bisa membiarkan suaminya terlelap lebih lama. Dengan hati-hati, Rukia mengangkat lengan kokoh Grimmjow yang semula memeluknya. Setelah berhasil, gadis itu bangkit dari tidurnya sebelum melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Rukia butuh membersihkan tubuhnya sebelum menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.

Beberapa hari terakhir, Grimmjow tidak pernah menyentuh masakan yang dibuatnya. Akan tetapi, hari ini sudah dapat dipastikan bahwa ia dan suaminya akan kembali makan bersama di meja makan. Hal ini membuat wajah Rukia tampak luar biasa ceria. Membayangkannya membuat senyuman lebar terus tersemat di wajah cantiknya.

Rukia tidak butuh waktu lama untuk merapikan dirinya dan kembali siap dengan sebuah dress selutut dengan warna serupa iris matanya. Ia menguncir rambut sebahunya dengan kuncir kuda sebelum kakinya melangkah riang menuju dapur. Kulkas yang tampak penuh, membuat Rukia terdiam sejenak. Gadis itu seolah bingung ingin membuat sarapan seperti apa. Ia mengelus dagunya beberapa saat sebelum memutuskan untuk membuat okazu yang dipanggang. Tangan mungilnya juga mengambil beberapa sayuran untuk dibuat sup miso.

Gadis itu tampak sibuk dengan kegiatan memasaknya. Dalam waktu dua puluh menit, kedua hidangan tersebut sudah terletak di atas meja makan dengan dua buah mangkuk nasi. Ia menghela napasnya saat menyadari bahwa suaminya belum juga keluar dari kamar. Mau tidak mau, Rukia melangkahkan kakinya menuju kamar mereka berdua untuk membangunkan Grimmjow. Ia tentu tidak ingin masakan yang dibuatnya susah payah mulai mendingin.

"Grimmjow bangun..."

Tidak ada gerakan.

Rukia akhirnya duduk di sebelah suaminya yang masih tertidur. Ia menggoyangkan bahu Grimmjow, berharap suaminya membuka matanya. "Bangun, Grimm. Kamu harus sarapan dan meminum vitamin yang kemarin diberikan dokter."

Kali ini, Grimmjow menggeliat. "Masih ngantuk," ucapnya dengan suara parau.

Gadis itu menatap Grimmjow yang kembali bergelut nyaman dengan kesal. Tangannya segera mencubit pinggang suaminya hingga membuat pria itu mengaduh sakit dan bangun dari tidurnya. Grimmjow mendudukkan dirinya di ranjang sebelum menatap Rukia sebal.

"Kenapa kau mencubitku?"

Rukia mencibirkan bibirnya. "Masih bertanya? Siapa suruh tidak bangun!"

Grimmjow mengacak surai birunya. "Aku masih ngantuk," ucapnya dengan nada memelas.

Gadis itu menatap suaminya tajam. "Awas saja kalau kau tidur lagi! Kepalamu akan kugunduli jika kau berani melakukannya."

Pria itu menatap Rukia dengan raut wajah terperangah. Ia berharap Rukia tengah menggodanya, namun ekspresi gadis itu jelas mengatakan bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya. Mau tidak mau, Grimmjow bangun dari kasurnya dengan pandangan penuh kepuasan dari Rukia. Pria itu melirikkan matanya pada sosok istrinya yang mulai merapikan kasur. Mendadak, ide jahil menyelinap di kepalanya.

"Rukia…"

"Apa?" Rukia menyahut tanpa memandang Grimmjow yang kini berdiri di sampingnya. Tangannya masih sibuk melipat selimut yang semalam mereka pakai.

"Hadap sini sebentar," pinta Grimmjow.

Mendengar perkataan Grimmjow, membuat Rukia menolehkan kepalanya dengan sebelah alis terangkat. Sebuah ciuman singkat kembali mendarat pada bibir gadis itu. Rukia jelas saja terpana. Gadis itu terdiam kaku di tempatnya. Pikirannya bahkan melayang kembali pada kejadian tengah malam tadi. Mendadak wajah Rukia memerah. Sementara Grimmjow sudah meninggalkannya dengan sebuah senyum lebar yang terpatri di wajahnya.

"Ah, sungguh hari yang indah!" gumam pemuda itu sebelum kakinya melangkah masuk ke kamar mandi.

.

"Masakanmu semakin enak," ucap Grimmjow.

Mendengar pujian yang dilontarkan suaminya, jelas membuat senyum Rukia melebar. "Benarkah? Apakah sudah sesuai dengan seleramu? Kau bisa katakan padaku jika masih terasa kurang di lidah. Aku pasti akan menerima saranmu."

