Sakura membuka matanya perlahan. Hal pertama yang Sakura lihat adalah ia berada dalam sebuah mobil. Sakura membangunkan tubuhnya. Irisnya meneliti sekitarnya, hingga penglihatannya menangkap sesuatu yang menyembul di kursi. Sebuah rambut berwarna orange jabrik.

Sakura menyentuh rambut itu. Tak salah lagi, pasti dia. Pikirnya.

Ia menepuk sedikit keras lengan kekar itu. Hingga membuat seorang pria terbangun.

Naruto memandang sekitarnya. Raut bingung tergambar jelas di wajahnya. Setelah kesadarannya telah terkumpul. Ia menoleh kebelakang. Ia melihat Sakura tengah duduk di kursi belakang.

"Kenapa kita di dalam mobil, Sakura-chan?"

Sakura menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu, Naruto. Aku kira kamu tahu."

"Aku juga tidak tahu, Sakura-chan. Lagipula ini mobil siapa? Aku belum pernah melihat mobil seperti ini."

Sakura hendak membuka suaranya. Jika saja ia tidak melihat seorang gadis tengah berlari cepat dan masuk ke dalam mobil. Gadis itu telah duduk disampingnya.

Sakura dan Naruto saling pandang, lalu mereka kembali melihat gadis berambut pink gelap itu. Suara isakan kecil masih terdengar memecah kesunyian dalam mobil.

Selang satu menit, suara pintu kembali terbuka. Munculah seorang pria muda berkisar 17 tahun tengah duduk di kursi kemudi. Iris gelapnya menatap gadis yang masih sibuk mengelap lelehan air matanya.

"Maaf Karin."

Iris korofil itu membulat menatap pria yang masih melihat gadis disampingnya.

'Jadi gadis ini Haruno Karin.'

"Aku tidak menyangka jika kedua orang tuaku akan berbicara seperti itu." Ucapnya menyesal.

Karin mendengakkan kepalanya. Hingga terlihat jelas wajah setengah rusaknya. Membuat Sakura dan Naruto tersentak kaget saat mengetahui wajah gadis bernama Karin itu.

Sakura tak pernah menyangka, jika rupa Karin sangat jauh dari perkiraannya.

"Wajar saja, Itachi-kun. Orang tua mana yang mau anaknya berpacaran dengan wanita sepertiku!" gentak Karin.

"Tenanglah. Aku akan bicara dengan kedua orang tuaku nanti. Sekarang akan ku antar kamu pulang."

Itachi menjulurkan tangannya hendak mengelus surai Karin. Namun di tepis kasar oleh pemiliknya.

Itachi mengembangkan senyum tipisnya, "Aishiteru, Karin-chan."

Naruto yang sedari tadi hanya menonton. Kini irisnya bergulir kearah Sakura.

"Aku sungguh tidak mengerti, Sakura." Ucapnya setengah berbisik.

Sakura mengacungkan jari telunjuk ke bibirnya, "Sudahlah, ikuti saja. Sepertinya mereka tidak mengetahui keberadaan kita, Naruto." Jawabnya setengah berbisik juga.

Itachi membalikkan tubuhnya kedepan. Ia mulai menghidupkan mesin mobilnya, dan mobil itu melaju dengan kecepatan normal. Tak lupa ia menyalakan pemutar musik untuk menghidupkan suasana yang sunyi itu.

Tak ada satupun yang bersuara, hanya musik yang bernada halus itu yang terdengar.

Merasa bosan Naruto merogoh sakunya, berharap ada alat komunikasi yang membuat ia bisa menghubungi sahabatnya.

Naruto tersenyum lebar. Tanpa buang waktu ia mengeluarkan benda itu lalu melihat layar ponsel itu tanpa kedip.

Rupanya tak hanya Naruto yang mengeluarkan ponsel. Sakura pun mengeluarkan ponsel miliknya, dan terkejut melihat angka yang tertera di pojok kanan atas.

10-10-2010. Itulah yang mereka lihat sebelum kegelapan menyelimuti penglihatan mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mira Ga Ware

.

Disclamers: Masashi Kishimoto

Story By: White Fox

Main Pairing: karinSakuSasu

Genre: Horror, Supranatural, Romance(sedikit)

Warning: AU, Ide Pasaran, Typo, Multichap, Dan Banyak Cacat Lainnya.

Silahkan ketik back untuk kembali karena aku tidak memaksa para readers untuk membaca fictku ini karena fict ini mungkin melenceng dari kata sempurna

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 4

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku sungguh tidak sabar
Hari demi hari telah berlalu
Sekarang, waktumu hanya tersisa empat hari lagi
Bersiaplah, Sakura
Saat purnama penuh, detik itu juga aku akan menjemputmu

.

