Last section on part 9 :
["Aku akan mencoba menerima takdirku hyung. Aku akan berusaha menghilangkan kesedihanku" ucap jungkook memantapkan pikirannya.
"Janji?" Tanya yoongi.
"Janji!" Ucap jungkook tersenyum senang, sangat senang.]

Part 10, enjoy!
"Hyung bagaimana dengan ceritamu?"
"Saat itu aku berumur 7 tahun, ayah dan ibuku mengalami pertengkaran. Aku tidak terlalu mengetahui tentang apa itu karena aku masih sangat kecil. Lalu ayahku membawaku pergi dari rumah itu secara tiba-tiba. Sedangkan adikku, tetap diam dirumah. Aku yang masih kecil hanya menurut saja karena belum mengerti situasi. Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu ibuku maupun adikku. Setiap aku bertanya pada ayahku mengapa kita tidak pulang, ayahku selalu mengatakan bahwa rumah tersebut bukan milik kita. Lalu disaat aku bertanya mengapa ibu dan adikku tidak ikut bersama, ia mengatakan bahwa mereka tidak ingin ikut. Aku merindukan mereka berdua. Aku bahkan tidak mengetahui kabar mereka lagi."
"Kau pasti sangat merindukan mereka hyung" ucap jungkook menatap yoongi.
"Tentu saja, aku bahkan tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak haha aku sangat merindukan adikku" ucap yoongi tersenyum.
"Apa kau sangat dekat dengan adikmu hyung?" Tanya jungkook penasaran.
"Ne kami selalu menghabiskan waktu bersama. Kami bermain,makan,dimarahi,tidur bersama. Kami sering berjalan-jalan disekitar rumah untuk membeli ice cream bersama haha sangat indah" ucap yoongi tenang tetapi tentu saja jungkook tau rasanya sangat sakit.
"Adikku sangat manis dan baik. Aku jadi penasaran dimana dia sekarang. Apakah dia baik-baik saja?" Ucap yoongi.
"Dia pasti baik-baik saja hyung"
"Dan akhirnya, ayahku menikahi perempuan lain. Awalnya aku nyaman tinggal bersama. Tetapi makin lama perempuan tersebut semakin menunjukkan sifat aslinya. Ia sangat kejam. Ia suka memukulku dan menyiksaku ketika ayahku tidak ada dirumah. Maka dari itu, aku kabur pada umur 14 tahun dari rumah dan disinilah aku. Hidup sendirian." Ucap yoongi.
"Kau adalah orang yang kuat hyung, aku sungguh kagum padamu. Bahkan saat menceritakannya padaku, kau terlihat sangat santai. Tetapi aku tau dari sorot matamu, kau sangat sedih" ucap jungkook melihat yoongi yang tersenyum menatap jungkook.
"Kau harus lebih pintar mengatur emosi ne? Menjadi pendiam dan menyebalkan akan memperburuk suasana, percayalah. Aku sudah mengalaminya" ucap yoongi mengacak rambut jungkook yang terlihat sangat senang.
"Siapa nama adikmu hyung?"
"Min hoseok" ucap yoongi.
"Hyung, aku ingin bertanya lagi"
"Apa itu?"
"Apa benar kau tidak menyukai jimin?" Yoongi terkejut mendengarnya.
"Aku menyukainya. Dari dulu"
"Ahh kan benar dugaanku!" Ucap jungkook sangat senang seperti baru memenangkan undian.
"Bahkan dari sebelum masuk SMA, aku sudah menyukainya" ucap yoongi membuat jungkook bingung.
"Bagaimana bisa hyung?"
"Dulu disaat aku baru saja kabur dari rumah, aku bertemu dengannya"

-flashback on-
"Hiks hiks" isak tangis seorang anak laki-laki meramaikan taman pada siang hari yang sepi dan sunyi.
"Mengapa eomma sangat jahat hiks, yoongi kan tidak salah" ucapnya sambil terus menangis terisak keras.
"Mengapa yoongi terus dipukul hiks sakit" ucap yoongi kecil yang memeluk dirinya sendiri sembari duduk menyender pada pohon besar dibelakangnya.
