Take Holder
Cast
Kim Mingyu x Jeon Wonwoo
Soonyoung x Jihoon
Seungcheol x Junghan
Minghao x Jun
Seokmin x Jisoo
Seungkwan x Vernon
Lee Chan
….
Warning ! GS for Uke, OOC, and Typo(s)
Cast milik keluarga masing-masing, Pledis, dan Carat
But story is mine
Normal POV
"Wonu kau bisa duduk dimanapun kau suka. Aku akan segera kembali." Ucap mingyu setelah beberapa saat hening. Mereka masih berdiri dibalik pintu setelah ucapan Mingyu yang cukup membuat jantung Wonwoo bekerja lebih keras.
Setelah kepergian Mingyu, yeoja itu memutuskan untuk duduk diatas karpet tebal dan mengedarkan pandangannya. Kamar Mingyu cukup rapih untuk ukuran Namja. Cat dinding berwarna biru muda, sangat muda bahkan mendekati putih. Lemari kayu, maja belajar dengan buku tersusun rapih serta kasur dengan seprai berwarna putih. Oh, melihat kasur Mingyu saja sudah membuat wajah Wonwoo bersemu merah. Wonwoo menyenderkan punggungnya di dinding dan mulai memejam kan matanya.
Suasana hening yang terasa dan suara dengungan pendingin yang terdengar agaknya menenangkan perasaannya walau hanya sedikit. Tapi mungkin ketenangan tidak akan berlangsung lama saat situasinya seperti ini— hey bagaimana bisa kalian tenang saat kalian sedang berada di kamar orang yang kalian sukai bahkan sampai disuruh menginap. Suara pintu yang terbukan membuat Wonwoo ikut membuka matanya. Pandangannya jatuh kepada Mingyu yang sedang mendorong pintu dengan kaki untuk menutupnya.
"Kenapa kau duduk dibawah won?" Tanya Mingyu sambil menaruh nampan berisi minuman dingin dan kue diatas meja.
"Aku hanya bingung harus duduk dimana gyu" jawab Wonwoo asal.
Sebenarnya Mingyu tau situasinya. Dia paham mana ada perempuan yang akan duduk dikasur saat yang dia masuki adalah kamar laki-laki. Apa lagi setelah kata-kata yang barusan diucapkannya. Membuat wajah Wonwoo bersemu menjadi hal paling menyenangkan untuk Mingyu sekarang.
"Wonu-yah ada yang ingin aku katakana. Tapi bisa kah kau mendengar semua hingga selesai? Aku tidak akan memaksakan jawabanmu tapi aku ingin kau mengatakan yang sesungguhnya. Apa kau setuju?" Mingyu mengatakan itu bukan tanpa pertimbangan. Ia sudah menyadari tentang apa yang akan dihadapinya nanti. Laki-laki itu duduk di samping Wonwoo, membiarkan tatapannya jatuh ke gadis cantik disebelahnya lalu ia melihat Wonwoo menganggukan kepalanya. "Apa kau tau siapa aku?" lanjutnya.
"Aku punya beberapa kandidat didalam fikiranku" Wonwoo menatap Mingyu, mencari sedikit petunjuk disana.
"Bisa kau katakan padaku apa itu?"
"Hmm asal kau berjanji tidak akan tertawa saat mendengarnya" Kata-kata Wonwoo seperti perintah untuk Mingyu. Dan tanpa banyak bicara Mingyu menyungingkan senyumnya dan mengangguk. "Mungkin kau sejenis malaikat? Atau seseorang yang tergigit kalelawar super dan berubah menjadi berbeda? Hmm atau Dracula atau mungkin Edward Cullen." Lanjut Wonwoo.
Mingyu bingung respon apa yang akan ia berikan. Untuk sepersekian detik ia hanya diam mencerna jawaban Wonwoo dan akhirnya meledakan tawanya. Ia tahu ia tidak boleh tertawa tapi teori Wonwoo yang terlalu berbelit mau tidak mau membuatnya harus melanggar janjinya. Bagaimana bisa gadis itu berbelit hanya untuk menyampakan maksudnya. "Maaf maaf" ucap Minggyu disela tawanya saat melihat Wonwoo sedikit mempoutkan bibirnya. "Jadi intinya aku ini apa?"
