Flasback ON
Langkah kaki terdengar pelan memecah kesunyian malam. Gemerisik daun saling bersahutan, seolah mengusir seorang manusia yang tengah berjalan melewatinya. Hewan malam mulai bersuara nyaring disekitar pepohonan tinggi menjulang di kiri kanan jalan.
Terlihat gadis berperawakan mungil tengah berjalan, sesekali iris onyxnya melihat arloji yang menempel di pergelangan tangan kanannya. Perasaan takut masih mengepung dirinya. Tetapi, bayangan dosen kilernya membuat ia mengurungkan niat untuk kembali ke mansionnya yang terletak beberapa blog dari jalan ini. Ia harus mengambil bukunya yang di pinjam Sakura, atau besok tamatlah ketenangannya.
Namun siapa sangka jika ia tidak sendiri.
Tak jauh di belakang terlihat sosok berwajah setengah rusak berdiri melayang mengikuti langkah si gadis.
Gadis bersurai hitam panjang itu menghentikan langkah kakinya. Jingyi memegang tengkuk lehernya. Ia yakin sekali ada hembusan angin dingin yang membelai kulit lehernya. Dan sepertinya hanya angin dingin yang kebetulan lewat, tanpa ada awan hitam diatas sana. Hanya sinar bulan tanpa bintang yang menemaninya, aneh sekali.
Jingyi mempercepat langkahnya. Berharap matanya melihat sebuah mansion tua tak jauh di hadapannya. Tapi, nihil. Ia tak menemukan apapun kecuali jalanan yang sepi.
'Hihihihihi.'
Tiba-tiba tubuh mungil Jingyi terhempas kekiri lalu menabrak pohon besar. Menimbulkan bunyi 'brak' yang cukup kencang.
"Akh!"
Jingyi merasakan sakit yang luar biasa di punggungnya. Tak berhenti sampai disitu, Jingyi merasakan kedua kakinya ditarik kencang, dan berhenti tepat di tengah jalan. Selang beberapa detik tubuhnya di tarik kembali kebelakang hingga kepalanya terbentur trotoar jalan, lalu kakinya kembali di tarik lagi ke tengah jalan. Dan begitu seterusnya sampai delapan kali.
"Akh sakit, hentikan!"
Tubuh Jingyi ditarik lagi hingga punggungnya menabrak pohon lagi untuk kedua kalinya.
Jingyi melihat beberapa luka lecet di beberapa kulit tubuhnya, akibat luka itu ia mendapatkan rasa perih menggerogotinya. Surai hitam panjangnya sedikit berantakan, dan ada beberapa lubang terlihat dibajunya.
'Terimakasih telah membantuku, Hihihihi.'
Lantunan suara itu terdengar berdengung di telinga Jingyi. Tubuhnya bergetar hebat, jantungnya berdetak lebih cepat, nafasnya memburu tak karuan. Ia ingin lari secepat mungkin. Perasaan tak enak terlihat nyata di sekitarnya.
Terlihat beberapa ranting pohon menyatu di atas pohon, membelit cepat leher Jingyi dan menariknya keatas.
Jingyi memegang rating pohon di lehernya, berharap tidak terlalu menjeratnya. Ternyata Ia masih bisa bernafas walaupun tidak leluasa.
"Lepaskan aku, kumohon." Pinta jingyi.
Tubuh mungilnya berontak di udara. Ditengah kepanikannya, tanpa disadari terpaut jarak tiga puluh centimeter sebuah dahan pohon berukuran sedang berujung runcing menghadap langsung kearah jantungnya.
'Selamat datang di duniaku, Wu Jingyi.'
Dengan cepat ranting pohon itu menarik leher mulus Jingyi merapat ke pohon.
Czrass.
Batang pohon itu telah menembus jantungnya. Darah segar mengucur deras bak air yang tumpah. Kedua iris onyx itu membulat, tubuh Jingyi mendadak kaku, perlahan kulit tubuhnya memucat, dan wajahnya yang pucat menunjukan raut kesakitannya.
'Hihihihi.'
Sosok itu tengah melayang dengan senyum mengerikannya. Perlahan sosok itu menghilang meninggalkan jasad sang gadis yang masih tersangkut diatas pohon oak itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mira Ga Ware
.
Disclamers: Masashi Kishimoto
Story By: White Fox
Main Pairing: karinSakuSasu
Genre: Horror, Supranatural, Romance(sedikit)
Warning: AU, Ide Pasaran, Typo, Multichap, Slight NaruSaku, Dan Banyak Cacat Lainnya.
