Mira Ga Ware

.

Disclamers: Masashi Kishimoto

Story By: White Fox

Main Pairing: karinSakuSasu

Genre: Horor, Supranatural, Romance(sedikit)

Warning: AU, Ide Pasaran, Typo, Multichap, Dan Banyak Cacat Lainnya.

Silahkan ketik back untuk kembali karena aku tidak memaksa para readers untuk membaca fictku ini karena fict ini mungkin melenceng dari kata sempurna

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 2

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam weker yang bertengger manis di lemari kecilnya.

"Kukira aku akan telat lagi."

Sakura tersenyum manis mengawali pagi harinya. Ia menyibak gorden yang menutupi jendela kamar. Ia bisa melihat para manusia di bawah sana tengah mondar mandir dengan riang. Sakura menghirup dalam-dalam bau embun khas pagi hari.

"Hahh, segarnya!"

Tiba-tiba Sakura merasakan gatal di sekitar rahang kirinya. Ia menggaruk pelan di daerah itu. Namun, rasa perih dan terbakar yang ia rasakan, setelah menggaruk rahangnya. penasaran, Sakura berjalan kearah meja rias, ia melihat wajahnya. Masih mulus seperti biasanya.

"Aneh, kenapa wajahku gatal? Apa alergiku kambuh, yah?"

Sakura mulai bingung. Bagaimana bisa, ia terbangun di pagi hari dan ia merasakan gatal di rahangnya? Sebuah tanda tanya muncul di kepalanya. Saat dirinya tengah melamun di depan cermin. Terdengar pintu kamar berderit pelan, lalu muncul Nenek chiyo berjalan masuk ke kamarnya.

"Ohayou , Nona."

Sakura terhenyak. Ia melihat Nenek chiyo tengah tersenyum manis menatapnya.

"Ohayou mo, Nenek Chiyo." Ia pun membalas dengan tersenyum manis pula.

"Jangan terlalu lama bercermin. Sekarang Nona mau sarapan apa? Nenek akan buatkan."

Sakura tampak berpikir sebentar, "Entah kenapa, aku ingin sesuatu yang hangat. Seperti sup mungkin."

"Akan siap dalam waktu dalam waktu 20 menit. Sementara itu, Nona mandi dulu."

Sakura menganggukan surai pink-nya. Nenek Chiyo menutup pintu, menyisakan ruang yang kembali sunyi. Tanpa ada yang tahu, sesuatu yang buruk telah menimpa dirinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura berjalan santai menuju gerbang yang tinggi menjulang di hadapannya. Tak lupa, ia menyapa penjaga gerbang di gedung universitasnya. Terlihat banyak sekali remaja seusianya berlalu lalang di hadapannya. Sakura tampil dengan setelan baju berwarna putih polos, dan jelana jeans panjang berwarna biru muda, juga tas selempang berwarna sesuai dengan warna bajunya. Rambut panjang sepunggungnya, ia geraikan. Menambah kecantikan seorang Haruno yang memang terlahir rupawan dari kelas atas.

Tak lama Sakura sampai di mading. Iris hijau korofil miliknya menatap sebuah kertas putih yang menempel di mading. Setelah mengetahui ia berada di ruang lantai berapa. Tanpa butuh waktu lama. Sakura berjalan ke lantai paling atas. Setelah sampai di lantai atas. Sakura segera masuk ke dalam ruang kelasnya berada.

Pemandangan pertama yang ia lihat adalah, ruang kelas dengan suara bising tingkat tinggi. Banyak dari mereka bercanda, dan ada pula yang bergosip ria. Sakura melangkahkan kakinya kembali menuju bangku kosong di pojok ruangan. Namun, saat ia ingin menjatuhkan bokongnya. Seorang gadis berwajah cantik memegang pundaknya.

"Ano, Gomenasai. Kamu mau duduk disitu?"

"Iyah, memangnya kursi ini sudah ada yang nempatin?"

Gadis itu mengangguk pelan. Kemudian berkata, "kursi itu memang kosong. Tapi ada baiknya kamu duduk di tempat lain saja. Jangan di kursi itu." Jegah gadis itu.

Sakura menaikan satu alisnya.

"Ada apa dengan kursi ini?" Ia penasaran. Memangnya ada apa dengan kursi itu?

