Take Holder

Cast

Kim Mingyu x Jeon Wonwoo

Soonyoung x Jihoon

Seungcheol x Junghan

Minghao x Jun

Seokmin x Jisoo

Seungkwan x Vernon

Lee Chan

….

Warning ! GS for Uke, OOC, and Typo(s)

Little bit rate M/?

Cast milik keluarga masing-masing, Pledis, dan Carat

But story is mine

Disebuah ruangan yang cukup gelap lima pasang manusia, tunggu manusia? Ralat, lima vampire dan pasangannya sedang berdiri melingkar di tengah ruangan tersebut. Lima vampire itu mengenakan jubah berwarna hitam dengan tudung yang menutupi kepala mereka, sedangkan TakeHolder mereka mengenakan jubah yang sama tetapi berwarna putih dan sekarang berdiri didepan pasangannya dengan jarak sekitar dua meter. Dikaki para TakeHolder terdapat gambar pentagram yang digambar menggunakan kapur putih dengan lambang keluarga diatas pentagram tersebut.

Ruangan ini berlantaikan batu marmer hitam dengan dinding berwarna senada yang terletak diruang bawah tanah rumah keluarga Choi. Ruangan itu hanya di terangi puluhan lilin. Didalam ruangan itu kelima TakeHolder sedang menundukan kepala mereka menunggu apapun yang akan terjadi dengan mereka. Kelima vampire disana berlahan mendekati jarak dengan pasangannya lalu menyentuh dagu TakeHoldernya den mengangkat dagu itu untuk mempertemukan pandangan mereka. Gerakan itu tidak dilakukan secara benar-benar serentak tentu saja, namun tujuan mereka satu yaitu membuat pasangannya menatap balik kearah mereka.

Perlahan tangan sang vampire mengarah kebahu pasangannya dan menyuruh pasangannya untuk bersimpuh dengan menggunkan kedua lututnya. Setelah gadis-gadis itu bersimpuh pasangannya akan membuka tudung mereka dan mengelus rambut mereka dengan lebut.

Ritual bulan purnama adalah ritual yang dilakukan delapan tahun sekali untuk mengeratkan hubungan Vampire-Takeholder dibawah gerhana bulan. Pada gerhana tahun kedelapan mereka mengulangi ritual ini untuk membuat Takeholdernya semakin terikat dengan mereka. Dengan alasan baik tentu saja.

Perlahan para Takeholder itu menengadahkan kepalanya dan menatap pasangannya yang ada di atas mereka. Beberapa memancarkan kecemasan dan rasa kasih sayang dimatanya, sisanya memancarkan keyakinan dan rasa cinta. Para Vampire itu tersenyum dan memulai ritualnya.

Mingyu tersenyum melihat Wonwoonya yang manis sedang menatapnya dengan pandangan sayang dan cemas bersamaan. Tapi ia tahu bahwa Wonwoonya percaya padanya dan tidak ada sorot keraguan di hazel itu. Perlahan Mingyu menggigit pergelangan tangannya dan menghisap darahanya sendiri. Darah itu tidak ditelan olehnya melainkan di tahan dimulutnya untuk nantinya diberikan kepada Wonwoo. Setelah dirasa cukup minggu ikut bersimpuh didepan Wonwoo dan mencium bibirnya lembut, vampire itu menyalurkan darahnya disela-sela ciumannya dan semakin memperdalam ciuman itu. setelah darahnya habis diminum oleh Wonwoo—walau sebagian mengalir keluar dari bibir mereka— Mingyu melumat bibir Wonwoo lembut dan menyudahi ciumannya.

Hal yang sama dilakukan oleh semua pasangan yang ada disitu dan selain Wonwoo semuanya melenguh disela ciuman mereka. Semua sura itu membuat Wonwoo yang telah menyudahi ciumannya hanya dapat tertunduk malu dan berusaha tidak memperdulukan suara lainnya. Sebuah elusan disudur bibirnya yang diwarnai noda darah membuat Wonwoo menegakkan kepalanya dan balas tersenyum saat melihat Mingyunya. "Bagaimana rasanya hmm?" Tanya vampire itu.

