Chapter 3
Mechanic
Viltus memulai harinya dari kamar di asramanya. Tidak seperti biasanya dari dalam ruang kerjanya. Ini semua karena akhir-akhir ini, semua Gadis Kapal di divisinya selalu mengusir dirinya dari ruang kerja setiap waktu menunjukkan pukul 12 malam. Mereka mendapat ijin dari Tadahisa, ayahnya selaku pemimpin dari Markas Angkatan Laut Yokosuka, untuk melakukan patroli ke ruang kerja Viltus.
Viltus menyapa semua Laksamana yang ia temui, baik itu seniornya atau satu angkatan dengan dirinya. Dapat dikatakan mayoritas sudah terbiasa dengan Viltus yang muncul dari ruang kerjanya berlari ke asrama, bukan sebaliknya. Dan pada saat itu, ia bertemu dengan Haruto.
"Selamat pagi, Viltus."
"Selamat pagi, Haruto."
"Ahahahahaha... Tumben sekali kau..."
"Aku ditendang oleh mereka... Sehingga aku tidur di asrama."
Haruto hanya tertawa saja mendengar hal tersebut. Viltus langsung memukul kepala Haruto dan kemudian berkata,
"Daripada itu... Apa kau sudah mengumpulkan dokumen milikmu ?"
"Ah..."
"Laksamana Tinggi mencari dokumen tersebut, mengerti..."
"Ummm..."
"Ada apa ?"
"Bagaimana kalau kau yang mengecek dokumen tersebut terlebih dahulu ?"
Viltus melihat ke arah Haruto dengan wajah sedikit kesal. Haruto langsung berkata,
"Sebagai gantinya..."
"Dua botol Vodka."
"Eh ?!"
"Dua botol Vodka sudah cukup untuk mengganti semua lelahku mengecek dokumen milikmu, Haruto."
"Sebentar..."
Haruto mengecek uang yang ia miliki, dan kemudian berkata dengan berat hati.
"Baiklah... Daripada aku digantung oleh Laksamana Tinggi."
"Baguslah jika demikian."
Mereka berdua berjalan ke arah gedung administrasi. Dan pada saat mereka berjalan ke gedung tersebut, mereka melewati dock. Haruto mendadak berkata,
"Enaknya... Yang menjadi mekanik."
"Huh ? Kenapa kau berkata seperti itu ?"
"Soalnya mereka dapat dengan tenang memegang semua Gadis Kapal dengan alasan untuk pengecekan."
"..."
"Kau tahu... Kau dapat menyentuh pinggang... menyentuh dada..."
"Stop di situ... Yang kau maksud itu dari kelas apa ?"
"Semua kelas tentunya."
"MP... Hoi... MP... Ada..."
"Hei... Hei... Aku cuma bercanda."
"Begitu pula dengan diriku."
Haruto melihat ke arah Viltus dengan wajah tidak percaya. Viltus hanya tersenyum kecil saja. Haruto kemudian berkata,
"Kau sedikit berubah semenjak pertandingan itu."
"Tentu saja... Aku dapat membungkan papan rata itu."
"Heeehh..."
"Sudahlah. Kita sebentar lagi akan mulai jam kerja kita. Dan, aku yakin sebentar lagi kita akan mendapatkan misi."
"Benar juga. Kita sudah lama tidak mendapatkan misi."
"Ahahahahaha."
"Tapi, tetap saja..."
"Hmmm ?"
"Aku penasaran dengan para mekanik."
"Kau..."
Haruto berpikir sebentar mengenai sesuatu. Viltus melihat dengan wajah tanpa ekspresi khasnya dan berkata,
"Kau ini... Untuk masalah selain pekerjaan dapat berpikir dengan cepat."
"Tidak juga."
"Lalu, untuk pekerjaan ?"
"Aku berpikir... Kapan akan makan siang... Kapan akan tidur... Bagaimana..."
Viltus langsung memukul kepala Haruto dengan keras dan berkata,
"Bekerja dengan benar !"
"Aku tahu. Aku tahu."
"Haaah..."
Viltus kemudian berjalan lebih dahulu dari Haruto dan tiba di dalam ruang kerja miliknya. Tidak berapa lama, pintu dibuka dan Haruto berdiri di sana. Viltus melihat dengan wajah tanpa ekspresi dan berkata,
"Ketuk pintu dahulu, baru masuk..."
"Ah, ok..."
"Tunggu, tidak kau lakukan sekarang juga."
"Ahahahahaha."
"Apa yang ingin kau bicarakan sekarang ? Masalah mekanik kembali ?"
"Tepat sekali."
"Apa yang ingin kau lakukan ?"
"Bagaimana kalau... Kita berkumpul dengan Gadis Kapal dari divisi kita dan menanyakan itu kepada mereka."
"Apakah itu ide yang..."
"Cemerlang, benar ?"
Viltus langsung melihat sekitar mejanya untuk berpikir benda untuk dilempar ke arah Haruto. Akhirnya, Viltus berkata,
"Baiklah... Baiklah... Daripada aku diganggu oleh dirimu terus... Aku akan ikut. Kapan kita..."
"Makan siang nanti."
"..."
"Semakin cepat semakin baik, benar ?"
"Baik... Baik... Aku akan memberitahu mereka nanti."
