CHAPTER : 5

JUST FULFILL

MARKHYUCK/MARKCHAN

FT BABY LELE

...

...

"Jangan nakal jika tidak mau diberi pelajaran. Kalau tidak mau diberi pelajaran ya jangan nakal. Dasar jahat."

...

...

...

Chenle tidak kuasa untuk tidak tersenyum di hadapan kedua orangtuanya. Pagi ini, ayah dan ibunya telah kembali. Maksudnya, telah kembali menemaninya makan bersama di meja makan. Rasanya sangat menyenangkan sekali, pasalnyakan sejak kemarin dirinya selalu makan sendirian bersama sang ayah di ruang makan tanpa ditemani oleh sang ibu. Dan yang kemarin itu sangat tidak menyenangkan bagi Chenle. Bagaimana mau menyenangkan kalau sumber kesenangannya tidak ada bersamanya dan sedang terbaring lemas di atas ranjang tidurnya.

"Mommy?"

"Iya, sayang?" Donghyuck menoleh kepada Chenle yang tadi menyebut namanya minta

diperhatikan. Dia memamerkan sedikit senyuman manisnya untuk sang anak dan menatapnya dengan tatapan bertanya.

"Mommy jangan sakit lagi ya. Lele tidak suka kalau Mommy sakit. Apalagi sampai pingsan seperti yang kemarin. Pokoknya Lele harap Mommy selalu sehat dan selalu bisa menemani Lele kapanpun Lele mau." Chenle mengatakannya dengan nada yang sangat serius, seperti mengisyaratkan kepada sang ibu bahwa sejak kemarin dirinya telah benar-benar tersiksa dengan keadaan sang ibu yang tengah sakit.

Donghyuck tersenyum mendengar keluhan sekaligus harapan dari sang anak. Tangannya yang tadi hendak mengoleskan selai untuk Mark ia letakkan kembali ke atas meja dan mengelus lembut pipi gembil milik anaknya.

"Ouh, jadi selama Mommy sakit, Lele suka sedih dan kesepian ya?" Donghyuck mengangguk simpatik lalu menengok ke arah Mark, dan Mark sendiri yang mendadak ditatap oleh sang istripun hanya mampu menaikkan satu alisnya tidak mengerti.

"Ada apa?" Mark bertanya heran, merasa tidak mengerti kenapa Donghyuck mendadak menatapinya dengan tatapan yang sedemikian rupa.

Donghyuck merespon tatapan itu dengan satu senyuman lebar, "Memangnya selama Mommy sakit, Daddy tidak menemani Lele?"

"Halah, Daddy itu apaan sih Mum, dia itu tidak seru. Tidak seperti Mommy, Daddy itu sangat membosankan, membuat Lele jadi ingin menjauh saja." Keluh Chenle dengan dengusan kecil dan menatap sang ibu dengan tatapan setengah melas. Mungkin semua itu karena ayahnya memanglah sangat-sangat membosankan bagi dirinya.

"Lha? Lalu kalau Daddy membosankan, kenapa kemarin Lele tertawa ketika Daddy membuat lelucon?" Mark tidak terlalu banyak memberikan respon. Karena pada dasarnya dia sudah sangat terbiasa dengan sikap sang anak yang selalu suka mengatai dirinya tidak seru, tidak asik, membosankan, dan lain lagi yang intinya dia itu tidak cocok untuk diajak bergurau.

Chenle mendengus sebentar, "Ya karena tidak tega saja. Kemarinkan Daddy sudah bersusah payah membuat lelucon, masak iya Lele sebagai anak yang baik tidak mau menghargainya. Jadi, mau setidak lucu apapun itu, karena Lele orangnya tidak tegaan, maka ya Lele tertawa saja biar Daddy senang."

Donghyuck menggelengkan kepalanya dengan maklum. Semakin hari cara berbicara milik sang anak terasa semakin meningkat. Dan yang membuatnya begitu takjub adalah, putranya benar-benar sangat pandai dalam hal mengutarakan perasaan. Dia tidak ragu ataupun bimbang dan langsung mengatakan apa yang ingin dirinya katakan tanpa peduli dengan yang lain.

Hal itu memang bagus. Tapi ia rasa hal itu tidaklah boleh sampai melampaui batas. Dan ya, sudah saatnya dia mengingatkan kepada sang anak untuk belajar bertutur kata yang santun agar tidak melukai perasaan milik orang lain.

"Sayang." Donghyuck memanggil Chenle yang mana orangnya-pun juga langsung menoleh kepadanya.

