Take Holder
Cast
Kim Mingyu x Jeon Wonwoo
Soonyoung x Jihoon
Seungcheol x Junghan
Minghao x Jun
Seokmin x Jisoo
Seungkwan x Vernon
Lee Chan
….
Warning ! GS for Uke, OOC, and Typo(s)
Cast milik keluarga masing-masing, Pledis, dan Carat
But story is mine
Normal POV
Seorang yeoja terjaga dari mimpi indahnya karena mendengar suara seseorang sedang bersenandung dihadapannya. Yeoja itu mengerjapkan matanya perlahan, berharap dapat memfokuskan pandangan dan meyakinkan diri bahwa apa yang dihadapannya benar-benar nyata. Yeoja itu mengerutkan keningnya seakan bertanya apa yang dilakukan orang itu disini.
"Ah, Jihoon kau sudah bangun? Apa aku mengganggu tidurmu?" Tanya orang itu.
"Soonyoung apa yang kau lakukan disini?" bukannya menjawab pertanyaan gadis itu malah membalasnya dengan pertanyaan lain.
"Aku? Menemanimu tidur disini. Tadi aku hanya sedang lewat didepan kelasmu saat aku melihatmu tidur dengan nyenyak disini. Lagipula aku yakin kau akan tidur hingga petang jadi aku menemanimu takut kau akan pulang terlalu malam. Lagipula sekarang sudah jam enam asal kau tahu saja" Jelas Soonyoung panjang lebar.
"Jam berapa?" Jihoon menyalakan ponselnya dan melihat angka 18:06 dilayarnya. "Sejak kapan kau disini? Kenapa tidak membangunkan ku?" Jihoon bertanya sambil beranjak dari kursinya dan memutuskan untuk meninggalkan kelas.
"Jam empat. Kau kira aku tega membangunkanmu yang sedang tidur dengan damai" Soonyoung yang sebelumnya menikuti Jihoon menghentikan langkahnya saat gadis didepannya berhenti didepan pintu. "Kenapa berhenti?"
"Lorongnya gelap, maksudku apa sudah selarut ini hingga suasana sudah sangat gelap. Kukira sekarang musim semi seharusnya matahari bersinar lebih lama bukan?" Jihoon masih menahan langkahnya di depan pintu kelas.
"Ini musim semi bodoh bukan musim panas jadi matahari tidak bertahan selama apa yang ada dikepalamu"
"Ya! Soonpabbo kau mengatakan aku bodoh? Siapa yang kau panggil bodoh eoh?" Jihoon membalikan tubuhnya menghadap Sonnyoung dan pemukul lengannya.
"Aww, Kau kira tidak sakit? Sudah kau mau pulang atau ku tinggalkan kau sendiri disini" Soonyoung tahu Jihoon itu tsundere jadi kemungkinan besar gadis itu akan mengikuti egonya dan membiarkan Soonyoung pergi begitu saja. Atau mungkin laki-laki itu salah?
"Soonyoung jangan tinggalkan aku" Jihoon mengejar kekasihnya yang telah jalan mendahuluinya beberapa langkah. Kekasih? Yap, Soonyoung telah mengakui perasaannya ke Jihoon seminggu yang lalu dan dibalas dengan sepenuh hati oleh gadih mungil itu. walau hubungan mereka lebih sering seperti Tom and Jerry daripada Romeo and Juliettnya.
Oke, Soonyoung tahu Jihoon manis tapi ia tidak menyangka Jihoon yang ketakutan jauh lebih manis lagi. Sangat imut malah. Gadis itu sedang memeluk lengannya dengan erat dan mengikuti langkahnya tanpa banyak bicara. Mungkin ini sedikit kejam tapi ia sangat menyukai ketakutan Jihoon. Haruskan aku menakutinya setiap hari? Ucapnya dalam hati.
"Jihoon-ah apa ayahmu ada dirumah? Apa kau mau bermain dirumahku dulu?" ucap Soonyoung setelah mengumpulkan semua keberaniannya.
"Kau seperti tidak tahu dia Soon, dia mungkin sudah lupa dia memiliki anak perempuan dirumahnya. Yang ia ingat hanya perusahaannya dan saham miliknya. Oh, mungkin dia ingat tapi dia tidak peduli yang penting ia memberi anaknya uang. Setelah eomma tidak ada aku tak pernah benar-benar peduli untuk pulang Soon, jadi baiklah aku akan kerumahmu." Oceh Jihoon. Soonyoung tahu cerita itu tapi mendengar hal itu lagi ia jadi mengingat air mata Jihoon saat pertama kali menceritakanya.
