Chapter 5

Month


Seluruh anggota divisi Viltus menunggu dengan 'tenang' di dalam ruang kerja Viltus, selagi Viltus sedang menghadiri pertemuan dengan petinggi di Yokosuka perihal apa yang ia temukan di misi pengintaian sebelumnya. Selagi menunggu Viltus yang akan datang ke ruang kerjanya, Shigure menyiapkan beberapa cangkir minuman untuk Viltus yang pasti datang dalam keadaan lelah.

Sementara, Magyar dan Ryuujou langsung duduk di atas sofa dengan bersandar di punggung masing-masing. Magyar langsung berkata,

"Hei... Papan..."

"Apa Laksamana Mesum ?"

"Kapan Viltus akan kembali ?"

"Aku tidak tahu. Tanya saja Aoba."

"Dia tidak ada di sini."

"Eh ?"

Ryuujou melihat ke sekitar dan baru menyadari tidak semuanya ada di ruangan tersebut. Shigure langsung berkata,

"Aoba tadi pergi bersama Uzuki dan Yayoi... Baru saja pergi."

"Uuuuhhh... Lalu, Zuihou ?"

"Dia tadi pergi untuk membuat makanan untuk Laksamana Amarov."

"Kinu dan Yura ?"

"Mereka ada latihan... Yuudachi mengikuti mereka."

Ryuujou langsung menghela nafas. Ia kemudian berkata,

"Bosan..."

"Sama... Aku bosan..."

"Hei... Laksamana Mesum..."

"Apa ?"

"Jangan panggil aku Papan Rata... setidaknya pikirkan Zuihou dan Taihou..."

"Tapi... Kau kan yang paling rata dari semuanya."

"Hei !"

Ryuujou langsung memukul punggung dari Magyar yang langsung ditahan oleh Magyar. Shigure langsung tertawa melihat pemandangan tersebut. Ia langsung berkomentar,

"Berarti ada pertengkaran baru di sini ya... Fufufufufu."

""Maaf...""

"Tidak apa-apa... Lebih baik sedikit berwarna seperti ini daripada..."

Shigure melihat ke arah meja kerja Viltus, begitu pula dengan Ryuujou dan Magyar. Mereka melihat Taihou yang duduk dengan menyandarkan kepalanya di meja sembari mengembangkan pipinya sendiri. Ia terlihat memainkan beberapa alat tulis milik Viltus. Dapat disimpulkan, Taihou terihat sangat bosan. Magyar langsung berbisik kepada Ryuujou,

"Hei... Papan Rata..."

"Apa ?"

"Taihou... Apa dia selalu melakukan hal tersebut ?"

"Hmmm..."

Ryuujou mengingat-ingat pada masa lalu, setiap kali Viltus sedang mengikuti rapat. Ia pernah melihat Taihou yang terlihat bosan, namun tidak pernah sebosan yang ia lihat sekarang. Ryuujou langsung berkata,

"Sering sih... Tapi, yang ini jauh lebih parah..."

"Hmmm..."

"Biasanya kalau Laksamana Amarov mengikuti rapat yang cukup panjang. Kalau dipikir-pikir... rapat hari ini jauh lebih lama dari biasanya... Hei, Kau mendengarkanku atau tidak ?"

Magyar berpikir sebentar dan kemudian langsung memanggil Shigure untuk ikut berbincang-bincang dengan dirinya dan Ryuujou. Setelah Shigure ikut, Magyar langsung berkata,

"Menurut kalian... Apakah Taihou... Menyukai Viltus ?"

Shigure dan Ryuujou langsung melihat satu sama lain, dan kemudian Shigure langsung berkata,

"Menurutku tidak... Hampir setiap hari Taihou dan Laksamana Amarov selalu bertengkar satu sama lain."

"Yang kemudian dilanjutkan oleh Taihou yang curhat kepada kita semua, benar ?" ujar Ryuujou sekaligus mendapat anggukan dari Shigure.

"Pasti yang diceritakan oleh Taihou adalah semua hal yang dilakukan oleh Laksamana Amarov kepada dirinya..."

"Dan Taihou sangat mengerti mengenai kebiasaan dari..."

Pada saat itu, Shigure dan Ryuujou langsung menyadari sesuatu. Mereka melihat ke arah Taihou yang masih terdiam dan tidak memperdulikan pembicaraan mereka, kemudian melihat ke arah Magyar. Magyar langsung berkata,

"Ia sepertinya... cukup rindu dengan Viltus... Padahal cuma sebentar..."

"Iya sih..."

"Dapat disimpulkan ada sebagian dari hatinya yang menyukai Viltus... Namun..."

"Kami tahu... Kami tahu..."