"Iya, Mum?" Chenle membulatkan matanya yang sipit untuk fokus kepada sang ibu tercinta yang hendak mengatakan sesuatu kepadanya.

Donghyuck tersenyum lalu mengelus rambut kepala sang anak dengan lembut, "Lele dengarkan Mommy, ya." Jeda sejenak, "Jangan pernah mengucapkan sesuatu dengan sesuka hati. Tanpa mempedulikan perasaan milik orang lain. Jujur memang baik, apalagi jika itu tentang perasaan kita, tapi, alangkah baiknya setiap perkataan yang hendak kita ucapkan itu harus kita pilah-pilah terlebih dahulu dan jangan pernah mengatakan sesuatu dengan terlalu blak-blakkan."

Di sini Donghyuck menjawil pipi milik Chenle dengan gemas supaya sang anak bisa mengerti dengan maksud pembicaraannya. Dia tahu anaknya itu sangatlah cerdas, jadi dia yakin jika Chenle pastilah akan mengerti dengan maksud pembicaraannya yang tadi.

"Tuh, dengarkan nasihat dari Mommy, mulai sekarang jangan meledek Daddy lagi, ya." Mark langsung mengeluarkan suaranya sesaat setelah Donghyuck selesai bicara. Tangannya menunjuk sang anak dengan jari telunjuknya, maksudnya agar sang anak tahu bahwa apa yang barusan dikatakan oleh Donghyuck adalah hal yang benar dan patut untuk segera dilaksanakan.

"Tapikan Daddy memang membosankan, Mum...!" Chenle mengeluarkan suara rajukan kecilnya karena merasa tidak suka dengan sikap tanggap dari sang ayah yang sepertinya sangat suka jika dirinya dinasihati oleh sang Ibu seperti ini.

Donghyuck mengangguk kecil untuk memberi pengertian kepada sang anak, "Iya, Daddy memang membosankan, sangat malah. Tapi, Lele harus tahu kalau cara berbicara milik Chenle yang tadi sangatlah tidak sopan, apalagi jika itu kepada seseorang yang lebih tua. Terlebih dengan Daddy-nya sendiri. Jadi, lain kali Lele harus bisa lebih santun lagi, ya?"

Mendengar sang ibu berkata seperti itu Chenle langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal dan menatap sang ayah dengan tatapan dongkol.

"Iya, deh, lain kali Lele akan lebih santun lagi kalau berbicara. Maafkan Lele ya, Dad." Chenle meminta maaf sambil menundukkan kepalanya dalam, merasa malu jika harus bertatap muka dengan sang ayah yang sekarang pasti sedang tersenyum bungah.

"Hei, kalau meminta maaf, sebaiknya kepalanya diangkat dan ditatap orangnya." Tambah Donghyuck dengan mencolek telinga kecil milik sang putra. Donghyuck sadar dan sepenuhnya mengerti jika sang anak saat ini pasti sedang kesal dan ingin menggerutu. Tapi, mau bagaimanapun juga, yang namanya kebiasaan yang tidak baikkan memang harus segera dihentikan. Jika tidak sekarang ia menasihatinya, maka kapan lagi?

Chenle mengangkat kepalanya lalu menatap Mark dengan mulut setengah maju, dan Mark yang ditatap seperti itu oleh sang anakpun langsung tergelak renyah karena merasa sangat gemas dengan kelucuan milik sang anak.

"Ish, Daddy! Jangan menertawakan Lele!" Chenle menggelengkan kepalanya dengan gaya merajuk miliknya yang khas.

"Siapa yang menertawakan?" Mark menahan tawanya lalu mencubit pipi milik Chenle dengan sangat gemas dan langsung direspon oleh orangnya dengan pekikan sakit yang terdengar sangat melengking.

"MUUUUMMM! Daddy, jahat sekali!" Chenle yang merasa bahwa sang ayah sangatlah terlampau jahil kepadanya-pun langsung menundukkan kepalanya ke meja. Menyembunyikan wajahnya ke balik lipatan kedua tangan miliknya.

Tak selang lama setelah itu, terdengarlah suara tangisan lirih yang samar-samar mulai ditangkap oleh indera pendengaran milik Donghyuck. Matanya yang semula fokus pada menu sarapan mereka kini secara perlahan mulai ia layangkan ke arah sang suami dengan nyalang.

Merasa ditatap dengan sangat tajam oleh sang istri, Mark-pun lantas mengangkat tangannya tinggi-tinggi, "Apa? Bukan aku, sungguh. Bukan aku yang membuatnya menangis, sayang." Mark menyakinkan sang istri dengan sangat bersungguh-sungguh namun hanya ditanggapi dengan dengusan kecil oleh Donghyuck.