Silahkan ketik back untuk kembali karena aku tidak memaksa para readers untuk membaca fictku ini karena fict ini mungkin melenceng dari kata sempurna
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 5
.
.
.
.
.
.
.
.
Tiga hari berlalu, Sakura menjadi pendiam dari biasanya. semenjak insiden yang menimpa kakeknya serta temannya, Jingyi. Rasa trauma melihat wajah keduanya masih terbayang di kepala pinknya. Namun, disisi lain rasa penasaran pun ikut timbul. Mengapa kematian mereka menimbulkan tanda tanya. Siapakah pembunuhnya? Itulah yang dipikirkan oleh gadis musim semi itu.
Tepat seperti saat ini ia melamun disaat yang lain mendengarkan dosen kesenian yang sedang menjelaskan tata cara mengaplikasikan berbagai warna diatas kanvas putih di hadapannya. Tanpa mengetahui jika sekarang dosennya kini tengah berdiri di sampingnya.
"Haruno?!"
Sakura tersentak kaget. Ia melihat suzune berdiri tepat disamping kanannya. Kini ia pun menjadi pusat tatapan mata akibat ulahnya yang melamun di tengah jam kuliah.
"Wajahmu pucat sekali, apa kau sakit?"
"Tidak sensei, aku hanya kurang tidur." Dustanya.
"Baiklah, jika kau tidak kuat. Kamu bisa ke UKS dan beristirahat disana."
Sakura mengangguk mengerti. Suzune pun kembali menerangkan. tapi, sekeras apapun usahanya untuk tetap fokus, pikirannya tetap saja melayang pergi ketempat lain.
"Sekarang mulailah kalian untuk melukis. Pandanglah objek buah yang ada di hadapan kalian. Fokus, lalu tuangkan apa yang kalian lihat ke kanvas. Sensei beri waktu satu jam untuk menggambar."
"Hai'i sensei."
Terlihat semuanya mulai melukis. Tak terkecuali Sakura. gadis manis itu terus menggambar dengan pikiran kosong. Dia bahkan tidak melihat buah itu untuk beberapa detik. Sakura terus melukis tanpa henti, seolah mata dan pikirannya terpaku pada kanvas di hadapannya.
Sensei bersurai hitam sepunggung itu berjalan sambil melihat satu persatu lukisan yang dibuat muridnya. Langkah kaki suzune berhenti. Kedua alisnya menekuk melihat satu lukisan yang hampir selesai. Lukisan itu melukiskan sebuah keluarga, dengan dua anak perempuan. Namun, yang terlihat aneh mengapa lukisan keluarga tersebut berwajah tanpa ekspresi, mengenakan baju serba hitam, dan satu anak perempuan yang berdiri dibalik punggung tegap pria dewasa di lukisan.
Anak perempuan itu terlihat samar dan mengerikan.
"Kau harus melukis buah itu, Haruno-san. Bukan melukis keluargamu."
Terlihat iris hijau bening itu terbelalak melihat lukisan yang dibuatnya.
'Tunggu dulu, Apa itu aku?'
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura mulai membereskan peralatan melukisnya. Irisnya melihat jam dinding.
'Masih empat jam lagi.'
Setelah selesai merapihkan syal yang melingkar di lehernya. Ia pun berdiri dan matanya melihat kearah lukisan itu lagi. Terlihat suram, sedih dan mengerikan secara bersamaan.
Sakura melangkah menjauhi kursinya. Membiarkan lukisan itu tergeletak di sudut kelas. Tangan lentiknya membuka pintu. Tapi, sebelum ia sempat membukannya. Pintu itu terbuka lebih dulu, dan menampilkan seorang pria yang akhir-akhir ini selalu bersamanya.
"Kupikir kamu lupa dengan janji kita, naruto-kun."
Naruto memberikan cengiran lima jarinya.
"Seorang lelaki harus menepati janjinya. Baiklah, ayo Sakura-chan."
Naruto memberikan ruang agar Sakura keluar dari ruangan itu.
'Naruto..'
Pria blonde itu menghentikan tangannya yang menutup pintu. Iris birunya melihat seisi ruangan.
Sakura menaikan satu alisnya melihat tingkah Naruto yang terbilang aneh itu.
"Ada apa, Naruto-kun?"