.

.

.

.

.

.

.

Perlahan cahaya silau melesak masuk ke kelopak matanya. Sakura membuka matanya. Ia kembali di buat terkejut kala sorot matanya menelisik kamar yang bukan kamarnya. Aksen violet lembut serta wangi lavender yang jumpai di kamar luas ini.

"Dimana aku?"

Sakura memegang kepalanya yang berdenyut. Tak lama ia mendengar suara derit pintu. Dan nampaklah wanita bersurai indigo panjang tengah berdiri di ambang pintu jati itu.

"Syukurlah, kamu sudah sadar, Sakura-chan."

Raut lega terpancar di paras ayunya. Hinata melangkah mendekati ranjang queen size miliknya. Lalu duduk di depan Sakura.

"Aku dimana, Hinata? Kenapa aku disini?"

"Kau di kamarku, Sakura-chan. Sasuke-nii melihat mu pingsan di lorong sekolah. Lalu kami yang membawamu kesini, karena kami tidak tahu alamat rumahmu."

Hinata menuangkan air ke gelas bening, setelah penuh ia memberikan gelas tersebut pada Sakura.

Sakura menerima gelas itu lalu meminumnya perlahan. Ia kembali menaruh gelas bening itu di lemari kecil di samping ranjang.

"Aku tidak menyangka, Sakura-chan. Kau menutupinya selama ini. Gomen ne jika aku lancang, tapi bagaimana kamu mendapatkan luka-luka itu?"

Sakura tersentak kaget saat ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Hinata, yang notabene adalah seseorang yang baru ia kenal. Ia lalu melihat tubuhnya. Dan benar saja ia tak memakai bajunya. Sakura meyakini jika baju yang ia pakai adalah bajunya Hinata.

Terdengar suara tawa tertahan keluar dari bibir mungil Hinata, "Tidak usah panik, Sakura-chan. Aku'lah yang menggantikan bajumu. Dan baju yang kamu pakai itu adalah bajuku."

Sakura menghembuskan nafas lega, "Arigatou, Hinata."

Hinata menganggukan kepalanya sekilas. Ia terus melihat Sakura dengan seksama. Menunggu jawaban yang keluar dari bibir gadis musim semi itu. Namun, satu kata pun tak terlontar dari mulutnya. Sorot keraguan masih ada dalam iris bening hijau tersebut.

"Baiklah jika kau tidak ingin menceritakannya tak apa, Sakura. Aku tidak akan memaksamu."

Sakura tersenyum tipis. Sungguh, ia ingin menceritakan yang sebenarnya. Tapi, bayangan yang akan terjadi selanjutnya telah berputar di otaknya. Ia takut jika ia mengatakannya, maka ia akan dikira sudah tidak waras oleh Hinata. Tidak. Ia tidak mau seperti itu, lebih baik ia pendam sendiri.

Ditengah lamunannya. Ia dikejutkan oleh suara cempreng milik Naruto. Entah sejak kapan Naruto dan Sasuke ikut masuk kedalam kamar Hinata.

"Wah, sakura-chan ada disini juga rupannya!"

"Kenapa kau juga disini, Naruto?"

Sakura menatap pria bersurai jabrik yang tengah berdiri di hadapannya.

"Naruto-kun juga masih pingsan waktu itu. Jadi kami juga membawanya, Sakura-chan." Hinata berujar pelan.

Sakura terdiam sebentar. Namun, ingatannya kembali ke dalam mimpi yang baru saja ia alami. Dengan cepat Sakura merogoh ponsel miliknya. Ia kembali melihat pojok kanan atas.

'08-01-2106. Enam tahun yang lalu. Tadi itu mimpi?' Sakura membatin.

Sakura melihat jam kecil berwarna violet di atas lemari kecil disampingnya. Jarum jam telah menunjukan waktu 11 malam. Ini berarti hampir tengah malam.

"Sakura-chan, sebaiknya kau istirahat dulu. Saat pagi nanti kami akan mengantarmu pulang. Kau tenang saja."

Hinata tersenyum manis. Ia mengelus pelan bahu mungil Sakura. Berharap dengan sentuhannya ia bisa menenangkan Sakura.

"Baiklah, arigatou hinata-chan."

"Hoaam, sepertinya juga aku harus istirahat juga."

