Chapter 1
New Start
Sudah dua bulan berlalu semenjak pertempuran besar yang merengut nyawa Okazaki Kimura. Semua Gadis Kapal sudah menjalankan beberapa misi kecil kembali, termasuk mereka yang menggantikan yang telah tenggelam.
Viltus Amarov, salah satu laksamana yang terlibat di perang tersebut, duduk di salah satu meja kantinnya dan terlihat menghela nafas. Selama beberapa minggu ini, ia sama sekali tidak kembali ke Markas Angkatan Laut Yokosuka dikarenakan misi pengintaian yang memakan cukup banyak waktunya. Dan pada saat ia kembali, kondisi di markas tidak dapat dikatakan kondusif. Semua itu dikarenakan,
"Mengapa kami Laksamana mendapatkan tugas seberat ini ?!"
"Kami seharusnya hanya di markas saja tanpa perlu maju ke depan ! Apakah kau tidak ingat apa yang terjadi pada Laksamana Okazaki ?"
"Kami..."
Semua keluhan itu terdengar terus setelah perang tersebut. Ia melihat sumber suara tersebut dan langsung mengetahui bahwa Laksamana tersebut terlihat sangat ketakutan. Ia langsung tertawa kecil saja. Ia langsung melanjutkan melahap makanan di depannya.
Setelah ia selesai makan, ia sedikit melamun. Ia kemudian mengeluarkan kunci dari sakunya dan kemudian berkata pelan,
"Apa... Aku minta Aoba untuk menyiapkan acara, ya..."
"Acara itu lagi ?"
Viltus sangat terkejut mendengar suara tersebut dan melihat ke belakang. Pada saat ia melihat ke belakang, ia melihat teman baiknya, Kouga Haruto, berdiri di sana. Haruto masih membawa nampan makanannya dan kemudian berkata,
"Apakah aku boleh duduk di meja ini ?"
"Tidak. Sama sekali tidak."
"Terima kasih banyak."
Haruto dengan entengnya duduk di sebelah Viltus dan mulai makan. Viltus hanya tersenyum saja. Haruto kemudian berkata,
"Kapan kau kembali dari misimu itu ?"
"Hmmm... Baru kemarin kembali."
"Kemarin ? Aku tidak melihatmu..."
"Kemarin... Jam 11 malam..."
"..."
"Ada apa ?"
"Pantas saja wajahmu seperti panda... Kantung tidurmu terlihat dengan jelas di sini."
"Ahahahahaha..."
Tawa pasrah dilepaskan oleh Viltus kepada Haruto yang memberi komentar. Haruto kemudian melihat ke arah kunci yang dipegang oleh Viltus dan kemudian berkata,
"Kau tadi berkata meminta bantuan Aoba..."
"Sssstttt... Jangan keras-keras..."
"Ahahahahha... Tenang saja. Ada keributan di sana. Dari pihak senior dengan Laksamana baru. Jadi, kau ingin membuat acara seperti yang dibuat oleh Kimura dulu ?"
"Tentu saja."
"..."
"Ada apa dengan wajah tidak percaya itu, huh ?"
"Kau... Kau yang ingin membuat acara seperti itu ?!"
"Mengapa memangnya ? Aku sedang jenuh mengerti..."
Haruto kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Viltus yang melihat itu langsung berkata,
"Memangnya kenapa, Haruto ?"
"Itu... Hanya saja... Hanya saja... Hmmppph..."
"..."
"Maaf... Maaf... Aku tidak dapat... Menahannya..."
"Aku tahu... Aku tahu... Pada saat awal acara ini, aku yang paling menolaknya..."
"Iya... Tepat sekali."
"Namun, akhir-akhir ini pasti sangat membosankan bagi semuanya..."
"Iya juga sih..."
"Jadi, aku berpikir untuk membuat acara itu dalam waktu dekat."
"Apakah kau memiliki waktu untuk itu ?"
