When Our Baby Crying at the Midnight
.
.
.
Markchan/Markhyuk
Ft. Baby Chenle
.
.
Rated : T
Shortfic, family.
Warn : BL, typos.
"Belajar mandiri itu penting, sayang. Jangan hanya bergantung pada orang lain saja."
.
.
.
Selamat Membaca
.
.
.
Donghyuck pelan-pelan menyingkirkan tangan milik Mark yang sejak tadi terus memeluknya ketika mereka tengah tidur. Dia memperhatikan wajah milik sang suami yang nampak sangat lelah dan benar-benar butuh istirahat. Mungkin dia terlu lelah dengan pekerjaan kantornya, dia saja tadi pulang cukup larut tidak yang seperti biasanya.. Bahkan saking lelahnya pria itu, dia sampai tidak terbangun sama sekali dengan suara tangisan anak mereka yang sekarang sedang menggendor pintu kamar mereka.
"Aakh!" Dia memekik pelan saat merasakan pantatnya masih terasa sangat sakit karena kegiatan malamnya dengan sang suami tadi. Untung mereka hanya melakukannya sebentar saja, karena jika sampai mereka melakukannya terlalu lama dan sampai lupa waktu, dia yakin sekarang pasti mereka masih belum selesai.
"Mommyy! Chenle takut... huks..." Suara tangisan milik putranya semakin lama jadi terdengar semakin kencang, dan sebelum suara tangisannya itu membangunkan sang suami, maka sekarang dirinya pun memutuskan untuk segera memakai pakainnya dan langsung berjalan menuju ke arah pintu kamarnya untuk menemui sang anak.
"Mom-"
"Ssstt... Chenle jangan menangis ya." Donghyuck telah sampai di depan sang putra dan segera menyela isakannya tersebut dengan menenangkannya dan menggendongnya hangat. Meskipun sekarang badannya sedang terasa sangat sakit dan pegal, namun demi untuk menenangkan sang anak, maka dia akan mengabaikan hal tersebut.
"Chenle kenapa hm.." Donghyuck menuruni tangga rumahnya dan berjalan pelan menuju ke dapur untuk mengambilkan sang anak segelas air supaya dia bisa lebih tenang. Meski sekarang tangisannya sudah tidak sekencang tadi, namun tetap saja anaknya itu sesekali masih sering sesenggukan sendiri. Entah apa yang dialaminya malam ini hingga dia jadi terbangun seperti ini, padahalkan selama ini anak ini sangatlah jarang terbangun dan menangis di tengah malam, sekalipun dia sedang bermimpi buruk.
"Chenle rindu sama Mommy, kemarin waktu camping Chenle tidak bisa tidur karena digigiti banyak nyamuk dan gara-gara digigiti nyamuk, Chenle jadi ingat sama Mommy. Biasanya kan Mommy yang sering mengoleskan lation untuk Chenle, tapi kemaren tidak ada yang mengolesi Chenle. Lalu tadi saat Chenle mau tidur, Chenle jadi ingat kejadian itu dan jadi rindu sama Mommy." Chenle menerima segelas air putih yang disodorkan oleh ibunya dan segera menegaknya.
Donghyuck mendudukkan Chenle di atas meja pantri karena jujur saja dirinya sudah tidak sanggup lagi menggendong Chenle lama-lama. Chenle sekarang sudah berusia lima tahun, dan berat badannya itu sudah tidak seringan ketika dia masih berusia dua tahun atau tiga tahun. Dan sekarang pula dirinya itu sedang sedikit tidak enak badan, jadi tubuhnya itu benar-benar terasa akan langsung lelah jika dipakai untuk melakukan sesuatu.
"Chenle menangis karena merasa rindu sama Mommy? Chenle manis sekali ya ternyata." Donghyuck mengecup pipi milik sang putra dengan gemas saat sang anak mengutarakan alasannya kenapa bisa sampai terbangun malam-malam begini sambil menangis.