Grimmjow terkekeh. Ia turut membantu Rukia yang sibuk mengangkat piring dari meja makan ke tempat pencucian piring. "Sudah terasa pas di lidahku, Rukia. Tidak ada saran apapun yang bisa kuberikan untukmu."

Mata violet Rukia berbinar. Tidak percuma ia belajar keras untuk memasak demi Grimmjow. Rukia merupakan mahasiswi yang pintar, bahkan ia selalu dipuji oleh dosen dan teman-temannya. Namun, pujian yang Grimmjow berikan padanya terasa berbeda. Rukia merasa hatinya menghangat dan bahagia sekaligus.

"Kau tidak perlu pembantu rumah tangga?" tanya Grimmjow saat melihat Rukia membilas semua piring kotor yang semula di meja makan.

Tangan Rukia terhenti sejenak. Ia berpikir sesaat sebelum berkata, "Kurasa aku masih belum membutuhkannya. Rumah yang kita tempati tidak terlalu besar, jadi aku tidak merasa kerepotan meski harus membersihkannya sendirian."

Grimmjow mengelus dagunya. "Sebenarnya aku ragu bila kita tidak tinggal di rumah yang mewah seperti rumah ayah dan ibumu," ucapnya pelan.

Rukia menggeleng pelan. Tangannya kembali sibuk membilas beberapa piring. "Aku justru lebih suka dengan rumah minimalis. Tidak terlalu besar sehingga tidak perlu repot mengurusnya. Lagipula, aku tidak ingin meminta terlalu banyak padamu."

Grimmjow menghela nafasnya. "Aku suamimu, Rukia. Tolong biasakanlah. Aku bekerja untuk memenuhi keinginan istriku. Kalau kau tidak ingin apapun, lalu harus kuberikan pada siapa uang yang telah kudapatkan?"

Rukia tertawa mendengarnya. Ia telah selesai membasuh semua piring. Tangan mungilnya ia lap pada sebuah lap tangan di sana. Gadis itu membalikkan badannya dan melangkah untuk berdiri di hadapan suaminya. "Kita bisa menabungnya, bukan? Siapa tahu uangmu akan lebih dibutuhkan untuk kebutuhan anak kita nanti."

Mata biru Grimmjow melebar. Ia terpana mendengar kata anak terucap dari bibir Rukia. Sementara istrinya tersebut merona malu sambil menggigit bibir bawahnya. Gadis itu membalikkan badannya, meninggalkan Grimmjow, demi menutupi rona kemerahan yang tercetak jelas di wajahnya.

Seakan tersadar bahwa istrinya pergi, Grimmjow segera mengejarnya. "Tunggu, Rukia!"

"Aku tidak kemana-mana," sahut Rukia. Ternyata gadis itu lebih memilih menyibukkan diri dengan merapikan meja makan yang semula mereka pakai.

"Uh… Kau yakin ingin punya anak?"

Pertanyaan Grimmjow membuat gerakan tangan Rukia terhenti. "Kalau kau tidak ingin punya anak denganku, aku bisa mengerti."

Entah mengapa, Rukia merasa hatinya sakit saat mengucapkan kata-kata tersebut. Grimmjow yang merasa kalimatnya diartikan salah oleh Rukia segera membalikkan badan istrinya tersebut untuk menatapnya.

"Yang ingin kuketahui, apakah kau tidak keberatan memiliki anak denganku? Karena sejujurnya, aku juga ingin memiliki anak denganmu," jelas Grimmjow.

Wajah Rukia kembali merona mendengar penjelasan gamblang suaminya. "Aku mau," sahutnya pelan sebelum menundukkan kepala.

Grimmjow tersenyum senang. Ia mengelus puncak kepala Rukia sebelum berkata, "Kalau begitu kau harus siap kapanpun, Rukia."

Rukia menganggukkan kepalanya. "Tapi tidak sekarang. Tamu bulananku baru saja datang hari ini."

Tawa Grimmjow meledak. Pasalnya Rukia mengatakan tamu bulanan dengan wajah yang sangat merah seperti kepiting rebus. "Tidak apa. Kita bisa lakukan lain kali, setelah tamu-mu pergi."

Gadis itu kembali mengangguk malu.

"Sekarang apa yang akan kau lakukan?"

Rukia menatap meja makan yang sudah bersih. Ia tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan, sehingga gelengan kepala menjadi jawaban atas pertanyaan yang diajukan suaminya. "Aku juga tidak tahu harus melakukan apalagi."

