"Bagaimana, Dokter tsunade?"
Itachi menatap dokter dihadapannya.
"Tengkorak kepalamu masih sama seperti dulu, karena kamu terlalu banyak pikiran dan tertekan itulah yang membuat kepalamu terasa sangat sakit. Akan kuberikan obat penghilang rasa sakit dosis tinggi, hanya diminum saat kepalamu sakit lagi."
Tsunade menulis dengan cepat diatas secarik kertas, lalu memberikannya kepada Itachi.
"Terima kasih, Dokter Tsunade."
Itachi tersenyum tipis. Kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan. Saat Itachi membuka pintu. Sepasang Onyxnya sedikit membulat. Dihadapannya berdiri seorang gadis bersurai pink berombak dengan wajah setengah rusak. Membuat Itachi menelan ludahnya kasar.
Gadis itu masih menatapnya dengan sorot mata tak tentu. Sedih, kecewa, marah dan rindu?
Itachi memberi ruang untuk gadis itu masuk. Lalu melanjutkan kembali langkahnya. Namun, tak beberapa jauh ia menghentikan langkahnya.
Tidak, ini tidak mungkin, pikirnya.
Karena terlalu fokus dengan sorot mata gadis itu, membuatnya hampir melupakan satu hal.
Itachi berjalan kembali menuju ruangan Dokter Stunade.
Itachi mengumpulkan keberaniannya sebelum membuka pintu tersebut. Setelah pintu itu terbuka ia menahan nafasnya.
"Kenapa kembali, Uchiha-san? Apa anda kesulitan menemukan apotiknya?"
Itachi hanya melihat Tsunade yang tengah membereskan peralatannya diatas meja.
"Tidak dokter, kupikir ada barangku yang tertinggal. Tapi ternyata tidak ada."
Itachi segera menutup pintu kembali sebelum Dokter Tsunade bertanya lebih banyak. Dengan langkah besar Itachi meninggalkan ruangan itu menuju lantah bawah. Ia harus segera keluar dari rumah sakit ini, dan melupakan fakta bahwa gadis yang beberapa menit lalu ia lihat bukanlah seorang manusia
.
.
.
.
.
.
.
.
Mira Ga Ware
.
Disclamers: Masashi Kishimoto
Story By: White Fox
Main Pairing: karinSakuSasu
Genre: Horror, Supranatural, Romance(sedikit)
Warning: AU, Ide Pasaran, Typo, Multichap, Dan Banyak Cacat Lainnya.
Silahkan ketik back untuk kembali karena aku tidak memaksa para readers untuk membaca fictku ini karena fict ini mungkin melenceng dari kata sempurna
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura mengerutkan kelopak matanya saat sinar matahari memaksa masuk ke retina matanya. perlahan Sakura memperlihatkan kedua iris hijau beningnya. Ia mengerjapkan matanya perlahan untuk menyesuaikan cahaya disekitarnya.
"Ohayou, Nona sakura."
Setelah selesai membereskan gorden, Nenek chiyo melihat nonanya masih terbaring di ranjang Quuen Size miliknya.
"Ohayou, Nenek chiyo."
"Sarapan sudah siap dibawah. Silahkan nona membersihkan diri terlebih dulu."
Sakura menatap kosong langit-langit kamarnya. Entah kenapa semakin hari tubuhnya terasa sangat tidak bertenaga.
Sakura pun turun dari ranjang. Ia melangkah mendekati cermin, dan melihat pantulan dirinya di cermin. Wajah pucat serta luka hitam kebiruan di beberapa bagian tubuhnya termasuk di leher jenjangnya yang masih nampak baru.
Nenek chiyo dengan telaten merapihkan ranjang besar itu. Hanya butuh beberapa menit baginya merapihkan ranjang nonanya.
Nenek chiyo mengerutkan kelopak matanya saat ada sinar menyilaukan mengenai matanya. Ia melihat benda bening yang menyilaukan itu, dan seketika kedua matanya melebar.
Cermin kutukan itu kini telah kembali.