"Kajja." Soonyoung menarik pergelangan tangan Jihoon perlahan menuju mobilnya.
Perjalanan cukup singkat hanya sekitar beberapa menit menuju rumah Soonyoung. Setelah sampai Laki-laki itu menarik tangan Jihoon—nyaris menyeret— menuju kamarnya. Ini bukan pertama kali gadis itu main kerumah Soonyoung bahkan sebelum mereka menjadi kekasih sudah beberapa kali dia kesana, bahkan sudah mengenal baik keluarga Soonyoung.
"Ya! Kenapa kau menyeret ku eoh?" omel Jihoon setelah masuk kekamar Soonyoung. Gadis itu duduk di kasur dan melipat keduatangannya di depan dada.
"Ada yang harus aku bicarakan padamu dan ini sangat penting" Soonyoung membawa langkahnya kearah Jihoon dan berdiri tepat dihadapannya.
"Apa?"
"Mau kah kau menjadi TakeHolderku Lee Jihoon?" Tangan Soonyoung terulur hendak menyentuk pipi Jihoon saat si pemilik pipi menyentuh tangannya dan menggenggamnya erat.
"Apa yang kau maksud TakeHolder?"
"Hidupku. Maukah kau menjadi hidupku? Menjadi satu-satunya orang yang aku butuhkan untuk hidup. Menjadi hal yang akan membuatku tak bisa jauh darimu. Menjadi gravitasi untukku berpijak dan menjadi udara untukku bernafas"
"Aku tidak mengerti maksudmu Kwon"
"Aku sudah mengatakan siapa aku bukan? Saat menyatakan perasaanku padamu aku mengatakan bahwa aku bukanlah manusia. Aku vampire dan untukku bisa hidup kau tahu bukan apa yang aku butuhkan? "
"Jadi maksudmu kau memanfaatkanku? Untuk menjadi makananmu?" raut wajah Jihoon berubah derastis. Tidak ada senyum yang ada hanya raut gelisah dan ketakutan.
"Bukan, bukan seperti itu. TakeHolder bukan makanan Ji, itu seperti penambat. Seperti pemegang kekuasaan atas diriku"
"Apa maksudmu?"
"Ritual. Akan ada ritual yang memberikamu kekuatan baru, setelah ritual itu kau akan menjadi sesuatu hal yang baru. Kau bisa merasakan sakit, kau bisa berdarah dan kau bisa terluka tapi kau bisa menyembuhkan dirimu sendiri. Kau tidak akan menjadi seperti kami atau kehabisan darah walau memberiku makan setiap saat. Kau akan menjadi sempurna."
"Aku? Seperti itu?"
Soonyoung mengangguk. Laki-laki itu melepaskan genggaman tangan Jihoon dan membawa tangannya menyentuh helaian rambut gadis itu. "Perlu aku jelaskan lebih lanjut?" Soonyoung melihat Jihoon mengangguk dan meneruskan ceritanya. "Dulu ribuan tahun yang lalu kami sangat menyusahkan manusia jadi penyihir manusia membuat perjanjian pada tetua kami untuk dapat hidup tetapi tidak akan membahayakan hidup manusia.
"kami hanya boleh meminum darah manusia yang menjadi Takeholder kami dan jika tidak kami harus meminum darah hewan. Dan untuk menjadi TakeHolder harus ada syarat yang dipenuhi yaitu cinta. TakeHolder harus mencintai Vampirenya atau racun dari kami akan membunuh TakeHolder kami sendiri. Jadi tidak boleh ada penghianatan"
"Apa jika aku menjadi TakeHoldermu aku dapat menjadi seperti Vampire?" Tanya Jihoon
"Hampir, seperti yang ku katakana kau dapat terluka tapi kau dapat menyembuhkan dirimu sendiri secepat kau mendapatkan luka itu"
"Apa yang terjadi jika Vampirenya yang selingkuh?"
"Tidak ada, tapi kami adalah makhluk setia jadi kau tenang saja"
"Bagaimana caranya?"
