CHAPTER : 4
JUST FULFILL
MARKHYUCK/MARKCHAN
FT BABY LELE
.
.
.
"Chenle bahagia Mommy tidak kenapa-kenapa. Asal mommy masih bisa tersenyum semanis itu kepada Lele, Lele sudah merasa sangat bahagia kok."
...
...
...
"Ssst... sudah, jangan menangis lagi, ya?" Mark kewalahan menenangkan Chenle yang sedang menangis di teras rumahnya sembari menunggu istrinya selesai diperiksa oleh dokter di dalam kamarnya.
Selepas menerima telepon dari sang istri -yang ternyata adalah putranya, Mark tadi langsung bergegas keluar dari dalam rumah sakit dan membawa satu dokter -teman dekatnya, untuk datang ke rumahnya dan memeriksa keadaan sang istri, yang kata putra mereka sedang tidak sadarkan diri.
"Huwaaa hiiikss! Lele tidak mauuuuu Daddy! Hiks! Lele maunya sama Mommy!" Chenle meronta dalam gendongan milik Mark dan berusaha untuk menyingkirkan tangan milik sang ayah supaya dia bisa segera bergegas menemui ibu kesayangannya yang sejak tadi masih belum sadarkan diri juga.
"Hei, Sayang. Mommy sekarang sedang diperiksa dokter, Lele tidak boleh menemui Mommy dulu apalagi sampai mengganggunya." Mark menggendong Chenle dengan erat dan mengajaknya untuk mengelilingi teras rumah mereka.
"Sudah, sembari menunggu Mommy selesai diperiksa, sekarang Lele berdoa saja ya? Berdoa semoga Mommy baik-baik saja." Mark menepuk-nepuk punggung kecil milik sang anak yang sesekali masih berontak dengan elusan lembut miliknya. Dan namanya juga anak kecil, pasti sangat sedih jika ibunya tak sadarkan diri seperti tadi.
"Hiks, tapi tadi Mommy tidak bangun hiks. Bagaimana kalau Mommy meninggalkan Lele gara-gara Lele tidak bisa cepat mandiri. Huks... Daddy! Lele mau sama Mommyyyy!" Tangisan milik Chenle jadi semakin menggelegar hingga membuat Mark jadi merasa pening sendiri karena mendengarnya.
"Sssstt.. Lele diam dulu, nanti Daddy akan antarkan Lele kepada Mommy. Tapi Lele harus janji untuk tenang dan diam, oke?" Mark mengangkat tubuh Chenle dalam gendongannya yang sedikit merosot dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Chenle yang sudah rewel seperti ini sangatlah sulit untuk ia tenangkan, berbeda dengan Donghyuck yang selalu mahir menenangkan putra mereka yang sedang menangis begini.
Mark masuk ke dalam rumahnya dengan langkah yang pelan sembari menunggu putranya bisa sedikit lebih tenang. Karena jika Chenle kembali menangis dengan kencang, maka dia takut hal itu akan menganggu konsentrasi milik dokter yang sedang memeriksa istrinya itu.
"Daddy? Hidung Lele keluar lendirnya." Chenle menyentuh filtrum hidungnya yang telah basah dengan kedua tangannya dan mengelapkan jari-jari tangan penuh lendir itu ke kemeja biru milik sang ayah.
Mark menghela napasnya, "Tentu saja keluar lendirnya, Lele menangisnya sangat lama tadi." Sebelum berjalan menuju ke kamar, Mark membawa sang anak menuju ke dapur untuk mencuci tangan dan mengelap filtrum hidung penuh lendir itu dengan menggunakan tissue.
"Ini namanya apa Daddy?" Chenle mengacungkan jari telunjuknya saat sang daddy menyalakan air keran wastafel untuk mencuci tangannya.
Mark mencuci tangan milik sang anak dengan telaten, "Itu namanya ingus. Itu kotor, dan Lele tidak boleh mengelapkannya lagi di baju milik siapapun. Kalau hidung Lele mengeluarkan lendir itu lagi, maka cepat ambil tissue dan lap sampai bersih." Mark mengambil tissue dan membersihkan hidung milik sang anak hingga sampai bersih, dan Chenle pun hanya bisa mengerutkan dahinya saat dirasanya sang ayah terlalu kencang menekan hidung miliknya.