"Aku akan meluangkan waktuku. Lagipula kita tidak memiliki cukup banyak pekerjaan akhir-akhir ini."
Haruto melihat ke arah Viltus dan menunjukkan wajah yang tidak percaya. Haruto langsung berkata,
"Kau yakin ?"
"Tentu saja."
"Aku punya firasat kita akan dapat melakukan ini minggu depan."
"Ahhh..."
Viltus langsung tertawa kecil mendengar komentar dari Haruto. Haruto hanya menghela nafas saja. Akhirnya, Viltus berkata,
"Tenang saja, acara itu akan terwujud. Pasti."
"Iya... Iya..."
"Apakah kau akan ikut acara itu ?"
"Hmmmm... Tentu saja. Tidak ada gunanya kau menanyakan itu."
Viltus tertawa mendengar jawaban penuh percaya diri dari Haruto. Pembicaraan mereka terhenti karena panggilan tugas sudah menanti mereka. Viltus menaruh kembali kunci tersebut ke sakunya dan berjalan kembali ke kantornya.
Satu minggu berlalu, dan malam itu terlihat sosok dua orang yang sangat familiar dengan jalur di tempat itu. Mereka adalah Viltus dan Haruto yang berjalan kembali ke asrama Gadis Kapal. Haruto langsung berkata,
"Lihat... Kita baru pergi satu minggu kemudian..."
"Aku tahu... Ayah memberikanku tugas yang cukup berat, dan sangat sulit untuk menghubungi Aoba mengerti..."
"Aku dengar kau sempat satu misi dengan unit Aoba."
"Untungnya demikian..."
"..."
"Yang penting aku menepati janjiku, benar ?"
"Iya, sih."
Pada saat mereka berjalan, mereka melihat dua orang penjaga yang selama ini dibuat pingsan oleh Viltus. Pada saat mereka bergerak, mereka berdua ketahuan. Pada saat Viltus akan beraksi, salah satu dari penjaga itu berkata,
"Tunggu... Kau lagi..."
"..."
"Kalian ingin ke asrama itu, benar ?"
"..."
"Jika iya, silakan saja pergi... Sudah cukup lama kami dapat sadar seperti ini... Tidak dibuat pingsan salah satu dari kalian..."
"Eh..."
"Kami tidak akan melaporkan ini, tenang saja. Namun, di kemudian hari jika kami temukan kalian... Kalian dalam masalah besar."
"Tapi, aku yakin kalian tidak akan mengetahuinya... Ahahahahahaha."
Viltus dan kedua penjaga itu tertawa bersama, yang dilihat dengan wajah bingung dari Haruto. Setelah itu, Haruto dan Viltus kembali berjalan ke arah asrama Gadis Kapal.
Mereka berdua masuk, dan pergi ke ruangan umumnya. Namun, ada satu hal yang sangat aneh. Tidak ada suara apapun di dalam ruangan tersebut. Viltus dan Haruto melihat satu sama lain, dan kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Mereka tidak menemukan siapapun kecuali Aoba. Aoba melihat ke arah mereka berdua dan kemudian berkata,
"Selamat datang, Viltus, Haruto."
Haruto kemudian berkata,
"Hanya dirimu sendiri saja yang datang ?"
"Dapat dikatakan demikian."
"Mengapa."
"Aoba... rasa... semuanya sangat terkejut akan satu hal."
"Akan apa ?"
"Diadakannya acara itu kembali... Atas..."
Viltus langsung menyela apa yang dikatakan oleh Aoba,
"Atas prakarsa diriku, ya ?"
"Iya... Ahahahahahaha"
"Dan pasti mereka semua..."
"Mengira itu hanya lelucon saja."
Viltus langsung menghela nafas dan kemudian duduk di satu-satunya meja di ruangan tersebut. Aoba kemudian berkata,
"Namun, setidaknya Houshou-san berkata akan datang walau sedikit terlambat."
"Aku ingat ia dipanggil oleh Ayah."