Mereka bertiga berjalan keluar hingga menghilang setelah menutup pintu. Menyisakan kesunyian yang menemani gadis bersurai softpink itu.

"Setelah tiba di rumah. Aku harus mencari pecahan cermin itu dan menyatukannya kembali." Ujarnya pelan.

Sakura menarik selimut hingga menutupi dadanya. Ia menutup kembali kedua matanya. Sambil berharap pagi menyambutnya secepat mungkin.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sasuke-nii apa yang harus kita lakukan. Sepertinya mahluk itu juga tidak menyerang dari luar saja, tapi dia juga menyerang dalam tubuh Sakura. Aku melihat jelas mahluk itu telah menghisap seperempat tenaganya tadi. Kalau begini terus Sakura bisa mati."

Hinata menatap sendu lantai marmer yang mengkilap di bawahnya. Kedua kakak beradik itu tengah duduk di sofa beludru disebuah ruang keluarga, di temani perapian kecil yang menghangatkan ruangan.

Sasuke menatap api yang menjilat di hadapannya. Pikirannya melayang jauh ke gadis bernama Sakura, yang kini tengah tertidur pulas di kamar adiknya.

"Aku tidak mengerti. Apa alasan mahluk itu selalu mengikuti Sakura. Siapa Sakura baginya. Dan untuk apa mahluk itu menginginkan Sakura mati?"

Hinata mengedahkan kepalanya. Melihat kakaknya yang masih sibuk menatap api perapian. Sebuah ide terlintas diotaknya, "Apa kita harus melindunginya? Mungkin menjauhkan Sakura dari rumah itu adalah cara yang tepat, Sasuke-nii."

Sasuke memutar kepalannya. melihat Hinata yang duduk di sampingnya. Ingin sekali ia menyetujui ide Hinata. Tapi, ia tidak tahu resiko sebesar apa yang akan ia hadapi. Ia harus membuat strategi sebelum melawan roh jahat itu.

"Tidak, Hinata. Kita tidak boleh terburu-buru."

Tak ada lagi suara yang terdengar. Hanya bunyi kayu yang terbakar yang menemani kedua kakak beradik itu. Meraka sama-sama tenggelam dalam pikiran mereka. Tanpa tahu, bahwa sosok yang mereka bicarakan telah mengintai mereka.

Sosok berwajah seram itu memandang tajam kearah mereka. Kini, sosok itu menyeringai lebar.

Perlahan sosok berbaju putih kebesaran itu melayang, lalu menembus dinding kamar.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura melambaikan tangannya setelah mobil hitam metalik itu berjalan menjauh di jalanan yang masih sepi itu.

Kedua kaki jenjangnya berjalan memasuki perkarangan mansion tua di hadapannya. Jemari lentiknya menekan bel. Namun, sebelum Sakura menekannya. Tiba-tiba Pintu berbahan jati itu terbuka dengan sendirinya.

"Nenek chiyo?"

Sakura menggulirkan irisnya kesegala arah.

Kosong.

Tidak ada seorang pun selain dirinya.

Mungkin Nenek chiyo tidak menutup rapat pintu ini.

Mengangkat bahu sekilas. Sakura melanjutkan langkahnya memasuki mansion. Ia bisa melihat perabotan masih tertata rapih di ruang tamu.

"Tadaima!" serunya kencang.

Sakura tidak melihat siapapun di ruang tamu. Hanya kesunyian yang menyambutnya pagi itu.

Prank!

Sakura tersentak kaget. Dari lantai dua, terdengar bunyi benda keras yang terbanting ke lantai.

Bergegas ia menaiki tangga dengan langkah cepat. Tak lama akhirnya ia berada di lantai dua. Sakura masih berlari menuju kamar di sayap kiri atas.

"Ayah, Ibu, jangan tingalkan aku. Jangan tinggalkan aku..."

Terdengar suara seorang gadis dari dalam kamar. Sakura memegang knop pintu itu. Namun, Pintunya terkunci.

Sakura kembali berlari tergesa menuruni anak tangga. Ia ingat jika Nenek chiyo sering meninggalkan kunci kamar itu di kamarnya.

Sakura memberhentikan langkahnya tepat di hadapan pintu kamar Nenek chiyo. Ia menghembuskan nafasnya kasar. Berusaha menormalkan kembali detak jantungnya yang menggila akibat langkahnya.

Sakura mengulurkan jemarinya memegang knop pintu. Lalu memutarnya. Senyum tipisnya berkembang saat tahu bahwa pintunya tak terkunci. Ia membuka pintu itu, di balik pintu terdapat kamar yang berukuran lebih kecil dari kamarnya. Terlihat sederhana tanpa perabotan berlebih.

