CHAPTER : 3

JUST FULFILL

MARKHYUCK/MARKCHAN

FT BABY LELE

.

.

.

"Belajar mandiri itu dimulai dari yang paling sederhana. Seperti selalu bangun pagi dan jangan pernah merepotkan Mommy lagi kalau Mommy sedang sibuk memasak di dapur."

.

.

.

Saat pagi hari, ayam milik entah siapa itu sering sekali berkokok di sekitaran rumah milik Chenle. Dan sungguh, Chenle itu benar-benar merasa sangat terganggu dengan suara kokokkan berisik dari ayam tersebut. Dulu dia pernah berpikir bagaiman jadinya jika lebih baik ayam itu dipotong oleh pamannya dan dimasak menjadi ayam goreng oleh mommy-nya, mungkin itu akan terasa lebih baik dan efektif untuknya. Karena ya, dia akan dapat kenyangnya dan tidurnya yang nyenyak itupun juga tidak akan pernah terganggu lagi dengan suara kokokan milik ayam tadi.

Tapi itu dulu. Dulu dia memang sering merasa keberatan dengan suara berisik itu, tapi sekarang dia sudah tidak seperti itu lagi. Alasannya sederhana, sebab sekarang berkat suara kokokkan ayam tersebutlah kini dirinya bisa rajin bangun pagi. Dia sering bangun lebih awal dari daddy-nya dan sering pamer kepadanya bahwa sekarang dia sudah tidak perlu lagi dibangunkan oleh mommy setiap pagi sebab sekarang dia telah tumbuh menjadi besar dan sudah mandiri. Ya, meskipun dia tidak pernah bisa bangun lebih awal dari sang mommy -yang bahkan mungkin sebelum ayam berkokokpun telah terbangun untuk memasak di dapur, dia tetap merasa senang sebab telah berhasil mengungguli sang daddy dalam segi bangun lebih awal.

Pagi ini dia terbangun karena suara kokokkan merdu milik sang ayam telah berkumandang di waktu fajar. Dan dengan begitu, diapun segera terbangun dari keterpejamannya secara spontan dan langsung beranjak untuk membereskan ranjang miliknya. Dari melipat selimut bergambar dragon ball miliknya lalu bahkan sampai menyusun semua bantal serta boneka miliknya dengan rapi di bagian atas ranjang miliknya.

Selesai membenahi tempat tidurnya, diapun segera berjalan menuju ke kamar mandi, meski sesekali jalannya masih sedikit oleng karena setengah mengantuk, tapi akhirnya dia sekarang tetap bisa sampai juga ke dalam kamar mandi.

Dia mandi dengan tempo yang sangat terburu-buru karena dirinya ingin segera meluncur ke dapur untuk menengok apakah sekarang sang mommy kesayangannya sudah ada di sana atau belum. Kan jika belum, nanti dia bisa pamer ke mommy-nya bahwa dia tadi telah berhasil menjadi yang paling pertama bangun di rumah ini.

Tidak lebih dari sepuluh menit, kini akhirnya Chenle telah selesai dengan urusannya di dalam kamar. Dia keluar dari dalam kamarnya dengan berpakaian sangat keren dan rapi -ini sih hanya asumsinya sendiri, sambil menuruni tangga kini dirinya telah siap untuk segera melaju menuju ke dapur.

"Wah, anak Mommy sudah bangun?"

Chenle sedikit tersentak saat mendengar suara milik sang mommy tiba-tiba menyapa indera pendengarannya dari belakang tubuhnya. Meski sedikit kesal karena dikejutkan seperti itu oleh sang mommy, kini dia memutuskan untuk tetap menengok ke arah sang mommy dan tersenyum dengan sangat lebarnya ke arah sang mommy -ingin pamer padanya bahwa kini dia telah terlihat sangat keren dengan penampilannya.

"Mommy baru keluar dari kamar 'kan? Jadi sekarang Lele yang menang, Lele 'kan beberapa langkah lebih maju dari Mommy." Chenle menaikkan dagunya dengan gaya congkak dan langsung pamer pada mommy-nya bahwa kini dirinya telah berhasil mendahului langkah milik sang mommy.

