Last section on part 1
["Mengapa?" Tanya taehyung.
Jungkook hanya terdiam.
"Kau akan semakin menarik untuk kudekati dengan laranganmu ini"]
Part 2
Seketika jungkook merutuk dirinya. Mengapa ia bisa disenangi oleh murid baru ini? Apa ia kurang bersikap dingin? Oh ayolah ia tidak mau berteman dengan siapapun karena ia berpikir memiliki teman hanya akan menambah bebannya.
"Aku ingin pulang" ucap jungkook.
"Ayo ku antar" ucap taehyung.
"Tidak" jungkook menepis tangannya dan segera pergi. Taehyung pun mengikutinya dari belakang hingga ke parkiran. Jungkook yang baru keluar dari sekolah langsung menuju tempat ia kerja part-time di sebuah cafe berukuran lumayan besar. Ia bekerja sebagai pelayan biasa. Inilah rutinitas jungkook sehari-hari. Pulang sekolah, ia langsung harus bekerja untuk kebutuhannya sehari-hari karena appanya sudah tidak lagi mempedulikannya. Sesampainya di tempat cafe yang lumayan jauh dari sekolah membuatnya capek karena berjalan kaki. Ia bukannya tidak memiliki motor hanya saja ia sudah terbiasa berjalan kaki. Iapun segera mengganti seragam sekolahnya menjadi seragam pelayan disana dan mulai bekerja melayani beberapa pembeli yang datang.
Sekitar jam 6, jungkook pun menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang. Dengan lelah jungkook menggandeng tas sekolahnya yang terbilang cukup berat dipundaknya. Sesampainya dirumah, ia tidak melihat keberadaan appanya.
'Kemana dia' batin jungkook.
Ini pertamaa kalinyaa dalam beberapa hari ia tidakk dimarah/dipukul oleh ayahnya. Ia pun bernafas lega dan segera masuk ke kamar. Didalam kamar ia hanya mendengarkan lagu melalui handphonenya dengan volume kecil.
Krkrkrkrkrkrkr~(?)
Bunyi perutnya terdengar lumayan keras. Ia baru ingat bahwa ia belum makan sedikutpun hari ini. Ia pun langsung keluar membeli nasi dan kembali ke rumah. Sesampainya dirumah, ia masuk dan mendapati appanya sedang menatapnya dengan tatapan sinis. Impiannya untuk tidak dipukul seharipun sepertinya tidak akan terjadi.
"Kau darimana?" Tanyanya dingin.
'Sepertinya ia mabuk' batin jungkook dengan menghirup bau mulut appanya.
"Membeli nasi" ucap jungkook dengan nada sedatar mungkin.
"Apa yang terjadi dengan vas bunga itu?" Tunjuknya ke arah vas bunga pecah.
"Bukankah appa kemaren menendang meja yang menyebabkan vas itu jatuh?"
"Itu bukan ulahku, itu pasti ulahmu"
"Tidak, aku baru saja pulang"
"Kau berbohong" titah appanya.
"Lalu appa menuduhku menghancurkan vas ini?" Tanya jungkook pelan.
"Siapa lagi yang harus kusalahkan? Hanya kau yang dari tadi dirumah ini!" Ucapnya dengan nada mulai tinggi.
"Aku tidak melakukannya"
"Ya kamu melakukannya!"
"Tidak appa aku tid-"
PLAK!
Pipi jungkook memerah akibat tamparan sang ayah. Jungkook terkejut dengan pukulan tiba-tiba tersebut. Matanya mulai memanas bersiap menjatuhkan butir-butir kristal bening.
"Aku tidak melakukannya appa!" Ucap jungkook sedikit berteriak.
"Jangan membantah! Kaulah yang melakukannya! Ini semua gara-gara kau!" Ucap appa jungkook dengan menarik kerah baju yang digunakan jungkook ke atas. Plastik berisi nasi yang dibawa jungkook jatuh ke lantai.
"Mengapa kau terlahir? Semua membencimu! Kau harus tau itu!"
BUGH!
Jungkook terjatuh ke lantai akibat pukulan sang ayah ke pipinya.
"A..aku tidak melakukannya"
Semakin jungkook berbicara semakin appanya banyak memukul hingga hidung dan sudut bibir jungkook mengeluarkan darah. Jungkook tersenyum tipis dengan air mata yang sudah banyak jatuh.
"Ya.. mungkin aku yang melakukannya"
Sekali lagi pukulan mengenai muka jungkook yang sudah lemah tak berdaya.