"Iya, dan Chenle jadi takut sendiri hiks.." Chenle mengusap kasar air mata miliknya sendiri, "Bagaimana jika nanti Chenle tidak ada Mommy, pasti hidup Chenle akan sulit sekali hiks...hikss... Setiap pagi Mommy bangunkan Chenle, memandikan dan menyiapkan baju umtuk Chenle, lalu hiks... lalu setiap hari Mommy selalu memasakkan makanan yang enak untuk Chenle hikss... Jika seperti ini, nanti bagaimana Chenle bisa hidup jika tidak ada Mommy hikss... MOMMMYYY!" Chenle menangis kencang dan memeluk ibunya dengan erat. Donghyuck sendiri hanya mampu menuruti keinginan putra tercintanya dengan tersenyum tipis. Chenle jika sudah menangis memang sangat manja sekali, tidak menangis saja dia sudah manja. Apalagi jika dia menangis, bisa-bisa anak itu akan berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya.
"Sayang, sudah ya jangan menangis lagi. Ini sudah malam, bagaimana jika Daddy yang sedang beristirahat karena lelah bekerja nanti terbangun? Apa Chenle tega mengganggu waktu istirahat Daddy?" Donghyuck menyeka air mata milik Chenle dengan lembut lalu menepuk-nepuk punggungnya supaya dia bisa segera berhenti menangis.
"Huks... Tidak. Ta-tapi Chenle ingin menangis, Mum. Chenle takut huks... huks... Chenle tidak mau kalau hidup tanpa Mommy." Chenle semakin sesenggukkan dan Donghyuck memutuskan untuk menggendong putranya itu menuju ke ruang tengah. Dia sana dia mendudukkan dirinya di sofa lalu memangku Chenle yang masih belum bisa berhenti menangis.
"Chenle bicara apa sih, seperti akan kehilangan Mommy saja. Dan kenapa Chenle harus takut kalau tidak ada Mommy? Seharusnya kemarin saat camping, Chenle bisa belajar untuk menjadi mandiri. Semuanya dilakukan sendiri, supaya Chenle tidak cuma bergantung sama orang lain." Donghyuck tak henti-hentinya menyeka air mata milik sang anak yang tak kunjung berhenti untuk mengalir. Sementara Chenle sendiri, kini dirinya hanya mampu menghisap dalam-dalam ingusnya saat sang ibu memintanya untuk belajar menjadi mandiri.
"Meskipun Mommy selalu ada untuk Chenle, tapi anak Mommy yang satu ini harus tahu. Jika menjadi mandiri itu penting, dan Chenle harus segera belajar untuk menjadi mandiri sejak sekarang." Donghyuck menatap wajah Chenle yang sudah memerah karena menangis tadi dengan lembut. Tangannya menyisir dan merapikan tatanan rambut milik sang anak yang sedikit kusut dan lepek, mungkin ini pengaruh karena dia terus berkeringat sejak tadi.
Chenle memasang wajah cemberut mendengar ibunya berkata demikian, "Tapikan Chenle ingin selalu diperhatikan sama Mommy, sama Daddy juga." Chenle memeluk leher milik sang ibu erat lalu menyembunyikan wajahnya di leher milik sang ibu dengan begitu manjanya.
Donghyuck tersenyum melihat tingkah milik Chenle ini, lalu tangan miliknya ia angkat untuk menepuk lembut kepala milik sang anak, "Mommy dan Daddy kan selama ini juga sudah selalu perhatian sama Chenle. Lele minta apa saja Mommy selalu turuti, Lele ingin pergi kemana saja Daddy juga selalu menuruti." Donghyuck diam sejenak untuk menarik napasnya, "Tapi, dengarkan Mommy ya Sayang. Manja, merajuk, minta ini dan itu, itu memang boleh."