"Tunggu sakura-chan."
Naruto masuk ke ruangan itu.
Kosong.
Tidak ada seorangpun kecuali dirinya. Lalu siapakah yang baru saja memanggilnya?
Naruto masih mengedarkan Irisnya mencari seseorang yang memanggil namanya. Hingga kedua matanya tertuju kearah sebuah lukisan terpajang di sudut ruangan. Lukisan itu memperlihatkan sebuah keluarga dengan satu anak perempuan bersurai softpink sepunggung, tengah berdiri di depan kedua orangtuanya.
"Apa yang kamu lakukan, Naruto-kun?"
Naruto menghentikan kakinya yang hendak melihat lukisan itu lebih dekat. Ia berbalik lalu berjalan menghampiri Sakura di depan pintu.
"Yosha! Kita ke Tokyo Park sekarang!" seru naruto semangat.
Sakura hanya menggelengkan pelan surainya. Mereka pun berjalan keluar menuju loby parkir.
Ada yang aneh?
Tokyo park adalah sebuah tempat yang luas dengan puluhan wahana yang siap menghibur para pengunjung. Berbagai orang berlalu lalang dengan riangnya. Ada yang berkunjung bersama keluarga, tak sedikit pula yang datang membawa pasangannya. Hingga menjelang hari menjelang sore masih banyak pengunjung yang berjalan kesana kemari, sama halnya dengan kedua sejoli ini.
Naruto dan Sakura terus berjalan melihat stand dan wahana yang ada.
Naruto masih ingin tetap di tokyo park, karena ada sesuatu hal yang mengganjal hatinya untuk segera pulang. Bahkan ia menulikan pendengarannya ketika beberapa kali mendengar gadis disampingnya meminta untuk membawanya pulang. Tapi, seteguh apapun pendirian Naruto, ia akan luluh juga karena melihat wajah Sakura yang mendadak berubah pucat.
Akhirnya Naruto mengiyakan keinginan Sakura. mereka berjalan menuju gerbang keluar. Tiba-tiba Naruto menghentikan langkahnya di depan sebuah tenda berwarna hitam. Ia melihat papan disamping tenda. Sebuah ide muncul di kepala pirangnya.
"Sepertinya menarik, Sakura-chan. Bagaimana kalau kita masuk dulu sebelum pulang?"
Sakura menghela nafas panjang.
"Satu kali saja, yah."
"Siap tuan putri."
Keduanya berjalan masuk ke dalam tenda. Setelah masuk mereka disuguhkan kegelapan yang hanya ditemani cahaya temaram dari bola bolat. Hanya ada karpet beludru bersih, satu meja, dan wanita bersurai pirang pucat tengah duduk di depan meja.
"Selamat datang di standku. Ada yang bisa saya ramal?" Ucap gadis itu ramah.
Seketika mereka berdua terkejut melihat seseorang yang mereka kenal berada disini, dan lebih terkejutnya lagi dia seorang peramal.
"Ternyata kalian berdua yang datang, aku tidak menyangka."
"Aku juga tidak menyangka kau seorang perama, Shion-chan. Kenapa kau tidak memberitahu yang lain?"
Senyum Shion bergaris tipis terlihat di wajah cantiknya.
"Jika aku katakan yang sebenarnya tentang diriku, apa kalian masih ingin berteman denganku?"
Naruto dan Sakura saling pandang sejenak. Mereka benar-benar tidak mengerti maksud dari ucapan shion.
"lupakan. Aku ingin ini menjadi rahasia kita bertiga, mengerti?"
Kedua manusia berbeda gender itu mengangguk mantap.
"Shion-chan, tolong ramal masa depanku."
"Baiklah Naruto. Apapun yang akan aku katakan nanti pasti 89% akan menjadi kenyataan, sisanya dari kalian sendiri bagaimana menyikapinya."
Shion menaruh kedua tangannya diatas bola bulat itu. Terlihat bola kecil itu bercahaya terang. Tiba-tiba cahaya kecil lain muncul seperkian detik, seolah menghentak keluar dari bola kecil itu. raut bingung ketara di wajah keduanya, terkecuali Shion.
Shion membuka kedua matanya. Memperlihatkan kedua iris violetnya yang indah.
"Maaf Naruto. Aku tidak melihat masa depan pada dirimu."
Naruto melotot mendengar jawaban yang keluar dari bibir Shion. Beberapa menit kemudian ia tertawa kencang.