"Fufufufufufu... Apakah itu..."
"Jika ayah macam-macam, aku langsung lapor kepada Shiro-nee... Aku yakin ia akan mendadak muncul keesokan harinya untuk memarahi ayah."
Haruto dan Aoba sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Viltus hanya tersenyum saja dan kemudian berkata,
"Hmmm... Setidaknya makanan ini akan cukup untuk kita berempat... Apakah kau memiliki alkohol, Aoba ?"
"Alkohol ya..."
"Sake dingin... Lumayan untuk acara seperti ini" gumam Haruto.
Aoba berdiri sebentar dan kemudian mengangkat sebuah botol dengan isi bening. Pada saat melihat itu, mata Viltus berbinar-binar seperti seorang anak kecil yang melihat makanan manis. Sementara itu, Haruto bermaksud menahan Aoba. Namun, Aoba sudah berkata,
"Sayangnya kita tidak memiliki sake saat ini... Adanya minuman ini... Ummm... Vod... Vodka... Aku diberikan oleh Laksamana Yanagi."
"Eh... Ayah ?"
"Dia mengetahui Shiro dan dirimu sering membuat pesta seperti ini, sehingga ia memberikan botol ini."
"Fufufufufufufu... Ayah sangat pengertian sekali mengingat anaknya sudah bekerja keras setiap hari... Apalagi tidak kembali selama beberapa minggu..."
"..."
"Ada apa, Aoba ?"
"Siapa dirimu ? Jawab."
"Huh ? Tentu saja, Viltus Amarov. Salah satu laksamana di markas ini."
Aoba melihat ke arah Haruto yang mengangguk. Aoba kemudian berkata,
"Baiklah..."
Belum sempat Aoba membuka botol tersebut, pintu ruangan tersebut terbuka. Ketiga orang di dalam ruangan tersebut melihat ke arah pintu dan mengharapkan Houshou yang hadir. Ternyata yang muncul adalah seorang gadis dengan rambut coklat pendek. Ia melihat ke arah mereka bertiga dan kemudian berkata,
"Jadi... Suara berisik ini... Karena kalian... Eh ?"
"..."
"Aoba... Jadi, acara yang kau sebutkan itu benar ?"
"Apakah kau sama sekali tidak percaya, Taihou ?"
"Tentu saja. Mana mungkin manusia tanpa ekspresi yang jelas dan mudah marah ini yang mengadakan acara tersebut ?"
"Kau mengajak ribut, huh ?"
"Hoh... Jadi, ada perubahan suasana dari pria ini. Luar biasa."
Viltus sudah bermaksud membalas ucapan dari Taihou, namun ditahan oleh Aoba yang berkata,
"Daripada kau berdiri terus... Bagaimana jika kau bergabung ? Benar tidak, Haruto ?"
"Iya. Ayo, duduk saja di sini."
Taihou melihat ke arah mereka berdua dan kemudian duduk di meja yang tersedia. Pada saat itu, suasana menjadi sedikit mencekam. Dan untuk menghilangkan suasana tersebut, Haruto dan Aoba langsung memulai pembicaraan yang cukup ringan. Sedikit demi sedikit Taihou dan Viltus ikut ke dalam pembicaraan tersebut. Mereka berempat berbincang-bincang dan terkadang memakan suguhan di hadapan mereka.
Pada saat Aoba sedang asik berbicara dengan Haruto, Taihou menarik lengan baju dari Viltus dan kemudian berkata,
"Terima kasih banyak..."
"Eh ? Untuk apa ?"
"Mengembalikan senyum dari Aoba."
"Tidak banyak yang kulakukan untuk itu. Semua itu karena Aoba merupakan wanita yang kuat. Lagipula, yang menjaganya itu kalian semua."
"..."
"Jadi, terima kasih banyak."
"Sama-sama..."