Mereka bertiga melihat ke arah Taihou yang akhirnya melihat ke arah luar jendela. Ia terdiam sebentar dan kemudian berkata,

"Ah... Salju turun..."

Semuanya langsung berdiri dan berjalan ke arah jendela. Magyar langsung tersenyum dan kemudian berkata,

"Salju sudah turun... Berarti kalian tahu artinya apa ?"

"Apa Laksamana Mesum ?"

"Tentu saja... LIBURAN PANJANG !"

"Kita tidak mendapatkan itu."

"Eh ?!"

Ryuujou dan Magyar terlihat sangat antusias membahas masalah tersebut, sementara Shigure langsung berjalan ke arah Taihou dan berkata,

"Ia seharusnya sudah kembali sekarang."

"Aku tahu..."

"Menurutmu... Salju di sini bagaimana ?"

"Entah mengapa... Aku terikat dengan salju ini. Sangat indah."

Shigure tersenyum melihat mata Taihou yang sedikit lebih hidup dari sebelumnya. Shigure kemudian menyiapkan minuman lain, berupa minuman hangat yang disajikan kepada mereka semua. Dan kali ini Taihou pun ikut minum dan bergabung ke dalam pembicaraan dengan Magyar dan Ryuujou.


Sementara itu, Viltus dan Haruto akhirnya sudah selesai mengikuti rapat tersebut. Semua Laksamana yang sudah turun di medan perang dan semua Laksamana Tinggi berkumpul di dalam rapat tersebut untuk membahas temuan dari Viltus di misi sebelumnya.

Haruto melihat ke arah langit dan kemudian berkata,

"Haaahhhh... Kita tidak akan mendapatkan libur dalam waktu dekat..."

"Heh ? Bukankah yang kau lakukan selama ini hampir sama saja seperti libur, ya ?"

"Ahahahahaha... Tidak juga... Aku..."

"Jangan bilang mengenai hal tersebut...Yang biasa kau sebutkan."

"Ahahaha..."

Haruto langsung memalingkan wajahnya berusaha tidak melihat tatapan tajam dari Viltus. Mengetahui tatapan tajamnya tidak digubris, Viltus langsung berkata,

"Setidaknya... Kita akan mendapatkan libur cukup lama setelah misi tersebut."

"Operasi ini... Sangat besar. Pasti memakan waktu yang cukup lama. Dan pasti dimulai dalam waktu dekat."

"Kudengar sih... Setelah tahun baru."

"Eh ? Bukan dalam waktu dekat."

"Kau... Tidak mendengar yang tadi kuminta ya..."

"Ummm... Aku mendengarnya..."

"Kau..."

"Ahahahahaha..."

"Aku akan mengulangnya lagi... Kita akan menjalankan operasi tersebut satu minggu setelah tahun baru. Dan selama libur tersebut, semua orang diijinkan untuk keluar dari Markas Angkatan Laut untuk mengunjungi keluarga masing-masing."

"Oh... Baik sekali... Apakah kau..."

"Tidak... Aku berlibur di Yokosuka... Shiro-nee berkata akan berlibur kemari selama satu minggu."

"Sedih sekali dirimu..."

"Aku tahu... Sangat menyedihkan..."

"Namun... Setidaknya kau tidak jauh dari Taihou, benar ?"

Viltus sangat terkejut pada saat Haruto berkata seperti itu. Viltus bermaksud bertanya mengenai maksud dari Haruto, Haruto langsung berkata,

"Hehehehe... Jangan meremehkan mata ini. Aku dapat melihatnya juga pada saat Kimura dengan Aoba..."

"..."

"Kau tidak dapat menipu diriku, Viltus. Kau..."

"Mengenai itu..."

Haruto langsung menepuk pundak dari Viltus dengan sedikit keras dan kemudian berkata,

"Aku akan kembali ke kampung halamanku selama masa libur tersebut. Aku harap ada kemajuan dari hubungan kalian, ya. Kami semua mengharapkan hal tersebut !"

"KAMI ?!"

"Fufufufufu..."

Viltus bermaksud menanyakan siapa saja yang meminta hal tersebut, namun terhenti karena Haruto melihat ke langit. Pada saat bersamaan, salju yang dingin jatuh dan mengenai kulit dari Viltus dan Haruto. Haruto langsung berkata,

"Ah... Aku sampai lupa... Salju pasti turun pada saat seperti ini... Sepertinya aku harus menyiapkan pakaian musim dingin. Benar tidak, Viltus ? Hei.. Viltus..."