'Hisashiburi, Nenek chiyo.'
Deg!
Nenek Chiyo mengarahkan irisnya kearah suara. Raut terkejut jelas ketara di wajah keriputnya. Tubuhnya mematung melihat kedua gadis yang sangat ia kenal. Disana terlihat sosok Karin yang tengah memeluk tubuh ramping Sakura. Sementara sakura sedang berdiri menghadap cermin, gadis itu mematung seolah-olah dia tidak bernyawa.
Karin menampilkan senyum mengerikannya.
Karin perlahan mengarahkan posisi Sakura menghadap Nenek Chiyo. Tanpa tahu jika kuku jari Karin memanjang seperti sebuah katana. Karin mengangkat tangannya ke udara.
Tubuh nenek chiyo bergetar hebat, kedua pupil matanya mengecil melihat pemandangan yang disuguhkan untuknya.
Karin dengan cepat menebas leher Sakura. Cermin bening berukuran besar itu kini ternodai cairan merah pekat. Bau amis menguar keseluruh ruangan. Darah segar masih mengucur deras dari perpotongan leher Sakura.
Duk...duk..
Terlihat benda bersurai softpink memantul di lantai marmer, lalu menggelinding kearah Nenek Chiyo.
Nenek chiyo masih mematung di tempatnya hingga benda itu mengenai kakinya dan berhenti tepat di kakinya.
Iris hijau itu menatap kosong Nenek Chiyo.
"Tidak!"
.
"-Chiyo.. Nenek chiyo!"
Sakura masih menggoyangkan pelan tubuh Nenek chiyo. Ia tidak habis pikir mengapa Nenek Chiyo bertingkah aneh, padahal beberapa menit yang lalu dia terlihat baik-baik saja.
Nenek chiyo kembali ke alam sadarnya. Dia mengerjapkan matanya berulang kali.
"Nona tidak apa-aapa?"
Nenek chiyo menatap khawatir Sakura.
Sakura balas memandang bingung Nenek Chiyo.
"Aku tidak apa-apa, Nenek chiyo."
Deg!
Kedua pupil Nenek Chiyo mengecil kembali.
"Nenek chiyo, kamu kenapa?!"
Nenek chiyo terdiam melihat bayangan tubuh Sakura tanpa kepala masih terlihat di cermin besar itu. Sakura perlahan melihat arah pandang Nenek Chiyo.
Kosong.
Tidak ada hal yang mengerikan terjadi.
Melihat raut Nenek Chiyo pucat pasif membuatnya tak tega.
"Nenek jika kurang sehat lebih baik Nenek-"
"No, nona segera bersiap. Sebentar lagi jam 7. Nenek akan menunggu di bawah."
Nenek chiyo keluar kamar dengan langkah terburu, lalu menutup pintu pelan. Menyisakan beribu pertanyaan hinggap di kepala merah mudanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Shion merasakan firasat buruk dengan datang terlalu pagi ke kampusnya. Tapi ia tepis jauh-jauh pikiran negatif yang sempat melintas di kepalanya. Ia harus mengerjakan PR melukisnya, mengingat prnya akan di kumpulkan hari ini juga.
Shion memantapkan dirinya kemudian berjalan masuk ke dalam gedung. Ia melihat arlojinya sekali lagi, 07.30 AM.
"Kenapa waktu berjalan lambat sekali." Keluhnya.
Setelah berjalan menelusuri lorong akhirnya ia tiba di kelas seni. Shion berjalan masuk, lalu duduk di kursi tak jauh dari pintu.
Shion menjatuhkan tasnya di meja, lalu Shion menguncir surai pirang panjangnya. Setelah selesai ia mulai mengeluarkan segala peralatannya dan mulai melukis.
Tangan lentiknya dengan lihai memoles berbagai warna di kanvas. Terlihat pemandangan padang rumput luas dengan kedua anak kecil tengah berlari riang di lukisannya.
Kreet.
