Last section on part 8 :
["Apa-apaan ini? Mengapa mereka lama sekali kembali? Aih toko bahkan hampir tutup. Apa yang mereka beli sampai berjam-jam seperti ini?" Tanya jungkook menggerutu kesal karena taehyung belum balik-balik bersama jin.]
Part 9, enjoy!
"Apa yang kau bilang?"
"Omo! Yak! Aku bisa jantungan baboyaaa!" Jungkook terkejut dan hampir melemparkan piring yang sedang asik dicucinya.
"Hehe mian, habisnya mukamu dari tadi masam dan selalu cemberut" ucap jhope, teman kerja jungkook.
"Ini bukan urusanmu" ucap jungkook.
"Wae? Kau temanku, mengapa ini bukan urusanku?" Tanya jhope yang membuat jungkook tertegun atas jawabannya.
"Hh belum saatnya kau tau jhope"
"Apa karena taehyung belum kembali?"
"N..ne? Aniya bukan itu"
"Kau menyukai taehyung ya?" Tanya jhope langsung to the point.
"A..aniya mengapa kau bertanya seperti itu?" Tanya jungkook gugup.
"Aigoo dengan menatapmu saja aku tau bahwa kau menyukainya bahkan menyayangi taehyung. Apa kau cemburu dia pergi dengan jin hyung?" Tanya jhope terus menyudutkan jungkook.
"Y..yak pelankan suaramu"
"Sepertinya Jin hyung juga menyukai taehyung, dia selalu membicarakan taehyung ketika bersamaku" ucap jhope.
"Jinja?" Tanya jungkook.
'Manusia babi itu tidak boleh mengambil taehyungku' batin jungkook.
"Taehyung itu tampan dan juga baik. Siapa yang tidak menyukainya? Aku juga menyukainya. Tetapi hanya sebatas teman. Kalau menurutku, kau dan jin hyung mempunyai perasaan yang lebih terhadap taehyung"
"Molla. Aku juga tidak tau perasaanku"
"Kau mengetahuinya tetapi kau menghiraukannya" ucap jhope lagi.
"Ehem bisakah kau melanjutkan pekerjaanmu? Piring yang kucuci masih banyak" ucap jungkook.
"Jika kau butuh teman cerita ada aku" ucap jhope dan akhirnya pergi meninggalkan jungkook sendiri.
'Ne kayanya aku menyukainya tetapi tidak terlalu mempedulikan perasaan ini' batin jungkook.
Jungkookpun melanjutkan aktivitasnya hingga toko tutup pukul 6. Ia merasa pusing dan lemas karena baru saja sehat sudah bekerja seperti ini. Jungkookpun duduk menunggu taehyung di depan toko.
"Jungkook?"
Jungkook menoleh dan mendapatkan jimin yang menatapnya.
"Mengapa kau belum pulang? Kau baru saja sehat cepatlah pulang"
"Ne aku menunggu taehyung"
"Dia belum kembali? Aigoo kalau begitu aku titip kunci toko dikamu ya? Bukankah dia membawa bahan-bahan toko?"
"Baiklah" ucap jungkook lemah.
"Wae? Kau kelelahan?" Tanya jimin yang sudah duduk disamping jungkook.
"Aniya, kau pulanglah. Aku akan menunggu disini" ucap jungkook.
"Mm tidak deh aku ikut diam disini saja" ucap jimin tersenyum.
"Wae?"
"Aku tidak ingin kau kenapa-napa"
"Aku hanya sedikit pusing"
"Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?" Tanya jimin.
"Tidak. Kata taehyung dia menyuruhku untuk diam agar pulang bersama"
"Tapi hari mulai gelap, udara juga dingin dan kau masih sakit" ucap jimin.
"Gwaenchana, bagaimana keadaan yoongi hyung?" Tanya jungkook.
"Dia baik-baik saja. Pikirkanlah kesehatanmu dulu" ucap jimin.
Merekapun berbincang hingga waktu menunjukkan pukul 8 malam.
"Jungkook, ini sudah malam. Ayo aku antar" ucap jimin.