"Oh kalian di sini." Sebuah suara yang muncul dari belakang tubuhnya hingga membuat Mark jadi sedikit terkejut ketika dia sedang sibuk membasuh hidung milik sang anak dengan menggunakan sedikit air.
"Wah! Dokternya sudah keluar! Daddy ayo temui Mommyyyy!" Chenle melompat-lombat kecil dengan penuh semangat saat melihat dokter yang tadi memeriksa ibunya telah keluar. Dia menunjuk-nunjuk dokter itu dengan menggunakan telunjuk miliknya, mengisyaratkan pada sang ayah bahwa kini dia telah bisa menemui sang ibu karena dokternya telah keluar.
"Haha, iya, nanti Chenle bisa menemui Mommy. Tapi nanti ya, sebentar lagi." Dokter itu menepuk lembut kepala milik Chenle dan mengalihkan matanya kepada Mark untuk menjelaskan keadaan terkini dari istrinya tersebut.
"Donghyuck butuh banyak istirahat. Anemianya kembali kambuh, dan ya, dia memang sedang hamil, jadi kusarankan padamu untuk segera menyewa asisten rumah tangga supaya dia bisa beristirahat dengan baik." Dokter itu menyerahkan kertas resepnya kepada Mark, "Itu hanya suplemen dan beberapa vitamin penunjang saja. Dan jika dalam kurun waktu tiga hari, atau paling lama seminggu dia masih belum menunjukkan tanda-tanda baikan, maka lebih baik kau segera bawa dia ke rumah sakit."
Mark menerima resep obat itu dengan membawa Chenle ke dalam gendongannya lagi, "Terima kasih. Dan aku sangat bersyukur sekali karena tadi kau sedang tidak terlalu sibuk hingga aku bisa membawamu kemari. Oh ya Lele, ini namanya Suga Samchon." Mark menyuruh Chenle untuk mengajak Suga bersalaman, dan ya, putra manisnya itupun langsung menurut dengan apa yang telah ia perintahkan tadi.
"Hi Samchon, I'm Chenle, but you can call me Lele." Chenle menirukan logat ayahnya jika sudah berbicara dalam Bahasa Inggris sambil mengulurkan tangannya kepada Suga yang sejak tadi telah tersenyum manis kepadanya.
"Sup, Kid." Suga menyalami Chenle dengan wajah penuh senyuman lalu mencolek pipi sembab milik bocah tersebut lembut, "Biarkan Mommy beristirahat sebentar, dan baru nanti setelah Mommy-nya Lele sudah bangun, Lele baru bisa menemuinya."
"Benarkah? Memangnya Mommy kenapa? Kok Lele tidak boleh menemuinya?" Chenle memberengut sedih ketika Suga tidak memperbolehkannya menemui sang ibu di saat dirinya sudah sangat ingin memeluk sang ibu sekarang juga.
Suga tersenyum semakin teduh kepadanya, "Mommy-nya Lele sedang butuh istirahat jadi jangan diganggu. Kalau nanti Lele menemui Mommy, Lele pasti sangat ingin memeluk dan berceloteh riang di sebelahnya 'kan? Jadi daripada Mommy-nya Lele nanti terbangun karena terganggu, maka lebih baik sekarang Lele tunggu Mommy saja sampai Mommy sadar dulu, key?" Saran dari Suga sambil memberikan senyuman manis miliknya kepada bocah berusia lima tahun tersebut supaya dia bisa paham bahwa sekarang Donghyuck sedang butuh waktu untuk beristirahat. Dan setelah mendengarkan kalimat tersebut, kini Chenle hanya mampu mengangguk lesu saja di dalam gendongan milik sang ayah. Kepalanya ia taruh di bahu milik ayahnya dengan lemas, dengan mata yang sudah nampak kembali berkaca-kaca lagi.
Mark mengerti dengan keadaan ini lalu menepuk-nepuk pelan kepala milik sang anak dan membisikkan beberapa kalimat penenang kepadanya, "Sudah, tidak apa-apa. Lele ingin Mommy cepat sembuh 'kan? Nah, maka dari itu Lele harus bersabar dulu, ya? Kita harus memberi Mommy banyak waktu untuk beristirahat supaya dia bisa cepat sembuh dan bisa kembali bermain bersama dengan kita lagi."