"Kalau begitu ke ruang kerjaku. Bantu aku membereskan barang-barang di sana, ya?"

Rukia tersenyum. "Tentu saja. Aku sebenarnya cukup penasaran dengan ruang kerjamu. Ayahku bilang, ruang kerja seseorang menunjukkan kepribadian seseorang juga."

Grimmjow tertawa. "Kalau begitu kau harus bersiap, Rukia. Ruang kerjaku sangat berantakan. Kau bisa menebak, bagaimana kepribadianku?"

"Kau tidak rapi, urakan, dan jorok. Wajahmu saja seperti berandal," tutur Rukia.

Kening Grimmjow berkerut mendengar kata berandal. "Hey… hey…," ia memprotes.

Rukia menatap Grimmjow yang terlihat tidak terima. "Namun kau penuh tanggung jawab dan pengertian, meskipun kau selalu terlihat cuek."

Grimmjow terkekeh pelan sebelum mengikuti Rukia yang sudah lebih dulu masuk ke ruang kerjanya. Kesan pertama dalam benak Rukia adalah Grimmjow pecinta kerapihan. Semua buku tertata apik dalam lemari besar yang berjejer. Kata-kata Grimmjow yang mengatakan bahwa ruang kerjanya sangat berantakan ternyata hanya terpusat di meja kerjanya. Tumpukan dokumen setinggi sepuluh senti dengan beberapa kertas yang berceceran yang membuat meja kerja suaminya tampak tidak terurus.

"Kau membawa pekerjaanmu ke rumah?"

Grimmjow menganggukkan kepalanya. "Hanya saat kita bertengkar. Aku lebih baik bekerja di sini daripada tidur di kamar tanpamu."

"Alasan macam apa itu? Pantas saja kau kecelakaan. Kutebak pasti kau mengantuk saat berkendara, apa benar?" Rukia menatap Grimmjow dengan pandangan menyelidik.

Anggukkan kepala Grimmjow membuat Rukia gusar.

"Lain kali bila punya masalah, bicaralah denganku, Grimm," ucap Rukia dengan nada pelan dan lembut. "Aku istrimu. Aku tidak ingin suamiku celaka karena pertengakaran yang terjadi di rumah tangga kita."

"Maafkan aku," ucap Grimmjow penuh sesal.

Rukia tersenyum, tanda memaafkan. Pandangan gadis itu kemudian beredar sebelum mendapati sebuah foto yang membuatnya cukup heran. Ia menghampiri foto tersebut untuk melihatnya dengan lebih jelas. Grimmjow tidak memperhatikan istrinya. Pria itu sibuk merapikan dokumen untuk dimasukkan ke dalam lemari arsipnya.

"Ini foto ulang tahunku yang ke dua puluh, kan?" Rukia tidak perlu bertanya, sebenarnya. Ingatannya tidak buruk untuk memutar kembali salah satu kenangan manis dalam hidupnya sebelum semua hancur berantakan.

Pertanyaan Rukia membuat Grimmjow tersentak, kaget. Grimmjow merutuk dalam hati. Dia melupakan keberadaan foto tersebut. Apa yang harus dikatakannya bila Rukia bertanya? Tidak mungkin Grimmjow mengelak, karena justru akan terlihat mencurigakan.

"Iya, itu foto ulang tahunmu tiga tahun yang lalu."

Rukia menatap tiga buah bingkai yang berjejer di dinding tersebut. Di sebelah kiri adalah foto Grimmjow, di tengah adalah foto pernikahan mereka, dan di kanan adalah fotonya. Lebih tepatnya, foto saat ia mengadakan pesta ulang tahun tiga tahun yang lalu.

"Kenapa fotoku bisa berada di ruang kerjamu?" tanya Rukia penasaran. Karena gadis itu ingat sekali, ia tidak pernah membawa satu pun album yang ada di rumah keluarganya ke sini.

Grimmjow terdiam sesaat. "Dari ayahmu."

Kening Rukia mengernyit heran. "Ayah memberikannya padamu?" entah mengapa, nada suara Rukia terdengar tidak percaya.

Grimmjow tidak perlu bilang bahwa ia menyogok salah satu fotografer yang ada di sana untuk mencetak foto gadis itu, bukan? "Memangnya ada yang salah? Aku suamimu. Ayahmu juga tidak mempermasalahkannya."

Rukia masih tampak tidak percaya. Namun menatap foto tersebut begitu lama, membuat kenangannya bangkit. Saat itu, Ichigo masih menjadi tunangannya. Rukia terlihat sangat bahagia di sana. Ayah dan ibunya mengapit dirinya, sementara Ichigo tampak berdiri di sebalah ibunya.

