Chapter 4

Deathly Sky


Pagi itu, Aoba dan Taihou sedang berjalan menuju ke arah Gedung Administrasi tempat di mana Viltus selalu mengerjakan dokumen-dokumen penting di markas angkatan laut Yokosuka. Sudah beberapa minggu berlalu semenjak kedatangan Elisa, dan kehidupan di Yokosuka semakin berwarna.

Kelompok yang terdiri dari Viltus, Haruto dan Elisa sudah terkenal sebagai kelompok paling ribut seantero Yokosuka, namun mereka diimbangi dengan hasil positif yang selalu diberikan oleh mereka semua selama ini.

Dan hari itu, mereka tiba di depan ruang kerja Viltus. Mendadak Aoba berkata,

"Ummmm... Tumben sekali tempat ini cukup sunyi... Biasanya pada pagi hari akan cukup ribut di sini."

"Sunyi... Itu sangat mencurigakan mengerti..."

"Kau benar, Taihou... Pasti ada sesuatu..."

Pada saat Taihou membuka pintu, mereka melihat ruangan tersebut sudah sangat berantakan. Selain itu dapat tercium bau alkohol yang sangat keras. Di dalam sana, Elisa tertidur di atas sofa yang ada di dalam ruang kerja Viltus, tempat di mana Viltus biasanya tidur bila dia lembur. Selain itu, Haruto tertidur di lantai dengan damai. Dan, pemimpin mereka Viltus tertidur di atas meja kerjanya dengan sebotol vodka di depannya.

Taihou tidak dapat berkata apa-apa mengenai apa yang dia lihat. Hal tersebut merupakan kejadian baru bagi dirinya saat ini. Pada saat itu, Aoba langsung berkata,

"Ahahahaha... Efek dari pesta kemarin malam rupanya."

"Pesta ?"

"Iya. Mereka merayakan kemenangan mereka terakhir kali dengan berpesta di sini."

"..."

"Taihou... Jangan bilang kau..."

"Tidak, aku tidak tahu."

"Sepertinya mereka sama sekali tidak memberitahu kita, ya."

"Lalu dari mana kau tahu ?"

"Jangan meremehkan Aoba... Ehehehehehe."

Taihou hanya tersenyum saja mendengar jawaban dari Aoba. Ia kemudian menarik nafas panjang, dan kemudian berkata,

"Aoba, bantu aku membangunkan mereka semua."

"Siap."

Taihou langsung membuka gorden, dan jendela di ruang kerja Viltus. Cahaya matahari masuk ke dalam ruangan tersebut dan membangunkan Viltus yang tertidur. Taihou langsung berdiri di depan Viltus dan berkata,

"Selamat pagi, Laksamana Idiot."

"Ah... Selamat pagi, Dada Rata..."

"Sudah cukup senang mabuk-mabukan ?"

"Ahahahaha... Ketahuan ya ?"

"Tentu saja dengan kondisi seperti ini."

Viltus memperhatikan kondisi ruang kerjanya dan tersenyum kecil. Dia masih sedikit di bawah efek alkohol. Mendadak Viltus berkata,

"Hei... Dada Rata..."

"Ummm ? Ada apa, Laksamana Idiot ?"

"Kemari..."

Taihou cukup bingung dengan Viltus yang dalam keadaan setengah sadar, dan di bawah pengaruh dari alkohol. Ia akhirnya mengikuti apa yang dikatakan oleh Viltus dan menunduk di dekat Viltus. Pada saat itu, Taihou dapat melihat dengan jelas wajah Viltus. Mata biru miliknya, seperti sebuah air yang sangat tenang.

Viltus tersenyum, dan kemudian memajukan tubuhnya ke arah Taihou. Aoba yang melihat hal tersebut langsung mengetahui ke arah mana hal tersebut. Viltus langsung mencium Taihou yang tanpa persiapan apapun.

Wajah Taihou langsung memerah pada saat bibir mereka berdua bersentuhan. Pikiran dia mendadak sangat kacau. Dan yang ia lakukan adalah menampar Viltus dengan keras dan berteriak,

"Dasar Laksamana Mesum !"

Taihou langsung berlari keluar tanpa memperdulikan Viltus yang terjatuh dari kursinya. Pada saat terjatuh, Viltus tersadar dan melihat ke sekitarnya. Selain itu, ia merasakan pipi yang sangat panas. Ia berdiri dan berkata,

"Ah... Kami rupanya minum sampai berantakan seperti ini... Uh... Aoba ?"

Aoba membatu di tempat karena kejadian yang dilihat sebelumnya. Viltus, masih memegang pipinya yang panas, kemudian bertanya kepada Aoba,

"Ummm... Rasanya tadi aku mendengar suara Taihou... Apa itu hanya perasaanku saja atau apa ?"

"Itu... Ahahahahaha..."

"Dia tadi di sini atau apa ?"

"Iya. Dia di sini."

"Lalu kemana dia ?"

Aoba hanya tertawa saja mendengar pertanyaan tersebut. Viltus langsung menghela nafas dan berkata,

"Jangan bilang... Aku..."

"Dapat dikatakan seperti itu..."

"..."

Viltus langsung menunduk dan kemudian duduk di kursinya kembali. Ia melihat ke langit-langit dan kemudian berkata,

"Sepertinya... Dia akan membenciku..."

"Huh ?"

"Sudahlah... Aku hanya..."

"Kau mencintai Taihou, ya..."

Viltus menutup matanya pada saat mendengar pertanyaan tersebut. Aoba melihat ke arah Viltus karena ia yakin mengenai perasaan dari Viltus. Viltus hanya menjawab singkat,

"Mungkin... Aku tertarik dengan dirinya... Namun, bukan berarti aku mencintainya."

"Fufufufufu... Dapat saja hal tersebut menjadi cinta."

"Jika itu terjadi... Entahlah apa yang akan terjadi."

Aoba dan Viltus tertawa bersama setelah itu, dan membangunkan Elisa dan Haruto. Tidak berapa lama, masuk Shigure yang langsung berkata,

"Ah... Laksamana... Kau jangan bilang..."

"Tenang saja, Shigure. Aku baru berpesta kemarin. Bukan bekerja."

"Yang kumaksud adalah... Kau belum bersiap-siap untuk acara penerimaan Laksamana Baru ?"

"Huh ?"

"Bukannya kau yang akan membacakan pidato dari angkatanmu ?"

Viltus langsung melihat ke arah kalender dan jam. Ia langsung berdiri dan kemudian berjalan ke arah pintu sembari berkata,

"Shigure... Aku akan..."

"Cepat sekarang. Jangan banyak omong."

"Siap."

Viltus langsung berlari ke asramanya. Setelah Viltus berlari, tidak berapa lama Shigure kemudian berkata,

"Taihou, masuk saja... Dia tidak ada di sini."

"Kau yakin..."

"Iya."

Taihou langsung melihat ke dalam, dan tidak menemukan Viltus di sana. Ia langsung menghela nafas. Shigure kemudian meminta bantuan Taihou dan Aoba untuk membereskan ruangan tersebut sekaligus membawa Haruto dan Elisa kembali ke asrama mereka.

Setelah membawa Haruto dan Elisa, Taihou dan Aoba langsung membantu Shigure membenahi ruang kerja Viltus. Pada saat itu, Shigure langsung berkata,

"Taihou..."

"Ada apa, Shigure ?"

"Tumben sekali kau malu-malu seperti tadi... Ada apa gerangan ?"

"Ah... Itu..."

Taihou sedikit gelisah. Shigure yang melihat itu langsung melihat ke arah Aoba. Aoba langsung membisikkan sesuatu. Mendengar itu, Shigure langsung tertawa. Shigure melihat ke arah Taihou, dan berkata,

"Kau pun punya sesuatu dengan dirinya."

Taihou langsung memalingkan wajahnya, tidak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh Shigure setelah itu. Ia langsung melihat ke arah jam dinding di ruang kerja Viltus. Dapat diketahui, satu jam sebelum acara tersebut selesai, untuk digunakan kembali sebagai ruang kerja.


Satu jam berlalu, dan Viltus sudah kembali di ruang kerjanya. Ia mulai dengan memberitahukan satu hal hasil dari rapat dengan ayahnya, Tadahisa.