"Haha, kau lucu sekali, shion-chan. Semua orang mempunyai masa depannya masing-masing."
Shion menatap Naruto datar, berusaha menyembunyikan sesuatu dibalik matanya.
"Kau boleh percaya, boleh juga tidak, baka. Aku hanya memberitahu apa yang-"
Shion berhenti berucap. Sebuah gambaran tiba-tiba muncul di kepalanya. Shion memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Ini lebih sakit dari yang biasanya, menurutnya.
Selang lima belas detik gambaran singkat itu menghilang, diiringi dengan rasa sakit dikepalanya. Shion mengalihkan pandangannya ke Sakura. Ia menatap Sakura tajam.
Sakura memegang dada kirinya. Entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Terasa suasana disekitar tiba-tiba menegang.
"sakura-chan, berhati-hatilah, kau diikuti satu roh jahat,-"
Deg!
Deg!
Deg!
Sakura memandang kosong Shion.
"-Perlu kamu tahu, sosok ini sangat berbahaya. Dia menyimpan dendam yang sangat kuat, dialah yang akan membunuh orang-orang terdekatmu. Dan dia juga akan membunuhmu dalam waktu dekat ini."
Sakura merasa jantungnya berhenti memompa, otaknya terasa kosong setelah mendengar ucapan terakhir Shion.
"Adakah cara untuku menyelamatkan diri dari sosok itu, Shion?!"
Belum sempat Shion menjawab pertanyaan Sakura. Naruto telah membawa Sakura keluar. Raut marah terlihat di wajah tampannya.
Naruto tetap menggenggam erat tangan mungil Sakura hingga tiba di parkiran. Mereka menaiki mobil sport milik Naruto, lalu melaju meninggalkan Tokyo Park.
"Kamu jangan terlalu percaya dengan apa yang dikatakannya, Sakura-chan! Dia hanya menipumu!"
Sakura melihat Naruto dengan sorot mata kosong. Naruto menghela nafas pasrah. Ia akan mengantar Sakura ke mansion.
'Gagal sudah rencanaku, ttebayou!'
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah melewati kemacetan yang panjang. Akhirnya mobil sport Naruto tiba di mansion Sakura. Hari telah berganti malam, beruntungnya Sakura menyempatkan diri untuk makan malam dengan Naruto di Restorant, kalau tidak pasti gadis itu akan tidur dengan perut kosong. Mengingat Nenek Chiyo pasti sudah meninggalkan mansionnya. Gadis bersurai panjang sepinggang itu turun dari mobil. Ia menengok ke kaca pengemudi. Korofil dan Blue sappire bertemu.
"Istirahatlah sakura-chan."
Sakura tersenyum lembut. Tak tahu'kah kamu Sakura hanya dengan melihat senyummu saja sudah membuat Naruto doki-doki tidak karuan.
"Baiklah, jaa ne."
"Matta ashita, Naruto-kun."
Naruto menutup kaca mobilnya. Tangan kekarnya mulai menghidupkan mesin. Mobil sportnya dengan kecepatan sedang berjalan menjauhi manshion sakura.
Sakura melambaikan tangannya sekilas. Kemudian ia arahkan kedua kaki jenjangnya memasuki mansion itu. Sebelum masuk ia mengambil ponselnya yang berdering di dalam tas. Tidak mungkin jika itu dari Naruto yang baru saja pergi meninggalkannya.
To: Saku-chan.
Maaf baachan sepertinya akan pulang telat karena pekerjaan baachan masih banyak di kantor. Tidak apa-apa'kan kalau Saku di rumah sendirian? Nanti baachan belikan jus cherry untukmu, Honey.
-Ayame baachan.
Menghela nafas berat. Suka atau tidak suka, ia tetap saja sendirian di mansion itu. Sakura berjalan masuk ke dalam.
Sampai juga ia dikamarnya. Sakura menutup pintu rapat pintu kamarnya. Kemudian berjalan menuju ranjangnya.
Sakura tersentak ketika angin kencang tiba-tiba masuk kamarnya. Dia merasa udara di kamarnya sangat normal beberapa menit yang lalu. Namun bagaimana bisa tiba-tiba angin bertiup kencang, hingga membuat syal tipis yang melingkar di lehernya terbang.
Beruntung syal miliknya tidak terjatuh ke bawah halaman depan mansion. Sakura berjalan menuju balkon kamarnya. Hendak mengambil syalnya sebelum angin menerbangkannya lagi. Tapi naas, keberuntungan sedang tidak memihaknya sekarang.