"Pergilah, aku muak melihat mukamu!"
Jungkookpun menangis dalam diam dan masuk ke kamarnya. Nasi yang dibelinya mungkin sudah hancur tertimpa tubuhnya yang terjatuh akibat pukulan sang ayah tadi. Jungkook tetap menangis membiarkan darah mengalir pada hidung dan sudut bibirnya. Ia merasa kecewa memiliki ayah yang hanya mementingkan perasaan sedih dirinya sendiri. Ia juga membutuhkan kasih sayang bukan perlakuan kasar seperti ini. Setelah puas menangis, jungkookpun dengan jalan gontai menuju kamar mandi yang berada didalam kamarnya dan segera membersihkan darah-darah tadi. Ia juga mengompresnya dengan lap yang sudah diberi air. Perut jungkook tetap berbunyi tetapi tidak dipedulikan oleh pemiliknya. Ini pertama kalinya ia tidak makan dalam sehari. Tubuhnya terasa 2x lebih lemah dari sebelumnya apalagi dipukul seperti ini. Setelah selesai mengompres, jungkook langsung tidur.
Keesokan harinya, jungkook datang ke sekolah lebih awal menggunakan masker untuk menutupi bagian wajahnya yang membiru. Memakai masker sudah menjadi salah satu kebiasaan jungkook untuk menutupi sebagian wajahnya. Banyak yang akan mengira jungkook sakit tetapi enggan bertanya karena sifat jungkook yang dingin. Baru jungkook ingin menidurkan dirinya, sebuah jari mengetuk-ngetuk kepalanya. Jungkookpun mengangkat wajahnya dan yang ia lihat adalah taehyung.
"Apa?" Tanya jungkook dingin.
"Apa kau sakit jungkook?"
"Tidak"
"Lalu, mengapa kau memakai masker?"
"Bukan urusanmu"
Taehyunpun mendongakan dagu jungkook dan menurunkan masker tersebut dengan sekali tarikan cepat. Jungkook yang tidak sempat menahannya pun terkejut dengan gerakan cepat tadi. Sekarang terlihatlah sudah muka jungkook yang membiru dibagian bibir,pipi, dan juga hidung. Jungkook buru-buru menutup mukanya dengan masker lagi agar tidak dilihat yang lain.
"Yak aku bilang ini bukan urusanmu!" Nada jungkook meninggi.
"Omo! Siapa yang melakukannya padamu jungkook? Wajahmu membengkak"
"Bukan urusanmu"
"Mengapa wajahmu membengkak?"
"Bukan urusanmu"
"Apakah itu sakit?"
"CK BERKALI-KALI AKU KATAKAN INI BUKAN URUSANMU!" ucap jungkook dengan nada yang keras dan tinggi.
Anak kelas yang sudah hadir dikelas terkejut begitu juga dengan taehyung.
"Jagalah diri dengan baik" ucap taehyung dengan senyuman yang masih setia berdiam di dalam mulutnya.
Jungkook tak percaya, lelaki didepannya ini baru dibentak tetapi tetap peduli dengan dirinya.
"Wajah manismu jadi terhalang aiss"
Jungkook tersenyum tipis didalam maskernya. Sedingin-dinginnya sikap jungkook, ia masih tetap memiliki hati.
Pelajaranpun dimulai dengan rasa bosan.
Sesekali perut jungkook berbunyi karena menahan lapar dari kemaren. Taehyung sesekali melihat jungkook karena mendengar suara aneh.
"Apa itu bunyi dari perutmu?"
Jungkook hanya mengangguk.
"Apa kau tidak makan kemaren?"
"Tidak"
"Astaga jungkook kesehatanmu bisa menurun, nanti ayo makan bersama"
"Tidak"
"Oh ayolahh sekali saja"
"Tidak"
"Bagaimana pulang sekolah?"
"Tidak"
"Mengapa begitu?"
"Aku sibuk"
"Huh baiklahh" ucap taehyung menyerah dan melanjutkan mendengarkan penjelasan songsaengnim.
Bel istirahatpun berbunyi.
"Ayo kita makan" ajak taehyung ceria.
"Tidak"
Taehyung mengerucutkan bibirnya dan pergi ke kantin bersama jimin.
Diperjalanan ke kantin, taehyung menanyakan jimin beberapa pertanyaan tentang jungkook.
"Apa dia memang dingin seperti itu?"
"Siapa?" Tanya jimin bingung.
"Jungkook"
"Tidak" ucap jimin pelan.