"Laksamana Tinggi menempatkan unit kita sebagai unit untuk membantu Laksamana Baru dalam berkembang dan juga berbaur dengan semua Laksamana yang lain. Maka dari itu, mereka akan memilih satu Laksamana Baru untuk bergabung ke unit kita sembari memperhatikan bagaimana modus operandi kita dalam bekerja."

Semuanya mengangguk. Viltus langsung tersenyum dan kemudian berkata,

"Aku harap kalian semua dapat menerima Laksamana Baru ini selama ia berlatih di bawah kita."

Pada saat Viltus tersenyum, semua menangguk. Kecuali Taihou. Ia langsung memalingkan wajahnya dari Viltus. Viltus tidak terlalu memperhatikan hal tersebut karena ia harus bersiap-siap menyambut Laksamana Baru tersebut.

Mendadak Uzuki dan Yayoi berlari masuk ke dalam dan bersembunyi di balik Aoba. Aoba langsung berkata,

"Uzuki... Yayoi... Ada apa ?"

"Ibu... Ada orang yang menakutkan di luar sana."

"Huh ? Menakutkan ?"

"Dia sepertinya seseorang yang mengincar anak kecil... Aku takut..."

Aoba tersenyum dan menenangkan Uzuki dan Yayoi yang masih ketakutan. Sementara, Taihou langsung berkata,

"Lolicon ?!"

"Mungkin saja seperti itu..."

"Kenalanmu mungkin, Laksamana ?"

"Aku sama sekali tidak pernah mendengar ada satupun teman angkatanku yang Lolicon. Rata-rata senang dengan dada yang cukup besar."

"Kau..."

Entah mengapa rasa malu dari Taihou hilang, dan kembali menjadi Taihou yang biasanya dilihat oleh semuanya. Viltus sangat mengetahui bagaimana membalikkan switch milik Taihou agar kembali menjadi Taihou yang biasa ia lihat.

Sementara, Ryuujou dan Zuihou langsung melihat ke dada mereka setiap kali Viltus berkata seperti itu, dan kali ini jauh lebih sakit saat mendengar itu. Mereka berdua bermaksud menyerang Viltus, tapi setidaknya mereka memiliki senjata yang jauh lebih baik lagi. Taihou.

Sebelum Taihou mulai berbicara membalas Viltus, Shigure langsung berkata,

"Laksamana, mengenai Laksamana baru yang akan membantu kita..."

"Dia seharusnya sudah tiba sebentar lagi."

"Seharusnya ?"

Tidak berapa lama terdengar ketukan dari luar ruangan. Viltus langsung mempersilahkan orang yang mengetuk untuk masuk. Setelah masuk, mereka melihat seseorang yang memiliki paras berbeda dari orang Jepang. Seorang pria yang cukup tinggi dan memiliki rambut coklat. Ia tersenyum melihat semua orang di dalam sana.

Belum sempat ia memperkenalkan diri, Uzuki langsung menunjuk ke arah pria tersebut dan berteriak,

"Itu orangnya !"

"Ah... Kau... Gadis Kapal kecil imut yang tadi lari ya."

Sontak semuanya langsung berdiri dan bermaksud melindungi Uzuki dan Yayoi. Pria itu langsung berkata,

"Ahahahahaha... Jangan seperti itu... Aku hanya ingin berkenalan dan mengajak mereka bermain."

"Kau yakin ?"

"Tentu saja. Saya pasti dapat dipercaya."

"..."

Viltus langsung terdiam. Mendadak pria tersebut langsung berkata,

"Sungguh sebuah divisi yang sangat unik ya."

"Unik ? Kenapa kau berbicara demikian ?"

"Ya... karena dirimu memiliki cukup banyak Kapal Perusak."

"Huh ?!"

Viltus memperhatikan sekitarnya dan hanya melihat Shigure, Yuudachi, Uzuki dan Yayoi. Ia sama sekali tidak melihat satu pun Gadis Kapal dari kelas Kapal Perusak di ruangannya. Namun, pada saat itu ia menyadari siapa yang ia maksud.

Pria itu langsung berkata sembari menunjuk ke arah Ryuujou dan Zuihou,

"Contohnya adalah dua Gadis Kapal di sebelah kiriku ini... Mereka Kapal Perusak kelas mana ?"

Viltus langsung terdiam mendengar hal tersebut. Ia sama sekali tidak dapat berkata apa-apa mengenai hal tersebut. Semua Gadis Kapal lain juga terdiam, kecuali Ryuujou. Ia langsung berkata,

"Apa-apaan kau, hah ? Kau ini masih baru dan sudah memanggilku seperti itu !"

"Tapi... Kau terlihat..."

"Heh... Akan kuberitahu dirimu... Aku adalah Gadis Kapal dari kelas Kapal Induk Ringan kelas Ryuujou yang pertama, Ryuujou. Ingat itu ! Aku adalah Kapal Induk !"

"Kapal Induk ? Dengan postur tubuh seperti itu..."

Pria itu melihat ke arah Ryuujou, dan Ryuujou langsung mengetahui ke arah mana yang menyebabkan pria itu langsung berpikiran seperti itu. Ryuujou langsung marah dan ditahan oleh Shigure. Sementara, Viltus langsung berpikir,

'Sepertinya... Aku tahu siapa korban selanjutnya...'

Mendadak pria itu melihat ke arah Taihou dan kemudian berkata,

"Lalu... Kapal Perusak ini ? Walaupun ia lebih tinggi dari mereka sih..."

Taihou langsung seakan-akan kehilangan nyawanya pada saat ia berkata seperti itu tanpa rasa bersalah. Viltus sebenarnya sudah bersiap-siap mendengar hal tersebut, namun melihat reaksi dari Taihou ia langsung menahan tawanya dan memalingkan wajahnya. Taihou mengetahui mengenai hal tersebut langsung berkata,

"Laksamana !"

"Maaf... Maaf... Aku maklumi dia..."

"Maklumi apa ?"

"Dengan dada yang menyerupai Papan itu... tentu saja..."

Viltus langsung menahan pukulan dari Taihou. Taihou langsung tersenyum dan berkata,

"Sepertinya kau benar-benar sudah menyiapkan kalimat terakhirmu, ya ?"

"Hohohoho... Kau berani menyerang Laksamanamu ?"

"Heh... Sekarang kau berkata seperti itu, ya... Laksamana Mesum..."

Viltus dan Taihou sudah bersiap-siap untuk saling menyerang, namun ditahan oleh Shigure yang langsung berkata dengan wajah yang sedikit hitam auranya,

"Kalian... Hentikan sekarang juga..."

""!""

"Aku... Kecewa dengan kalian berdua... Apa perlu... Aku tidak menahan diri kembali ?"

Viltus dan Taihou langsung terdiam dan mereka menunduk ke arah Shigure dan berkata secara bersamaan,

"Maafkan kami..."

"Bagus... Sekarang kita lanjutkan pembicaraan kita dengan Laksamana baru ini."

Viltus dan Taihou melihat satu sama lain, dan mengangguk. Pria itu akhirnya mengetahui Taihou itu siapa dari Aoba yang dari tadi berbincang-bincang dengan dirinya selama Taihou dan Viltus sedikit bertengkar.

Viltus langsung berkata,

"Maafkan saya menunjukkan pemandangan yang tidak pantas di hadapan anda."

"Tidak apa-apa... Sekarang saya yakin satu hal."

"Apakah itu ? Jangan bilang mengenai mereka..."

"Tidak. Saya masuk ke dalam divisi yang sangat hidup."

Mendengar itu, Viltus langsung tersenyum. Tidak hanya dia, semua Gadis Kapal di dalam ruangan tersebut tersenyum juga, kecuali Ryuujou yang masih kesal dengan komentar dari pria tersebut. Viltus kemudian berkata,

"Baiklah... Dapatkah anda memperkenalkan diri anda sendiri ?"

"Bukankah ada dokumen..."

"Tidak... Kalian semua dimasukkan secara acak oleh atasan kalian... Ya... Maka dari itu tidak ada dokumen yang mendukung mengenai dirimu."

Pria itu mengangguk dan berpikir sebentar. Sebelum ia berbicara, Taihou membisikkan sesuatu kepada Viltus,

"Laksamana... Apakah kau sadar satu hal... Cara bicara dia cukup unik..."

