"keduanya terikat, saling membutuhkan, dan saling bertaruh nyawa / "kau... nikmat" / "sekali saja kau melangkah jauh dariku, kematian akan berada tepat di depan matamu" / BTS Bangtan Boys KookV KookMin / CHAP 4 IS UP!"

.

.

author : MY Yeon

"V for V"

MY Yeon hanya memiliki ceritanya, tak bisa memiliki mereka meski banyak mengharap sekalipun

WARNING! PERHATIKAN ALUR!

Happy Reading ^^^

888

.

.

.

Pagi-pagi sekali Jungkook mendapat pesan dari Jimin. Pemuda manis itu berkata jika ia merasa tidak enak badan dan berharap Jungkook bisa membuatkannya surat ijin. Maka Jungkook yang tadinya sudah memakai seragam sekolah segera melepasnya kembali dan menggantinya dengan hoodie abu beserta jeans hitam. Ketimbang membuatkan Jimin surat ijin, ia lebih memilih mendatangi apartemennya. Memang apa gunanya mengikuti pelajaran jika pikirannya tidak tenang?

Ketika hendak keluar, Jungkook berhenti di tempatnya, teringat sesuatu. Bukankah semalam ada V di sini? Lalu kemana gerangan vampire itu saat ini? Namun setelahnya, ia mengangkat bahunya tak peduli. Mungkin saja yang semalam hanya mimpi, Jungkook akan merasa bodoh jika berharap kehadiran V adalah nyata adanya.

Sesampainya di apartemen Jimin, Jungkook tak perlu mengetuk atau apapun itu agar dibukakan pintu karena ia tahu betul apa passwordnya.

"Jimin-ah?" Jungkook melepas sepatunya dan menaruhnya di rak. "Sayang?" panggilnya lagi, dan suara batuk menyambutnya di dalam sana.

"Aku di sini, Jungkook."

Jimin berada di kamar. Jungkook menaruh ranselnya di sofa lalu menuju di mana Jimin berada.

"Astaga, sayang. Mana yang sakit?" Jungkook melompat. Menyambar kening Jimin dan memeriksa suhunya. "Demam." Jimin mengangguk lemah. "Kepalaku juga pusing."

"Kita ke dokter, ya?"

"Tidak." Jimin menahan lengan Jungkook. Menggeleng. "Kau tahu aku benci obat. Sebentar lagi juga sembuh."

Jungkook menghela napas, mengalah. "Jika siang nanti belum ada perubahan, kita panggil dokter dan tidak ada bantahan."

Dengan berat hati Jimin mengangguk seraya berdoa dalam hati semoga sebentar lagi sakitnya benar-benar sembuh.

"Ingin sarapan apa?"

"Aku sudah makan roti. Kau berangkatlah ke sekolah."

Jungkook menatap Jimin tajam, dan ia tahu apa maksudnya bahkan sebelum Jungkook berbicara. "Dan meninggalkanmu di sini sendiri dalam keadaan sakit begini? Tidak."

Jungkook kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi dan muncul kembali membawa baskom berisi air hangat beserta handuk kecil. Ia menyingkirkan poni yang menutupi dahi Jimin dan memberinya kecupan lalu mengompresnya. "Sebentar."

Jungkook kembali menghilang. Kali ini datang dengan membawa segelas susu hangat. Jungkook membantu Jimin duduk lalu memastikan kekasihnya meminumnya hingga habis. "Cepat sembuh, sayang. Tidurlah, itu akan mengurangi pusingnya."

"Lalu kau?"

"Aku akan menemanimu."

Jimin terlihat berpikir sejenak, berulangkali berkedip kala pening itu menyerang. "Tidurlah di sebelahku, Jungkook. Ada lingkaran hitam di kisaran matamu. Tidak bisa tidur?"

Jungkook kembali teringat akan keberadaan V dan sadar betul jika semalam dirinya memang tidak bisa tidur. Memikirkan keberadaan seorang vampire di dalam kamarnya benar-benar membuatnya waspada dan terpaksa terjaga.

"Bolehkah?"

Jimin tersenyum manis, meski lemas. "Tentu. Tapi jauh-jauh dariku atau kau akan tertular."

Jungkook terkekeh sejenak melihat Jimin memasang tameng dari dua lengannya yang mungil. "Tidak masalah. Biar aku saja yang sakit." Jungkook berbaring mendekati Jimin lalu membenarkan posisi handuk di keningnya. Jimin memejamkan mata. Sepertinya terlalu pening untuk sekedar membalas ucapan Jungkook kali ini. Jungkook mengusap bulir keringat yang mengaliri wajah Jimin dengan ujung hoodienya di telapak tangan. Bergeser ke rahang dan ia mengernyit mendapati noda aneh di leher bagian samping kekasihnya. Tidak akan terlihat jika Jungkook tidak benar-benar melihatnya dari sisi samping. Noda yang tak asing untuknya. Seperti noda bekas gigitan ular. Tapi ini berbeda.