"Bagus. Kalalu begitu aku akan pergi dahulu. Aku minta..."
"Tapi... Kerjakan dokumen itu."
"Ugh..."
"Lakukan."
Haruto melihat ke satu sisi dan langsung mengangguk. Viltus hanya tersenyum kecil saja. Setelah itu, Haruto langsung pergi dari ruangan Viltus.
Pada saat makan siang, Haruto sudah bersama unitnya yang terdiri dari Sendai, Jintsuu, Naka, Kagerou, Shiranui dan Kuroshio. Dan juga Viltus dengan unitnya, Taihou, Zuihou, Ryuujou, Aoba, Uzuki, Yayoi, Shigure, dan Yuudachi. Namun, ada sesuatu yang terlihat mencolok di wajah Viltus. Semua orang di kantin, baik itu Gadis Kapal maupun Laksamana melihat ke arah Viltus dengan wajah heran.
Di wajah Viltus terdapat sebuah tanda tamparan merah yang sangat keras. Viltus terlihat tidak tertarik mengikuti pembicaraan Haruto. Haruto yang melihat itu langsung bertanya kepada Aoba,
"Ada apa gerangan ?"
"Entahlah... Cuma aku dengar dari Shigure... Viltus mengatakan sesuatu yang membuat Taihou marah dan ditampar dengan keras oleh Taihou..."
"Seperti biasa, huh ?"
"Iya."
Haruto kemudian menarik nafas panjang dan kemudian berkata,
"Aku, sebagai Laksamana kalian, selama ini bertanya-tanya mengenai satu hal..."
Semua fokus melihat ke arah Haruto, sementara Viltus semakin memalingkan wajahnya saat Haruto mulai menanyakan hal tersebut. Aoba langsung mengetahui kemana arah pembicaraan tersebut dan bermaksud menghentikan Haruto.
Haruto langsung berkata,
"Seperti apa sih... Rasanya kalian disentuh oleh mekanik ?!"
Terdapat keheningan di meja itu. Semua Gadis Kapal dan Laksamana di dalam kantin melihat ke arah Haruto. Viltus sendiri bermaksud untuk kabur dari situasi tersebut. Mendadak, Ryuujou dan Zuihou menepuk pundak Haruto. Sementara Taihou melihat ke arah Viltus dan tersenyum. Senyum yang sangat menakutkan.
Viltus memberi tanda kepada Haruto,
"Sebaiknya... Kita..."
"Sepertinya aku menginjak sesuatu yang..."
"Tentu saja... Maka dari itu aku menolaknya idiot..."
"Jadi..."
"Kabur."
"Pada hitungan ketiga..."
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga !"
Haruto langsung melepaskan diri dari genganggam Zuihou dan Ryuujou, sementara Viltus langsung berlari ke arah jendela di dekat meja tersebut dan keluar lewat sana. Aoba langsung berkata,
"Mereka berdua ini..."
Taihou langsung memerintahkan semua dari unitnya dan Haruto untuk mencari Haruto dan Viltus. Sementara, Shigure hanya tertawa saja melihat hal tersebut. Aoba langsung bertanya kepada Shigure,
"Ada apa, Shigure ?"
"Tidak apa-apa... hanya saja... Jarang sekali aku melihat Laksamana Amarov seperti itu."
"... Kau ada benarnya."
"Jika mengingat saat itu... Dan sekarang... Sangat jauh berbeda..."
"..."
"Terima kasih banyak, Aoba... dan mungkin mereka semua."
"Aoba pun harus berterimakasih kepada Viltus atas semua yang telah ia lakukan untuk membantu Aoba."
"Ahahahahaha."
Aoba dan Shigure hanya tertawa saja. Namun, tidak berapa lama Houshou muncul dan melihat semua Gadis Kapal di divisi Viltus dan Haruto yang berkumpul di sana. Ia mendekat ke arah mereka dan kemudian berkata,
"Apa kalian melihat Laksamana kalian ?"
"Huh ? Kami bermaksud menangkap mereka."
"..."
"Ada apa, Houshou ?"
"Kali ini... Apa yang dilakukan oleh Viltus, Taihou ?"
"Dia melakukan pelecehan seksual... Dan ditambah dengan Haruto yang menanyakan sesuatu yang tidak-tidak... Kami akan memberi mereka pelajaran."
Houshou melihat ke arah Shigure dan berbisik,
"Apa Viltus sedang di bawah pengaruh alkohol ?"
"Tidak..."
"Aku yakin ini pasti perbuatan dari Haruto."
"Memang."
Houshou hanya tersenyum saja. Ia kemudian berkata,
"Daripada kalian menyiksa kedua Laksamana malang tersebut, bagaimana jika kalian bawa mereka kepada Laksamana Yanagi ?"
"Eh ?"
"Mereka mungkin akan dihukum oleh Laksamana Yanagi."
"Bisa juga... Semua... Mari kita cari mereka... Dan seret mereka ke Laksamana Yanagi !"
Semua Gadis Kapal di divisi Viltus dan Haruto mengangguk mendengar perintah dari Taihou, sementara Houshou hanya tersenyum saja melihat mereka semua keluar dari kantin selain Aoba. Houshou langsung mendekati Aoba dan berkata,
"Kau tidak ikut dengan mereka ?"
"Tidak. Aoba yakin pasti ada hal menarik lainnya selain mengejar dua Laksamana tak berdosa itu."
