"Kau sangat memuaskan Lu..Terimakasih untuk malam ini" Sehun mengecup kening Luhan pelan sebelum melangkahkan kaki keluar dari kamar meninggalkan Luhan yang telanjang seorang diri.

"Hiks.." Luhan kembali menangis merasa begitu hancur . Ia merasa seperti jalang murahan saat ini ia berpikir apa kesalahan yang ia perbuat hingga diperlakukan begitu memalukan seperti ini .

"BRENGSEK KAU OH SEHUN..HIKS...AKU MEMBENCIMU" Teriak Luhan histeris

Sehun yang masih berdiri didepan pintu kamar Luhan menyeringai meremehkan

"Kau milikku Luhan...-"

Ia melangkahkan kakinya menuju kamar utamanya untuk membersihkan diri

"Milik Oh Sehun"

.

.

.

.

LOOK AT ME

.

.

.

HUNHAN

.

.

.

.

Luhan tidak dapat memejamkan matanya hingga pagi menjelang walaupun tubuhnya terasa remuk dan lelah . Bagaimana bisa ia memejamkan matanya jika baru saja tubuhnya ternodai oleh Pria bermarga Oh yang dengan kejinya pergi entah kemana setelah menyetubuhinya. Ia merasa seperti jalang murahan sekarang yang hanya bisa ia lakukan hanyalah menangisi keadaan. Luhan memandang tubuhnya yang masih telanjang tanpa tertutupi selimut dengan kaki dan tangan yang masih terikat terasa begitu keram terlebih tubuhnya yang mengigil kedinginan .

Cklek!

Mendengar suara pintu terbuka membuat Luhan langsung memalingkan wajahnya kearah lain menyadari jika itu adalah Sehun . "Kau sudah bangun, Ah! Atau mungkin kau tidak bisa tidur" Kata Sehun lengkap dengan sringaian dibibir tipisnya . Sehun berjalan mendekat dan duduk di pinggiran ranjang yang di tempati Luhan membuat Luhan sedikit bergetar takut . Sehun perlahan membuka ikatan pada tangan Luhan dan Luhan nampak melirik takut-takut pada tangan Sehun yang menyentuh permukaan kulit pergelangan tangannya. Merasa kedua tangan dan kakinya sudah tak lagi terikat Luhan segera mendudukkan tubuhnya dan menarik selimut hingga lehernya. Sehun tersenyum miring dan kembali mendudukkan tubuhnya di pinggiran ranjang . Tangannya hendak membelai wajah Luhan namun dengan cepat Luhan menepisnya dan menjauhkan tubuhnya dari Sehun. "Kenapa kau menutupi tubuhmu.. Kau malu? Bahkan aku sudah melihat kau telanjang semalam"

"Brengsek"

Sehun terkekeh saat mendengar umpatan Luhan "Ya Aku memang... Dan jangan berpikir Sehun yang brengsek ini akan melepaskanmu Xi Luhan..karena kau milikku"

"Aku bukan milik siapa pun .. Dan aku tidak akan pernah sudi menjadi milikmu" Kata Luhan acuh tak ingin menatap wajah Sehun. Sehun menyeringai sebelum tangannya terangkat dan mencengkram dagu Luhan memaksanya menatap wajahnya "Aku tak perlu persetujuanmu untuk itu.. Dan aku pikir kau lebih baik menjadi penurut agar aku tidak perlu melakukan pemaksaan kepadamu" .

Luhan berdecih dan menepis kasar tangan Sehun yang mencengkram dagunya sebelum

PLAK

Ia layangkan sebuah tamparan pada pipi putih Sehun "Jangan harap brengsek, Kau benar-benar..-"

"Kenapa Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan Luhan,Tak terkecuali dirimu dan tamparanmu lumayan" potong Sehun dan tersenyum manis sembari menyentuh pipinya yang nampak memerah membuat Luhan yang melihatnya merinding . Sehun menoleh menatap Luhan sebelum tangannya terulur dan menarik rambut belakang Luhan kuat membuat Luhan meringis sakit "Kau miliku ..dan jangan berpikir aku akan melepaskanmu atau kau berpikir kabur dari sini sayang,Ingat itu baik-baik" Geram Sehun dan melepaskan cengkeramannya pada rambut Luhan membuat Luhan sedikit terhuyung . Ia berdiri dan sedikit merapikan pakaiannya dan berjalan hendak keluar kamar Luhan namun ia berhenti dan menoleh sejenak pada Luhan di belakangnya "Tubuhmu benar-benar nikmat ... Terimakasih untuk semalam" Seringai Sehun sebelum benar-benar keluar dari kamar meninggalkan Luhan yang kembali menangis tersedu-sedu sambil mengusak kasar tubuhnya.