Taihou sedikit terkejut dengan senyum dari Viltus. Sesuatu yang baru ia lihat sekarang. Selama ini, setiap kali mereka bertemu selalu bertengkar kecuali pada saat Viltus membantu Aoba saat itu. Taihou sedikit tersenyum dan kemudian berkata,
"Kau dapat tersenyum juga, ya ?"
"Heh ? Kau kira wajahku akan selalu cemberut saja ?"
"Iya."
"Hah... Terserah apa katamu."
Tidak berapa lama, Aoba langsung menawarkan Vodka kepada Viltus dan Taihou. Pada saat itu, Haruto luput akan hal tersebut. Pada saat Haruto mengetahuinya, sudah terlambat. Viltus sudah meminta gelas berikutnya. Haruto langsung menepuk kepalanya dan berkata,
"Ini... Akan sangat berdarah... Sepertinya..."
"Apa yang tadi kau katakan, Haruto ?"
"Tidak... Lanjutkan saja, Aoba... Kau akan melihatnya... Sisi lain dari pria ini."
Setelah cukup banyak gelas dan botol yang dihabiskan oleh Viltus dan Taihou, Aoba menjadi sedikit khawatir. Wajah Taihou sudah memerah karena alkohol yang ia minum. Sementara, Viltus masih meminta gelas berikutnya. Aoba melihat ke arah Haruto dan menunjuk ke arah Viltus. Haruto hanya menjawab singkat,
"Dia itu... Tidak dapat... Berkata tidak... Jika... Sudah membahas mengenai... Vodka."
"Begitu ya... Apakah dia memiliki sesuatu yang tidak boleh dilihat pada saat meminum Vodka ?"
"Sebentar lagi... Mungkin."
Mendadak Taihou memukul kepala Viltus beberapa kali, dan berkata,
"Hic... Hei... Beri... Aku... Itu..."
"Diam..."
"Huuuh ?"
Viltus melihat ke arah Taihou dan menatap dengan tajam. Sementara, Taihou tersenyum sinis dan kemudian berkata,
"Ada apa... Hic... Kacamata... Hic... Ingin menghadapi diriku... Hic... Si hebat, Taihou ?"
"Hooh... Jadi dirimu mengajak bertengkar ya..."
"Hic... Hoooh... Memangnya kau berani... Hic... Kacamata ?"
Kedua tangan Viltus mendadak sudah di pipi Taihou, dan sembari sedikit sempoyongan ia menarik pipi Taihou dan berkata,
"Tentu saja... Dada rata..."
"Hic... Afa... Kauf filang ?"
"Papan"
Taihou sontak memegang kepala Viltus dan menarik pipinya. Aoba melihat wajah dari mereka berdua dan tertawa terpingkal-pingkal. Haruto langsung berdiri dan berkata,
"Kalian berdua... Jangan bertengkar seperti itu... Men..."
""DIAM KAU... PEMALAS""
"Eh ?!"
Haruto langsung tertunduk mendengar itu. Ia langsung berkata,
"Aku tahu aku pemalas... Namun..."
"Sudah... Sudah..."
Aoba menepuk pundak dari Haruto. Sementara itu, Viltus dan Taihou sudah saling dorong satu sama lain dalam keadaan mabuk. Tidak berapa lama, pintu terbuka. Melihat orang yang datang, Aoba langsung meminta bantuannya untuk menenangkan Viltus dan Taihou. Orang tersebut menghela nafas dan kemudian berjalan ke arah kedua orang tersebut. Ia langsung berkata dengan lembut,
"Kalian berdua... Jangan bertengkar seperti itu... Akan menganggu..."
""DIAM SAJA, NENEK !""
"Eh ?! Nenek ?"
Pada saat itu, entah bagaimana rasa mabuk dari Taihou dan Viltus menghilang. Mereka berdua merasakan aura yang sangat gelap dari samping mereka. Mereka melirik sebentar dan melihat Houshou yang tersenyum. Viltus dan Taihou memalingkan wajah mereka, dan saling berkata,
"Ahahahahaha... Hari sudah larut... Sebaiknya aku kembali ke asrama..."
