.

.

.

HunHan

.

.

.

Waktu itu akan terus berjalan

Ia tak akan peduli dan memperhatikan seseorang yang masih tertinggal jauh dibelakangnya dalam sebuah kepedihan dan keterpurukan yang begitu mendalam

.

.

.

Luhan menyenderkan tubuhnya pada kepala ranjang rumah sakit. Walaupun kepalanya masih terasa sakit sesekali dan lengannya yang juga terasa nyeri namun nampak tak ia pedulikan. Matanya memandang keseluruhan ruang rawatnya yang ia tempati , ruangan ini begitu nyaman dengan cendela besar disamping ranjangnya serta set sofa dan meja. Ia berpikir jika ruangan ini untuk pasien VVIP dan Luhan memastikan Sehun yang menempatkannya disini. Tentang Sehun , Luhan tak menemukannya saat ia bangun tadi mungkin pria itu sudah pergi pagi buta.

Cklek!

Luhan menoleh saat mendengar suara pintu ruang rawatnya terbuka dan menampilkan seorang perawat wanita yang cukup cantik tengah berjalan kearahnya sembari tersenyum dengan membawa bebrap makanan yang ia pastikan itu adalah sarapan untuknya

"Selamat pagi Nyonya Oh" Sapa perawat itu ramah sambil memasangkan sebuah meja pada ranjang Luhan.

Luhan memandang perawat itu binggung "Selamat pagi juga , tapi kenapa anda memanggil saya Nyonya Oh nama saya Luhan ,Xi Luhan?"

Nampak perawat itu tersenyum geli melihat reaksi Luhan "Bukankah itu hal yang umum jika seorang istri memakai marga suaminya"

Luhan semakin binggung dengan apa yang di katakan perawat itu, apa baru saja ia di bilang sudah menikah dan memiliki seorang suami. Mustahil, ia masih lajang dan marga Oh bukankah itu marga si brengsek Sehun.

"Tapi aku belum bersuami mungkin anda salah orang" elak Luhan namun membuat perawat itu kembali tersenyum geli

"anda tak perlu malu mengakui pria setampan dan sehebat Tuan Oh sebagai suami anda , jika itu saya mungkin saya akan mengatakannya pada semua orang" kata perawat itu lagi

"Aku benar-benar bukan, astaga dari mana kau mendengar hal itu" Kesal Luhan

"Tuan Oh yang mengatakannya, anda sangat beruntung menjadi pendamping hidup Tuan Oh pria seperti Tuan Oh adalah sosok pria idaman yang sangat di gandrungi oleh semua orang tak termasuk pria dan wanita" Ujar perawat itu lagi. Luhan hendak mengelak namun ia urungkan saat

Cklek!

Suara pintu terbuka dan menampakan sosok Sehun yang mengenakan setelan jas kerjanya jangan lupakan dengan rambut hitamnya yang ia model keatas. Memang segala hal tentang seorang Oh Sehun begitu sangat sempurna, dominan , kuat dan berkelas. Namun pria itu juga egois dan berjalan perlahan mendekati ranjang dimana Luhan berada mata tajamnya menatap lekat pada iris coklat bening Luhan. Luhan juga melakukan hal yang sama ia bahkan tak berkedip menatap Sehun yang kini telah duduk dikursi samping ranjangnnya dengan senyuman tipis atau lebih dapat Luhan sebut seperti sebuah seringai mungkin. Ia hanya tak dapat membedakan saat Sehun tersenyum atau menyeringai karena itu terlihat begitu tipis hampir tak terlihat

"Selamat pagi Tuan Oh" sapa perawat itu pada Sehun dan hanya di tanggapi dengan anggukan dan senyuman tipis dari pria itu.