"Tentu saja, fufufufufu."
"Selain itu, pasti ada alasan tertentu Laskamana Yanagi memanggil mereka berdua. Apakah itu ?"
Houshou berpikir sebentar, dan kemudian membisikkan sesuatu kepada Aoba yang langsung membuat mata Aoba berbinar-binar. Aoba langsung berdiri dan meminta ijin untuk pergi. Houshou melihat kepergian Aoba langsung berpikir singkat,
"Sepertinya... Akan ada sesuatu yang menarik sebentar lagi. Aku diam saja sebentar, deh."
Sementara itu, di bagian hutan yang memisahkan asrama Gadis Kapal dengan Markas Angkatan Laut Yokosuka. Di salah satu sudut hutan tersebut, duduk dua pria yang menjadi buronan, Viltus dan Haruto. Nafas mereka terengah-engah karena dalam keadaan dikejar.
Viltus langsung berkata,
"Kita... Istirahat... Dulu... Di sini..."
"Aku setuju..."
Viltus menarik nafas panjang dan kemudian melihat ke arah langit. Sementara, Haruto masih melihat ke sana kemari. Viltus langsung berkata,
"Tenang saja... Aku tidak melihat satu pun pesawat milik Taihou."
"Eh ?"
"Di sini aman... Tidak akan dapat dilihat oleh pesawat mereka."
"Apakah mereka sering..."
"Tentu saja."
"Untuk apa ?"
"Mencari dirimu yang menghilang dari ruang kerjamu."
"Ahahahahaha... Pantas kau tahu."
Viltus langsung menghela nafas. Kondisi di tempat itu sangat tenang. Viltus langsung menutup mata. Mendadak Haruto berkata,
"Hei... Viltus"
"Apa ?"
"Bagaimana caranya kau dapat dengan mudah bergerak dengan cepat seperti itu di kantin ? Dan bagaimana caranya kau dapat mendadak muncul di belakangku tadi ? Apa itu yang kaulakukan kepada kedua penjaga malam itu ?"
"Aku hanya mengendap-endap."
"Tapi aku dapat merasakan orang yang melakukan hal tersebut."
Viltus berpikir sebentar, dan kemudian berkata,
"Mungkin hasil dari latihan itu sepertinya..."
"Eh ?"
"Aku sudah terbiasa melakukan hal tersebut karena satu dan beberapa hal. Dan, Shiro-nee dan ayah langsung mengetahui kemampuanku, sehingga memasukkan diriku ke salah satu pelatihan militer saat itu."
"Apa yang kau laku... Jangan bilang... Kau..."
"Apa ?"
"Mengintip wanita mandi ya !"
Viltus memperhatikan sekitar dirinya, berharap setidaknya ada batang atau batu yang dapat digunakan untuk memukul pria di hadapannya. Sayangnya semuanya sangat kecil atau mudah patah.
Haruto langsung berkata,
"Aku cuma bercanda... Aku cuma bercanda... Mana mungkin pria tanpa ekspresi seperti dirimu memiliki wanita di masa lalu."
"..."
"Eh... Tapi, kalau dilihat dari wajahmu sih... harusnya banyak wanita yang mendekati dirimu."
"Ya... Aku tidak dapat menghindari fakta tersebut."
"Hehehehehe..."
"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan mengenai wanita... Karena selama kehidupanku ini... 3 wanita yang kukenal baik saat ini tidak ada yang benar sama sekali."
"Kau ada benarnya."
Viltus dan Haruto tertawa bersama mengetahui siapa ketiga wanita yang dimaksud oleh Viltus. Haruto kemudian berkata,
"Lalu... mengapa kau memiliki kemampuan seperti itu ?"
Terdapat keheningan sejenak. Wajah Viltus mendadak menjadi hitam kelam seperti seseorang yang mengingat masa lalu yang menyakitkan. Selain itu, ia juga memegang perutnya sendiri. Ia kemudian berkata,
"Kabur..."
"Kabur ?"
"Dari masakan Shiro-nee..."
"..."
"Mengingatnya saja membuatku mual."
"Sama"
Mereka berdua hening sebentar. Mendadak Viltus melihat ke udara, dan melihat pesawat milik Taihou lewat. Viltus langsung menunduk, begitu pula Haruto. Setelah itu, Viltus berkata,
"Jika kita diam di satu tempat saja... Pasti akan ketahuan."
"Sebaiknya kita bergerak sekarang."
"Namun, kemana ? Ke gedung administrasi ?"
"Tidak... Jika ke sana akan ketahuan dengan jelas."
"Kau pasti memiliki satu ide..."
"Bagaimana jika asrama ? Itu tempat terakhir di markas ini yang akan kau datangi, benar ?"
"Iya sih..."
"Bagaimana ?"
Viltus diam sebentar dan mulai berpikir. Lima menit kemudian, Viltus berkata,
"Baik... Ayo kita mulai bergerak."
Mereka berdua mulai bergerak dengan perlahan hingga sampai di pinggir hutan. Viltus memperhatikan sekitar dan tidak menemukan satu pun orang. Pada saat akan melangkah, ia mendengar suara seseorang yang mendekat. Viltus langsung mendorong Haruto dan menunduk.