Chenle tidak merespon ucapan tersebut dan malah semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam bahu milik sang ayah, "Tapikan Lele ingin melihat Mommy," Suaranya terdengar lirih seperti suara parau milik orang yang hendak menangis.
"Hiks, Lele ingin sama Mommy hiks, Dad!" Dan benar saja, tak lama setelahnya tangisan milik Chenle kembali pecah karena keinginannya yang itu tidak bisa terpenuhi. Tangan kecil miliknya ia pakai untuk menggenggam kemeja milik sang ayah lalu menarik-nariknya dengan brutal supaya ayahnya bisa segera menuruti keinginannya yang satu ini.
Mark kembali dibuat kewalahan dengan tingkah milik sang anak yang satu ini. Tangannya ia pakai untuk semakin mengeratkan gendongannya dan menimang kecil bocah itu supaya bisa sedikit tenang dengan tetap tak pernah berhenti membisikkan kalimat penenang kepadanya.
"Sst.. sudah Lele." Suga bersuara sambil mengelus pelan punggung kecil milik anak itu, "Chenle boleh menemui Mommy sekarang, tapi dengan syarat Lele tidak boleh berisik jika sudah berada di dekatnya. Kasihan Mommy, dia sedang butuh banyak waktu untuk beristirahat. Jadi kalau Lele ingin Mommy cepat sembuh ya jangan berisik ya nanti?" Suga memberikan penawaran kepada bocah berusia lima tahun itu agar supaya dia bisa berhenti menangis. Lagipula, tidak tega juga sih Suga melihat bocah manis semanis Chenle itu menangis dengan derasnya sampai seperti ini.
Mark menatap ke arah Suga dengan tatapan ragu, merasa tidak yakin dengan perkataan yang dilontarkannya tadi. Jujur, dia tidak yakin jika Chenle bisa tenang jika sudah berada di dekat sang ibu nanti. Apalagi sekarang putra sulungnya itu sedang dalam mode yang sangat manja, maka sudah sangat bisa ia tebak bahwa nanti anaknya yang satu ini pasti akan langsung melompat heboh ke arah ibunya untuk bermanja-manja.
"Chenle tidak akan berisik kok." Perkataan dari Chenle membuat Mark kembali ke daratannya lagi. Dia memperhatikan mata bulat penuh tekad itu dengan tatapan yang tidak menyangka, tidak menyangka bahwa sekarang anaknya telah bisa berkata seperti itu. Padahal dulu jika disuruh tenang dia pasti akan langsung menggerutu sendiri dengan tidak jelasnya. Tapi sekarang, lihat betapa sangat gigihnya dia ingin menemui sang ibunya itu sekarang juga.
"Lele janji, sungguh! Iyakan Daddy? Lele nanti pasti tidak akan berisik ya 'kan? Iya 'kan Daddy ya? Daddy percaya sama Lele 'kan ya?" Chenle memeluk erat leher milik sang ayah dan menatapnya dengan tatapan memohon supaya dirinya bisa diizinkan untuk menemui sang ibu sekarang juga. "Lele kan hanya ingin memeluk Mommy saja." Bibirnya sudah bergetar saat sang ayah tak kunjung meresponnya juga.
Mark tersenyum tipis lalu mendekap anaknya yang manis itu dengan lembut, "Iya, Daddy percaya kok kalau Lele nanti tidak akan berisik. Jadi ayo temui Mommy, tapi janji ya jangan menangis lagi." Dan akhirnya Mark menyerah dengan raut wajah memohon yang disuguhkan oleh sang anak kepadanya tadi. Dia dengan langkah pastinya berjalan menuju ke kamar untuk menemui sang istri, setelah sebelumnya tadi sempat memberikan salam perpisahan kepada Suga sebelum orangnya pergi.
Mungkin saat ini Chenle memang sudah tidak semanja dulu lagi, jadi ia rasa tidak akan ada salahnya juga jika sekarang ia menuruti keinginan dari sang anak itu untuk menemui ibunya. Lagipula pemandangan sang anak yang sedang menangis itu sangatlah tidak mengenakkan bagi hatinya, dan demi melihatnya tersenyum lagi, maka ia putuskan saja untuk membawa sang anak menemui ibunya supaya dia bisa berhenti menangis dan kembali tersenyum lagi dengan ceria.