..

..

..

"Sehun"

Sehun tersenyum miring melihat siapa yang tengah memanggil namanya dan memilih tak menjawabnya . Ia perlahan menuruni tangga dan saat sudah sampai di bawah sebuah pelukan ia terima.

"Kemana saja kau Sehun ,Aku merindukanmu" Kata wanita itu dan bergelayut manja di lengan Sehun.

"Lepaskan aku" Ujar Sehun dingin dan melepaskan lengan wanita itu kasar membuat wanita itu sedikit terhuyung hampir jatuh .

"SEHUN", Teriaknya kesal dan mendengar teriakannya membuat Sehun menoleh menatap wanita itu nyalang "Brengsek ,Kau pikir kau berteriak pada siapa" Kata Sehun marah. Wanita itu merengut takut "Maafkan aku, Aku hanya..- kenapa kau mengabaikanku akhir-akhir ini Sehun-ah" Rengeknya lagi dan berjalan menghampiri Sehun yang berada beberapa meter darinya sebelum merangkul kembali lengannya "Aku muak denganmu , Dan kau pikir apa yang kau lakukan disini", Geram Sehun.

"Sehun aku tidak peduli , Dan aku kesini karena aku merindukanmu tentu saja"

"Kau sudah melihatku sekarang dan kau boleh pergi ", Suruh Sehun dan menunjuk arah pintu keluar yang tak jauh dati tempat mereka berdiri "Aku tidak mau Sehun , Aku akan tinggal disini beberapa waktu"

"KAU!"

"Wae? Bahkan kau selalu mengizinkanku untuk tinggal di sini lebih lama , kenapa kau berubah Sehun atau kau gara-gara pria sialan itu apa dia lebih menarik dariku"

"Irene berhenti bicara brengsek , Ck! Apa kau memata-mataiku " Sehun berdecih malas

"Kalau aku bilang dia lebih memuaskan daripada dirimu apa yang akan kau lakukan" Sehun menyeringai sebelum pergi meninggalkan Irene yang Mengeram kesal di belakangnya.

"Mengajaknya bermain sedikit Sehun ,Mungkin" Irene tersenyum licik dan menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga sebelum berjalan menaiki tangga .

Luhan duduk diam pada sebuah kursi dibalkon Mansion Sehun usai membersihkan diri dan memakai sebuah setelan baju santai yang nampak begitu pas membalut tubuh mungilnya . Ia tak peduli dengan para pelayan Sehun yang keluar masuk kamar yang ditempatinya dengan senampan makanan di tangan mereka. Kadang ia hanya menoleh pada mereka saat salah satu dari mereka menyuruhnya untuk memakan makanannya karena tak ingin ia sakit atau tak ingin mendapatkan masalah dari sang pemilik rumah . Tapi Luhan seakan Tuli dan buta akan semua itu yang ia pikirkan hanya bagaimana cara pergi dari sini ataupun bagaimana cara menghubungi teman-temannya yang mungkin sedang mencari dirinya.

Hhhh~

Luhan menghela nafas pelan merasa kepalanya berdenyut sakit ia memijitnya pelan mungkin ini karena ia kelelahan dan stres . Luhan melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 5 sore dan Ia tak menemukan keberadaan Sehun. Bukan mencarinya tapi Luhan hanya berjaga-jaga jika tiba-tiba lelaki itu datang menghampirinya dan kembali menyetubuhinya . Luhan kembali memejamkan matanya dan membukanya pelan mengingat bagaimana perilaku lelaki itu membuat Luhan bingung apa yang sebenarnya ia perbuat apa ia memiliki kesalahan pada Sehun hingga pria itu melakukan semua ini.