Pada saat orang tersebut lewat, baik Viltus dan Haruto terkejut. Orang tersebut adalah seorang wanita dengan rambut blonde yang cukup panjang. Dan ia memiliki warna mata menyerupai Viltus. Haruto langsung berkata,
"Itu... Siapa ? Viltus... Apa..."
"Tidak... Aku tidak mengenalnya... Dan jika kau berkata dia seperti diriku, maaf anda salah... Dia tidak seperti berasal dari negara ibuku."
"Oh... Begitu."
"..."
"Kau yakin ?"
"Seratus persen yakin."
"Kau..."
"Ingin kuhajar dengan piala memanahku nanti ?"
"Ahahahahahaha... Tidak, tidak."
"Sudahlah... Ayo kita mulai berjalan."
"Iya."
Mereka mulai berjalan kembali dari tempat persembunyian mereka.
Mereka berdua sudah tiba di dalam asrama. Pada saat itu, semua laksamana terlihat bingung karena melihat Viltus yang sudah kembali ke asrama PADA saat jam kerja. Viltus sama sekali tidak menggubris masalah tersebut, karena saat ini nyawanyalah taruhannya. Mereka naik ke lantai dua, dan berhenti di depan kamar Viltus.
Haruto langsung protes,
"Kenapa ke ruanganmu ?"
"Kau sangat sering ke kamarmu sendiri pada saat kerja, tentu saja akan ketahuan. Jika kita ke ruanganku yang jarang kukunjungi, tentu tidak akan ada kecurigaan."
"Kau benar."
Viltus menarik nafas, dan kemudian memasukkan anak kunci ke kenop pintu. Pada saat itu, ia berpikir,
'Tunggu... Apa tadi aku lupa mengunci pintu kamarku ?'
Haruto langsung berkata,
"Viltus... Cepat, aku tidak..."
"Sssssttttt..."
"Eh ?"
Viltus tidak memutar anak kuncinya, dan kemudian membuka pintu. Sangat terkejutlah dia pada saat ia melihat seseorang sudah di dalam kamarnya, duduk di atas kasurnya. Orang tersebut adalah Taihou. Taihou langsung berkata,
"Ditemukan."
Wajah Viltus menjadi pusat melihat hal tersebut, nyawanya seperti menghilang entah kemana. Sementara, Haruto langsung menepuk pundak Viltus dan berkata,
"Kita tertangkap... Sepertinya..."
"Memang..."
Setelah itu, Viltus dan Haruto dibawa masuk ke dalam kamar Viltus oleh semua gadis kapal mereka. Di sana, Taihou memberikan senyum kemenangan. Viltus pada awalnya kesal melihat hal tersebut, namun entah mengapa terdiam sebentar. Taihou kemudian berkata,
"Kita sudah..."
"Tunggu..."
"Ada apa ?"
"Bagaimana dirimu dapat masuk ke dalam kamarku, Taihou ?"
"Kau ini... tidak pernah mengunci pintu kamarmu sendiri."
"Eh ?!"
"Shigure yang memberitahu diriku."
Viltus langsung tertunduk mendengar fakta tersebut, sementara Haruto hanya tertawa kecil saja. Taihou kemudian berkata,
"Baik... Semuanya... Ayo kita bawa mereka ke tempat Laksamana Yanagi."
"Eh ? Tempat ayah ?!"
"Iya."
Haruto sedikit takut mendengar hal tersebut. Sementara, Viltus tersenyum dan berkata,
"Silakan saja."
"Hoooh... Kau pasti memikirkan sesuatu, Laskamana Mesum ?"
"Mesum ? Memangnya apa yang dapat dipikirkan dari dirimu, Dada Rata ?"
"Kau..."
"Hooooh... Malah dirimu yang panas. Sudah, bawa kami ke ruang ayah sekarang."
Taihou langsung menghela nafas saja. Ia sudah belajar satu hal, menghadapi Viltus yang mulai meledek dirinya hanya akan menghabiskan tenaganya saja. Akhirnya, Viltus dan Haruto dibawa ke ruang kerja Tadahisa.
Di dalam ruang kerja Tadahisa, mereka semua melihat Tadahisa yang mondar-mandir dengan wajah khawatir. Taihou langsung memberitahu mengenai kehadiran Viltus dan Haruto. Melihat mereka berdua, Tadahisa sedikit lega namun masih ada sedikit rasa khawatir.
Taihou langsung berkata,
"Saya ingin memberitahu anda bahwa mereka berdua..."
"Berbicara yang tidak-tidak. Aku sudah tahu dari Houshou."
"Maka dari itu, saya ingin..."
"Ahahahahaha... Mereka sama sekali tidak mengetahui mengenai hal ini. Tentu saja mereka penasaran mengenai hal tersebut di usia seperti mereka."
"Eh ?"
"Sudahlah... Lagipula mungkin ini dapat menjadi hukuman mereka."
Viltus dan Haruto melihat satu sama lain, dan kemudian berkata,
"Sepertinya ada hal penting yang kulewatkan... Apakah itu, ayah ?"
"Kau tahu... Aku sudah berbicara dengan pemimpin dari distrik mekanik, dan memecat cukup banyak mekanik dikarenakan kelakuan mereka yang tidak senonoh kepada beberapa Gadis Kapal. Dan dikarenakan hal tersebut, dibuat sebuah peraturan di mana dua divisi akan dijaga oleh satu mekanik."