" Selamat menikmati sarapan anda Nyonya Oh , kalau begitu saya akan keluar permisi Tuan dan Nyonya Oh" pamit perawat itu dan kemudian ia berjalan keluar kamar rawat Luhan. Meninggalkan dua orang manusia yang masih saling menatap entah sampai kapan hingga tiba-tiba Luhan memutuskan kontak terlebih dahulu dan merasa wajahnya memanas saat ini.

Sehun tersenyum tipis sekali saat Luhan memutuskan mengakhiri kontak mata dengannya dan lebih memilih menunduk menyembunyikan wajahnya "Bagaimana tidurmu? Apa kau sudah merasa lebih baik?"

Luhan perlahan mengangkat wajahnya dan kembali menatap Sehun " Ah! Y-ya a-aku sudah merasa baik, Terimakasih s-sudah menolongku kemarin" Kata Luhan tulus entah kenapa ia begitu gugup saat ini

"Tak perlu berterimakasih itu sudah tanggung jawabku , lagipula mana mungkin aku membiarkanmu mati" Balas Sehun sedikit terkekeh pelan.

"Kenapa?"

"Apa yang kenapa?"

"semua masih terasa tak jelas bagiku semua begitu membinggungkan dan semakin aku memikirkannya semakin aku tak mendapatkan jawabannya...Kenapa-..Kenapa kau membawaku kerumahmu malam itu? Kenapa kau menolongku? Dan kenapa kau mengatakan bahwa kau suamiku? Kita tidak dalam hubungan sebaik itu bukan" tanya Luhan bertubi- tubi ia butuh jawaban dari semua pertanyaannya itu semuannya.

Sehun tersenyum kecil dan mengambil mangkuk bubur Luhan mengaduknya dan menyuapkannya pada Luhan. Luhan yang masih binggung hanya menatap sendok bubur itu dan Sehun bergantian

"Ayo buka mulutmu" suruh Sehun terdengar seperti sebuah perintah yang mutlak harus ia lakukan.

"kau belum menjawab pertanyaanku" kata Luhan "Makan buburmu dan aku akan menjawab semua pertanyaanmu" Jawab Sehun santai. Mendengar itu membuat Luhan mau tak mau membuka mulutnya dan menerima suapan dari Sehun.

"Apa yang jawabannya sangat ingin kau dengan terlebih dahulu?" Tanya Sehun sembari mengaduk bubur Luhan di tangannya

"Kenapa..-kenapa kau membawaku kerumahmu dan melakukan semua hal itu padaku?"

"Karena kau milikku" jawab Sehun singkat dan kembali menyuapkan sesendok bubur pada Luhan yang di terima baik olehnya.

"Aku bukan milik siapapun dan aku-..aku bukan milikmu" Ucap Luhan tak terima "Kau akan menjadi milikku seutuhnya sebentar lagi " jawabnya

"Bagaimana jika aku menolak"

"Aku tidak menerima penolakkan Luhan tak terkecuali itu dari dirimu,"

"Kenapa kau selalu seenaknya,Huh!" Kesal Luhan merasa kepalanya begitu sakit sekarang

"Karena kau milikku Lu dan akan jadi milikku , aku selalu mendapat semua yang aku inginkan tak terkecuali dirimu," jawab Sehun tegas dan tak terbantahkan

"Dan lagi kenapa kau mengatakan aku istrimu , itu tidak pernah terjadi asal kau tahu"

"Well! Lagipula kita akan segera menikah saat kau sudah keluar dari rumah sakit , masuk akal kan jika aku menyebutmu sebagai istriku" balasnya santai

"Kenapa kau begitu egois"

"Dan Kenapa kau begitu cerewet"

"Tapi aku tidak mencintaimu bagaimana kita bisa menikah tanpa didasari rasa cinta , A-aku hanya ingin kau membiarkanku pergi tak bisakah kau kembalikan kehidupanku yang sebelumnya".