Dengan cepat Sakura berjalan ke ranjang. Ia menyikap bantal itu. Di bawah bantal terdapat kunci berwarna emas. Sakura mengambil kunci itu, lalu keluar dari kamar itu setelah menutup rapat pintu itu.

Sakura kembali berlari cepat menaiki anak tangga. Ia mulai merasakan sakit di kedua kaki, dan lelah yang mulai menyerangnya. Namun, ia tidak memperdulikannya. Sampai akhirnya ia kembali berdiri di depan pintu jati berwarna kecoklatan itu. Sakura memasukan kunci yang ia bawa kedalam lubang pintu, lalu memutarnya perlahan.

Bunyi klek terdengar menandakan bahwa kunci pintu terbuka. Sakura menghembuskan nafasnya lagi. Sakura membuka pintu itu. iris hijau beningnya menangkap sebuah kamar luas dengan aksen pink gelap. Hampir sama dengan kamar miliknya.

Sakura berjalan perlahan masuk ke kamar. Iris korofilnya meneliti seluruh ruangan. Hingga matanya jatuh ke cermin rias berukuran besar yang letaknya tak jauh dari pintu.

Ia mendekati cermin itu yang masih bersih. Tak ada debu yang menempel di permukaan cermin.

Sakura berdiri di depan cermin. Ia bisa melihat bayangan dirinya di cermin itu.

Sakura menahan nafasnya saat cermin itu tak hanya menampilkan bayangan dirinya saja. Ada seseorang yang berdiri di tepat di jendela besar di kamar itu. Jauh di belakangnya.

"Akhirnya, aku menemukanmu, Karin."

Karin menatap kosong Sakura melalui cermin besar. Kemudian, perlahan Karin mengarahkan jari telunjuknya kearah sebuah lemari kecil di samping tempat tidur.

Sakura langsung tahu apa yang di maksud Karin. Ia pun memutar tubuhnya kebelakang. Disaat itu juga Sakura tidak melihat sosok Karin yang berdiri di jendela besar itu. Sosok itu menghilang dalam sekejab.

Sakura berjalan mendekati lemari kecil itu. Ia mulai membuka satu persatu laci. Saat ia membuka laci paling bawah. Ia menemukan sebuah kotak berwarna merah maroon. Sakura membuka perlahan kotak itu. Dan sebuah pecahan benda yang ia lihat. Semua pecahan kaca telah ada di dalam kotak.

"Hahh, Syukurlah aku menemukannya."

Sakura duduk di pinggir ranjang. Ia merasa seluruh badannya terasa sakit. Pening mulai menyerang kepalanya.

Sakura tak mampu lagi untuk berjalan ke kamarnya. Kelopak matanya pun terasa berat. Pandangannya mulai menggelap. Dan akhirnya Sakura tak sadarkan diri di lantai.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura mengenyirtkan alisnya. Ia mendengar suara gaduh dari arah pintu. Bunyi benda keras yang menabrak pintu masih terdengar jelas. Ia membuka kelopak matanya. Ia melihat sekelilingnya dengan tatapan bingung.

Kenapa aku di kamarku? Bukankah tadi aku di kamar Karin?

Irisnya terus bergulir, hingga tatapannya jatuh pada kotak merah di sampingnya.

Gadis itu bangun dari tidurnya. Lalu duduk di ranjang.

"Aduh!"

Sakura meringis menahan sakit saat punggungnya di tegapkan. Ia merasa tulang punggungnya tidak bisa di gerakan. Dengan perlahan ia menjulurkan tangannya, ia mengambil kotak itu lalu menyembunyikannya di bawah selimut. Sakura tidak ingin Nenek chiyo bertanya apa isi dari kotak merah itu.

Gubrak!

Pintu itu terjembap ke lantai dengan kencang. Lalu munculah Nenek chiyo beserta pria bersurai jabrik.

"Nona saku. Apa kau baik-baik saja? Nenek tadi mendengar suaramu."

Nenek chiyo melangkah dengan tergesa menghampiri Sakura. Raut khawatir jelas ketara di wajah keriputnya.

Naruto pun menghampiri sakura. iris blue sappirenya sempat berpapasan dengan iris korofil tersebut.

"Aku baik-baik saja, Nenek chiyo." Sakura berucap diiringi senyum tipisnya.

"kalau begitu kenapa kau tidak mau makan, dan mengurung diri seharian, nona?"

Alis Sakura bertaut. Sejak kapan ia mengurung diri, seharian pula. Padahal jelas-jelas ia harusnya di kamar Karin.

