Tap tap tap
Derap kaki terdengar menggema di sebuah manshion megah nan sunyi itu. Seorang pria dewasa berumur kepala empat terlihat berlari menuju anak tangga manshionnya. Raut wajahnya menunjukan ketakutan. Ia tak perduli dengan kedua kakinya yang kram meminta untuk berhenti, dan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat. Yang ia pedulikan adalah sekarang ia harus menyelamatkan nyawanya.
Tak jauh di belakangnya. Sesosok wanita bersurai pink tengah terbang melayang mengejar pria tua itu.
"Kakek.."
Wanita putih pucat itu terlihat mengembangkan seringai mengerikannya, "Aku kangen, Kakek. Kemarilah."
Pria bersurai putih panjang itu terlihat sedang menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Sekujur tubuhnya telah bersimbah keringat. Namun, ia tidak merasakan hawa panas, justru hanya hawa dingin yang ia rasakan. Hawa dingin yang ganjil.
"Hihihi..."
"Kyaaa.."
Dengan kecepatan kilat, gadis itu terbang menghampirinya. Tangan-tangan pucatnya mendorong tubuh kekar itu, hingga pria itu jatuh lalu terguling di puluhan anak tangga.
Melihat korbannya tengah terkapar tak berdaya di ujung tangga. Gadis itu terbang menghampiri sang pria tua itu. Ia tampilkan seringai seramnya, dengan kedua bola mata tanpa pupil yang terus menerus menatap seram. Seolah ia merasa puas dengan apa yang dilakukannya.
"Kenapa Kakek lari?... Aku 'kan Cuma ingin bermain dengan Kakek... Sejak kecil aku ingin bermain dengan Kakek dan kalian semua... Tapi, kenapa kalian seolah menutup mata jika menyangkut tentangku? ... Memangnya apa salahku?"
Pria tua itu menatap nanar gadis di atasnya. Ia sangat mengenali suara dari gadis ini. Ia sangat ingin mengelus pucuk kepala sang gadis, sambil berkata bahwa apa yang ia ucapkan tidak semuanya benar. Namun, jangankan bergerak. Rahangnya pun terasa seperti di paku rapat hingga ia sulit berbicara.
Memang, Ia tahu jika suatu saat nanti. Sosok dia akan datang kepadanya untuk menjadi malaikat mautnya. Ia sudah mengetahui akan hal ini. Sangat tahu, bahwa gadis yang amat ia sayangi sekarang, kini telah berubah menjadi seorang malaikat pencabut nyawa, untuk semua orang yang terlahir dan menyandang marganya. Dan ia juga sangat tahu, bahwa bukan hanya dirinya yang akan mati setelahnya.
Pria itu meneteskan air matanya. Darah segar berbau amis pekat masih tercium di indra penciumannya. Ia bisa merasakan seluruh tulang rentanya telah hancur lebur di dalam tubuhnya, ia tidak bisa bergerak lagi. Sekarang, yang ia lakukan hanya menunggu apa yang akan terjadi setelah ini.
Perlahan sosok tersebut membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan deretan gigi runcing yang haus akan darah. Sosok rupawan itu kini telah berubah menjadi sosok yang menyeramkan.
"Selamat tinggal, Kakek..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Mira Ga Ware
.
Disclamers: Masashi Kishimoto
Story By: White Fox
Main Pairing: karinSakuSasu
Genre: Horror, Supranatural, Romance(sedikit)
Warning: AU, Ide Pasaran, Typo, Multichap, Dan Banyak Cacat Lainnya.
Silahkan ketik back untuk kembali karena aku tidak memaksa para readers untuk membaca fictku ini karena fict ini mungkin melenceng dari kata sempurna
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura POV
Dimana aku? Kenapa tempat ini begitu asing?
Itulah yang ada di pikiranku saat aku membuka mataku, dan entah sejak kapan aku berada di gedung yang kutahu adalah gedung sekolah.
Aku menolehkan kepalaku kesegalah arah, berharap ada seseorang yang selain aku di lorong yang sepi ini, hanya cahaya remang dari lampu lorong yang menemaniku. Tapi, sekali lagi. Tidak ada seseorang disini selain aku!
Mendadak seluruh bulu kudukku meremang tak jelas ketika semilir lembut berhembus di tengkukku. Astaga, kenapa tempat ini menyeramkan?! Mungkin dengan berteriak akan ada seseorang atau lebih melihat diriku, dan aku bisa tertolong akan hal itu.
Tolong!