"Iya, bukan kau yang membuatnya menangis, tapi tetangga sebelah yang tiba-tiba lewat."

"Ss... Sudah ya, jangan menangis." Donghyuck beranjak dari kursinya untuk menghampiri Chenle dan mengelusi kepalanya dengan sangat lembut dari belakang.

"Sss, sudah jangan menangis. Sini, Mommy hapus dulu air matanya. Sayang? Angkat kepalanya, ya?" Dengan gerakan lembutnya Donghyuck mencoba untuk mengangkat kepala milik sang anak supaya dia bisa segera berhenti menangis.

"Ehei, yang katanya ingin belajar mandiri dan tidak cengeng, kenapa sekarang malah menangis?" Mark ikut beranjak dari tempat duduknya dan menyusul Donghyuck untuk menenangkan anak mereka yang mendadak berubah jadi cengeng seperti ini. Anaknya memang manja -terkadang, tapi kemanjaannya itu tidak pernah sampai separah ini.

"Ok, Daddy yang salah. Daddy minta maaf ya?" Mark telah sampai di samping sang anak. Ia membungkukkan badan untuk mengecup permukaan halus rambut kepala milik Chenle dengan hangat.

Donghyuck menggeleng pelan, "Lele? Jangan menangis lagi ya, Daddy sudah minta maaf tuh." Ia menarik kursinya untuk lebih dekat kepada sang anak lalu mendudukinya.

"Hiks...! Lele tidak mau sama Daddiieh! Daddy jahaat! Huwaaaaa Mommyy! Pokoknya Lele tidak mau sama Daddy hiks!" Chenle mengangkat kepalanya menampilkan wajah penuh air mata, lalu menoleh ke arah sang ibu yang telah duduk di sebelahnya dan menatapnya dengan sedih.

"Lho? Kena-"

"Ssstt... Iya-iya, Daddy itu jahat, jahil dan menyebalkan." Donghyuck segera memotong ucapan milik Mark supaya tangisan milik sang anak bisa segera berhenti. "Kau itu tidak membantu sama sekali. Jika dia sudah menangis seperti ini, maka ya sudah jangan menggodainya lagi. Sudah membuatnya menangis, tidak bisa menenangkannya, sekarang malah ingin membuatnya jadi semakin ingin menangis." Gerutu Donghyuck sambil menarik kepala milik sang anak ke dalam dekapan hangat miliknya.

Merasa diomeli oleh sang istri, Mark-pun langsung bungkam dan segera beranjak kembali ke kursinya. Karena ya begitulah, lebih baik dia cari aman saja, daripada sok berani melawan sang istri, nanti yang ada dia sendiri yang akan terkena semburan darinya.

"Ok, aku akan diam." Mark mengangguk-anggukkan kepalanya dengan takzim karena tidak mau mencari masalah dengan sang istri. Istrinya itu, awalnya saja hanya mengomel, tapi lihat saja jika omelannya itu sudah mulai berubah menjadi panjang, maka percayalah bahwa tak lama kemudian sang istri pasti akan langsung mengamuk dengan omelan yang terdengar lebih menyeramkan.

"Sshh... Daddy sudah diam tu, sekarang Lele juga diam ya? Jangan menangis lagi. Daddy tadi hanya ingin menggodai Lele saja. Nanti, lain kali kita balas saja semua perbuatan menyebalkan milik Daddy."

"Lele tidak mau main sama Daddy lagi. Lebih baik Lele main sama Ahjumma saja." Chenle menyembunyikan wajahnya ke dada milik sang ibu dan kembali menangis dengan sangat deras.

"Hei, jangan seperti itu sayang. Sekarang Daddy sudah meminta maaf, sudah ya dimaafkan saja dan jangan marah sama Daddy." Ucap Donghyuck lembut lalu menarik napasnya dengan sangat dalam dan menatap Mark dengan tatapan kesal. Pasalnya sejak tadi Mark tampak sangat santai dan tidak membantu sama sekali untuk menenangkan putra mereka.

"Tapi Daddy jahat, Mum. Daddy itu sering cubit-cubit Lele sampai merah, pipi Lele 'kan jadi sakit Mum." Ucap Chenle dengan sangat sendu sambil mengelus bekas cubitan dari sang ayah di pipinya yang mulai nampak memerah dengan raut yang sedih.

Donghyuck mengangguk pelan lalu mengelusi permukaan rambut milik sang anak dengan gerakan yang begitu lembut. Maklum, Chenle yang sedang dalam mode manja itu memang seperti ini, sulit dikendalikan.