"Lalu? Aku penasaran"
"Dulunya ia anak yang sangat ceria dan memiliki banyak teman didalam maupun diluar kelas, aku adalah teman duduknya"
"Lalu? Mengapa ia bisa duduk sendiri dan menjadi sedingin itu?"
"Dia sepertinya menjadi depresi akibat suatu masalah ntah masalah apa itu, dan berubah menjadi dingin. Ia juga pindah tempat duduk hingga yang duduk disebelahku bukan lagi dia. Aku mengerti maksudnya" ucap jimin tersenyum.
"Kalau begitu, hidupnya sangat kacau"
"Btw mengapa kau sangat tertarik dengan ceritanya jungkook?"
"Ntah, jujur saja aku mulai terpesona dengannya, wajahnya sangat manis"
"Hahahaha apa kau akan kuat diberi sikap dingin olehnya tiap hari?" Tawa jimin meledak mendengar ucapan taehyung.
"Aku serius, dia seperti kesepian"
"Dia suka sendiri taehyung"
"Tidak, aku melihat matanya. Matanya seolah mendeskripsikan semuanya. Ia terlihat kesepian" ucap taehyung yang membuat jimin menatapnya keren.
"Kau sepertinya memang sedang terpesona olehnya taehyung, kalau kau bisa merubahnya menjadi seperti dulu, aku yakin kau orang yang cocok untuknya" ucap jimin menepuk bahu taehyung dan memberikan cengirannya begitu juga dengan taehyung yang ikut tersenyum senang mendengarnya.
"Doakan saja aku"
Merekapun lanjut dengan acara makannya sebelum jam istirahat berakhir sebentar lagi.
Selesai makan, mereka kembali ke kelas. Taehyung membawa beberapa makanan untuk memberikannya ke jungkook.
Sesampai dikelas taehyung dengan semangat menggoyangkan tubuh jungkook yang sedang tertidur.
"Jungkook bangunlah aku membawakanmu sesuatu!"
Tak lama kemudian jungkook bangun.
"Apa?" Tanyanya tak suka karena telah menganggu acara tidurnya.
"Ini makanlah" memberikan beberapa makanan tadi.
"Tidak butuh"
"Kau tidak butuh tetapi perutmu butuh"
Taehyung membuka salah satu makanan dan ingin menyuapi jungkook.
"Aku bisa sendiri" jungkook langsung mengambil makanan tersebut dan memakannya dengan lahap.
Taehyung tersenyum senang melihatnya.
"Lihatkan? Kau itu kelaparan, makan lebih banyak lagi" ucap taehyung.
"Terima kasih" ucap jungkook pelan.
Taehyung tambah senang dan tetap menatap jungkook yang sedang makan.
Jimin menghampiri taehyung dan jungkook. Ia duduk didepan jungkook.
"Hey jungkook, apa kau akan tetap bekerja dengan keadaanmu yang sedang sakit ini?" Tanya jimin yang mengagetkan taehyung.
"Jungkook bekerja?" Tanya taehyung tak percaya karena usia mereka masih 16 tahun dan masih kelas 2 SMA.
"Kau tidak tau? Oh ayolah taehyung, jika kau ingin mengejarnya, kau harus tau semua tentangnya" ucap jimin terkekeh.
Jungkook langsung menatap jimin tak suka sedangkan taehyung ikut terkekeh.
"Jadi kau bekerja dimana?" Tanya taehyung pada jungkook yang sudah menghabiskan makanannya.
"Bukan urusanmu" ucap jungkook.
"Dia bekerja pada sebuah cafe yang lumayan jauh dari sini, tetapi setauku lumayan dekat dengan rumahnya" ucap jimin yang membuat kesal jungkook.
"Ya dan itu cafenya jimin ck berhentilah membuka semua kehidupanku pada manusia yang tak kukenal" ucap jungkook dan membuat jimin terkekeh.
"Ini pertama kalinya ku mendengar kau berbicara banyak jungkook" ucap taehyung yang membuat jimin tertawa.
Jungkook hanya terdiam.
"Kau tak mengenalku? Ayo kita berkenalan ulang" ucap taehyung.
"Tidak"
"Kenapa? Aku ingin kau mengenalku jungkook-ssi" ucap taehyung terkekeh.
"Tidak mau"
"Bagaimana caraku mendekatimu kalau kau saja tidak mengenalku" jimin langsung tertawa terbahak-bahak.
"Y..yak! Pergilah dari sini!" Ucap jungkook menahan malu.
"Aigoo ini tempat dudukku, kau tidak bisa mengusirku" ucap taehyung.