Shion mengehentikan aktivitasnya. Irisnya melihat ke sekeliling. Hanya ada kursi-kursi kosong yang tak bergerak, dan hawa dingin yang ganjil menglingkupi kelas.
Mengangkat bahu sebentar. Shion kembali melihat ke kanvas. Disaat itulah ia merasakan jantungnya berhenti berdetak.
Lukisannya yang bergambar pemandangan kini berubah menjadi gambar seorang hantu berwajah setengah rusak dengan kedua tangan menjulur kearahnya.
Shion menepis kasar lukisannya hingga terjatuh ke lantai.
Brak!
Terdengar pintu terbanting kencang. Diikuti kursi-kursi yang bergerak cepat tanpa arah. Shion berlari kearah pintu. Tangannya memutar knop pintu. Namun, sia-sia. Pintunya terkunci.
Shion menggedor pintu berulang kali, berharap ada yang mendengarnya.
'Hihihihi.'
Shion mengarahkan irisnya kearah suara. Dan seketika kedua irisnya membulat. Sesosok hantu dalam lukisannya tengah melayang sambil menatap tajam kearahnya. Ini adalah ke sekian kalinya Shion bertemu dengan sosok itu.
"Mau apa lagi kau?!"
Sosok itu menyeringai seram. Perlahan sosok itu terbang mendekati Shion. Hantu tersebut mulai membuka mulutnya yang sobek hingga menganga lebar, memperlihatkan giginya yang runcing bercampur darah. Mengerikan.
Tubuh shion mendadak kaku, wajahnya memucat, kedua iris violetnya mengecil, keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.
'Gawat, aku belum pernah menemukan hantu dengan dendam begitu besar sepertinya. Aku harus keluar dari sini. Tapi, tubuhku tidak bisa kugerakkan.' Shion membatin.
Shion tidak menyangka hidupnya akan berakhir di tangan hantu mengerikan dihadapannya.
'Hihihihi'
Sosok itu melayang cepat kearah Shion.
"Kyaaaa.."
Ceklek!
Shion merasa tubuhnya di tarik paksa oleh tangan yang menariknya keluar. Gadis bersurai indigo itu terlihat mengunci kembali pintu ruangan dengan cepat, lalu menarik tangan Shion menjauh dari kelas. Suara langkah kaki berlarian terdengar menggema di lorong yang masih sunyi itu.
"Kita harus pergi dari sini, kelihatannya hantu itu mengincarmu!" Ucap Hinata.
Shion melihat samar Hinata yang masih menariknya berlari menuju gerbang, sebelum semuanya menggelap.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ayame melihat kembali pantulan dirinya di cermin besar didepannya. Setelah merasa rapih, ia pun bergegas keluar kamar sambil menyeret koper besar miliknya. ia berjalan anggun menuju lantai bawah.
Terlihat Nenek chiyo telah berdiri di pintu masuk.
"Aku akan keluar kota lagi karena pekerjaanku. Mungkin aku akan pulang lusa depan. Tolong jaga Sakura dengan baik, Nenek chiyo."
"Ha'i Ayame-sama. Biar saya yang memasukan koper anda."
"Tidak perlu, aku mendengarnya dari Sakura kalau Nenek sedang tidak sehat. Lebih baik Nenek istirahat saja sebelum sakura pulang."
Ayame tersenyum sekilas. Kemudian ia masuk ke dalam mobil setelah memasukan kopernya.
Ayame menghidupkan mobil sportnya lalu melaju meninggalkan mansion.
"Aku sudah membuat Ayame-sama dan Nona sakura khawatir. Lebih baik aku istirahat dulu."
Nenek chiyo melangkah masuk ke dalam mansion, lalu menutup rapat pintu besar itu. Ia pun berjalan ke arah kamar di ruang tamu.
Nenek chiyo menutup pintu. Ia merebahkan dirinya di ranjang empuk.
'Aku harus memberi tahu Nona, jika cermin itu terkutuk dan harus di musnahkan.' Nenek chiyo membatin.
Nenek chiyo memejamkan matanya, bersiap memasuki alam mimpi.