"Ah benarkah?" Donghyuck menuruni tangga dengan langkah pelan untuk menyusul putra tampannya itu supaya langkah mereka bisa sama, "Bagaimana ya, sebenarnya Mommy itu sudah bangub sejak tadi, cuma ya begitu. Mommy tadi sempat kembali ke kamar untuk mandi. Ah ya, kalau Lele tidak percaya, Lele bisa lihat kalau sekarang di dapur telah ada beberapa makanan yang telah Mommy siapkan untuk sarapan nanti." Donghyuck tersenyum jahil kepada Chenle saat sang anak kini telah merubah raut wajahnya menjadi cemberut muram.

"Sudah, tidak apa-apa kok Sayang. Anggap saja Mommy telat bangun dan Lele sendiri sudah bangun sejak tadi dan bahkan telah sibuk menyiapkan makanan di dapur." Donghyuck meraih tangan kecil milik Chenle untuk menuruni tangga dengan langkah yang bersamaan. Chenle sendiri hanya menggenggam tangan milik sang mommy dengan wajah setengah senang lalu mengikuti langkahnya untuk menuruni tangga.

"Oh ya Sayang." Donghyuck melepaskan genggaman tangannya saat mereka telah sampai di dapur karena dia hendak mematikan kompornya yang ia pakai untuk merebus air, "Kau tidak ingin membangunkan Daddy?" Setelah air panasnya telah siap, kini dia tinggal menyiapkan jeruk nipisnya saja untuk ia buat menjadi teh. Well, belakangan dia memang sering mual kalau pagi, jadi ya dia sering sekali membuat minuman hangat di pagi hari untuk menetralkan keadaan perutnya tersebut.

Mendengar pertanyaan seperti itu terlontar dari mommy-nya, Chenle pun lantas segera menggelengkan kepalanya dengan keras, "Tidaak! Lele tidak mau! Daddy itu sangat menyebalkan kalau baru bangun tidur. Dia suka cubit-cubit hidung sama pipi Lele, lalu setelah itu dia juga sangat suka menggelitiki Lele sampai perut Lele jadi sakit karena terus-terusan tertawa. Ah, pokoknya Lele tidak mau membangunkan Daddy, Lele kapok dicubiti sampai merah sama Daddy." Chenle mencebikkan bibirnya kesal saat ingat dengan kejadian beberapa hari yang lalu saat daddy-nya dengan sangat teganya mencubiti pipinya sampai memerah.

Chenle berjalan pelan menuju ke meja pantri untuk mengambil toples berisi keripik wortel kesukaannya, namun sayang, pantrinya terlalu tinggi dan tangannya pun kurang panjang untuk meraih toples tersebut. Dia menengok ke arah sang mommy -ingin meminta bantuan, namun langsung ia urungkan saat melihat mommy-nya sedang sibuk peras-peras jeruk di meja makan sambil sesekali menutup mulutnya untuk menahan mual. Mommy-nya belakangan memang suka mual, dan dia tidak mengerti kenapa sang mommy bisa seperti itu, namun yang jelas dia sering sedih sendiri saat melihat mommy-nya terduduk lemas di kursi dengan memegangi perutnya. Kemarin sih Daddy sudah membawanya ke doker dan katanya hari ini mereka akan kembali ke rumah sakit lagi untuk menengok hasil pemeriksaan mommy-nya yang kemarin.

Tidak tega mau minta bantuan ke mommy, kini Chenle pun memaksakan diri untuk meraih toples itu sendiri. Dia berpikir bahwa sekarang dia itu sudah besar dan sedang belajar mandiri, jadi salah hukumnya jika dia panggil-panggil mommy untuk meminta bantuan, karena mau ditaruh mana nanti kewibawaanya sebagai seseorang yang telah tumbuh besar seperti dirinya jika masih manja dengan minta-minta bantuan seperti itu kepada mommy-nya.

Tapi mau dipaksakan seperti apapun itu, tetap saja dia tidak bisa meraih toples keripik tersebut. Meja pantrinya terlalu tinggi atau memang dianya saja yang masih belum tinggi jadi tidak bisa meraih toples tersebut. Dia menengok ke arah sang mommy lagi, dan dia melihat sekarang mommy-nya sedang terduduk lemas sambil menyeka keringat di dahinya. Nah kan, mommy pasti sedang kelelahan, makin tidak tega jugakan dia jika ingin mereporkan sang mommy.