Ketika gadis itu ingin membuka mulutnya. Namun, suara berat dari seseorang memotong pembicaraannya. Pria bersurai raven, telah berdiri di samping gadis berwajah ayu itu.

"Jika dia bilang, jangan duduk disitu. Kenapa kau tidak melakukannya? Masih banyak yang kursi kosong di sekitarmu."

Seketika suasana di kelas mendadak sunyi. Seluruh pasang mata tengah tertuju pada gadis secantik bunga musim semi itu. Sakura yang merasa terintimidasi, langsung melotot kearah pria yang kini menatapnya dengan tatapan dingin.

"Ck, kau ini." Dengan perasaan emosi yang sudah di ubun-ubun. Sakura menjatuhkan tas selempangnya ke kursi di depan gadis bersurai indigo. Lalu keluar kelas tanpa bersuara. Ia benar-benar badmood sekarang.

Onyx dan tiara terus menatap kepergian Sakura hingga hilang di balik pintu.

"Onii-chan, a-aku merasakan ada hal aneh yang menyelimuti aura gadis tadi. Apa kamu merasakannya juga?" Ucapnya lembut, cukup terdengar oleh kakak laki-lakinya.

Iris tiara kini menatap pria yang kini duduk di samping kirinya. Pria itu mengangguk sekilas, menatap wajah adiknya yang menyiratkan kekhawatiran.

"Hn, mungkin."

'Mungkin untuk sekarang, aku harus diam.' Batinya berucap.

Terlihat beberapa pria mendekati kakak beradik, yang tengah sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.

"Kalian ini kenapa? Haruno ingin duduk di kursi itu. kenapa kalian malah berbicara seperti itu padanya?" Pemuda berambut seperti nanas yang berbicara.

"Whoaa, ternyata Shikamaru bisa bicara panjang juga, yah!" Kali ini Naruto ikut bersuara.

"Mendokusei."

"Entah kenapa ucapan shikamaru ada benarnya juga." Sai pun angkat suara. Karena perihal kedua sepupunya yang tampak aneh, jika berurusan dengan wanita konglomerat itu.

Iris Sasuke menatap mereka bertiga dengan pandangan datar. Namun, ada sebersit khawatir yang tersebunyi dalam onyx indah itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura berjalan dengan menghentakkan kedua kakinya. Beberapa pasang mata melihat sakura dengan pandangan aneh dan bingung. Namun, ia hiraukan. Setelah turun dari tangga ke empat, Sakura berjalan cepat di lorong yang terbilang sepi. Iris hijaunya menangkap seorang gadis berpakaian sekolah menengah, tengah berjalan tak jauh di depannya. Namun, ada yang aneh dengan gadis itu. Motif seragamnya berbeda dengan motif seragam anak SMA pada umumnya. setahunya, ia tidak pernah melihat sekolah yang berseragam seperti itu. Dan seragam gadis itu terlihat kumuh juga sedikit kotor.

Alis Sakura terangkat satu. Ia ingat sekarang, gadis itu. Gadis yang tinggal seatap dengannya. Memiliki rambut pink berombak, serta kulit yang putih pucat. Tidak salah lagi. Wanita itulah yang tinggal di mansion milik keluarganya.

Sebuah tanda tanya besar hinggap di kepalanya. Untuk apa dia disini? berjalan sendirian di koridor, lagipula ini kan universitas, bukan sekolah menengah. Terlihat gadis itu terus berjalan, dengan langkah pelan. dan tanpa suara. Sakura merasakan nuansa horor tiba-tiba menyelingkupi koridor. Sepi, tidak ada seorang pun kecualinya, dan gadis misterius tersebut. ia benar-benar tidak tahan dengan suasana seperti ini.

Ia harus ke ruang kantor dosen, meminta kepala yayasan agar membantunya untuk pindah kelas dari kelasnya. Melihat wajah Sasuke membuatnya benar-benar muak. Sakura tidak bisa membayangkan, bagaimana nasibnya untuk hari-harinya kedepan, selama ia menuntut ilmu di universitas yang terkenal ini. Sakura merasa waktunya terkuras habis. Berlari di pagi hari tidak ada salahnya, kan? Sakura kemudian mempercepat langkahnya, berlari melewati gadis itu. Tanpa menoleh untuk sekedar melihat wajahnya. Tapi, ia sangat yakin, saat melewati gadis itu, udara dingin menyergapnya. Sangat ganjil disaat udara sejuk di pagi hari ini. Namun, ia tidak menggubrisnya. Sakura terus berlari. Hingga ia akhirnya berbelok, meninggalkan koridor yang sepi, tanpa ada satu pun seseorang yang menapakan kaki di koridor itu.