"Berhentilah memandangi potret dirimu sendiri. Kau bilang kau ingin membantuku?"

Rukia seakan tersadar. Ia membalikkan badannya sebelum tertawa kecil. "Aku terlalu asyik melihat foto ini. Aku hanya tidak menyangka bahwa semua bisa berubah begitu cepat hanya dalam jangka waktu tiga tahun."

Grimmjow menatap istrinya yang tampak sedikit murung. "Apa sekarang semuanya masih tampak menyedihkan untukmu?"

"Eh? Maksudmu?"

"Dengan kondisimu yang sekarang justru menjadi istriku, ayahmu yang harus membangun perusahaannya dari awal, ibumu yang masih harus menetap di rumah sakit sampai pulih, apakah semuanya masih tampak menyedihkan bagimu?"

Pertanyaan Grimmjow terdengar menuntut. Pasalnya, pria tersebut memang ingin mengetahui jawaban Rukia, terutama pada jawaban pernikahan mereka. Apakah Rukia menganggap pernikahan yang mereka jalani ini begitu menyedihkan untuknya?

Gelengan kepala Rukia menghapus kecemasan Grimmjow. "Awalnya memang aku merasa sedih, namun kini aku merasa bersyukur. Aku bahkan harus sangat bersyukur karena mendapatkan suami yang sangat memahami dan mengerti diriku. Kau suami yang sangat pengertian, Grimm."

Tersipu adalah hal yang Grimmjow rasakan. "Jangan bicara seperti itu, kalau tujuanmu hanya ingin menyenangkanku."

Rukia terkikik. "Aku serius. Hanya saja kalau melihatmu seperti ini, rasanya aku akan lebih sering memujimu."

Hening sesaat. Grimmjow memang tidak ingin membahas masalah wajahnya yang tersipu. Ia cukup malu telah bertingkah seperti itu di hadapan istrinya yang masih belum jelas apakah gadis itu mencintainya atau tidak.

"Akhir pekan nanti, kita jadi mengunjungi rumah keluargamu, 'kan?" Tanya Rukia sembari membantu Grimmjow merapikan map-map sebelum memasukkannya ke lemari arsip.

"Kau yakin ingin menemui keluargaku?" nada suara Grimmjow terdengar tidak yakin.

"Apa tidak boleh?" Rukia bertanya dengan nada kecewa. "Dari kata-kata ayahmu, dia bahkan tidak tahu kalau aku adalah menantunya. Sewaktu pernikahan, ayahmu juga tidak hadir. Aku hanya melihat ibumu." Dan dia berwajah murung seolah tidak senang dengan pernikahan kita, Rukia menambahkan dalam hati.

Helaan nafas terdengar. Grimmjow mengacak pelan rambut Rukia sebelum berkata, "Kalau begitu, aku akan membawamu ke rumah keluargaku minggu depan."

Wajah Rukia yang ceria membuat senyum Grimmjow kembali merekah. Sayangnya senyuman tersebut hanya bertahan sebentar. Pria itu berharap, pilihannya untuk mengajak Rukia mengunjungi keluarganya bukanlah sesuatu yang salah.

.

"Aku tidak mungkin bertahan dengan Neliel, Ayah. Wanita yang kucintai adalah Rukia," ucap Ichigo penuh emosi di dalam ruang kerja ayahnya.

Pria yang merupakan ayah Ichigo tersebut menatap anaknya dengan pandangan kesal sebelum berkata, "Aku tidak peduli siapa wanita yang kau cintai, Ichigo. Kau sudah memilih Neliel dengan menikahinya dan memiliki anak bersamanya. Kau bukan anak kecil lagi yang harus mendapatkan segalanya tanpa memikirkan resiko."

Rahang Ichigo mengetat. "Semua ini salah kakek, Ayah. Mengapa harus aku yang merasakan akibatnya?"

"Kau yang merasakannya karena kau yang menuruti ucapan kakekmu. Sudah dari awal kukatakan padamu, bahwa kakekmu bukanlah orang baik," pria tersebut menghela nafas mendengar keluhan putranya. "Bahkan ibumu juga menasehatimu bahwa apapun yang kau lakukan akan berakhir buruk selama kau masih mengikuti pilihan kakekmu."

Ichigo menundukkan wajahnya. Tubuhnya lunglai di kursi yang berada tepat di depan ayahnya. Sikunya bertumpu pada meja kerja ayahnya sebelum kedua tangannya meremas rambut jingganya. "Sekarang sudah terlambat bagiku untuk kembali pada Rukia. Satu-satunya jalan hanyalah membuatnya bercerai dari suaminya."