Suaraku tidak terdengar. Aku memegang leher jenjangku, bahkan aku bisa merasakan pita suaraku tidak bergetar. Rasa panik mulai menyerangku sekarang.
Di tengah kepanikanku, aku mendengar suara pintu kelas berderit pelan. Sontak aku melihat kearah pintu itu. Tapi, aku tidak melihat ada seseorang yang berdiri di depan pintu.
Walaupun aku ketakutan, ada sebersit rasa penasaran yang hinggap di otakku. Ku langkahkan kedua kakiku menghampiri pintu yang terletak beberapa meter dari tempatku.
Kubuka perlahan pintu itu. Pertama yang kulihat adalah ruangan kelas yang sepi dan sedikit kumuh juga berdebu. Kuedarkan kedua mataku meneliti ruangan yang kutahu ruang kelas itu. Dan pandanganku jatuh pada sosok gadis yang tengah duduk di pojok ruangan dekat jendela.
Gadis itu tengah duduk menghadap dinding, dengan satu tangannya memegang cermin. Sepertinya cermin itu sangat familiar di mataku.
Aku memepertajam kedua mataku menatap cermin berwarna emas dengan berbentuk hati itu. Tak salah lagi. Itu adalah cermin yang kutemukan di dapur kemarin malam. Hanya saja cermin itu terlihat masih utuh. Beda dengan yang kutemukan, sudah pecah dan aku tidak tahu pecahannya berserakan dimana. Atau hilang kemana.
Terlihat gadis itu mengembangkan senyum manisnya. Namun, sayang aku tak bisa melihat wajahnya dengan begitu jelas. Hanya surai kepalanya persis seperti seseorang yang tinggal di kamar yang dikunci itu.
Tunggu dulu. Jangan-jangan..
"Kyaaa.."
Aku membuka mataku, saat kesadaran ku perlahan menghampiriku. Aku berusaha mengingat saat terakhir aku mimpi aneh itu. Tubuhku terhempas karena tarikan paksa dari sebuah tangan yang menarik punggungku begitu kencang. Hingga aku bisa merasakan kuku-kukunya yang begitu tajam mengenai kulik pundakku.
"Kenapa mimpi itu begitu nyata?" Gumamku.
Kulirik jam weker kecil berwarna pink di samping ranjangku, jam itu tengah menujukan pukul dua belas malam. Lagi-lagi aku terbangun di tengah malam buta.
Entah kenapa seluruh tubuhku terasa lengket, dan aku benar-benar tidak nyaman jika tidur dalam keadaan tubuh yang penuh keringat. Mungkin, berendam beberapa menit di kolam dengan air hangat ditambah wangi aromaterapy bisa membuat tubuhku sedikit rilex.
Aku beranjak dari ranjang queen size miliku. Kedua kaki jenjangku melangkah menghampiri pintu kamarku. Kuputar knop pintu, lalu membukanya. Aku berjalan meninggalkan pintu kamarku. Terus berjalan hingga menimbulkan bunyi Tap Tap Tap di lantai marmer mewah ini.
Akhirnya aku sampai juga di lantai bawah. Disini terdapat kolam spa yang khusus untuk berendam dengan air hangat. Aku sangat menyukai kolam ini. Kujatuhkan handuk tebalku, tak lupa dengan gaun tidurku juga. Setelah siap, aku mencemburkan diriku didalam kolam setelah aku mencampurkan wangi aromaterapy sebelum berendam.
Sensasi hangat dan nyaman langsung aku dapatkan, di tengah hawa dingin yang bersumber dari angin musim gugur yang masuk ke ruangan. Namun, ada sensasi perih yang sedikit menusuk kurasakan di punggungku. Tapi, biarlah. Mungkin, karena syaraf ku tegang hingga menimbulkan sensasi perih seperti luka menganga.
Kubasuh perlahan tubuhku dengan air. Dan menggosoknya perlahan. Setelah selesai, aku mendengak di bawah air, lalu memejamkan kedua bola mataku. Sambil terus menyamankan diriku di tengah kolam.
.
Normal POV
Gadis itu masih dalam posisinya, enggan untuk merapatkan diri di pinggiran kolam kecil. Ia masih terus seperti itu. Tanpa tahu jika aura di sekelilingnya mendadak mencengkam.
Terlihat dua buah tangan perlahan menyembul dari air tepat di samping leher jenjang Sakura. Jemari pucat itu dengan cepat mencekik leher jenjang putih mulus itu, lalu menariknya paksa ke dasar kolam.