"Gaijin."

"Eh ?"

"Mungkin itu alasan kenapa dia dimasukkan ke dalam divisi ini."

"Apakah ada Laksamana lain yang juga dari luar ? Atau hanya dia sendiri saja ?"

"Tidak... Aku dengar setidaknya ada empat Laksamana dari Luar Jepang. Jika aku ingat masing-masing satu dari Hungaria, Russia, Jerman, dan Spanyol."

"Jerman ?! Sama seperti Elisa-san."

"Iya. Sayangnya dia tidak bersama kita, dia bersama divisi lain."

"Sayang juga sih."

Pria itu melihat ke arah Viltus dan tersenyum. Ia menarik nafas panjang dan kemudian berkata,

"A nevem Magyar Libyet" (Namaku adalah Maygar Libyet)

Semuanya langsung terkejut mendengar hal tersebut. Magyar masih tetap melanjutkan memperkenalkan dirinya dengan bahasa ibunya. Semua Gadis Kapal terlihat sangat bingung dengan apa yang dikatakan oleh Magyar, sementara Viltus hanya tersenyum saja.

Mendadak Magyar berkata,

"Yest' li voprosy ?" (Apakah ada pertanyaan ?)

"Sovershilos' ?" (Sudah selesai ?)

Magyar sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Viltus langsung berkata,

"Tidak baik mengerti membuat semua orang yang belum kau kenal kebingungan seperti itu."

"Ahahahahaha... Maaf, aku hanya bercanda."

"Jangan melakukan itu lagi."

"Aku tahu... Aku tahu..."

"ili ya poshlyu vas v Sibir." (Atau saya akan mengirim anda ke Siberia)

"Siap."

"Bagus"

Semua Gadis Kapal semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh mereka berdua. Magyar langsung berkata,

"Bagaimana anda dapat..."

"Perkenalkan nama saya adalah Viltus Amarov. Saya memiliki sedikit lidah rusia dari ibu saya."

"Pantas."

"Sudah... Perkenalkan kembali dirimu, Magyar. Tapi gunakan Jepang sekarang."

"Tentu saja."

Magyar langsung mengulang perkenalannya, dan semuanya mengangguk pada saat Magyar berkata seperti itu. Setelah itu, Viltus langsung berkata,

"Selamat datang di divisi ini... Semoga kau dapat bekerja dengan baik dengan semuanya."

"Siap, Viltus."


Satu minggu berlalu semenjak perkenalan itu, Magyar selalu ditemukan di ruang kerja Viltus sembari membantu Viltus memilah-milah beberapa dokumen. Ada yang berubah dari Viltus selama satu minggu itu. Jika pada umumnya, semua orang dan Gadis Kapal akan menemukan Viltus dalam keadaan kusut berantakan, sekarang ia masih kusut namun lebih rapi.

Pada saat itu, mendadak Magyar berkata,

"Viltus..."

"Hmmm..."

"Kapan kita akan pergi melaut ?"

"Mengenai itu..."

Magyar akhirnya berdiri dan kemudian membuat sebuah pose yang tidak umum. Ia berkata sembari menunjuk ke arah Viltus,

"Kita adalah Laksamana... Laut adalah teman kita... Kita seharusnya bertempur di tengah lautan... BUKAN di tengah laut dokumen seperti ini !"

"Saat ini, kita tidak mendapatkan satu pun misi yang dapat kita lakukan."

"Mengapa ?! Bukankah kita bisa mengambil misi..."

"Divisi ini merupakan salah satu divisi tingkat medium dan juga merupakan salah satu divisi pengintaian. Jadi, kita tidak akan mendapatkan misi kecuali misi tersebut mendapat kesulitan yang membutuhkan kemampuan Kapal Induk atau merupakan misi pengintaian."

"Ah... Aku baru tahu..."

"Huh ? Aku belum memberitahumu ?"

Magyar langsung menggelengkan kepalanya. Viltus akhirnya menepuk wajahnya sendiri dan kemudian berkata,

"Sepertinya... efek dari pukulan itu mulai terasa sekarang... Aku semakin cepat lupa memberitahu sesuatu..."

"Kau dipukul siapa ?"

"Sudahlah... Aku tidak ingin membahasnya."

Sebuah ketukan terdengar, dan Viltus mempersilahkan orang tersebut untuk masuk. Setelah pintu terbuka, Shigure dan Yuudachi masuk sembari membawa minuman untuk Magyar dan Viltus. Magyar langsung menerima dengan senang hati, dan bermain dengan Yuudachi untuk menghilangkan penat, sementara Viltus meminta menaruh minuman miliknya di tempat biasa.

Shigure hanya tersenyum melihat kelakuan dari Viltus. Pada saat itu, Shigure melihat ke sekeliling dan kemudian bertanya,

"Taihou... Di mana ?"

"Dia sedang berlatih dengan semua Gadis Kapal kelas Kapal Induk... Aku dengar ada masalah dengan salah satu misi..."

Shigure berjalan ke dekat Viltus dan melihat dokumen yang dibaca oleh Viltus. Dokumen tersebut menjelaskan mengenai beberapa divisi yang gagal menyelesaikan misinya karena serangan dari udara yang tiba-tiba. Cukup banyak Gadis Kapal yang menjadi korban dalam beberapa misi terakhir tersebut.

Shigure langsung mengerti apa yang ada di dalam pikiran Viltus. Viltus kemudian berkata,

"Aku sudah meminta Elisa untuk mengecek spesifikasi untuk kapal komando dalam membaca pesawat yang datang. Seharusnya, tidak ada masalah dalam membaca kehadiran pesawat lawan... Tetapi..."

"Di lapangan berbeda jauh... Benar ?"

"Iya... Aku penasaran dengan hal tersebut..."

"Dan jika seperti ini... Kemungkinan..."

"Kita akan mendapatkan misi baru."

Viltus melihat ke arah Magyar yang sedang bermain-main dengan Yuudachi dan kemudian tersenyum. Tidak berapa lama, mereka semua mendengar suara mesin pesawat yang meluncur dengan bebas di udara. Viltus melihat ke luar jendela, dan tersenyum. Ia langsung berkata,

"Mereka semua sudah siap... Untuk misi ini..."

"Iya..."

"Aku harap... Huh ?"

Mendadak, Viltus dan Shigure mendengar Yuudachi dan Magyar.

"Magyar-san... Kau baik-baik saja ?"

"Aku... Baik-baik saja..."

"Kau yakin, poi ?"

"Iya."

Magyar tersenyum ke arah Yuudachi dan meminta Yuudachi untuk tidak menganggunya dahulu karena ia masih ada pekerjaan. Sementara itu, Viltus langsung melihat gerak-gerik yang aneh dari Magyar. Pada saat sebuah pesawat melewati jendela kamar Viltus, Viltus semakin yakin akan satu hal. Ia sama sekali tidak mendengar komentar dari Shigure, hanya melihat Magyar yang menjadi pucat dan tangannya bergetar pada saat pesawat melewati jendela itu.

Viltus kemudian berkata,

"Waktu sudah cukup siang... Magyar, kau kembali saja untuk berkumpul dengan Laksamana baru lain."

"Eh ? Tapi, pekerjaan ini..."

"Aku dapat melakukan ini semua sendiri."

"Baiklah..."

"Selain kau harus dekat dengan Seniormu... Kau harus dekat juga dengan angkatanmu sendiri, walaupun aku yakin itu akan sulit."

"Kau benar."

"Sudah pergi saja dahulu. Anggap saja ini istirahat atas semua pekerjaanmu selama satu minggu ini."

"Siap."

Magyar langsung berlari keluar, diikuti dengan Yuudachi yang ia ajak keluar. Shigure melihat ke arah Viltus dan kemudian berkata,

"Laksamana..."

"Panggil Aoba... Aku ada pekerjaan untuknya..."

"Eh..."

"Lakukan saja... Karena ini sangat penting... Untuk Magyar..."


Tidak berapa lama, beberapa Laksamana dipanggil oleh Tadahisa untuk membahas satu hal. Viltus salah satu yang dipanggil ke sana. Viltus sudah menduga mengenai misi yang akan dijalankan oleh dirinya.