.

Sakura membuka pintu ruangan, ia melihat wanita yang terlihat muda sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menatapnya. Sakura menghampiri wanita bersurai kuning itu. lalu duduk di kursi tepat di depannya.

Terlihat manik Tsunade mengecil, melihat Sakura yang kini tengah duduk di hadapannya.

'Haruno? Bagaimana mungkin, kenapa wajahnya begitu mirip', Stunade membatin.

"Bu Rektor?"

Tsunade tersentak, ia kembali ke alam sadarnya, "Ada apa Haruno? Ada yang bisa saya bantu?" Ucap Tsunade seramah mungkin.

"Mohon maaf atas kelancanganku, menganggu anda di saat kerja seperti ini. Tapi, ada hal yang harus kukatakan pada anda, Bu Rektor."

"Iyah, silahkan. Ada hal apa?"

Sakura menatap serius wajah Tsunade, "Begini, aku kurang nyaman dengan kelasku. Jadi, bisakah anda memindahkanku ke kelas lain?"

Tsunade tampak berpikir sejenak, "Memangnya, ada masalah apa dengan kelas itu?"

"Aku hanya merasa tidak nyaman dengan kelas itu. Aku berpikir, mungkin dengan di pindahkannya aku ke kelas lain, aku rasa itu ide yang bagus."

"Sebentar, kau haruno sakura?"

"Iyah, Bu Rektor."

"Untuk sementara permintaanmu akan ku pertimbangkan. Sekarang, masuk 'lah ke kelasmu dulu sekarang. Jika, nanti di kelas lain kekurangan pelajar. Nanti kamu akan ku panggil."

Senyum tipis terbit di bibir indahnya, "Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu." Sakura berjalan keluar ruangan. Ia menutup pintu, lalu berjalan menjauhi ruangan itu. Sakura tidak menyadari, ia meninggalkan seseorang yang tengah memandangnya. Berdiri melayang tak jauh dari pintu itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura melihat arlojinya kembali. Ia benar-benar telat untuk jam pulang. Lihat 'lah, seisi sekolah telah kosong. Kecuali dirinya, yang berjalan cepat di lorong sekolah. Warna jingga telah terbias di cakrawala. Burung-burung malam pun telah keluar, mencicit disekitar pepohonan yang rindang. Lampu berwarna putih satu persatu telah menyala. Menandakan bahwa sekarang hari berganti malam.

Di tengah perjalanan, tampak wanita bersurai kuning tengah berdiri beberapa meter dari hadapannya.

"Bu Rektor, mengapa masih disini? apakah masih ada disini."

Wanita bertubuh sintal itu menatap Sakura.

Sakura merasakan pandangan wanita di hadapannya sangat kosong. Wajahnya pun begitu pucat.

"Kau tidak akan di pindahkan, kau masuk kelas malam, kan? Kalau begitu kelasmu masih di kelas lama."

Sebelum Sakura protes, wanita itu berjalan melewati Sakura tanpa bersuara. Sakura merasakan keanehan yang terjadi.

"Tapi, Bu Rektor.." Sakura mengarahkan kepalanya ke belakang.

Kosong.

Tidak ada siapa pun di belakangnya.

Sakura bungkam seketika. Lidahnya mendadak terasa keluh. Ia sangat yakin kalau tadi itu adalah Tsunade, pemilik dari universitas disini. Tapi, kenapa perginya cepat sekali.

Sakura tersentak kaget, saat sebuah tangan menepuk pundaknya pelan. ia melihat satpam sekolah telah berdiri di sampingnya.

"Nona, kenapa kamu masih disini. sekarang sudah waktunya kelas siang untuk pulang."

"Aku tadi telat mengerjakan tugas, Pak. Jadi, aku masih disini." Sakura tersenyum tipis.