Jungkook melotot.

Ia perlu mendengar penjelasan dari V setelah ini.

.

MY Yeon

.

Jimin tertidur. Suhu badannya telah menurun, dan Jungkook memutuskan meninggalkannya sebentar untuk menemukan V.

Jungkook kembali ke apartemennya. Tempat paling memungkinkan untuknya bertemu dengan V. Untung saja jarak apartemennya dan apartemen Jimin tidak terlalu jauh jadi tidak masalah ia bolak balik begini. Jungkook mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari keberadaan makhluk yang tiba-tiba saja ingin ia cabik-cabik. Tapi nihil. Ia tidak mendapatinya di mana-mana.

"Pelajaran pertama, jangan mencariku di tempat yang mudah terlihat, Jungkook."

Jungkook berbalik lalu mendongak, menemukan V terbaring menopang dagu di atas lemari pakaiannya yang tinggi.

"Biar ku tebak. Ini tentang kekasihmu?" V tertawa menjengkelkan. Jungkook mengepalkan jemarinya erat. "Turun."

V menggeleng. Caranya melakukan itu mengingatkan Jungkook pada keponakannya yang berumur lima tahun. Bedanya V sama sekali tidak menggemaskan, menurutnya. "Tidak mau. Kau berniat memukulku, kan? Lihat otot-ototmu yang menegang itu. Tidakkah kau tahu jika kemarahan hanya membuatmu semakin terlihat seksi di mataku? Aku jadi semakin ingin melahapmu, lagi." V menjilat bibirnya. Jungkook menggeram.

"Kukira kau hanya akan menghisap darahku atau seseorang yang mirip denganku di masa lalu. Tapi apa ini? Kau menghisap Jimin? Apa maksudnya semua ini?"

"Oh wow pelan-pelan, tampan. Aku akan menjawabnya." V duduk di tepi lemari, menunduk menghadap Jungkook. "Jadi namanya Jimin?"

Jungkook menatap V tajam.

"Baik, baik. Kau harus mengurangi kadar dominasimu itu, Jungkook. Aku jadi takut padamu." perkataannya benar-benar berkebalikan dengan kenyataan karena V bahkan turun dari atas lemari tepat di depan Jungkook. Dekat sekali di depannya hampir tanpa jarak.

"Alasanku menghisap Jimin adalah," V mendekat. "Karena dia terasa sepertimu." bisiknya di telinga Jungkook.

Jungkook menggeram, mencengkram pinggang V sebagai balasan. Namun sakit, V justru mendesah seraya melemparkan dagunya ke pundak Jungkook, menahannya di sana. Jungkook reflek melepaskan cengkramannya dan V menyeringai.

"Ini bukan sepenuhnya salahku, sayang. Aku tidak sengaja melakukannya." V memeluk Jungkook intim, sengaja merapatkan bagian tubuhnya yang utama. Jungkook tidak menolak, sama sekali. "Kau menolakku semalam, ingat? Aku jadi frustasi. Aku keluar menghirup udara segar dan tanpa sengaja menemukan bau yang mirip denganmu. Setelah ku ikuti, aku menemukan salah satu lelaki yang waktu itu mencarimu. Dan terungkap sudah mengapa dia memiliki baumu. Karena dia terlalu sering berdekatan denganmu." Jungkook terkesiap. Hal semacam itu sama sekali tidak diduganya.

"Alasan mengapa aku menghisapnya tentu saja karena aku lapar. Aku juga butuh makan, Jungkook." tambahnya. Jungkook menghela napas berat. Tanpa ia sadari dirinya juga menjadi penyebab Jimin sakit pagi ini. Sudah pasti V menghisap banyak sekali darah Jimin semalam mengingat betapa rakus vampire itu padanya kemarin.

Mengingat kemarin, Jungkook membelalak. "Kau melakukan itu dengan Jimin?"

"Itu?" V mengernyit heran. Melepas pelukannya pada Jungkook dan mengambil jarak satu langkah di depannya. "Oh itu?" V tertawa keras. "Menurutmu?"

"Brengsek." Jungkook berdecak lalu mengayunkan tinjunya ke arah V tiba-tiba. Vampire itu benar-benar menguji kesabarannya.