"Aniya, kau duluan saja" ucap jungkook yang sudah merasa membeku karena udara yang dingin.
"Wajahmu pucat kook, aish mengapa taehyung dan jin tidak mengangkat telfonku" ucap jimin kesal.
Jungkook hanya memijat pelipisnya. Jimin menarik kepala jungkook untuk bersender dibahunya.
"Tidurlah aku akan menunggu taehyung"
"Aniya.. gwaenchana" ucap jungkook yang hendak membangunkan kepalanya tetapi ditahan oleh jimin.
"Bahkan suaramu makin melemah. Tidur saja" ucap jimin.
Jungkookpun menurut karena kepalanya benar-benar pusing.
"Gomawo" ucap jungkook sebelum akhirnya benar-benar terlelap.
Jungkook terbangun dan langsung mengecek telefon genggamnya.
"Jam 10" ucap jungkook pelan.
Jungkook mencoba menyadarkan dirinya yang masih belum terlalu sadar. Beberapa saat, ia baru sadar.
"Dimana aku?" Ucap jungkook memperhatikan ruangan yang terlihat asing baginya.
Jungkook mencoba mengingat-ngingat apa yang sedang terjadi.
"Omo tadi aku tertidur dibahunya jimin dan sekarang aku berada pada suatu ruangan yang sepertinya ruang tidur" ucap jungkook memperhatikan ruangan tersebut dan segera berdiri keluar.
Jungkook memperhatikan ruangan luar.
"Apakah ini rumahnya jimin?"
Terlihat ruang tamu yang sangat luas disertai fasilitas yang elit.
Jungkook segera mengambil telefon genggamnya untuk menelfon jimin.
["Halo"]
"Jimin? Eodiya?"
["Ahh kook mian aku menaruhmu dirumahku karena rumah taehyung masih terkunci. Aku masih dirumah sakit."]
"Ne? Siapa yang sakit? Dan dimana taehyung jimin?"
["Dia disini bersamaku, jin hyung mengalami kecelakaan saat ingin menyebrang. Jadinya taehyung menemaninya disini. Hp jin hyung hilang sedangkan hp taehyung mati jadi mereka tidak bisa dihubungi."]
"Mwo? Bagaimana keadaan jin hyung? Bolehkah aku kesana?"
["Dia baik-baik saja, hanya mengalami pendarahan sedikit pada kepalanya. Tetapi kata dokter tidak perlu khawatir. Sebaiknya kau diam dirumah, kondisimu juga belum pulih."]
"Aih baiklah, salam pada semuanya"
["Ne"]
Jungkookpun menutup telefon dan terdiam. Ia lapar karena memang belum makan semenjak siang tadi.
"Jungkook"
Jungkook terkejut. Setaunya, ia hanya sendiri dirumah ini. Tubuhnya mulai bergetar memikirkan hal hal yang berbau negatif, lebih tepatnya gaib.
'a..apa ada hantu dirumah ini?'
Jungkook menutup mata takut.
"Jungkook"
Suara itu makin mendekat.
"Yakk!"
"Suara itu kini tepat dibelakang jungkook. Jungkook sendiri dapat merasakan bahunya sedang dipegang.
"EOMMAAAAAAAAAA!"
Jungkook teriak dan lari ke sembarang arah karena ketakutan.
"Mwoya ige?" ucap seseorang tersebut yang jungkook kira adalah hantu.
Jungkook langsung memasuki salah satu ruangan dan menguncinya. Ia langsung menelfon jimin dengan begetar.
["Ne jungkook?"]
"J-jimin"
["Apa yang terjadi padamu? Kenapa suaramu gugup seperti ini"]
"A-anu a-apa ada ha-antu disini?"
["Ne? Hantu? Aniya, sejak kapan ada hantu dirumahku eoh"]
"T-tapi tapi a-ada yy-yang me-"
["Aigoo jungkook suaramu tidak jelas, jangan gugup seperti itu"]
"Jungkook" panggil seseorang dari luar.
TOK TOK TOK
"JIMIN ADA YANG MENGETOK PINTU!"
["Ne? Mengetok pintu?"]