"Cinta akan muncul dengan seiring berjalannya waktu Luhan dan tentang pemintaanmu itu jangan mengharapkan terlalu lebih karena itu tak akan terjadi , KAU MILIKKU DAN AKAN KU PASTIKAN KAU TAK BISA PERGI DARIKU" Kata Sehun menahan emosinnya. Ia meletakkan mangkuk bubur Luhan yang masih tersisa sedikit kembali ke meja dan berdiri dari duduknya. Memilih untuk pergi daripada harus bertengkar dengan Luhan dan membuatnya tertekan.

"Istirahatlah aku akan kembali saat malam dan tentang kenapa aku menolongmu karena kau milikku aku tidak akan membiarkan siapapun untuk menyentuh dan menyakiti milikku, Aku pergi" Kata Sehun dan mencium pucuk kepala Luhan lembut dan berjalan keluar ruangan rawat Luhan meninggalkan Luhan yang menatap kepergian Sehun dalam diam.

Kenapa pria itu begitu egois dan Luhan tak habis pikir dengan hal itu. Ia menyentuh keningnya yang di kecup Sehun beberapa saat lalu. Luhan memang mengatakan ia tak mencintai Sehun namun siapa yang tahu isi hati seseorang. Bahkan Luhan saja tak mengerti tentang hal yang ia rasakan saat ini semua terasa begitu tabu.

.

.

.

.

Tap..tap...tap

Suara langkah kaki terdengar mengema memasuki sebuah gudang yang nampak tak terpakai. Sehun berjalan begitu angkuh dengan wajah tanpa ekspresinya berjalan menghapiri Suho yang berdiri tak jauh darinya diikuti dengan beberapa anak buah yang setia mengekori dibelakangnya.

"Sehun"

Ia tersenyum saat mendengar suara Suho memanggil namanya dan dapat dilihat tak jauh dari tempatnya berdiri nampak seorang wanita tengah terikat pada sebuah kursi dengan keadaan yang sangat mengenaskan dan berantakan."Sehun hikss...lepaskan aku sialan kenapa kau tega sekali membuatku seperti ini" teriak Irene tak terima

Sehun menyeringai ia berjalan menghampiri Irene dan mengelus pelan wajahnya yang sudah sangat kotor lalu mencengkram dagunya erat "Cih! Sudah aku katakan jangan berani melawanku jalang sialan, lagipula harusnya kau berpikir dua kali saat ingin melakukan sesuatu dan aku juga sudah memperingatkanmu untuk tidak menyentuh milikku"

Sehun melepaskan cengkramannya kasar dan berjalan menuju sebuah kursi tak jauh dari tempat Irene terikat "Aku memberimu pilihan, kau akan membunuh dirimu sendiri atau aku yang akan membunuhmu lebih baik kau tak memilih opsi yang kedua karena itu adalah pilihan yang buruk"

"Brengsek sialan kau Oh Sehun tega sekali kau akan membunuhku hanya karena jalang barumu itu, aku hanya berniat menyingkirkan hama sialan itu" Teriak Irene keras masih mencoba untuk melepaskan ikatannya

"jalang tutup mulutmu kau pikir siapa yang kau sebut hama , dia adalah milikku dan kau tau siapapun yang berani menyentuh walau seujung rambutnya aku bersumpah akan membalasnya berkali-kali lipat lebih menyakitkan lagipula dia lebih dan sangat berharga dibanding sampah sepertimu" desis Sehun begitu marah

"Dan aku rasa kau memilih opsi kedua Irene-ssi , cepat bawa jalang sialan itu habisi dia dan buang mayatnya pastikan mayatnya rusak " geram Sehun memberi perintah pada anak buahnya

"OH SEHUN LEPASKAN AKU BRENGSEK..arghhh~ APA YANG AKAN KALIANLAKUKAN KEPARAT JANGAN MENDEKAT...LEPASKAN AKU OH SEHUN KAU AKAN MENYESAL TELAH MEMPERLAKUKAN AKU SEPERTI INI ..AKAN AKU PASTIKAN HAMA ITU MATI BAHKAN SEBELUM KAU BISA BERKEDIP"Teriak Irene keras ia terus meronta saat tubuhnya dibawa paksa oleh anak buah Sehun