"Itu... Sesuatu yang baru bagi diriku."
"Tentu saja. Nah, masalahnya adalah... Divisi kalian belum ada mekanik sama sekali, dan kami sudah mendapat seorang mekanik yang luar biasa seusia kalian yang akan bergabung."
"Aku BARU dengar mengenai hal tersebut... Mengapa dirimu tidak..."
Tadahisa melirik ke atas mejanya dan kemudian berkata,
"Sepertinya ada masalah dengan sistem komunikasi sehingga tidak sampai ke dirimu."
"Begitu... Ya..."
"Ehem... Nah, saat ini aku memanggil kalian sekaligus memperkenalkan mekanik tersebut kepada kalian berdua, namun ia belum datang hingga saat ini. Aku khawatir terjadi sesuatu dengan dirinya."
"..."
"Apakah kalian dapat membantuku untuk mencari mekanik tersebut ?"
Viltus melihat ke arah Haruto dan kemudian ke semua Gadis Kapal lain. Viltus langsung berkata,
"Ini hukuman kami ?"
"Iya."
"Baiklah... Aku tidak dapat menolak hal tersebut."
"Bagus... Nama mekanik tersebut adalah Elisa von Manstein. Tolong kalian cari dia."
"Baik."
Mereka semua keluar dari ruang Tadahisa setelah berkata demikian. Di luar, Viltus langsung memberitahu semuanya rencananya,
"Baiklah, kita akan mulai berpencar untuk mencari mekanik ini. Aku harap ini tidak akan memakan waktu yang cukup lama. Jika sudah tidak menemukan cara, kami akan bertanya kepada setiap Laksamana dan kalian tanyakan kepada Gadis Kapal."
"Siap."
"Mari kita mulai jalankan misi ini."
Semuanya mulai berpencar.
Mereka mencari selama dua jam, dan tidak menghasilkan satu pun hasil. Viltus akhirnya bertemu dengan Taihou. Viltus bertanya kepada dirinya dan hanya mendapat gelengan kepala. Viltus menarik nafas panjang dan kemudian berkata,
"Sebaiknya kita berjalan ke asrama... Di sana mungkin akan mendapatkan satu informasi penting."
"Aku akan ikut."
"Ayo."
Pada saat mereka masuk ke dalam asrama, semua memperhatikan kedatangan dua orang tersebut. Mereka semua sedikit tersenyum melihat hal tersebut. Viltus langsung bertanya,
"Ah... maaf, apakah kau pernah mendengar seseorang yang bernama Elisa von Manstein ?"
"Tidak... Saya tidak pernah mendengarnya."
"Haaahhh... Masih nihil..."
"Ada apa dengan orang ini ? Membuat masalah ?"
"Tidak, dia mekanik baru di Markas ini."
"Oh... Daripada itu..."
Laksamana itu langsung menarik Viltus sebentar, dan kemudian berkata,
"Sejak kapan kau dekat dengan Gadis Kapal ?"
"Huh ?"
"Kau tahu... Kami semua iri dengan kau dan Haruto... Tapi paling iri dengan dirimu, dapat bersentuhan langsung dengan Gadis Kapal."
"Kenapa memangnya ?"
"Kau ini... Sudahlah... Mungkin, apa hubunganmu dengan Taihou ?"
Semua Laksamana langsung mendekati Viltus untuk mendengarkan jawabannya. Viltus hanya menjawab,
"Kami hanya atasan dan bawahan. Tidak ada yang lain. Satu-satunya yang memiliki hubungan antara Laksamana dengan Gadis Kapal adalah almarhum Kimura dengan Aoba. Jika kalian bepikir aku akan memiliki hubungan dengan Gadis Kapal kasar ini, kalian pasti kebanyakan minum sake."
Semuanya langsung menepuk kepala masing-masing mendengar jawaban dari Viltus. Taihou langsung menarik lengan baju Viltus dan berkata,
"Apa sudah selesai berbicaranya ? Kita masih ada..."
"Aku tahu... Terima kasih atas jawaban kalian... Aku akan."
Mendadak salah satu Laksamana langsung bertanya,
"Memangnya wajah mekanik bernama Elisa ini seperti apa ?"
Pada saat itu, Viltus dan Taihou langsung menyadari sesuatu. Mereka mencari seseorang bernama Elisa tanpa mengetahui seperti apa wajah orang tersebut. Melihat reaksi dari Viltus, semua Laksamana langsung berjalan ke dekat Viltus dan saling berebutan bertanya,
'Kau ini siapa ? Kau siapa ?'
'Mustahil... Viltus yang luar biasa itu...'
'Kau pasti lelah... Sebaiknya...'
Viltus langsung berkata,
"Ini aku... Viltus... Terkadang membuat sebuah kesalahan juga wajar."
Semuanya berkata bersamaan,
"JIKA ITU DIRIMU, ITU YANG TIDAK WAJAR !"
Viltus sedikit terkejut mendengar hal tersebut. Taihou langsung tertawa mendengar hal tersebut. Viltus langsung menunjukkan wajah kesalnya. Pada saat bersamaan, semua Laksamana langsung melihat ke arah Taihou, dan berkata,
"Ini pasti salahmu, ya..."
"Eh ?"