"Kau akan ku tandai, aku akan menggambarkan lambang keluargaku ditubuhmu. Jadi aku hanya dapat meminum darah dari tempat tanda itu. Jika aku menggigitmu ditempat lain racunku akan menyakitimu. Setidaknya kau akan demam selama beberapa hari"
"Jika aku jadi seperti itu bagaimana dengan teman-temanku? Apa mereka akan menjauhiku? Karena hanya kau dan mereka yang menganggapku didunia ini"
Soonyoung tersenyum dan mengecup ringan bibir Jihoon "Kau berbeda dan sama dalam waktu bersamaan Ji, kau berubah tapi tidak akan ada yang menyadari perubahanmu jika mereka tidak benar benar mengamatimu dan jika mereka tahu ada yang berubah kau pasti mudah mencari alasannya. Lagipula….Jika benar Mingyu juga melakukannya malam ini semua sahabatmu telah menjadi TakeHolder, kecuali Seungkwan tentunya."
"Semua? Wonwoo juga? Minghao? Jisoo eonni dan Junghan eonni?"
Soonyoung mengangguk "Wonwoo untuk Mingyu, Minghao untuk Jun, dan kau pasti tahu untuk siapa Jisoo Noona dan Junghan Noona"
"Seokmin dan Seungcheol oppa" Jihoon mengerjapkan matanya dan tersenyum. Gadis itu menangkupkan kedua pipi Soonyoung dan mengecup bibirnya singkat. "Aku mau. Aku akan mejadi TakeHoldermu" Lanjutnya.
Jihoon tahu ini keputusannya dan ia tahu semua keputusannya adalah keputusan terbaik bagi hidupnya. Awalnya ia takut, tapi jika semua sahabatnya pernah melawati itu kenapa tidak dengan dirinya? Jihoon melewati proses ritual itu dengan sangat diam. Ia hanya mengatupkan bibirnya saat pisau itu menggores kulitnya. Awalnya leher gadis itu terasa perih lalu perlahan memanas dan terasa sakit hingga ada hawa dingin yang menyapa kulitnya lalu semua rasa sakitnya pergi entah kemana.
"Kau telah melewatinya Jihoonie, sekarang aku milikmu selamanya" Soonyoung memeluk gadisnya dan membawanya dalam ciuman yang sangat panjang.
Awalnya kecupan ringan hingga keduanya sama-sama jatuh dalam pesona satu sama lain, kecupan itu menjadi ciuman lembut lalu perlahan menjadi lumatan-lumatan kasar setelah sekian menit Jihoon memukul dada Soonyoung untuk meminta udaranya. ia menghentikan Soonyoung sebelum lidah laki-laki itu ikut bermain dalam mulutnya.
"Soonyoung aku lelah. Bolehkah aku tidur?" Tanya Jihoon.
"Tentu Jihoonie" Soonyoung menggendong Jihoon dan membawa gadis itu ke kamar tamu yang berada disebelah kamarnya. "kau bisa tidur disini Jihoonie" Soonyoung membaringkan Jihoon di tempat tidur dan mencium keningnya.
"Kau juga tidur disini Soonyoungie. Aku sedang tidak ingin tidur sendiri" Jihoon menahan tangan Soonyoung sebelum pemuda itu beranjak dari sisinya.
"Jika begitu kenapa kita tidak tidur dikamarku saja" Tawa Soonyoung lepas dan kembali menggendong Jihoon menuju kamarnya.
"Apa aku tidak berat Soon? Dari tadi kau menggendongku. Padahal aku bisa jalan sendiri"
"Kau seringan bulu Ji" jawaban Soonyoung mau tak mau membuat Jihoon merona. Setelah kembali kekamar Soonyoung, keduanya berbaring. Pemuda itu membawa gadisnya dalam pelukan hangat.
"Selamat tidur Ji" itu ucapan termanis dan terindah yang didengar Jihoon selama empat tahun terakhir.
"Selamat tidur Soon, terimakasih karena telah membawa ucapan itu kedalam hidupku lagi" keduanya memejamkan maja dan tak peduli dengan rok dan celana seragam yang masih mereka gunakan.
In Another Place
Seorang gadis sedag duduk di pangkuan pemuda tampan dengan rambut kecoklatan. Tangan gadis itu berada didepan dadanya sambil mempoutkan bibirnya. "Gege, Minghao ingin Ice Cream sekarang" Ucap gadis itu.