Angin kencang kembali menerbangkan syalnya hingga terjatuh dari ketinggian dua puluh kaki dari tempatnya mendadak mencekam. Sakura merasakan jantungnya memompa lebih cepat. Tanpa pikir panjang Sakura keluar dari kamarnya.
Sakura bisa mendengar derap langkah kakinya terdengar menggema di mansion mewahnya.
Ia membuka pintu depan mansion. Hawa dingin segera melingkupinya. Ia tidak mau berlama-lama diluar. Tidak mau ambil resiko bahwa ia akan jatuh sakit akibat terlalu lama diluar.
Sakura berjalan keluar menjauhi pintu. Semuanya tampak normal sampai Sakura menghentikan langkahnya. Irisnya tampak mengecil, mulutnya terbuka, ia menutupi mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Wajahnya yang ayu tampak memucat. Sakura sangat shock melihat pemandangan di depan matanya.
Sakura melihat seorang wanita tengah tergeletak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Kepala gadis itu terlihat berlumur cairan kental berwarna merah. Aspal di sekliling kepala sang gadis juga ikut terkena cairan berbau amis itu. Ia tidak bisa melihat jelas raut wajah gadis itu karena posisi kepalanya membelakanginya.
Baru saja Sakura ingin membuka suaranya. Tiba-tiba Perasaan sakit menyerang perutnya. Namun sakitnya seperti tak wajar. Ia merasa perutnya seperti sedang terusuk benda tajam. Padahal ia sama sekali tidak memegang benda tajam itu.
Saat sakura mengarahkan maniknya ke arah perutnya. Sakura sangat terkejut melihat darah segar mengalir deras dari perutnya. Meluncur turun Hingga mengenai kaki jenjangnya. Ia bisa mendengar jantungnya memompa lebih cepat.
Dengan nafas memburu. Sakura berlarian ke dalam Mansion. Ia tidak menghiraukan pintu terbanting, atau kakinya yang terasa pegal ingin berhenti. Ia benar-benar takut sekarang.
Sakura kembali membanting pintu kamarnya. Lalu berjalan cepat kearah cermin riasnya. Sakura berdiri dihadapan cermin. Ia ingin memastikan bahwa apa yang dilihat matanya tadi tidak 'lah nyata, atau bisa dibilang hanya ilusinya semata.
Dan benar saja, Sakura menghela nafas lega. Ia tidak melihat cairan darah itu lagi yang keluar dari perutnya. Satu tetes pun tidak ada mengenai dress yang ia pakai.
Tin tin tin
Suara klakson mobil terdengar dari arah gerbang. Sakura melangkahkan kakinya kembali keluar dari kamarnya. Ia tidak melihat darah segar menetes mengenai di setiap marmer mengkilap di bawahnya.
Sakura memencet tombol di samping pintu besar itu, lalu dengan cepat tanganya menarik kembali gagang pintu besar. Betapa terkejutnya, di hadapannya telah berdiri wanita lima tahun lebih tua darinya tengah tersenyum lembut kearahnya.
"Kami-Sama. Bibi kau membuatku kaget!"
Segera Sakura berjalan hendak menunjukan sesuatu di hadapannya, sambil menarik paksa salah satu tanganya.
"Baachan tadi Saku lihat-" Sakura memutuskan ucapannya saat ia tidak melihat apapun di aspal hitam tepat dibawah balkon kamarnya. Ia mempertajam lagi penglihatanya. Tapi, sekali lagi ia tidak melihat apapun. Tidak ada wanita dan darah dimana-mana, seperti yang ia lihat beberapa saat yang lalu.
Tiba-tiba hawa dingin berhembus di kulit tengkuk lehernya.
"Saku-chan kenapa kamu diluar?"
Deg!
Terdengar langkah kaki berjalan mendekatinya.
"Kau bisa masuk angin jika melamun diluar."
Reflek Sakura melihat Ayame tengah berdiri di sampingnya. Wajah Ayame menyiratkan kekhawatiran. Lalu ia arahkan matanya kearah belakang. Sakura tidak melihat Ayame yang harusnya berada di belakangnya. Jika Ayame ada disampinya yang baru saja datang, lalu siapa yang datang beberapa detik yang lalu. Sakura tampak mematung di tempat. Tatapan matanya ke Ayame terlihat kosong. Wajahnya menyiratkan ketakutan.