"Hey" ucap seseorang yang membuat yoongi mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang mengatakan 'hey'
"Mengapa wajahmu babak belur?" Tanya anak yang terlihat lebih muda dari yoongi tersebut yang sekarang duduk disamping yoongi yang terdiam, dialah jimin.
"Tidak kenapa-kenapa" ucap yoongi yang tidak mengenal anak ini.
"Mengapa kau berada disini? Bukankah disini sangat panas? Ini jam 1 siang" ucapnya lagi menatap yoongi.
"Aku hanya ingin mengucapkan perpisahan pada pohon ini. Aku sangat menyukainya, tetapi aku harus pindah" ucap yoongi menutup matanya.
"Wae? Kita baru saja bertemu dan kau ingin pergi? Disini indah" ucap jimin.
"Tidak. Disini mengerikan"
"Lihatlah, disini ada taman yang luas" ucap jimin tersenyum senang.
"Aku akan merindukan taman ini" ucap yoongi tersenyum tipis.
"Mengapa disini mengerikan?"
"Aku tidak memiliki siapa-siapa disini. Orang tuaku tidak ada. Saudara tidak ada. Teman tidak ada." Ucap yoongi.
"Kalau begitu, aku akan menjadi temanmu" ucap jimin menatap yoongi yang terdiam menatap jimin.
"Hey aku akan menjadi temanmu, aku janji" ucap jimin tersenyum membuat yoongi ikut tersenyum.
"Tapi aku harus pindah dan menghilang" ucap yoongi membuat jimin terdiam.
"Huh jadi kau tidak ingin menjadi temanku?" Tanya jimin.
"Bukan. Bukan begitu. Kita tetap berteman, tetapi aku tidak akan berada disini" ucap yoongi.
"Waeee?" Rengek jimin bocah.
"Mengapa kau sendirian disini? Dimana orang tuamu?" Tanya yoongi.
"Rumahku di sana" tunjuk jimin pada salah satu rumah yang sangat dekat.
"Ah baiklah, aku harus pergi sekarang" ucap yoongi yang berdiri.
"Kita akan tetap berteman kan? Janji?" Tanya jimin memberikan kelingking kecilnya pada yoongi.
"Tentu saja" ucap yoongi dan mengalungkan kelingkingnya pada kelingking jimin.
Yoongipun berjalan menjauhi taman.
"HEYYYY! NAMAKU JIMIN!" Ucap jimin berteriak dengan suara cemprengnya.
Yoongipun menoleh dan tersenyum.
"PARK JIMIN! INGATLAH AKU TEMAN!" Teriak jimin lagi membuat senyum yoongi semakin melebar dan segera pergi.
"Park jimin, kau adalah teman pertamaku yang tidak menganggapku aneh" ucap yoongi pelan dan perlahan berlari menjauh dari taman.
-flashback off-

"Wahhhhhh! Hyung sepertinya kau jodoh dengan jimin!" Teriak jungkook heboh.
"Aigoo aku baru pertama kali melihatmu sangat ceria jungkook" ucap yoongi terkekeh melihat jungkook.
"Beritahulah pada jimin bahwa kalian pernah bertemu sebelumnya" ucap jungkook menatap yoongi.
"Suatu saat" ucap yoongi tersenyum lebar, sangat lebar.
TING TONG
"Apakah itu jimin?" Ucap yoongi yang mendengar suara bel rumah yang langsung berdiri ingin membuka pintu.
Jungkook pun hanya duduk menunggu yoongi disofa. Beberapa menit kemudian, terlihat jimin dan yoongi bersama.
"Eh jimin sudah pulang" ucap jungkook.
"Ne, bagaimana kabarmu?" Tanya jimin.
"Mm dimana taehyung?" Tanya jungkook menengok kebelakang jimin mencoba mencari taehyung.
"Dia menginap jungkook" ucap jimin.
"N-ne?" seketika hati jungkook merasa tidak enak, mungkin sakit.
"Gwaenchana, dia menjaga Jin hyung dengan baik. Dia merasa bersalah karena meninggalkan Jin hyung sendirian untuk menyebrang, maka dari itu dia menginap menemaninya hingga sadar" ucap jimin.
"Ahh begitu ya" ucap jungkook berusaha tersenyum biasa.