Memilih untuk kembali ke ranjang melihat malam mulai menjelang dan udara yang semakin dingin menerpa kulitnya .Luhan perlahan berdiri dari duduknya namun tubuhnya terhuyung hampir jatuh saat kepalanya terasa pening tiba-tiba . Tapi Sebelum tubuhnya terjatuh sebuah lengan kekar telah memeluknya dan terasa begitu hangat

"Sehun," Sebuah nama meluncur dari bibir Luhan saat melihat pelaku yang menangkap tubuhnya. Matanya menatap lurus pada manik tajam Sehun dan Luhan dapat melihat kekawatiran terpancar dari sana

"Kau baik? Apa yang kau lakukan di balkon malam-malam begini", Kata Sehun datar dan begitu dingin namun Luhan masih menangkap nada khawatir di sana. Ia diam saja bahkan saat Sehun mengendong tubuhnya pelan dan merebahkannya di ranjang . Luhan berpikir sebenarnya orang seperti apakah Sehun itu dia begitu berbeda dari pertama kali mereka bertemu dan perlakuannya saat semalam begitu pun pagi ini . Luhan masih sibuk pada pikirannya sendiri tak menyadari jika Sehun tengah menatapnya lekat .

Sehun tersenyum kecil dan membawa tangan kekarnya untuk mengelus pipi putih Luhan membuatnya terperanjat kaget dan tersadar dari lamunannya. "Apa yang kau pikirkan? ", Tanya Sehun lembut . Luhan mengerjapkan matanya berulang kali begitu mendengar suara Sehun yang berbeda dari sebelumnya "A-aku t-tidak..-tidak ada yang kupikirkan", Jawab Luhan bahkan kini ia begitu bingung dengan tingkahnya sendiri . Apa Sehun mempunyai kepribadian ganda , apa kepalanya terbentur sesuatu , kenapa ia berubah baik. Itulah beberapa hal yang berkecamuk dalam otak kecil Luhan . Sehun menghela nafas sebelum matanya melihat nampan makanan yang nampak masih utuh dan sudah dingin .

"Kenapa kau tak memakan makananmu", Suara Sehun kembali terdengar dan Luhan melirik kearah meja kecil disampingnya.

"A-aku h-hanya t-tidak nafsu...", Balas Luhan menunduk . Sehun tersenyum miring dan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya . Jam menunjukkan pukul 6.30 malam "Baiklah , lebih baik kau tidur lebih awal sekarang ", Kata Sehun dan berdiri dari duduknya di pinggiran ranjang Luhan lalu mengecup kening Luhan pelan Sebelum melangkah keluar dari kamar Luhan meninggalkan Luhan yang terbengong-bengong dengan tingkah Sehun. Luhan meraba keningnya yang masih begitu terasa bekas kecupan Sehun beberapa saat lalu. Luhan menyentuh dadanya yang berdebar

"Ada apa denganku!",

..

..

..

Sehun memasuki ruang kerjanya ia merasa begitu aneh saat bersama Luhan beberapa saat lalu. Ia seperti bukan Sehun bahkan ia bisa bicara selembut itu . Sehun mengacak rambutnya kasar

"Tidak , aku hanya mencintai Luna .. Hanya Luna", Guman Sehun meyakinkan dirinya sendiri . Ia menyentuh dadanya yang entah mengapa begitu berdebar saat di dekat Luhan . Sehun menggelengkan kepalanya tidak mungkin ia menaruh perasaan lebih pada Luhan .

"Luna apa yang Harus aku lakukan", Kata Sehun memandang bingkai kecil didepannya yang menampakkan foto Mendiang istrinya dengan sebuah gaun merah selutut dan senyuman yang begitu cantik diwajahnya.

Sehun terus memandang foto mendiang istrinya itu mungkin itu hanya karena kemiripan antara Luna dan Luhan yang membuat Sehun berpikir Luhan sama dengan Luna . Ia berpikir mungkin Sehun begitu merindukan sosok Luna dan ia berpikir juga jika Luhan hanya sebagai penganti Luna tidak lebih . Ya, Sehun mungkin memiliki perasaan ini karena menganggap Luhan sebagai penganti Luna tidak lebih .