"BERHENTI" Teriak Sehun begitu marah menyuruh anak buahnya untuk berhenti membawa pergi Irene dan berjalan terburu-buru mendekat pada Irene dan

Cklek

Ia mengokang senjatanya dan mengarahkannya membidik tepat pada kepala Irene yang tengah menatapnya takut-takut "Aku akan pastikan hal itu tak akan pernah terjadi jalang" Sehun menyeringai begitu menyeramkan " lagipula kalimat itu lebih cocok ditunjukan padamu , akan aku pastikan kau mati bahkan sebelum kau bisa berkedip jalang dan Selamat tinggal"

DOR

Tanpa pikir panjang Sehun menembak tepat pada kepala wanita itu tanpa belas kasihan membuat Irene tewas seketika "Buang mayatnya kelaut akan lebih baik jika tubuh hinanya itu menjadi santapan ikan dari pada membusuk sia-sia" perintahnya terdengar begitu kejam dan menakutkan sebelum membalikkan tubuhnya berjalan menghampiri Suho yang tengah mematung melihat kejadian beberapa saat lalu

"Hyung aku serahkan urusan perusahaan hari ini kepadamu aku ada urusan yang harus ku urus" Pesannya pada Suho kemudian melangkah pergi tanpa mendengar jawaban Suho terlebih dulu di ikuti dengan anak buahnya yang hendak mengantarnya hingga keluar tempat itu

"Dia masih Oh Sehun" Guman Suho miris.

Hari ini bukan pertama kali ia melihat Sehun membunuh didepan matanya sendiri. Ia pikir ini yang entah keberapa kalinya terjadi dan Suho memaklumi itu karena Sehun bukan Sehun yang dulu. Sehun yang dulu adalah seorang yang baik dan murah senyum walaupun sifatnya yang tak ingin seseorang menyentuh apalagi menyakiti miliknya sudah tertanam pada dirinya dari dulu. Namun Sehun yang ia lihat saat ini adalah sosok Sehun yang haus darah dan itu berawal saat kejadian yang mengerikan malam itu dimana ia kehilangan sosok pendamping hidupnya, separuh jiwanya Oh Lu Na.

"Semoga Luhan dapat mengembalikannya kembali seperti Sehun yang dulu" Kata Suho pada dirinya sendiri sebelum berlalu keluar dari gudang tempat dimana biasanya Sehun menghilangkan nyawa para musuh dan orang yang berani menyakiti miliknya ataupun menentang perintahnya mereka semua akan berakhir mengenaskan ditangannya.

.

.

.

Semuanya pasti akan kembali pada awalnya dan baik-baik saja

Dan saat itu pula hati yang hampa akan terisi kempali dengan kebahagiaan yang semestinya

.

.

.

Sehun memejamkan matanya saat angin yang cukup menyegarkan menerpa tubuhnya. Namun itu tak berlangsung lama saat ia kembali membuka matanya menampakkan kelereng hitam pekat yang menatap lurus kedepan. Matahari mulai menenggelamkan dirinya perlahan di ufuk butuh ketenangan di tengah ramainya kota Seoul hari ini , dan ia memutuskan pergi ke atap gedung kantornya sekedar melihat tenggelamnya matahari dan untuk menghirup udara sore mungkin dapat membuatnya tenang.

"Sehun"

Sehun menoleh sedikit mengukir sebuah senyuman di wajahnya

"Kapan kau datang? ini kali pertama kau datang kembali kemari setelah sekian lama" Kata Sehun

"Aku kembali ke negara tempat kelahiranku , bukankah itu hal yang wajar?" Balas pria berdiri disamping Sehun dengan senyum sendunya

"Aku pikir kau tidak akan kembali lagi"

"Haha itu lucu mana mungkin aku tidak kembali lagi, seperti yang kau tau aku kembali ke sisimu lagi Sehun" pria itu tertawa jenaka

"Ya aku tahu dan kau pasti tahu juga kalau kau selalu di terima disini" kekeh Sehun

"Aku tahu itu ,karena itulah juga aku kembali padamu"

.

