Chapter 0

Prologue


Taihou berjalan sembari bersiul di pagi yang indah di Kure. Sudah beberapa hari ini suasana hati dari Taihou sangat baik dikarenakan ia tidak mendapat cukup pekerjaan. Dan saat ia sedang berjalan, ia bertemu dengan Aoba yang sedang mencari bahan cerita. Taihou langsung menyapa Aoba,

"Selamat pagi, Aoba."

"Ah... Selamat pagi, Taihou."

"Fufufufufu... Kau semangat sekali pagi ini."

"Tentu saja. Aku harus selalu mencari berita untuk disebarkan di markas ini dengan cepat."

"Sepertinya kau memiliki masalah, ya."

"Ummm... Dapat dikatakan demikian."

Taihou melihat ke arah Aoba yang terlihat cukup gelisah. Taihou langsung tersenyum dan berkata,

"Ada apa ?"

"Itu... Itu karena... Ummm..."

"Apakah ada hubungannya dengan Viltus ?"

"Tidak."

"Jangan-jangan... Shiro..."

"Iya..."

"Apalagi yang kau perbuat kali ini sehingga dirinya marah ?"

"Aku hanya... Ummm... Menulis ini..."

Aoba langsung memberikan koran kemarin. Taihou membaca koran tersebut dikarenakan kemarin ia sama sekali tidak sempat membaca satu pun koran. Setelah membaca koran tersebut, Taihou melihat ke arah Aoba dan berkata,

"Tentu saja dia akan marah."

"Ahahahahaha."

"Tapi, dilihat dari dirimu yang tenang-tenang saja... sepertinya kau sangat yakin tidak akan bertemu dengan Shiro atau Viltus dalam waktu dekat."

"Ahahahahaha... Tentu saja. Karena Shiro sedang pergi keluar, sementara Viltus masih terpendam di dalam pekerjaannya."

"Eh ?"

"Aku sempat bertemu dengan dirinya kemarin malam... Dan..."

"Dia masih bekerja ?"

"Eh... Iya..."

"Viltus..."

"Jangan bilang dia..."

"..."

"Taihou... Suruh dia istirahat sebelum ia kembali pingsan seperti dulu lagi."

"Itu yang ingin kulakukan sekarang."

"Ahahahaha... Semoga berhasil."

"Ya. Sampai jumpa, Aoba."

"Sampai jumpa juga, Taihou. Kalau berhasil kau akan kutraktir makan nanti malam."

"Ahahahahaha... Aku yakin kau akan kehilangan uangmu."

Aoba langsung berlari meninggalkan Taihou. Sementara Taihou hanya menghela nafas saja. Ia langsung berkata,

"Empat hari tanpa tidur mengerjakan dokumennya lagi..."

Taihou menarik nafas panjang dan kemudian mulai berjalan ke arah ruang kerja Viltus.


Taihou telah tiba di depan ruang dengan tanda pengenal [Viltus Amarov]. Ia menarik nafas panjang dan membuka pintunya. Pada saat ia masuk, ia melihat seorang pria dengan rambut hitam dan sedikit memiliki rambut putih dan mengenakan kacamata sedang membaca dokumennya. Pria itu adalah Viltus Amarov, salah satu Laksamana yang bekerja di markas angkatan laut Kure.

Taihou langsung berjalan ke depan Viltus, dan menopangkan dagunya di meja tempat Viltus bekerja. Pada saat Viltus melihat Taihou, ia langsung sangat terkejut. Dalam sekejap perhatiannya buyar. Ia langsung panik dan kemudian berkata,

"Ah... Ini... Ummm... Aku..."

"Viltus..."

"Ahahahahaha..."

Taihou langsung menghela nafasnya kembali. Viltus langsung berkata,

"Jangan menghela nafas terus, apalagi di pagi yang indah seperti ini."

"Bagaimana aku tidak menghela nafas ? Suamiku selalu mengerjakan semua dokumen tanpa memperhatikan istrinya sendiri..."

"Ah... Ha... Ha..."

"Kau tahu... Aku merasa iri dengan dokumen ini karena mereka jauh lebih diperhatikan oleh dirimu daripada diriku yang merupakan istrimu sendiri."

Viltus langsung memalingkan wajahnya sembari tertawa kecil tanpa dapat membuat balasan atas sindiran dari Taihou. Taihou merupakan kelemahan terbesarnya semenjak mereka berkencan hingga akhirnya menikah di Kure hampir satu tahun yang lalu.

Taihou melihat ke arah Viltus dan berkata,

"Sekarang... Apa yang menjadi alasanmu kembali ?"

"Itu... Aku tidak dapat mengatakannya sekarang."

"Merahasiakan sesuatu untuk istrimu sendiri, ya ?"

"Hehehehehe..."