"Tapi Chenle harus ingat, Chenle selamanya tidak boleh seperti itu. Lele harus mulai mengurangi kebiasaan yang seperti itu dan harus mulai belajar mandiri. Katanya ingin adik, lalu kalau sikapnya seperti ini, bagaimana nanti Chenle akan menjadi kakak dan menjaga adik?" Donghyuck mulai memberi Chenle sedikit pelajaran mengenai pentingnya belajar mandiri sejak saat ini. Dia ingin sebelum dirinya benar-benar akan memberikan Chenle adik, Chenle haruslah bisa belajar untuk menjadi mandiri mulai sekarang. Dia tidak ingin jika nanti saat adiknya Chenle telah lahir, Chenle masih belum bisa belajar untuk mandiri dan akan membuatnya jadi repot mengurus dua anak yang benar-benar sangat butuh perhatian dari dirinya.
"Chenle akan punya adik? Mommy serius akan memberikan Chenle adik?" Chenle sudah tidak menangis lagi dan sekarang sedang sibuk memandangi wajah milik sang ibu dengan mata yang membulat lucu seperti seekor puppy, yang langsung membuat Donghyuck jadi merasa sangat gemas padanya.
"Jika Chenle mau belajar mandiri, maka Mommy akan berjanji untuk terus berusaha memberikan Lele seorang adik." Donghyuck tersenyum dengan sangat manisnya kepada Chenle yang sekarang juga sama sedang tersenyum seperti dirinya.
"Baiklah, Chenle akan belajar mandiri kalau begitu. Tapi Mommy janji ya, Chenle akan diberikan adik." Chenle memeluk ibunya dengan erat lalu mulai memejamkan matanya di leher milik sang ibu. Dan Donghyuck sendiri hanya mampu membalas pelukannya sambil menepuk-nepuk pelan pantat milik sang anak supaya dia bisa cepat terlelap.
"Mum?"
"Iya, sayang?"
"Leher Mommy kenapa? Kok merah-merah seperti ini? Tadi pagi juga, saat Mommy menjemput Lele dari tempat camping, Chenle juga melihat lehernya Mommy ada merah-merah seperti ini." Chenle bertanya dengan heran saat melihat leher milik ibu kesayangannya lagi-lagi ada bercak merah-merah yang sangat banyak. Dan sementara Donghyuck sendiri yang dihadapkan dengan pertanyaan yang seperti itu dari anaknya pun hanya mampu menundukkan kepalanya sambil meghela napasnya dalam. Lagi-lagi Mark meninggalkan hickey di tempat yang sangat terbuka.
Dan sekarang lihatlah, putra mereka jadi penasaran sendiri 'kan dengan hal tersebut.
"Itu bukan apa-apa sayang. Hanya saja, Mommy itu sangat sensitif sekali dengan gigitan nyamuk, jadi kalau ada nyamuk yang menggigit Mommy, maka kulit Mommy akan seperti ini. Merah-merah begitu dan rasanya sedikit gatal, sayang."
"Pasti nyamuknya jahat, leher Mommy saja bisa sampai seperti ini. Nanti kalau Chenle melihat ada nyamuk yang berani menggigit Mommy sampai seperti ini, maka Chenle akan memukulnya dengan sangat keras, biar tahu rasa! Siapa suruh berani menyakiti Mommy-nya Chenle!" Chenle berkata dengan nada semangatnya seolah-olah dirinya memang benar-benar telah siap untuk menghabisi nyamuk yang telah berani menggigit leher milik ibunya hingga jadi seperti ini. Dasar nyamuk tidak tahu diri, sudah berani menghisap ibunya lalu tega meninggalkan bekas seperti ini, pasti dia mau mencari gara-gara dengannya. Lihat saja nanti, jika dia melihat ada nyamuk yang hinggap di tubuh milik sang ibu, maka dia pasti akan langsung memukul dan membunuhnya.
Dan Donghyuck hanya mampu tertawa kecil saja, saat melihat betapa sangat bersemangatnya Chenle ingin membasmi nyamuk yang telah menggigitnya. Dan jika saja Chenle tahu yang sebenarnya, pasti akan lucu membayangkan anak manisnya ini memukuli Mark, sang suami, yang telah meninggalkan bekas merah-merah seperti ini di leher miliknya. Pasti menggemaskan juga melihat Mark mengerang kesakitan karena dipukuli oleh putranya. Chenle kan memang seperti itu, kalau sudah memukuli ayahnya pasti akan sangat bersemangat. Meski pukulannya tidak keras, tapi tetap sajakan rasanya itu tidak enak.