"Kau….Vampire?" Ucap Wonwoo ragu sambil menundukan kepalanya. Sepertinya bulu-bulu karpet jauh lebih merik ketimbah wajah tampan Mingyu.
"Jika kau tahu semuanya kenapa kau tidak takut denganku. Atau mungkin menjauhiku?" Mingyu menyentuh dagu Wonwoo dengan tangan kananya dan mengankatnya perlahan. Ia ingin melihat ekspresi Wonwoo saat menjawab pertanyaan itu.
Wonwoo menggeleng perlahan dan balas menatap iris kecoklatan itu. "Awalnya aku bingung apa yang harus aku lakukan. Sampai akhirnya aku mengerti apa maksudmu saat pertama kali kita berbicara bahwa kau tidak seharusya mendekatiku untuk kebaikanku, tapi saat aku selesai berfikir aku sadar siapapun kau ya itu adalah dirimu dan aku akan menerimanya. Haruskah aku bilang padamu bahwa aku menyukaimu?" rona kemarahan di pipi Wonwoo kembali terlihat dan dibalas oleh senyuman manis Mingyu.
"Aku sudah tahu itu won. baiklah biaskah aku mulai penjelasanku dan apa yang sebenarnya inginku sampaikan padamu?" Mingyu melepas tangannya yang ada di dagu Wonwoo lalu memindahkannya pada pinggang ramping gadis itu, menariknya perlahan hingga posisi mereka sangat berdekatan. "Mau kah kau menjadi TakeHolderku?"
"TakeHolder?" Tanya Wonwoo.
"Ya, seperti Minghao untuk Jun hyung, seperti Jisoo noona untuk Seokmin, seperti Junghan noona untuh Seungcheol hyung bahkan mungkin seperti Jihoon untuk Soonyoung hyung jika mereka memang sudah melakukannya"
"Apa arti TakeHolder untuk Vampirenya?"
"TakeHolder adalah segalanya. Bagi Vampire dewasa TakeHolder adalah pendamping mereka, hidup mereka dan sumber kekuatan mereka"
"Bagaimana caranya?"
"Seperti yang kau ketahui semua vampire minum darah. Sebelum menemukan TakeHolder kami meminum darah hewan atau mungkin waktu tertentu dan sangat special kami bisa meminum darah manusia yang kami beli dipmi" Mingyu tertawa sejenak mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu saat ia membeli darah dikenalan ayahnya untuk merayakan hari ulangtahunnya yang ke seratus. "Dan TakeHolder lah yang menyediakan darahnya untuk kami. Kami melakukan ritual pengikatan yang mereka bilang sebagai perjanjian atau sumpah, karena ada beberapa hal yang harus di sepakati dan dijalankan. Setelah ritual itu TakeHolder dapat memberikan darahnya bahkan hampir setiap waktu tanpa harus takut mati kehabisan darah atau berubah menjadi seperti kami"
"Apa setelah menjadi TakeHolder kami bisa mati?"
"Hampir, tapi jika syarat dan janji tidak dilanggar maka kalian tidak akan mati. Kalian bisa terluka, bisa merasakan sakit dan berdarah tapi kalian hanya membutuhkan waktu singkat untuk sembuh dan menghilangkan semua bekas luka"
"Apa syaratnya?"
"Ah, biar mudah aku akan menceritakannya dari awal. Hampir ribuan tahun lalu banyak makhluk yang hidup disini, mulai dari vampire, werewolves, elf dan lain sebagainya. Bahkan banyak creatures yang kau kenal didongeng mungkin benar-benar ada disini. Tapi sebagian besar memilih untuk pergi dan mencari tempatnya sendiri. Hingga yang tersisa hanya werewolves dan vampire. Tapi manusia tahu yang jauh lebih menyusahkan adalah kami para vampire. Kami pemberontak, akan menggigit dan menghisap darah sembarang orang dan yang paling parah terkadang bisa membuat manusia menjadi seperti kami secara tidak sengaja. Maka dari itu penyihir manusia membuat perjanjian dan aturan untuk kami"
Wonwoo tahu bahwa cerita itu adalah cerita yang akan jadi panjang, ia memutuskan untuk menyandarkan kepalanya di bahu Mingyu dan laki-laki itu mengusap pelan rambut Wonwoo lalu melanjutkan ceritannya. "Kami diberi aturan untuk meminum darah hewan dan hanya bisa meminum darah manusia jika ada yang dengan suka rela memberikanya dan menjadikannya Thehost—dulu TakeHolder diberinama seperti itu— setelah usia kami seratus tahun dan dianggap sebagai Vampire dewasa. Menjadi TakeHolder artinya menjadi bagian dari hidup kami. Karena kalian adalah sumber dari hidup itu sendiri. Kalian yang akan memberi kami darah, hidup dan cinta"
Wonwoo memejamkan matanya dan mencerna semua kata-kata Mingyu. Gadis itu tau ia harus mengamati setiap cerita Mingyu tapi otaknya sulit diajak kerjasama dengan baik. Terlalu banyak yang harus diperhatikan. "Jadi kami harus mencintai kalian?" Tanya Wonwoo.