Wonwoo tahu maksudnya dan dia tersipu mendengarnya. Saat tadi Mingyu mencium bibirnya hudungnya menangkap bau anyir dan besi berkarat disaat bersamaan, tapi bukannya jijik Wonwoo malah ikut memperdalam ciumannya dan menerima cairan itu dari bibir Mingyu. Rasa darah Mingyu anyir tentu saja tapi ada rasa manis dan sedikit rasa memabukan disana. Oh, apa Wonwoo boleh meminumnya lagi nanti?

Setelah meminum darah itu Wonwoo merasa tenggorokannya terbakar oleh rasa menagih yang tidak kunjung pergi. Wonwoo ingin merasakannya lagi dan lagi tapi ia malu mengakuinnya. Hey, disini bukan ia yang vampire tapi kenapa ia juga ingin meminum darah pasangannya saat ini. "Darahmu membuatku ingin terus merasakannya gyu" bisik Wonwoo.

"Tapi kita harus adil sayang" Mingyu memasang senyum miringnya dan mengeluarkan sebuah pisau lipat.

Wonwoo mengambil pisau itu dan mengedarkan pandangannya kesekeliling. Teman-temannya sudah menyelesaikan ciuman mereka dan bahkan Jeonghan sudah mulai mengoreskan pergelangan tangannya. Mereka Takeholder ingat? Mereka dapat menyembuhkan luka apapun denagan sendirinya—walau untuk beberapa luka parah mereka membutuhkan waktu lebih.

Wonwoo mengukuti apa yang Jeonghan lakukan. Gadis itu menggoreskan pisau pergelangan tangannya dan membiarkan darah menetes dari sana, tapi tidak seperti Jeonghan yang langsung memberkan tetesan darahnya ke vampirnya. Wonwoo memilih untuk memasukan darah itu kemulutnya dan mencium Mingyu seperti tadi vampire itu menciumnya. Mingyu menerima darah dari bibir Wonwoo degan senang hati bahkan ia menjilat sisa-sisa darah yang mengalir dari sudut bibir wonwoo dan pergelangan tangan Wonwoo saat mereka menyudahi ciuman itu.

Setelah kegatan 'bertukar darah' itu selesai mereka berdiri dan saling berpandangan. Oh apakah ini belum selesai pikir Wonwoo. Dan sepertinya memang semua ini belum selesai. Para vampire mendorong Takeholdernya keluar dari gambar pentagram itu dan menyuruh mereka untuk meneteskan darahnya kedalam pentagram yang diatasnya terdapat gambar lambah keluarga.

Wonwoo kembali menggoreskan pergelangan lengannya karena luka yang ia dapat sebelumnya sudah merapat dengan cepat, lalu meneteskan darahnya. Setelah semua takeholder melakukan itu Vampire mereka memeluk mereka dengan erat lalu membisikan bahwa ritual ini sudah selesai.

.

.

.

.

Soonhoon Side

.

Soonyoung membawa Jihoon dengan cara menggendong gadisnya kesalah satu kamar yang disiapkan oleh Seungcheol dirumahnya setelah mereka mengganti jubah mereka dengan baju yang mereka pakai sebelumnya. Awalnya Jihoon menolak tentu saja tapi Soonyoung memaksa dan membuat Jihoon mau tak mau melakukannya. Sesampainya dikamar Soonyoung mendudukan Jihoon dikasur lalu ikut duduk disebelahnya.

"Jihoonie?" panggil Soonyoung.

"Ne?" Jihoon meraskan Soonyoung menangkupkan kedua pipinya dan mengelusnya pelan.

"Bagaimana perasaanmu? Maaf karena membuatmu melukai pergelanganmu dan memaksamu meminum darahku" Soonyoung tahu ia salah karena tidak memberi tahu apa yang akan terjadi saat ritual kepada gadisnya.