Ayahnya menggelengkan kepalanya lembut sebelum menepuk pelan pundak Ichigo. "Biarkanlah Rukia hidup bahagia, Ichigo. Sejak awal kau memang tidak mencintainya, bukan? Kau mendekati Rukia juga demi menuruti ucapan kakekmu."

Ichigo menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak, Ayah. Aku mencintai Rukia. Hanya saja," Ichigo menelan ludahnya penuh kepahitan sebelum melanjutkan kalimatnya, "aku barusaja menyadari kalau aku benar-benar mencintainya setelah melihatnya menikah dengan laki-laki lain. Aku tidak rela Rukia bahagia jika bukan bersamaku."

"Oh, suamiku! Kau membuatku hancur dengan bicara seperti itu," secara tiba-tiba muncul Neliel di ruang kerja tersebut. Wanita itu tampak membawa dua buah bento untuk suami dan ayahnya.

"Masaki memintamu untuk mengantarkannya kemari, Neliel-chan?" ayah Ichigo segera memotong suasana mencekam akibat kalimat terakhir Neliel.

Neliel memalingkan wajahnya dari suaminya. Ia memandang mertuanya dengan senyum hangat sebelum berkata, "Bibi Masaki tidak sempat kemari karena harus mengurus Yuzu dan Karin, Paman Isshin."

Isshin mendecakkan lidahnya. "Kau masih memanggil kami Paman dan Bibi? Biasakanlah memanggil kami seperti memanggil orangtuamu sendiri, Neliel-chan."

Wanita itu tersenyum kikuk.

"Biarkan saja dia, Ayah. Memang belum pantas untuknya memanggilmu dengan sebutan ayah. Dia bahkan tidak kuanggap sebagai istriku sendiri," ungkap Ichigo dengan nada dingin.

"Kurosaki Ichigo!"

Bentakan Isshin segera mengheningkan suasana. Neliel tampak berdiri kaku ditempatnya. Tangannya menggenggam bento di tangan dengan erat, seolah bento tersebut menjadi pegangannya agar tidak goyah. Sambil berusaha tersenyum, Neliel mengulurkan bento tersebut ke depan ayah mertuanya.

"Kurasa aku harus pergi sekarang. Aku tidak bisa berlama-lama disini karena masih ada pekerjaan. Ini untukmu dan Ichigo, Ayah," ucap Neliel sebelum berpamitan.

Isshin menatap kepergian menantunya dengan tatapan sedih. Ia sempat melihat mata menantunya tampak berkaca-kaca seolah menahan tangis.

"Ayah pernah mengajarkanmu untuk bersikap baik terhadap wanita, benar bukan?"

Ichigo tampak tersentak di tempat. Ia menganggukkan kepalanya dengan lunglai.

"Apapun yang terjadi, ayah tidak ingin dengar kata-kata kasar seperti tadi kau ucapkan lagi kepada istrimu. Kau anak ayah dan ibu, Ichigo. Berhentilah bersikap seperti kakekmu. Gunakanlah didikan yang ayah dan ibu dan berikan padamu."

Ichigo memejamkan matanya, tampak merenung. Meski ia tidak mencintai Neliel, ia sadar bahwa tidak seharusnya ia berbicara seperti tadi. Kata-katanya memang terlalu kasar untuk ukuran seorang pria dewasa.

"Ayah menyesal mengijinkanmu melanjutkan gelar sarjana dan master-mu di luar negeri. Karena hal itu, kau harus tinggal serumah dengan kakekmu dan termakan ucapannya yang berakhir menyesatkanmu."

Ichigo kembali terdiam. Kembali terbayang masa ketika ia tinggal di rumah kakeknya dan diberikan berbagai macam petuah hingga membuatnya berubah seperti sekarang. Ichigo mendadak bertanya. "Ayah, apakah aku bisa bahagia?"

"Tentu saja."

Ichigo tampak tersenyum. Pikirannya berkelana memikirkan Rukia, memikirkan kebahagiaan yang ingin diraihnya. Namun segera terhenti saat Isshin menambahkan kalimatnya, "Kau bisa bahagia tanpa merusak kebahagiaan orang lain, Putraku. Aku dan ibumu percaya akan hal itu."

Mendadak Ichigo mematung di kursinya tanpa tahu harus berbuat apa.

.