Sekarang dia sedang dilema. Mau keripik wortel tapi tidak tega juga ingin merepotkan mommy, tapi rasanya sayang juga jika keripiknya ia tinggalkan dengan begitu saja. Keripiknya itukan hal yang paling ia sukai dari seluruh makanan yang pernah dibuatkan oleh sang mommy untuknya -meski semua masakan mommy enak, tapi tetap saja yang menjadi favoritnya itu keripik wortelnya yang manis-manis asin itu.

"WA!"

"DADDY!" Chenle hampir teronjak ke belakang saat tiba-tiba saja sang daddy telah muncul di dapur dan mengagetkannya dari belakang. Dia menengok ke arah daddy-nya dengan wajah cemberut lalu mencebikkan bibir karena kesal. Dengan kaki-kaki kecil miliknya, diapun langsung berlari ke arah sang mommy untuk mengadukan perbuatan jahat dari sang daddy kepada sang mommy kesayangan.

"Mommy! Tukan, Daddy suka usil kalau sama Chenle!" Chenle mengadu dengan kesal kepada sang mommy. Dan Donghyuck sendiri yang menerima aduan kecil dari putra kecilnya itupun hanya mampu tersenyum tipis saja. Tangannya ia angkat untuk mengelus permukaan rambut milik sang anak yang sekarang tengah menundukkan kepalanya di atas paha miliknya.

"Daddy usil ya? Kalau begitu besok tinggal balas saja." Donghyuck berbisik pelan di telinga milik Chenle dan hanya terkikik pelan saja saat melihat sang anak sekarang telah membulatkan matanya setelah mendengarkan kalimat yang baru saja ia tuturkan tadi.

"Memangnya bagaimana cara membalas Daddy?" Chenle bertanya dengan nada penasaran karena dia benar-benar merasa sangat ingin tahu dengan apa yang akan diucapkan oleh sang mommy kepadanya.

Donghyuck membisikkan kalimatnya dengan pelan, "Gigit saja jari milik Daddy kalau dia sedang tidur. Tapi jangan terlalu keras, yang penting sampai dia berteriak saja. Dan setelah mendengar suara teriakan milik Daddy, segera kabur dan lari saja sejauh yang Lele bisa." Donghyuck tersenyum saja saat melihat Chenle cekikikan sendiri setelah mendengar ucapannya, dia yakin di pikiran milik sang anak sekarang pasti sudah terangkai beribu macam cara untuk menjahili sang daddy.

Mark menatap curiga ke arah sang anak dan sang istri yang sekarang sedang sibuk saling bisik. Dia curiga bahwa sekarang keduanya sedang merencankan sesuatu yang sedikit aneh dan dapat merugikan dirinya. 'Kan selama ini sudah terbukti jika kedua orang itu disatukan, maka sudah pasti mereka akan menciptakan sesuatu yang tidak terduga untuk menjahilinya.

"Hei, kenapa tersenyum seperti itu pada Daddy? What's wrong?" Mark duduk di sebelah Donghyuck lalu mengerutkan dahinya saat melihat sang putra memasang senyuman sejahil itu -memang benar-benar keturunan dari mommy-nya.

Chenle hanya menggeleng kecil sambil memeluk tangan milik sang mommy, "Tidak ada. Chenle 'kan hanya ingin tersenyum seperti itu saja sama Daddy. Ya 'kan Mommy ya, Lele hanya ingin tersenyum seperti itu saja sama Daddy." Chenle menjulurkan lidahnya ke arah sang daddy, bermaksud untuk mengejeknya. Dan Mark sendiri hanya menanggapi itu dengan kekehan kecil miliknya lalu kembali beralih ke arah sang istri yang sejak tadi masih nampak sangat berkeringat sekali.

"Kau baik-baik saja? Aku 'kan sudah bilang, kenapa kita tidak memperkerjakan asisten rumah tangga saja." Mark menyeka bulir-bulir keringat yang ada di wajah milik sang istri, "Lihat, kau sekarang benar-benar tampak sangat kelelahan Sayang. Nanti setelah hasil tes kesehatannya sudah keluar dan kau benar-benar dinyatakan hamil, maka lebih baik mulai besok kita akan langsung menyewa asisten rumah tangga saja."

Donghyuck mengangguk sejenak, "Tapi kaukan tahu kalau aku paling tidak bisa menyerahkan seluruh pekerjaan rumah kepada asisten rumah tangga." Donghyuck menatap sedih ke arah Mark. Dan Mark hanya mengangguk mengerti dengan sifat milik sang istri yang satu ini.