Sakura tersentak kaget ketika lehernya di tarik kencang ke dalam air. Ia berusaha bernafas. Namun, lehernya terasa seperti di cekik. Bunyi blubuk air terdengar di kolam.
Tangan Sakura memenggang lehernya, mencari sesuatu yang membuat lehernya terasa di cekik. Tapi, tidak ada benda atau tangan yang mencekik lehernya.
Bunyi blubuk makin sering terdengar. Air kolam itu terlihat tak tenang karena riakan yang di timbulkan oleh gerakan tubuh Sakura yang memberontak. Berusaha melepaskan diri dari sesuatu yang tak terlihat yang menariknya ke dasar kolam. Perlahan kedua paru-parunya terasa sesak karena tidak adanya oksigen yang terhirup.
Kumohon, siapa pun tolong aku.
Tok tok tok
Terdengar bunyi pintu jati di ketuk.
Merasa tubuhnya tak di tarik lagi. Merasa ini adalah kesempatannya, tanpa buang waktu Sakura mengepakan tangannya di air, ia berenang ke permukaan dengan sisa tenaganya yang hampir habis.
"Bhuahh, uhuk.. uhuk.."
Segera Sakura berenang ke pinggir kolam. Ia tidak mau mengambil resiko jika ia masih di kolam renang, maka sesuatu yang tak terlihat itu kemungkinan akan menarik tubuhnya lagi. Sakura menarik keluar tubuhnya dari kolam lalu berjalan kearah pintu setelah mengambil handuknya.
Tetesan air yang berasal dari surainya masih menetes membasahi lantai marmer yang mengkilap dibawahnya.
Tangan pucatnya membuka pintu. Tampak seorang wanita yang ia kenali berdiri di hadapanya.
"Ayame-Baachan."
Sakura menghamburkan tubuhnya ke tubuh Ayame. Tak memperdulikan raut bingung bercampur kaget di wajah Ayame, dan juga tubuhnya yang masih basah oleh air. Sakura tak memperdulikan itu semua, karena ia sangat ketakukan sekarang.
"Ada apa dengan-, Astaga, kenapa dengan punggungmu?!"
Ayame melihat luka goresan memanjang di bawah kedua pundak mulus Sakura. Seperti luka cakaran.
Masih terdengar sesegukan yang keluar dari bibir pucatnya, "Saku tidak tahu, Baachan. Banyak hal menakutkan yang terjadi setelah kau pergi. Saku sangat takut, Baachan, Hiks."
Sakura terus memeluk tubuh bibinya. Rasa takut yang kuat masih terus menghantuinya. Apalagi saat pikirannya melayang ke peristiwa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Hampir saja nyawanya melayang jika saja bibinya tidak datang. Benar-benar menakutkan.
.
.
.
Setelah memakai baju berbahan tebal, ia menjatuhkan bokongnya ke ranjang. Menunggu bibinya masuk kembali ke kamarnya setelah membuat secangkir teh untuknya.
Selang satu menit pintu kamarnya terbuka, dan nampaklah wanita cantik di usianya yang memasuki kepala 3. Ayame menghampiri Sakura dengan nampan berisi satu cangkir hangat dan cemilan. ia duduk di samping Sakura. Tangan lentiknya mengambil teh hangat itu lalu memberinya ke Sakura.
Sakura pun meminum teh hangat itu hingga setengah tandas. Ia menaruh teh itu di nampan lagi.
Iris Ayame menangkap hal lain lagi di Sakura. Ia baru sadar jika di leher jenjang putih keponakannya terdapat goresan biru keunguan memanjang hingga ke belakang leher. Ia menyentuh luka bengkak itu dan mendapat ringkihan perih keluar dari mulut Sakura.
"Kau terluka lagi. Apa yang terjadi denganmu, Saku?"
"Aku tidak tahu, Baachan."
Sakura berniat bercermin. Ia pun tidak tahu luka apa yang dimaksud bibinya.
Mengerti siasat Sakura. Tangan Ayame memegang tangan Sakura. Dan menyuruhnya untuk tetap duduk.
"Untuk sekarang, kau tidak boleh bercermin, Saku-chan."
Sakura mengangguk lemah. Namun, hal lain terlintas di otaknya. Ia menatap kembali kedua netra Ayame. Sakura membuka laci di lemari kecil disamping tempat tidur, ia menunjukan cermin itu ke ayame.