"Kupikir putri semata wayang-ku sudah melupakan ibunya." Adalah komentar Hisana Kuchiki ketika melihat Rukia memasuki ruang rawat inap dengan diikuti oleh suaminya.

Rukia tersenyum sebelum memeluk ibunya erat. "Aku tidak mungkin melupakan ibuku tersayang."

Hisana terkekeh mendengarnya. Ia menatap wajah Rukia yang tampak ceria, seolah tidak terbalut masalah apapun. Dalam hati, Hisana bersyukur mendapati wajah bahagia itu menjadi ekspresi milik putrinya saat ini. Ia mengalihkan pandangannya pada suami Rukia sebelum tersenyum. "Ah, bahkan menantuku juga turut mengunjungiku. Kau tidak bekerja?"

Rukia yang menjawab, "Grimmjow kecelakaan, Bu. Dokter menyuruhnya beristirahat sehingga ia tidak bekerja untuk beberapa hari ini."

Hisana tampak terkejut. "Kecelakaan?"

"Tidak parah, Bu. Hanya lecet di beberapa tempat," Grimmjow menyahut dengan nada menenangkan.

"Lalu, mengapa kau kemari bersama suamimu, Rukia? Bukankah dokter menyuruhnya beristirahat?"

Rukia tampak bersemu. "Grimm tidak mau bila aku pergi sendiri, Bu. Dia ingin menemaniku kemanapun aku pergi seharian ini."

"Ah, manisnya," Hisana berkomentar jahil.

Wajah Rukia semakin memerah. "Ibu jangan meledekku terus."

Pecah sudah tawa Hisana melihat sikap manja anaknya. Ia mengelus rambut hitam Rukia sebelum berkata, "Rukia, bisa belikan ibu makanan? Ibu dengar dari beberapa pasien bahwa ramen-nya begitu enak."

"Bukankah ibu barusaja makan?" Rukia bertanya dengan nada heran. Pasalnya memang terdapat nampan di meja nakas samping ranjang ibunya.

"Ibu lapar lagi," sahut Hisana dengan senyum. "Kau mengerti, bukan, kalau porsi sekecil itu tidak akan mengenyangkan perut ibu?"

Rukia tertawa. "Baiklah, akan kubelikan."

Grimmjow melangkah mendekati pintu. "Akan kutemani, Rukia."

Hisana menggeleng. "Ah, tidak, jangan kalian berdua. Ibu belum pernah bicara dengan menantu ibu. Apa Grimmjow tidak ingin berbicara dengan ibu?"

Grimmjow tampak terdiam sambil memandang Rukia. Istrinya menganggukkan kepalanya, seolah menyetujui permintaan ibunya. Maka Grimmjow pun melangkah menghampiri ranjang ibunya sebelum duduk di kursi untuk penjenguk.

"Aku tidak akan lama," ucap Rukia sebelum menghilang dari balik pintu.

Suasana yang sebelumnya ramai akan celotehan Rukia dan ibunya, kini justru tampak sepi. Grimmjow yakin bahwa memang ada hal khusus yang ingin dibicarakan oleh ibu mertuanya tanpa harus didengarkan oleh Rukia, entah apapun alasannya.

"Grimmjow, maukah kau berkata jujur pada wanita yang menjadi ibu keduamu ini?"

Grimmjow tersenyum. "Tentu saja, Bu."

Hisana turut tersenyum. "Apakah kau mencintai Rukia?"

Pria itu tampak terpana sesaat sebelum wajahnya sedikit memerah menahan malu. "Aku mencintai Rukia, Bu. Aku mencintainya sejak Byakuya-san memperkenalkan aku dengan Rukia."

"Kapan Byakukya mengenalkanmu pada Rukia?"

"Ketika Rukia datang ke kantor ayahnya untuk mengantarkan bekal yang kau buat, Bu. Hari itu Byakuya-san melupakan bekalnya. Aku bertemu dengan Rukia di lobi perusahaan dan mengantarkan bekal itu bersama, karena kebetulan aku juga ingin bertemu dengan Byakuya-san," jelas Grimmjow.

Hisana tampak mengerti. "Berarti sejak Rukia sudah bertunangan?"

Grimmjow menganggukkan kepalanya. "Benar, Bu."

"Aku takut putriku tidak bahagia. Pernikahan bisnis tidak diterapkan oleh keluarga kami. Namun pada akhirnya, Rukia harus menikah denganmu karena perusahaan suamiku bangkrut dan aku membutuhkan biaya yang sangat besar untuk operasi," tutur Hisana.

"Aku pasti membahagiakkan Rukia, Bu. Apapun yang terjadi."