Kepala satpam itu mengangguk singkat.

"Kalau begitu, permisi Pak."

Sakura berjalan meninggalkan satpam yang masih melihat kepergian dirinya. Satpam itu melanjutkan langkahnya. Ia memencet ponselnya. Dan terlihat sebuah pesan tertera di layar ponsel.

"Aneh sekali, kenapa Tsunade-sama mendadak sakit tadi siang. Padahal pagi tadi, dia terlihat baik-baik saja." Gumam satpam tersebut. Hanya suara gemerisik dedaunan yang membalas gumaman, dari pria yang sedang berjalan di koridor sepi itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di kamar dengan nuansa soft pink, terlihat gadis bersurai sama keluar dari kamar mandi. Ia berbalut handuk yang menutupi tubuh indahnya, rambut panjangnya masih meneteskan air. Sakura mengambil handuk kecil, ia menggosok rambut panjangnya dengan handuk itu. setelah selesai dengan rambutnya, Sakura membuka lemari besarnya. Ia mengambil setelan piyama cantik berwarna blue sappire. Ia tersenyum puas saat piyama itu telah membalut tubuhnya. Ia berpikir untuk bercermin, ia ingin melihat penampilannya malam ini. Namun, nasehat Nenek Chiyo menghentikan niatnya.

Perasaan heran menyelimutinya. Kenapa Nenek Chiyo melarangnya untuk bercermin pada malam hari? Peraturan aneh darimana itu. Bahkan, ibunya dulu tidak melarangnya untuk bercermin saat malam. Kenapa di rumah ini tidak boleh bercermin saat waktu malam?

"Aneh sekali."

Mendadak rasa gatal terasa di rahang kirinya. Sakura menggaruk daerah itu lagi.

"Kenapa perih sekali."

Karena penasaran dengan wajahnya. Sakura menghampiri kaca besar yang tertutup kain hitam. ia membuka kain itu. Bayangan dirinya terpampang jelas di cermin besar itu. Sakura melihat wajahnya. Goresan halus itu kini sedikit memanjang.

"Sejak kapan luka ini ada di wajahku?"

Sakura terus melihat wajahnya di cermin. Tiba-tiba, lampu di kamarnya padam. Sakura hampir teriak karena terkejut, kamar yang terang benderang. Kini, menjadi gelap gulita. Tak ada apa pun yang terlihat di kedua bola matanya.

Rasa takut akan kegelapan mulai menghantuinya. Dengan perasaan was-was, ia meraba sekitarnya. Berharap menemukan laci, tempat ia menaruh senternya. Tangan lentik Sakura meraba yang ia yakini adalah meja kecil. Ia mencari sebuah senter di dalam laci.

Sakura bernafas lega, ia menemukan senter miliknya, lalu menyalakan senter itu. Sakura mengarahkan cahaya dari senter itu ke arah sekitarnya. Hanya cahaya itu satu-satunya penerangan yang dia punya.

Entah kenapa sakura merasa tenggorokannya kering, dan ingin meminum segelas air putih di dapur. Tanpa buang waktu, ia berjalan keluar dari kamarnya. Ia terus mengarahkan cahaya sentenya ke depan jalannya. Sesampainya di dapur. Sakura mengambil gelas bening, dan menuangkan air ke dalam gelas itu.

Rasa segar ia dapatkan saat air itu mengalir di tenggorokannya, menghilangkan rasa dahaga yang menyerangnya beberapa menit yang lalu. Ia menaruh gelas bening itu di meja. Sakura berniat kembali ke kamarnya dan bersiap untuk tidur.

Kret.

Salah satu bangku di meja makan terlihat bergerak sedikit. Menciptakan bunyi yang cukup terdengar dalam suasana sunyi di dapur itu. Sakura terus melihat bangku itu. Sekarang, bangku itu tidak bergerak lagi seperti beberapa detik yang lalu. Sakura tidak tahu. Jika, ada dua tangan berkuku tajam muncul di balik kegelapan di belakangnya.

"Kyaaa!"