Pada saat Haruto melihat ke arah belakang, ia melihat Viltus yang diam membatu. Ia membuka telapak tangannya membiarkan salju turun mengenai tangannya yang pucat. Ia terdiam, tanpa ekspresi. Pada saat Haruto bermaksud memegang bahunya, ia melihat tatapan dari Viltus sangat kosong. Selain itu, ia dapat merasakan aura yang sangat negatif dari Viltus.

Haruto langsung berusaha untuk memanggil Viltus, namun Viltus langsung memukul tangan dari Haruto dan kemudian berkata,

"Haruto... Tinggalkan diriku..."

"Hei, Viltus... Ada apa ?"

"Haruto... Tinggalkan diriku... Tolong..."

"Kau baik-baik saja ?"

Viltus langsung diam saja mendengar pertanyaan tersebut. Ia memalingkan wajahnya, dan berjalan meninggalkan Haruto. Haruto langsung menarik Viltus dan bertanya,

"Hei ! Viltus kau pasti sakit. Sebaiknya kau..."

"Haruto... Aku baik-baik saja."

"Tidak, kau harus..."

Viltus langsung memukul tangan Haruto yang menyentuh bahunya, dan kemudian melihat dengan tajam. Haruto sangat terkejut melihat tatapan tersebut. Tatapan seseorang yang ingin meninggalkan dunia ini karena satu hal. Sangat kosong. Tidak memiliki jiwa. Haruto ingin bertanya kembali, namun Viltus sudah berkata,

"Haruto... Aku sudah berkata... Aku baik-baik saja."

"Jangan..."

"Aku berkata jujur... Biarkan aku sendiri saja... Aku akan kembali nanti."

"..."

Viltus langsung membalikkan badannya dan meninggalkan Haruto yang semakin khawatir dengan kondisi dari Viltus.


Di ruang kerja Viltus, semuanya terlihat sudah cukup bosan dengan kondisi saat ini. Magyar, Ryuujou, Shigure dan Taihou. Mereka semua melihat ke arah jam secara bersamaan, diiringi dengan suara menghela nafas yang sama.

Magyar yang memulai pembicaraan sekarang,

"Viltus lama sekali... Rapat seharusnya tidak selama ini, benar ? Atau... Viltus harus menjelaskan lebih jauh kepada Laksamana Yanagi ?"

Yang lain langsung menghela nafas mendengar apa yang dikatakan oleh Magyar. Mereka tentu saja bertanya-tanya mengapa rapat tersebut memakan waktu yang cukup lama. Masalahnya, mereka sudah mendengar suara beberapa Laksamana yang seharusnya ikut rapat tersebut sudah bercengkerama di luar ruangan Viltus.

Taihou yang paling khawatir dari semuanya. Karena tidak seperti biasanya Viltus sama sekali tidak muncul setelah rapat selesai. Mungkin apa yang dikatakan oleh Magyar ada benarnya, itu yang ada di dalam pikiran dari Taihou.

Tidak berapa lama, telepon di ruang Viltus berdering dengan keras. Taihou langsung mengangkat telepon tersebut dan berkata,

"Ruang kerja dari Laksamana Viltus Amarov."

"Ah... Taihou !"

Mendengar suara dari seberang, Taihou sangat terkejut. Ia langsung berkata,

"Laksamana Yanagi ?!"

Semuanya sangat terkejut mendengar itu, terutama Magyar. Ia sama sekali tidak menyangka Laksamana Yanagi akan menelepon dari ruang kerjanya yang notabene sangat dekat dengan ruang kerja Viltus. Namun, akhirnya ia menyadari yang dimaksud oleh Taihou adalah Laksamana Yanagi yang lain di Kure pada saat Taihou berkata,

"Laksamana Yanagi... Tumben sekali anda menelepon kemari."

"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk ramah tamah. Aku akan langsung ke pokok masalahnya. Karena aku banyak pekerjaan... Aku malah lupa dengan masalah satu ini."

"Eh ? Masalah ?"

"Aku bermaksud meminta tolong kepada ayah untuk memperhatikan dirinya... Terutama pada saat salju mulai turun."

"Laksamana... Yang kau maksud adalah..."

"Iya... Viltus."

"Memangnya kenapa... Ada apa dengan dirinya ?"

"Dapat dikatakan seperti ini... Hampir semua orang yang ia cintai... hilang dari genggamannya pada bulan ini..."

Mendengar itu, Taihou langsung terdiam. Ia tidak tahu harus berpikir apa pada saat mendengar itu. Ia kemudian menarik nafas panjang, dan kemudian bertanya,

"Apa yang akan... dilakukan oleh... Laksamana Amarov pada saat seperti ini ?"

"Ia akan menyendiri... namun, jika tidak diperhatikan... dia akan berusaha untuk membunuh dirinya sendiri. Selama ini, aku berhasil menahan dirinya agar tidak melakukan itu."