"Kalau boleh jujur Soonyoung-ah aku sangat terkejut dan sedikit cemas tapi aku percaya padamu, lalu saat aku merasakan darahmu" Jihoon berhenti sejenak lalu menunduk malu karena semburat merah sudah pasti sedang menghiasi pipinya "aku sangat menyukainya, apa aku salah?"

Soonyoung tersenyum mendengar jawaban Jihoon, walau ia sedikit iri terhadap Mingyu karena Wonwoo memberinya darah dengan cara yang tidak biasa tapi tidak bisa dipungkiri sensasi menggigit ditempat yang tidak ada lambangnya sangat berbeda dari biasanya. Jika Takeholder lain menerima pisau yang diberikan vampirenya berbeda dengan Jihoon yang menolak dan memberikan pergelangan tangannya untuk langsung digigit oleh Soonyoung padahal Jihoon tahu pergelangan tangannya tidak memiliki lambang dan akan membuatnya demam beberapa hari.

"Itu wajar Jihoonie, aku rasa Minghao, Jeonghan, Jisoo bahkan Wonwoo akan sangat menyukai darah pasangannya. Tapi maaf kau hanya dapat merasakan darahku saat ritual saja, padahal aku ingin memberikannya setiap saat jika kau menginginkannya jadi setidaknya rasa bersalahku berkurang karena selalu melukaimu"

Jihoon memperhatikan Soonyoung dan memeluknya hangat. "Kau tidak melukaiku Soon, kau mencintaiku benar? Dan aku selalu menganggap saat kau menggigitku adalah caramu menunjukan betapa kau sangat mencintaiku. Itulah kenapa tadi aku menolak pisaumu dan memperbolehkanmu mengigitku"

"Ji maaf mungkin setelah ini kau akan demam untuk beberapa hari"

"Soon, apa jika kau menggigitku banyak tempat yang bukan seharusnya apakah demamku akan diakumulasi, ah maksudku jika aku menerima satu gigitan aku akan sakit seminggu apa jika aku menerima empat gigitan aku akan sakit sebulan?" Soonyoung mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Jihoon lalu menggeleng perlahan.

"Kurasa tidak, ayah pernah bercerita kalau ibuku sakit karena ia tidak sengaja mengigitnya di tempat yang tidak seharusnya beberapa kali dan ibu hanya sakit selama tiga hari."

"Kalau begitu gigit aku dimanapun kau mau malam ini Soon, entah mengapa aku ingin memberimu hadiah karena membiarkanku mencicipi darahmu" Jihoon menundukm gadis itu tidak berani menatap Soonyoung yang kini tengah memperlihatkan senyum miringnya.

"Baiklah Ji, jika itu maumu"

Soonyoung beranjak dari duduknya dan berdiri tepat didepan Jihoon, laki-laki itu perlahan membuat gadis manis didepannya terbaring dikasur itu dan mencium bibirnya, ciuman itu perlahan berubah menjadi lumatan dan Soonyoung melumat bibir Jihoon dengan kasar yang dihadiahi Jihoon dengan lenguhan dari bibir itu disela ciumannya.

Tangan Soonyoung tidak tinggal diam, perlahan tangannya meraba seluruh tubuh Jihoon yang dapat dijangkaunya lalu bertahan cukup lama di satu objek yang dia tahu merupakan kelemahan Jihoon. Soonyoung melepas ciumannya dari bibir Jihoon dan memberikan ciuman ringan disepanjang rahang dan leher Jihoon.

Saat sampai di tempat lambang keluarganya di leher Jihoon, Soonyoung menjilatnya dan menciumnya cukup lama disana, ditambah dengan elusan dan remasan ringan didada Jihoon membuat gadis itu mendesah cukup keras dan mau tak mau meremas rambur Soonyoung untuk menyalurkan segala rasa nikmat yang ia terima.

"Kau siap Ji?" Tanya Soonyoung. Yang ditanya hanya memberi anggukan kecil lalu memejamkan matanya saat Soonyoung mulai memainkan jarinya di pusat tubuhnya.

.

.

.

.

Seoksoo Side

.