Teriakan Sakura diirngi senter yang terbanting ke lantai. Kini, tidak ada lagi cahaya yang menerangi dapur yang kembali gelap gulita.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah gorden. Sakura mengenyirtkan kedua kelopak matanya. Ia merasakan tubuhnya terasa dingin. Membuka kedua kelopak matanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah langit-langit dapurnya. Sadar kalau dia ada di dapur, Sakura bangun lalu melihat sekelilingnya. Dugaannya benar, benar ia ada di dapur.

Sakura berusaha mengingat kembali apa yang membuatnya tadi malam tertidur di dapur. Dan ia mengingatnya. Ia ke dapur untuk sekedar minum, dan tiba-tiba ada yang menarik tubuhnya keras sekali ke lantai. padahal tadi malam hanya ada dirinya sendiri di dapur. Sakura merasa sejak tinggal di mansion ini, ia merasa kejadian-kejadian aneh menimpa dirinya.

Sakura menerawang kembali saat dirinya pertama kali ke mansion ini, pertama adalah pintu di dobrak, lalu mimpi yang aneh, dan sekarang tubuhnya terasa di tarik ke lantai. Anehnya, kepalanya tidak berdarah. Ia sangat ingat kepalanya membentur lantai, hingga semuanya gelap.

Sakura termenung, pikirannya melayang tentang beberapa hari yang lalu. Tanpa sengaja tangan kirinya menyenggol sesuatu. Sakura melihat ke arah tangannya. Ia melihat sebuah cermin di lantai. Cermin berbentuk love dengan hiasan bunga-bunga sangat indah di pandang, membuat Sakura kagum. Tapi, ada beberapa pecahan kaca yang hilang.

"Indah sekali, tapi kenapa kacanya pecah."

Sakura membalik kaca itu, warna gold melapisi seluruh permukaan kaca. Indah dan berkilau. Tetapi, ada satu yang membuatnya mengernyitkan alisnya. Di belakang kaca itu. terdapat ukiran membentuk sebuah nama.

"Haruno –ka? Siapa itu Ka?"

Sakura mengelus nama itu, namun apa daya. Goresan itu tetap tidak bisa hilang hanya karena dielus. Goresan itu menutupi separuh ukiran nama seseorang pemilik dari kaca cantik itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Nona, anda mau pergi kemana?"

Sakura menolehkan kepalanya kearah pintu, dimana seorang wanita setengah abad tengah berdiri pintu sambil berteriak.

"Aku mau bersepeda Nenek, memangnya aku tidak boleh bersepeda juga?"

"Tapi Nona harus makan terlebih dulu."

Surai yang diikat ponytail itu tampak bergoyang ke kanan dan kiri.

"Nanti setelah aku selesai dengan olahragaku, Nenek tenang saja, yah!"

Sakura tersenyum lembut, ia berusaha meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja. Ia bisa melihat Nenek Chiyo menghembuskan nafas pasrah.

"Baiklah, aku pergi, Nenek chiyo."

"Jangan pulang terlalu siang, nona."

Sakura melambaikan tangan lentiknya. Kedua kakinya terus mengayuh sepeda berwarna pink miliknya. ia ingin suasana hatinya membaik. Maka dari itu, bersepeda di pagi hari adalah ide yang bagus. Lagipula ini hari minggu, jadi ia bisa sedikit lebih santai.

Ia terus mengayuh sepedanya, ketika Sakura ingin melewati belokan. Sebuah mobil muncul dari arah berlawanan, dan menabrak sepedannya. Tubuhnya menghantam mobil, lalu berakhir jatuh terjembab ke tanah, dengan sepeda yang menghimpit tubuhnya.

"Aduh, ittei."

Sakura meringis saat lutut dan tangan kirinya telah mencium tanah, membuat luka yang menganga di kulit mulusnya.

"Maaf Nona, aku tidak sengaja Menabrakmu."

Pria dengan dua kerutan menghiasi pipi tegasnya membantu Sakura untuk berdiri.

"Arigatou, ssh-"

Onyx hitam itu melihat lutut dan tangan kiri Sakura yang berdarah.

"Nona, lutut dan tanganmu berdarah, ijinkan aku untuk mengobati lukamu."

Sakura melihat pria yang membantunya berdiri. Wajahnya seperti kukenal. Tapi, Sasuke tidak se-tua ini. Pikirnya.

Sakura terus menatap wajah pria itu, hingga deheman dari pria tersebut membuatnya sadar. Ia ketahuan telah menatap pria yang sepantasnya menjadi pamannya.

