"keduanya terikat, saling membutuhkan, dan saling bertaruh nyawa / "kau... nikmat" / "sekali saja kau melangkah jauh dariku, kematian akan berada tepat di depan matamu" / BTS Bangtan Boys KookV KookMin /"
= V for V =
author : MY Yeon
[saya hanya memiliki ceritanya, tak dapat memiliki mereka meski banyak mengharap sekalipun]
Happy Reading ^^
888
.
.
.
"Y-ya Jiminie?"
'Jungkook. Sudah makan?'
"ssudaah"
'Sedang apa?'
"Perutku s-sakit hyung. Nanti aku telfon lagi-"
Tut
"-V!"
Jungkook menggeram. V mendongak, menubrukkan kilat matanya yang menggoda dengan manik Jungkook yang menahan ledakan putus asa. Gelombang kenikmatan yang menyerangnya membabi buta membuat Jungkook menyerah pada akhirnya. Napas Jungkook terengah, jemarinya mencengkram surai lilac milik V tak membiarkan vampire itu mengalihkan tatapannya pada yang lain. Posesif. V sangat menyukai pria posesif.
"Jungkook." V menyahut dengan melantunkan nama Jungkook selembut hembusan udara. V merayap, melingkarkan lengannya pada leher Jungkook ketika Jungkook merintih, meresapi detik-detik pasca pelepasannya dan V dengan senang hati memberikan gigitan-gigitan mendebarkan di area rahangnya. "Ini baru permulaan, tampan.." V menjilat penuh adam apple Jungkook menghasilkan lenguhan sang dominan.
"Ingin berhenti?" V berkata main-main, dalam benaknya yakin jika kemungkinan Jungkook akan menganggukan kepalanya hanya sebesar nol persen.
Namun, V lupa jika Jungkook bukanlah pria pada umumnya. Maka ketika namja Jeon itu mengangguk, V kehilangan pergerakannya selama beberapa menit menjadi sebenar-benarnya dirinya; makhluk tak bernyawa. Sampai akhirnya Jungkook kembali membuka suara.
"Kau akan melepaskanku jika aku berkata berhenti?"
V menyeringai, menemukan celah dalam tiap kata yang Jungkook ucapkan. Pria keras kepala yang patut ditaklukan. V tahu ia takkan merasa bosan mempermainkan Jungkook, sebab pria itu akan selalu menginginkan dirinya namun juga menolaknya dalam waktu bersamaan. Kita lihat, Jungkook, kita lihat. Siapa yang akan memenangkan permainan ini. "Ya." jawab V singkat, ingin rasanya tertawa mendapati setitik rasa kecewa yang Jungkook sembunyikan apik di belakang senyumnya. "Jimin akan menyambutku jika kau mencampakanku." tegasnya kemudian.
Jungkook membulatkan matanya, giginya bergemelatuk mengingat noda yang terdapat pada leher Jimin. Noda yang membuatnya berpikir keras apakah Jimin juga mengalami hal yang sama persis dengan dirinya.
Bercinta dengan seorang vampire.
"Kau brengsek."
V menggerakkan telunjuknya nakal, memutari dada Jungkook yang tak terhalang apapun juga. "Aku bertanya-tanya apakah memang kau selalu mengatakan kata brengsek pada orang yang membuatmu merasakan nikmatnya seks, Jungkook. Oh, sungguh dirty talk yang menggairahkan."
"Sialan." Jungkook mendesis lirih, menubruk belah bibir V sehingga vampire itu takkan berkata macam-macam lagi. Sehingga V lupa akan keniatannya merusak Jimin sebagaimana ia telah merusak dirinya. Jiminnya tidak boleh merasakan pahit yang ia rasakan. Sakit yang sama seperti yang ia rasakan.
"Bersiaplah untuk acara inti, Jungkook." Seketika V terkesiap, lalu tertawa pelan mengetahui betapa kerasnya Jungkook sekarang ini. Jungkook memang perkasa, tak diragukan lagi. V tak perlu membangkitkan apapun karena Jungkook telah siap terbenam dalam dirinya.
Keduanya menggeram bersamaan ketika V mulai mendudukan dirinya di pangkuan Jungkook dan menyatukan mereka. Panas. Sesak. Dalam. Banyak rasa bertalu-talu menggemakan kenikmatan yang tiada ujung tatkala V mulai bergerak mendahului. Jungkook tak dapat menepis semua ini sehingga tak ada yang dapat ia pikirkan lagi selain bergerak berlawanan arah dengan V. V mendesah tak karuan, mencengkram pundak Jungkook menyisakan bekas pedih dari kuku-kukunya yang terlalu kuat menekan. Jungkook menggenggam pinggang V, menuntunnya bergerak lebih cepat menyambut putihnya kegelapan surga duniawi yang disangka sebentar lagi akan datang.
V memekik keras, lalu membenamkan sepasang taringnya pada urat nadi Jungkook tepat ketika semburan miliknya mengenai perut beserta dada sang dominan dan Jungkook melepaskannya dalam dirinya.
Detik tatkala V menyesap kuat cairan merah di leher sang namja Jeon adalah detik dimana Jungkook melewatkan alam sadarnya dan tenggelam dalam lautan mimpi yang terasa nyata.