Donghyuck itu sejak dulu memang benar-benar tidak pernah mau jika ada orang lain yang ikut campur ke dalam urusan masalah pekerjaan rumah tangganya, apalagi jika itu soal urusan dapur, maka sudah pasti Donghyuck akan langsung menentangnya dengan keras. Alasannya sederhana, Donghyuck tidak mau terjadi sesuatu yang tidak baik terhadap keluarganya. Ya bukannya Donghyuck mau curiga dengan para asisten rumah tangga itu, hanya saja dia itu memang tidak pernah bisa menaruh rasa percaya terhadap seseorang dengan mudah. Jadi ya wajar saja jika dia bersikap seperti ini, dulu saja saat ia hamil Chenle, dia bahkan sampai sempat bertengkar dengan Mark hanya karena masalah memperkerjakan asisten rumah tangga itu. Lalu pada akhirnya diapun mengalah dengan memperbolehkan Mark untuk memperkerjakan seorang asisten rumah tangga, karena pada kenyataannya kondisinya pada saat itu benar-benar sangat tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas berat.

"Mommy, Lele lapar." Putra mereka memecahkan suasana dengan berseru lapar dengan suara lentang miliknya. Donghyuck menatap lembut ke arah sang anak lalu menarikkan kursi untuknya supaya dia bisa cepat duduk dan bisa segera memulai acara sarapan mereka berhubung sekarang waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.

Mark berdiri dari duduknya lalu mengambil sekotak susu kedelai yang ada di dalam lemari pendinginnya dan kembali duduk di sebelah sang istri. Dia meminum susunya sambil memperhatikan sang anak yang sekarang sudah tampak siap dengan garpu di tangannya, well, sepertinya dia sudah tidak sabar ingin segera melahap salad buah yang ada di depannya itu.

"Lele hari ini les pianonya libur?" Mark bertanya pelan setelah menegak sekotak susu kedelai miliknya sampai habis.

"Lalu setelah itu Lele mau apa? Sekolahnya juga liburkan hari ini?" Donghyuck menambahkan sambil mengelus lembut kepala milik sang anak.

"Sebenarnya Lele tidak mau libur, tapi karena hari ini Saem sedang ada urusan jadi ya terpaksa Chenle diliburkan." Chenle memanyunkan bibirnya, "Daddy? Kapan berdoanya, Lele sudah sangat lapar tahuu!" Chenle semakin memajukan bibirnya, merasa sangat kesal karena sejak tadi sang daddy tak kunjung memimpin doa dan membuatnya jadi semakin tidak sabar untuk segera makan.

Mark mengangguk singkat lalu segera memimpin doa sebelum mereka memulai acara sarapan mereka. Chenle memejamkan matanya dengan erat meresapi setiap doa yang ia rapalkan dalam hati supaya makanan yang akan dimakannya ini akan menjadi makanan yang bermanfaat dan memberi berkah kepadanya.

"Ami-"

"AMIEN! DADDY-MOMMY SELAMAT MAKAN YAAA!" Chenle menyela ucapan sang daddy saat mengakhiri doa dan main asal menyantap makanannya setelah itu.

Mark dan Haechan sendiri tidak terlalu banyak sikap, mereka hanya tertawa pelan saja melihat kelakukan anak pertama mereka yang nampak sangat berantusias sekali memakan sarapan paginya. Dan ugh, putra mereka itu sungguh sangat menggemaskan.

...

...

...

Jika libur begini, hal yang paling sering Chenle lakukan adalah menonton serial kartun favoritnya, Dargon Ball, sambil mengemil keripik wortel buatan sang mommy, dari pagi hingga siang hari. Lalu saat hari sudah siang, saat mommy-nya sedang tidak sibuk, dia biasanya mengajak sang mommy untuk bermain piano bersama.

Mommy-nya itu sebenarnya sangat mahir dalam hal bermain piano, hanya saja kata daddy, mommy itu sudah sangat jarang bermain piano setelah menikah. Alasannya adalah karena semenjak menikah mommy itu jarang ada waktu untuk memainkan piano yang ada di rumah milik mereka lagi.