.

.

.

.

Pada dasarnya untuk mencapai suatu kebahagiaan itu disertai dengan sebuah pengorbanan yang begitu besar di awalnya

.

.

.

Luhan mendorong pelan kursi rodanya menuju taman rumah sakit. Ini benar-benar sangat merepotkan jangan lupakan jarum infus yang masih bertenger manis di tangannya. Kalau saja wanita perawat itu tak memaksanya duduk di kursi roda ini mungkin ia lebih memilih berjalan kaki lagi pula dia sudah baik-baik saja lukanya juga tak terlalu parah menurutnya. Saat sudah sampai di taman rumah sakit Luhan turun dari kursinya dan lebih memilih duduk di bangku taman. Ia menoleh kekanan dan kekiri taman ini nampak sangat sepi hanya ada beberapa orang yang terihat disini dan Luhan menyukainya. Ia melihat sebuah kolam kecil di depannya dengan air mancur yang tak cukup besar namun terlihat indah.

Tentang Sehun , ia belum datang lagi padahal hari sudah menjelang malam. Walaupun ia masih kesal pada pria itu namun tak dapat di pungkiri jika hatinya menghangat saat Sehun mengklaim dirinya sebagai miliknya. Ada bagian dari dirinya yang merasa lega dan bahagia disaat bersamaan atau mungkin ia sudah menaruh hati pada pria itu. Luhan menggelengkan kepalanya ribut menghilangkan pemikiran tentang pria itu sesaat, lagi pula bukankah ia harusnya merasa senang karena Sehun tak datang ia bisa merasa lebih bebas dan bisa melakukan apapun yang ia mau.

Luhan menggoyang-goyangkan kakinya layaknya anak kecil dengan kepala menunduk melihat kedua kakinya. Kepalanya masih penuh dengan Sehun , Sehun dan Sehun mungkin ia akan jadi gila sebentar lagi karena pria itu.

Tap

Tap

Luhan dapat melihat sepasang kaki berbalut sepatu hitam yang mengkilap dan nampak mahal itu berhenti tepat di depannya. Sehun , itu adalah satu nama yang Luhan pikirkan siapa lagi yang menemuinya dengan memakai sepatu mahal itu. Ia mencoba menahan senyuman diwajahnya dan perlahan mendongak hendak melihat orang itu .

"Se..-hun"

Dan tepat seperti dugaannya didepannya nampak Sehun tengah menatapnya sendu dengan memakai sebuah setelan santai bukan jas dan kemeja seperti yang selama ini ia sering lihat. Sehun terlihat berbeda dengan rambutnya yang ia tata turun menutupi dahi sempurnanya dan saat itu juga Luhan merasa dirinya tertarik lebih dalam kedalam pesona seorang Oh Sehun yang begitu kuat

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Sehun lembut

"A-aku hanya bosan berada dikamar" balas Luhan gugup

"Seharusnya kau beristirahat di kamar keadaanmu belum pulih , lagipula udara disini mulai dingin" ucap Sehun melepas mantelnya dan memakaikannya pada tubuh mungil Luhan. Dan saat itu Luhan dapat mencium aroma Sehun yang melekat pada mantel yang ia pakai terasa kuat dan menenangkan. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum membukannya kembali "Aku mohon biarkan aku disini sebentar"

"Memang siapa yang akan menyuruhmu kembali kekamar" Jawab Sehun santai

Luhan menatap Sehun tak percaya dan

"Y-yak"