"Kau menginaplah disini jungkook, taehyung menyuruhmu untuk diam disini hingga dia bisa pulang. Dia juga menitipkan kunci rumah padamu, aku sudah membawakan persiapan sekolahmu. Dia tetap akan masuk sekolah besok" ucap jimin menjelaskan.
"Baiklah, terima kasih jimin"
"Kalau begitu aku juga ikut menginap disini ya?" Tanya yoongi pada jimin.
"Tentu saja hyung!" Ucap jimin bersemangat membuat yoongi terkekeh.
"Yay yoongi hyung juga menginap" ucap jungkook membuat yoongi tersenyum.
"Aku ingin tidur bersama yoongi hyung" ucap jungkook tersenyum lebar.
"Aigoo jadi aku tidur sendirian?" Ucap jimin cemberut.
"Yoongi hyung milikku" ucap jungkook memeluk yoongi cepat.
"Oh jadi kau milik taehyung, lalu yoongi milikmu, lalu aku? Aish" ucap jimin membuat semua tertawa.
"Aku akan merebut yoongi darimu lihat saja" ucap jimin lagi yang membuat pipi yoongi tiba-tiba merona.
"Ahahaha yoongi hyung pipinya merona jimin!" Ucap jungkook heboh.
Yoongi tertawa kecil mendengar jungkook heboh sendiri.
"Kau sudah banyak berubah ya" ucap jimin tersenyum senang pada jungkook.
"Ini berkat yoongi hyung dan juga taehyung" ucap jungkook.
"Wae?wae? Apa yang terjadi? Ceritakan padaku bagaimana cara mereka merubahmu" ucap jimin penasaran.
"Rahasia" ucap jungkook.
"Yasudah kalau gitu kau akan tidur disofa malam ini" ucap jimin.
"Mwo?" Mereka bertiga tertawa.
"Bagaimana kalau kita tidur bertiga dalam satu kamar? Kurasa kasurku cukup untuk kita bertiga" ucap jimin.
"Boleh saja badan kita kan kecil" ucap yoongi membuat jungkook tertawa.
"Aniyaa kalian berdua yang kecil hyung aku kan tinggi" ucap jungkook membuat yoongi dan jimin memukul kepalanya pelan dan merekapun tertawa bersama.
Mereka menghabiskan malam dengan bercanda tawa, tidak lupa memasak hingga makan bersama mereka lakukan. Banyak adegan dimana jimin mencoba untuk modus pada yoongi tetapi selalu diketahui oleh jungkook dan membuat yoongi malu. Seperti,
"Yoongi hyung, ajarkan aku memotong bawang" ucap jimin tersenyum aneh.
Yoongipun menurut dan memegang tangan jimin lalu membantunya memotong bawang. Jungkook yang melihatnya langsung tersenyum sinis.
"Cihh yoongi hyung jangan mau, dia hanya modus agar tangan hyung menggenggam tangannya" ucap jungkook kelewat jujur membuat yoongi malu dan melepaskan tangannya.
Jimin langsung menatap jungkook dengan pandangan tak suka.
"Wae? Benar kan?" Tanya jungkook tersenyum kemenangan.
Mereka selalu bercanda hingga waktu tidurpun datang. Mereka segera masuk ke kamar jimin dan menempatkan badan mereka dengan nyaman. Kasur jimin sangat besar hingga mereka bertiga merasa muat dikasur tersebut. Jungkook berada diujung, yoongi ditengah, dan jimin dipinggir.
"Jimin, bagaimana kabar taehyung?" Tanya jungkook yang sudah memeluk bantal guling jimin.
"Dia baik-baik saja, wae?"
"Aku hanya merindukannya" ucap jungkook dengan kepala yang sudah diusap lembut oleh yoongi.
"Apa kau menyukai taehyung?" Tanya jimin membuat jungkook terdiam.
"Molla"
"Ya dia menyukainya" ucap yoongi membuat jungkook terkejut.
"A-aku tidak tau" ucap jungkook gugup.
"Kau cemburu disaat jimin mengatakan bahwa taehyung menginap disana bukan? Kau takut taehyung akan menyukai Jin. Aku tidak tau apa alasanmu takut akan itu. Tetapi semua terlihat jelas dari gerak-gerikmu jungkook. Kau menyukai taehyung" ucap yoongi.