"Baachan, kemarin pagi Saku menemukan cermin ini, sangat cantik 'kan? Saku sangat menyukainya. Tapi, cerminnya pecah. Dan Saku tidak tahu siapa pemilik cermin ini."
Terlihat Ayame menahan nafasnya. Ayame memandang cermin itu dan Sakura secara bergantian.
Sakura mengenyirtkan kening lebarnya. Ia benar-benar bingung dengan ekspresi bibinya saat melihat cermin yang ia temukan.
Apakah Baachan tahu tentang cermin ini.
"Baachan sepertinya tahu tentang cermin ini."
Ayame menghembuskan nafasnya, sorot matanya memandang lurus seakan pandangannya melihat hal lain yang terjadi beberapa tahun lalu.
"Dulu cermin ini adalah cermin kesayangan dari seorang gadis, yang dulu pernah tingga bersama Baachan-" Pikiran Ayame mulai menerawang. Sementara Sakura mendengarkan cerita Ayame dengan seksama.
"Gadis itu bernama Karin. Dia gadis yang sangat polos dan ceria, hanya saja.." Ayame menggantungkan kalimatnya, membuat kening Sakura bertaut.
"Hanya saja Karin terlahir tak sempurna. Karin lahir dengan wajah setengah cacat. Lambat laun keluarganya merasa malu mempunyai anak sepertinya, bahkan Ibunya juga tidak mau mengakui jika Karin itu adalah anaknya. Lalu keluarganya berniat menyerahkan Karin ke panti asuhan dengan dalih jika keluarganya telah meninggal-"
Sakura terperangah mendengar setiap kata yang terlontar di bibir bibinya.
"Baachan yang mengetahui hal itu merasa kasian. Baachan pun bicara dengan kedua orang tuanya untuk berniat mengadopsi Karin, yang dulu ia masih berumur tiga tahun, lalu mereka pun setuju. Tapi dengan syarat, mereka mengatakan jika Karin telah tumbuh dewasa jangan pernah biarkan gadis kecil itu tahu siapa kedua orang tuanya dan Karin harus di asingkan dari keluarganya. Dengan terpaksa Baachan menyetujui permintaan mereka. Dan akhirnya Baachan membawa Karin ke manshion ini-"
Ayame mengusap air matanya yang sempat mengalir di pipi tirusnya. Sungguh, ia benar-benar tak tega dan merasa terluka juga akibat perkataan yang terucap di bibir kedua orang itu.
Keadaan Sakura pun tak beda jauh, ia benar-benar shock dengan apa yang ia dengar. Hanya orang yang tidak waras yang berbuat kejam seperti itu, pikirnya.
"Cermin yang kau temukan itu adalah kado dari Baachan, tapi dengan bodohnya Baachan bilang jika cermin itu hadiah dari kedua orangtuanya saat dia berulang tahun ke tujuh belas. Ia sangat menyukai cermin itu, bahkan kemana saja ia pergi harus ada cermin itu di genggamannya. Pernah suatu hari Karin di tunjuk oleh sekolah untuk mengikuti lomba fisika antar negara. Saat itu Karin ingin bertemu kedua orangtuanya. Ia ingin sekali orangtuanya menyaksikan dirinya menang di lomba itu. Karena kasian Baachan memohon kepada kedua orangtuanya untuk datang ke perlombaan. Namun, Baachan tidak tahu jika keputusan Baachan membawa bencana. Akhirnya Karin mengetahui siapa kedua orang tuanya. Karin sangat senang saat itu, hingga ia lari mengejar kedua orangtuanya yang berusaha kabur darinya sambil membawa cerminnya. Karin dengan bangga memperlihatkan cerminnya kepada mereka. Tapi apa yang Karin dapat. Mereka mencacimakinya lalu membanting keras cermin itu ke tanah. Dan pergi tanpa rasa bersalah-"
"Semenjak hari itu Karin menjadi lebih pendiam, dan tidak ingin bicara pada siapapun, termasuk Baachan. Karin masih menyimpan cermin serta pecahan kacanya. Baachan sudah berulang kali jika sekarang Karin telah memiliki Baachan. Baachan sangat menyayanginya seperti anak kandung Baachan sendiri. Butuh waktu satu tahun untuk Karin melupakan segalanya. Dan saat ia di terima di Universitas terbaik di tokyo. Namun, saat pemilik universitas itu tahu jika Karin adalah salah satu anak dari donatur terbesarnya. Entah kenapa ia dikeluarkan dari Universitas tanpa alasan yang jelas. Hidup Karin hancur lagi, dan beberapa hari berikutnya Baachan menemukan tubuh Karin telah terbaring mengenaskan bersimbah darah di halaman. Polisi mengatakan jika Karin bunuh diri tepat saat semua orang sedang tertidur malam itu."