Drrt

Drrt

Mata tajamnya melirik pada ponselnya yang bergetar menandakan ada sebuah panggilan masuk untuknya . Mengangkatnya cepat saat Melihat nama sekretarisnya terpampang di layar ponselnya

"Ada apa ",

"Maaf mengganggu malam Anda, Tuan .. Saya hanya ingin memberitahu jika malam ini Anda memiliki jadwal terbang ke London Saya sudah menyiapkan segala sesuatunya",

Sehun menghela nafas pelan dengan tangannya yang lain memijit pangkal hidung mancungnya

"Ya aku tahu , Aku akan kesana ",

"Baik Tuan ",

Tuutt

Tuutt

Sehun beranjak dari duduknya dan berjalan keluar ruang kerjanya hendak membersihkan diri . Suasana rumahnya nampak sepi mengingat hari sudah malam dan mungkin beberapa maid sudah mulai beristirahat .

Sehun memasuki kamarnya dan langsung beranjak ke kamar mandi sekedar membersihkan diri . Selang beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggangnya dan rambut hitamnya yang basah . Matanya melirik pada seseorang yang ada di atas ranjangnya membuat ia mendecih jijik .

"Kau pikir apa yang kau lakukan di kamarku , Keluar sekarang juga", Geram Sehun menarik paksa Irene yang tengah duduk di ranjangnya.

"Kenapa Sehun , Aku merindukanmu", Kata Irene dan mengelus dada putih Sehun seduktif . Sehun memperhatikan Irene dari ujung kaki hingga kepala wanita itu bahkan tidak malu melakukan ini walaupun ia sudah terlihat seperti jalang murahan sekarang. Sehun Lupa Irene memang seorang Jalang . Tubuhnya bahkan hanya berbalut Bra dan celana dalam dengan sebuah piyama panjang yang tak ia tali membuat tubuhnya terekspos. Irene hendak mendorong tubuh Sehun ke atas ranjang namun Sehun menggenggam tangannya terlampau erat membuat Irene bahkan meringis .

"Jalang sialan, Kau pikir apa yang akan kau lakukan", Geram Sehun dan menghempaskan tangan Irene kasar membuat wanita itu jatuh terduduk tepat di bawah kakinya

"Sehun kenapa kau menolakku", Tanya Irene berdiri dari jatuhnya

"Cih! Aku sudah katakan padamu kalau aku tak membutuhkanmu lagi Brengsek, Enyahlah dari hadapanku sekarang jika tidak kau akan tau akibatnya", Desis Sehun tanpa melihat Irene dan memakai setelan kemejanya .

"Memang apa hebatnya pria Sialan itu di bandingkan aku Sehun , apa ia bisa mengimbangimu diranjang", Kata Irene kesal "Ya dia melakukannya dia lebih hebat daripada Jalang sepertimu, Dan aku peringatkan jangan menyentuhnya sehelai rambutnya saja", Balas Sehun santai .

"Bagaimana jika aku menyentuhnya , Aku yakin jika ia pasif dalam bermain .. Aku akan-.."

"BRENGSEK BERHENTI BICARA", Teriak Sehun dan berjalan mendekat pada Irene lalu mencengkram dagu wanita itu erat "Jika kau menyentuhnya maka aku anggap kau tengah melawanku jalang sialan, Dan kau pasti tau akibat sudah berani melawanku", Desis Sehun dan melepas cengkeramannya dari dagu Irene meninggalkan bekas kemerahan disana

"KAU JAHAT OH SEHUN", Teriak Irene dan berlari keluar kamar Sehun

BLAM

Dan menutup kasar pintu kamar Sehun membuat Sehun tersenyum miring sebelum melanjutkan mempersiapkan dirinya .

.

.

.

Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali membiasakan cahaya masuk pada kornea matanya . Melirik pada jam di meja samping ranjangnya yang baru menunjukkan pukul 6 pagi . Ia mendudukkan tubuhnya pada ranjang mengucek matanya saat menemukan seseorang asing di kamarnya. "Anda sudah bangun Tuan?" Sapa orang itu ramah dan halus .