Ayame melihat keadaan Sakura yang tampak sedikit berantakan di matanya. Tangan mulusnya ia arahkan ke kening lebar Sakura. Dingin Ayame rasakan saat tangannya menempel di kening keponakannya itu.
Seperti sadar dari hipnotis. Sakura mengerjapkan matanya. Ia melihat Ayame berdiri di hadapannya masih dengan raut wajah khawatir.
"Baachan, kenapa kamu telat pulang. Hiks." Sakura memeluk erat tubuh Ayame sambil menangis karena sangat ketakutan.
"Maaf mobil Baachan di pertigaan tiba-tiba mogok. Harusnya baachan sudah sampai rumah tepat jam delapan malam. Jadi baachan ke bengkel dulu tadi. Beruntung ada teman kerja baachan yang mau mengantar baachan sampai rumah-,"
"-Sakura, ayo kita masuk."
Ayame membawa Sakura masuk ke dalam mansion. Sebelum masuk Ayame melihat keluar sekali lagi. Tatapannya sulit diartikan saat melihat keluar. Setelah melihat tidak ada siapapun, ia menutup pintu besar mansion itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura keluar dari kamarnya. Saat itu juga ia melihat sesuatu yang aneh. Ia melihat Nenek chiyo keluar dari kamar Karin dengan langkah tergesa. Raut ketakutannya tidak bisa disembunyikan di wajah rentanya.
Wanita berumur setengah abad itu berjalan menuruni anak tangga, tanpa tahu jika sepasang iris korofil melihatnya sejak keluar dari kamar itu.
Kamar Terkutuk.
.
.
.
.
.
.
.
.
Semuanya berubah sejak kematian Jingyi. Ia termasuk salah satu primadona di kampus. Gosip negatif menyebar cepat ke seluruh kampus. Tidak ada satu orangpun yang tidak tahu akan kematiannya yang terbilang tragis.
Tak sedikit temannya yang rela kehilangan sosok Jingyi. Hingga mereka pun gelap mata. Mereka mengetahui jika sebelum Jingyi mati, dia sempat ingin bertemu Sakura. Untuk terakhir kalinya.
"Haruno Sakura."
"Kurenai-sensei, Sakura sudah mati lima hari yang lalu. Kenapa masih saja menyebut namanya?!" ucap salah satu murid di ruang kelas tersebut.
Kurenai menghela nafas pasrah.
"Baiklah sekarang buka tugas matematika kalian."
Sakura mengambil bukunya di tas miliknya. Betapa terkejutnya ia saat tahu tangannya mengambil buku yang ia pinjam di dalam tasnya.
Sakura menaruh buku itu dan bukunya di atas meja. Sekali lagi matanya tanpa sengaja melihat coretan di mejanya.
Harusnya kau yang mati, Bitch!
Haruno sialan.
Pergi kau, Jalang!
Dasar wanita tidak tahu diri!
Begitulah isi coretan yang di hasilkan tipe X dan spidol hitam permanent memenuhi mejanya. Ia arahkan kedua iris hijau beningnya kearah meja disamping kirinya. Terdapat sebuah boneka manusia, sangat cantik dengan surai hitam panjang, dan pony tengah yang rapih.
'Kamisama, apa yang harus kulakukan? Apa salahku?' Sakura membatin.
.
.
.
Bel tanda istirahat telah berbunyi nyaring. Hampir semuanya mengeluarkan bekal mereka di atas meja. Terlihat empat orang gadis berjalan menghampirinya, ralat menghampiri boneka cantik itu. Mereka mengambil kursi lalu duduk mengelilingi boneka.
"Jingyi, ayo kita makan bersama."
Mereka membuka bekal mereka, tak lupa mereka juga mematahkan sumpitnya menjadi dua.
"Ittadakimashu!"
Mereka mulai menyantap bekal mereka. Kecuali gadis beriris tiara yang terus menatap gadis yang kini telah berjalan keluar meninggalkan kelas.
Hanya ia yang tidak bisa mengabaikan keberadaannya. Tidak seperti kebanyakan orang terutama para sahabatnya, yang secara terang-terangan mengabaikan sosok gadis manis khas musim semi itu.
.
.
.