Sakura menatap sendu bibinya, ia mengelus pelan punggung yan g terlihat bergetar itu. Ia yakin pasti sangat berat untuk bibinya, terutama Karin.
"Dia pernah datang ke mimpi Baachan, dia meminta untuk menyatukan kembali pecahan kaca itu. Tapi, baachan tidak tahu dimana ia menyimpannya."
"Memangnya dulu kamarnya berada dimana Baachan? Biar Saku saja yang menyatukannya lagi dengan lem."
"Kamarnya di lantai dua di sayap kiri mansion, Saku."
Dan detik itu juga wajah Sakura memucat seketika.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sorot mata Sakura terlihat kosong menatap papan tulis di hadapannya, ia bahkan tidak tahu dosennya sedang menjelaskan tentang apa. Pikirannya telah kembali ke beberapa hari yang lalu, saat pertama kali ia melihat Karin masuk ke kamarnya saat ia baru datang di mansion, dan saat mimpi tentang gadis itu kemarin malam.
Sakura tersentak saat sebuah tepukan dari arah samping kanannya. Ia melihat semua siswa menatapnya dengan tatapan heran, beda dengan tatapan sang dosen yang tengah melototinya.
"Haruno, bisa kau kerjakan rumus di depan?"
Sial, kenapa harus matematik sih?!
Dengan bermodalkan daya ingat. Sakura meraih spidol hitam dan menulis beberapa angka sesuai rumus yang ia hafal. Setelah selesai, ia menaruh spidol itu ke meja gurunya lalu duduk kembali di kursinya.
"Lain kali jangan seperti itu lagi." Ujar Kurenai.
"Ha'i, Sensei."
Merasa diamati dari samping kanannya, ia menoleh kearah kanannya. Ia menemukan sepasang mata Onyx sedang menatapnya. Wanita itu menggerakan pulpennya di kertas putih di atas meja. Selesai menulis, gadis itu memperlihatkan sebuah tulisan tangan rapih membentuk kalimat.
Kau kenapa, Haruno? Dari awal pelajaran kau melamun terus.
Kini giliran Sakura yang menggerakkan pulpen miliknya di lembar kertas putih itu, ia menunjukan tulisan yang tak kalah rapih juga kearah gadis itu.
Tidak apa-apa. Hanya saja aku kurang enak badan.
Sebuah deheman halus tapi dalam terdengar, membuat kedua gadis yang tengah sibuk menulis seketika terdiam. Tak lama, mereka mengukir senyum. Mereka mengakui bahwa tindakan tadi adalah hal yang menggelikan. Surat menyurat disaat sedang belajar, bukankah itu seperti masa sekolah dasar dulu?
.
Bunyi bel tedengar nyaring. Membuat raut tegang yang terpancar di setiap siswa akhirnya luntur, tergantikan oleh raut senang. Mereka senang karena waktu yang di nanti-nanti akhirnya datang juga.
Satu persatu murid meninggalkan kelas menuju kantin. Banyak dari mereka mengisi perut kosong mereka dengan makan di meja kantin. Untuk menghindari desak-desakan di kantin Sakura lebih memilih makan di kelas. Ia memang tidak suka lama-lama di suasana yang ramai. Ia lebih suka suasana tenang.
Sakura membuka kotak bento miliknya, kedua tangan lentiknya mematahkan sumpitnya menjadi dua sambiln berseru, selamat makan.
Ia memakan makanannya dengan tenang. Namun, suasana yang tenang mendadak ricuh saat kelasnya di datangi sekelompok cowok yang berkenalan padanya tempo hari. Tapi, sepertinya ada kelompok lain yang mengikuti cowok-cowok itu.
"Wah Sakura-chan. Kau sedang makan apa?" Ujar Naruto.
"Sedang makan orang." Jawab Sakura acuh. Mendengar jawaban Sakura mengundang gelak tawa dari beberapa orang.
"Sepertinya lezat, nona Haruno." Gadis bersurai pirang menambahkan.
"Oh, tentu. Mau mencobanya?" Sakura mengangguk polos. Dan sekali lagi ia berhasil membuat beberapa orang tersenyum.
"Kita makan bersama disini saja teman-teman."
Wanita bersurai hitam panjang bersuara. Sakura menatap gadis cantik itu.