"Aku juga berpikiran begitu. Kau terlihat senang berada didekat taehyung" ucap jimin membenarkan.
"Ya.. sepertinya aku memang menyukainya, bahkan menyayanginya. Setengah hari saja tanpa dia, aku merasa sedih. Aku takut dia akan diambil oleh Jin hyung, karena seseorang berkata bahwa Jin hyung menyukai taehyung. Aku takut akan itu" ucap jungkook jujur dan tulus.
"Yaa aku juga dapat merasakan bahwa Jin hyung menyukai taehyung. Tetapi lihatlah, taehyung selalu ada disampingmu. Mungkin karena dia merasa bersalah, makanya dia menemani Jin hyung hingga sadar. Percayalah, taehyung sangat sangat menyayangimu kook, bukan Jin hyung" ucap jimin.
"Kuharap" ucap jungkook tersenyum.
Mereka bertiga menghabiskan waktu bercerita hingga pukul 2 malam dan memilih untuk tidur karena keesokan harinya, mereka sekolah.
Keesokannya, mereka bangun dan mandi secara giliran. Jungkook dan yoongi memasak bersama sembari menunggu jimin selesai mandi. Setelah itu mereka makan bersama, lalu berangkat sekolah karena jarak antara rumah jimin dan sekolah lumayan jauh.
'Tidak sabar bertemu taehyung' batin jungkook tersenyum.
Sesampai disekolah, yoongi langsung pamit menuju kekelasnya sedangkan jungkook dan jimin jalan bersama. Sesampai dikelas, jungkook sudah melihat taehyung yang tiduran di atas mejanya sendiri. Jungkookpun tersenyum lebar dan segera menuju mejanya yang juga bersebelahan dengan meja taehyung.
"Taehyung?" Tanya jungkook mencoba membangunkan taehyung.
Taehyungpun bangun karena ia tidak tidur beneran hanya menempelkan kepalanya pada meja saja.
"Jungkook" ucap taehyung tersenyum.
Jungkook dapat melihat kantung mata taehyung yang sangat hitam.
"Kau tidur jam berapa taehyung?" Tanya jungkook yang khawatir.
"Jam 5" ucap taehyung pelan dan membuat jungkook terkejut.
"Tidurlah, aku akan membangunkanmu nanti setelah songsaengnim masuk"
"Tidak, gwaenchana" ucap taehyung.
"Kau terlihat lelah tae"
"Aku tidak apa-apa" ucap taehyung lagi.
"Apa Jin hyung sudah sadar?"
"Sudah, ia sadar sekitar pukul 3 pagi"
"Bagaimana keadaannya? Apa boleh aku menjenguknya?" Tanya jungkook.
"Tentu saja, keadaannya sudah membaik sejak tadi pagi" ucap taehyung.
"Berarti apa kau akan pulang nanti?" Tanya jungkook berharap.
"Tidak kook, aku masih harus menjaganya. Aku benar-benar merasa bersalah padanya" ucap taehyung.
Jungkookpun sedih lagi. Ia berharap taehyung akan cepat-cepat pulang.
"Bagaimana kalau aku yang menjaga Jin hyung?" Tanya jungkook.
"Tidak, kau masih sakit" ucap taehyung.
"Ani, aku tidak sak-"
"Kau masih sakit" ucap taehyung dengan nada bicara yang terkesan dingin. Jungkook terkejut.
'Ahh mungkin dia hanya kelelahan'
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang kemarin dan aku sudah mengurus rapmon tadi pagi dengan guru BK" ucap taehyung tenang.
"Gwaenchana, aku mengerti. Benarkah? Tapi bagaimana jika dia mengganggu kita lagi tae?" Tanya jungkook.
"Aku akan melaporkannya pada polisi. Kau diamlah ditempat jimin, jangan pulang ne?" ucap taehyung.
"Baiklah" ucap jungkook.
Lalu sunyi.
'Dia kelelahan' ucap jungkook sedih karena biasanya sekarang taehyung pasti sudah bercanda dengan dirinya.
TBC!

Published, yoyo go review!