"Daddy hanya gemas, Daddy tidak jahat sayang." Donghyuck tetap pantang menyerah untuk menenangkan sang anak.

Chenle yang berada di dalam dekapan sang ibupun langsung menggelengkan kepalanya dengan sangat kencang. Merasa bahwa apa yang telah diucapkan oleh sang ibu sangatlah tidak berguna sama sekali bagi dirinya. Sejak dulu sang ayah memang begitu, selalu menyebalkan dan usil. Dan mau seperti apapun pembelaan dari sang ibu kepadanya, maka dia sampai kapanpun tetap tidak akan pernah mau menanggapinya dengan serius.

"Terserah! Lele pokoknya akan main sama Ahjumma saja kalau Mommy lagi istirahat. Ahjumma orangnya sangat baik, tidak seperti Daddy. Nakal, usil, dan menyebalkan!" Chenle menjulurkan lidahnya ke arah sang ayah lalu semakin mengeratkan dekapannya kepada sang ibu.

Donghyuck lagi-lagi menghela napasnya ketika sifat milik sang anak yang begitu keras kepala telah muncul. Batinnya telah lelah tidak tahu harus berbuat apa lagi supaya Chenle bisa segera menghentikan sikapnya yang begini. Andai saja dalam hal ini Mark bisa dimintai tolong, atau setidaknya bisa sedikit membantu, maka sudah pasti sejak tadi dirinya telah meminta bantuan kepada suaminya tersebut untuk segera mengendalikan sikap milik sang anak yang semakin lama terasa semakin rewel.

Dan jika semuanya sudah terlanjur sampai seperti ini, maka dirinyapun hanya mampu berpasrah diri saja. Biarkan saja keduanya saling ribut, dan untuk Mark, biarkan saja pria itu membujuk anak mereka sendirian supaya tidak merjauk lagi. Lagipula inikan salah Mark sendiri. Masih pagi tapi sudah ribut menggodai anak mereka.

...

...

...

Malam harinya, atau mungkin sore menjelang malam, Chenle dan Donghyuck tampak sibuk melakukan sesuatu di ruang keluarga sembari menunggu makan malam yang tengah disiapkan oleh Ahjumma siap. Mereka duduk bersila di depan meja yang bentuknya bundar dengan ditemani oleh beberapa camilan yang tersaji.

Chenle menatap bungkusan yang tengah dibuka oleh sang ibu dengan mata yang membulat imut. Bungkusan berbentuk persegi yang berisikan beberapa balok dengan aneka ragam warna di dalamnya itu benar-benar membuat dirinya jadi merasa begitu penasaran. Ingin tahu.

"What's that?" Chenle menunjuk bungkusan yang tengah ditumpuk oleh sang ibu dengan jemari mungil miliknya lalu menatap ibunya penuh kebingungan. Sebenarnya benda apa sih yang sedang dipegang oleh ibunya tersebut. Apakah itu permen? Lihat saja warnanya sangat berwarna-warni seperti permen alfabet yang sering dilihatnya di tv itu. Sangat sama persiskan warnanya?

"This is a plasticine, have you ever hear it before?" Donghyuck menolehkan wajahnya kepada sang anak lalu membuka beberapa bungkusan yang ternyata berisikan plastisin tersebut dengan menggunakan giginya. Dan Chenle yang melihat hal tersebutpun langsung menirukan apa yang sedang dilakukan oleh sang ibu. Dirinya mengambil sebungkus plastisin lalu ikut-ikutan membukanya dengan menggunakan mulut.

"Wait. Don't do that, baby." Tapi Donghyuck langsung mengambil bungkus plastisin tersebut dari sang anak.

"Seharusnya kita membuka bungkusan ini dengan gunting. Tapi berhubung guntingnya tidak ada di sini, maka jadilah Mommy membukanya dengan menggunakan gigi." Donghyuck menjelaskan, "Tapi, meskipun begitu Lele tidak bisa menirukan hal ini. Gigi-gigi milik Lele 'kan masih imut-imut dan menggemaskan. Nanti kalau gigi-gigi imut itu tanggal karena dipakai untuk hal yang seperti ini bagaimana? Apa Lele mau giginya pada rontok? Tidak 'kan?"

"But, why you open it whit your mouth, Mum? If you can, so why i can't?" Lele memperhatikan sang ibu yang tengah merobek bungkus benda bernama plastisin itu dengan wajah tidak terima. Merasa jika ibunya telah berbuat curang terhadap dirinya. Kan jika ibu bisa kenapa dirinya tidak?