Krieett.
Terdengar pintu besar itu terbuka.
Tap tap tap tap
Langkah kaki menaiki tangga terdengar jelas masuk ke kupingnya.
Nenek chiyo membuka matanya. ia mempertajam pendengarannya.
Tap tap tap
Tidak salah lagi itu suara langkah kaki, pikirnya.
Nenek chiyo turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Ia menutup pintu kamar kemudian berjalan kearah tangga.
"Ayame-sama?" panggilnya.
Rasa penasaran masih terus menghantuinya. Nenek chiyo pun menaiki tangga satu persatu. Setibanya di lantai atas, Nenek chiyo terkejut mendengar suara yang memekakan telinganya. Suara itu berasal dari kamar Sakura.
"Astaga, nona!"
Dengan langkah terburu Nenek Chiyo menghampiri kamar nonanya. Ia melihat pintu kamar sedikit terbuka.
Nenek chiyo langsung masuk ke kamar. Kedua matanya mencari surai merah jambu di kamar yang bernuansa softpink itu.
Kosong.
Tidak ada siapapun kecuali dirinya.
'Nenek chiyo.'
Wussh.
Kedua iris Nenek Chiyo terpaku melihat sosok karin tengah melayang di samping ranjang.
Karin menatap Nenek Chiyo dengan sorot mata yang tidak bisa di artikan.
"No- nona karin, kenapa kembali? Nona harusnya berada di surga sekarang."
Angin beberapa kali berhembus masuk ke dalam kamar, dan menerpa sosok Karin. Terlihat gorden berkibar mengikuti desiran angin.
Karin membungkam. Tiba-tiba satu tangannya terangkat mengarah ke balkon kamar.
Nenek chiyo melihat arah tunjuk Karin. Ia melihat Sakura tengah berdiri di ujung balkon sambil memandangnya dengan sorot mata sedih.
"Nenek kau jahat! Kenapa kau tidak memberitahuku!"
Nenek chiyo perlahan berjalan mendekati Sakura. Ia merasakan hal buruk akan terjadi lagi.
"Maafkan nenek, Nona. Nenek sengaja menyembunyikan hal ini. Nenek melakukannya semata-mata untuk melindungi nona, agar tidak terjadi untuk kedua kalinya. Tolong maafkan nenek, Nona."
"Kamu berbohong. Nenek tidak melindungiku. Nenek hanya tidak mau kebenaran ini terbongkar'kan?!"
Nenek chiyo melihat Sakura berjalan mundur.
"Tidak, nona jangan mundur, nanti Nona jatuh!"
"Aku ingin bersamanya, Nek. Jangan kau halangi jalanku."
Gadis bersurai softpink itu menjatuhkan dirinya dari balkon.
"Nona sakura!"
Dengan panik Nenek Chiyo berlari ke ujung balkon. Ia kemudian melihat kebawah.
Kosong.
Iris nenek chiyo membulat lebar melihat tidak ada tubuh Sakura yang tergeletak di tanah.
Deg!
"Sayonara, Nenek chiyo."
Tubuh Nenek chiyo melayang di udara. Sepintas Nenek chiyo melihat Sakura menampilkan seringai mengerikan sebelum tubuhnya menghantam tanah.
Bruk!
Kepala Nenek chiyo terlebih dulu sampai di tanah hingga hancur mengeluarkan isinya. Surai keungguannya kini bercampur amis darah. Desiran angin menerpa tubuh Nenek Chiyo yang mulai mendingin, dan membawa serta aroma yang menyengat.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terlihat mobil sport itu berhenti lalu memutar arah kembali ke jalan yang ia lalui. Irisnya melihat kearah jam.
Ia benci menunggu.
Wanita itu mengemudi dengan tenang setelah tahu sekarang dirinya tidak sendiri lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari telah berganti malam, dan Sakura baru pulang dari rutinitasnya. Ia benar-benar lelah menemani Naruto dan teman-temannya minus Sasuke jalan-jalan seharian. Lagi-lagi Sakura mengeluarkan senyum simpulnya. Ia sangat senang seharian ini.