Setelah itu, ia langsung berjalan kembali ke ruang kerjanya dan menemukan semua Gadis Kapal dari divisinya sudah berkumpul, bersama dengan Magyar. Magyar langsung berdiri dan kemudian berkata,

"Kemungkinan besar... Ini adalah..."

"Ya... Kita mendapatkan sebuah operasi yang cukup sulit saat ini."

"Yahooo..."

"Magyar... Tenang dahulu. Aku harus memberitahukan perihal operasi ini."

"Siap."

Viltus melihat ke arah semuanya, dan matanya berhenti di Aoba. Aoba tersenyum dan menunjukkan buku catatan miliknya. Viltus mengangguk, dan langsung berkata,

"Baiklah... Operasi ini mengharuskan kita menghadapi beberapa Kapal Induk dari lawan... Mereka telah menghancurkan cukup banyak Gadis Kapal kita selama beberapa minggu ini dan menghalangi langkah kita dalam membebaskan beberapa wilayah dari Abyssal."

Viltus berhenti sebentar dan kemudian berkata,

"Maka dari itu, divisi kita yang terdiri dari satu Kapal Induk Ringan dan satu Kapal Induk akan menjadi tulang punggung dari misi ini. Selain divisi kita terdapat dua divisi Kapal Induk lain yang diturunkan, namun kita yang diharapkan menyerang langsung ke jantung pertahanan lawan."

Semuanya mengangguk. Viltus kemudian berkata,

"Untuk lebih lanjut, akan saya beritahu di kapal komando. Sekarang kalian semua dapat bersiap-siap untuk misi ini. Kita akan berkumpul pada jam 0700 besok."

"Siap !"

"Lalu untuk perlengkapan yang dibawa... Kapal Perusak akan membawa satu 13 Air Radar dan 10 mm Anti Air Gun, begitu pula dengan Kapal Penjelajah Ringan. Sementara untuk Kapal Penjelajah Berat akan membawa Dua 20.3 CM Main Gun, sebuah pesawat pengintai dan radar permukaan untuk menghancurkan lawan. Dan untuk Kapal Induk, satu dari kalian akan membawa Pesawat Pengintai, sementara sisanya tolong bawa Pesawat Tempur dan Pesawat Pembawa Torpedo. Apakah kalian mengerti ?"

"Siap."

"Bagus, sekarang kalian semua bubar ! Kita akan bertemu besok."

Semua Gadis Kapal keluar kecuali Aoba. Selain itu, Magyar pun masih tinggal di ruangan tersebut. Magyar maju dan kemudian berkata,

"Viltus... Akhirnya kita..."

"Aku tahu."

"Aku dapat menunjukkan kepada mereka..."

"Namun, apakah dirimu siap ?"

"Siap ? Tentu saja aku siap !"

"Jika kau siap, sebaiknya kau pergi sekarang... Aku membutuhkan tenaga itu besok."

"Siap."

Magyar langsung keluar. Aoba kemudian berjalan ke dekat Viltus dan memberikan kepada Viltus catatan mengenai apa yang diminta oleh Viltus. Viltus membaca sedikit dari catatan tersebut, sebelum Aoba berkata,

"Kau tahu ini..."

"Ini adalah hal yang wajar... Seseorang dari Angkatan Darat pindah ke Angkatan Laut untuk melanjutkan melindungi manusia."

"Karena..."

"Abyssal sudah diusir dari atas daratan, kembali ke lautan. Angkatan Darat dapat dikatakan beristirahat sebentar, dan saatnya Angkatan Laut yang beraksi. Dan sebagai bantuan, Angkatan Darat mengirim sebagian dari tentara mereka kemari. Seperti Magyar."

"Dia itu sudah... Padahal masih cukup muda."

"Sudahlah... Pergi sana, aku butuh kau untuk operasi besok."

"Siap !"

Aoba langsung lari keluar dari ruangan tersebut. Viltus mengikuti Aoba dan mengunci pintu. Pada saat ia akan berjalan, ia melihat Taihou. Viltus berkata,

"Tenang saja... Aku tidak akan tidur di sini..."

"Aku tahu koq, karena setiap ada misi... Kau pasti akan tidur di asrama."

"Lalu... Ada apa ?"

Taihou berjalan ke dekat Viltus dan kemudian berkata,

"Apa yang kulewatkan ? Tumben sekali kau meminta bantuan Aoba dalam sesuatu."

"Itu..."

"Pasti mengenai Magyar, ya ?"

"Iya."

"Memangnya... Apa yang terjadi pada..."

Viltus langsung menepuk kepala Taihou dengan pelan. Taihou sangat terkejut dengan hal tersebut. Viltus tersenyum dan kemudian berkata,

"Sebaiknya kau tidak memikirkan hal ini."

"Eh... Dia kan salah satu..."

"Sebaiknya kau fokus di operasi ini... Itu adalah pertempuran kalian... Sementara, aku ada pertempuran lain..."

Taihou langsung mengetahui apa yang dimaksud oleh Viltus. Taihou langsung mengangguk. Viltus langsung berkata,

"Sudah... Sekarang kembali saja ke asramamu dan tidur... Besok kita akan menjalankan misi pagi-pagi..."

"Aku tahu..."

"Lalu ?"

"A... Aku ada permintaan..."

Viltus cukup terkejut mendengar hal tersebut. Suatu hal jarang dikatakan oleh Taihou baru saja didengar olehnya. Taihou melihat ke arah Viltus dan kemudian berkata,

"Jika... Jika aku mendapatkan MVP... Tolong... Ummm..."

"Tolong apa ?"

"Tepuk kepalaku seperti tadi..."

Viltus cukup terkejut dengan hal tersebut. Ia kemudian melihat Taihou yang sedikit merah wajahnya, dan kemudian berkata sembari menepuk kepala Taihou,

"Tentu saja..."

"Terima kasih banyak..."

Taihou langsung menunduk dan pergi ke asramanya. Viltus berhenti sebentar, dan wajah yang ditunjukkan oleh Taihou sebelumnya kembali muncul di ingatannya. Ia langsung ingat pertanyaan dari Aoba sebelumnya,


Kau mencintai Taihou, ya...


Viltus bergumam,

"Apakah aku benar-benar... Tidak... Tidak bisa..."

Ia kemudian melihat ke arah tangannya dan kemudian berkata,

"Aku tidak dapat menerima hal tersebut... Hal yang sangat manis seperti itu... Hal ini... Sangat baru... Bagiku..."

Viltus sedikit terdiam setelah berkata seperti itu, kemudian menggelengkan kepalanya, dan memukul kepalanya sendiri. Ia kemudian berkata,

"Viltus... Fokus... Kau ada operasi besar di depanmu... Sebaiknya kau tidur sekarang dan bersiap untuk besok."

Viltus menarik nafas panjang dan kemudian berjalan kembali ke asrama.


Keesokan harinya, Viltus telah bersiap-siap di dalam kapal komandonya. Tidak berapa lama, Magyar masuk ke dalam kapal komando tersebut dan berkata,

"Jadi... Ini ya kapal komando yang konon katanya yang paling maju dalam teknologi saat ini."

"Selain Gadis Kapal tentunya."

"Iya, ahahahahaha"

Viltus langsung memberi perintah kepada sistem.

"Laksamana kepada sistem. Tolong cek persiapan keberangkatan kita yang akan dilakukan tepat pada jam 0700."

"Sistem kepada Laksamana. Pengecekan dilakukan."

Setelah itu, Viltus langsung mengecek peta lokasi pertempuran mereka. Magyar pun juga melakukan hal yang sama. Tidak berapa lama muncul Elisa ke dalam ruang komando tersebut.

Elisa melihat ke arah Magyar, dan langsung berkata,

"Ah... Kau pasti Laksamana baru di bawah arahan sementara dari Viltus ya ?"

"Tepat sekali. Nama saya adalah Magyar Libyet. Salam kenal."

"Nama saya adalah Shinonome Elisa. Saya adalah kepala mekanik di divisi milik Viltus dan Haruto."

"Haruto ?"

"Dia adalah Laksamana lain... Teman baik dari Viltus..."

"Oh."

Viltus langsung menepuk pundak Elisa. Elisa langsung berkata kepada Viltus tanpa dapat didengar oleh Magyar yang kembali fokus ke

"Aku sudah melakukan beberapa perubahan seperti yang kau minta. Kau meminta agar sistem radar udara dapat diganti sesuai kebutuhan dari otomatis menjadi manual."