Jadi mereka teman-temannya gadis ini.
"Ide bagus, soalnya tadi kantin terlihat penuh." Ino menambahkan.
Mereka pun duduk melingkari meja Sakura yang terletak di dekat jendela. Mereka pun makan bersama di meja tersebut. Sakura pun tak sungkan, ia justru senang jika akhirnya ia mendapat teman baru.
"Ngomong-ngomong kau Haruno Sakura yang dibicarakan cowok-cowok ini, kan" Ucap Shion. Ia sekarang mendapat delikan tajam dari teman-teman cowoknya.
Sakura menganggukan kepalanya. "Iyah, aku Haruno Sakura. Tolong jangan panggil Haruno. Itu terlalu formal." Pinta Sakura. Semuanya mengangguk setuju.
"Perkenalkan, aku Sabaku Temari."
"aku Yamanaka Ino."
"Uchiha Hinata, yoroshiku."
"aku Tenten Li. Salam kenal, Sakura-san."
"aku Miyuki Shion. Salam kenal."
"Kalau aku Wu Jingyi. Salam kenal."
Sakura mengangguk diiringi senyum manisnya. "Salam kenal juga, Minna."
Perlahan suasana canggung mulai mencair, tergantikan oleh pembicaran dari diri mereka masing masing. Di selingi canda dan tawa dari pria bernama Naruto membuat suasana makin hidup. Raut bahagia terpancar jelas di wajah ayu Sakura.
Namun, hanya dua orang yang tidak terlalu fokus pada sekitarnya. Sesekali tatapan onyx berubah menjadi dingin kala aura yang di sekeliling gadis musim semi itu menghitam lalu kembali lagi cerah.
Ada yang berusaha memasuki tubuh, sakura. pikirnya.
Sasuke merasakan getaran hebat di tangannya yang di genggam. Ia menatap gadis di sampingnya yang memiliki arah pandang yang sama, yaitu Sakura.
Kedua onyx Hinata beradu dengan onyx Sasuke. Ada pancaran khawatir yang kuat di kedua onyx milik adiknya. Sepertinya Hinata melihat sesuatu yang tidak mengenakkan. Sasuke berusaha menormalkan deru nafasnya. Ia pun sama-sama khawatir. Entah kenapa ia merasa tidak ingin kehilangan gadis itu. Ia benar-benar bingung sebenarnya ada apa dengan dirinya.
"Sakura-chan sepertinya enak, boleh aku mencobanya?" Ucap Naruto.
"Boleh Naruto, silahkan."
Terlihat Naruto memakan bento buatan Sakura. Tak lama ia berseru kencang.
"Wah enak sekali Sakura-chan, ini adalah bento terenak yang pernah aku makan."
"Ne, lihat. Naruto menggombal lagi, tuh." Celetuk Ino.
"Apa kau tongkat, syirik aja." Naruto menjulurkan lidahnya ke arah Ino.
"Apa kau bilang!"
Naruto mengaduh kesakitan saat mendapat bogem mentah dari Ino. Seketika semuanya tertawa melihat Naruto yang tengah memasang tampang melasnya, namun tidak semuanya.
Iris blue sappire Naruto memandang Sasuke, berniat meminta tolong kepada best friendsnya. Namun irisnya tak sengaja menangkap sesuatu yang mengerikan. Tepat di belakang kepala Sasuke. sosok seram dengan wajah setengah hancur tengah membuka mulutnya lebar sambil menyeringai seram kearahnya. Mendadak tubuh Naruto membeku. Dan detik berikutnya Naruto kehilangan kesadarannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ruang UKS terasa sunyi saat beberapa orang pergi meninggalkan ruangan itu. Hanya tersisa Sakura, Sasuke dan Hinata.
Mereka bertiga tak bersuara, hanya detik jam yang bergerak yang terdengar di ruangan itu. Mereka bertiga memandang Naruto yang masih tak sadarkan diri sejak jam istirahat itu. Sakura melirik jam dinding yang menunjukan jam 17.35, gadis itu tak menyangka jika naruto pingsan hingga lima jam lebih. Dan tidak ada pergerakan bahwa Naruto akan sadar. Entah apa yang ia lihat sampai membuat pria bersurai blonde itu pingsan dalam waktu yang lama.