"Ya, itu syarat utama dan satu-satunya. Itu mengapa aku mengnggapnya sebagai lamaran ketimbang perjanjian" tawa Mingyu disela kata-katanya. "Perasaan itu yang membuat racun kami tidak bisa membuat kalian mati. Maka dari itu jika ada rasa tidak percaya, penghianatan atau bahkan hilangnya perasaan itu maka kalian bisa mati sesaat setelah racun kami masuk ketubuh kalian."
"Apa itu berpengaruh dengan dirimu? Apa yang terjadi jika kalian yang sudah berubah, berhianat, dan tidak mencintai kami lagi?
"Tidak ada, tapi kami dilahirkan untuk setia jadi kau jangan khawatir."
"Apa ada ritual penghapusan?"
"Tentu, saat perasaan kalian berubah. Kalian dapat meminta ritual penghapusan. Dan saat kalian sudah bukan Takeholder kami perubahan kalian akan mulai terjadi. Pertumbuhan kalian akan kembali berjalan. Karena selama kalian menjadi Takeholder kalian akan seperti kami Immortal, tidak akan menua. Ah, satu lagi saat umur kami sudah cukup kami bisa menikahi Takeholder kami dan memiliki keluarga kecil"
"Memiliki keluarga kecil? Apa Takeholder dan Vampir bisa punya anak?"
Mingyu tersenyum tulus dan mencium puncak kepala Wonwoo sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu. "Ya, tubuh kalian bisa berubah. Kalian manusia dan Vampire diwaktu bersamaan. Kalian bisa mengandung seperti manusia dan saat melahirkan dapat menyembuhkan diri kalian sendiri. Tapi aku tidak tahu bagaimana caraku lahir. Ibuku tidak pernah memberitahunya"
"Apa kalian berkembang?"
"Wonu aku tak mungkin lahir langsung sebesar ini. Kami lahir seperti bayi pada umumnya hanya saja pertumbuhan kami akan berhenti saat berumur delapan belas tahun. Selama itu kami meminum darah ibu kami. Tapi hanya bayi laki-laki yang akan menjadi vampire dan bayi perempuan akan menjadi Dhampire"
"Dhampire? Itu apa? Kenapa bisa begitu?"
"Kromosom XY tentu saja. Kau tahu tentang sifat X Y ayah dan ibu bukan? XX perempuan dan XY laki-laki. Ayah kami vampire dan ibu kami TakeHolder jadi bisa ditebak bahwa perempuan mewarisi komosom XX bukan? Ya seperti itu lah. Dhampire adalah manusia tetapi punya beberpa karakteristik vampire. Dia tidak menua jika tetap meminum darah setidaknya setahun dua kali, dapat menyembuhkan diri dan terluka serta merasakan sakit seperti Takeholder dan sama seperti kami mereka berhenti bertumbuh saat berusia delapan belas tahun. Istimewanya mereka bisa makan makanan manusia dan jika jatuh cinta pada manusia mereka bisa meninggalkan kebiasaan mereka untuk meminum darah dan hidup seperti manusia normal lalu tua bersama pasangan mereka. Ah Jisoo noona adalah dhampire kau tahu?"
Wonwoo bisa menangkap perasaan iri di kata-kata minggu. Gadis itu mulai memeluk pingganggang Mingyu lalu menatap tepat keiris matanya "Apa kau iri dengan Jisoo eonni atau mereka yang seperti Jisoo eonni?"