.
.
.
"Ya sayang? Maafkan aku ya?"
Jimin bergeming, tak mengindahkan permintaan maaf Jungkook yang lebih mirip sebuah permohonan. Memilih untuk menyeruput jus jeruknya dan mengedarkan netranya ke arah lain ketimbang harus menatapi tingkah Jungkook yang mulai menarik banyak perhatian.
Jungkook gelisah di tempatnya duduk, di seberang bangku kantin yang beruntung diduduki Jimin. Jemarinya semenjak tadi terus menerus berusaha menggapai jemari kekasihnya, namun pemilik jari-jari mungil itu tak kunjung membiarkan bagian tubuhnya disentuh Jungkook walau sedikit saja. Jungkook berakhir mengerang, lalu memindahkan posisinya menjadi di samping Jimin, memerangkap tubuh ramping itu di kisaran lengannya. "Maafkan aku atau aku cium?" bisiknya tepat di telinga. Jimin menggeliat, nyengir ke arah pengunjung kantin yang menatap keduanya aneh dan membuat isyarat memiringkan telunjuknya di kening. Sinting. Kekasihnya memang sinting. "Lepas, Jungkook."
"Tidak mau. Biar saja mereka lihat." Jungkook membenamkan wajahnya di sisi leher Jimin, mengendus perpaduan parfum dan aroma lembab Jimin yang selalu ia sukai. Yang selalu ingin ia...
"Aw! Yah Jungkook!" Jimin nyaris menampar Jungkook terlalu keras ketika ia menjauhkan mulut sang kekasih dari lehernya. Jemarinya mengusap-usap bagian lehernya yang baru saja dikerjai Jungkook. Perih. Kulitnya serasa ditusuk dan disayat.
Jungkook mengerjap cepat; tak habis pikir. Maniknya membola tatkala mencium bau anyir yang menyeruak di indera penciumannya. Belum sempat ia mencerna apa yang tengah terjadi, Jimin sudah lebih dulu meninggalkannya dengan terburu-buru.
Dengan sebelah tangan menutupi lehernya yang berdarah, Jungkook yakin.
Jungkook mengernyit. Aneh, pikirnya. Padahal ia hanya mengecup sisi leher kekasihnya, tak lebih. Tapi mengapa Jimin begitu merasa kesakitan seolah baru saja merasakan gigitan?
Kelopak mata Jungkook terbuka lebar. Ingatan itu lagi-lagi menghantamnya telak. Mungkinkah...
Mungkinkah luka yang dibuat oleh V menganga lagi?
.
.
.
Semenjak kejadian di kantin, Jungkook jadi sulit menemui Jimin. Jimin tak ada di manapun di sudut sekolahnya seakan tertelan bumi. Padahal Jungkook telah berkeliling sekolah, mendatangi satu persatu kamar mandi; tempat yang mungkin didatangi oleh Jimin dalam situasi semacam itu selain ruang kesehatan. Namun nihil. Tidak ada Jiminnya di sana, di manapun. Bahkan tak ada di kelasnya hingga bel pulang berbunyi. Jungkook mengetahui semua itu ketika ia bertanya pada sunbaenya, teman sekelas Jimin.
Jadi di sinilah Jungkook berada. Berdiri di depan unit apartemen Jimin. Merasa ragu bahkan hanya untuk mengetuk pintu. Jungkook sedikit banyak merasa bersalah, tentu saja. Ia memang telah bersalah sejak awal menyeret Jimin dalam kasusnya. Namun fakta jika kali ini Jimin mungkin membencinya mengganggu pikirannya sejak tadi. Jungkook bersumpah ia tak sengaja melakukannya, ia hanya senang menggoda Jimin.
Maka dengan berbekal keberanian yang ia pupuk dengan susah payah, Jungkook berakhir memasuki apartemen Jimin dengan caranya yang biasa. Dipanggilnya nama Jimin berulangkali, namun tak ada sahutan yang berarti kecuali dengung lembut air conditioner dan bunyi semprotan pengharum ruangan otomatis yang mendominasi.
Jungkook menaruh ransel Jimin yang dibawanya dari sekolah ke atas meja belajar kekasihnya. Memutuskan berbaring di ranjang Jimin sembari menunggu kekasihnya yang entah di mana itu pulang. Jungkook sudah menghubungi ponselnya berulang kali, tapi percuma sebab hanya operator yang akan menjawabnya. Ponsel Jimin tidak aktif.
Jungkook baru saja memejamkan matanya tatkala terdengar gelak tawa halus Jimin dari luar kamar. Jungkook mengerutkan dahi, menajamkan pendengarannya sembari menebak-nebak siapa gerangan orang yang mampu membuat tawa Jimin sebahagia itu. Api cemburu mulai merayap dari ubunnya hingga kepalanya hampir mendidih. Jungkook beranjak, berniat memergoki kekasihnya jika memang tebakannya benar.
Benar jika Jimin berselingkuh di belakangnya.