"Tepat sekali."

"Mengapa kau..."

"Untuk sebuah tes."

"Tes ?"

Viltus melihat ke arah Magyar, dan Elisa langsung mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Viltus. Elisa langsung memukul kepala Viltus dengan pelan, dan kemudian berkata,

"Silakan saja melakukan hal tersebut... Tapi, bawa mereka semua kembali mengerti ?"

"Siap."

Elisa langsung pamit untuk mempersiapkan semua Gadis Kapal yang turun di misi tersebut. Setelah Elisa keluar, Magyar langsung berkata,

"Dia itu... Kekasihmu ya ?"

"Bukan."

"Heh ? Kalian terlihat cukup dekat."

"Dapat dikatakan kami terikat karena satu hal yang sama."

"Pasti memiliki kewarganegaraan lain, ya ?"

"Tepat sekali."

"Dia dari negara mana ?"

"Jerman."

"Wew... Sama seperti Friedrick ?"

"Siapa ?"

"Salah satu Laksamana baru di sini."

Viltus langsung ingat mengenai Laksamana dari luar negeri lain yang mendaftar di Yokosuka. Ia langsung tertawa kecil dan kemudian berkata,

"Sudahlah... Sekarang kita harus bersiap-siap untuk misi ini."

"Siap."

Tidak berapa lama, Shigure dan Yuudachi yang paling pertama masuk. Setelah itu, Uzuki, Yayoi dengan Aoba. Kemudian Ryuujou dan Zuihou. Ryuujou melihat ke arah Magyar dan kemudian berkata,

"Kau..."

"Ohohoho... Ada apa dengan Kapal Induk Ringan imut ini ?"

"Dapatkah kau tidak menganggu diriku satu kali saja ?"

"Kenapa memangnya ? Bukankah kita sebagai satu divisi harus saling membantu ?"

"..."

Viltus melihat ke arah Ryuujou, dan kemudian menarik dia sebentar. Viltus langsung berkata,

"Ryuujou... Ada apa toh ?"

"Dia... Dia Laksamana yang sangat mesum !"

"Mengapa ?"

"Karena dia... Dia..."

Ryuujou langsung mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya. Melihat benda tersebut, dan melihat ke arah dada Ryuujou, Viltus langsung berkata,

"Setidaknya... Ia memiliki niat membantu."

"Tidak, kau juga !"

"Daripada itu... Di mana dia ?"

"Huh ? Oh, Taihou... Sebentar lagi dia sampai. Baru saja ia dipanggil oleh Laksamana Yanagi."

"Eh... Dipanggil ayah ?"

Tidak berapa lama muncul Taihou dengan nafas terengah-engah. Viltus melihat ke arah Taihou dan berkata,

"Kau terlambat..."

"Maafkan aku... Laksamana Yanagi baru saja memanggilku..."

Viltus langsung berjalan ke dekat Taihou dan mendapat tanda dari Taihou untuk ikut dengan dirinya sebentar. Viltus langsung memberitahu semuanya untuk bersiap-siap dahulu, karena ia ada sedikit urusan. Setelah sampai di luar kapal komando, Taihou langsung berkata,

"Laksamana Yanagi..."

"Dia pasti berkata untuk berhati-hati bila mengetes Magyar... Siapa yang memberitahu dirinya mengenai ini ?"

"Kemungkinan besar Aoba."

"Dapat dimaklumi sih... Karena Aoba dapat informasi itu sangat cepat."

Taihou langsung tertawa melihat wajah dari Viltus yang sedikit menyerah pada saat mendengar itu. Taihou kemudian berkata,

"Hei..."

"Ummm ? Ada apa, Taihou ?"

"Apa kau akan berpesta kembali setelah misi ini ?"

"Mungkin... Sekalian menyambut kedatangan Magyar."

"Apa aku boleh ikut ?"

Viltus berpikir sebentar, dan kemudian mengangguk. Taihou langsung tersenyum melihat jawaban dari Viltus. Setelah itu, Viltus langsung menepuk kepala Taihou dengan pelan dan kemudian berkata,

"Sudah... Ayo masuk... Kita akan mulai berjalan sebentar lagi."

"Siap."

"Baguslah jika kau siap..."

"Laksamana..."

"Iya ?"

"Jangan lupa janjimu kepadaku, ya..."

"Tentu saja. Jika kau menjadi MVP."

Taihou tersenyum dan kemudian masuk ke dalam ruang komando terlebih dahulu. Sementara Viltus berdiri sebentar di luar sembari memperhatikan semua orang yang bekerja keras mempersiapkan misi ini. Misi mereka akan dimulai sebentar lagi. Sebuah misi untuk membebaskan manusia dari Abyssal dan misi untuk mengetes Magyar.


Viltus sudah memberikan semuanya informasi yang dibutuhkan untuk misi ini. Abyssal yang akan mereka hadapi terdiri dari tiga Kapal Induk kelas Wo, dua Kapal Induk kelas Nu, dan beberapa lusin Kapal Perusak yang melindungi mereka.

Yang menjadi masalah selama ini, hasil dari informasi yang dikumpulkan oleh Viltus, adalah lokasi pertempuran mereka sangat dekat dengan pulau sehingga lawan dapat bersembunyi di titik-titik terpencil untuk meluncurkan pesawat mereka.

Selain itu, Viltus sedikit curiga dengan satu hal. Maka dari itu, misi yang seharusnya adalah misi penghancuran Abyssal diubah menjadi misi pengintaian atas permintaan dari Viltus sendiri. Pada awalnya semua Laksamana menolaknya, namun setelah melobi beberapa kali akhirnya disetujui.

Viltus menarik nafas panjang, dan kemudian berkata,

"Kita sebentar lagi akan tiba di lokasi. Selama misi ini berlangsung, saya harap kalian tetap waspada akan sesuatu. PESAWAT lawan akan datang secara tiba-tiba dan pasti akan dalam JUMLAH yang cukup besar. Berhati-hatilah dengan torpedo atau BOM yang mereka jatuhkan kepada kalian semua."

Viltus menekankan beberapa hal dari yang ia katakan sembari melihat reaksi dari Magyar. Ia melihat wajah Magyar sedikit pucat dan bergetar. Ia menutup matanya dan kemudian berkata,

"Kita akan memulai misi ini. Semoga dewi fortuna tersenyum kepada kita !"

Semua Gadis Kapal divisinya langsung berjalan keluar. Namun, tepat sebelum Taihou berjalan keluar, Viltus memanggilnya dan kemudian berbisik,

"Kau akan memimpin sementara waktu... Lebih kurang tiga puluh menit dari sekarang... Semua keputusan ada di tanganmu."

"Untuk berapa lama ?"

"Aku tidak dapat menghitungnya."

"Baiklah."

"Aku serahkan padamu. Bawa mereka semua kembali."

Taihou langsung mengangguk dan kemudian berjalan keluar dari ruang komando. Magyar masih terdiam setelah mendengar beberapa kata yang ditekankan oleh Viltus sebelumnya. Viltus langsung berjalan melewati Magyar dan berkata,

"Magyar... Sekarang kau akan melihat semua pertempuran ini secara langsung. Seperti yang kau minta."

"..."

"Magyar !"

"Ah... Maaf... Aku..."

"Sekarang kita akan memulai misi ini. Apakah kau siap membantuku ?"

"Tentu saja... Saya siap !"

Magyar langsung berjalan ke sebelah Viltus dan mengecek semua layar yang ditunjukkan oleh sistem. Layar tersebut menunjukkan semua posisi dari Gadis Kapal, dan hasil laporan dari masing-masing pesawat pengintai. Selain itu, ada layar yang menunjukkan kecepatan dari kapal komando, sebagian dari sistem pertahanan, pengecek kedalaman laut, dan yang paling menarik perhatian dari Magyar adalah radar udara dari kapal komando tersebut.

Viltus tidak terlalu memperdulikan masalah itu. Ia langsung berkata,

"Laksamana kepada Sistem. Apakah semua Gadis Kapal sudah siap ?"

"Sistem kepada Laksamana. Semuanya sudah siap."