...
...
...
Mungkin ini sudah berjalan selama seminggu. Donghyuck lebih sering berbaring di ranjangnya karena itulah yang diancurkan oleh dokter kepadanya. Mark belakangan juga sangat sering pulang lebih awal dari kantornya untuk menaminya. Dan Chenle-pun juga demikian, sekarang setiap pulang dari TK-nya, dia pasti akan selalu berlari menuju ke kamar milik sang ibu untuk menemaninya dan berceloteh girang di sebelahnya.
Donghyuck tidak tahu apakah dia harus merasa bahagia dengan hal ini atau tidak. Dia bahagia anak dan suaminya selalu ada untuknya, tapi di satu sisi dia juga merasa sedih karena tidak bisa selalu ada untuk keduanya karena kondisi tubuhnya yang saat ini sedang benar-benar sangat lemah.
Dia ingin bisa kembali beraktivitas seperti dulu lagi. Dia rindu aktivitas paginya yang selalu sibuk menyiapkan ini dan itu untuk suami dan anaknya. Dia juga rindu memasakkan sesuatu yang enak, yang tentunya juga menyehatkan untuk keluarga kecilnya ini. Dan satu hal lagi yang sangat ia rindukan, yaitu dia rindu menemani sang anak mengerjakan PR-nya jika dia sudah selesai dengan seluruh aktivitas rumah tangga miliknya.
Tapi sekarang Mark sudah tidak mengizinkannya untuk melakukan hal itu lagi. Pria itu kini telah melarang keras dirinya untuk jangan banyak beraktivitas terlebih dahulu dan memintanya untuk lebih banyak beristirahat supaya kondisinya bisa cepat pulih. Dan ya, ia rasa suaminya itu sedang benar-benar sangat protektif kepadanya.
"Aku ingin makan malam bersama di ruang makan." Keluhnya malam itu ketika Mark tengah menyuapinya, "Dokter hanya menyuruhku untuk banyak beristirahat bukan menyuruhku untuk bedrest total, Mark. Jadi biarkan aku makan malam bersama dengan kalian di ruang makan, ya?" Dia memohon kepada Mark dengan wajah memelas sarat akan pengharapan.
Mark hanya menghela napasnya saja, "Ini sudah malam, Sayang. Besok saja ya kalau kau ingin makan malam bersama. Lagipula Chenle tadi juga sudah makan." Mark menyuapkan sesendok penuh nasi dan daging ke mulut milik Donghyuck yang langsung ditepis dengan lembut oleh orangnya.
"Ya sudah, kalau begitu kita makan malam berdua saja di ruang makan." Mintanya lagi kepada sang suami, "Inikan masih jam 11, jadi ayo ke ruang makan saja ya?" Donghyuck mungkin sudah sangat tidak betah dengan suasana kamar milik mereka yang selama seminggu penuh ini telah menghiasi hari-hari miliknya.
"Hah," Lagi-lagi Mark menghela napasnya saat ingat bahwa Donghyuck bukanlah tipikal orang yang mudah untuk dibujuk, "Baiklah, aku akan menggendongmu sampai ke bawah." Mark meletakkan piringnya ke meja nakas lalu bersiap untuk menggendong tubuh milik Donghyuck sebelum ditahan oleh orangnya sendiri.
"Jangan. Kau tidak perlu melakukannya, Sayang. Sungguh, keadaanku saat ini sudah lebih dari baikan, dan aku rasa aku bisa berjalan sendiri. Atau mungkin kau hanya perlu memapahku saja, tidak sampai menggendong." Donghyuck menapakkan kakinya pada permukaan lantai kamarnya yang dingin dan berpegangan pada lengan milik Mark dengan kuat.