"Sangat, mereka bisa memilih yang mereka mau. Mereka bisa menjadi yang mereka inginkan dan yang tepenting mereka tidak hidup dengan menyakiti orang yang mereka cintai. Mereka tidak perlu melihat orang yang mereka cintai meringis hanya agar dapat memenuhi keinginan mereka" Suara Mingyu bergetar. Wonwoo tahu laki-laki itu ingin menangis tapi ditahannya.
Wonwoo melepas pelukannya dan menangkupkan kedua tangannya di wajah Mingyu lalu ditatapnya kedua mata Mingyu. "Kim Mingyu katakan dengan jelas apa yang kau inginkan?"
Mingyu mengedipkan matanya beberapa kali lalu balas menatap manik tajam itu "Yang ku inginkan? Kau menjadi Takeholderku?" uncapnya dengan yakin. Ia melihat Wonwoo tersenyum dan sebuah kecupan manis mendarat dibibirnya. Singkat namun dapat membuatnya terbang entah kemana.
"Kalau begitu lakukan. Sekarang." Perintah Wonwoo. Setiap kata dari gadis itu saat ini lebih seperti nikotin yang menjadi candu untuk Mingyu. Dia akan melakukan apapun yang Wonwoo katakan walau itu harus meloncat dari namsan tower sekalipun.
"sekarang? Apa kau yakin ? aku hanya bercanda saat mengatakan bahwa menyuruhmu menginap disini dan akan mengantarmu pulang jika kau ingin berfikir dulu sebelum mengambil keputusan"
"Aku yakin Mingyu. Aku menyayangimu. Ah tidak, aku mencintaimu dan aku bersedia jadi Takeholdermu. Sekarang atau tidak sama sekali?"
Mingyu tertegun dengan kata-kata Wonwoo. Awalnya ia pikir gadis itu akan meminta waktu berpikir atau mungkin menolaknya. Dan Mingyu sudah menyiapkan segala sesuatunya. "Baiklah kita mulai ritualnya sekarang"
"Apa yang akan kita lakukan? Bagaimana ritual itu?"
"Kau akan duduk di dalam lingkaran matra dengan lima lilin disekitarnya. Lalu aku akan menggunakan pisau khusus untuk membuat lambang keluargaku ditubuhmu –kau dapat memilih tempat yang kau mau untuk aku gigit nantinya— setelah itu aku akan menggigit jari telunjuku dan menyatukannya dengan darahmu dengan cara mengelus ringan lambang ditubuhmu. Hingga darahku benar benar masuk ke dalam dan menutup lukamu."
"Apa kau bisa berdarah dan memiliki darah? Oh, seperti Jun kau menggigit dan minum di tempat lambang itu?" Mingyu mengangguk mendengar ucapan Wonwoo. "Aku ingin di sini dan disini boleh?" gadis itu menunjuk diperpotongan lehernya dan di pergelanganan tangannya—tepat diatas urat nadinya— seperti Minghao.
"Tentu saja walau darah kami tidak mengalir dan kami hanya bisa berdarah saat gigi kami yang menggoreskannya. Kau ingin dua?" pertanyaan itu hanya dijawab anggukan antusias dari Wonwoo "Aku dengar nenekku dulu juga melakukannya. Entah apa alasannya hingga membuat dua tanda seperti itu tapi karena tidak dilarang dan tidak bahaya aku akan melakukannya" Setelah mengucapkan itu Mingyu melepaskan tangan Wonwoo dari wajahnya dan segera berlari keluar kamar untuk mengambil semua yang dibutuhkannya.
Sepeninggalnya Mingyu, Wonwoo mulai berpikir apa ini keputusan yang baik atau tidak tapi ia yakin bahwa apapun yang ia ambil jika itu untuk Mingyu maka pasti adalah sesuatu hal yang benar walaupun bukan sesuatu hal yang baik. Tidak sampai lima belas menit Mingyu masuk kedalam kamar dan membawa sebuah kain hitam dengan motif lingkaran mantra diatasnya, lima buah lilin, serta sebuah pisau seperti pena. Mingyu mengelarnya di tengah kamarnya lalu meminta Wonwoo untuk duduk ditengahnya. Laki-laki itu menghidupan lilin dan menyusunya memutar searah jarum jam lalu mematikan lampu. Setelah semua persiapan selesai ia memasuki lingkaran dan duduk hadapan Wonwoo.
