V for V

© Mini Yeon


Jungkook mengerang, menatap miris bagian selatannya yang mulai mendesak menuntut kebebasan. Dipandanginya tubuh Jimin yang tertidur pulas di sampingnya. Ini semua karena makhluk sialan itu. Biasanya, ia tak pernah merasa sebergairah ini hanya dengan menatap tubuh kekasihnya yang bahkan belapis selimut tebal hingga ke leher.

Leher. Reflek Jungkook meraba lehernya. Hasratnya masih sama, ia seperti menginginkan dua taring itu kembali menusuk lehernya, sekaligus menghisap segala nafsu yang berada di benaknya. Siang tadi ia sempat dengan begitu bodoh mengutarakan keinginannya pada Jimin, yang kemudian lelaki manis itu hanya mengerjap bingung, menatapnya meminta penjelasan dan beruntungnya Jungkook bisa memberi jawaban seperti 'ah, aku pusing Jim, karena itu bicaraku melantur. Maaf' dan setelahnya, tentu saja Jimin dengan segala bentuk keperhatiannya memperlakukan Jungkook sebagaimana mestinya orang sakit diperlakukan.

Ah shit. Triple sial lagi. Jimin menggeliat, dan tanpa sadar memeluknya erat. Sebuah kebiasaan bagi Jimin, jika tertidur ia memang memerlukan sebuah guling di sisinya untuk ia peluk. Tetapi ini Jungkook, yang demi apapun ia bahkan sedang berusaha mati-matian menahan segala keinginannya.

Jungkook memejamkan matanya, berusaha larut dalam mimpi namun sepertinya percuma saja. Dengan diberhentikannya satu indera, secara otomatis meningkatkan kinerja indera lain. Seperti halnya yang dirasakan indera penciumannya saat ini. Wangi tubuh Jimin yang begitu dekat dengannya serasa menusuk, ditambah telinganya dengan kurang ajar menangkap suara yang keluar dari mulut Jimin –ia yakin itu- sebagai erangan. Oh,, sepertinya Jimin memang mengerang, mungkin ia mimpi buruk?

Dan mungkin ini juga mimpi buruk bagi Jungkook. Otak kotornya segera saja mengilustrasikan jika Jimin mengerang akibat penyatuan mereka. Dan bayangan dirinya menumbuk Jimin sekuat tenaga segera saja hinggap di sana.

"Ahh!" apa Jungkook tidak salah mendengar? Jimin mendesah! Disusul dengan suara nafasnya yang terengah. Jungkook masih memejamkan matanya, sekali lagi ia harus ekstra menahan segala gairahnya.

Sebelum kemudian bahunya terguncang, Jimin yang melakukannya.

"Jungkook, bangun," suara lirih Jimin terdengar panik, ketakutan, atau apapun itu, yang segera saja membuat Jungkook membuka matanya.

"Yah, sayang, kau kenapa?" Jungkook kelabakan. Ia menangkup pipi Jimin yang saat ini basah oleh aliran airmatanya.

Jimin mendongak menatap Jungkook. "Aku bermimpi.." dan tangis itu pecah lagi. Jungkook sampai dibuat bingung olehnya. Apa? Mimpi apa? Bagaimana bisa hanya karena sebuah bunga tidur, Jimin sampai menangis seperti itu?

"Jangan menangis, aku di sini." Jungkook mengusap lembut air mata Jimin, kemudian mengecup dahi berkeringat itu, meyakinkan kekasihnya jika ia memang berada di dekatnya.

"Berjanjilah kau takkan meninggalkanku.." Jimin mencengkram sisi hoodie Jungkook kuat, maniknya menatap Jungkook penuh harap. "Aku berjanji," sahut Jungkook mantap. Siapa yang mampu meninggalkan seorang kekasih seperti Jimin? Menjauh saja Jungkook tak akan sanggup. Lagipula banyak lelaki bahkan wanita di luar sana yang akan bersyukur jika sampai ia melepaskan bocah manis yang terjebak di usia yang lebih tua dua tahun darinya. Enak saja.

Jungkook memeluk Jimin erat, menenggelamkan sebelah pipi montok itu di dada bidangnya. Jimin sudah lebih tenang sekarang, ia tak lagi menangis, hanya suara sesenggukannya saja yang masih terdengar.

