Take Holder
Cast
Kim Mingyu x Jeon Wonwoo
Soonyoung x Jihoon
Seungcheol x Junghan
Minghao x Jun
Seokmin x Jisoo
Seungkwan x Vernon
Lee Chan
….
Warning ! GS for Uke, OOC, and Typo(s)
Cast milik keluarga masing-masing, Pledis, dan Carat
But story is mine
Lagu indah mengalun lembut didalam ruangan bernuansa putih yang dipenuhi oleh bunga. Suasana hikmat, bahagia serta haru menyelimuti semua yang berada didalam sana. Tepukan tangan terdengar setelah kedua mempelai selesai mengucapkan janji suci dan sedang berciuman di altar pernikahan mereka. beberapa tamu undangan yang hadir bahkan meneteskan air mata haru karena bersatuanya kedua insan tersebut.
"Apa sekarang mereka terikat Gyu?" ucap gadis cantik bersurai keabuan kepada seseorang disebelahnya sambil berbisik.
"Ya, sekarang mereka telah terikat dengan sempurna" Mingyu merangkul pinggang kekasihnya dan mencium puncak kepala gadis itu. "Maaf kita harus menunggu agar bisa seperti mereka"
Gadis disebelah Mingyu hanya mengangguk, ia mengerti itu lagi pula ia belum siap jika harus menikah sekarang. Umurnya baru 17 kalau kalian lupa. "Tentu Gyu, knapa kita harus terburu-buru saat kita bahkan memiliki waktu selamanya"
"Kau yang terbaik Jeon Wonwoo" Mingyu mengecup pipi Wonwoo lalu melihat kedua mempelai yang kini sedang berjalan menjauhi altar untuk keluar dari ruangan. resepsi mereka akan dilakukan siangnya dengan pesta kebun di halaman keluarga Choi. Sesaat Mingyu melihat wajah bahagia Seungcheol dan ia iri kepada hyungnya itu.
Tidak pernah sedetikpun Mingyu berfikir untuk meninggalkan Wonwoo apapun yang terjadi, namun baginya keselamatan dan kebahagiaan Wonwoo yang utama baginya. Ia tak ingin menjadi egois hanya untuk tetap bersama dengan gadis itu jika memang keselamatan Wonwoolah taruhannya.
Namun bagi gadis bersurai kelabu itu, bahkan jika harus mati karena bersama dengan kekasihnya ia akan rela, sekeras apapun Mingyu membujuknya ego Wonwoo jauh lebih keras ketimbang semua kata-kata Mingyu.
Hari ini, satu hari sebelum mereka pergi untuk menyelesaikan masalah dengan werewolf dipilih Seungcheol sebagai hari pernikahannya bukan tanpa alasan, awalnya ia dan clannya yang lain akan melepas takeholder mereka untuk keselamatan gadis-gadis itu namun kekeras kepalaan Junghan melebihi apa yang dibayangkan Seungcheol dan pernikahan adalah salah satu cara untuk ikatan yang lebih kuat.
Saat seorang vampire menikahi takeholdernya, ikatan mereka akan menjadi sempurna dan dapat menguatkan satu sama lain. Tapi selain itu mereka memiliki kelemahan baru yaitu pasangannya. Seungcheol tau ini sangat beresiko terutama untuk Junghan tapi ia bisa apa jika junghan sudah berkata tidak akan pernah melepasnya.
"Hyung, kau curang. Bisakah…..bisakah aku juga melakukannya?" Ucap Sooyoung ketika bertemu dengan Seungcheol di halaman saat resepsi pernikahan berlangsung.
Pukulan ringan di layangkan Seungcheol kearah Soonyoung dan pria itu terkekeh ringan "Kau bisa melakukannya saat usiamu cukup Soon. Mungkin kau dapat menikah disaat yang bersamaan dengam Mingyu atau Seokmin"
"Hyung, kau kira aku akan menikah masal dengan mereka" ucapan Soonyoung memecahkan keheningan dengan tawa dari teman-temannya.