"Bodoh aku mengusir jimin"
"Janganlah bekerja nanti" ucap jimin.
"Dan kau akan memotong gajiku? Tidak akan kubiarkan" ucap jungkook.
"Tidak, aku akan membebaskanmu karena kau sedang sakit"
"Bolehkah aku ikut bekerja di cafe milikmu jimin?" Tanya taehyung.
"Jinjja? Aigoo kau sangat ingin mendekati jungkook eoh?"
"Dia terlalu manis" ucap taehyung.
"Pergilah jimin!" Ucap jungkook malu.
"Huehhh jungkook mulai marah, okay taehyung kalau kau mau bekerja, silahkan itu tak masalah bagiku" ucap jimin tersenyum bersemangat lalu balik ke tempat duduknya.
"Janganlah bekerja hari ini"
"Bukan urusanmu"
"Ini akan segera menjadi urusanku disaat aku berhasil mendekatimu" ucap taehyung yang berhasil membuat pipi jungkook merona tetapi tertutup oleh masker yang ia gunakan.
"Aku akan mengantarmu pulang"
"Tidak"
"Sekali saja"
"Awas besok lagi" ucap jungkook membuat taehyung terkekeh.
"Tentu saja besok lagi, aku kan berkata sekali saja. Itu maksudku sekali sehari"
"Gunakan bahasa dengan benar"
"Kauu saja yang tidak mengartikannya lebih rinci jungkook" ucap taehyung.
"Kau yang salah"
"Itu tidak bisa" ucap taehyung terkekeh.
Pembicaraan mereka pun harus terpotong akibat bel masuk berbunyi.
Taehyung senang karena jungkook sedikit demi sedikit mulai tidak terlalu dingin padanya. Padahal ini hari kedua ia bertemu dengan jungkook. Setelah menempuh waktu yang sangat membosankan, akhirnya jungkook bernafas lega mendengar bel pulang berbunyi. Ia langsung merapikan barang-barangnya dan berdiri ingin meninggalkan kelas, tetapi tangannya ditahan oleh taehyung.
"Ayo pulang bersama" ucap taehyung.
"Tidak"
Taehyung menariknya ke luar dan menuju ke tempat parkir mobil.
"Kau membawa mobil?"
"Iyaa" ucap taehyungg dan berhenti didepan mobil yang mewah. Seketika jungkook menyadari bahwa taehyung adalah seorang anak kaya.
Taehyungpun membukakan pintu mobilnya membiarkan jungkook masuk lalu taehyung ikut masuk dan segera menancapkan gas keluar sekolah.
"Jadi, dimana rumahmu?"
"Di jalan *tit*"
"Dekat dengan rumahku"
Jungkook hanya diam.
"Mengapa mukamu melebam seperti itu? Lepaslah masker itu, aku juga sudah tau mukamu lebam" ucap taehyung.
Jungkook pun membukanya. Wajahnya terlihat buruk, warna biru kini menjadi warna ungu. Tentu saja rasanya sangatlah sakit.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku"
"Itu tidak penting"
"Itu penting bagiku"
"Masalah pribadi"
"Apa kau sering dipukul oleh temanmu?"
"Tidak"
"Saudaramu?"
"Tidak"
"Ayahmu?"
"Ini bukan urusanmu"
"Mengapa ayahmu memukulmu?"
"Kim taehyung bisakah kau menurunkanku disini? Aku ingin jalan"
"Ini pertama kalinya aku mendengarmu menyebut namaku" ucap taehyung senang, jungkook hanya terdiam.
"Bolehkah aku memanggilmu kook?"
"Jungkook imnida" ucapnya dingin.
"Kook lebih baik atau mungkin kookie"
"Tidak"
"Itu cocok untukmu kookie"
"Tidak untuk seorang yang dingin sepertiku, nama itu tidak cocok"
"Kau tidak dingin, kau kesepian"
"Kau tidak tau apa-apa"
"Ya aku tau. Setiap kau menatapku, aku tau semuanya"
Jungkook terdiam.
"Dimanaa cafenya jimin?"
"Disebelah kiriku"
Taehyung langsung menoleh dengan cepat ke kiri. Ia memberhentikan mobilnya disamping jalan kiri.
"Mengapa berhenti?"
"Ayo kita makan dulu perutku sudah bunyi" ucap taehyung.
"Jam istirahat bukannya kau sudah makan?" Tanya jungkook heran.
"Aku ingin makan bersamamu"
Jungkook mengalihkan pandangannya karena malu menatap taehyung.