Luhan mengangguk dan menyingkap selimutnya ia hendak bertanya pada orang tersebut namun

"Saya di perintahkan untuk memenuhi semua kebutuhan Anda mulai hari ini oleh Tuan Sehun , saya Zhang Yixing", Katanya lagi.

Luhan mengangguk lagi "Sehun ", Yixing mengangguk sopan pada Luhan "Jika Anda membutuhkan sesuatu Anda bisa memanggil saya , Jika Anda ingin keluar untuk berjalan-jalan Saya ditugaskan menemani Anda seperti itulah perintah yang saya terima dari Tuan Sehun selama beliau pergi",

Luhan menatap Yixing" Benarkah Sehun mengizinkanku keluar dan Pergi..- Kemana ia pergi", Tanyanya penasaran . Yixing tersenyum penuh arti dan menaruh secangkir teh hangat di tangan Luhan "Ya , Beliau mengatakan Anda boleh berjalan-jalan namun hanya di Mansion ini dan Beliau pergi untuk perjalanan bisnis mungkin untuk beberapa hari ke depan",

" Hum! Terimakasih", Kata Luhan dan menyeruput tehnya . "Ini pakaian Anda , Saya sudah mempersiapkannya jika Anda ingin membersihkan diri dan juga ada beberapa baju di lemari yang sudah di siapkan oleh Tuan Sehun",

Luhan mengerjapkan matanya berkali-kali berpikir kapan Yixing mempersiapkan semua itu dan lagi Sehun . Huh! Pria itu memang berniat mengurungnya untuk waktu yang lama disini namun walaupun begitu ia bersyukur karena pria itu tak akan di rumah ini beberapa hari ke depan . Dan apa-apaan pria itu hanya menyuruhnya berjalan-jalan mengelilingi Mansion ini . Luhan menghela nafas berat ini lebih baik daripada ia harus duduk di dalam kamar ini setiap hari itu membosankan.

"Anda baik-baik saja Tuan?", Tanya Yixing melihat Luhan hanya diam saja . Tersadar dari pikirannya sendiri Luhan memandang Yixing yang berdiri di depannya sambil mengangguk "Aku baik , aku akan membersihkan diri dulu", Kata Luhan . Yixing mengambil cangkir teh dari tangan Luhan "Baiklah Tuan , Anda ingin sarapan di kamar atau di meja makan sayang akan menyiapkannya", Tanya Yixing . Luhan nampak berpikir "Aku akan turun nanti , Terima kasih", Yixing tersenyum dan membungkuk pada Luhan sebelum pergi keluar dari kamar Luhan. Mungkin jika Yixing tak melaksanakan perintah dati Sehun ia akan mendapatkan hukuman mengingat bagaimana sifat seorang Oh Sehun. Dan Luhan terpaksa menyetujui akan makan nanti ia hanya tak ingin orang seperti Yixing yang nampak baik itu mendapat masalah karenanya walaupun ia tak ingin makan sedikit pun.

.

.

.

Luhan membuka pintu kamarnya hendak keluar sesudah membersihkan dirinya . Matanya memandang takjub dengan desain interior Mansion Sehun yang begitu elegan ,mewah dan berkelas seperti pemiliknya. Ya! Luhan menyadari jika Sehun adalah pria yang begitu berkelas , dan mendominasi namun semua itu tertutupi dengan sifat baik iblisnya dalam memperlakukan Luhan lebih tepatnya dalam hal ingin memiliki Luhan . Ia berpikir lagi pria itu cukup perhatian padanya akhir-akhir ini dengan berbaik hati mengizinkan Luhan keluar kamar walaupun hanya di sekitar Mansion ini. Ia menuruni satu persatu anak tangga dengan pelan kadang ada beberapa Pelayan membungkuk padanya dan berjalan melewatinya setelah itu . Luhan hanya memberi mereka senyum kikuk merasa tak terlalu nyaman karena ia tak terbiasa dengan ini .