"..."

"Namun, aku lupa pada tahun ini... aku tidak mungkin sempat ke sana karena harus meminta ijin dari Laksamana Ichijou."

Taihou sama sekali tidak menduga, Viltus akan berusaha membunuh dirinya sendiri karena satu hal. Ia kemudian menarik nafas panjang dan kemudian berkata,

"Aku akan... Aku akan membantunya."

"Kau ?! Kau kan selalu..."

"Sebaiknya ada orang yang menyalurkan pikiran dan tenaganya dari keinginan tersebut..."

"..."

"Dan aku yakin aku mampu... Lagipula... Laksamana Amarov..."

"Heh... Rupanya ada Kimura kedua ya ?"

"Ahahahahaha... Itu tidak benar... Aku melakukan ini..."

"Karena kata hatimu, benar ?"

Taihou langsung memerah mendengar hal tersebut. Ia sama sekali tidak dapat menjawab pertanyaan barusan. Shiro langsung tertawa karena terdapat jeda yang cukup lama dari lawan bicaranya. Shiro langsung berkata,

"Hei... Jaga adik idiotku... Mengerti ?"

"Siap."

"Aku akan kembali ke perkerjaanku... Aku harap kau berhasil... Aku tidak ingin mendengar berita yang tidak menyenangkan mengerti."

"Tentu saja."

Taihou langsung menutup telepon tersebut. Ia menarik nafas panjang dan kemudian melihat ke arah Shigure, Ryuujou dan Magyar. Mereka dapat melihat dengan jelas dari wajah Taihou, sesuatu yang sangat berat akan terjadi. Shigure langsung berkata,

"Taihou... Laksamana Ama..."

"Kita harus menemukan dia... Jika kita terlambat... Besar kemungkinan divisi ini akan bubar."

"Eh ? Memangnya kenapa ?"

Taihou langsung menceritakan apa yang baru saja ia dengar dari Shiro. Semuanya langsung berdiri. Magyar dan Ryuujou langsung merenggangkan diri masing-masing, dan bersiap untuk mencari Viltus.

Tidak berapa lama, pintu terbuka dan di sana berdiri Haruto. Semuanya dapat melihat wajah khawatir dari Haruto mengenai satu hal. Mereka semua berjalan melewati Haruto dan menepuk pundaknya. Pada saat Taihou berjalan melewati dirinya, Haruto langsung bertanya,

"Kalian ingin ke mana ?"

"Mencari Laksamana Amarov."

"Viltus... Dia..."

"Aku akan menyeretnya kembali kemari... Tenang saja. Orang itu perlu sedikit pukulan di kepala karena masalah ini."

Haruto melihat ke arah Taihou dengan wajah terkejut. Ia langsung melihat wajah percaya diri dari Taihou. Ia menutup matanya dan yakin Taihou akan mampu membawa Viltus kembali ke ruangan tersebut. Ia langsung berkata,

"Taihou... Bawa orang kembali. Aku harus memberi dia sedikit ceramah."

"Tentu saja."

Taihou langsung berlari meninggalkan Haruto untuk mencari Viltus.


Mereka semua meninggal karena diriku.

Semua tatapan itu... Sangat kental... Sangat menyakitkan...


Viltus berjalan tanpa arah sama sekali. Tatapannya benar-benar kosong. Pada saat ia sadar, ia sudah berdiri di atas anjungan. Ia melihat salju yang turun mengenai wajahnya. Selain itu, ia melihat ke arah laut luas di hadapannya.

Ia berjalan ke ujung anjungan dan duduk di sana. Tidak berapa lama, satu per satu suara mulai masuk ke telinganya.


Ahahahahahahaha... Semua ini salahku...

Iya ini semua adalah salahmu...

Seandainya keluarga itu tidak ada... pasti tidak ada hal ini...

Namun... Pada akhirnya keluargamulah yang telah mengambil nyawa jutaan manusia di dunia ini...

Akulah penyebab semua ini...

Apa yang akan kaulakukan dengan dosamu yang berat tersebut ?

Apa yang harus kau lakukan ? Ini semua... Tidak benar... Aku harus melakukan apa ?

Bunuh dirimu sendiri...

Tapi, Shiro-nee...

Apa kau masih ingin mendengarkan wanita tersebut ? Wanita tersebut memberikan kepadamu sebuah kebohongan yang manis untuk menutupi semua dosa yang kau perbuat.

Kau benar... Dosa ini...

Maka... Bunuh saja dirimu...

Bagaimana caranya ?

Melompat saja ke dalam air...

Air ?