Hinata menatap Naruto, sesekali iris tiaranya melirik sosok yang tengah berdiri di pojok ruangan. Sosok itu tidak mendekati Naruto. Namun, sepertinya sosok itu marah pada Naruto. Terlihat dari sorot matanya yang ingin sekali menghabisi pria malang itu. Hinata menelan ludahnya lagi untuk kesekian kalinya. Hawa panas diselingi dingin yang ganjil masih terasa mengepung ruangan itu. Bulu kuduknya masih terus meremang, ia benar-benar takut. Tapi, ia tidak bisa meninggalkan Naruto. Ada dorongan dalam hatinya untuk terus berada di sisi Naruto. Hinata tidak tahu apa yang ia rasakan, yang ia tahu ia merasa nyaman jika ada Naruto di dekatnya.
Sedangkan pria di samping Hinata menatap hal yang sama. Berkali-kali ia menahan kekesalannya saat sosok itu ingin sekali menghabisi nyawa sahabat karibnya. Ia bisa mendengar perkataan yang terlontar dari sosok itu. Ia bisa mengerti ucapan makhluk tak kasat mata yang berada disekelilingnya. Yah, hanya dirinya saja yang tahu. Sasuke kembali menerawang beberapa jam yang lalu. Saat Naruto dan teman-temannya masih asik bercanda dan tertawa. Sesekali naruto berusaha mendekati Sakura, yang notabene ingin ia jauhi. Namun, tak lama ia merasakan kehadiran lain di belakangnya. Ia mengetahui jika ada sosok yang sedang berdiri di belakangnya. Entah apa yang sosok itu lakukan. Tapi, dari aura sosok itu mengatakan jika sosok itu terlihat tidak senang. Sasuke ingin sekali bicara pada Naruto jika ia harus jaga jarak dengan Sakura, tapi mulutnya seolah terkunci.
Hingga akhirnya Naruto memandangnya, namun sosok itu telah menampakkan wujud aslinya di hadapan Naruto. Membuat pria blonde itu tak sadarkan diri dan pingsan dalam waktu yang sangat lama. Ia tidak bisa memikirkan jika ia di posisi Naruto. Mungkin akan lebih parah dari yang Naruto alami.
Langit senja telah terbias di cakrawala, menandakan jika waktu ingin berganti menjadi malam. Sakura melihat jendela yang kini telah menampakan langit senja. Ini pertanda buruk baginya.
"Sepertinya kau harus pulang, Sakura." Sasuke berkata seolah mengetahui gerak gerik khawatir dari gadis musim semi itu.
"Kau benar, Sasuke. Ya sudah, aku pulang, tolong titipkan salamku jika Naruto sadar." Setelah berucap, Sakura berjalan keluar. Ia melihat lorong yang sangat panjang nan sepi. sakura menelan ludahnya kasar. Bagaimana tidak takut, jika kau harus berjalan di lorong yang sepi ini sendirian. Bayangkan coba gimana horornya?
Sakura berusaha mati-matian melawan rasa takutnya. Ia tidak mungkin meminta sasuke untuk menemaninya sampai ke gerbang. Tidak , itu adalah ide buruk. Pikirnya.
Sakura berjalan ralat setengah berlari di lorong itu. Irisnya menatap lurus ke depan seolah-olah jika ia menoleh sedikit saja maka ada sosok yang menyeramkan yang muncul tiba-tiba di setiap jendela kelas yang ia lewati.
Sayup-sayup ia mendengar suara pintu terbanting kencang di hadapannya. Langkah Sakura terhenti. Jantungnya mulai berdetak keras. Wajahnya perlahan memucat saat kedua matanya menangkap sosok melayang yang berdiri tepat tak jauh dari tempatnya. Ia tidak bisa melihat dengan detail sosoknya hantu itu, karena sinar lampu yang tepat di atas kepala sosok itu telah mati.
Seragam sekolah menengah atas terlihat kumuh, dengan darah yang mengalir membanjiri seragam dan lantai marmer di bawahnya. Darah itu makin lama makin banyak mengenang di lantai itu. Sosok dengan wajah separuh rusak itu menatap sakura dingin.
Perlahan Sakura melangkah mundur, ia berniat lari saat itu juga. namun, sosok itu melayang rendah menghampirinya. Tubuh rapingnya terlihat bergetar. Ia benar-benar takut hingga mulutnya tak bisa bersuara.
Jauh dari tempatnya terlihat satu persatu lampu padam dengan sendirinya, menciptakan ruang gelap di belakang sosok itu. Sakura terperangah kaget. Kegelapan terasa menghampirinya saat lampu-lampu itu padam. Sakura merasa tubuhnya bisa digerakkan, dengan tergesa Sakura berlari sekencang kencangnya menuju arah yang ia lewati. Ia berniat kembali ke ruang uks. Setidaknya ia merasa aman jika bersama yang lain.