Jisoo melihat tangannya yang sedang digenggam erat oleh kekasihya. Jisoo merasakan tangannya digenggam dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Ia tahu kekasihnya mungkin tidak seromantis Jun atau tidak selembut Soonyoung tapi kekasihnya bahkan lebih baik dari mereka bagi Jisoo. Sekarang mereka telah menggunakan pakaian yang sebelum ritual mereka pakai

"Apa kau baik baik saja noona?"

"Ya! Berhenti memanggilku Noona. Jika diluar sekolah kau lebih tua dari aku. Bahkan jauh lebih tua" ucap Jisoo menekankan kata Jauh dan lebih tua di kalimatnya.

Seokmin tertawa dan mengacak rambut kekasihnya dengan lembut "iya aku tahu Soo, jadi bisakah kau memanggilku oppa?" Tanya Seokmin penuh harap.

"Dalam mimpimu Seok" Jisoo melepaskan genggamannya dan berjalan cepat menuju kamarnya. Sebenarnya Jisoo ingin memanggil Seokmin dengan sebutan oppa tapi entah pride nya yang terlalu tinggi atau rasa malunya yang diatas rata-rata membuatnya mengurungkan kemuannya.

Seokmin mengejar gadisnya dan mengendong kekasihnya itu seperti membawa sekarung beras dibahunya. "Hmm, baiklah aku akan menculikmu kalau kau tak ingin memanggilku oppa" Seokmin menyunggingkan senyum miringnya dan membawa Jisoo kekamar yang memang disediakan Seungcheol untuk kekasihnya.

"Lee Seokmin turunkan aku" Jisoo memukul punggung Seokmin yang hanya dibalas oleh vampire itu dengan kekehan ringan.

Setelah sampai dikamar Seokmin langsung menurunkan gadisnya dikasur dan membaringkannya disana. "Langsung tidur Jisoo-ah, kau pasti sangat lelah karena ini adalah ritual pertamamu."

Sebelum sempat Seokmin berdiri dari duduknya sebuah tangan menahan lengannya agar tidak beranjak dari sana. "tidak bisakah kau menemaniku disini? Aku sedang tidak ingin sendiri disini" Jisoo memainkan selimutnya dan menundukan wajahnya yang sudah dihiasi semburat merah sekarang.

Entah apa lagi yang dapat diucapkan Seokmin selain kata iya dan anggukan semangat jika menyangkut kekasihnya yang satu ini. Wajah malaikan Jisoo mau tak mau membut Seokmin merasa bahwa apapun yang dikatakan Jisoo adalah kebenaran dan perintah mutlak.

Jisoo melepas genggamannya dilengan Seokmin dan menatap mata kekasihnya, tangannya perlahan menaikan selimut hingga sebatas hidung memperlihatkan puppy eyesnya kepada sang kekasih. Ah jika saja saat ini tidak sedang dirumah Seungcheol pasti Seokmin sudah menjadikan Jisoo 'makan malam' nya.

"Jisoo, bagaimana rasa darahku? Apa kau menyukainya?" Seokmin mengelus rambut panjang Jisoo dengan lembut.

"Aku kira rasanya akan sama seperti darah yang biasa aku minum tapi ternyata milikmu yang terbaik Seokmin-ah"

"Maaf karena telah melukaimu malam ini" Seokmin mendekatkan wajahnya ke wajah Jisoo dan mencium keningnya lama "Kau mau aku tidur disini atau kau ingin tidur sendiri?" lanjutnya.

"Aku ingin kau tidur disini, tapi tidak ingin kita langsung tidur" Jisoo merasa wajahnya mungkin sudah semerah tomat sekarang.

"Maksudmu?" Jisoo yang mendengar pertanyaan itu merasa jengah, langsung penarik wajah Seokmin lalu mendaratkan ciumannya di bibir kekasihnya. Gadis itu melumat pelan bibir Seokmin dan mengalungkan tangannya di leher vampirenya.

Seokmin yang awalnya kaget kini mulai membalas lumatan-lumatan kekasihnya. Perlahan posisinya berubah dan sekarang ia sedang berada diatas Jisoo dengan tangan yang menahan tubuhnya agar tidak sepenuhnya menimpa malaikatnya itu.