"Kau siap?" Tanya Mingyu yang hanya dijawab sebuah anggukan mantab dari Wonwoo. Ini akan sedikit sakit."
Wonwoo Pov
Sebelum lampu dimatikan aku sempat melihat jam pada dinding kamar Mingyu. Pukul 07.00 saat semua persiapan ritual selesai dan akan segera dimulai. Mingyu memegang tanganku lembut dan mencium tepat diatas urat nadiku. Kutatap kedua matanya saat dia mendongak dan aku menemukannya, tatapan penuh cinta dan menenangkan yang membuat siapa saja rela melakukan apapun untuknya.
"Aku akan mulai dari sini" Ucapnya. Ia memegang pisau kecil itu dan mulai menggoreskannya diatas pergelangan tanganku. Perih, tapi ada rasa lain selain perih disana. Rasanya seperti kulitmu digores dengan pisau tajam tapi panas. Perih dan sakit diwaktu bersamaan. Rasanya aku ingin teriak sekeras yang kubisa sekarang tapi aku menahan. Aku tidak mau mengganggu konsentrasi Mingyu.
Entah sudah berapa lama tapi aku merasa itu bagaikan berjam-jam. Keringat membasahi pelipisku dan ada air mata disudut mataku. Setelah selesai aku lihat Mingyu menggigit pergelangan tangannya dan membiarkan darah mengalir disana. Ia menyatukan pergelangan kami dan membiarkannya disana untuk beberapa waktu. Perlahan rasa perih dan sakit yang aku rasakan menghilang diganti dengan berasaan aneh yang lainnya. Seperti kulitku menebal disemua bagian. Pandanganku dan pendengaranku sedikit lebih baik dan perasaanku menjadi lebih tenang.
"Sudah lebih baik?" tanyanya. Ia menatap tepat kemanik mataku sambil tersenyum manis menampakan gigi taringnya yang sedikit lebih panjang dari sebelumnya.
Aku mengangguk dan balas tersenyum. "Sangat. Bisa cepat kita selesaikan? Entah kenapa aku menjadi sangat lelah gyu."
"Tentu" Mingyu memegang lembut ceruk leherku dan memandangku seakan meminta izin atas apa yang akan dia lakukan. Ku jenjangkan leherku untuk memberi akses lebih, setelah aku melakukannya Mingyu mulai menggambar pola itu lagi. Tapi entah kenapa rasanya sangat berbeda, tetap perih dan panas tapi aku bisa menahannya. Seperti ada selubung ringan yang mengurangi rasa sakitnya. Kupejamkan mataku dan membiarkan Mingyu menyelesaikan tugasnya. Saat kurasa semuanya sudah selesai kubuka mataku dan tiba-tiba cahaya sudah memenuhi ruangan ini.
"Jangan berdiri" perintah Mingyu. Ia membereskan lilin-lilin yang sudah padam dan menaruhnya bersama pisau di laci mejanya. "Kau akan terlalu lelah untuk berjalan. Biar aku yang mengendongmu" ia mendekat kearahku dan menggendongku seperti putri di negeri dongeng. Jika saja ini dilakukan disekolah aku pasti sudah memukulnya.
"Ya! Kim Mingyu apa yang akan kau lakukan?" Mingyu membuka pintu dan berjalan kea rah kamar dengan pintu ber cat putih disamping kamarnya. Setelah sampai didalamnya Mingyu menurunkanku di atas kasur dan mulai menyelimutiku.
"Kau ingin ganti baju? Ibuku sudah membelikan beberapa baju tidur untukmu. Apa perlu aku benar-benar menghubungi orang tuamu?"
"Tidak perlu gyu. Toh aku hanya sendirian dirumah. Ah, Mingyu kapan aku bisa bertemu ibumu? Aku tidak ingin disangka tidak sopan karena tidak menyapanya hari ini"
"Besok saat sarapan. Kau bisa menyapa ibu dan ayahku disana" ucap Mingyu sambil menyerahkan baju tidur yang bisa aku gunakan. "besok kita akan berangkat sekolah bersama" lanjutnya. Ia mencium keningku lalu berjalan hendak meninggalkan kamar ingin memberikan privasi untukku.