Ting tong.
Sakura menunggu di depan pintu, namun pintu tak menunjukan pergerakan. Ia berniat memencet lagi jika saja suara kunci terbuka tak mengagetkannya. Karena tidak sabaran, Sakura langsung mendorong pintu itu.
"Ya ampun, Nenek. Kenapa lam-,"
Sunyi.
Tidak ada siapapun dihadapannya. Wajah Sakura mendadak pucat.
Kreet.
Terdengar pintu dapur berderit pelan. Sakura menelan ludahnya kasar. Ia pun menghampiri ruang dapur. Sebelum membuka pintu, Sakura menghirup oksigen dahulu. Setelah tenang ia membuka pelan pintu dapur.
Sakura melihat Nenek Chiyo sedang mengaduk masakannya. Sakura tidak bisa melihat wajah Nenek Chiyo karena posisinya membelakanginya.
"Nenek cepat siapkan makanannya, pokoknya Saku ingin masakan Nenek yang lezat itu sudah ada di meja setelah Saku membersihkan diri." Ucap Sakura riang.
Namun nenek chiyo tak mengeluarkan suaranya. Hanya terdengar suara pengaduk dan panci yang saling beradu.
'Ada yang aneh dengan Nenek chiyo.' Sakura membatin.
Sakura menghembuskan nafas lelah. Ia berjalan menuju kamarnya.
Sakura membuka pintu, dan langsung masuk ke kamar mandi. Siraman air hangat membuat rilax tubuhnya. 20 menit berlalu akhirnya Sakura keluar dari kamar mandi. Alis Sakura bersatu melihat cermin riasnya yang besar belum di tutup.
"Tumben sekali Nenek chiyo tidak menutup kaca riasku."
Tidak mau ambil pusing. Sakura melihat pantulan dirinya di cermin.
Terdengar bunyi yang berasal dari perutnya. Sepertinya perutnya tidak bisa berkompromi lebih lama lagi.
Sakura berjalan keluar dari kamar menuju dapur. Sampailah ia di dapur. Tetapi ia tidak keberadaan menemukan Nenek Chiyo.
"Apa Nenek chiyo sudah pulang? Tapi cepat sekali."
Melihat makanan yang tertata rapih, membuatnya melupakan keanehan yang terjadi. Tanpa butuh waktu lama ia menarik kursi lalu segera menyantap makanan itu.
.
.
.
Sakura membuka pintu kamar. Semilir angin dingin menerpa tubuhnya yang hanya tertutupi mantel mandi. Sakura bergidik merasakan hawa dingin yang ganjil memenuhi ruang kamarnya.
Sakura menutup gorden jendela. Tiba-tiba bau amis menyerbak masuk ke hidung mancungnya. Ia menutup hidungnya lalu berjalan keluar kamar.
"Astaga, bau sekali."
Sakura melihat pintu kamar itu terbuka lebar.
Penasaran. Sakura mendekati kamar itu. Ia berjalan masuk ke dalam sambil memandang seluruh kamar, mencari penyebab pintunya terbuka.
Brak!
Sakura tersentak kaget saat pintu di belakangnya mendadak tertutup dengan sendirinya.
"Siapapun itu, ini tidak lucu. Buka pintunya!"
Sakura menggedor keras pintunya. Namun, pintu tetap tidak terbuka.
Angin dingin menyibak tengkuk mulus Sakura. Bulu kuduk Sakura mulai berdiri, jantung Sakura berpacu lebih cepat hingga terdengar ke telinganya.
Perlahan Sakura melihat kebelakang. Ia melihat sosok yang ia ketahui bernama Karin tengah berdiri tak jauh darinya.
Wajah setengah rusak tak berbentuk dengan kedua pupil berbeda, membuat Sakura menelan ludahnya kasar.
Sorot kebencian memancar kuat dari kedua pupil Karin.