Lenguhan kecil Jisoo terdengar saat Seokmin mulai memaikan lidahnya di sela ciuman mereka. Perlahan Seokmin membuka kancing baju Jisoo satu persatu dengan gerakan lambat. Tangan satunya sudah sibuk menggerayangi tubuh kekasihnya tanpa melewatkan seincipun.

Lenguhan Jisoo berubah menjadi desahan kecil saat tiba-tiba Seokmin menggesekan milik mereka yang masih tertutup rapat itu.

"Apa kau sudah siap Jisoo?" pertanyaan itu hanya dijawab Jisoo dengan anggukan kecil.

.

.

.

Seunghan Side

.

"Yoon Jeonghan, will you marry me?" Jeonghan menatap tanpa berkedip kekasihnya yang sedang berlutut dengan kotak beludru merah ditangannya. Di dalam kotak itu ia melihat sebuah cicin berwarna silver polos dengan ukiran kecil lambang keluarga Seungcheol. Perlahan senyum Jeonghan mengembang dan mengangguk.

Jeonghan mengambur kedalam pelukan kekasihnya yang telah berdiri dan merentangkan tangannya. Kekasih yang telah ia pacari selama lima belas tahun ini akhirnya melamarnya juga. Lima belas? Ya, Jeonghan tela menjadi TakeHolder Seungcheol selama lima belas tahun. Dan karena mereka memang sangat menyukai suasana sekolah menengah atas jadilah mereka mengulang masa itu saat ini setelah beberapa tahun menetap di jepang dan memutuskan kembali kerumah besar keluarga Choi, yang tentu saja ditanggapi dengan senang hati oleh nyonya Choi yang memang sangat menyayangi Jeonghan seperti anaknya sendiri.

Kedua orang tua Jeonghan yang sudah pergi sepuluh tahun membuatnya semakin menganggap keluarga Choi adalah keluarganya juga. Jadi saat lamaran ini benar-benar dilakukan oleh Seungcheol mau tak mau membuat air matanya mengalir.

"Jangan menangis sayang. Sebahagia itukah dilamar olehku eoh?" canda Seungcheol yag dihadiahi pukulan ringan kasihnya.

"Ya, sangat bahagia. Apa kau sungguh sungguh melamarku?"

"Mana mungkin aku bercanda sayang. Kau tahu kan bahwa saat kami berusia 115 tahun kami boleh menikahi Takeholder kami dan aku rasa kau tahu bahwa sesaat setelah aku menginjak usia itu aku akan langsung melamarmu. Benarkan?"

Jeonghan mengangguk dan melepas pelukan itu. matanya menatap tepat kearah iris mata Seungcheol dan mulai mencium bibir itu dengan lembut. Seungcheol menahan tengkuk Jeonghan dan memperdalam ciumannya. Oh apa mereka lupa bahwa bahkan mereka belum memasuki kamar Seungcheol dan sekarang mereka masih berada di koridor lantai dua rumah itu. ah bahkan mereka tidak akan peduli mereka sekarang berada dimana.

"Jeonghan eonni? Hmm maaf aku ingin lewat. Bisakah aku lewat sebentar?" Tanya Wonwoo yang sedang menatap mereka dengan tatapan meminta maaf karena menganggu momen itu.

Jeonghan melepas ciumannya dan mendorong Seungcheol hingg mendapat protesan dari kekasihnya. Awalnya Seungcheol ingin memarahi Wonwoo yang mengganggu momen itu tapi setelah melihat wajah polos anak itu dan tatapan tajam Mingyu Seungcheol tidak berani memarahi gadis itu. ia tidak ingin berakhir menyedihkan dengan ilusi kabur Mingyu selama seminggu penuh.

"Te…tentu sana Wonie. Maaf mengganggu jalanmu" Jeonghan sedikit mendekatkan tubuhnya ke diding membalas senyum Wonwoo. Membiarkan gadis itu lewat dengan kekasihnya.