"Lakukan manuver pengiriman Gadis Kapal. 10 menit dari sekarang !"

"Melakukan manuver pengiriman Gadis Jangkar."

Magyar merasakan getaran dari kapal komando pada saat membuang jangkar di depan dan belakang. Setelah itu, ia merasakan getaran yang lebih hebat lagi. Pada saat itu, ia mendengar,

"Membuka pintu di lambung sebelah kiri dan kanan. Penyiapan perlengkapan. Kategori Kapal Perusak empat. Kategori Kapal Penjelajah Ringan dua. Kategori Kapal Penjelajah Berat satu. Kategori Kapal Induk Ringan dua. Kategori Kapal Induk satu. Estimasi peluncuran 10 menit."

Viltus menepuk pundak Magyar dan kemudian berkata,

"Jika kau ingin melihat mereka meluncur, keluar saja dahulu."

"Eh ? Kau yakin ? Ini semua..."

"Tidak apa-apa."

Magyar mengangguk dan keluar dari ruang komando selagi menunggu Gadis Kapal yang akan diluncurkan oleh Kapal Komando. Setelah Magyar keluar, Viltus langsung berkata,

"Apakah kalian semua mendengarku ?"

"Dengan jelas, Laksamana."

"Dengar... Aku akan menjalankan tes ini tiga puluh menit dari sekarang. Mulai dari saat itu, tidak akan ada laporan mengenai pesawat di sekitar kalian. Semuanya benar-benar bergantung kepada hasil analisa masing-masing."

Terdapat keheningan dari semua Gadis Kapal di sana. Viltus kemudian melanjutkan,

"Aku percaya dengan kalian semua dapat melewati hal ini."

"Tentu saja. Kita ini divisi yang terkenal mengerti ?"

"Iya."

"Jadi... Mengapa kau..."

"Menghilangkan rasa takut... dari Magyar untuk ke depannya."

"Jika gagal..."

"Aku tidak ingin membahasnya."

Semuanya langsung menarik nafas panjang. Ia tahu jika gagal, setidaknya akan ada korban di pihak mereka semua. Viltus kemudian berkata,

"Selama kalian di luar sana, tetap terhubung dengan radio di Kapal Komando... Setidaknya agar aku dapat mendengar kondisi langsung di sana."

"Siap."

"Sekarang... Kalian semua diijinkan untuk meluncur. Aku yakin kita akan kembali dalam keadaan utuh."

Semuanya berteriak dengan keras. Tidak berapa lama, Viltus mendengar laporan dari sistem.

"Semua Gadis Kapal sudah meluncur dengan selamat. Melakukan persiapan untuk pertahanan."

Viltus langsung duduk di kursi Laksamana miliknya dan menunggu Magyar untuk kembali sembari bersiap-siap untuk mengetes Magyar. Tidak berapa lama, Magyar kembali ke dalam ruang komando dan berkata,

"Viltus... Mereka semua sangat indah di atas air."

"Tentu saja. Maka dari itu, mereka disebut sebagai Gadis Kapal."

"Ahahahahaha... Kau benar."

"Sekarang... Dapatkah kau membantuku ?"

"Tentu saja. Apa yang harus kulakukan ?"

"Mudah saja. Perhatikan radar udara dari kapal komando ini. Aku mendapat laporan dari Elisa tadi bahwa radar udara ini terpaksa dalam keadaan manual dalam pengecekan. Dapatkah kau memberikan kepadaku laporan secara tepat mengenai keberadaan pesawat lawan yang mengintai semua Gadis Kapal tersebut dan kapal ini ?'

Mendengar itu, Magyar langsung terdiam sebentar. Viltus melihat ke arah layar lain dan kemudian berkata,

"Aku harap kau dapat melakukannya, Magyar."

"Te... Tentu saja..."

"Bagus... Beri aku laporan setiap lima menit untuk diberikan kepada semua Gadis Kapal di luar sana."

"Ba... Baik..."

Semua Gadis Kapal dapat mendengar dengan jelas pembicaraan antara Viltus dan Magyar. Mereka semua terdiam karena Viltus sudah memulai tesnya, padahal belum di waktu tiga puluh menit. Viltus sendiri hanya diam saja, dan berpikir,

'Semuanya... Sudah akan dimulai... Apakah semuanya akan baik-baik saja... Atau... Akan ada yang tidak kembali... Seperti Harusame...'


Selama misi itu, Viltus selalu mendapat laporan mengenai pesawat musuh yang muncul tiba-tiba. Bahkan pada saat tiga puluh menit pertama. Viltus melihat ke arah Magyar. Ia terlihat sangat tertekan. Selain itu, tubuhnya berkeringat sangat deras dan tangannya bergetar dengan hebat.

Tidak berapa lama, sistem memberi laporan.

"Pesawat musuh mendekati Kapal Komando."

"Gunakan rudal anti-pesawat kita. Jangan biarkan satu pun masuk ke dalam jarak menurunkan torpedo."

Magyar langsung tertekan mendengar itu. Ia berusaha fokus ke layar, namun ia sama sekali tidak mengerti apa yang ada di dalam kepalanya. Viltus mendengar apa yang dikatakan oleh Magyar.

"Kau bisa Magyar... Kau bisa Magyar... Kau bisa Magyar... Kau bisa... Seperti biasanya... Seperti biasanya... Seperti biasanya... Seperti saat itu... Arghh... Tidak... Kau pasti bisa... Kau pasti bisa..."

Viltus hanya diam saja. Ia melihat ke arah jam dan melihat sudah tiga puluh menit lewat semenjak operasi tersebut dimulai dan semua Gadis Kapal di divisi miliknya meluncur. Namun, dari laporan yang diterima setidaknya mereka semua dikejutkan dengan pesawat lawan yang mendadak muncul tanpa dapat dibaca oleh radar mereka.

Selain itu berita mengejutkan tersebut, Viltus mendapatkan informasi mengenai gugusan pulau di tempat target mereka. Viltus dari tadi memperhatikan hal tersebut tanpa memperdulikan Magyar yang benar-benar tertekan.

Akhirnya, Viltus berdiri dan kemudian berjalan. Tidak berapa lama, sistem memberi laporan.

"Sebuah torpedo terdeteksi. Akan terjadi sentuhan dalam hitungan 60 detik."

"Pusatkan pertahanan di lokasi torpedo mengarah."

Tidak berapa lama terdengar ledakan. Sistem terbaru tersebut baru selesai dibuat setelah kematian dari Kimura. Dan sudah terbukti di banyak pertempuran cukup untuk menahan gempuran dari Abyssal, setidaknya 15 torpedo sebelum menembus ke kapal komando.

Magyar yang mendengar ledakan tersebut langsung menutup telinganya dan terjatuh dari kursinya. Ia tidak tahan mendengar semua itu. Tidak berapa lama, ia melihat dari jendela satu pesawat Abyssal yang terjatuh. Suara mesinnya sangat nyaring sebelum terjatuh ke dalam laut.

Viltus melihat dengan tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Ia langsung berkata,

"Magyar... Lakukan tugasmu dengan baik."

"..."

"Magyar."

"Aku... Aku..."

"Apa kau mampu ? Atau tidak mampu sama sekali."

"Aku tidak mampu melakukan ini ! Aku sama sekali tidak mampu !"

Magyar langsung berjalan ke salah satu sudut dan berlutut di sana. Ia sangat ketakutan. Viltus, masih berdiri di tempat yang sama, tanpa melihat ke arah Magyar langsung berkata,

"Pertempuran di dataran tinggi di Alpen... Dua tahun yang lalu... Usiamu baru 20 tahun, namun sudah menjadi tulang punggung dari divisi anti-air di sana dalam upaya menghadapi pesawat tempur dari Abyssal."

"Kau..."

"Magyar Libyet, salah satu operator radar udara yang paling baik dari sekolah militer di Hungaria. Diturunkan di sana dengan harapan tinggi."

"Hentikan... Hentikan..."

"Sebuah serangan dadakan di tengah malam yang dingin membunuh cukup banyak anggota dari divisi tersebut. Salah satunya adalah sahabat baik dari Magyar Libyet. Dari 350 tentara yang disiapkan di sana, hanya 15 yang selamat. Salah satunya adalah Magyar Libyet."

"Diam... Diam... Diam..."