Naruto memasukan kedua tangannya ke dalam saku. Ia menatap sakura intens. Naruto menemukan raut bingung di wajah ayunya.

"Jika aku tidak disini. Mungkin kau akan tidur sampai dua hari, Sakura." Naruto menjelaskan.

Iris korofil menatap naruto, "Lalu kenapa kau bisa ada disini, Naruto?"

"Ada yang aku ingin bicarakan denganmu, Sakura."

Nenek chiyo menatap keduanya bergantian, "Baiklah, nenek akan membuatkan kalian sarapan. Nenek tinggal dulu, yah." Nenek chiyo berjalan menjauh, lalu menghilang setelah menutup pintu.

Naruto mendudukan dirinya di ranjang queen size. Ia kemudian menatap sakura lagi.

"Aku bermimpi aneh saat di rumah Sasuke. Aku bermimpi kalau kau dan aku ada dalam satu mobil. dan di mobil itu tidak hanya kita berdua. Melainkan ada Itachi-nii dan gadis berwajah setengah rusak. Aku hanya penasaran. Sepertinya kau tahu apa yang terjadi saat itu." Ucap naruto pelan.

"Sebenarnya aku kenal dengan gadis itu. tapi, aku tidak tahu apa yang terjadi saat mimpi itu, yang jelas mimpi itu sangat nyata."

Naruto menganggukan kepalanya, "Maka dari itu aku bertanya padamu, Sakura. lagipula wajah kalian berdua hampir mirip di mimpiku itu."

"Mirip apanya? Yang benar saja, Naruto. Jangan bercanda deh." Elak sakura. Gadis itu benar-benar bingung dengan jalan pikiran Naruto. Lagipula ia di samakan dengan Karin. Jelas beda jauh. Mungkin kebanyakan nonton sinetron ini bocah, pikirnya.

"Tapi aku serius, Sakura! aku berpikir kalian berdua adalah saudara kandung."

"Tidak, tidak. Naruto. Aku hanya anak tunggal. Aku tidak punya kakak kau tahu. Jika kalau punya pasti sekarang aku tinggal bersama kakakku. Bukan di mansion tua ini."

Sakura menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri.

Naruto hendak melanjutkan ucapannya. Jika Sakura tidak menyela.

"Sudahlah, Naruto. Pagi-pagi kau sudah bicara tidak karuan. Sudah sanah keluar, aku ingin siap-siap ke kampus."

Sakura mengangkat tubuhnya. Namun, sebelum melangkah, tangan mulusnya cengkram kuat oleh Naruto.

Naruto menarik tangan Sakura agar dirinya duduk kembali di ranjang. Sakura yang pasrah kini duduk lagi di ranjang.

"Kau ini apa-apan, Naruto!"

"Gomen, jika aku lancang Sakura. Tapi, aku sangat penasaran."

Naruto menaikan lengan baju Sakura hingga kesiku. Irisnya terbelalak saat melihat tanda kebiruan muncul di lengan putih porselen itu. Sangat kontras sekali. Ia kembali menaiki lengan baju Sakura hingga menyentuh bahu mungil Sakura. dan alhasil tanda kebiruan membentuk cincin jelas terlihat disetial jengkal kulit mulus Sakura.

Kedua iris Sakura membulat saat menyadari luka memar yang begitu banyak di lengan kanannya. Ia benar-benar tidak tahu, darimana luka itu berasal. Sakura masih ingat jika beberapa hari yang lalu ia tidak menemukan luka memar itu di lengannya.

Oh, kami-sama. Apa yang terjadi padaku. Sakura membatin.

"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Entah kenapa, perasaanku tidak enak jika menyangkut tentangmu."

Naruto menatap Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan. Pria itu melangkah pergi menjauh, lalu menghilang setelah menutup rapat pintu itu.

Menyisakan Sakura dengan beribu pertanyaan di kepalanya.

.

.

.

Sakura melihat kembali penampilannya saat ini di depan cermin besarnya. Ia kembali merapatkan syal di lehernya, hingga luka memar di leher jenjangnya sudah tidak terlihat. Merasa sudah tidak ada lagi yang kurang. Ia menyambar tas selempang miliknya. tak lupa ia memasukan kotak merah maroon itu ke dalam tas. Sakura berencana menyatukannya di kampus, saat jam kuliahnya telah selesai.

Sakura keluar dari kamarnya. Ia lalu berjalan menuruni anak tangga, hingga sampailah ia di ruang tamu. Terlihat Naruto berdiri saat melihatnya tiba. Pria itu menatap Sakura dari atas hingga kebawah.