"Ayo kita lanjutkan didalam sayang sepertinya aku sudah mulai panas" bisik Seungcheol setelah Wonwoo dan Mingyu masuk kekamar tidak jauh dari tempat itu.

.

.

.

Junhao side

.

"Gege, bisa tidak geseran sedikit? Hao kesempitan ge" Minhao mempoutkan bibirnya dan berusaha menggeser Jun yang sedang memelukanya diengan sangat erat. Matanya terpejam dan berpura-pura tertidur agar gadirnya dpat berhenti mengoceh dan ikut tertidur juga bersama dengannya.

"Xu Minghao!" Bentak Jun. "Hao-ah apa kau tidak lelah hah?" Juh yang cukup jengah dengan rengekan Minghao membuka matanya dan menatap mata itu tajam.

Minghao mengangguk dan seketika raut wajahnya berubah, yang tadinya memasang wajah merajuk kini gadis itu memasang wajah sedih. Bagaimana bisa kekasihnya menatap Minghao dengan tatapan seperti itu.

"Gege tidak suka tidur dengan Hao malam ini ya? Hao hanya ingin gege menggeser sedikit karena jika Hao bergser sedikit saja Hao akan jatuh. Kenapa gege marah? Maafkan Hao ge jika gege terganggu" gadis itu memejamkan matanya dan mulai merubah posisinya hingga membelakangi Jun yang sekarang menatapnya kaget. Oh, apakah tatapannya memang semarah itu.

"Hao-ah tidak seperti itu sayang, gege tidak marah padamu. Sungguh. Maafkan gege ya? Mungkin karena aku sangan lelah jadi bisa membentakmu seperti itu."

Diam, itu yang Jun dapat. Minghao tidak membalas kata-kata itu satu patahpun dan itu membuat Jun sedikit cemas. Jun tau Minghao adalah gadis tomboy yang jarah marah atau merajuk padanya. Tapi Minghao tidak suka bentakan ataupun tatapan sinis dari orang lain terutama dirinya. Jika Minghao mendapatkan itu dari orang lain Mungkin ia akan membalasnya atau mengabaikannya tapi tidak jika ia mendapatkannya dari Jun.

"Hao-ah maafkan gege ya? Kau tau kan gege tidak bisa Jika kau marah pada Gege?" Jun memeluk pinggang Minghao dan mencoba membujuk kekasihnya lagi.

Tanpa diduga Minghao melepaskan pelukan Jun dan bangun dari kasur mereka. Tanpa sepatah katapun Minghao bejalan mendekati pintu, saat Minghao sudah memegang kenop pintu sebuah tangan menahan lengannya.

"Minghao kau mau kemana?" ucap Jun frustasi, oh ayolah ia tidak bisa jika Haohaonya mendiamkan dia seperti itu.

"aku mau ke dapur ge, sepertinya aku haus" ucap Mingaho ketus.

"Mau gege antar hao?"

"Tidak perlu ge, kau bilang kau lelah jadi sebaiknya kau tidur sekarang"

Jun memutar tubuh Minghao hingga menatapnya lalu medorong pelan tubuh itu hingga punggungnya menempel pada pintu yang ada dibelakangnya. Jun memposisikan kedua tangannya disebelah kepala Minghao agas gadis itu tidak bisa pergi kemanapun.

"Hao-ah jelaskan kepadaku kenapa kau marah padaku? Apa hanya karena aku membentakmu? Atau karena ada yang lain?"

Minghao menunduk malu dan menyembunyikan semburat merah yang ada di wajahnya "Sebenarnya aku ingin melakukan sesuatu denganmu, tapi saat kau membentakku seakan kau benar-benar menolakku padahal aku merengek agar kauterbangun dan mengalihkan perhatianmu padaku, tapi ternyata yang aku dapat adalah bentakan darimu ge" Minghao mengintip dari sela bulumatanya untuk melihat apa reaksi Jun setelah ia berkata seperti itu.