"Setelah itu, Magyar Libyet mengalami depresi yang sangat parah. Berdasarkan laporan dari psikiater... Dia mendengar suara yang saling bersahutan satu sama lain."

"Viltus... Kumohon...Tolong..."

"Mengapa kau gagal mendengarkan hal tersebut ? Mengapa kau membuarkan mereka lewat ? Kau gagal... Kau telah gagal..."

"Hentikan... Hentikan... Hentikan..."

"Dan apa yang paling terakhir dilihat oleh Magyar adalah pesawat dari Abyssal yang melintas di atas seakan-akan mengolok-olok dirinya yang gagal menangkap sinyal pesawat tersebut."

"..."

"Ia kemudian sama sekali tidak terlibat dalam masalah militer selama dua tahun, sebelum bergabung dengan Angkatan Laut ini untuk menghadapi Abyssal kembali sebagai salah satu cara untuk menghilangkan semua hal tersebut."

"Aku... Aku..."

"Namun... Akan kuberitahu satu hal, Magyar."

Viltus akhirnya berjalan ke arah Magyar dengan tatapan yang sangat tajam. Ia langsung berkata dengan sangat pelan,

"Kau... gagal... Magyar."

"Aku... Aku..."

"Apa yang kau lakukan... Jika kau lakukan sendiri akan membunuh semua Gadis Kapalmu... Kau membiarkan rasa takut tersebut menutupi kenyataan yang ada di depanmu."

Magyar melihat ke arah Viltus. Wajah Viltus sangat tenang, namun juga sangat keras. Ia langsung melanjutkan,

"Kau sudah kalah dari pertempuran semenjak rasa takut itu mengambil alih dirimu."

"..."

"Aku pun memiliki rasa takut dengan banyak hal. Namun, aku paling takut jika kehilangan temanku atau Gadis Kapal lain di pertempuran. Aku sama sekali tidak ingin itu terjadi kembali."

"Aku..."

"Apakah kau masih tetap akan seperti ini ? Atau kau ingin maju ?"

Magyar langsung tertunduk. Ia sama sekali tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Viltus langsung mengulurkan tangannya, dan kemudian berkata,

"Kami semua akan membantumu..."

"Diam..."

"..."

"Kau... Kau monster... Kau mengingatkan diriku akan masa laluku yang sangat ingin kulupakan ! Dan kau mengetahuinya tanpa aku ketahui sama sekali... Kau... Kau..."

"Maaf..."

"Aku tidak dapat menerima bantuan dari orang seperti dirimu !"

Viltus langsung menarik tangannya kembali dan kemudian berkata,

"Jika itu jawabanmu... Sudahlah... Aku tidak akan menganggu kau."

Viltus langsung berjalan ke arah layar radar udara, dan mengecek semua titik dari radar tersebut. Ia juga membandingkan dengan apa yang sudah ia miliki. Ia juga mendengarkan dari radio, laporan terkini di lapangan.

Pada saat itu, Magyar memilih untuk diam. Ia terlihat sangat memusuhi Viltus atas semua fakta yang diberikan oleh Viltus kepada dirinya. Tidak berapa lama, terdengar suara dari Ryuujou

"HEI ! Di mana laporan dari Laskamana Mesum, huh ?"

"Dia sedang mangkir. Tidak ingin diganggu gugat."

"Huh ? Apa dia termakan oleh rasa takutnya ? Dasar cengeng !"

"Dapat dikatakan seperti itu. Sudah, aku akan mengurus radar ini."

"Heh ? Bukankah sistem..."

"Saat ini dalam keadaan manual... huh... Aku harus melakukan cross-check beberapa kali."

Magyar yang mendengar itu langsung terdiam. Ia kemudian ingat situasi pada saat ia pertama kali masuk ke divisi di pegunungan Alpen tersebut. Semua orang terlihat tidak senang dengan kedatangannya, terutama orang yang menjadi sahabat baiknya di kemudian hari. Ia pun membenci orang tersebut.

Namun, pada suatu saat ia mendengar masa lalu dari orang tersebut. Ia langsung menanyakan mengenai masa lalu tersebut, dan situasi saat ini merupakan situasi yang sama saat itu.

Dan apa yang membuat dirinya dengan orang tersebut menjadi sahabat baik adalah operasi yang terjadi setelah itu. Magyar langsung teringat apa yang dikatakan oleh orang tersebut pada saat ada satu pesawat yang terlewat dari radarnya,


"Satu pesawat lewat huh ?"

"Aku... Aku... Gagal..." gumam Magyar.

"Iya. Kau gagal. Seperti diriku di masa lalu. Namun, kau masih memiliki waktu di masa depan untuk menangani masalah yang sama. Dan aku yakin kau pasti akan mampu."

"Huh ?"

"Minggir. Kau masih hijau dan belum siap. Aku kutunjukkan kepada dirimu, seperti apa seharusnya seorang pembaca radar !"

"..."

"Aku masih belum memaafkan dirimu atas fakta yang kau sebutkan itu. Namun, aku baru saja berpikir jika aku marah, dan tidak membantumu... Pada saat aku mati, siapa yang akan menggantikan diriku melindungi semua orang tidak bersalah tersebut ?"

"..."

"Apakah kau mau kuajari ? Untuk melindungi semuanya ?"

"Tentu saja !"


Setelah itu, semua suara yang mengitari kepala Magyar menghilang. Ia langsung mendengar semua suara yang mendukung dirinya untuk terus maju. Suara yang memuji dirinya. Suara yang akan terus mendukungnya sepanjang dirinya tidak kabur dari pertempuran. Ia akhirnya sadar, pertempuran ia masih belum berakhir. Dan saat inilah, ia harus bertempur kembali.

Viltus terlihat kesulitan dalam membaca semua titik di radar udara tersebut karena terbiasa dengan sistem yang mengerjakannya. Mendadak, ia mendapat tepukan di pundaknya dan kemudian suara dari Magyar,

"Viltus... Serahkan ini pada ahlinya."

"Huh ? Kukira kau..."

"Aku tidak dapat membiarkan mereka semua mati di depan sana... Dengan kondisi seperti ini."

Viltus melihat mata dari Magyar sudah berubah. Menjadi lebih hidup dan lebih serius. Viltus langsung tertawa kecil, dan kemudian berkata,

"Apakah dirimu benar-benar siap ?"

"Tentu saja. Akan saya tunjukkan kemampuan dari Magyar Libyet !"

"Tunjukkan kepada diriku."

Magyar langsung melihat ke radar udara yang ditampilkan di layar. Tidak berapa lama, ia mengubah beberapa input dari radar tersebut dan mulai membaca lebih banyak titik di sana. Magyar langsung berkata,

"Viltus... Apakah radio..."

"Langsung terdengar oleh mereka."

"Baguslah."

Magyar menarik nafas panjang dan kemudian berkata,

"Hei ! Dada rata ! Akan kuberitahu satu hal, aku sama sekali tidak cengeng mengerti ! Aku akan memberitahu kalian semua kedatangan dari pesawat lawan."

"Apa maksudmu dengan dada rata huh ?"

"Apa perlu aku beri pijat di dadamu agar besar ?"

"Diam kau Laksamana mesum !"

Magyar langsung tertawa mendengar jawaban dari langsung berkata,

"Sebaiknya kau lebih spesifik untuk masalah dada rata mengerti..."

"Dada rata milikmu dan milikku berbeda... Ahahahahahaha."

"Dan kau benar-benar mencari mati,ya ?"

"Lah... Kau sendiri bagaimana ?"

"Untuk itu... Ah... Ya sudahlah."

Pada saat melihat ke layar radar, Magyar langsung berkata,

"Pantas saja tidak ditemukan dengan mudah... Semua pesawat tersebut terbang cukup tinggi. Semua radar yang digunakan gadis kapal tersebut sepertinya tidak dapat melacak pesawat yang terbang setinggi ini."

"Apakah kau dapat memberi mereka laporan lebih jauh ?"

"Tentu saja !"

Magyar langsung memberi tahu semua Gadis Kapal lokasi dari setiap pesawat tersebut. Satu per satu mulai jatuh. Tidak berapa lama, mereka berdua mendengar laporan dari Shigure,

"Sepertinya semua pesawat..."

"Sudah dijatuhkan."