"Iya... Aku harus tidur sekarang... Aku ada latihan pagi... Selamat malam, Viltus."
"Iya... Selamat malam, Taihou."
"Jika ada acara ini lagi, undang aku."
"Tentu saja."
Mereka berdua bermaksud pergi, namun ditahan oleh Houshou. Houshou berkata,
"Kalian ingin pergi ke mana ?"
"Ahahahha... Kami..."
"Ikut denganku..."
"..."
"Sekarang."
Viltus dan Taihou bermaksud untuk kabur, namun ditarik oleh Houshou. Setelah itu, Houshou menarik mereka berdua keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintunya. Tidak terdengar satu pun suara. Hanya keheningan.
Haruto menganga melihat itu, dan kemudian melihat ke arah Aoba. Aoba tertawa terpingkal-pingkal dan kemudian berkata,
"Sudah lama sekali Aoba tidak melihat kejadian ini."
"Hehehehe... Jadi keputusan orang itu benar ya ?"
"Tentu saja."
Mereka berdua melanjutkan perbincangan mereka. Aoba bahkan bercerita mengenai cincin yang diberikan oleh Kimura kepadanya. Haruto hanya tersenyum saja mendengar hal tersebut. Setengah jam kemudian, ketiga orang tersebut kembali ke ruangan tersebut. Pada saat Aoba dan Haruto melihat Viltus dan Taihou, mereka menyadari sesuatu yang berat terjadi pada mereka.
Viltus duduk bersandar di dinding dengan Taihou duduk di sebelahnya, sementara Houshou bergabung dengan Aoba dan Haruto. Viltus langsung berkata,
"Aku... Tidak akan meminum Vodka lagi..."
"Sama..."
Mereka berdua menghela nafas saja. Tidak berapa lama, Taihou berkata,
"Jika saja tidak meminum Vodka... Aku tidak akan seperti ini..."
"..."
"Ini semua salahmu..."
"Eh ?"
"Ya, karena kau menawarkan minuman itu."
"Tapi, kau menerimanya begitu saja. Lagipula kau yang memukul kepalaku lebih dahulu."
"Tetap saja..."
Taihou dan Viltus mulai bertengkar kembali. Namun, pertengkaran itu selesai lebih cepat karena merasakan tatapan tajam dari Houshou. Mereka berdua diam. Houshou kemudian membuat tanda untuk duduk di dekat dirinya. Taihou dan Viltus mengikuti apa yang diminta oleh Houshou dan duduk di sisi kanan dan kirinya. Yang ada di dalam pikiran Haruto dan Aoba sama,
'Lucunya... Seperti kakak adik yang dimarahi ibunya.'
Setelah itu, mereka melanjutkan acara mereka tanpa ada masalah. Pada saat tengah malam, Haruto dan Viltus pamit untuk kembali ke asrama mereka untuk tidur. Setelah kedua Laksamana itu kembali ke asrama, Houshou berkata,
"Fufufufufufu... Aku masih tidak percaya anak itu yang meminta acara ini."
"Begitu pula dengan diriku."
"Mungkin... Jika kita bertiga memberitahu yang lain, akan lebih menarik lagi... benar ?"
"Sepertinya..."
"Terutama jika kalian berdua tidak bertengkar terus..."
"Ahahahahaha..."
Aoba hanya tersenyum melihat reaksi dari Taihou yang hanya tertawa saja mendengar ceramah dari Houshou. Setelah itu, mereka semua kembali ke kamar masing-masing. Namun, sebelum pergi Houshou sempat berpesan,
"Dalam waktu satu bulan, jumlah Laksamana akan dikurangi dan Gadis Kapal akan dimasukkan ke unit Laksamana yang tersisa. Ya, ini semua karena banyak Laksamana Baru dan Lama yang mangkir dari pekerjaan mereka."
"Apakah mereka berdua..."