Yixing menarik kursi makan saat melihat Luhan berjalan ke arahnya menariknya pelan tanpa ada sedikit pun suara yang akan di timbulkan dari gesekan antara kursi dan lantai marmer Mansion itu . "Silahkan duduk Tuan", Ujar Yixing sopan sedikit membungkukkan badannya pada Luhan . Luhan menatap kursi yang nampaknya ditunjukkan untuk ia duduki. "Terimakasih", balas Luhan dan mendaratkan bokongnya pada kursi yang nampak mahal itu . Luhan menatap takjub pada meja makan didepannya yang menyediakan beberapa menu makanan yang mungkin akan membuat siapa saja yang melihatnya meneteskan air liurnya . Semua tersusun rapi dan terlihat begitu lezat "Tuan Sehun memerintahkan Anda untuk menghabiskan makanan Anda hari ini tanpa tersisa",

Mendengar perintah yang di katakan Yixing tadi membuat Luhan menatapnya tak percaya "S-semua i-ini", Gagap Luhan dan Yixing tersenyum kecil menanggapinya

"Tentu saja tidak Tuan , makanlah jika Anda ingin ", Kata Yixing membenarkan . Dan Luhan mengangguk dan memulai memakannya sebelum matanya menoleh ke arah Yixing yang masih setia berdiri di samping kirinya "Xing , Kau tak ingin makan bersamaku", Tanya Luhan .

"Tidak Tuan , para pelayan tidak di perbolehkan makan satu meja dengan Tuannya saya akan makan di belakang nanti", Jawab Yixing tersenyum . Luhan menghela nafasnya pelan dan berdiri dari duduknya lalu memegang kedua pundak belakang Yixing mendudukkannya pada salah satu kursi di sana . Ia mengambil sebuah piring putih dan membukannya didepan Yixing "T-tuan a-apa yang Anda lakukan ,I-ini tidak ..-b-benar", Gagap Yixing

"Diamlah Xing , aku hanya memintamu menemaniku makan dan persetan dengan perintah pria Brengsek itu", Geram Luhan dan kembali duduk di kursinya.

"T-tapi..-"

"Kau pikir siapa Kau berani-berani mengatai Sehun , pria Brengsek Huh!", Luhan dan Yixing menoleh bersamaan dan mendapati Irene berdiri tak jauh dari tempanya duduk sekarang . Yixing langsung berdiri dari duduknya dan membungkuk hormat pada Irene . Luhan memandang bingung pada wanita yang tengah berjalan kearahnya "Siapa kau?", Tanya Luhan namun bukannya mendapat jawaban Irene hanya menyeringai dan

AKH

PRANG

Menarik rambut belakang Luhan dan itu membuat Luhan tak sengaja menjatuhkan gelas di sampingnya hingga pecah berkeping-keping di lantai .

"Aku adalah kekasih Sehun dan Kau berani sekali Kau mengambil tempatku Huh!", Kesal Irene dan semakin menarik kuat helaian rambut belakang Luhan

"Akh..apa yang kau maksud , Lepaskan Aku", Ringis Luhan memegangi tangan Irene yang menarik rambutnya .

"Irene-ssi Tolong lepaskan Tuan Luhan , Tuan Sehun akan murka jika mengetahui apa yang..-"

"DIAM", potong Irene cepat tak peduli dengan apa yang di katakan oleh Yixing . Matanya menatap nyalang pada Luhan "Aku akan menyingkirkanmu dengan tanganku sendiri Sialan",

BRUK

ARRGH

"TUAN",

Irene tersenyum puas melihat Luhan yang jatuh ke lantai tepat di atas pecahan gelas yang membuat telapak tangan dan lengannya mengucurkan darah segar . Yixing yang melihatnya segera membantu Luhan duduk "Ya Tuhan , Tuan Anda baik-baik saja", Cemas Yixing melihat darah yang cukup banyak keluar dari tangan dan lengan Luhan . Luhan hanya mengangguk dengan wajah yang menahan sakit . Yixing membantu Luhan berdiri dan menuntunnya berjalan hendak ke kamarnya tak memperdulikan Irene yang menatap mereka berdua marah

"Kalian pikir akan kemana, Brengsek", Kata Irene marah . Tak memperdulikan Irene ,Yixing dan Luhan berjalan perlahan menaiki tangga meninggalkan Irene yang murka di sana sendirian namun baru saja mereka melewati anak tangga paling atas . Irene yang entah sejak kapan berada dibelakang Yixing dan Luhan menarik rambut Yixing membuat pegangan tangan Yixing pada Luhan terlepas.