"Maafkan Gege ya?" yang hanya dibalas anggukan oleh Minghao. "jadi apa yang sebenarnya ingin kau lakukan bersamaku Hao-ah" sebuah senyum miring Jun berhasil mengambil atensi dari Minghao.

"Seperti ini ge" Minghao menangkupkan kedua tangannya diwajah Jun lalu mengecupnya singkat. "tapi sebenarnya aku ingin lebih" setelah Minghao mengucapkan itu Jun mendaratkan sebuah ciuman panas kebibir Minghao. Vampire itu memberikan lumatan kecil yang dapat membuat otak Minghao mendadak kosong dan membuat gadis itu memejamkan matanya.

"Kau siap Hao?" Jun bebisik ditelinga gadisnya dan dijawab dengan anggukan serta senyuman penuh arti dari Minghao.

.

.

.

.

.

"Wonwoo, apa kau sudah tidur?" Tanya Mingyu yang sedang berbaring disebelah Wonwoo. Tangannya melingkar manis di pinggang gadis itu. Mingyu tidak menyadari bahwa setelah mereka sampai dikamar seselesainya ritual itu Mingyu berbaring dan tertidur disebelah Wonwoo hingga ia merasagerakan kecil disebelahnya dan akhirnya terjaga dari tidurnya.

"Aku tidak bisa tidur Gyu" Jawab Wonwoo. Gadis itu berbalik menghadap Mingyu dan tersenyum manis kearah kekasihnya. "kenapa kau terbangun hmm?"

"Aku? Entahlah mungkin karena aku merindukanmu" Mingyu mengecup bibir Wonwoo singkat dan mengeratkan pelukannya di pinggang gadis itu. "Maaf karena telah membuatmu meminum darahku, tapi memang begitu ritualnya"

"Tidak masalah Gyu, bahkan aku menyukainya" Wonwoo menenggelapkan wajahnya di seruk leher Mingyu karena malu dengan kata-katanya.

Mingyu terkekeh kecil dan mengcup puncak kepala Wonwoo lembut. Perlahan Wonwoo meneganggakan kepalanya dan menatap Mingyu tepat di manik onixnya. "Mingyu-ah aku ingin melakukan sesuatu denganmu. Apa kau mau melakukannya"

Setelah Wonwoo mengucapkan itu Mingyu memasang senyum miringnya dan mengangguk mengerti dengan kata-kata Wonwoo. "Kau yang memintanya Wonwoo-ah, ku harap kau tidak akan menyesalinya. Ah iya aku rasa ini akan menjadi malam yang sangat panjang"

"Tidak akan Gyu, aku rasa aku tidak akan pernah menyesal. Ah satu lagi, aku tidak keberatan jika harus demam tiga atau empat hari gyu jadi kau bebas melakukan apapun malam ini"

Entah Mingyu yang kelewat peka atau munkin memang Wonwoo yang terlalu jelas memberikan kode untuknya, sehingga Mingyu mengerti dengan jelas maksud Wonwoo. Mingyu mencium bibir Wonwoo dengan cukup kasar yang dibalas dengan lumata-lumatan kecil oleh Wonwoo. Sementara itu tangan Mingyu mengerilia tubung Wonwoo tanpa membiarkan ada yang luput seincipun.

Lenguhan menjadi desahan dan perlahan desahan Wonwoo bertambah kerasa saat dirasakannya Mingyu mulai membuka celananya dan bermain dipusat tubuhnya.

"Kau siap Wonwoo?" pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan lemah Wonwoo.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Haloooooo, Akhirnya Ririn bisa update ff ini juga /nangis pelangi/

Disini udah diwakilin semua couple ya jadi jgn ada iri diantara kita/? Haha

Makasih banyak buat yang udah ngereview /bow/

Masukan kalian sebisa mungkin aku masukin di chapter selanjutnya ^^ jadi dimohon kritik dan sarannya ya.

Ooiya aku benerkan pas bilang di chapter ini rada gerah/? Haha tapi belum berani naikin kelevel rate m dulu

Thanks for read my fanfic ^^

I hope you enjoy it

The last….. Review juseyooooooo ~~~