Setelah Mingyu keluar kamar aku hanya diam memandang pergelangan tangan kananku yang kini memiliki sebuah tanda. Gambar lingkaran dengan beberpa pola rumit didalamnya kini menghiasi pergelangan tanganku. Apa ini sungguhan? Entah kenapa aku tersenyum sangat lebar saat ini.
Beberapa menit kuhabiskan untuk mandi dan menggantii bajuku di kamar mandi dalam kamar itu. saat mematut diri dicermin kuikat rambut panjangku dan melihat tanda di perpotongan leherku. Sempurnya. Bahkan lebih baik dari tanda di pergelangan tanganku. Kulangkahkan kakiku menuju kasur dan berniat untuk tidur. Malam ini terlalu panjang dibanding malam lain yang pernah kutemui, padahal sekarang masih pukul Sembilan tapi aku sudah benar benar lelah.
"Selamat tidur Mingyu" ucapku, walau aku tahu Mingyu yang berada di kamar sebelah tidak akan mendengarnya tapi aku tetap ingin mengucapkannya. Hanya dalam hitungan detik aku jatuh kedalam mimpi indahku.
Mingyu Pov
Aku membuka mata pukul enam tepat. Jika kalian pikir kami Vampire tidak tidur maka kalian salah. Mungkin para vampire murni yang berubah karena gigitan vampire lain seperti itu, tapi tidak dengan kami yang sebenarnya adalah vampire campuran. Kami tidur, kami tidak takut matahari—walau kami tidak suka— dan mata kami tidak berwarna merah atau emas hanya coklat seperti biasa. Banyak mitos vampire sebenarnya tidak berlakulagi untuk vampire sekarang.
Samar-samar aku mendengar teriakan tertahan dari kamar sebelahku. Apa yang terjadi dengan Wonwoo? Aku berjalan cepat menuju kamarnya, mengetuk pelan sebelum akhirnya masuk kedalam. Kulihat gadis itu sedang terkesiap didepan cermin besar yang ada dikamar itu. aku tahu ini pasti terjadi. Kulangkahkan kaki kearahnya dan berdiri dibelakang gadis itu.
"Ada yang salah denganmu Nyonya Kim?" entah mengapa rasanya aku ingin sekali menggodanya hari ini.
"Jangan seenaknya menganti margaku gyu. Aku masih Jeon" ucapnya. "Hmm gyu kenapa ini bisa terjadi, maksudku kenapa ada lingkaran perak di mataku? Walau tipis tapi terlihat berbeda. Kenapa rambutku berubah keabu-abuan seperti milikmu? Apa ini biasa terjadi? Minghao, Junghan eonni, Jisoo eonni tidak seperti ini"
"Kau mungkin tidak melihat mata mereka dengan seksama won, mereka juga seperti itu tapi kalau masalah rambut itu salahku"
"Salahmu?"
Aku mengganguk "Saat Vampire memiliki kekuatan lebih—dalam kasusku aku dapat memanipulasi kabut— dapat mempengaruhi TakeHoldernya menjadi seperti pasangannya. Dalam kasusmu kau mengikuti warna rambutku dan percayalah rambutku berwarna seperti ini sejak lahir."
"Kabut?" Wonwoo menarik tanganku untuk melikarkanya dipinggang gadis itu.
"Bukan kabut seperti uap putih yang biasa kau lihat won, ini seperti memanipulasi pandangan ya seperti itulah. Aku tidak menyangka kelebihanku sekuat itu. kau sudah mandi won?" aku melihat ia menggeleng kecil dari cermin. Kucium ringan puncak kepalanya dan menyuruhnya untuk bersiap sekolah. "Satu jam lagi kita bertemu di meja makan Kim Wonwoo"
"Sudah kubilang jangan mengganti margaku seenaknya Kim" aku melepaskan pelukanku dan berlari keluar kamar itu sebelum dihadiahi pukulan atau timpukan bantal darinya.
Jam di dinding kamarku telah menunjukan pukul 7.00 saat aku mendengar ketukan ringan di kamarku. "Mingyu boleh aku masuk" ucap suara diluar sana.
"Tentu won, masuklah" ucapku.