"Sayang.. Sebenarnya apa yang kau mimpikan?" akhirnya keluar juga pertanyaan itu. Sejujurnya Jungkook merasa penasaran.

"Kau.. menjadi seorang vampire."

© MY Yeon

Tangis Jimin mereda seiring dengan mobil yang mulai memasuki area kota. Ya, sebenarnya Jungkook beserta Jimin sedari tadi berbaring di bagian belakang mobil sejenis pick up. Seokjin, kakak Jungkook, memutuskan membatalkan acara bersenang-senang mereka dengan cara menjelajah hutan, mengenal alam lebih dalam, dikarenakan fisik Jungkook yang dinilai kurang sehat. Saat Seokjin membicarakan hal itu, Jungkook hanya meringis kemudian meminta maaf berkali-kali, karenanya acara mereka menjadi berantakan. Tetapi Hoseok, teman Seokjin yang juga ikut hanya mengusak rambutnya kemudian berkata tak apa, tak masalah, mereka bisa melakukannya lain kali.

Mobil bergerak menuju apartemen Jungkook lebih dulu. Jungkook memang tinggal terpisah dengan Seokjin dengan alasan rumah mereka jauh dari sekolahnya. Setelah mengecup dahi Jimin yang kembali tertidur pulas sekaligus berpesan pada kakaknya agar mengantar Jimin hingga depan pintu apartemennya, Jungkook merengek agar Hoseok menggantikan hyungnya menyetir dan membiarkan Seokjin menemani Jimin di belakang. Dengan alasan ia takut Jimin diculik sesuatu dan mengingat keberadaan V di hutan sana secara tidak sengaja. Seokjin bisa apa jika yang memintanya adalah adiknya yang manis? Bahkan Hoseok pun dengan ikhlas bangun dari tidurnya untuk kemudian menjadi supir.

Setelah memastikan pintunya terkunci kembali, Jungkook menarik napas dalam, menghirup aroma apartemen yang selalu dirindukannya. Baginya, aroma rumah adalah aroma penenang yang tak tergantikan oleh apapun. Meski rasa kantuk menyerangnya, namun hal pertama yang ingin dilakukannya saat ini adalah mandi; menghilangkan aroma hutan dari tubuhnya sebelum nyenyak dalam mimpi. Melempar ranselnya di atas karpet, Jungkook membawa dirinya ke kamar. Mandi di kamar pribadinya tentu jauh lebih baik.

Jungkook baru saja ingin melempar kausnya ke keranjang cucian ketika ada yang memeluknya dari belakang.

Jungkook tersentak, udara dingin berhembus ke arahnya tiba-tiba.

"Tubuhmu hangat."

"V?"

"Waaah aku tersanjung kau masih mengingatku." V terkikik, mengusak di leher Jungkook dan menjilat sekilas sebelum kemudian beralih memeluk Jungkook dari depan. "Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi, apa kau merindukanku?" V menyeringai, tak butuh jawaban Jungkook sebenarnya, ia tentu dapat menebak melihat tak ada penolakan berarti yang didapatnya.

"Lepaskan. Aku ingin mandi." itu bukanlah penolakan, justru sebaliknya karena entah sadar atau tidak, Jungkooklah yang menahan pinggang V untuk tetap memeluknya.

"Kau ini aneh ya." V melepaskan Jungkook dengan tidak rela. Mematai pemuda itu menghilang dibalik pintu kamar mandi. Terdengar tumpahan air dari shower dan V mulai berpikir satu atau dua sesi di kamar mandi sepertinya menyenangkan. Tapi menyadari jika Jungkook adalah orang keras kepala yang ia kenal, ia jadi harus terpaksa menepis keinginannya.

Bercinta dengan orang yang menolakmu bukanlah seks yang ia harapkan.

Setidaknya dari pemuda sepanas Jungkook.

Sebab Jungkook bisa lebih panas lagi jika dialah pihak yang mengajaknya bercinta.

Mengingat gelagat Jungkook, V menyeringai. Tak akan lama lagi dan Jungkook akan dengan senang hati memasuki dirinya.


ngecek. apa masih ada yang mengharapkan cerita ini berlanjut. karena jika iya, akan dengan senang hati saya lanjutkan.