"Soonyoung hyung kau tidak ingin menikah bersamaku?" ucap Seokmin ambigu. Yang dihadiahi pukulan ringan ditangan oleh takeholdernya. Seokmin yang akhirnya menyadari kata-katanya yang janggal langsung terkekeh "Maksudku melangsungkan pernikahan bersamaku, eh maksudku…ah sudahlah hyung lupakan"
Hampir semua yang berada dilingkaran ini menikmati suasana yang tercipta dengan hangat. Ya, hampir. Tapi seorang gadis hanya diam melihat semua orang didalam lingkaran itu tertawa. Mungkin karena hanya dia yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mungkin karena ia merasa asing diantara temannya sendiri.
"Kau membutuhkan sesuatu Boo?" ucapan Hansol membuyarkan lamunan gadis berpipi gembul itu.
"Tidak aku hanya….hmmm merasa kurang mengerti dengan obrolan mereka?" ucap Seungkwan tak yakin.
"Kau tau Boo, ucapan orang tua memang sukar untuk dimengerti" bisik Hansol di telinga Seungkwan dibalas tawa ringan dari gadis itu.
"Hansol-ah kau bilang ada yang ingin kau tanyakan padaku sore itu. boleh aku mengetahuinya sekarang?"
Hansol bingung apa yang harus ia katakana. Ia harus berangkat besok dengan hyungnya tapi ia harus menjelaskan semuanya kepada gadis itu telebih dahulu. Tapi jika Seungkwan menjadi takeholdernya sekarang itu akan membuat gadis itu tidak aman. Hansol mengeleng dan menyunggingkan senyum ringan. "Nanti saja Boo saat aku kembali. Okay?"
.
.
.
Hidup ini bagaikan sebuah cerita yang sulit untuk dijabarkan dengan kata. Malam sebelum Mingyu berangkat menyelesaikan urusannya ia putuskan untuk mengajak Wonwoo menginap dirumahnya. Ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan gadisnya hingga ia berangkat besok.
"Apa kau akan berlari hingga Rumania gyu?" ucap Wonwoo. Gadis itu sedang duduk bersandar di sofa kamar Mingyu dengan kepala Mingyu dipahanya. Menjadikan paha Wonwoo sebagai bantalannya.
Mingyu tetawa dan mengelus pipi gadisnya lembut "Jeon Wonwoo, kau kira ini jaman apa hmm? Kau tahu sekarang sudah ada pesawat bukan? Kenapa kami harus berlari?"
Wonwoo memasang cengiran khasnya hingga pangkal hidungnya berkerut lucu yang membuat Mingyu gemas setengah mati dengan kekasihnya "kau tahu gyu, difilm yang pernah kutonton dan buku yang pernah ku baca vampire melakukan itu"
Rasa gemas Mingyu memuncak dan akhirnya pria itu mengangkat kepalanya dan menghadiahi kekasihnya sebuah kecupan manis dibibirnya. "Kau terlalu imajinatif sayang"
"Mingyu~"
"hmm?"
"Apa aku benar-benar tidak boleh ikut?" rajuk Wonwoo.
"Sayang, bahkan Junghan nuna yang sudah menikah dengan Seungcheol hyung saja tidak boleh ikut" ucap Mingyu final.
"Tapi bagaimana kalau—" ucapan Wonwoo terputus saat bibir Mingyu kembali mengecup bibirnya.
"Aku akan baik baik saja. Agar kau juga baik baik saja"
"Berjanjilah satu hal padaku gyu. Kembali dengan cepat ya?"
"Akan aku usahakan"
.
.
Wonwoo sedang terduduk dikasurnya dengan selimut yang menutupi kakinya, tangannya menggenggam secangkir coklat hangat dan pandangannya tertuju lurus tepat kearah jendela kamarnya. Sudah lebih dari seminggu ia tidak mendengar kabar dari kekasihnya dan temankekasihnya. Sebenarnya bukan hanya gadis bersurai abu-abu itu yang khawatir teman-temannnya yang memiliki nasib sama sepertinya juga khawatir. Bahkan keadaan Junghan yang terbaring dirumah sakit semenjak dua hari yanglalu menambah rasa khawatir Wonwoo.