"YIXING", Teriak Luhan saat melihat Irene dengan teganya menarik Rambut Yixing dan menghempaskannya ke lantai begitu saja .

"Berani sekali Kalian mengabaikanku", Ujar Irene menyeringai .

"Sebenarnya apa maumu , Dan aku tidak merebut tempatmu", Balas Luhan dan menghampiri Yixing untuk membantunya berdiri namun tangannya di tarik begitu saja oleh Irene.

"Akh ..lepaskan", Ronta Luhan merasa tangannya begitu sakit karena tangan Irene mencengkram lengannya yang terluka . "Kau , kalau saja kau tidak ada disini Sehun tidak akan mengacuhkanku dan apa hebatnya dirimu , kau bahkan tak ada apa-apanya dibandingkan diriku melayani Sehun.",

"Lepaskan aku. Irene-ssi ...-akh",

"Irene-ssi tolong lepaskan Tuan Luhan", Mohon Yixing . Irene menarik Luhan hendak membawanya turun namun tangannya di genggam oleh Yixing yang berlutut di bawah kakinya "Lepaskan tangan menjijikkanmu itu Zhang Yixing",

"Tidak , Tolong saya ...Mohon lepaskan Tuan Luhan Irene-ssi",

"Aku bilang tidak , Menyingkir atau aku akan berbuat kasar padamu", Desis Irene namun Yixing masih saja bersikukuh menolak perintah Irene . "Baiklah jika itu maumu , Aku akan melepaskan tangan jalang ini", Irene menyeringai menatap Luhan yang pucat pasi disampingnya menariknya ke arah tangga .

"Aku harap kau mati Bicth",

"A-apa yang akan kau lakukan",

"Menyingkirkanmu tentu saja",

SRET

BRUK

BRUK

BRUK

BRAK

"TUANNNN~"

"LUHANNN"

Teriakan itu hampir bersamaan dengan tubuh Luhan yang jatuh dari tangga Mansion Sehun dan tergeletak di lantai dengan kepalanya mengeluarkan darah begitu banyak membuat keadaannya terlihat begitu mengenaskan saat ini. Luhan merasakan tubuhnya begitu sakit dan pening dikepalanya . Namun ia dapat mendengar suara teriakan Yixing dan.

.

.

"S-sehun",

Dan matanya terpejam sempurna usai menggumankan satu nama itu.

"Luhan...",

Sedangkan Irene yang tengah tersenyum puas menutup mulutnya cepat dengan matanya yang membelalak saat tatapan membunuh itu tertuju padanya .

"KAU..-" Teriakan murka itu semakin membuat Wajah Irene pucat dengan keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhnya . Sehun membawa Luhan yang tak sadarkan diri ke dalam gendongannya tak memperdulikan jika setelan mahalnya ternoda oleh darah Luhan ia memanggil salah satu anak buahnya yang berdiri tepat di sampingnya

"Singkirkan jalang itu", perintahnya mutlak dengan kemarahan yang begitu kentara di setiap huruf yang terucap dari bibirnya sebelum keluar dari mansionnya di ikuti beberapa anak buahnya yang mengekor di belakangnya.

Saat itu tak akan ada lagi kata ampun untuk orang yang berani menyentuh miliknya . Dan jangan harap ia dapat melihat dunia ini lagi setelah ia melakukan hal itu.

.

.

.

.

.

.

TBC!

Sorry untuk alurnya yang nampak kecepetan menurut saya . Dinda ngebut ini gara-gara mau update kemarin-kemarin enggak bisa . Lagi sibuk pake super pake banget apalagi dinda ngurusin beberapa tugas yang belom kelar akhir-akhir ini . Irene gak berakhir disini dia akan muncul lagi jadi siap siaga haha dan untuk kejelasan masa lalu sehun tunggu aja okeyy...

Tambah gak jelas aja ya critanya ngomong-ngomong :-D

Maaf kalau gak bisa bales review kalian satu-satu . Makasih sudah mampir dan membaca apalagi yang review ,favorit ataupun follow .

Kunjungi Ig :vvddye

Line : adindaprawingga

Thank You

.

.

.see you next chap

Look at me

Muuuuuaaahhhhh~

So, mind to review