Taihou langsung berdiri dan membalikkan badannya sembari mengembangkan pipinya karena kesal dengan tingkah laku dari Viltus. Ia tahu, Viltus tidak akan melakukan apapun jika dia seperti ini. Namun, hari itu berbeda. Mendadak Viltus memeluk Taihou dari belakangnya. Viltus berkata,

"Setidaknya... Ini dapat menenangkanmu sedikit, kan ?"

"Ummm..."

"Ini sekaligus untuk mengisi kembali semangatku yang mulai padam akhir-akhir ini."

"Ehehehehehe..."

"Jadi... Apakah yang dapat kulakukan agar istriku ini tidak cemberut seperti itu ?"

"Temani aku... Aku bosan dan kesepian mengerti..."

"Tentu saja."

"Eh ? Tumben..."

"Aku sudah katakan tadi kan... Aku sedang jenuh..."

"Ehehehehehehe... Jika Aoba mendengar ini, dia pasti terkejut."

"Tentu saja."

Taihou dan Viltus langsung tertawa bersama. Mendadak Viltus langsung mencium bagian belakang kepala Taihou lalu ke leher Taihou. Taihou sedikit terkejut dengan hal tersebut. Taihou kemudian berkata,

"Mengapa hanya bagian situ saja ?"

"Kau tidak ingin menunjukkan wajahmu ke wajahku..."

"Uuuuuu"

Taihou langsung melepaskan dirinya dari pelukan Viltus dan langsung berbalik arah. Viltus sontak langsung memeluknya kembali dan mencium bibir dari Taihou. Mereka melakukannya selama beberapa menit sebelum terganggu oleh satu suara.

"Heiii... Viltus, ini ada dokumen dari Sirene yang..."

Pintu terbuka, dan di sana berdiri Haruto, teman baik dari Viltus, yang membawa sebuah dokumen. Melihat Taihou dan Viltus yang sedang berpelukan dan berwajah merah. Haruto langsung tersenyum sebentar dan langsung membalikkan badan sembari menutup pintu. Sebelum pintu tertutup, Haruto berkata,

"Maaf, aku menganggu kalian berdua... Ahahahahahaha"

Taihou dan Viltus langsung memalingkan wajah mereka. Mendadak Taihou berkata,

"Tapi... Bukankah ini normal untuk sepasang suami istri... kan ?"

"Iya..."

Viltus langsung tersenyum dan dibalas senyum dari Taihou.


Setelah beberapa saat, Taihou menyiapkan minuman teh untuk Viltus yang sedang menunggu. Taihou lalu berkata,

"Ini hanya perasaanku saja... Atau dokumen yang kaukerjakan jauh lebih banyak ya ?"

"Ah... Ini..."

"Hmmm ?"

"Dokumen yang seharusnya dikerjakan oleh Shiro-nee... Namun, karena dia sedang keluar aku mengerjakan semuanya."

"Kau menerimanya begitu saja ?!"

"Iya."

Taihou langsung menepuk dahinya dan kemudian berkata,

"Mengapa aku dapat jatuh cinta dengan pria seidiot dirimu..."

"Ahahahahahahaha... Mungkin karena aku..."

"Ssssstttttt..."

Viltus langsung tersenyum karena Taihou sudah tahu jawaban yang akan diberikan olehnya. Tidak berapa lama, teh dihidangkan di depan Viltus. Viltus melihat ke luar jendela dan tersenyum. Ia langsung berkata,

"Suasana ini sangat menyenangkan... Benar ?"

"Iya..."

Terdapat jeda sebentar karena keduanya sedang menikmati teh yang telah dihidangkan. Setelah itu, Viltus langsung tersenyum dan kemudian berkata,

"Entah mengapa saat membandingkan dirimu yang sekarang dengan yang dulu... Rasanya jauh sekali..."

"Eh ?"

"Ehehehehehehe..."

"Kenapa mendadak berkata seperti itu ?"

"Aku rasanya... Ingin membicarakan kembali... Saat-saat kita masih belum mengerti rasa cinta hingga menjadi seperti ini..."

"Ahahahahaha... Bukankah kau memiliki pekerjaan ?"

"Mumpung tidak ada Shiro-nee... Jadi aku dapat istirahat... Lagipula kau tadi merasa iri kan ?"

"Iya sih... Ehehehehehe."

"Jadi... ayo kita mengingat kembali saat itu. Aku penasaran dengan apa yang kau pikirkan."

"Pasti akan sangat memalukan."

"Namun akan menyenangkan sekali saat kita membicarakannya. Bagaimana ?"

Taihou berpikir sebentar lalu melihat ke arah Viltus. Taihou akhirnya tersenyum dan kemudian berkata,

"Boleh saja."


HakunoKazuki di sini...

New Story... End... Tidak ada komentar lain

Tidak ada yang dapat dikatakan saat ini... Three Sister sedang tidak ada ide... Jadi sedikit tertunda, dan seri ini akan saya post per dua minggu... Jadi harap maklumi ya.

Tidak banyak yang dapat saya ucapkan, selain silakan menunggu dan menikmati seri ini.

Bye