"Ups.. Hampir saja." tahu-tahu V telah menghindari pukulan Jungkook dengan bergerak menjauh bahkan sebelum Jungkook menyadarinya. Pergerakan V terlalu cepat hingga tidak mudah tertangkap mata. "Aku hanya perlu darahnya, Jungkook. Hanya darahnya. Tidak untuk yang lain. Aku hanya bisa bercinta denganmu, tepatnya hanya ingin dirimu."

Jungkook mendesah lega. Entah karena fakta V tidak menyentuh Jimin atau nyatanya V hanya menginginkan dirinya. Perbedaan keduanya terlalu tipis bagi Jungkook.

"Jadi Jungkook, pergilah. Temui kekasihmu. Pastikan dia sehat kembali dengan begitu dia akan berguna untukku."

"Jangan lakukan hal itu lagi, sialan." Jungkook menahan diri meski rasanya ingin sekali memukul V.

"Kalau begitu, bersiaplah untukku malam ini."

.

MY Yeon

.

"Dari mana saja, Jungie?" Jimin menyambutnya di depan pintu kala Jungkook baru saja kembali. Dilihatnya lelaki manis itu telah berganti pakaian dan beraroma sabun mandi. "Sudah baikan?" Jungkook menempelkan keningnya sendiri ke dahi Jimin lalu mengangguk seperti menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri.

"Ajaib, aku sembuh. Pasti karena susu buatanmu." Jimin nyengir, Jungkook jadi ingin menciumnya.

"Ya, mau apa kau?" Jimin menoyor dahi Jungkook. "Jangan terlalu banyak bergaul dengan Namjoon sunbae." usai memperingati Jungkook, Jimin mengecup tepi bibir Jungkook lantas kabur. Jungkook hanya mematung seraya menyentuh bekas kecupan Jimin di sana. Jantungnya berdebar tidak karuan. Hal yang hanya bisa ia rasakan jika tengah bersama Jiminnya.

"Yaa hyuuung.. Boleh minta satu kecupan lagi?" Jungkook membuntuti Jimin. "Hyuuuuung." Jungkook menarik-narik kaus Jimin.

"Yaaa hentikan itu. Kau hanya memanggilku hyung jika ada maunya. Menyebalkan." Jimin menarik batang hidung Jungkook sebelum melanjutkan langkahnya menuju dapur. Berniat akan membuat makan siang untuknya dan juga Jungkook.

"Hyuuuung ayolaaaah."

"Tidak mau. Sana jauh-jauh dariku." Jimin mengambil daging dari kulkas, sembari berpikir akan ia apakan daging ini. "Sup atau steak?" tanyanya.

"Sup." jawab Jungkook cepat. "Dan sebuah kesupan (kecupan)."

Wajah Jimin tersipu, ia sebisa mungkin menahan senyumannya. "Jeon Jungkook, aku sedang memegang pisau."

"Dan aku sedang memegangmu." Jungkook menggelitiki Jimin. Jimin tertawa kewalahan. Ia terengah, menyerah. Melambaikan potongan daging terdekatnya ke wajah Jungkook. Tentu saja Jungkook harus menghindar jika tidak ingin terkena tamparan daging yang akan terasa lumayan sakit.

"Jika tidak berhenti, aku bersumpah akan menjadikanmu sup, Jungkook." Jimin kembali memotongi daging tipis tipis. Berusaha mengabaikan keberadaan Jungkook yang senang sekali menggodanya.

"Benarkah? Sayang sekali. Padahal aku selalu menjadikanmu ratu di hatiku."

"Jeon Jungkook!" Jimin berpura-pura marah. "Aku bukan perempuan."

"Dan aku bukan wanita. Kau memang bukan perempuan tapi akan selalu kucinta."

"Yahh! Aww." Jimin memegangi telunjuknya yang tergores pisau. Jungkook panik, menyesal telah menggoda Jimin di saat pemuda manis itu tengah memegang benda tajam. Disambarnya telunjuk Jimin dan memasukannya ke dalam mulut. Bermaksud menghentikan pendarahan di sana dengan ludahnya.

"Maafkan aku."

Jimin menggeleng. " Tidak apa-apa. Ini salahku karena kurang hati-hati." Jimin meringis. "Aku akan mengambil plester."

Jungkook memperhatikan Jimin yang tengah mengambil kotak obat. Jungkook sungguh merasa bersalah. Sudah sepatutnya ia meminta maaf. Bukan hanya karena telah membuat Jimin lengah dan berakhir melukai jemarinya,

tapi juga karena ia sempat menikmati rasa darah Jimin di dalam mulutnya.

.

MY Yeon

.