.
.
.
Mark baru bangun dari tidurnya dan melihat jika sekarang Donghyuck sudah tidak ada di sebelahnya. Dia menengok ke arah meja nakasnya dan melihat jika sekarang waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Sama seperti biasanya, istri manisnya itu pasti sudah terbangun dan sudah sibuk di dapur. Sudah sibuk membuat sarapan untuk dirinya dan anak mereka, sudah sibuk menyiapkan baju untuk dirinya dan anak mereka, dan pasti juga sudah sibuk menyiapkan air untuk dirinya dan anak mereka. Hah, istrinya itu setiap pagi memang selalu sibuk seperti ini.
"Kau sudah bangun?" Saat Mark masih memejamkan matanya untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya pasca bangun tidur, tiba-tiba saja Donghyuck masuk ke dalam kamar mereka bersama dengan apron merah yang dikenakannya. Donghyuck menghampiri Mark lalu menarik tangan milik sang suami untuk segera bangun dan beranjak dari atas ranjang.
"Cepat bangun Mark, aku harus segera mengganti sprainya." Donghyuck masih berusaha untuk menarik tubuh milik Mark yang tak kunjung mau beranjak juga dari atas ranjang.
"Iya, sayang. Aku akan segera bangun." Setelah memakai celananya, Mark pun memutuskan untuk segera beranjak dari atas ranjang dan membiarkan Donghyuck menarik sprai tidur milik mereka -yang sudah dipenuhi oleh bau sperma karena kegiatan mereka yang semalam untuk segera ditaruh ke dalam mesin cuci.
"Cepat mandi sana, Chenle saja sudah rapi sejak tadi. Dan kau jangan kalah dengannya." Donghyuck menyuruh Mark yang masih belum bergerak menuju ke kamar mandi dan malah masih berdiri bodoh di belakang tubuhnya dengan hanya bertelanjang dada saja.
"Dia sudah rapi? Wah, tumben sekali." Mark mengerutkan dahinya karena merasa heran dengan Chenle yang tidak seperti biasanya jam segini sudah bangun, bahkan kata sang istri tadi anak itu sudah rapi.
"Makanya cepat mandi sana, jangan kalah dengan anak kita." Baru saja Donghyuck akan melangkah keluar dari dalam kamar, tapi tangannya sudah ditahan terlebih oleh Mark. Lalu dia merasakan pinggang miliknya ditarik oleh sang suami, dan sekaramg mendadak wajah mereka sudah berada dalam jarak yang sedekat imi.
"Morning kiss." Mark tersenyum manis kepada sang istri.
Donghyuck menghela napasnya. Mark yang mesum sudah mulai berulah lagi di pagi yang cerah ini.
Ciuman mereka berakhir dan meninggalkan sisa saliva di bibir milik Donghyuck yang langsung disesap dalam oleh Mark. Donghyuck melangkah sedikit mundur untuk memberi jarak pada Mark yang masih memeluk pinggangnya.
"Baiklah, aku mandi dulu sayang. Dan jika kau berminat, kau bisa ikut mandi bersamaku." Mark mengerling pada Donghyuck untuk menggodanya dan langsung dihadiahi oleh Donghyuck dengan tatapan super datar miliknya.
.
Chenle sedang duduk dengan manis di kursi meja makan untuk menantikan kehadiran sang ayah yang tak kunjung turun juga dari kamar. Ibunya pun demikian, sejak tadi belum turun juga dari kamar. Katanya sih ingin membangunkan ayah, tapi kenapa bisa selama ini. Diakan sudah lelah menunggu sejak tadi, dan perutnya pun juga sudah terasa sangat lapar.
"Chenle sudah menunggu lama ya?" Donghyuck datang mengagetkan Chenle dengan tiba-tiba, dan hal ini membuat Chenle jadi cemberut karena ulahnya.