Ia memekik tertahan saat dengan tiba-tiba Sehun mengangkat tubuhnya dan mendudukannya di kursi roda lalu mendorongnya mengelilingi taman rumah sakit. Tak ada yang berbicara ataupun memulai pembicaraan mereka berdua menikmati keterdiaman ini disertai angin sore yang berhembus dengan pelan dan begitu menyejukan. Luhan tak bisa berpikir jernih saat ini dan saat ini tak bisa di pungkiri lagi jika ia memang mulai menerima Sehun untuk melengkapi bagian dari dirinya yang kosong dan semua itu kini terasa sempurna karena adanya Sehun. Walaupun dengan semua perlakuan Sehun padanya selama ini mulai saat dimana Sehun membawanya kerumahnya, mengurungnya , menyetubuhinya dan menolongnya. Luhan tahu di balik sifat arogan, angkuh dan dingin seorang Oh Sehun terdapat kelembutan dan kehangatan di dalamnya dan hal itu pula yang membuatnya jatuh semakin dalam. Saat masih sibuk dengan pemikirannya sendiri ia tak sadar jika Sehun sudah berjongkok didepannya. Luhan mengerjapkan matanya berkali-kali saat Sehun menyelipkan sebuah cincin sederhana namun nampak begitu indah di jari manisnya.

"Se-Sehun"

"Seperti apa yang aku katakan kau adalah milikku Luhan dan aku selalu menandai apa yang menjadi milikku, jadi jangan sampai kau menghilangkan cincin ini karena aku akan sangat marah jika sampai kau menghilangkannya" Jelas Sehun dan mencium tangan Luhan pelan sebelum menunjukkan tangan kirinya yang terdapat cincin yang sama seperti yang Luhan pakai. "Kita terikat mulai sekarang jadi jangan coba-coba untuk pergi dariku"

"Aku mencintaimu"

Luhan membelalakkan matanya mendengar pengakuan Sehun nafasnya terasa tercekat ditenggorokan. Apa Sehun bilang mencintainya apa dia tengah berhalusinasi sekarang semua terasa mustahil sangat mustahil. Sedangkan Sehun melihat ekspresi Luhan yang nampak diam saja memakluminya karena mungkin menurut Luhan ini terlalu cepat. Ia mengakuinnya bahwa ia memang mulai mencintai Luhan sebagai Luhan bukan seperti pengganti Luna atau siapapun. Memang dulu ia tertarik pada Luhan karena ia memiliki paras yang sama seperti mendiang istri tercintanya itu namun seiring berjalannya waktu ia sadar bahwa mereka adalah dua orang yang berbeda dan perasaan yang ia miliki antara keduannya juga berbeda. Luhan berbeda dengan Luna , pria itu adalah sosok yang nampak kuat namun sebenarnya rapuh , ia manja namun dari semua sifatnya itu ia memiliki hati bak malaikat tanpa sayap.

Mungkin ini sebuah takdir yang di buat Tuhan untuk mengembalikan Sehun pada sosoknya yang dulu untuk menariknya ke dalam cahaya dari jurang kegelapan yang selama ini membelenggunya dengan mempertemukannya dengan sosok Luhan.

"Aku tahu ini terlalu cepat , Huh! Lupakan saja anggap kau tak mendengarnya" kata Sehun dan mengelus rambut Luhan kemudian ia kembali berdiri lalu mulai mendorong kursiroda Luhan.

"Maaf" A-aku jugan mencintaimu Sehun

"Tak perlu minta maaf kau tak membuat kesalahan aku pikir" kata Sehun tenang " kau tak perlu membalasnya hanya saja tetaplah disini dan jangan mencoba pergi, Arra"

Entah mendapat dorongan darimana Luhan menganggukan kepala.