"Semenjak kalian satu divisi... Viltus tidak pernah..."
"Eh ?"
Taihou melihat ke arah Viltus yang memberi tanda untuk kabur pada hitungan ketiga. Pada saat sudah hitungan ketiga, mereka berdua lari. Taihou langsung berkomentar,
"Tidak kusangka dirimu mendapatkan respek sebesar itu baik dari seniormu atau dari angkatanmu sendiri."
"Aku baru tahu mengenai hal ini."
"Eh ?"
"Sudahlah... Aku tidak ingin ambil pusing. Sebaiknya, kita secepatnya menanyakan ayah mengenai masalah ini."
"Baik."
Mereka akhirnya tiba di ruangan Tadahisa. Di sana ia melihat Haruto yang juga tidak mendapatkan hasil. Tadahisa melihat ke arah Viltus dan berkata,
"Sepertinya tidak ditemukan ya..."
"Ayah... Foto Elisa... Apakah aku dapat melihatnya ?"
"Eh ?"
"Aku belum mengetahui seperti apa wajahnya."
"Ah... Aku lupa. Tunggu sebentar."
Tadahisa mengambil sesuatu dan kemudian menunjukkan sebuah berkas dokumen Elisa. Pada saat Haruto dan Viltus melihat foto di sana, mereka langsung menyadari wanita tersebut. Dan pada saat itu, mata Viltus seperti kosong setelah teringat sesuatu dan berkata,
"Di mana Aoba ?"
"Eh ? Ah... Aku baru sadar ia tidak bersama kami."
"Berarti dia ada di sana."
"Di sana ?"
"Shiro-nee selalu memberitahu mengenai tempat di mana Aoba akan membawa orang yang dia 'culik' untuk beberapa pertanyaan."
"..."
"Apakah kalian ingin ikut ? Aku akan membawa dirinya ke Siberia"
Senyum dari Viltus entah mengapa jauh lebih mengerikan dari beruang yang marah. Semuanya langsung mengangguk. Viltus langsung keluar dari ruangan Tadahisa diikuti dengan semua Gadis Kapal di ruangan tersebut dan Haruto.
Sementara itu, di dalam ruang pers milik Aoba, seorang wanita dan Aoba yang sudah selesai berkeliling Markas Angkatan Laut Yokosuka sedang beristirahat. Wanita tersebut dengan tenangnya meminum minuman yang ia beli di kedai Mamiya sebelumnya.
Setelah selesai minum, Aoba kemudian berkata,
"Jadi... Elisa-san, benar ? Bagaimana menurutmu tempat bekerjamu nanti ?"
"Hmmm... Tempat ini sangat menarik dan cukup teratur. Aku suka dengan hal tersebut."
"Ahahahahaha... Baguslah. Dan kau sudah tahu siapa yang akan kau periksa secara rutin ?"
"Tentu saja. Kalian sebagai Gadis Kapal."
Elisa langsung tersenyum lebar mendengar hal tersebut. Gadis di hadapannya adalah Elisa von Manstein, mekanik baru yang ditempatkan di Yokosuka oleh Tadahisa atas rekomendasi dari salah satu temannya. Gadis tersebut masih cukup muda untuk ukuran seorang mekanik, namun dari pelatihan ia merupakan salah satu peraih hasil terbaik dalam tes.
Lalu, alasan ia ditempatkan di Yokosuka juga dikarenakan statusnya yang memiliki dua kewarganegaraan. Saat ini, banyak orang yang sering disingkirkan karena tidak murni Jepang, dan Viltus salah satu yang pernah merasakannya dahulu. Elisa di hadapannya pun merasakannya. Sebagai seseorang yang memiliki jarah Jerman dan Jepang, tentu saja tidak mudah bagi dirinya untuk tinggal di Jepang. Dan berhubung di Yokosuka ada seseorang dengan nasib yang sama, tentu saja akan membuat semuanya mudah.
Elisa kemudian berkata,
"Hmmmm... Aku harap peraturan di sini tidak terlalu ketat seperti pada saat pelatihan dulu."
"Ahahahahaha... Tenang saja... Pemimpin di Yokosuka saat ini tidak terlalu ketat dalam masalah peraturan. Selama dirimu tidak terlibat sesuatu yang berbahaya, ia pasti dapat memakluminya."
"Begitukah ? Jadi Laksamana Yanagi Tadahisa seperti itu, ya ?"
"Iya."
"Dan ia cukup baik juga menyediakan seseorang untuk membantuku berkeliling."
"Ahahahahaha..."
"Dan bagaimana kau dapat mengetahui diriku..."
"Aoba mengenal semua orang di Yokosuka, jika Aoba melihat seseorang yang tidak kukenal dapat dideduksikan dirimu adalah Elisa. Ahahahahaha"
"Rupanya kau sangat yakin dengan hal tersebut."
"Tentu saja. Jangan meremehkan Gadis Kapal seperti diriku."
Elisa dan Aoba langsung tertawa keras. Aoba kemudian berkata,
"Aoba dengar kau dulu sangat iseng dengan temanmu... Apakah itu benar ?"
"Tentu saja.."
Elisa kemudian mulai menceritakan semua hal yang pernah terjadi selama pelatihan. Dari situ, Aoba dapat menyimpulkan sesuatu, Gadis di hadapannya akan menjadi teman baik Haruto dan dirinya. Namun, akan menjadi musuh terbesar Viltus.