"N-nugu-uya!"
["Mungkin itu yoongi hyung"]
"N-ne?"
"Jungkook buka pintunya, mengapa kau mengunci dirimu?" Ucap seseorang itu dari luar pintu.
["Yak baboya! Itu yoongi hyung aigoo kau mengira yoongi hyung itu hantu?"]
"MWO?!"
"JUNGKOOK MENGAPA KAU BERTERIAK? APA TERJADI SESUATU?" Teriak yoongi hyung dari luar.
Jungkook segera memutuskan sambungan telefonnya lalu membuka pintu yang ia kunci tadi. Dan benar saja, yang muncul adalah yoongi hyung.
"Hyung" ucap jungkook langsung memeluk yoongi yang terdiam.
"Wae? Apa terjadi sesuatu? Aku mendengar kau berteriak dari dalam" ucap yoongi hyung.
"A-ah aniya hahahahahahahaha betapa bodohnya aku hyung" ucap jungkook menyadari kebodohannya dan tertawa sedangkan yoongi masih bingung.
"Jadi aku mengira hahahaha kau itu hahaha aduhh" jungkook tidak berhenti ketawa membuat yoongi ikut ketawa.
"Aku mengira kau hantu hyung" ucap jungkook dan sedetik kemudian, mereka berdua tertawa bersama.
"Baboya" ucap yoongi.
"Habis aku tidak tau bahwa ada kau disini hyung, jimin tidak memberitahuku bahwa kau juga ada dirumahnya jimin"
Yoongi hyung tertawa pelan.
"Kau sedang sakit, apa ia akan meninggalkanmu sendiri begitu saja? Aih kau ini berpikirlah" ucap yoongi mengacak rambut jungkook.
"Aigoo hyung, jimin itu orangnya tidak sebaik yang kau pikirkan" ucap jungkook tertawa dan yoongi pun ikut tertawa.
"Sebaiknya kita keluar dari sini, ini adalah tempat tidur orang tuanya jimin" ucap yoongi dan membawa jungkook ke ruang tengah untuk duduk di sofa.
"Jungkook, apa kau masih sakit?"
"Aku hanya cepat merasa lelah hyung" ucap jungkook tersenyum.
"Apa yang terjadi? Mengapa bisa jimin membawamu pulang?" Tanya yoongi.
"Tadi aku menunggu taehyung di tempat kerja, tetapi ia tak kunjung pulang. Lalu aku ketiduran jadi jimin membawaku kesini hyung" ucap jungkook.
"Kau masih sakit tetap bekerja?"
"Begitulah, aku tidak tau bahwa lelahnya akan terasa 2x lipat" ucap jungkook.
"Kau benar benar bodoh eoh. Lagipula kemana taehyung? Mengapa ia meninggalkanmu?" Tanya yoongi.
"Apa jimin tidak menceritakannya padamu hyung?"
"Tidak. Ia terlihat buru-buru tadi, maka dari itu ia hanya menelfonku dan menyuruh untuk menjagamu dirumah" ucap yoongi hyung jujur.
"Aigoo apa aku merepotkanmu hyung? Kau boleh pulang sekarang kalau kau mau, aku hanya kelelahan bukan sakit parah kok hyung dan aku bisa merawat diriku sendiri disini" ucap jungkook memantapkan dirinya.
"Jinja? Apa yang akan kau lakukan jika turun hujan?" Tanya yoongi terkekeh.
"Ehehe benar juga" ucap jungkook.
"Lagipula aku senang jika bisa membantumu kook. Aku juga bosan di apartemen sendirian" Ucap yoongi.
"Orang tua hyung dimana? Mengapa kau tinggal diapartemen hyung?"
"Mereka bercerai, dan sudah memiliki pasangan masing-masing"
Jungkook terkejut dan langsung menutup mulutnya.
"Ahh.. mianhae hyung aku tidak bermaksud untuk menyinggung" ucap jungkook benar-benar menyesal.
"Gwaenchana, lalu kau? Mengapa tinggal bersama taehyung?" Tanya yoongi.
Jungkook tersenyum lembut.