Dalam perjalanan kembali kekamar rawat Luhan di lewati dengan keheningan hingga saat mereka sudah memasuki kamar. Sehun kembali mengendong Luhan keatas ranjang dan kali ini ia hanya diam tak menolak ataupun memekik

"Beristirahatlah aku akan segera kembali" kata Sehun mengusak pelan rambut Luhan . Namun saat hendak melangkah keluar tangan Luhan menarik tangannya menghalaunya untuk pergi. Sehun yang nampak bingung membalikkan tubuhnya menatap Luhan

"Aku tidak tahu ini benar atau tidak dan aku tidak tahu dengan apa yang aku rasakan ..-" Luhan berhenti sejenak dan menghela nafas pelan "-...A-aku j-juga menyukaimu Ah! A-ani a-aku mencintaimu kau bisa tak percaya aku juga takpercaya dengan apa yang aku kat..-"

Ucapan Luhan terhenti saat dengan tiba-tiba Sehun menangkup wajahnya dan menciumnya walau ia begitu terkejut namun ia mulai memejamkan matanya menikmati ciuman yang Sehun berikan padanya. Tak ada nafsu didalamnya Sehun melumat bibir Luhan begitu lembut seperti menyalurkan semua perasaan cinta yang ada dalam dirinya. Tapi ciuman itu tak berlangsung lama saat Sehun perlahan menyudahi tautan bibir mereka dan menyatukan dahinya pada dahi Luhan menatap dalam iris coklat Luhan

"Aku percaya Luhan dan terimakasih sudah mencintaiku Aku mencintaimu Lu kau miliku dan hanya miliku" ucap Sehun dan kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Luhan dalam sebuah ciuman yang begitu lembut dan memabukkan

.

.

.

AND

TBC!

Annyeong chingu dinda back again, mianhae buat kalian menunggu dinda akan mulai aktif lagi berhubung laptop sudah sehat dan hp sudah baru hihi

Tunggu update dinda ya , dinda akan update secara bergilir minimal ya dua hari sekali dan maksimal 4-5 hari -ngomong maaf ya kalau alurnya kecepetan dinda udah gregetan buat nyatuin bunda sama ayah dan setelah bertapa berhari-hari dinda mutusin chap ini bersatunya Ayah dan bunda. Miann kalau kecepetan ya soalnya konfliknya ini bakal buanyak banget dan jadilah chap ini dinda

Dinda bakal bawa story baru buat come back huhu*kayaboyandgirlgroupajee* judulnya Rain and Winter

Buat gantiin Thanks for seeing me yang maaf banget bakal dinda hapus karena otak dinda buntu untu ff yang satu itu padahal awalnya itu mau sad end tapi malah di review pada minta happy end jadi kan kacau akhirnya.

Tapi dinda mau kasih sedikit bocoran tentang cerita ini kalau genrenya itu sedih dan cocok kalau di baca saat lagi pengen galau atau sedih deh kayaknya

Pahami aja karakternya dan buat kalian bayangin kalian yang jadi tokoh dalam crita itu sendiri. Btw seperti judulnya story ini pas banget kalau di baca waktu rainy day or winter day. But, kalau kalian di indo ya baca waktu ujan aja bcs indo kan gak punya musim nggak kalian bikin salju aja sendiri dengan nyerut es batu terus dilemparin ke udara *HOHO*

Btw cerita ini khusus banget bcs dinda nulis waktu hujan dan winter juga saat liburan and dinda di bantu sama temen dinda buat buatnya walau masih sama-sama amatir yang maklumi aja ya.

Dinda mau ngucapin semangat buat adek-adek dan teman-teman yang mau menempuh ujian akhir ya . gak usah tegang-tegang . nggk sesusah kelihatannya kok *ditabok*

Oh ya karena dinda jarang update informasi tentang HunHan and Exo akhir akhir ini krn hp and laptop rusak . Pasti ketinggalan banyak hal tentang mereka .So, please bagi-bagi informasidon tentang mereka ya (PM or DM DINDA AJA OKE)

Makasih juga buat yang kasih semangat dinda di review *ciumsatusatu*

Udah sgitu aja ya. Rasa-rasanya jadi cerewet banget dah dinda sekarang wkwk

Seperti biasa happy reading and review

HUNHAN SHIPPER