Pada saat itu, mendadak Elisa berkata,
"Kau tahu... Saat ini setiap dua divisi akan diasuh oleh satu mekanik ?"
"Ah... Itu baru Aoba ketahui."
"Itu baru saja diberikan setelah kasus mekanik mesum."
"Ah..."
Aoba mengangguk dan menuliskan apa yang dikatakan oleh Elisa. Aoba kemudian bertanya kepada Elisa,
"Elisa-san... Di divisi siapa anda akan bekerja ?"
"Hmmmm... Kalau tidak salah di divisi milik Laksamana Kouga Haruto..."
"Ah... Dia mah orang yang cukup baik dan cepat berteman... dan mudah diajak bekerjasama... dapat dikatakan mirip seperti dirimulah..."
"Begitukah ? Baguslah."
"Lalu... Siapa yang satu lagi ?"
"Sepertinya dia juga memiliki darah campuran..."
Mendengar itu, Aoba langsung terdiam dan berkata dalam hati,
'Jangan bilang...'
Elisa mengeluarkan sebuah kertas dan kemudian berkata,
"Laksamana Viltus Amarov."
"Ah..."
"Kenapa ?"
"Dia adalah Laksamana yang memimpin divisiku."
"OH... Jadi aku akan mengasuh dirimu, baguslah."
"Iya."
"Jadi... Dapatkah kau menceritakan kepadaku seperti apa orangnya ?"
Mendengar pertanyaan itu, Aoba berpikir sebentar mengenai sesuatu. Ia kemudian ingat sesuatu dan kemudian berkata,
"Dia akan bertindak bodoh jika sudah meminum minuman kesukaan dia..."
"Alkoholik... Menarik."
"Terakhir kali, ia mabuk ia benar-benar seperti orang idiot... menari-nari tidak jelas dan sebagainya."
"Ohohohohoho... Akan kuberikan dia minuman tersebut agar dapat melihat wajahnya seperti apa. Selain itu, apa lagi yang menarik dari dirinya ?"
"Hmmmm... Kepala dia cukup keras."
"Eh ?"
"Kami sudah memukul kepalanya dengan beberapa benda... Rantang makanan, Nampan minuman, Buku yang cukup tebal, Gantungan mantel..."
"Ah... Dia itu apa ?"
"Mungkin... Dia monster menakutkan yang dimaksudkan untuk menakuti kami... Monster yang tidak berperasaan yang terus mempekerjakan kami tanpa istirahat... Monster yang sangat kejam..."
"Tak kusangka... Dia..."
"Selain itu... Dia juga sering ditemukan di tempat-tempat yang cukup ganjil."
"Apa maksudmu ?"
"Terkadang kau akan menemukan dia terkapar di ruang kerjanya pada pukul 3 pagi... Atau kau akan menemukan dirinya di koridor Gadis Kapal... Atau menemukannya di tengah hutan..."
"..."
Aoba tersenyum dan kemudian berkata,
"Sebelum itu... Maaf, Aoba mengajakmu keliling tidak atas perintah dari Laksamana Yanagi... Melainkan atas keinginan Aoba sendiri."
"Eh ? Begitukah ? Itu tidak apa-apa..."
"Jika Laksamana Yanagi mengetahuinya, tentu saja dia akan marah... Apalagi atasanku..."
"Maksudmu... Viltus ?"
"Iya... Tadi yang kuceritakan mengenai dia itu beberapa tidak benar, namun sebagian dapat dikatakan benar."
"Hmmmm... Lalu, apa yang akan terjadi seandainya Laksamanamu itu menemukan kita di sini."
"Ahahahahahaha... Aoba kurang tahu sih."
"Sebelum itu... Apakah Laksamanamu pernah memiliki sesuatu yang mengejutkan ?"
"Hmmmm... Aoba ingat beberapa penjaga pernah dibuat pingsan oleh dirinya dengan mengendap-endap ke belakang mereka."
Elisa langsung mengangguk. Aoba hanya tersenyum saja dan berkata,
"Namun, itu hanya rumor mengerti."
"Sepertinya aku tahu seperti apa yang akan dilakukan oleh Laksamanamu jika dia mengetahui apa yang kau lakukan."
"Seperti apa ?"
"Dia akan melihat dengan tajam ke arah kita berdua. Mata birunya akan seperti orang dengan mata kosong. Selain itu aura dari wajahnya sangat gelap."
"Wow... Kau... Tunggu darimana kau tahu Viltus memiliki mata biru ?"
"Biar kutebak... Dia sangat alih memanah... Dan juga mengenakan kacamata... Selain itu, warna rambutnya hitam... benar ?"
"Iya..."
"Selain itu..."
"Tunggu... Jangan bilang..."
"Lari..."
Aoba sontak berlari keluar pintu lain di belakang Elisa, namun dia sudah ditangkap oleh Viltus terlebih dahulu. Viltus melihat ke arah Aoba dengan tatapan kosong, dan tersenyum,
"Halo... Aoba..."
"Halo... Viltus-san... Ahahahaha..."
"Siapakah wanita ini ?"
"Dia... Elisa von Manstein..."
"Ok... Mekanik baru kita..."
"Sejak kapan kau di sini jika Aoba boleh tahu..."