Namun alih-alih mengejutkan Jimin dengan kehadirannya yang tiba-tiba, Jungkook justru mengejutkan dirinya sendiri. Tubuhnya serasa kaku sejenak, sebelum kemudian ia mendekat dan menggusak kelopak matanya berkali-kali. Tak sesuai dengan perkiraannya tentang Jimin membenci dirinya, Jimin justru tersenyum sumringah, menggelayut manja di lengannya dan menuntunnya untuk turut bergabung di ruang tengah apartemennya. Di mana terdapat satu orang yang tak nampak asing di penglihatannya.
Jimin berdehem sekilas mendapati keduanya saling menatap lalu tersenyum kikuk. "Biarkan aku memperkenalkan kalian berdua." Jimin mengulurkan jemari Jungkook yang terjatuh di sisi tubuhnya. "Ini Jeon Jungkook, kekasihku yang kuceritakan."
"Dan Jungkook," Jimin mencubit pinggang Jungkook, membawanya kembali ke dunia nyata dan Jungkook mengaduh setelahnya. "Ini siswa baru di kelasku, Kim Taehyung namanya."
"Pergi."
Jimin mengernyit, membisiki Jungkook, 'Yak! Apa yang kau lakukan?' dengan menjaga suaranya agar tak terdengar oleh Taehyung. Reaksi Taehyung tak jauh berbeda dengan Jimin, hanya rasa takutnya terlihat lebih mendominasi.
Jungkook menatap Taehyung tajam. Raut wajah yang biasanya ramah kini menjadi menyeramkan. Rahangnya mengeras, dahinya berlipat menandakan amarah yang melingkupinya begitu kuat. Jemarinya menyentak lengan Jimin ke belakang, menyembunyikan tubuh mungil kekasihnya dari jangkauan Kim Taehyung, seorang namja yang dari sisi manapun Jungkook membandingkan, terlihat seperti V. Ditambah warna lilac pada surainya yang mencolok tak terbantahkan lagi. "Ku bilang pergi. Jangan dekati Jimin lagi. Atau aku akan melakukan sesuatu yang tak akan pernah kau bayangkan, keparat." gertaknya tak main-main.
Taehyung tersenyum canggung, melirik Jimin yang tengah disembunyikan Jungkook begitu protektif. "Err Jimin-ah, sepertinya kau perlu menjelaskan pada Jungkook-ssi kalau aku tak berniat merebutmu darinya."
Jimin baru akan membuka mulut ketika Jungkook beralih menatapnya. Tatapannya masih terlihat lembut sebagaimana tatapan yang biasa Jungkook perlihatkan padanya, hanya saja kali ini terasa begitu mendominasi hingga Jimin bahkan tak lagi mampu balas menatapnya seperti biasa. Jimin menutup mulutnya rapat-rapat dan melirik Taehyung sekilas meminta pengertian, sebelum kemudian ia menunduk lesu. Jimin yakin Jungkook pasti memiliki alasan kuat di balik semua ini. Jungkooknya selalu bersikap penuh perhitungan.
Taehyung berakhir pamit undur diri. Tak enak hati jika keberadaanya menimbulkan perdebatan antara sepasang kekasih yang terlihat saling mencintai. Senyum kotaknya adalah hal terakhir yang ia perlihatkan pada Jimin sebelum kemudian tubuhnya menghilang di balik pintu utama.
Jungkook berbalik, mengalihkan atensi sepenuhnya pada Jimin yang masih tak berani mengangkat wajahnya. Direngkuhnya tubuh itu dalam dekapannya yang hangat. Jungkook mengusap punggung Jimin yang bergetar kecil.
"Maafkan aku telah menakutimu." bisiknya. Tangis Jimin semakin pecah, lengan pendeknya balik memeluk Jungkook erat. Kepalanya menggeleng. Tak dapat dipungkiri jika baru saja ia merasa takut pada Jungkook, namun ia mengerti, paham sekali jika Jungkook tak bermaksud menakutinya sama sekali. Ia hanya bersikap sebagaimana seorang lelaki bersikap. Di balik air mata yang masih mengaliri pipi Jimin, Jimin bersemu. Darahnya berdesir menyenangkan. Ingin rasanya ia berteriak pada dunia bahwa ia bersyukur memiliki Jungkook di sisinya. Seorang pria yang begitu melindunginya, pun begitu mencintainya.
Alih-alih memimpikan Jungkook menjadi vampire seperti mimpinya belakangan ini, Jimin yakin mimpi indahlah yang akan berkunjung menjadi bunga tidurnya malam ini.
.
.
.
seperti biasa, ini baru kelar dan aku langsung maksain buat post hehe
ingat saya cuma punya kuota berlimpah saat di pagi hari wkwkw
yang minta momen KookV nya dibanyakin, sabar ya babe~ belum saatnya hihi
akhir kata,
Big Thanks To :
kookvaddicted / JChoi18 / 7D / Hatsumi piyopiyo / Habibahjeon / Uozumi Han / ChimSza95 / Park RinHyun-Uchiha / Sasayan-chan / TaeJeon / kookv / GaemGyu92 / Kyunie / VampireDPS / Y BigProb / SIDERS / mohon maaf jika ada yang terlewat
tertanda,
MY Yeon