Viltus melihat ke depan dan kemudian berdiri di ujungnya. Ia melihat ke arah laut dan melihat seperti seseorang mengajak dia untuk mengikuti dirinya ke dalam air. Viltus menggerakkan tubuhnya untuk bergerak ke dalam air, namun ditahan oleh seseorang. Tidak hanya itu, ia mendengar suara seseorang yang ia kenal,

"Laksamana ! Kau ingin kemana ? Melompat ke dalam laut dingin itu ? Kau bisa mati !"

Viltus melihat ke belakang, dan menemukan Taihou yang menahan dirinya. Viltus langsung kembali melihat ke arah laut dan kemudian berkata,

"Taihou... Lepaskan aku... Aku..."

"Apa ? Kau ingin membunuh dirimu sendiri dengan melompat ke laut ?"

"..."

"Aku tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi !"

Viltus bermaksud menarik dirinya sendiri dari Taihou, namun tenaga Taihou jauh lebih kuat. Dirinya ditarik oleh Taihou hingga cukup jauh dari anjungan. Mengetahui usahanya gagal, ia langsung duduk tanpa melihat ke wajah Taihou.

Taihou kemudian berkata,

"Laksamana ! Mengapa dirimu ingin melompat ke dalam laut, huh ?"

"..."

"Apa kau ingin meninggalkan kami semua di Yokosuka ?"

"..."

"Mengapa kau ingin membunuh dirimu sendiri ?!"

Viltus, tanpa melihat ke arah Taihou, langsung menjawab dengan singkat,

"Itu bukan urusanmu..."

"Eh ?"

"Kau yang tidak tahu apapun... Sebaiknya menjauh dari masalah ini... Kalian semua tidak akan mengerti..."

"Kau bilang tidak akan mengerti ? Bagaimana caranya kami mengerti jika kau tidak menceritakan apapun kepada kami."

"Itu bukan masalahmu... Ini adalah masalahku. Dan masalah ini merupakan..."

Taihou langsung menampar dengan keras wajah Viltus. Viltus langsung merasakan tamparan tersebut, dan melihat ke arah Taihou. Pada saat itu, ia melihat wajah jijik dari Taihou yang bercampur dengan rasa kesal.

Dan akibat dari tamparan tersebut, ia kembali ke dunia nyata. Ia langsung mendengar apa yang dikatakan oleh Taihou dengan jelas.

"Ini masalahmu ?! Hanya itu yang ingin kau katakan kepadaku sebagai alasan untuk bunuh diri ?! Bagaimana mungkin aku dapat menerima hal tersebut !"

"Taihou..."

"Kau melakukan hal tersebut demi apa ? Kau tahu yang kau lakukan hanya kabur saja dari kenyataan ! Bagaimana perasaan semua orang yang ada di sekitarmu setelah kau meninggal ?!"

Pada saat Viltus melihat Taihou, ia dapat melihat dengan jelas air mata sedikit demi sedikit menetes dari mata Taihou. Taihou mengeluarkan semua yang ada di kepalanya karena tindakan dari Viltus, hingga ia tertunduk menahan air matanya sendiri. Viltus langsung menyeka air mata dari Taihou, dan kemudian berkata,

"Maafkan aku..."

"Laksamana Idiot."

"Ahahahaha... Kau memang benar..."

Viltus kembali menyeka air mata dari Taihou, dan berusaha sebisa mungkin membuat Taihou tenang.


Setelah cukup tenang, Taihou langsung duduk di sebelah Viltus dan melihat ke arah laut. Ia kemudian berkata,

"Laksamana... Apakah aku boleh..."

"Bukankah dulu kau sudah meminta ijin untuk memanggil namaku ? Aku justru bingung kenapa dirimu masih memanggilku Laksamana pada saat hanya di divisi kita sendiri saja."

"Ah... Aku lupa."

Viltus langsung tertawa kecil mendengar itu. Terdapat keheningan setelah itu, yang akhirnya pecah pada saat Taihou bertanya,

"Apa yang terjadi... pada bulan ini sehingga dirimu ingin membunuh dirimu sendiri, Viltus ?"

Viltus terdiam mendengar hal tersebut. Taihou melihat ke arah Viltus, dan bermaksud membiarkan Viltus diam saja bila ia tidak ingin membicarakannya. Namun, Viltus kemudian berkata,

"Pada saat salju pertama kali turun... Aku sangat ingat kejadian tersebut... Beberapa anggota militer mengetuk pintu rumahku... Pada saat itu, aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Aku hanya mendengar suara dari Ibuku yang marah kepada mereka semua... Dan Ibuku mengusir mereka semua. Dan aku langsung menyadari... Ayahku menghilang bersama percobaannya..."

"Percobaan ayahmu ?"