"Sejak kau mulai membicarakan hal-hal burukku..."
"..."
Viltus melihat ke arah Elisa dan kemudian berkata,
"Aku bawa dia sebentar, boleh ?"
"Silakan... Silakan..."
"Baguslah... Taihou, temani wanita ini sebentar..."
Setelah itu, Viltus membawa Aoba keluar. Yang didengar setelah itu adalah teriakan yang sangat keras dari Aoba. Tidak berapa lama, Viltus masuk kembali ke ruangan tersebut dengan wajah yang berbeda. Jauh lebih berwarna. Ia kemudian berkata,
"Maafkan kelancangan dari anak buahku..."
"Tidak apa-apa."
"Sebelum itu... Perkenalkan namaku..."
"Viltus Amarov. Satu-satunya Laksamana yang memiliki darah campuran Jepang Russia."
"Kau sudah mengetahuinya, ya ? Dari Aoba ?"
"Tepat sekali."
Viltus langsung tertawa mendengarnya. Taihou mendadak berkata,
"Ummm... Laksamana..."
"Ada apa, Taihou ?"
"Aoba..."
"Tenang... Dia hanya pingsan... Lagipula, aku tidak dapat memanah dia... Aku khawatir akan..."
Mendadak Elisa berkata,
"Tenang saja... Kau dapat menyerang Gadis Kapal dengan pisau, anak panah, dan semacamnya... Selama kau tidak menyerang tepat ke jantungnya atau menghancurkan seluruh tubuhnya. Selama bukan hal tersebut, dia akan baik-baik saja. Hanya... Medium Damage atau Heavy Damage."
"Begitukah ?"
Mendadak Viltus tersenyum iblis mendengar hal tersebut. Taihou sedikit takut melihat wajah yang ditunjukkan oleh Viltus. Kemudian Elisa berkata,
"Selain itu... Kau adalah atasanku, benar ?"
"Dapat dikatakan seperti itu... Namun, aku tidak terlalu senang sih dipanggil demikian..."
"Hmmm... Menarik."
"Huh ?"
"Tidak... Tidak apa-apa..."
"Sudahlah... Aku mewakili ayahku dan Haruto mengucapkan selamat datang di Markas Angkatan Laut Yokosuka ini."
"Terima kasih banyak."
"Aku berharap bantuan darimu."
"Begitu pula dengan diriku"
Setelah itu mereka berjabat tangan dan mulai membicarakan perihal pekerjaan yang akan diberikan kepada Elisa untuk ke depannya.
Dua minggu kemudian. Taihou dan Shigure terlihat cukup khawatir melihat wajah yang ditunjukkan oleh Viltus selama beberapa hari ini. Dia terlihat menunggu sesuatu. Pada saat Taihou akan bertanya kepada Viltus, Viltus berkata,
"Mereka... Mereka... Mereka..."
Entah mengapa aura dari Viltus semakin berbahaya. Tidak berapa lama, mereka mendengar suara dua orang yang saling berebut akan satu hal. Viltus langsung berkata,
"Silakan masuk."
Pada saat Taihou dan Shigure melihat wajah dari Viltus, mereka semakin takut. Wajah senyum ingin membunuh. Pada saat pintu terbuka, Haruto dan Elisa langsung merasakan aura yang menakutkan dari dalam. Viltus langsung berkata,
"Aku beri kalian total lima menit untuk menjelaskan keterlambatan menyerahkan dokumen itu..."
Elisa dan Haruto langsung terdiam. Pada saat akan menjelaskan sesuatu, Viltus langsung mengangkat tangannya dan memberi tanda dua.
"Dua vodka... Dari kalian masing-masing... Untuk kesalahan ini..."
Elisa dan Haruto langsung tertawa lemas mendengar hal tersebut. Setidaknya, Viltus sama sekali tidak membunuh mereka berdua seperti aura yang dipancarkan oleh Viltus.
Mendadak, terdengar suara orang yang lari. Mendadak muncul Tadahisa yang berkata,
"Viltus... Kami mendapat laporan beberapa Laksamana baru..."
Viltus langsung berdiri dan membuka jendela. Mengetahui hal tersebut, Taihou langsung memberikan busur panah kepada Viltus. Shigure memberikan anak panah kepada Viltus. Setelah mendapat kedua hal tersebut, Elisa langsung berlari keluar bersiap-siap menerima Gadis Kapal yang hadir di dock nanti.
Viltus menarik nafas panjang dan kemudian melepas anak panahnya. Setelah itu, terdengar suara dari Kongou di bawah,
"AOBA TEWAS, DESU~"
Viltus tersenyum dan melihat ke arah semua orang di dalam ruangan tersebut. Sekarang mereka tahu, jangan membuat masalah dengan Viltus yang marah. Karena dia pasti akan membunuh orang tersebut.
HakunoKazuki di sini...
Ummmm... Saya masih lanjut di sini sepertinya... Welp...
Mumpung ada waktu.
Ok... Saya akan beritahu kalian semua. Cerita ini akan memperkenalkan juga beberapa karakter yang akan muncul nanti di cerita utama di seriku yang lain. Jadi dapat dikatakan ini adalah prequel ? Entahlah.
Cukup sampai di sini saja.
Saya mengucapkan selamat menikmati seri ini. Semoga anda cukup puas.
Sayonara.