Mark melepaskan tangan milik Donghyuck yang ada di lengannya dan berlutut di depannya, "Jangan bertelanjang kaki seperti ini, Sayang. Lantainya dingin dan nanti kau bisa demam." Sebut dia berlebihan karena sudah terlalu merasa khawatir kepada sang istri, namun sungguh dia memang tidak mau istrinya itu kenapa-napa atau bahkan sesuatu yang buruk bisa saja terjadi padanya. Lalu, dengan lembut dia memakaikan sendal rumah bermotif panda itu ke kaki milik sang istri supaya dia tidak bersentuhan langsung lagi dengan dinginnya lantai rumah milik mereka itu.
Donghyuck tersenyum senang karena merasa begitu dimuliakan oleh sang suami, "Terima kasih." Ucapnya singkat lalu memberikan satu kecupan singkat ke bibir milik sang suami saat suaminya itu baru saja mendongak kepadanya.
"Sama-sama." Mark membantu Donghyuck berdiri sambil membawa piringnya yang tadi untuk sekalian dibawanya menuju ke dapur.
"Yakin tidak mau kugendong?" Dia bersuara saat mereka telah sampai di anak tangga dan tengah menapakinya dengan perlahan satu per satu untuk turun ke bawah, "Dua hari lagi kamar kita akan pindah ke bawah. Aku tidak mau melihatmu naik-turun tangga terus ketika sedang hamil seperti ini." Tambahnya yang langsung direspon oleh Donghyuck dengan kekehan pelan miliknya.
"Kau sangat berlebihan, sungguh." Donghyuck mengeratkan pegangannya pada pinggang milik Mark saat anak tangga terakhir telah berhasil ia lewati dengan bersusah payah, "Sebenarnya aku sudah baikan sejak kemarin, tapi kau malah terus bersikap terlalu khawatir seperti ini padaku, dan kau bahkan sampai menyiapkan kamar baru untuk memudahkanku."
"Jika aku tidak seperti itu, yakin kau pasti akan bersikap dengan sesukamu dan tidak akan mempedulikan kondisi tubuhmu sendiri." Mark menyindir tentang kekeraskepalaan milik Donghyuck yang memang tidak akan pernah ada matinya itu.
Sekarang saat mereka telah sampai di dapur yang juga merangkap sebagai ruang makan, dia memutuskan untuk mendudukkan sang istri dengan sangat lembut ke kursinya lalu meletakkan piring berisi makanan tadi di depannya.
"Kau tidak ikut makan?" Donghyuck mengerutkan dahinya saat Mark malah ikut duduk di sebelahnya juga dan tidak ikut mengambil makan untuk menemaninya.
Mark hanya menggelengkan kepalanya saja sebagai respon, "Tidak Sayang, aku masih kenyang. Sekarang kau saja ya yang makan." Ia menyendokkan makanan tersebut untuk disuapkannya kepada sang istri. Donghyuck tersenyum dengan manis kepadanya dan menerima suapan itu dengan hati yang berbunga.
"Kau serius sudah merasa lebih baik?" Ia memperhatikan Donghyuck yang masih mengunyah makanannya dengan lembut, lalu tangannya ia ulurkan untuk mengelus pipi lembut milik sang istri tersebut.
"Sangat." Donghyuck mengangguk dan menelan makanannya dengan perlahan sambil menatap Mark dengan mata bulat yang dipenuhi dengan binar keseriusan.
"Aku sudah baikkan, Sayang." Yakinnya sambil menggenggam tangan milik Mark yang masih bertengger di pipinya dengan erat. "Memang benar sih aku kadang masih merasa lemas, tapi jika hanya berjalan-jalan ringan saja aku rasa aku masih bisa. Jadi, tidak bisakah kau jangan terlalu khawatir padaku?" Pintanya dengan wajah sedih pasalnya dia benar-benar sudah merasa sangat suntuk jika terus terkurung di dalam kamar.
"Baiklah, kau akan bebas dari ranjangmu setelah dua hari. Setidaknya tunggu sampai kamar barunya siap, baru setelah itu aku bisa merasa lebih tenang jika kau ingin keluar-masuk dari kamar, Sayang." Mark menarik wajah milik Haechan untuk dikecup pipi gembil miliknya dengan dalam. Sejak dulu pipi milik Donghyuck itu tidak pernah ada bedanya dengan pipi milik putra mereka, selalu berisi dan benar-benar terasa amat sangat lembut dikecupannya.