"Apakah kami boleh kembali ?"

"Tidak... Kita belum menemukan apa yang kucari."

Magyar melihat ke arah Viltus dan kemudian bertanya,

"Apa yang kau cari ?"

"Asal dari semua pesawat tersebut. Jumlah pesawat ini terlalu banyak untuk ditampung oleh tiga kapal induk dan dua kapal induk ringan pasti setidaknya ada satu tempat tertentu."

"Hmmm... Sebenarnya aku curiga dengan satu tempat."

"Dimanakah itu ?"

"Sedikit di timur mereka..."

Viltus berpikir sebentar, dan kemudian berkata,

"Taihou..."

"Siap Laksamana."

"Kirimkan pesawat pengintaimu ke arah timur."

"Eh ? Ke timur ?"

"Lakukan saja. Potret apapun yang kau temukan di sana, dan kirim ke kapal komando."

"Siap."

"Dan selagi pesawat itu pergi, kembali ke kapal komando sekarang juga."

"Siap."

Viltus dan Magyar menunggu foto dari pesawat pengintai Taihou. Dan tidak berapa lama, sistem memberi laporan kepada Viltus,

"Foto dari pesawat pengintai."

"Tunjukkan kepada diriku sekarang."

Foto pun ditunjukkan. Dan pada saat itu, Magyar dan Viltus sangat terkejut. Magyar langsung berkomentar,

"Apa-apaan itu ?"

"..."

"Hei... Viltus..."

"Ini harus diberitahukan dengan cepat. Satu atau dua divisi tingkat medium tidak akan mampu melakukannya."

Magyar tidak menanyakan apa-apa lagi karena ia tahu Viltus tidak akan menjawab pertanyaannya. Yang dapat mereka lakukan sekarang adalah menunggu mereka semua kembali.


Setelah semuanya kembali, Viltus langsung menyambut semuanya. Dan yang ia lakukan selanjutnya adalah menahan Ryuujou yang bermaksud memukul Magyar. Magyar sendiri bersembunyi di balik Aoba sembari tertawa kecil.

Setelah cukup tenang, Viltus memberitahukan hasil dari pengintaian tersebut. Semuanya langsung terdiam melihat fakta tersebut. Sebuah lapangan udara dari Abyssal dan sebuah dock Abyssal, atau dengan kata lain sebuah Installation.

Selain itu, mendadak Viltus berkata,

"Dan... Magyar..."

"Iya..."

"Aku akan berkata seperti ini... Mundur."

"Eh ?"

"Kau sebaiknya mundur sebagai Laksamana. Jika pada akhirnya kau kembali menderita hal tersebut, kau akan memakan cukup banyak korban."

Semuanya sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus, kecuali Aoba dan Taihou. Ryuujou bermaksud membela Magyar, namun ditahan oleh Taihou. Taihou memberi tanda kepada Ryuujou untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Viltus.

"Bagaimana... Apakah kau akan mundur ?"

"Jika itu hasil dari penilaianmu... maka aku akan mundur..."

"Bagus."

"Berarti aku akan..."

"Namun, apakah kau tahu... Saat ini ada satu divisi yang mengalami masalah karena sistem radar udara mereka tidak dapat dioperasikan secara otomatis kembali sehingga membutuhkan seseorang yang cukup mumpuni untuk mengoperasikan radar tersebut. Siapa tahu kau tertarik."

Magyar dan semua Gadis Kapal cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Viltus kemudian menggaruk-garuk kepalanya dan kemudian berkata,

"Saat ini aku kesulitan untuk mencari orang di posisi tersebut karena tidak banyak orang yang mau selain menjadi Laksamana. Dan sepertinya aku menemukan orang yang tepat... Apakah kau tertarik... Magyar Libyet ?"

"Hehehehe... Haahahahahahahaha."

Magyar langsung tertawa keras. Ia kemudian menunjuk dirinya sendiri dan kemudian berkata,

"Tentu saja... Saya Magyar Libyet akan dengan senang hati masuk ke divisi anda, Viltus Amarov. Karena aku yakin dirimu akan menunjukkan cukup banyak kesenangan di banyak operasi."

"Tentu saja. Lagipula, kau tahu akan jauh lebih menarik ada teman berbicara di ruang komando pada saat Gadis Kapal sedang pergi."

"Aku tahu... Aku tahu... Ahahahahahaha"

Viltus kemudian maju ke depan dan mengulurkan tangannya dan kemudian berkata,

"Senang bekerja dengan kau, Magyar."

"Begitu juga dengan diriku !"

Mereka berdua tersenyum dan saling berjabat tangan sembari difoto oleh Aoba. Semuanya sangat senang pada saat mendengar hal tersebut.


Mereka semua sudah setengah perjalan menuju ke Markas Angkatan Laut Yokosuka. Magyar sedang bermain di ruang komando bersama semua Gadis Kapal lain. Sementara, Viltus berdiri di geladak kapal. Ia melihat ke arah laut dan menutup matanya.

"Menikmati angin laut, Laksamana ?"

"Heh... Tentu saja. Ini sangat menenangkan hati..."

Viltus melihat ke belakang dan melihat Taihou di sana. Taihou langsung berjalan ke dekat Viltus dan kemudian melebarkan tangannya dan berkata,

"Haaaaahhhh... Ini sangat melelahkan."

"Maafkan aku mengenai semua masalah ini."

"Ahahahahaha... Itu bukan masalah. Lagipula kita semua mampu menghadapinya."

Viltus tersenyum melihat ke wajah Taihou yang sedang tersenyum. Ia kemudian menepuk kepala Taihou dengan pelan dan mengelusnya. Taihou langsung terdiam dan kemudian berkata,

"Aku kan bukan..."

"Kau MVP... Kau yang menemukan Installation tersebut."

"Ahahahaha... Itu karena Magyar."

"Tetap saja... Kau MVP mengerti."

Taihou tidak dapat membalas apa yang baru saja dikatakan oleh Viltus sebelumnya. Ia melihat ke arah langit yang mulai memerah, dan kemudian berkata,

"Langitnya... Sangat indah..."

"Iya."

Viltus melihat ke arah Taihou dan memperhatikan angin yang berhembus menggoyangkan rambut Taihou. Selain itu, cahaya dari matahari yang mulai terbenam juga mempercantik wajah Taihou. Viltus langsung terdiam melihat hal tersebut dan memalingkan wajahnya.

Taihou melihat ke arah Viltus dan terlihat cukup bingung. Taihou langsung bertanya kepada Viltus,

"Ada apa, Viltus ?"

"Ah... Tidak..."

"Kau yakin ?"

Viltus tahu, Taihou tidak akan melepas dirinya jika dia tidak memberi jawaban yang sangat memuaskan Taihou. Tepat pada saat itu, ia teringat pada kejadian di pagi itu.

"Ummm... Taihou..."

"Apa ?"

"Apakah kau ada di ruanganku di pagi hari minggu lalu ?"

"Satu minggu yang..."

Taihou langsung teringat kejadian tersebut. Viltus langsung bertanya,

"Apa yang kulakukan dan apakah kau yang..."

"Dasar kau LAKSAMANA MESUM !"

Viltus langsung ditampar oleh Taihou dengan keras dan terjatuh di geladak kapal. Setelah itu, Taihou langsung berlari masuk ke dalam ruang komando. Tidak berapa lama, Shigure dan Aoba keluar dan melihat Viltus yang terkapar. Viltus langsung berkata,

"Dia... benar-benar membenciku... ya..."

"Sepertinya..."

"Kau tahu... Ini sangat sakit."

"Tentu saja."

"Hei... Aku ingin menangis nih !"

Aoba dan Shigure hanya tertawa saja mendengar keluh kesah dari Viltus yang terkapar.


HakunoKazuki di sini

Chapter 4 keluar... yey.

Dengan begitu... Chapter 5 akan sedikit serius... Seperti biasanya di Deep Abyss... ahahahahahhaa..

Ok... Tidak perlu banyak berbicara lagi... Dan alasan kenapa ini cepat ? Karena aku tidak lupa menekan tombol save atau pun menggunkan koneksi internet ! YEAY

Ok... Step a side.

Saya ingin mengucapkan selamat menikmati chapter ini dan tunggu saja chapter selanjutnya.

Sayonara