"Tenang saja. Viltus dan Haruto aman. Fufufufufufu. Sudah tidur saja dahulu. Kalian ada latihan pagi, bukan ?"
Satu bulan berlalu. Viltus duduk dengan tenang di dalam kantornya. Ia membaca dokumen dengan teliti tanpa ada yang menganggunya. Hampir lebih tepatnya. Mendadak pintu terbuka dan di sana berdiri dua Gadis Kapal yang berada di bawah kepemimpinannya, Shigure dan Yuudachi.
Mereka berdua terkejut melihat Viltus yang masih tenang-tenang saja. Viltus terlihat bingung dengan reaksi dari Shigure dan Yuudachi, kemudian berkata,
"Ada apa dengan wajah itu ? Apa ada yang salah ?"
"Ummm... Laksamana..."
"Iya ?"
"Mengapa kau terlihat tenang-tenang saja ? Tidak merapikan bajumu ? Dan bau ini..."
"Untuk apa ? Lagipula hari ini bukan..."
"Bukankah... Hari ini akan datang Gadis Kapal baru di divisi kita ya ?"
Mendengar itu, Viltus langsung melihat ke arah Shigure dan Yuudachi. Ia melihat ke arah kalender dan kemudian berkata,
"Tunggu... Itu... Hari ini ?"
"Iya. Apa kau lupa ?"
"Ah... Shigure... Yuudachi... Jaga ruangan ini terlebih dahulu... Aku... harus kembali sebentar..."
"Laksamana... Jangan bilang kau belum..."
"Iya... Sudah tiga hari belum selesai... Aku akan kembali dengan cepat, tenang saja."
Shigure langsung menghela nafas melihat tingkah laku dari Viltus, sementara Yuudachi hanya tertawa saja. Setelah Viltus keluar, Yuudachi kemudian berkata,
"Ahahahahahaha... Laksamana kita ini, poi~"
"Iya..."
"Ada apa, Shigure ?"
"Kau tahu... Jika seperti ini terus... Aku khawatir dirinya akan jatuh sakit karena kebanyakan bekerja."
"Poi ?"
"Ahahahahaha... Aneh jika aku..."
"Shigure... Kau seperti seorang ibu saja... Daripada kau berpikir mengenai itu... Kita memiliki teman baru... TEMAN BARU... Yey poi"
"Kau benar. Aku penasaran seperti apa teman baru kita di divisi ini."
Selama Viltus merapikan (*mandi), semua Gadis Kapal yang berada di divisi Viltus sudah berkumpul di ruangan. Dan karena sesuatu, semua nama Laksamana yang menjadi penanda ruang kerja tersebut dihilangkan dan diganti menjadi nomor saja.
Viltus baru menyadarinya pada saat ia berlari kembali ke gedung administrasi. Ia bergumam,
"Jadi... Ini suara berisik selama dua hari terakhir ini... Pasti... Kerjaan ayah..."
Viltus terus berlari dan berharap semua Gadis Kapal di divisinya yang baru belum tiba. Namun, harapan tersebut sirna. Pada saat ia tiba di depan pintu, ia melihat ayahnya sudah di dalam ruangan dan berbincang-bincang dengan semua Gadis Kapal di ruangan tersebut.
Pada saat melihat Viltus yang tiba di ruangan, Yanagi Tadahisa langsung tersenyum dan memberi hormat kepada Viltus. Viltus langsung memberi hormat dan berkata,
"Selamat siang, Laksamana Yanagi."
"Selamat siang, Laksamana Amarov. Mengapa kau datang terlambat ? Tidak seperti biasanya."
"Mengenai itu... Saya..."
"Ahahahahaha... Aku tahu... Aku tahu... Shigure menceritakannya kepada diriku."
"..."
"Sudahlah... Aku tidak akan menganggu acara perkenalan dengan divisi barumu. Mungkin sebagian sudah kenal baik dengan dirimu, dan sebagian lagi belum terlalu kenal."