"Hihihi..."
Sosok itu melayang mengikuti langkah kaki Sakura yang tengah berlari menjauhinya.
Sakura terus berlari kencang. Namun, naas. Ternyata kegelapan telah mengelabui dirinya. Lampu di hadapannya telah mati total disusul dengan lampu-lampu di hadapannya.
"Kkkyaaaa..."
.
Deg!
Sasuke mendengar teriakan Sakura dengan jelas. Dengan cepat Sasuke keluar dari ruang UKS. Iris onyxnya melihat lorong telah gelap gulita. Ia mengedarkan pandangannya kesegala penjuru. Namun, hanya kegelapan yang ia lihat.
"Sakura!"
Teriaknya di lorong itu. Tapi, tidak ada sahutan dari gadis itu. Hanya gemerisik pohon-pohon yang terkena hembusan angin malam yang menyapanya.
Sasuke berjalan perlahan di lorong yang gelap itu. Perasaannya digeluti ketakutan yang luar biasa. Bukan karena ia takut dengan hantu. Namun, ia takut Sakura terjadi apa-apa. Ia merasakan keberadaan sosok makhluk halus di sekitarnya. Namun, dilihat dari auranya sepertinya sosok itu tidak suka mengganggu.
"Apa kau tahu dimana gadis berambut pink yang lewat lorong ini?" Sasuke bertanya. Sungguh, ini pertama kalinya ia berinteraksi dengan hantu yang berada di sekolahnya. Jika bukan karena Sakura, ia tidak akan mau melakukan hal ini.
Sosok itu melihat Sasuke, sedetik kemudian ia berujar lirih, "Gadis itu dalam bahaya... Dia di bawa ke atap..."
Tak lama lampu-lampu di lorong menyala dengan sendirinya. Bersamaan dengan nyalanya lampu, sosok itu menghilang dari hadapan Sasuke. Tak mau menunggu lama Sasuke berlari cepat keatap. Tak perduli tatapan horor yang di layangkan oleh sosok-sosok yang ia temuinya.
Sasuke mendobrak paksa pintu atap sekolahnya. Dan pertama yang ia lihat adalah sosok berwajah seram dengan aura hitam pekat itu telah berusaha mencekik leher jenjang Sakura yang telah tak sadarkan diri.
Ia mengucapkan beberapa mantra yang ia hafal di kepalanya. Tak lama sosok itu merintih kesakitan. Tak lama sosok itu melepaskan cekikannya di leher Sakura lalu menghilang. Sasuke menangkap tubuh ringkih Sakura. ia bisa mlihat wajah dan seluruh kulit tubuh Sakura membiru. Hampir saja ia kehilangan Sakura jika ia terlambat sedetik saja. Ia peluk tubuh Sakura dan menggendongnya ala bridal style. Sasuke berjalan sambil membawa Sakura di gendongnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok wanita bersurai lurus panjang dengan balutan pakaian putih tengah menghadangnya.
Sosok itu menatap dingin Sasuke. Sambil berkata, "berhati-hatilah..." Lalu beberapa detik kemudian sosok melayang mundur lalu menghilang.
Onyx Sasuke kembali menatap Sakura yang masih tak sadarkan diri. Pancaran matanya sulit diartikan. Sasuke kembali berjalan meninggalkan atap. Tanpa tahu jika sosok berwajah setengah hancur itu menatapnya dengan sorot mata tajam. Sedetik kemudian sosok itu menyeringai seram.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Zona bacot author:
Gomen updetnya lama. Soalnya baru nyelesain UTS sih T-T
Terima kasih bagi kalian yang sudah riview, favs dan folow fictku. Sekali lagi jejak kalian sangat membantuku untuk menentukan fict ini selanjutnya. Tapi, maaf jika aku tidak bisa membalas pesan kalian satu persatu atau membalas riview kalian satu persatu. Soalnya author sibuk banget. Fict ini aja author ngerjainya buru-buru banget. Dikejar waktu, coy hehe :D
Ya sudah sekian dari curcolku. Ok, sekali lagi jejak kalian sangat membantuku. Tapi aku tidak memaksa kalian untuk meninggalkan jejak. Meninggalkan jejak atau tidak itu terserah pada readers semua. Sekali lagi aku tidak memaksa yah!
Ok, see you minna-san!
#whitefox