Tapi di liburnya saat ini ada yang sedikit berbeda. Dia tidak menonton Dragon Ball kesayangannya, dia tidak melihat mommy-nya berseliweran di dalam rumah untuk beres-beres, dan dia tidak melihat daddy yang biasanya akan membaca buku di beranda rumah jika sedang liburnya.

Hari ini keadaan rumah sangat sunyi. Tadi pagi setelah sarapan, daddy berpamitan kepadanya dan mommy bahwa dia akan pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes kesehatan milik mommy, dan menasehati mommy supaya beristirahat saja di dalam rumah. Dan setelah melepas kepergian sang daddy yang telah melaju dengan mobilnya, dia diajak sang mommy untuk melangkah menuju ke teras belakang rumah untuk membantunya menjemur pakaian.

Dan setelah membantu mommy menjemur pakaian, ah tidak, maksudnya setelah membantu memeras pakaian untuk dijemur mommy tadi pagi -dia tidak cukup tinggi untuk menjemur pakaian, dia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah dan segera berlari menuju ke ruang tengah untuk menonton tv karena Dragon Ball telah menantinya.

Baru sekitar dua sekmen ia menonton, mendadak ia menjadi merasa sangat aneh sendiri saat tidak mendapati kehadiran sang mommy di sekitarnya. Dia menengok ke sekelilingnya dengan wajah bingung dan merasa takut saat tidak melihat keberadaan sang mommy sama sekali di sekitarnya. Dan setelahnya diapun memutuskan untuk mematikan tv-nya dan meninggalkan Goku yang sedang sibuk bertarung melawan Majin Boo itu hanya demi untuk mencari keberadaan sang mommy yang sejak tadi belum nampak juga di sekitarnya.

Chenle melangkahkan kakinya dengan riang menuju ke teras belakang rumah untuk mengecek barangkali mommy-nya masih berada di sana untuk menjemur beberapa pakaian lain yang masih tersisa. Tapi ternyata, ketika dia telah sampai di teras, di sana ia tidak melihat keberadaan dari sang mommy sama sekali.

Dia sempat memiringkan kepalanya karena bingung sebelum segera berbalik arah untuk mencari keberadaan sang mommy yang ternyata tidak ada di sana itu. Dia memutuskan untuk mencari mommy-nya ke kamar, berpikir bahwa mungkin saja mommy sedang ada di sana untuk berganti pakaian atau mungkin sedang mandi lagi karena badannya berkeringat.

"Mum?" Chenle mengetuk pintu kamar milik kedua orangtuanya dengan pelan, "Mommy? Mommy ada di dalam tidak? Mommy... Mommy-nya Lele?" Chenle masih mengetuki pintu itu dengan tempo yang sedikit lebih cepat -ingin membuat kegaduhan.

"Mommy... Mommy di dalam tidak? Lele sedang mencari Mommy nih, Momm-Eh?" Chenle terkejut saat pintu kamar itu terbuka dengan sendirinya karena dia terlalu keras mengetuknya. Melihat hal tersebut, diapun lantas segera melongokkan kepalanya ke dalam dan mengintip apakah mommy-nya ada di dalam sana atau tidak.

Dan senyum kebahagiaan terpatri di wajah tampan miliknya saat melihat bahwa di atas ranjang sana dia telah menemukan sang mommy sedang terlelap di bawah selimut hangat berwarna merah miliknya. Lalu tak lama setelah itu diapun segera melangkahkan kakinya senang untuk menyusul sang mommy yang sedang berbaring di atas ranjang besar itu.

"Mommy, Mommy mengantuk ya jadinya tidur lagi?" Chenle merangkak di atas ranjang untuk menyelinap masuk ke dalam selimut milik sang mommy.

"Kok Lele tidak dijawab? Mommy sangat lelah jadi tidurnya sangat lelap sekali ya?" Chenle menatap heran ke arah sang mommy yang tidak nampak terganggu sama sekali dengan kehadirannya di atas ranjang. Padahal ya, selama ini mommy-nya itu sangat sensitif dengan aktivitas kecil yang sedang terjadi di sekitarnya jika sedang terlelap.

"Ish, Mommy kok suka sekali berkeringat sih?" Dia berkata gemas saat sejak tadi dia terus memergoki sang mommy dalam keadaan berkeringat. Tangan kecilnya mencoba untuk meraih kotak tissue yang ada di meja nakas dan hendak mengelap keringat yang ada wajah milik sang mommy dengan menggunakan tissuenya tersebut.