"Baik."
"Namun, satu hal... Jangan terlalu banyak bertengkar, ya ? Walaupun Aku tahu bertengkar akan membuat hidupmu berwarna."
"Apa maksud anda ?"
"Masuk saja ke dalam. Kau akan mengerti. Sampai pemberitahuan berikutnya, silakan berbincang-bincang dengan mereka."
Laksamana Yanagi langsung berjalan meninggalkan ruang kerja Viltus, dan masuk ke dalam ruangan yang lain. Viltus memperhatikan gerak-gerik dari ayahnya. Namun, ia tidak terlalu memperdulikannya. Setelah itu, ia masuk ke dalam dan melihat semua Gadis Kapal sedang berbincang-bincang satu sama lain.
Ia bergumam,
"Shigure... Yuudachi... Kinu... Yura... Eh..."
Pada saat ia melihat rambut ungu yang ia kenal, ia cukup senang setidaknya ada Gadis Kapal yang ia kenal. Viltus langsung melanjutkan tanpa menganggu mereka,
"Aoba... Yayoi... Uzuki..."
Kemudian ia melihat Ryuujou dan Zuihou. Viltus bergumam,
"Ah... Aku mendapat unit Kapal Induk... Tunggu sebentar... Kapal Induk ?"
Dan pada saat ia melihat ke tengah-tengah Ryuujou dan Zuihou, Viltus langsung menyadari seseorang dan menunjuk ke arah Gadis Kapal tersebut. Sementara, Gadis Kapal tersebut menunjuk balik ke arah Viltus. Gadis Kapal tersebut adalah Taihou. Viltus sontak berkata,
"Kau !"
"Tunggu... Laksamana yang memimpin divisi adalah... Kau ?! Laksamana yang tidak berkompeten ?!"
"..."
Viltus langsung menyandarkan kepalanya ke tembok dan kemudian berkata,
"Apa maksudmu membuat hidupku berwarna, Ayah ? Ini mah... membuat hidupku menjadi abu-abu..."
Semua Gadis Kapal yang menyadari kedatangan Viltus langsung melihat ke arah Viltus dan melihat aura hitam dari Viltus. Taihou langsung berkata,
"Apa maksudmu menjadi Abu-Abu, huh ?"
"Pagiku yang indah... Langsung hancur... Hanya melihat wajahmu..."
"Apa maksudmu, huh ?"
"Diam kau... Dada Papan."
Viltus dan Taihou saling menatap tajam, dan seperti akan saling menerkam. Semua Gadis Kapal di ruangan tersebut mulai menjauh satu sama lain, karena takut. Aoba berusaha menahan mereka berdua, namun aura dari mereka berdua jauh lebih kuat.
Mendadak pintu terbuka dan di sana berdiri Houshou. Ia melihat ke arah Viltus dan Taihou, dan langsung menarik mereka berdua. Ia langsung berkata,
"Kalian... Ikut aku..."
""EH ?! APA SALAH KAMI ?""
"Sudah ikut saja..."
Houshou langsung menarik mereka berdua yang terlihat ingin kabur. Setelah itu, hanya terdengar suara ketakutan dari mereka saja. Suatu hal yang akan sangat sering didengar oleh divisi tersebut ke depannya. Sungguh awal yang baik untuk divisi ini.
HakunoKazuki di sini...
Yep... Chapter pertama selesai...
Ummm... Agak susah bwt ending perkenalan divisi baru... Jadi... Ya... Ummm... Well
*Ada apa ?
HK : Nothing
Sudahlah... Cerita ini akan memiliki chapter yang cukup banyak karena sudah ada idenya...
Dan saya berjanji tidak akan membuat ending seperti Deep Abyss... Tidak akan !
Cerita ini hanya akan kisah sehari-hari Viltus dan Taihou di Yokosuka saja.
Jadi... Saya hanya dapat mengatakan... Selamat menikmati seri ini
Sayonara