Hisana menatap menantunya lekat-lekat. "Bisakah kau kupercayakan hal tersebut?"

Pria itu menganggukkan kepala sambil tersenyum menenangkan. "Aku bahkan lebih menyayangi Rukia dibanding diriku sendiri, Bu. Apapun pasti kulakukan demi membuat Rukia bahagia."

Hisana menghela nafasnya. "Kulepaskan putriku untukmu, Grimmjow. Jadilah suami yang baik dan mencintai Rukia sepenuh hati. Berikan kebahagiaan padanya dan jangan pernah menyakitinya. Bisakah?"

"Aku pasti melakukannya, Bu."

Hisana menampilkan wajah lega mendengar kalimat menantunya.

"Bagaimana kabar perusahaan Byakuya-san, Bu?" mendadak Grimmjow bertanya.

Hisana terkekeh. "Kau memanggilku Ibu, tapi masih memanggil Byakuya dengan sebutan biasa."

Grimmjow tersenyum canggung. "Aku masih belum terbiasa memanggilnya dengan sebutan ayah."

Ibu Rukia tersebut menganggukkan kepalanya, tampak mengerti. "Byakuya membangun perusahaan dari awal. Perusahaan keluarga kami tidak dapat diselamatkan meski kau memberikan kontribusi yang cukup besar untuk mempertahankannya."

Grimmjow terdiam. Memang sedari awal Grimmjow yakin, bahwa perusahaan Byakuya tidak akan bisa bertahan meski ia mengucurkan banyak dana. Sudah terlalu banyak rekan kerja yang memutuskan kontrak dan beralih pada perusahaan milik Ichigo, tepatnya perusahaan milik kakeknya Ichigo.

"Dengan banyak pertimbangan, maka Byakuya memutuskan untuk membangun ulang segalanya dari awal. Meski sulit untuk memulai kembali dari nol, tapi sikapnya yang optimis membuatku yakin bahwa tidak butuh waktu lama untuk kami bisa seperti dulu," jelas Hisana.

"Senang sekali mendengarnya, Bu," Grimmjow berujar tulus.

"Ibuuu," ucap Rukia saat membuka pintu. "Tidak ada ramen di kantin rumah sakit ini. Ibu membohongiku, ya?"

Hisana tertawa. "Ibu tidak pernah bilang kalau kantin rumah sakit menjual ramen, bukan?"

Seakan tersadar, Rukia membatu mendengar kalimat ibunya. Memang ibunya tidak menyuruhnya untuk ke kantin rumah sakit. Ibunya hanya berkata bahwa beberapa pasien mengakui bahwa ramen-nya enak.

Grimmjow terkekeh mendapati mertuanya begitu pintar membohongi Rukia.

"Ibu pasti membicarakan sesuatu yang penting dengan Grimmjow, bukan?" Rukia tampak memaksa.

"Memangnya salah kalau ibu ingin bicara berdua dengan menantu Ibu?"

Rukia merengut. "Grimm, ceritakan padaku saat dirumah ya?"

Grimmjow tampak berpikir sesaat sebelum menggelengkan kepalanya dengan senyum usil. "Perbincanganku dengan ibu akan menjadi rahasia kami berdua, Rukia."

Semakin merengut Rukia mendengar perkataan suaminya. Sementara Ibunya sudah tertawa mendengar kalimat yang Grimmjow ucapkan. "Bagus sekali, Grimmjow. Mulai saat ini, kau sudah menjadi menantu tersayangku," ucap Hisana dengan nada menggoda putrinya.

.

Halooo semuanyaaa. Maafkan saya yang lagi-lagi butuh waktu lama untuk update-nya. Sejak terakhir saya update, saya fokus dengan skripsi saya. Saya marathon hingga bisa menyelesaikan bab ketiga saya sekarang, sehingga saya baru bisa luang. Setelah chapter ini, saya yakin akan membutuhkan waktu lama lagi untuk update karna saya harus mengerjakan bab selanjutnya berikut dengan projek skripsinya. Mohon dimaafkan untuk yang sempat PM saya juga dan menanyakan kapan update, saya baru sempat sekarang. Maafkan saya ya semuanya, semoga kalian masih menunggu cerita ini.

Saya merasa problema-nya semakin riweuh kayak sinetron wkwk. Maklum ide tulisan ini emang ada waktu saya masihlah bocah SMA, berarti sudah lima tahun lah kira-kira hehe. Kali ini saya akan berbalas review terlebih dulu.