"Iya."

"Apa percobaan dari ayahmu itu ?"

Viltus diam saja. Ia langsung melihat ke arah laut, dan kemudian berkata,

"Padahal... Baru satu minggu sebelumnya aku membantu ayahku dan melihat senyumnya yang sudah lama tidak kulihat."

"..."

"Pada saat itu... Percobaan dari ayahku tidak membuat masalah..."

"Masalah ?"

"Kemudian, beberapa tahun kemudian... Ibuku dan Adikku meninggal juga, pada malam salju turun ke bumi..."

Taihou langsung mengerti mengapa salju dapat membuat Viltus bertindak seperti itu. Ia kehilangan keluarganya pada saat hari bersalju seperti ini. Tentu saja, bila salju turun akan membuatnya teringat akan kejadian buruk tersebut.

Viltus masih melanjutkan,

"Pada saat itu, aku membantu ibuku dalam percobaannya... Namun, lab dari ibuku diserang..."

"Diserang oleh siapa ?" tanya Taihou.

Viltus langsung menatap kosong ke arah Taihou dan kemudian berkata,

"Percobaan dari ayahku... Abyssal."

Mendengar itu, Taihou langsung terkejut. Ayah dari Viltus adalah ilmuwan yang telah membangkitkan musuh dari manusia ke bumi ini. Dialah orang yang telah membawa kekacauan di dunia. Taihou langsung terdiam mendengar hal tersebut.

Viltus kemudian berkata,

"Aku masih mengingat saat-saat tersebut. Aku melihat mata merah mereka yang telah membunuh ibuku. Dan aku masih mengingat dengan jelas seperti apa percobaan dari ayah saat masih bersama kami. Jika saja... Aku tidak diselamatkan oleh Laksaman Yanagi dan Laksamana Ichijou... Aku pasti sudah mati saat itu..."

"Viltus..."

"Aku sebenarnya tidak terlalu mengetahui nasib dari adikku. Namun, dari penuturan Laksamana Ichijou... Dia menghilang bersama tubuh ibuku. Tidak ada tubuh yang tersisa sama sekali."

Viltus langsung membalikkan tangannya dan mengepalkannya. Taihou berpikir semua sudah selesai dan bermaksud menanyakan beberapa hal. Tetapi, Viltus langsung berkata,

"Dan yang terakhir... Di awal musim dingin beberapa tahun yang lalu... Aku kehilangan dirinya..."

"Dirinya ?"

"Wanita yang kucintai pada saat Sekolah Menengah Atas... Aku ingat pertemuan terakhir kami terjadi bulan Desember... seperti bulan ini... Aku sudah mengenalnya semenjak Sekolah Menengah Pertama... Dan dialah orang pertama dan satu-satunya yang membuatku menyukai nama yang kubenci... Sebelum aku disadarkan kembali mengapa aku membenci nama itu..."

Taihou merasakan dadanya sedikit sakit pada saat mendengar hal tersebut. Viltus kemudian melihat ke arah Taihou dan menepuk kepala Taihou sekaligus mengelusnya. Ia berkata,

"Maafkan aku... Jika membuatmu khawatir... Ini semua karena kebodohan diriku sendiri..."

"Itu... Bukan masalah... Kau mampu melawannya..."

"Ehehehehe... Tapi, masa lalu itu..."

"Setidaknya mampu mengingat sesuatu di masa lalu, walaupun itu menyakitkan sekalipun... Jauh lebih baik daripada tidak mengingat apapun."

Viltus melihat ke arah Taihou. Taihou melihat ke arah laut lepas di hadapannya, dan melipat tangannya agar kepalanya dapat bersandar di sana. Ia kemudian berkata,

"Kami... Gadis Kapal sama sekali tidak memiliki ingatan masa lalu kami... Sebelum kami disebut sebagai Gadis Kapal."

"..."

"Yang ada di kepala kami hanyalah... Misi untuk menghancurkan Abyssal."

"Taihou..."

"Setidaknya... Kau tidak harus benci dengan masa lalu tersebut karena itu menunjukkan kau masih hidup hingga sekarang. Lagipula..."

Taihou langsung berdiri dan kemudian memutar tubuhnya. Ia berhenti setelah di wajahnya melihat Viltus dan tersenyum. Ia kemudian berkata,


"Tidak ada gunanya dirimu terikat dengan masa lalu... Itu adalah dirimu yang dulu... Sekarang kau adalah Viltus yang kukenal yang tidak terikat dengan masa lalu... Dan kau seharusnya terikat masa depanmu sendiri, bukan masa lalumu."