Pandangannya menerawang kelangit kelabu diluar jendela. Mingyu bilang jika vampire sudah menikahi takeholdernya maka mereka dapat membagi rasa sakit yang sama jadi apa Junghan sakit karena sesuatu terjadi kepada Seungcheol? Dan apa Mingyu baik-baik saja. Ia tahu Mingyu masih hidup, karena toh nyatanya ia juga masih hidup tapi ia tetap menghawatirkan vampire kesayangannya itu.
Perlahan Wonwoo beranjak dari duduknya dan menaruh gelas yang ia genggam di meja belajarnya. Takeholder Mingyu itu melangkahkan kakinya dan memutuskan untuk keluar dari rumahnya. Berjalan-jalan sebentar tak ada salahnya bukan? Toh akan sama saja rasanya jika menunggu di kamar atau diluar rumah. Sama-sama menyakitkan.
Sesuatu di kantun celana denimnya bordering dan membuat keninnya berkerut samar. Siapa yang menghubunginya? Apa terjadi sesuatu dengan Junghan? Pikir Wonwoo. Gadis itu mengangkat telpon yang bordering itu dan kerutan di keningnya semakin dalam. Ibu Mingyu yang sedang menghubunginya sekarang.
"Wonwoo-ah" panggi wanita paruh baya itu saat Wonwoo mengangkat telponnya.
"Iya eomma? Ada apa?" seru Wonwoo panic. Pasalnya ibu Mingyu mengucapkan namanya dengan nada yang membuat Wonwoo khawatir.
"Mingyu…Kim Mingyu" ucap wanita itu diseberang sana. jantung Wonwoo berdegup kencang. Ada apa dengan Mingyunya.
"Ada aoa eomma? Mingyu kenapa?" pandangan Wonwoo mulai kabur karena terhalang oleh airmata yang akan segera tumpah.
"Dia sudah kembali"
"Aku akan segera kesana eomma" dan seketika dunia kembali terasa lebih baik untuk Wonwoo.
.
.
.
Seungkwan melangkahkan kakinya menelusuri jalan setapak menuju mini market yang tak jauh dari rumahnya. Saat ia sedang menedang batu kerikil yang tak jauh dari kakinya tiba-tiba saja batu itu mengenai seseorang yang sedang berjongkok untuk mengikat tali sepatunya. Laki-laki itu mengaduh dan menengadahkan kepalanya tepat kearah Seungkwan.
"Maaf, aku tidak sengaja. Sungguh" ucap Seungkwan sambil berjongkok didepan laki-laki itu.
"Ah tidak masalah aku hanya terkejut karena sesuatu mengenai keningku" laki-laki itu menyunggingkan senyum manisnya dan menatap langsung kemata Seungkwan. Selama beberapa detik gadis berbibi gembil itu sempat terpesona dengan laki-laki dihadapannya tetapi entah kenapa bayangan Hansol telintas dibenaknya.
"Sekali lagi maaf" Seungkwan mengerjap beberapa kali saat laki-laki itu kembali tersenyum manis kepadanya. Pandangannya jatuh kekening laki-laki itu yang tergores karena batu yang ia tending cukup besar. "ah, keningmu terluka" Seungkwan mengeluarkan plester yang ada di dompetnya lalu memberikannya kepada laki-laki itu. ya, seungkwan membawa plester kemanapun karena dirinya cukup ceroboh.
"Tidak masalah. Ah, namaku Lee Chan kau bisa memanggilku Chan. Dan kau?"
"Boo Seungkwan" ucap seungkwan.
"Baiklah Boo, sampai bertemu lagi. Dan terimakasih atas plesternya" Lee Chan berdiri lalu menggusak rambut seungkwan ringan sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi.
.
.
.
Ririn kembali~ akhirnyaaaaaaaa T-T
Maaf karena membuat kalian terlalu lama menunggu dan PHP ya. padahal liburan kemarin janji mau rajin update. Maapin ya maapin. Ini udah di update kok udah. Mian Cuma sedikit. Tapi janji besok atau lusa bakal ngepos lagi kok hehe entah itu special story atau chapter selanjutnya.
Terimakasih karena kalian telah sabar menunggu. Ririn terharu masih ada yg review padahal di postnya udah lama.
Kalo ada kritik dan saran ririn tunggu ya~
Terimakasih untuk kalian semua :* :* :*
Terakhir… review juseyooooo