Sakura merasa lehernya tercekik ketika satu tangan Karin terangkat. Tubuh mungilnya ikut terangkat naik bersamaan dengan tangan Karin yang mulai semakin terangkat keatas.
"Hahh-..Lepas..Kumohon."
Sakura berontak dengan menggerakan kedua kakinya. Namun, perbuatannya justru membuat tenaganya habis.
Sakura merasa udara di paru-parunya mulai menipis. Ia berusaha tetap sadar, ia tidak mau mati di tangan hantu Karin. Tetapi, tubuhnya mulai lemas.
Melihat tubuh Sakura melemas. Karin menjatuhkan tangannya. Diikuti tubuh Sakura terjatuh membentur lantai.
Sakura merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnhya. Ia mulai mengirup oksigen di sekitarnya.
Bruk!
Terlihat buku besar terlihat usang jatuh tepat di depan matanya. Buku itu telah terbuka. Tertera tulisan 'Diary Karin' di halaman depan buku itu.
Sakura bangun dengan sisa tenaganya. Ia berpikir mungkin di dalam buku itu tersimpan rahasia yang belum diketahuinya. Mengingat penjelasan dari Ayame yang singkat membuatnya ingin mengetahui kenapa roh Karin tak tenang hingga menerornya terus-menerus.
Sakura membalik satu halaman dan mulai membaca kalimat yang tertulis di buku itu dengan serius.
Sakura sangat terkejut mengetahui beberapa fakta yang di sembunyikan dari bibinya. Matanya terus membacara tulisan rapih di buku. Sakura penasaran dengan diary yang tertulis di akhir halaman
Iris korofil terbelalak melihat deretan kata yang bertuliskan:
'Suatu saat jika aku melihat Adikku, aku akan terus mengikutinya dalam bayangan. Dia tidak akan bisa lepas dari pandanganku karena aku salah satu tanda mautnya sudah dekat. Dan aku pun tidak akan melepaskan orang-orang yang berniat menolong Adikku.'
.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto sekali lagi melirik sebuah smartphone pink tergeletak di kursi kosong disampingnya. Ia mengetahui siapa pemilik smartphone cantik itu. Mengetahui hal itu, bibirnya mengukir senyum kembali. Sepertinya ia akan tidur nyenyak malam ini.
Naruto memakirkan mobilnya di samping mansion megah Haruno. Ini kali kedua Naruto melihat mansion yang berdiri kokoh di hadapannya. Sepintas Naruto merasakan keganjilan dengan bangunan di hadapannya. Namun, ia tepis jauh-jauh pemikiran itu.
Iris blue sappire melihat pintu mansion terbuka lebar.
"Apa Sakura-chan tahu kalau aku akan datang?"
Naruto mengambil ponsel Sakura lalu keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam mansion.
Ia memandang takjub interior klasik yang tertata rapih di ruang tamu. Tapi , kenapa sepi sekali. Kemana tuan rumahnya?
"Sakura-chan?" Panggilnya.
Entah dorongan darimana Naruto menaiki tangga menuju lantai dua. Samar ia mendengar jeritan minta tolong dari salah satu kamar.
Tidak salah lagi itu suara Sakura!
"Minggir dari pintu, Sakura! Aku akan mendobrak pintu ini!"
Naruto mendobrak pintu namun tidak terbuka. Ia mendobrak pintu lagi untuk kedua kalinya. Akhirnya pintu itu terjembab ke lantai.
blue sappire dan korofil bertemu.
"Ternyata benar ada yang tidak beres dengan mansionmu."
Naruto memegang kedua pipi Sakura yang terlihat sangat pucat dengan mata yang sembab.
"Kau tidak apa, Sakura-chan?"
"Ini gawat, Naruto-kun. Karena kesalahan orang tuaku dulu. Dia akan membalas dendam padaku."
Seketika iris Naruto terbelalak.
"Dia siapa, Sakura-chan?"
Naruto memandang serius Sakura.
"Onee-chanku, dia sudah meninggal. Dia juga akan membunuhmu jika dia tahu kau akan menyelamatkanku."