Viltus melihat ke arah Taihou dengan wajah terkejut. Ia ingat wanita yang dicintainya pernah mengatakan hal serupa dulu, pada saat ia mengetahui masa lalu dari dirinya. Taihou kemudian berkata,

"Jika kau berpikir kau mengemban dosa dari ayahmu karena kau terikat darah dengan dirinya... Kau salah... Kau sama sekali tidak perlu mengemban dosa tersebut."

"..."

"Jika kau masih berpikir bagaimana caranya menghapus dosa dari ayahmu... Ya kau lakukan sekarang ! Saat ini dirimu sedang berjuang untuk hal tersebut... Menghapus dosa yang telah menghancurkan dunia ini."

Taihou kemudian mengulurkan tangannya dan kemudian berkata sambil tersenyum,

"Dan kami semua akan membantumu melakukan hal tersebut... Jika kau terbebani oleh dosa dari ayahmu, maka kami semua bersedia menerima beban yang kau berikan kepada kami."

Viltus melihat ke arah Taihou, dan kemudian menunduk sebentar. Ia akhirnya menyadari tindakan dia selama ini sangat kekanak-kanakan. Sudah saatnya ia membagi semuanya karena ada orang yang akan membantunya.

Viltus langsung menerima aluran tangan dari Taihou, dan kemudian berdiri. Setelah itu, ia menarik Taihou ke tubuhnya sendiri, dan memeluk dirinya. Muka Taihou langsung merah pada saat Viltus melakukan hal tersebut. Viltus kemudian berkata,

"Maafkan aku... Dan terima kasih banyak..."

"Bu... Bukan apa-apa..."

Taihou langsung merasakan pelukan Viltus sedikit keras seperti seseorang yang sangat merindukan sesuatu. Ia tersenyum dan mengelus bagian belakang rambut Viltus. Mereka melakukan hal tersebut selama lima menit. Setelah itu, Viltus melepas pelukannya.


Setelah itu, Viltus dan Taihou berbincang-bincang hal lain terutama mengenai masa lalu lain dari Viltus, hingga akhirnya Taihou bertanya,

"Viltus... Jika aku boleh tahu nama aslimu apa ?"

"Nama asliku ?"

"Aku tahu Viltus Amarov adalah nama aslimu... Namun, aku penasaran dengan nama Jepangmu... Dengan nama keluarga yang sangat kau benci itu."

"..."

"Jika kau tidak ingin memberi tahu diriku..."

"Hakuno... Kazuki."

Mendengar nama itu, Taihou langsung berpikir sebentar dan kemudian berkomentar,

"Sungguh sesuatu yang aneh... Seseorang yang memiliki sesuatu yang putih di namanya membenci salju yang putih murni ini."

"Ahahaha... Terima kasih banyak..."

"Tapi, sepertinya kedua orang tuamu sudah menaruh satu harapan kepada dirimu... Dari namamu..."

"Eh ?"

"Kau tahu... Aku senang dengan nama itu... Boleh kukatakan... Aku suka dengan maknanya..."

Viltus tersenyum ke arah Taihou dan mengelus kepala Taihou sekali lagi. Taihou tertawa kecil dan kemudian berkata,

"Bolehkah aku memanggilmu... Kazuki ?"

"Tidak..."

"Kenapa ?"

"Aku... Tidak ingin mendengar nama itu... Lagipula nama itu merupakan diriku di masa lalu yang ingin kutinggalkan."

"Uuuuhhhh..."

"Jangan membuat wajah seperti itu. Dan jika kau memaksa memanggilku dengan nama itu, aku tidak akan menggubrisnya."

"Padahal nama itu sangat bagus..."

Viltus tertawa kecil dan kemudian berdiri. Taihou terlihat cukup kesal dengan jawaban dari Viltus, memilih tetap duduk. Pada saat itu, Viltus kemudian berkata,

"Dan... Taihou..."

"Apa ?"

"Aku ada permintaan..."

"Eh ? Kau ? Permintaan..."

"Apa kau ingin mendengarnya ?"

Taihou diam sebentar dan berpikir. Ia kemudian berdiri dan berkata,

"Tentu saja... Aku akan mendengar apa permintaanmu..."

"Ummm... Apa aku boleh memeluk dirimu lagi jika aku sedang lelah sekali ?"

Taihou terkejut mendengar hal tersebut. Wajahnya sangat merah pada saat mendengar itu. Akhirnya, Taihou menarik nafas panjang, dan masih dengan wajah merah menunjuk ke arah Viltus dan berkata,

"Bo... Boleh saja... Tapi, pada saat semuanya tidak melihat... Atau semacamnya... Ya..."

"Iya, aku tahu... Aku tidak ingin ketahuan sama Aoba..."

"Ahahahahahaha..."