Melihat Naruto memandangnya dengan intens seperti itu membuatnya merasa risih.

"Ada apa? Apa pakaianku terlihat aneh?"

"Tidak, hanya saja penampilanmu hari ini sangat tertutup. Mungkin hanya pemikiranku. Ayo, cepatlah kita harus ke kampus."

Naruto berjalan diiringi Sakura di belakangnya. Mereka masuk ke dalam mobil sport milik Naruto. Mobil tersebut kini telah berjalan keluar dari perkarangan, berjalan menjauhi mansion tua itu.

Mereka tidak menyadari tatapan tajam yang mengarah pada mereka, hingga mobil mereka sudah tidak terlihat lagi di jalan.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Baik semuanya, pelajaran kita cukup hari ini. Kita akan bertemu lagi minggu depan. Selamat siang semuanya."

"Selamat siang, Sensei." Ucap kompak semuanya.

Sakura membereskan peralatannya dengan segera. Setelah selesai, ia menoleh kearah gadis di sampingnya. Terlihat gadis itu masih membereskan peralatan tulisnya.

Sakura merangkul tasnya, lalu berjalan menghampiri Jingyi.

Gadis bernama Jingyi itu menyadari jika ada yang menghampirinya, lantas ia menoleh kearah gadis yang kini telah ada disampingnya.

"Nande Sakura? Apa kau mau meminjam bukuku lagi?" Tanya Jingyi.

Sakura menggelengkan surainya, "Tidak, tapi apakah kau mau membantuku?"

Jingyi mengkerutkan alisnya sejenak. Namun, sebelum ia sempat bicara, Sakura telah menyela terlebih dulu.

"Aku ingin meminjam buku di perpus, tapi aku tidak berani sendirian. Kau mau menemaniku?"

Hanya itu yang terlintas di otak pintarnya sekarang. Sakura tidak mau mengatakan yang sejujurnya jika kalau ia ke perpus bukan untuk meminjam buku. Melainkan ingin menyatukan cermin milik Karin.

Tanpa curiga Jingyi menganggukan kepalanya, "Baiklah, Sakura. Aku mau."

Mereka pun berjalan keluar dari ruang kelas.

.

.

.

Sesampainya di perpus. Mereka memilih duduk di meja paling pojok. Sakura mengeluarkan Kotak merah maroon itu lalu menaruhnya di atas meja. Tak lupa dengan perlatan yang akan membantunya untuk mengerjakan tugasnya.

Jingyi melihat Sakura dan kotak itu dengan tatapan bingung.

"Ini kotak apa, Sakura?" Jingyi menunjuk kotak merah tersebut.

"Baik begini. Aku ingin kau membantuku menyatukan pecahan-pecahan kembali kaca ini."

"Astaga, kau benar-benar tidak ada uang, yah. Untuk membeli cermin yang lebih bagus lagi?"

"Ini bukan cerminku, Jingyi. Tapi, cermin ini punya seseorang yang sudah meninggal."

Iris onyx jingyi membulat, "Apa kau gila. Nanti.." Ucapan Jingyi terputus saat terdengar suara deheman kencang. Itu adalah kode keras dari orang-orang sekitarnya. Karena suara Jingyi yang terlampau dari kata pelan. Kalian tau 'lah pasti apa yang terjadi :v

Jingyi menatap mereka satu persatu, sambil berujar kata 'Maaf' dengan pelan. Namun cukup terdengar oleh mereka.

"Aku pernah di ceritakan oleh ibuku, jangan pernah memegang atau mengambil barang milik orang yang sudah meninggal tanpa ijin. Jika pemiliknya tidak suka, kau bisa di kutuk, Sakura." Ucap Jingyi pelan.

Sakura memutar irisnya, "Aku juga tahu itu, Jingyi. Tapi, aku hanya ingin membantu Baa-chanku yang terus di teror oleh anak asuhnya. Dia ingin cerminya di satukan kembali agar arwahnya tenang disana."

Jingyi memangutkan kepalanya, "Oke, kalau begitu aku akan membantumu, Sakura."

Senyum manis berkembang di wajah Sakura, "Aku mengandalkanmu, Jingyi."

"Serahkan padaku Sakura, aku ahlinya dalam pekerjaan tangan!." Ucap Jingyi sombong.

Mereka berdua pun mulai sibuk menempelkan pecahan kaca itu ke tempatnya. Mereka berdua tak menyadari jika ada onyx lain yang memperhatikan gerak-gerik mereka.