Azura Kuchiki: Iya masih lanjut kok hehe maaf ya karna lama update. Ada di penjelasan atas, di awal memang Ichigo itu deketin Rukia untuk harta, demi persaingan bisnis sebenernya untuk ngejatuhin perusahaan Rukia. Ayahnya Grimm kandung hehe. Abis di manga Grimm gapunya ayah, saya jadi bingung nentuin ayahnya.

Haizahr Hana: Wkwkwk iya kemarin emang plotnya lagi sengaja dibikin turun naik karena permasalahan udah mulai dibuka disana. Trus pengen bikin kemajuan juga buat hubungan GrimRuki, tapi pelan-pelan dengan cara kemaren hehe. Wkwkwk untung gak ku bablas ya adegannya jd batal bekerja deh radarmu. Iya sama-sama juga, terima kasih sudah membaca dan mereview yaa.

lightdesired: Terima kasih yaaa sudah suka cerita dengan saya hehe

baramjji: hehe maaf ya kalau lagi-lagi menunggu lama. Saya harus kejar target biar bisa lulus tahun ini hehe. Bapak kandunggg. Tapi sekarang saya merasa kalau barragan ketuaan buat jadi bapak Grimm. Isshin yang bapaknya Ichi masih muda, masa Barragan yg bapaknya Grimm udah tua bgt ya. Iyaaa saya setuju sama kamu hehe, niatnya memang konfliknya seputar bangun kepercayaan masing-masing dan dibumbui konflik keluarga karena dari awal memang ingin konsepnya gitu kok hehe.

guestguest: iyaaa akhirnya ini juga dilanjut lagi wkwk. Saya pikir sama abisnya ada guest ada guestguest hehe

anita .indah .777: hihihi iyaaa saya sebenernya rada deg-degan bikin chapter kemaren abis bingung mestimulai nulisnya gimana hehe. Iya terima kasih anitaaaa

nay: kalau rukia tahu, gapapa sih, kan udah jadi milik Grimmy kesayangan hehe. Di awal deketin Rukia, Ichigo ga cinta. Baru sadar cinta pas Rukia nikah ama Grimmjow hehe.

Guest: yeayyy iya ini juga akhirnya up lagi hehe. Iya chapter kemaren emang lagi fokusin GrimRuki. Chapter ini porsinya dikurangin dulu. Semoga chapter selanjutnya bisa banyak lagi ya GrimRuki-nya hehe. Hihihi terima kasih sudah menyemangati saya yaaa

Chiharu Kasumioji: Sebenernya aku juga kesel kok sama Ichi hehe. Aku padahal demen dia, tapi malah menistakan dia di fict ini huhu. Wkwk tenang, Grimmjow akan jujur pada waktunya kok. Aku juga seneng banget sama chapter kemaren, karna chapter kemaren emang yg agak berat menurutku, karena nulisnya harus mikir keras dan penuh penghayatan wkwkwk. Hihihi terimakasih Haru sudah menyemangati yaaa

KaraChan: Hihi iyaaa saya juga suka couple GrimRuki abisnya yang satu sangar yang satu polos hehe. Iyaa Kara, ini sudah dilanjut yaaa hehe

Kiki RyuSullChan: Iya Kiki hehe, ini sudah di update lagi yaaaa

Febri2425: Wkwk saya bingung yang ini mesti dibales apa. Salam kenal aja ya, Febri-san hehe

Tectona Grandis: Ya ampun, ada kak tectona aku syok. Aku penggemar Pitch Black-mu kakk tapi udah lama gak buka FF huhu. Nanti aku mau mampir lagi ya hihi. Yeay, we are Rukia-centric hehe

Guest: Halo hehe, ini sama kah dengan guest yang sebelumnya? Maaf ya baru sempet update hehe.

Well mau tanya sedikit nih, kira-kira kalau tiba-tiba ayahnya Grimmjow saya ganti jadi karakter lain yang agak mudaan dikit, aneh gak menurut kalian? Abisnya menurut saya Barragan lebih cocok jadi kakeknya wkwk. Berikan saran kalian yaaa hehe buat jadi pertimbangan saya, soalnya sosok bapaknya Grimm bakalan jadi orang yang akan muncul beberapa kali di cerita ini hehe.

Oiya, terima kasih dulu ya buat yang udah nyempetin waktunya buat baca dan review cerita saya. Terima kasih juga buat yang udah sempet follow atau favorite cerita ini. Maaf saya gakbisa list seperti biasa, tapi saya sangat bersyukur kalian menjadikan cerita ini sebagai alert atau favorite kalian hehe.

Sekian dari saya, sampai jumpa lagi semuanya hehe.