Perlahan ia membuka pintu kamarku dan membawa langkahnya hingga sampai tepat dihadapanku. Entah mengapa auranya sedikit berbeda. Dari awal aku meliatnya aku tahu dia sangat cantik tapi sekarang gadis itu jauh lebih cantik. Aku tahu menjadi TakeHolder akan merubah seseorang tapi apa efeknya sebaik ini? Kulitnya yang dari awal putih sekarang semakin putih, matanya yang semua berwarna coklat kini berkilat keperakan, rambut panjang yang dulunya hitam kini memiliki warna keabuan. Aku rasa ia lebih pantas menjadi vampire ketimbang aku.
"Aku hanya tidak enak jika harus kemeja makan sendiri gyu. Bisakah kita kesana bersama?"
"Tentu, Kajja. Lagipula aku sudah selesai" kugenggam lengan Wonwoo dan menariknya perlahan.
Normal Pov
Mingyu dan Wonwoo memasuki ruang makan dengan dua kursi yang telah diisi. Saat melihat Wonwoo yang menundukan kepalanya Mingyu tersenyum dan meremas ringan tangan Wonwoo yang digenggamnya. "Semua pasti akan baik-baik saja won" Bisik Mingyu.
"Jeon Wonwoo?" Wonwoo menganggkat kepalanya saat suara seorang wanita menyapa pendengarannya. "Wua kau sangat cantik Wonie, kemarin aku sempat melihatmu sekilas sebelum kau masuk kamar Mingyu. Tapi tidak ku sangka warna abu-abu akan sangat cocok untukmu" ucapan itu membuat semburat merah dikedua pipi Wonwoo.
"Terimakasih eommonim" Jawab Wonwoo
"Panggil aku eomma, sekarang kau bagian dari keluarga kami" Nyonya Kim menyuruh Wonwoo duduk di sebelahnya dan membuat Wonwoo harus duduk berhadapan dengan Mingyu.
Walaupun namanya sarapan bersama tetapi tetap saja yang memakan sarapannya hanya Wonwoo dan nyonya Kim. Mereka menghabiskan sarapan dengan diselingi beberapa obrolan ringan dan membuat Wonwoo nyaman. Tempat ini bahkan jauh lebih nyaman dari rumahnya sendiri. Kedua orang tuanya yang sibuk mungkin lupa bagaimana Wonwoo akan sarapan nantinya, apa Wonwoo akan makan dengan baik. Yang mereka lakukan hanya meninggalkan uang, uang dan uang seakan uang akan cukup untuk semuanya. Semalam saat ia menginap ia benar-benar tidak memberikan kabar kepada kedua orang tuanya. Toh dirumah ia hanya akan hidup sendiri.
Mereka berangkat kesekolah sesaat setelah Wonwoo selesai sarapan. Mereka keluar rumah dan berjalan menuju garasi kediaman keluarga Kim itu. "Untuk hari ini dan mungkin seterusnya aku akan membawa Mobil agar bisa mengantarmu pulang" kata Mingyu.
"Jika kau memang punya dan bisa mengendarainya kenapa kau tidak pernah membawanya ke sekolah?"
"Well, aku hanya bingung untuk apa aku membawanya tapi sekarang aku punya alasan untuk membawanya" Mingyu membuka pintu untuk Wonwoo dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya.
"Wonwoo, kau sudah sarapan bukan?" kata Mingyu saat ia sudah naik dikursi pengemudi
"Sudah"
"Kalau begitu sekarang aku yang akan minta sarapanku dari mu" Mingyu menyunggingkn senyum miringnya.
Laki-laki itu menggengam tangan kanan Wonwoo dan mencium pergelangan tangan kanannya tepat di atas urat nadi gadis itu. perlakuan Mingyu membuat jantung Wonwoo berdetak sangat cepat. Debaran atara senang dan penasaran. Bagaimana rasanya saat gigi taring Mingyu menembus kulitnya dan menghisap darahnya?
TBC
Maaf lama updatenya hehe
Tadinya mau update kemarin tapi ternyata ada banyak ide yang terkumpul jadi ngerubah beberapa bagian disana-sini.
I hope all of you enjoy my fanfic ^^
Dimohon kritik dan sarannya ya. Jika ada pertanyaan juga tanyakan saja pasti aku jawab di chap selanjutnya.
Ah, satu lagi. Review Juseyoooo ~~~