"Kok dahi Mommy panas sekali ya." Chenle meletakkan tissuenya yang telah basah dengan keringat milik sang mommy ke samping kepalanya untuk setelah itu dia mulai fokus dengan dahi dan leher milik mommy-nya yang sekarang terasa sangat panas itu.

"Mommy? Mommy bangun dong, Lele 'kan jadi cemas sekarang." Dengan sedikit kasar Chenle menggerak-gerakkan tubuh milik sang mommy dan berharap semoga mommy-nya akan segera membuka matanya.

"Mommy?! Mommy! Banguuun!" Chenle mulai panik ditambah lagi sekarang napas milik mommy-nya juga terdengar semakin tidak beraturan, "Mommy... banguuun hiks... jangan tidur terus seperti ini! Mommy... hikss... Banguuuun! Lele khawatir tahu!" Chenle menangis keras saat mommy-nya tak kunjung bangun. Dengan sedikit tergesa dia segera turun dari ranjang untuk mengambil ponsel milik sang mommy yang ada di meja kopi dekat sofa ruang tamu untuk menghubungi daddy-nya.

"Hiks... Mommy kenapa sih!" Dia menghapus air matanya dengan kasar setelah sampai di ruang tamu dan mengambil ponsel milik sang mommy. Jari-jari kecilnya dengan sedikit gemetar mulai menekan angka satu untuk menghubungi daddy-nya dan mengadu padanya bahwa mommy sejak tadi tidak mau bangun juga dari tidurnya.

"Halo Sayang ad-"

"HUWAAA DADDY! BAGAIMANA INI, HIKS MOMMY TIDAK MAU HIKS BANGUN DARI TIDURNYA HIKS... PADAHAL SEJAK TADI LELE SUDAH MEMBANGUNKANNYA HIKS DADDYY! MOMMY PERGI KE MIMPINYA TAPI TIDAK AJAK-AJAK LELE... HUWAAAAA BAGAIMANA JIKA MOMMY MENINGGALKAN LELE DAN LEBIH MEMILIH UNTUK HIDUP DI ALAM MIMPINYA HIKS DADDY CEPAT BANGUNKAN MOMMY HUWAA!"

PIP

Chenle mamatikan sambungan teleponnya dan mulai menangis dengan deras. Dia berjongkok dan menyembunyikan wajahnya pada dengkul yang ditekuknya lalu mulai menangis dengan suara yang sangat keras sekeras-kerasnya. Dia terlalu takut jika mommy-nya benar-benar tidak bangun dan akan meninggalkannya ke alam mimpi dengan begitu saja. Kan dulu mommy pernah bilang, kalau seseorang sudah sangat lelap dengan tidurnya itu tandanya dia sedang bermimpi indah. Dan sekarang dia panik jika mommy akan meninggalkannya ke alam mimpinya karena sudah menemukam mimpi yang begitu indah dan terlalu sayang untuk ditinggalkan.

"HIKS... MOMMY JANGAN TINGGALKAN LELE DULU HUWAAA!"

Dan gema suara tangisan milik Chenle pun terdengar semakin keras di penjuru rumahnya. Well, anak mana sih yang tidak akan menangis kalau mommy-nya tidak bisa dibangunkan dari tidurnya.

...

...

...

TBC

JUMAT 13/01/2017

HALLOOOOOOOO Aku balik lagi dengan membawa kebahagiaan keluarga harmonis milik Markhyuck ^^

Ayo review biar aku semakin semangat ngelanjutinnya.

Dan terima kasih untuk semua review dari kalian. Aku udah baca semuanya. Sekali lagi, aku udah baca SEMUANYA!

Dan aku sengaja gak bales review dari kalian, karena ya... bukannya apa-apa ya. Akunya gak ada waktu :"( tp aku bener-bener apresiasi bgt semua review dr kalian dengan cara selalu ngasi cerita yang baik buat kalian.

Well ini aja dr aku. Dan see you next time.

Hayo tebak ff mana yang bakal aku update setelah ff ini :"v

Aku sebenernya gak hiatus. Cuma lagi nyari waktu luang aja buat merileksasikan diri. Biar badan tambah sehat dan pikiran tambah fresh :3

SEE YOU AND LOVE YOU :*

SARANGHAE MARKHYUCK SHIPPER ^^