Hampir satu jam lamanya mereka berhasil menempelkan kaca itu.

"Haah, akhirnya selesai juga." Ucap mereka kompak. Mereka menatap cermin itu diatas meja.

"Arigatou, Jingyi. Kau sudah mau membantuku."

"Itulah gunanya teman, Sakura."

Mereka berdua tersenyum sesaat.

Entah dorongan darimana, Sakura ingin bercermin lewat cermin itu. Ia pun bercermin. Sakura melihat bayangan dirinya di cermin itu. Namun, ada sosok lain di belakangnya. Sosok itu menatap Sakura lewat cermin itu.

Sosok itu tersenyum misterius kearah Sakura.

Terasa saku kantongnya bergetar. Sakura mengambil smartphonenya di sakunya, ia membuka pesan singkat di ponselnya. Setelah membaca, Sakura memasukan lagi ponsel pintarnya ke saku bajunya.

"Ayo Jingyi kita keluar. Aku harus pulang sekarang."

"Ayo. Lagipula aku harus menemui seseorang di taman belakang."

Mereka berdua merapikan peralatan yang ada. Setelah selesai, mereka berjalan keluar perpus. Mengabaikan onyx yang sedari tadi masih melihat mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mobil sport berwarna kuning itu berhenti di parkiran. Mereka berdua keluar dari mobil, lalu berjalan masuk ke dalam Tokyo Hospital. Sebuah Rumah Sakit terkenal yang terletak di pusat kota Tokyo.

Setelah berbicara dengan resepsionistnya. Mereka berdua akhirnya mendapat Dokter yang masih berjaga walaupun waktu telah menunjukan jam tujuh malam.

Langkah kaki mereka berhenti di depan pintu, yang tertera nama Dokter Senju Suzune.

Sakura mengetuk perlahan pintu putih itu. Tak lama terdengar sahutan mereka untuk masuk. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan yang tak begitu luas, dengan aksen putih gading yang khas.

Naruto dan Sakura duduk di kursi tepat di hadapan dokter bersurai hitam pendek itu.

"Oh, Haruno-san. Senang bertemu anda lagi."

Naruto dan Sakura saling pandang sebentar, lalu mereka kembali melihat Dokter itu.

"Aku belum memberitahu siapa namaku, tapi dokter telah menyebutkan Nama margaku."

"Iyah, aku sangat mengenal keluarga Haruno dari kakakku. Dia adalah Dokter yang sering menanggani keluarga Haruno. Tapi, sekarang dia sudah pensiun dari dokter. Semenjak kedua orang tua anda meninggal." Ucap Suzune menjelaskan.

Sakura mengangguk paham.

"Baiklah, Haruno-san. Apa keluhan anda?"

Sakura menaikan lengan bajunya yang terbilang panjang hingga kesiku, "Tubuhku sering muncul luka memar. Aku tidak tahu kenapa. Anehnya setiap aku bangun tidur, luka-luka memar itu muncul satu persatu."

Suzune tampak mencerna ucapan Sakura, "Apa Haruno-san sering terjatuh, atau apa anda menderita kelainan kulit di tubuh anda?"

Sakura mengelengkan kepalanya, "Tidak dokter. Aku dari kecil tidak mempunyai kelainan kulit, hingga sekarang."

"Haruno-san, aku ingin memeriksamu sebentar. Silahkan anda berbaring di ranjang."

Sakura menuruti perkataan Dokter Suzune, ia membaringkan tubuhnya di ranjang.

Terlihat Dokter Suzune mulai memeriksa tubuh Sakura.

.

.

.

"Detak jantung anda normal. Dan organ-organ tubuh juga berfungsi dengan baik. Tidak ada yang mengalami gagal fungsi ataupun terinfeksi virus. Semuanya terlihat baik-baik saja."

Naruto dan Sakura terlihat kaget saat Dokter Suzune mengatakan hasil analisanya.

"Itu tidak mungkin, dokter. Kau lihat sendiri 'kan gimana keadaan Sakura. Dia bahkan terlihat pucat. Tapi, kau malah bilang dia baik-baik saja? Apa kau buta, hah!"

Suara amarah Naruto terdengar menggema di ruang yang tak terlalu luas tersebut.

"Aku hanya menyampaikan analisaku, anak muda. Jadi kumohon jangan berisik. Ini rumah sakit."

Suzune terlihat menahan amarahnya. Ia tidak ingin membuat keributan di rumah sakit. Atau pasien yang lain dapat terganggu karena ulah Naruto.

"Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa melihatnya sendiri saat mengambil laporan." Sambung Suzune.

"-Oh iyah, karena sudah lama kami tidak memeriksa keluarga Haruno. Haruno-san harus di data kembali. Karena data lama yang kami punya sudah hilang."

Suzune terlihat mencari sesuatu di dalam laci. Ia mengeluarkan sebuah lembar kertas yang di ketahui adalah data pasien, dan satu buah pulpen.

"Baiklah, siapa nama lengkap anda?" tanya Suzune.

"Haruno Sakura."

Terlihat kedua onyx itu membulat menatap Sakura. Membuat tanda tanya besar di kepala Sakura.

"Kenapa dokter, apa ada yang salah?"

"Tidak ada,- anda anak keberapa?", Mungkin dia berasal dari keluarga lain.

"Anak ke-1."

Sudah kuduga.

"Siapa nama kedua orang tua anda?

"Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki."

Dan detik itu juga kedua Iris Suzune terbelalak, setelah mendengar jawaban terakhir dari mulut Sakura.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto terus mengemudi di jalanan yang cukup sepi. Mengingat jalan ini adalah satu-satunya jalan untuk cepat sampai ke rumah Sakura.

Setelah mendapat pesan dari Ayame. Sakura langsung mengajak Naruto untuk pulang. Tak peduli Dokter Suzune menatap keduanya bingung. Namun, Naruto mengerti kenapa Sakura terlihat sedih. Sakura bercerita padanya tentang sms itu kalau kakeknya, Jiraya. Telah tiada.

Hingga sekarang masih terdengar sesegukan yang keluar dari bibir mungil itu. Sangat terdengar bagaikan melodi kematian bagi Naruto.

Ia benar-benar tidak tega melihat Sakura menangis. Jadi yang ia lakukan sekarang adalah berusaha mengendarai secepat mungkin, agar Sakura segera tiba di rumahnya.

Namun, keadaan tidak berjalan mulus. Mendadak mobil sport yang di kendarai Naruto berhenti tepat di bawah pohon.

Naruto menggeram kesal. Ia benar-benar tak habis pikir kenapa mobilnya mogok di saat genting seperti ini.

Kenapa harus mogok di jalan yang sepi ini, sih!

Naruto mengeluarkan ponsel miliknya. Ia menghela nafas kasar saat tidak ada sinyal yang tertera di ponselnya. Ia pun membuka pintu, lalu keluar dari mobil. Naruto mengarahkan ponselnya ke udara, berharap bisa mendapatkan sinyal. Nihil, tidak ada satupun sinyal yang tertangkap di ponselnya.

Tidak mau menyerah. Naruto mengarahkan ponselnya ke kirinya. Detik itu juga ia mendapatkan sinyal.

Tanpa buang waktu ia akan menghubungi temannya, Sasuke.

Namun, Naruto mengurungkannya. Kedua iris Naruto terbelalak, mulutnya terbuka sedikit, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia sangat syok melihat pemandangan di hadapannya.

Tanpa sadar ponsel yang ia genggam terlepas dari genggamannya dan terbanting ke tanah. Cukup keras, hingga membuat Sakura mengadahkan kepalanya.

Gadis itu melihat Naruto dengan tatapan bingung.

"Apa yang kau lihat, Naru.."

Ucapan Sakura terputus saat ia juga melihat kearah pandang yang sama dengan Naruto.

Deg!

Seketika kedua iris korofilnya terbelalak saat melihat kearah pohon.

Disana tepat di bawah pohon. Berdiri seorang gadis belasteran China-Jepang yang tewas mengenaskan. Terlihat ranting pohon yang tajam menembus jantungnya. Darah segar berwarna merah kenal itu masih terus mengalir kebawah, bak mata air yang mengalir.

Terlihat ekspresi mayat itu mengadah keatas, dengan onyx yang melotot sempurna, dan lidah yang terjulur. Seolah-olah ada yang menarik kencang lehernya.

"Tidak... Wu Jingyi...!"

Sakura berteriak kencang memecah kesunyian malam. Namun, hanya ada suara gesekan daun-daun yang tertiup angin yang masih menonton apa yang sedang terjadi.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hai Minna-san! Ketemu lagi nih sama aku. Aku gx lama kan ngilangnya #ditimpukin_readers

Gimana fict ini minna? Apa fictnya gaje? Hah, pastinya gaje nih!
Oh, iyah. Masih butuh saran, dan kritik dari kalian. Jadi mohon dukungannya yah!

Arigatou, minna-san!

#WhiteFox