"Ok, aku mengerti." Donghyuck menerima suapan keduanya lagi sambil wajahnya masih berada di dekat wajah milik Mark.
"Tapi, meskipun begitu kau juga harus ingat Sayang, bahwa kau itu sedang hamil dan jangan terlalu banyak tingkah dengan melakukan banyak aktivitas rumah tangga. Serahkan semua itu pada Ahjumma, dan kau hanya mengawasinya saja, ok?" Mark menyeka sudut bibir milik Donghyuck yang masih menyisakan sedikit pasta tomat di sana dengan hisapan dalam miliknya.
Donghyuck hanya mengangguk kecil dan membiarkan Mark menghisap dalam sudut bibirnya itu dengan begitu saja. Dia tahu, Mark itu memang suka begini. Suka mencuri-curi kesempatan di setiap celah yang dilihatnya. Dasar, memang pandai sekali dia itu jika mengenai hal yang seperti ini.
Tapi, tak selang lama kini dia telah memejamkan mata saat dirasanya hisapan milik Mark telah sepenuhnya beralih ke kedua belah bibir miliknya. Tangannya yang semula terkulai di sisi tubuhnya kini telah ia angkat untuk memeluk leher milik sang suami dan melampiaskan seluruh perasaan aneh yang sekarang tengah mendera perutnya itu.
"Errhmm..." Dia menggeram keras saat akhirnya lidah milik sang suami telah berhasil masuk ke dalam mulut miliknya. Dan dengan begitu, maka sekarang cengkeraman erat tangannya pada rambut milik Mark-pun semakin ia eratkan.
Ciuman mereka berlangsung sangat lembut dan selalu terasa sangat manis baginya. Dia suka saat Mark menginvasi mulut miliknya dan menjelajahi seluruh permukaan yang ada di dalam mulutnya sana. Dari yang mengabsen setiap deretan gigi-gigi geraham miliknya, lalu pasti tak selang lama kemudian dia pasti juga akan menyapu langit-langit mulutnya dengan lidah kasar miliknya itu.
Dan, ugh, itu adalah sensasi yang terasa amat sangat nikmat yang sekarang tengah ia rasakan. Lalu juga, jangan lupakan lilitan lidahnya pada lidah miliknya itu, sungguh rasanya sangat tidak terdefinisikan sama sekali. Dia suka, demi apapun itu.
"DADDDY! DAAD! MOMMY HILANG!"
Donghyuck merasakan tubuhnya terlonjak kaget lalu langsung melepaskan ciuman mereka dengan paksa saat didengarnya suara milik sang anak telah memenuhi penjuru ruangan di rumah mereka. Dia menengok ke belakang dan berpikir bahwa sepertinya sang anak sekarang pasti sedang menuruni tangga untuk menuju kemari.
"DADDY! DADDY DI MANA? MOMMY TIDAK ADA DI RANJANGNYA! MOMMY HILANG DAAAAD! DADDDYYYY!"
Lagi, kini teriakannya semakin kencang, dan Donghyuck pun memutuskan untuk menengok ke arah Mark kembali, memerintahkannya untuk segera menemui sang anak sekarang juga, sebelum teriakannya itu jadi terdengar semakin menggelegar.
"Sudah, bawa dia ke sini sekarang. Dia pasti mengira aku telah hilang karena tidak menemukanku di kamar." Dia menggerakkan dagunya supaya Mark segera beranjak menuju ke atas dan mengambil putra mereka. Well, Chenle selama ini memang selalu mendapat wejangan dari sang ayah untuk selalu memgawasi ibunya yang ada di kamar itu supaya tidak beranjak dari ranjangnya.
Dan ya, Mark tidak menyangka bahwa wejangan itu masih dijalankan oleh sang anak hingga sampai malam-malam begini.
...
...
...
TBC
SABTU 28/01/2017
TERIMA KASIH
...
...
...
Aloha... siapa yang ingin ff ini diupdate? Ini sudah aku update.
Dan terima kasih untuk selalu menyemangatiku dengan cara menerorku dengan tulisan "kapan update." Well, kalian emang luar biasa.
Aku cinta kalian, dan semoga kalian suka sama chap ini.
Udahan ah, Love you guys.
MARKHYUCK/MARKCHAN SHIPPER SARANGHAE!