"Ano, Tuan. Apakah anda Onii-Chan, Chi-maksudku, Sasuke?", 'gawat, hampir saja keceplosan.' Lanjutnya dalam hati.

Bibir tegas itu tertarik keatas. "Iyah, benar. Aku kakaknya. Apa kau pacarnya, Sasuke? Wah, beruntung sekali bocah itu." ucap pria itu.

Terlihat sakura menggembungkan kedua pipinya, "apanya yang pacar! Jelas-jelas dia sangat menjengkelkan."

Itachi terlihat mati-matian menahan tawanya, melihat ekspresi yang di tujukan Sakura.

"Ppft, kau lucu sekali. Perkenalkan, aku Uchiha Itachi. Kakak Sasuke dan juga Hinata."

"Haruno Sakura, Tuan."

"Tidak usah memanggilku Tuan, panggil aku Itachi-Niichan saja. Dan aku memanggilmu, Sakura. bagaimana?"

Kepala Sakura mengangguk singkat sebegai respon, "Setuju."

"Baiklah, pertama aku harus mengobati lukamu dulu, Sakura. Naiklah ke mobilku. Aku akan mengurus sepedamu."

Sakura langsung menuruti Itachi, dan masuk ke mobilnya. Itachi pun menyusul masuk ke mobil, setelah ia memasukan sepeda Sakura ke dalam mobilnya. Mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang, menembus jalanan tokyo pagi hari ini.

.

.

.

"Terimakasih, Itachi-Niichan. Telah mengantarku sampai di depan rumahku."

"Tidak masalah, kalau begitu sampai jumpa lagi, Sakura."

Sakura melambaikan tangannya ke udara saat melihat mobil berwarna hitam metalik itu berjalan menjauh. Hingga menghilang dari penglihatannya.

Sebelum jauh, Itachi melihat Sakura melambaikan tangannya. Ia tersenyum manis.

"Haruno, yah. Entah kenapa, marga itu terdengar tidak asing di telingaku."

Ia terus menyetirkan mobilnya menembus jalanan yang masih sepi itu. Namun, pikirannya tidak fokus pada jalanan di depannya. Onyx hitam itu tampak menerawang jauh. Berusaha mencari marga Haruno di otaknya. Tapi, hasilnya nihil. Ia tidak mengingat apapun.

"Kenapa aku begitu gelisah?"

Rasa sakit di ulu hatinya terasa lagi, ia tidak mengerti. Kenapa ia merasakan sakit di dadanya, seperti seseorang yang sedang patah hati. Padahal ia tidak sedang bertengkar dengan pacarnya sekarang. Tapi kenapa. Ia merasakan kehampaan di dalam hatinya. terlebih saat mengingat marga Haruno yang jelas-jelas baru ia kenal marga itu. Kenapa ini, ada apa denganku. Itachi membatin.

Tangan kekar itu memegang dadanya. Ia bisa merasakan debaran jantungnya yang berdetak cepat, dan keras. Seolah ada ingatan yang ia lupakan. Dan hanya jantungnya 'lah yang bisa mengetahuinya. Sementara, pikirannya tidak.

Dengan perasaan tak menentu, ia menginjak pedal gas, menambah kecepatan mobilnya. Ia tidak ingin terlambat untuk hari ini. Atau kekasihnya akan mengomel lagi, perihal keterlambatan dirinya karena memikirkan suatu hal yang ia sendiri tidak tahu.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc.

.

.

.

.

.

.

.

.

Zona bacot author:

Maaf, maaf, maaf desu ne. T-T

Aku telat updet desu . Semoga alurnya tidak membingungkan senpai. Aku membuat ini juga dengan terburu, soalnya tugasku membludak dan aku pun harus membantu orang tuaku. Jadi, aku tidak ada waktu untuk mengetik chapter ke-2. Maaf jika fictnya berantakan. Yang penting, aku updet. Daripada aku membuat kecewa kalian yang udah nunggu fict ini #apaan_sih _

Ok, sekian curcol dariku.

Tanks to

5KendallSwiftie, 3Nurulita as Lita-san, , dewazz, & shelly.

Terima kasih untuk review kalian senpai!

Ok, see you to next chapter!