Viltus dan Taihou langsung tertawa bersama. Setelah itu, Taihou mengajak Viltus untuk ikut dengannya kembali ke ruang kerja Viltus. Ia yakin semuanya pasti khawatir dengan kondisi dari Viltus yang belum juga muncul, ia pun menceritakan kemungkinan bahwa Viltus akan membunuh dirinya sendiri. Viltus menghela nafas dan kemudian setuju untuk kembali. Pada saat ia berjalan, ia mendengar satu suara,


"Aku akan selalu menunggu dirimu... Di sisi lain... Suatu saat nanti... Kau akan kemari..."


Viltus terkejut mendengar hal tersebut, dan melihat ke belakang. Ia sama sekali tidak melihat siapapun. Menyadari Viltus sama sekali tidak berjalan, Taihou langsung berkata,

"Viltus... Ada apa ?"

"Tidak ada apa-apa... Sepertinya tadi aku mendengar suara burung-burung yang iri kepada kita..."

"Ahahahaha... Lucu sekali."

"Sudahlah, kita sebaiknya mulai berjalan ke ruang kerjaku. Aku memiliki cukup banyak pekerjaan."

Taihou mengangguk dan kemudian mereka berdua berjalan bersama ke ruang kerja Viltus.


Pada saat Viltus tiba di ruang kerjanya, ia melihat suasana di sana sangat gelap. Viltus membuat tanda kepada Taihou untuk diam saja. Tidak berapa lama, Magyar berdiri dan kemudian berkata,

"Kita sudah mencarinya ke semua wilayah markas ini... Namun, tidak kita temukan..."

"Iya... Dan dapat dipastikan dia sudah..." ujar Ryuujou dengan wajah sedih.

"Meninggal. Sungguh disayangkan pria baik seperti dia meninggalkan diri kita dengan cepat seperti ini."

"Setidaknya aku ingin mendengar kata-kata terakhir dari dirinya."

"Namun, tidak dapat kita dengarkan... Pria yang selalu bekerja keras..."

"Dan membuat kepala semua orang sakit..."

Ryuujou dan Magyar terus melanjutkan membicarakan Viltus yang telah 'meninggal'. Sementara itu, semua orang yang lain melihat Viltus dan Taihou sudah berdiri di ambang pintu. Viltus membuat tanda untuk diam dahulu. Tidak berapa lama terdengar,

"Setidaknya... Aku harap ia memaafkan diriku yang belum mengerjakan dokumen minggu ini."
ujar Magyar.

"Dan ia mau memaafkan diriku yang sedikit merubah dokumen hasil..." ujar Ryuujou

"Tentu saja, saya maafkan." Ujar Viltus dengan nada yang sedikit ditinggikan dan berjalan dengan pelan ke arah mereka berdua. Mendengar itu, Magyar dan Ryuujou berkata bersama,

""Kami mendengar suaranya dari langit yang berkata seperti itu... Sungguh baik sekali dia.""

"KALIAN PASTI BERMIMPI JIKA AKU MEMBIARKAN KALIAN BERDUA ATAS MASALAH INI !"

Viltus langsung mencengkram bahu mereka berdua. Menyadari Viltus berdiri di belakang mereka, wajah mereka langsung pucat melihat senyum dari Viltus yang sangat menakutkan. Viltus kemudian berkata,

"Sebagai hukuman kalian berdua... Kalian harus mengerjakan dokumen setara waktu dua minggu... Yang harus dikumpulkan... Jumat ini !"

""TIDAK!""

Suara itulah, yang terdengar paling akhir di ruangan tersebut di hari yang dingin. Sungguh sebuah awal musim dingin yang indah untuk Magyar dan Ryuujou.


HakunoKazuki di sini

Uoooohhhh Chapter yang sangat cepat !
*Terlalu cepat jika dapat kukatakan...
HK : Ya beginilah seseorang yang memiliki cukup banyak waktu luang... walaupun sembari menulis cerita lain yang belum kelar mpe sekarang

LotusCrimson : Ada yang mati ? Siapa ya ?
*Kau ini...
HK : Ahahahahahaha... Dan masalah pettan... I can't answer that question... Dan terima kasih banyak mengenai masukan setiap pembicaraan, kemungkinan besar di chapter selanjutnya akan dibuat agar tidak terlalu membingungkan pembaca.
*Yang sekarang ?
HK : Sedang malas mengedit

Ahahahaha... Dengan berakhirnya chapter 5... Saya akan istirahat selama satu minggu dulu. Jadi, next chapter baru keluar lebih kurang satu minggu dari sekarang. Or maybe not... Just see my mood

Saya mengucapkan selamat menikmati seri ini.