Taehyung membuka pintu dan juga membukakan pintu untuk jungkook yang sudah memakai masker. Merekapun langsung masuk dan disambut baik.
"Mau pesan apa?" Tanya pelayannya ramah setelah mereka berdua duduk disalah satu kursi pengunjung.
"Kau mau memesan apa?" Tanya taehyung pada jungkook yang hanya menatap menu tersebut sekilas.
"Terserah"
"Jungkook?"
Taehyung dan jungkook menoleh ke arah pelayan tadi yang menyadari bahwa orang yang memakai masker ini adalah jungkook. Teman bekerjanya.
"Ne hyung" ucap jungkook.
"Aigoo mengapa kau tidak bekerja hari ini?" Tanyanya dengan ramah.
"Aku sakit, aku sudah meminta izin pada jimin dan dia memberiku izin"
"Baiklah cepat sembuh"
Taehyung tersenyum pada pelayan tadi.
"Ahh mianhae, jhope imnida" ucap pelayan tadi dan tersenyum pada taehyung.
"Kim taehyung imnida"
"Apa kau pacarnya jungkook? Aigoo ini pertama kalinya aku melihat jungkook bersama orang lain selain karyawan disini dan juga jimin" ucap jhope.
"Iyaa dia pacarku" ucap taehyung.
Jungkook membesarkan matanya kaget.
Taehyung terkekeh melihat reaksi jungkook yang terbilang imut itu.
"Tidak dia bukan pacarku"
"Ahahaha maafkan aku" ucap taehyung.
"Sepertinya sebentar lagi akan berpacaran" ucap jhope tertawa kecil.
"Bawakan makanku hyung" ucap jungkook yang sebenarnya ingin jhope pergi agar tidak diganggu lagi.
"Ahh ne aku lupa mianhae ditunggu sebentar" ucap jhope lalu pergi.
"Besok aku akan bekerja disini" ucap taehyung lega.
"Kenapa kau bekerja disini?"
"Ingin bersamamu" lagi lagi jungkook mengalihkan pandangannya malu.
Tak lama kemudian makananpun datang.
"Selamat makan" ucap jhope yang mengantarkan makanannya.
Taehyung tersenyum. Merekapun menghabiskan makanan tanpa bersuara. Setelah habis, taehyung langsung membayarnya dan mengajak jungkook untuk kembali ke mobil.
"Apa kau sudah ingin pulang?" Tanya taehyung sebelum menancapkan gas.
"Dari tadi " ucap jungkook.
Taehyung hanya terkekeh melihatnya. Jungkook mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kartu kecil.
"Isilah ini jika kau mau benar-benar bekerja" ucap jungkook.
"Kau dapat darimana?" Tanya taehyung.
"Aku tadi mengambilnya ketika kau pergi membayar" ucap jungkook.
"Baiklah, untuk apa ini?"
"Kau harus membawanya untuk mendapatkan baju seragam setiap harinya" ucap jungkook menjelaskan.
"Arraseo, boleh ku lihat milikmu?"
Jungkookpun mengeluarkan kartunya dan memberikannya kepada taehyung.
"Hanya menuliskan nama saja?"
"Iya, hal yang lain akan dituliskan oleh manager dan ditanda-tangani oleh jimin langsung" ucap jungkook.
Taehyung hanya mengangguk-ngangguk dan segera menancapkan gas ke rumah jungkook. Sesampainya dirumah jungkook, taehyung memperhatikan rumahnya. Rumahnya lumayan besar tetapi dengan gaya yang sederhana dan terlihat sangat rapi dari luar.
"Terima kasih" ucap jungkook.
"Apa kau senang?" Tanya taehyung.
"Untuk apa kau menanyakan hal itu?"
"Aku hanya ingin tau"
"Biasa saja" ucap jungkook.
"Ahh baiklah" ucap taehyung kecewa.
"Tentu saja aku senang, ini pertama kalinya aku tidak jalan kaki semenjak dua bulan yang lalu" ucap jungkook.
"Kau pasti lelah bolak balik ke sekolah dengan berjalan kaki, kau mau kuantar tiap hari? Lagi pula rumahku satu jalur"
"Tidak"
"Mengapa kau berubah menjadi orang yang dingin? Jimin berkata bahwa kau dulunya orang yang sangat periang"
"Bukan urusanmu"
"Sepertinya aku menyukaimu jungkook" jungkook terdiam malu.
TBC!
yeay part 2 published!
makasi yang udah ngeriview maupun send email ke aku^^
part 3nya nyusul yaa, see ya~