"It's different, sayang." Balas Donghyuck singkat lalu menyerahkan beberapa balok plastisin yang telah dibukanya kepada sang anak.

"Back to the plasticine, do you know what is it?" Donghyuck segera mengalihkan jalan pembicaraan mereka sebelum sang anak mulai mendebatkan sesuatu yang tidak penting seperti tadi.

"Aku tidak tahu." Setelah menerima balok plastisin aneka warna Chenle-pun lantas segera menekan-nekan benda tersebut dengan rasa penasaran. Merasakan tekstur lembut yang begitu lentur dari benda itu lalu mulai mengulur-ulurkannya dengan sesuka hati. Tidak lupa dirinya juga mendekatkan plastisin yang ada di tangannya itu ke hidung, mengendus-ngendus dan mendeteksi apakah benda ini bisa dimakan atau tidak. Aromanya cukup menyenangkan, dan saat dirinya hendak memasukkan benda itu ke dalam mulutnya, tangan milik sang ibu lagi-lagi langsung sigap menahan hal tersebut sebelum terjadi.

"This is not a candy, not for eat, baby. Ini namanya plastisin, dan ini adalah mainan yang paling menyenangkan yang pernah ada di dunia ini. Cara memainkannya adalah cukup dengan menggunakan kedua tangan kita." Haechan menjelaskan dengan pelan, "Lihat ini, ditekan-tekan seperti ini lalu dibentuk dengan sesuka hati kita. Lele suka apa? Dragonball? Baiklah nanti kita akan membentuk replika Goku dari plastisin ini." Donghyuck memperagakan semuanya dengan pelan supaya Chenle yang melihatnya juga bisa mengikuti apa yang tengah dilakukannya.

"Like this?" Chenle ikut membanting-bantingkan plastisin yang ada di tangannya ke meja ketika sang ibu juga melakukan hal yang sama seperti dirinya.

"Yes, tapi jangan terlalu keras membantingnya sayang. Suaranya berisik, nanti Ahjumma yang sedang memasak di dapur bisa terganggu karena terkejut."

Chenle menganggu paham kepada sang ibu ketika dinasihati dengan demikian. Ia yang semula sangat keras membanting plastisinnya ke meja langsung mencoba untuk meminimaliskan suara yang ditimbulkannya, supaya tidak menganggu Ahjumma yang sedang sibuk di dapur. Kasihan Ahjumma, sejak tadi pagi sudah bekerja, dan masak iya sekarang dirinya tega mengganggu wanita baik hati itu.

"Aku bingung mau buat apa, kalau Mommy mau buat apa?" Sambil membentuk plastisinnya menjadi beberapa bulatan, Chenle menoleh kepada sang ibu dan terus memperhatikan apa yang saat ini sedang dilakukan oleh ibunya tersebut dengan mata yang terbuka lebar karena penasaran.

"Lele bisa membentuknya jadi benareka ragam buah, atau kalau Lele tidak bisa, Lele bisa mencoba membentuk yang lain 'kan? Yang penting Lele jangan menyontek. Jangan ikut-ikutan Mommy ya." Donghyuck mencolek ujung hidung milik sang anak dengan gemas. Ia tidak mau anaknya meniru apa yang hendak ia buat. Dirinya ingin sang anak bisa melakukannya dengan sendiri. Hitung-hitung melatih daya kekreatifitasan yang dimilikinya.

"Aaahh... Tapi Lele bingung mau buat apa, Mum." Chenle menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan lemas. Ibunya tega sekali kepada dirinya, diakan sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk bermain beginian, dan sang ibu malah melarang dirinya untuk menyontek.

"Dipikirkan pelan-pelan, nanti Lele pasti akan mendapat inspirasi."

"Tapi Mommy sendiri mau buat apa sih? Lele jadi penasaran tahu," Chenle menegakkan punggungnya dan mencondongkan tubuhnya ke arah sang ibu untuk menengok bentuk apa sih yang sedang dibuatnya.

"Rahasia." Donghyuck tersenyum setengah jahil kepada sang anak dan menyembunyikan plastisin setengah jadi miliknya ke belakang tubuh supaya sang anak tidak dapat melihat karya miliknya yang saat ini tengah ia buat.

Mendengar hal itu Chenle langsung mengerucutkan bibirnya karena kesal. Ini sangat tidak seru, kenapa sang ibu harus main rahasia-rahasiaan dengan dirinya? Padahalkan dirinya hanya ingin tahu saja. Dia janji dirinya tidak akan menyontek setelah melihatnya nanti. Tapi kenapa sang ibu malah menyembunyikannya seperti itu? Huh, tidak asik sama sekali.