Sakura tahu jika hampir semua orang mengabaikannya. Bahkan mereka tidak melihatnya sedikitpun. Sakit sekali. Maka dari itu ia memutuskan untuk pergi dari kelasnya. Sekarang ia hanya sendiri di atap sekolah. Ditemani semilir angin musim panas yang menerpanya, serta langit biru yang menatapnya diatas cakrawala.
"Nande?" Gumamnya pelan.
Brak!
Sakura terlonjak kaget ketika mendengar suara pintu terbanting dengan kencangnya. Kedua matanya melotot menatap pria yang sedang berjalan menghampirinya, jangan lupakan wajah tanpa dosa yang terpasang di wajah tampannya.
"Kenapa kamu disini, Sakura-chan?" Ujarnya polos.
"Menunggu hantu." Sakura menjawab asal.
"Sakura-chan, berhentilah membicarakan sesuatu yang menakutkan."
"Kau yang menakutkan! Gara-gara kamu membuka kencang pintu itu, aku hampir saja terjun kebawah karena kaget."
Sedetik kemudian terdengar suara menahan tawa yang keluar dari bibir pria berkulit tan itu.
"Apa yang lucu?!"
"Ketika kau marah, pipimu terlihat lebih besar dua kali lipat, Sakura-chan."
Bias merah mewarnai pipi tembam Sakura. Reflek dia membuang wajahnya kearah samping agar tidak terlihat oleh Naruto.
Senyum hangat Naruto merekah. Ia melihat kembali kedepan. Terdapat awan-awan yang bergerak pelan mengikuti angin yang menggiringnya.
"Aku tahu apa yang kau rasakan saat ini."
Hening mereka rasakan saat ini. Mereka terlalu hanyut dengan pikiran mereka masing-masing.
Sakura terkejut saat tangan kekar itu menggenggam erat tangan mungilnya. Memberikan sensasi hangat dan nyaman secara bersamaan. Kedua iris kontras itu bertemu.
"Dengar sakura-chan, walaupun kamu di jauhi satu kampus, satu kota ataupun satu dunia. Aku tidak peduli. Aku akan selalu bersamamu. Kumohon jangan bersedih. Aku ingin sekali melihat senyumanmu walaupun kau tahu itu sangat menyakitkan."
Iris korofil membulat. Sakura merasa jantungnya berdetak lebih cepat setelah mendengar kata-kata Naruto.
Kedua iris blue sappire itu masih menatap Sakura. Tidak ada kesan kebohongan yang terpancar di iris biru indah itu. Hanya, ketulusan yang terlihat jelas. Sangat jelas, hingga membuat Sakura diam seribu bahasa.
"Tetaplah tersenyum, Sakura-chan."
Air mata mengenang di kelopak matanya, sakura mengarahkan matanya kebawah. Membiarkan air matanya menetes jatuh.
Tak lama Sakura merasa tubuhnya di tarik pelan, lalu di dekap dengan hangat.
"Tidak apa, menangislah Sakura-chan."
Satu tangan kekarnya mengelus lembut pucuk surai Sakura. Tanpa butuh waktu lama Naruto mendengar suara sesegukan berasal dari gadis dalam pelukannya.
Mereka tak mengetahui jika seorang pria tengah berdiri di balik pintu atap. Onyxnya memandang dingin kedua insan yang sedang berpelukan tersebut.
Dengan langkah pelan pria bersurai raven itu menuruni anak tangga. Tanpa tahu sosok yang ia incar kini menampakan dirinya di depan pintu.
Sosok yang terbang melayang itu memunculkan seringai seramnya. Setelah melihat Sasuke tidak terlihat lagi di depan matanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
Zona bacot author:
Gomen minna-san aku updetnya telat, dan alur ceritanya yang membingungkan.
Butuh koreksinya donk dari kalian. Aku sangat-sangat butuh saran dari kalian!
pasti kalian bertanya-tanya, mengapa aku pakai tokoh orang ketiganya adalah Naruto? Jawabannya simpel, yaitu dialah tokoh yang benar-benar cocok untuk menepati posisi orang ketiga dalam sudut pandang. Jadi, aku harap kalian jangan salah paham dulu SasuSaku Lovers.
Dan terima kasih bagi kalian yang setia membaca fict karyaku. Walapun karyaku masih jauh dari kata bagus. Ok minna-san honto ni arigatou gozaimashu!
Tanks to:
Victoriavict, , Kiirach, Rein Riekho Kei, achii, , ss, Harayuki, hanazono yuri, echaNM, Shelly, dewazz.
#White_Fox