"Haohao ini sudah malam tidak baik makan ice cream di malam hari kau tahu?" pemuda yang sebelumnya dipanggil 'Gege' itu mengeratkan pelukannya di pinggang gadis itu.
"Hao Cuma mau sedikit ge, lagipula hao kan TakeHolder jadi Hao tidak aja sakit gege" ucapan polos Minghao mau tak mau membuat Jun—pemuda dihadapannya— melepaskan tawanya.
"Aku tahu Hao, aku tahu. Tapi kau masih tetap bisa sakit dan kau tahu bukan kau masih demam karena kemarin" pipi putih Minghao seketika berubah semerah tomat dan menundukan wajahnya.
"Itu salah gege, siapa suruh gege menggigit Hao ditempat yang tidak seharusnya." Minghao terus memukul pelan dada Jun hingga membuat si pemilik dada meledakan tawanya.
"Tapi kau juga menikmatinya eoh? Seharusnya kau ingat bagaimana kau terus memangil dan mendesahkan namaku kemarin malam" ucapan Jun yang sedikit frontal mau tak mau membuat Minghao benar-benar seperti kepiting rebus.
"Gege hentikan" Minghao memeluk leher Jun dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pemuda itu. "Hao malu ge, hentikan atau Hao akan kembali keapartemen sekarang juga."
Ancaman Minghao membuat Jun berhenti tertawa dan mengerattkan pelukannya. Ia tahu gadisnya adalah orang yang nekat dan akan benar-benar menepati apa yang ia katakana. Memiliki kekasih dan TakeHolder tomboy memang sedikit menyusahkan tetapi merupakan tantangan tersendiri untuk Jun. ah, bertapa ia sangat mencintai Minghaonya.
"Ge bagaimana jika Wonwoo tahu kalian itu apa dan bagaimana jika Wonwoo tahu aku, Jisoo eonni dan Junghan eonni tidak sama lagi dengannya." Minghao mulai memberanikan diri mengangkat wajahnya dan tersenyum melihat senyuman kekasihnya.
"Tak masalah Hao, Mingyu pasti bisa mengatasinya. Kau tahu bukan Wonwoo jauh lebih pintar dari siapapun juga"
"Gege kenapa kau memuji gadis lain dihadapan kekasihmu sendiri ge, apa kau tak mencintaiku lagi eoh?"
Jun menikmatinya. Ia tahu Minghao sangat cemburuan tapi ia sangat menyukai sifat kekasihnya yang satu ini. Ia suka saat Minghaonya cemburu, manja dan ketakutan. Haah, membayangkannya saja sudah mampu membuat Jun tersenyum sendiri. "Hao dengar kau tidak perlu khawatir. Aku menyayangimu bahkan mencintaimu jauh daripada diriku sendiri. Ku kekasihku, TakeHolderku, jadi kau adalah hidupku. Arraseo?" ucap Jun yang dihadiahi anggukan dari Minghao.
"Baiklah ge" Minghao menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jun dan menghirup aromanya. Sesekali gadis itu mencium leher Jun dan mengusapkan wajahnya disana.
"Hao-er jangan sampai membuat little Jun terbangun eoh, ingat kau masih demam"
Fin
makasih untuk DevilPrince yang sudah menyadari kesahan aku hehe maklum lagi ngantuk jadi sampe salah post gitu
Maaf yang sedang penasaran dengan ceritanya Mingyu tapi malah aku kasih cerita ini hehe.
Karena mengganggu orang lagi sarapan itu gak baik makanya biarkan Mingyu sarapan dengan baik dulu ya haha
Dan karena ada yang pesen cerita Soonhoon jadi deh aku buatin ini dulu sama ceritanya Junhao.
Aku lelah berpikir karena semua teaser short movienya BTS bikin pusing jadi ada baiknya kita menyegarkan otak dengan fic ringan *plak digampar reader*
Besok aku post lanjutannya beneran deh anggep aja ini bonus chapter I dari aku siapa tahu besok besok aku kasih yang Seoksoo sama Seunghan haha
I hope you enjoy my fanfic ^^
Bagi yang punya kritik dan sarn sangat disarankan untuk disampaikan.
Terakhir review juseyooo ~~~