"Hi son, masih marah sama Daddy?" Mark muncul dengan tidak terduga dari belakang tubuh milik Chenle lalu mencuri satu kecupan pada kening miliknya. Chenle mengabaikannya. Masih marah. Bersikap tidak acuh lalu berpura-pura serius dengan plastisin yang ada di tangannya. Chenle tidak akan peduli sama sekali dengan keberadaan dari sang ayah. Maaf saja. Chenle masih sangat marah kepada sang ayah karena kejadian yang telah terjadi tadi pagi.

"Heum, sepertinya ada yang diabaikan." Donghyuck menyindir Mark dengan suara yang sedikit keras. Agar yang disindir bisa mendengarnya dengan jelas. Mark menatap istrinya dengan tatapan setengah tidak percaya karena telah diejek. Mark pikir hari ini dirinya sedang tidak beruntung. Sebab istrinya sudah tidak mau membelanya lagi. Malang sekali nasib Mark hari ini.

"Mum, Lele rasa Lele sudah tahu akan buat apa." Chenle menggilas plastisin yang ada di depannya dengan menggunakan gelas yang airnya telah habis. Donghyuck manatap Chenle ingin tahu. Rasa penasaran menyelimuti benak milik Donghyuck sebab ia sangat ingin tahu bentuk apa yang akan dibuat oleh sang anak nanti. Setahu Donghyuck, Chenle itu terkadang sangatlah kreatif. Dan dirinya sudah merasa sangat tidak sabar untuk menantikan hasil karyanya nanti.

Mark yang sejak tadi diabaikan oleh keduanya lantas segera menempatkan diri di sebelah Chenle. Ia ikut memgambil beberapa plastisin yang ada di atas meja dan hendak membentuknya juga. Chenle menggeser duduknya untuk lebih dekat kepada sang ibu saat sadar bahwa sang ayah juga ikut bergabung dengan mereka. Tatapan sinis, yang entah dipelajari oleh Chenle dari mana, dilayangkannya kepada sang ayah. Mark jadi merasa melas sendiri saat Chenle bersikap seperti itu kepadanya. Sikap Chenle dan Donghyuck jika sedang marah itu tidak jauh beda. Sama-sama membuat batin Mark jadi terasa sangat tersiksa.

"Lele masih marah sama, Daddy?" Mark bertanya singkat. Dengan intonasi yang terdengar sedih.

"Mommy, Lele minta yang warna merah dong."

Baiklah. Mark resmi diabaikan oleh Chenle. Bahkan Chenle lebih memilih mementingkan warna plastisin daripada menjawab pertanyaam dari sang ayah.

"Lele mau buat apa? Mommy jadi penasaran." Donghyuck mengikuti polah milik Chenle. Yaitu sama-sama mengabaikan keberadaan dari Mark yang juga sedang berada di sana. Biarkan saja. Sekali-kali mengerjai Mark seperti yang sekarang ini memanglah perlu untuk dilakukan. Biar Mark tahu rasa. Kalau menggodai Chenle dan Donghyuck bukanlah hal yang baik untuk dilakukan.

Tetapi, hei, sekali-kali? Yakin Donghyuck hanya sekali ini saja mengerjai Mark? Kebohongan publik macam apa ini!?

"Sayang? Jangan ikut mengabaikan diriku juga." Mark mengulurkan tangannya kepada Donghyuck namun langsung ditolak. Donghyuck menampik tangan itu dan menjulurkan lidahnya singkat. Chenle menyaksikan adegan itu, dan dia merasa sangat senang sebab kali ini sang ibu berada di pihak miliknya.

"Mum, Mommy ingat tidak waktu sebulan yang lalu kita berkebun bersama? Lele mau membentuk itu. Lele mau membentuk Mommy yang sedang membawa keranjang pupuk serta Lele yang sedang membawa ember kecil." Chenle berceloteh riang. Mark yang melihatnya tersenyum, merasa bahwa kini kemampuan bercerita milik sang anak telah sangat meningkat. Chenle semakin lama memang semakin membanggakan bagi kedua orangtuanya.

"Heum, nanti hasil karya milik anak Mommy yang satu ini pasti akan sangat bagus. Tidak mungkin mengecewakan." Donghyuck menyanjungnya dengan sambil menyembunyikan karya miliknya yang telah jadi di belakang tumpukan plastisin yang masih tersisa.