"Aku memiliki kisah keluarga yang sangat amat buruk hyung" ucap jungkook.
"Kita sama. Apa kau mau membagi ceritamu? Aku juga akan menceritakan sisi keluargaku" ucap yoongi hyung.
Jungkook mengangguk pelan.
"Jadi begini hyung, dulu keluargaku sangat harmonis. Mungkin keluarga lain akan cemburu jika melihat keharmonisan keluargaku. Ada aku, ayah, dan ibuku. Aku sangat bahagia karena aku anak tunggal, mereka sangat menyayangiku. Tetapi semua berubah hh" ucap jungkook menahan air matanya.
"Jungkook, jika kau tidak kuat bercerita, gwaenchana jangan dilanjutkan" ucap yoongi mengelus kepala jungkook yang sudah menunduk.
"Semua berubah ketika ibuku ketahuan mencintai namja lain. Ayahku frustasi. Ia benar-benar mencintai ibuku. Sampai akhirnya, ibuku minta cerai. Ayahku tidak mau bercerai. Akan tetapi, ibuku selalu memaksanya dan akhirnya ayahku menyetujuinya dengan terpaksa. Aku sempat menahan ibuku agar tidak pergi dari rumahku karena aku tau, disaat dia pergi dari rumahku, itu berarti dia juga pergi dari kehidupanku. Aku bahkan menahan kakinya" ucap jungkook mulai meneteskan air matanya.
Yoongi hyung terkejut mendengarkan kisah kelam dari jungkook dan mengelus punggung jungkook.
"T-tapi hiks dia malah menyeretku keluar dari rumah hingga aku melepas kakinya. Disaat itu juga hujan turun menemani air mataku yang terus turun."
"Dan itu mengapa kau membenci hujan" ucap yoongi yang sudah paham.
"Setelah ibuku pergi, ayahku jadi namja yang tidak berguna. Ia tidak lagi menyayangiku. Ia membenciku, memukulku, hingga memakiku. Dan saat itu, taehyung melihatnya. Ia menarikku dan menyuruhku untuk tinggal di rumahnya" ucap jungkook tersenyum.
"Hey jungkook" ucap yoongi menaikan wajah jungkook menatap wajahnya.
"Kau seharusnya jangan seperti ini, kau harus kuat. Inilah takdirmu. Kau tidak boleh menjadi lemah seperti ini. Kau tidak boleh bersedih lagi tentang hal ini. Kau harus berusaha mengikhlaskannya. Aku juga begitu" ucap yoongi dan tersenyum.
"T-tapi hyung ini susah" ucap jungkook masih menangis.
"Hyung tau, tetapi apa gunanya kau menangis jungkook? Hyung juga sama sepertimu dulu. Hyung adalah orang yang pendiam dan menyebalkan, itu mengapa aku selalu sendiri disekolah. Aku tidak mempunyai teman walaupun sekarang aku sudah berubah. Mereka tetap mengatakan bahwa aku menyebalkan. Semakin lama aku memikirkan hal kesedihanku, semakin lemah lah aku jungkook. Kau tidak boleh seperti aku. Kau masih mempunyai kesempatan merubah sikapmu hanya karena masalah yang tidak bisa diperbaiki lagi. Jangan sampai kau menyesal tidak mempunyai teman sepertiku, mengerti?" Ucap yoongi tersenyum tulus yang membuat jungkook tersentuh dan berhenti menangis.
"Aku baru menyadari bahwa selama ini kau sendiri hyung. Hyung tidak perlu khawatir, aku akan terus menjadi teman hyung ne? Taehyung dan jimin juga!" Ucap jungkook tersenyum senang.
"Aku beruntung mengenal kalian" ucap yoongi tertegun atas sikap jungkook yang menurutnya sangat baik.
"Aku akan mencoba menerima takdirku hyung. Aku akan berusaha menghilangkan kesedihanku" ucap jungkook memantapkan pikirannya.
"Janji?" Tanya yoongi.
"Janji!" Ucap jungkook tersenyum senang, sangat senang.
TBC!
Bagaimana? Next? Review ya^^