"Mommy mengagetkan Chenle tahu." Chenle mengerucutkan bibirnya di hadapan Donghyuck yang sekarang sedang menyiapkan waffle untuk sarapan keluarga kecilnya.
"Maaf ya, Mommy kan tidak tahu kalau Chenle akan terkejut."
"Mommy kenapa lama sekali sih?" Chenle memainkan garpu yang ada di tangan kecilnya sambil memandangi sang ibu dengan mata berbinar miliknya.
"Mommy tadi masih harus mengganti sprai dulu sayang, dan Daddy tadi juga sulit sekali untuk dibangunkan." Donghyuck meletakkan wafflenya yang telah jadi di atas piring milik sang suami, anaknya dan juga di atas piringnya sendiri.
"Daddy kalau tidur sulit dibangunkan ya, Mum?"
"Kata siapa? Tidak kok." Mark muncul secara mengejutkan di belakang Chenle dan mencuri satu kecupan dari pipi gembil milik sak anak tersebut, dan langsung membuat yang dicium jadi menggerutu sebal sendiri.
"Daddy mengagetkan Chenle tahu! Sudah mengagetkan, main kecup-kecup lagi." Chenle membuang wajahnya, merajuk kepada sang ayah yang tadi telah membuat dirinya jadi terkejut seperti ini.
"Sayang, tidak boleh merajuk seperti itu. Katanya mau belajar jadi mandiri dan tidak manja lagi, tapi kok pagi-pagi seperti ini sudah merajuk seperti itu?" Donghyuck berjalan menghampiri Mark yang sekarang sedang berdiri tidak jauh darinya. Tangannya ia angkat untuk memasangkan dasi milik sang suami supaya terlihat rapi dan tidak asal-asalan.
"Chenle mau belajar mandiri? Pantas saja jam segini sudah bangun." Mark menatap wajah milik sang anak yang sejak tadi masih membuang wajahnya. Dia sih tidak masalah dengan hal tersebut, dan hanya tersenyum tipis saja saat melihatnya.
Chenle yang ingat jika sekarang sedang dalam tahap untuk berhenti manja, merajuk, dan mulai menjadi mandiri, pun memutuskan untuk menatap ke arah sang ayah lagi, dan berusaha untuk menghilangkan wajah cemberut miliknya. Ingat, ini semua demi adik yang akan didapatkannya jika dirinya bisa belajar jadi mandiri sejak sekarang.
"Chenle tidak merajuk kok, Mum. Chenle tadi hanya merasa pegal saja, jadinya Chenle menghadap ke sana." Chenle memamerkan senyuman termanis miliknya kepada sang ibu yang ternyata langsung dibalas ibunya dengan senyuman yang tak kalah manis juga.
"Oh begitu ya? Chenle sangat manis ya kalau sedang pegal-pegal seperti itu." Donghyuck mencubit sedikit pipi milik Chenle. Dan Chenle sendiri yang dicubit seperti itu oleh sang ibu sebenarnya ingin menggerutu, tapi saat melihat sekarang ibunya sedang tersenyum, maka diapun juga ikutan tersenyum saja. Ya habis mau bagaimana lagi, menurut Chenle, senyuman mommy-nya itu terlalu manis untuk diabaikan.
.
.
.
.
TBC
TERIMA KASIH
MINGGU 01/01/2017
Khusus untuk yang request Just Fulfill supaya dibikin chaptered
See you and Love you guys.
Jangan protes saya kalo saya malah publish ff ini di saat ff saya yang lain masih belum saya update. Saya cuma lagi pengen memperbanyak ff Markhyuck saja. So kalo ngeliat saya post ff oneshoooot maka berilah saya dukungan wankawan. Jangan desak saya untuk terus update ff dengan kilat 😂 .
Tetap semangat untuk menjalani hari dan jangan pernah dengarkan bisikan tidak penting dari orang yang menurut anda tidak penting.
Tuhan sayang kalian guys.
MARKHYUCK/MARKCHAN SHIPPER SARANGHAE 3 3