"Aku masih di sini omong-omong." Mark mengetukkan jarinya ke meja dengan pelan saat sang anak dan istrinya tidak mengacuhkan dirinya sama sekali. Diabaikan salah satu dari mereka saja sudah sangat menyiksa, apalagi jika diabaikan oleh keduanya. Maka Mark pikir hal itu akan menjadi siksaan yang terasa paling berat bagi dirinya selama hidup di dunia ini.

"Lele sama Mommy jahat sekali, Daddy baru pulang kerja, sedang lelah-lelahnya, sedang butuh diperhatikan, tapi malah diabaikan seperti ini. Huu, malangnya nasib Daddy." Mark bermonolog untuk menyadarkan Donghyuck dan Chenle bahwasannya saat ini dirinya sedang butuh diperhatikan, bukan diabaikan. Chenle menengok ke arah sang ayah dengan tatapan yang terlihat seperti sedang menilai sesuatu, pun Donghyuck juga demikian. Mungkin saat ini Chenle tengah mempertimbangkan diri untuk mengakhiri acara marahnya kepada sang ayah.

"Eum, jadi bagaimana? Lele sudah mau memaafkan Daddy belum? Tidak baik juga lho terlalu lama marahannya." Kali ini Donghyuck yang bersuara. Berusaha membujuk Chenle untuk mau berbaikkan dengan ayahnya. Marahan terlalu lama itu tidak baik. Jika dibiarkan akan menjadi kebiasaan sampai dewasa nanti. Dan Donghyuck tidak mau punya anak yang gampang marah, apalagi hanya karena masalah sepele.

"Mommy bukannya mau membela Daddy, hanya saja apa yang dikatakan oleh Daddy tadi memanglah benar." Tambah Donghyuck. "Kasihan Daddy, baru pulang kerja bukannya disambut dengan senyuman yang indah. Tapi malah dibeginikan." Donghyuck lagi-lagi bersuara. Tidak ada lelah untuk terus membujuk sang anak supaya mau menyudahi acara merajuknya pada hari ini.

Mark bersorak girang. Kali ini Donghyuck kembali membelanya. Berada di haluan miliknya dan membantunya untuk berbaikkan kembali dengan sang anak. Berbakti sekali Donghyuck itu sebagai seorang istri. Jadi semakin cintalah Mark kepadanya.

"Sudah ya? Lele marahannya dihentikan saja. Kalau Lele masih marah seperti ini, maka lebih baik Daddy batalkan saja hadiah yang sudah Daddy pesan dari Jepang untuk Lele."

Reflek Chenle menengokkan kepalanya kepada Mark saat telinga sensitifnya menangkap kata "hadiah" keluar dari mulut milik sang ayah tersebut. Mark menyeringai, menghasut Chenle bukanlah perkara yang sulit. Tinggal diiming-imingi gundam baru buatan Jepang yang berkhualitas baik saja anak itu pasti akan langsung terlena padanya.

"Daddy serius?" Chenle memicingkan matanya dengan gaya interogasi yang khas. Dan Donghyuck tersenyum karena itu. Sebab iapun juga sepenuhnya sadar dengan kelemahan sikap milik sang anak yang sudah pasti akan roboh jika sudah diiming-imingi dengan hadiah.

"Serius sayang, Daddy bahkan sudah memesan lebih dari satu supaya Lele bisa senang. Tapi, karena berhubung sekarang Lele sedang marah sama Daddy. Ya, Daddy rasa lebih baik Daddy batalkan saja pemesa-"

"Tidak! Tidak kok! Lele tidak marah sama Daddy! Lele sayang Daddy, Lele cinta sama Daddy, Lele juga sudah memaafkan Daddy kok. Jadi Lele mohon sama Daddy. Jangan dibatalkan ya pemesanannya?!"

Kepanikan serta kekhawatiran yang berlebih nampak sekali di raut wajah milik Chenle. Ayahnya ingin membatalkan pemesanan hadiah. Dan itu bukanlah sesuatu hal yang baik bagi Chenle. Yang namanya hadiah adalah yang paling Chenle sukai. Dan jika sang ayah sungguhan membatalkan pemesanannya. Maka di situlah letak akhir hidup bagi Chenle.

"Jadi Daddy sudah termaafkan sekarang?" Mark bertanya untuk memastikan.

Chenle menoleh kepadanya lalu menyuruh sang ayah untuk sedikit menunduk. Dia mencium pipi milik ayahnya cepat, "Karena Daddy sudah baik, jadi Lele maafkan. Karena kata Mommy, memaafkan orang baik itu adalah tindakan yang sangat mulia."