"Itu tidak akan terjadi, Sakura! Akan ku pastikan baik kau dan aku akan tetap hidup bagaimana pun caranya!"
Mendengar perkataan Naruto membuat segelintir kehangatan meresap ke dalam hati Sakura.
Kepala merah muda itu mengagguk pelan. Naruto tersenyum simpul.
"Tapi Naruto kau mau 'kan membantuku?"
"Apa itu Sakura-chan?"
Sakura tampak berpikir sebentar.
"Kedua orang tuaku pernah mengatakan padaku jika roh seseorang kembali ke dunia itu berarti ada urusan yang belum terselesaikan olehnya. Dan roh itu akan tenang jika masalahnya sudah selesai. Tapi roh yang sudah kembali ke dunia akan kesulitan kembali ke alamnya kecuali-"
"Ada yang menutup jalannya roh itu kembali ke dunia."
Sakura membulatkan matanya.
"Tepat sekali, Naruto-kun. Biasanya barang yang berhubungan dengannya, seperti barang kesayangannya."
"Sebentar, itu berarti kedua orang tuamu tahu jika hal ini akan menimpamu."
Sakura mengangguk lemah merespon perkataan Naruto.
"Damn. Apa kau tahu apa benda kesayangannya?"
Tiba-tiba tubuh Sakura oleng dan hampir jatuh jika saja tidak ada lengan kekar yang melingkari pinggang Sakura.
"Kau yakin tidak apa, Sakura-chan?"
"Aku tidak apa-apa, Naruto-kun. Oh, iyah cermin. Cermin miliknya ada di kamarku, Naruto!"
"Kalau begitu, ayo kita ambil!"
Naruto menggenggam tangan mungil Sakura, dan menariknya pelan menuju kamarnya.
Langkah keduanya terhenti di pertengahan jalan. Mereka perlahan kompak melihat ke arah kesamping kiri mereka.
Sosok Karin terbang dengan cepat kearah mereka. Tiba-tiba sebuah energi tak kasat mata menghantam tubuh mereka hingga terpental jauh.
Prang!
Dugh!
Terlihat Naruto menabrak keca jendela yang menghadap kolam renang. Sementara Sakura menabrak pilar penyangga berukuran besar.
Naruto merasakan perih akibat beberapa kaca kecil menusuk kulitnya. Ia perlahan bangun dari lantai. Kedua iris sappire itu terbelalak melihat roh itu terbang cepat kembali ke arah Sakura yang tampak setengah sadar.
Naruto berjalan cepat sambil menahan sakit.
'Hihihihi.'
Naruto dengan cepat mendorong tubuh Sakura menjauh. Sakura langsung tak sadarkan diri ketika kepalanya membentur lantai.
Sosok Karin memegang pundak Naruto. Tubuh Naruto melayang dalam beberapa detik. Hingga badan kekarnya merasakan gravitasi yang menariknya kebawah.
Praang!
Crtak!
"Uhuk!"
Meja besar yang terbuat dari kaca kini hancur lebur. Terkecuali pecahan kaca besar yang mengacung tegak menembus dada kiri Naruto. Iris blue sappirre terlihat kehilangan cahayanya. Tidak ada lagi sinar kehidupan yang terpancar di Iris seindah langit biru itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Zona author:
Hai minna-san, aku balik lagi desu dari urusanku di duta. Maklum author kelas XII smk jadi kemarin-kemarin sibuk mengerjakan ujian, ujian, ujian dan ujian. Tapi tidak apa-apa sekarang author balik lagi. Dan langsung updet kilat.
Terima kritik dan saran dari minna-san. Inget dilarang FLAME!
maaf tidak bisa membalas review kalian satu-persatu. Tapi terima kasih banyak atas kalian yang masih setia membaca fictku. Dan PEMUMUMAN 2 chapter lagi fictku akan tamat! Yatta!
Sekali lagi terima kasih untuk kalian semua yang review, favs dan membaca fictku!
#WhiteFox