Malam semakin larut. V terduduk di atas lemari Jungkook sembari menatapi pemuda tampan yang tengah gelisah dalam tidurnya. Sesekali cekikikan mendapati tingkah lucu Jungkook ketika membalik posisi tidurnya penuh antisipasi. Mengedarkan pandangan sebelum kemudian terpejam kembali. V tahu jika Jungkook kemungkinan besar sedang mencari keberadaan dirinya.

Jungkook sudah lebih tenang sekarang. Dari hembusan napasnya yang V dengar, dapat dipastikan jika Jungkook baru saja tenggelam dalam tidurnya. V memutuskan turun dari atas sana, mendarat tanpa suara di sisi ranjang Jungkook.

V lapar. Tapi entah mengapa sebagian dirinya membunyikan alarm menahan diri, tak ingin memaksa Jungkook kembali dan membuatnya terbaring lemah kekurangan darah. V butuh menjauh dari Jungkook, saat ini. Leher Jungkook terlalu menggoda untuk terlihat olehnya.

"Maafkan aku. Aku butuh meminjam pakaianmu." bisiknya.

V terlihat lebih manusiawi sekarang ketika tubuhnya tak lagi berbalut jubah hitam yang ketinggalan jaman. Ia tampan sekaligus cantik, dan ia tahu itu. Berulangkali melirik ke arah kaca memeriksa betapa sempurna tampilan dirinya.

"Cih. Jika aku tak terikat denganmu, sudah pasti mudah untukku menggaet ribuan lelaki tampan di luar sana." V mencibir saat bayangan Jungkook menolaknya terang-terangan hinggap di kepalanya. Di sepanjang jalan ia disibukkan oleh ejekan-ejekan yang ia lontarkan hampir tanpa suara. Sebagian lampu-lampu kota telah padam, terutama di kafe atau toko yang sudah tutup. Perhatiannya kini terpaku pada mini market yang baru saja dilewatinya. Bukan karena lampu di sana masih menyala, tapi karena hal lain. V menghentikan langkahnya, memusatkan indera penciumannya pada aroma yang dikenalnya.

Aroma yang membuatnya hampir saja kehilangan kendali, lapar yang teramat sangat, berpikir menghabisi siapa saja pemilik aroma ini.

Aroma Jungkook, tapi bukan Jungkook yang menguarkan aroma ini. Jungkook jelas tengah tertidur pulas saat ia tinggalkan tadi.

V berbalik, membawa langkahnya cepat mengikuti sosok yang sepertinya pernah ia lihat.

Seseorang yang mencari Jungkook ketika pemuda tampan itu tengah bersamanya di hutan.

V berpikir ada yang salah dari dirinya. Sebab alih-alih menghisapnya langsung, V justru repot-repot membuntutinya sampai kemari. V melesat dan hinggap di balkon apartemen di mana aroma itu terhenti di sana. Dari celah gorden yang tersibak, V menemukannya. Ketajaman penglihatan membuatnya terbelalak manakala mendapati sesuatu yang tak nampak asing untuknya.

Noda berantakan di leher pemuda itu.

V menghela napas. Menyesal? Tidak. Ia justru menyeringai. Senang rasanya mengetahui segalanya berjalan lebih cepat dari yang ia duga.

.

.

.

.

.

Tbc

Big Thanks to :

sabitelfsparkyu / Sasayan-chan / kookv75 / koook / Uozumi Han / TaeJeon / Ansleon / KookieL / sarzrnh011 / Park RinHyun-Uchiha / icha744 / Carat17 / Guest / vanillatae / Ren Afrezya / Guest / AprilKimVTae / zaet00 / GaemGyu92 / BbuingHeaven / deshintamirna / Guest / Hatsumi piyopiyo / Kyunie / Y BigProb / pereview chapter 2 / pereview chapter 1 / siders / [mohon maaf jika ada yang terlewat]

ehem. akhirnya saya lanjutkan setelah saya tinggalkan fic ini berabad-abad lamanya *bhak

sebenernya alasan saya menelantarkan fic ini adalah karena saya perhatikan sudah banyak sekali summary yang mengangkat tema vampire

saya hanya takut terjadi kemiripan dan ada yang mengatakan bahwa fic ini hasil plagiat. meski syukurlah belum ada yang memfitnah saya begitu karena nyatanya fic milik saya secara keseluruhan hasil daya pikir otak saya yang memang pada dasarnya suka menghayal

dan finally, review kalian berhasil mengetuk pintu hati saya, terima kasih.

ini kelanjutannya, dan akan terus berlanjut jika kalian masih sudi mengetuk pintu hati saya terus menerus.

serius, ada apa dengan bahasaku di atas? haha abaikan

tertanda,

MY Yeon