Mendengar hal itu Mark-pun menoleh kepada Donghyuck. "Mommy tidak minta maaf sama Daddy juga? Padahal tadi Mommy juga ikut-ikutan mengabaikan Daddy." Mark melirik Donghyuck memberinya sedikit isyarat.

"Baiklah, karena Daddy hari ini sudah sangat baik, maka Mommy akan meminta maaf. Maafkan Mommy ya, Dad." Donghyuck sedikit menggeser tubuhnya supaya bisa menggapai wajah milik Mark. Dan Mark-pun juga demikian. Dia menggeser tubuhnya. Dengan Chenle yang berada di tengah-tengah mereka, Mark-pun mencuri satu kecupan lama di bibir milik sang istri. Chenle tidak tahu. Dia saat ini sedang fokus dengan plastisinnya jadi tidak mungkin mendongak dan melihat apa yang saat ini tengah dilakukannya bersama dengan sang istri.

"Sayang? Kecupannya kurang lama." Bisik Mark dengan sangat pelan di telinga sensitif milik Donghyuck ketika kecupan mereka telah usai. Donghyuck melotot kesal kepada Mark. Di saat yang seperti ini pria itu masih saja sempat memikirkan hal yang begitu. Sudah untung Donghyuck mau meminta maaf dan memberinya satu kecupan manis. Tapi Mark malah melunjak seperti ini.

"Mau dikecup lebih lama?" Wajah mereka masih saling berdekatan. Belum menjauh.

"Ini. Kecup saja ini selama mungkin yang kau mau." Donghyuck menempelkan plastisin berwarna merah yang tadi dipegangnya di bibir milik Mark. Ia terkikik melihat Mark berkerut dahi karena terkejut dengan hal tersebut. Dan Mark yang melihat Donghyuck terkikik seperti itupun juga ikut tersenyum. Tangannya mengambil plastisin merah itu dari bibirnya lalu menatap lekat sang istri yang selalu nampak sangat menawan jika sedang terkekeh.

Manis. Tidak terkira. Dan selamanya akan selalu menjadi yang termanis bagi Mark. Meski putra mereka juga sama manisnya, tapi manisnya Donghyuck adalah yang paling istimewa. Bukannya Mark mau diskriminatif, tapi itulah kenyataanya. Chenle juga yang termanis, tapi setelah Donghyuck. Dan meskipun begitu, rasa sayang dan cinta yang Mark miliki terhadap mereka tetaplah sama. Donghyuck dan Chenle selalu sama-sama menjadi yang paling utama bagi Mark.

Selamanya, keduanya adalah yang selalu menjadi prioritas utama bagi dirinya. Lalu tak lama lagi, prioritas utamanya yang lain juga akan bertambah. Bayi yang saat ini tengah dikandung oleh Donghyuck. Bayi yang kelak juga akan bergabung dengan mereka seperti ini di ruang keluarga. Bercanda, bergurau dan saling tertawa bersama. Betapa sangat tidak sabarnya ia terhadap kehadiran prioritas tambahannya ini.

Sehat dan tetaplah baik-baik saja. Itulah doa yang selalu Mark ucapkan untuk anak mereka yang kini tengah bertumbuh di rahim milik sang istri.

Sehat dan tetaplah baik karena semua telah begitu tidak sabar untuk menantikannya bergabung di sini.

...

...

TBC

RABU 8/03/2017

...

...

Ekhem, jadi ini sudah keyangberapaharinya aku gak up ff? Sebulan? Sebulan lebih mungkin ya. Ok deh maafkan aku semuanya. .

Aku sebenernya gak sibuh sih. Hanya saja pertengahan februari kemarin aku rada sibuk jadi males ngetik. Tapi untuk bulan maret ini aku ndak terlalu sibuk, jadi doakan saja semoga aku tidak males ngetik.

FF ini bagus gak sih? Kalo gak bagus aku bakal hapus aja. Soalnya, ya bukannya gimana. Aku itu orangnya gampang sakit hati. Hatiku itu renta /eleh drama. Tapi beneran, kemarin ada yang nyinyirin ff ini. Orang jahat yang nyinyir. Dan aku yang dasarnya gak suka digituinpun langsung sakit hati :"(.

Aku bukan tipikal yang gampang ngelupain omongan orang. Jadi sampek sekarang omongan itu orang masih melekat di kepalaku. Mungkin dasarnya aku aja yang drama. Tapi please-lah kalo gak suka ff ini mending jangan dibaca. Kalo mau baca ya baca, tapi jangan dihina. Aku gak kuat nantinya.

...

...

For Last

MARKHYUCK/MARKCHAN SHIPPER SARANGHAE ^^